cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 3 (2019)" : 7 Documents clear
Kanker serviks dan gen Fas-promoter-670 Parwanto, MLE
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.90-91

Abstract

Kanker serviks merupakan keganasan pada serviks. Jenis kanker tersebut terjadi pada perempuan dan masih menjadi masalah di Indonesia. Indonesia merupakan negara urutan ke 4 di Asia Tenggara dengan insiden kanker serviks terbesar setelah Kamboja, Myanmar dan Thailand. Berdasar data statistik tahun 2012, tingkat insidensi (incidence rate) kanker serviks di Indonesia 17 per 100.000 perempuan per tahun.(1) Telah terbukti bahwa penyebab primer terjadinya kanker serviks yaitu virus papilloma atau yang lebih dikenal dengan istilah “human papillomavirus (HPV)”. Terdapat beberapa jenis serotype HPV, tetapi tidak semua jenis serotype bersifat progesif menjadikan kanker serviks. Salah satu serotype yang bersifat progesif menjadikan kanker serviks yaitu HPV serotype 16. HPV serotype 16 mampu mengubah sel epitel squamosa serviks (cervical-squamous-epithelial cells=CSEC) normal menjadi lesi intraepitelial squamosa tingkat rendah (low-grade squamous intraepithelial lesion=LSIL) atau neoplasia intraepitel serviks (cervical intraepithelial neoplasia=CIN) 1. Selanjutnya, LSIL atau CIN 1 berkembang menjadi lesi intraepitelial squamosa tingkat tinggi (high-grade squamous intraepithelial lesion=HSIL) atau CIN 2, dan akhirnya menjadi kanker serviks yang invasif (invasive cervical cancer=CIN3).(2)
Perbandingan disfungsi seksual antara perempuan pengguna kontrasepsi oral dan kontrasepsi suntik Pratama, Nita Irawan Anugerah; Pusparini, Pusparini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.124-129

Abstract

LATAR BELAKANGDisfungsi seksual merupakan masalah dalam siklus respons seksual yang mengakibatkan individu gagal mendapatkan kepuasan dalam akivitas seksual. Disfungsi seksual meliputi berbagai gangguan dalam hubungan seksual, yang pada perempuan secara sederhana terbagi menjadi gangguan keinginan atau hasrat seksual, gairah, pelumasan, orgasme, kepuasan dan nyeri dalam hubungan seksual. Salah satu faktor penyebab terjadinya disfungsi seksual adalah efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan disfungsi seksual pada pengguna kontrasepsi oral dan kontrasepsi suntik. METODEPenelitian ini menggunakan desain potong lintang. Sebanyak 132 perempuan yang terdiri dari 66 perempuan yang menggunakan kontrasepsi oral dan 66 yang menggunakan kontrasepsi hormonal berusia 15 – 49 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan Juni 2019 di Puskesmas Kembangan Jakarta Barat. Untuk mengetahui adanya disfungsi seksual digunakan kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI). Analisa statistik menggunakan uji Chi-square dengan nilai p<0.05 berbeda bermakna. HASILRerata usia subjek penelitian pada pengguna kontrasepsi oral adalah 32.10 ± 6.2 tahun dan kontrasepsi suntik adalah 31.56 ± 6.4 tahun. Sebagian besar subjek mengalami disfungsi seksual sebanyak 73 orang (55.3%). Kejadian disfungsi seksual pada pengguna kontrasepsi suntik lebih banyak dibandingkan dengan kontrasepsi oral yaitu sejumlah 52 orang (78%) dengan nilai p=0.000. KESIMPULANDisfungsi seksual pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi suntik lebih sering terjadi daripada pengguna kontrasepsi oral, sehingga pengguna kontrasepsi hormonal lebih baik menggunakan kontrasepsi oral dibandingkan kontrasepsi suntik untuk meminimalisasi kejadian disfungsi seksual.
Asupan vitamin B6, B9, B12 memiliki hubungan dengan risiko penyakit kardiovaskular pada lansia Akhirul, Akhirul; Chondro, Fransisca
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.111-116

Abstract

LATAR BELAKANGIndonesia akan memasuki periode lansia (aging), dimana 10% penduduk akan berusia 60 tahun ke atas, di tahun 2020. Bertambahnya usia, penyakit tidak menular banyak muncul seperti hipertensi, stroke, dan diabetes melitus (DM). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gugun, asupan gizi atau mikronutrien antara lain asam folat, vitamin B6, dan B12 berpengaruh terhadap terjadinya resiko penyakit kardiovaskular dikarenakan asupan mikronutrien tersebut dapat menurunkan kadar homosistein yang berperan dalam pembentukan aterotrombosis. METODEPenelitian ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan di Kelurahan Jelambar Baru RW 01 pada bulan September hingga Oktober 2018 dengan metode consecutive non random. Jumlah responden sebanyak 92 orang. Pengambilan data menggunakan data primer. Analisis data menggunakan uji Fisher dengan tingkat kemaknaan (p)<0.05. HASILTerdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan vitamin B6, B9, dan B12 dengan risiko kardiovaskular pada lansia. Asupan vitamin B6 dengan kategori cukup mempunyai risiko rendah mengalami penyakit kardiovaskular dengan nilai kemaknaan (p=0.000), vitamin B9 asupan kategori kurang memiliki risiko sedang mengalami penyakit kardiovaskular (p=0.001), dan asupan vitamin B12 dengan asupan kategori kurang mempunyai risiko sedang mengalami risiko penyakit kardiovaskular (p=0.017). KESIMPULANDari hasil analisis data didapatkan hubungan antara asupan gizi vitamin B6, B9, dan B12 dengan risiko kardivaskular pada lansia, dimana asupan cukup vitamin B6, B9, dan B12 mengakibatkan risiko rendah untuk menderita penyakit kardiovaskular sedangkan asupan kurang dari vitamin B6, B9, dan B12 mengakibatkan risiko sedang dan tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular.
Hubungan antara shift kerja, kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat Rhamdani, Indah; Wartono, Magdalena
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.104-110

Abstract

LATAR BELAKANGStres kerja merupakan stres yang timbul akibat tuntutan kerja yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya sehingga menimbulkan berbagai macam reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Menurut PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), pada tahun 2007 sebanyak 50.9% perawat di Indonesia mengalami stres kerja. Beberapa faktor penyebabnya adalah kelelahan dan waktu kerja yang berubah-ubah (shift kerja). Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa hubungan antara shift kerja maupun kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat masih diperdebatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara shift kerja maupun kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat. METODEStudi ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional pada 102 perawat di RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat. Cara pengambilan sampel berupa consecutive non random sampling. Data primer diperoleh dengan kuesioner data diri Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) dan kuesioner stres kerja yang sudah divalidasi dengan nilai Alpha Cronbach antara 0.837-0.832 dan realibilitas 0.926. Analisis data menggunakan chi-square test dengan tingkat kemaknaan (p) <0.05. HASILTerdapat hubungan antara shift kerja (p=0.035), kelelahan kerja (p=0.022), jenis kelamin (0.037) dan status pernikahan (p=0.041) dengan stres kerja dan tidak ada hubungan antara usia dengan stres kerja (p=0.071). KESIMPULANTerdapat hubungan antara shift kerja, kelelahan kerja, jenis kelamin, dan status pernikahan dengan stres kerja pada perawat RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat. Akan tetapi usia tidak berkaitan dengan stres kerja.
Perbandingan kadar magnesium serum setelah terapi magnesium sulfat rute berbeda pada preeklampsia Surjadi, Lily Marliany; Dasuki, Djaswadi; Mustofa, Mustofa
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.92-98

Abstract

LATAR BELAKANGPreeklampsia merupakan penyakit hipertensi dalam kehamilan yang menjadi masalah terburuk dalam bidang obstetrik. Sepuluh persen dari seluruh kehamilan mengalami preeklampsia, dan menjadi salah satu penyebab utama kesakitan/kematian. Diperkirakan setiap tahun terjadi 50-60 ribu kematian akibat preeklampsia di seluruh dunia. Magnesium sulfat dipakai sebagai obat terpilih untuk preeklampsia, dan diberikan dengan mengikuti protokol Pritchard atau Zuspan. Efek magnesium berguna dalam mencegah komplikasi lebih lanjut dari preeklampsia, namun intoksikasi magnesium dapat menyebabkan depresi pernafasan sampai kematian. Penelitian dilakukan untuk membandingkan kadar magnesium serum pada rute pemberian yang berbeda dan membandingkannya dengan kadar terapeutiknya. METODEPenelitian ini merupakan uji klinik secara acak pada 70 penderita preeklampsia yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mendapat protokol Zuspan (intra vena=IV) dan kelompok kedua dengan protokol Pritchard (intra muskuler=IM). Kriteria inklusinya adalah semua penderita dengan preeklampsia/eklampsia, semua usia dan paritas, kehamilan tunggal dan hidup, bersedia mengikuti penelitian. Kriteria eksklusinya adalah komplikasi perdarahan antepartum atau penyakit kronis, misalnya diabetes mellitus (DM) dan atau gangguan fungsi ginjal, dan memiliki kontraindikasi untuk terapi magnesium. Uji independent sample t test digunakan untuk analisis data dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILRerata kadar magnesium kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan (p>0.05) kecuali pada menit ke 10 (p=0.005). Kelompok IM menunjukkam rerata lebih tinggi daripada kelompok IV, tetapi masih berada dalam kadar terapeutik. KESIMPULANDosis magnesium yang lebih tinggi pada protokol Pritchard (IM) menyebabkan kadar dalam serum yang lebih tinggi dibanding kelompok IV, namun aman karena masih berada dalam kadar terapeutik.
Pengaruh yoga terhadap memori jangka pendek pada dewasa muda Ishak, Muhammad; Alvina, Alvina
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.117-123

Abstract

LATAR BELAKANGYoga adalah sebuah gaya hidup, suatu sistem pendidikan yang terpadu antara tubuh, pikiran, dan jiwa, dan merupakan metode yang berpengaruh dan dinilai efektif terhadap fungsi kognitif termasuk didalamnya fungsi memori jangka pendek. Yoga merangsang penurunan aktifitas saraf simpatis dan peningkatan akitifitas saraf parasimpatis yang berpengaruh pada penurunan hormon adrenalin, norepinefrin dan katekolamin serta vasodilatasi pada pembuluh darah yang mengakibatkan transpor oksigen ke seluruh tubuh terutama ke otak menjadi lancar sehingga dapat meningkatkan fungsi kognitif. METODEPenelitian ini menggunakan desain eksperimental metode potong lintang, menggambarkan fungsi memori jangka pendek dengan dan tanpa yoga. Penilaian memori jangka pendek menggunakan Digit Span Test di mana komponennya berupa deretan angka maju (Digit Forward) maupun mundur (Digit Backward). Penelitian ini melibatkan 47 subyek dewasa muda berusia 17-20 tahun dengan kriteria inklusi bersedia rutin mengikuti pelatihan yoga selama 21 hari dengan durasi 15-30 menit untuk sekali latihan yoga dan kriteria eklusi menderita suatu penyakit yang tidak dapat melakukan yoga, menderita gangguan pendengarandan mengalami penurunan kesadaran. Latihan yoga diberikan oleh instruktur yoga. Penilaian digit span dilakukan pada sebelum latihan yoga dan sesudah melakukan latihan yoga selama 21 hari. Analisis data dilakukan untuk menilai perbedaan skor fungsi memori jangka pendek masing-masing kelompok sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan uji T Dependent/berpasangan atau uji Wilcoxon. Nilai p < 0.5 dianggap bermakna dengan 95% interval kepercayaan. HASILTerdapat 61.7% responden perempuan, 40.4% memiliki skor tinggi pada memori jangka pendek sebelum yoga dan 59.6% memiliki skor tinggi sesudah yoga. Pengaruh yoga terhadap memori jangka pendek memiliki nilai p=0.000 (p < 0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor memori jangka pendek sebelum dan sesudah melakukan yoga. KESIMPULANYoga memberikan dampak pada peningkatan digit span pada kelompok dewasa muda.
Peningkatan derajat obstruksi saluran nafas menurunkan kualitas hidup penderita asma Pujo, Marcellino Satriaman Harrio; Kartini, Kartini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.99-103

Abstract

LATAR BELAKANGKualitas hidup penderita asma merupakan perasaan seorang penderita asma dalam hidup yang meliputi kenyamanan, keamanan, kemandirian, dan kepuasan dalam hidup. Kualitas hidup pada penderita asma dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain status gizi, tingkat kontrol asma, kepatuhan berobat dan derajat obstruksi saluran napas. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan derajat obstruksi saluran napas dan karakteristik penderita asma dengan kualitas hidup penderita asma. METODEPenelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang mengikutsertakan 37 penderita asma yang datang ke RSAL Dr Mintoharjo, Jakarta Pusat. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner AQLQ dan pengukuran spirometri yang didampingi oleh dokter spesialis paru. Analisis data menggunakan Uji Fisher Exact dengan tingkat kemaknaan p < 0.05. HASILHasil penelitian dari 37 responden didapatkan bahwa usia lansia adalah yang terbanyak (64.9%), lama menderita asma lebih dari 10 tahun sebanyak 32.4%, derajat obstruksi saluran napas berat sebanyak 51.4% dan penderita asma yang kualitas hidupnya terganggu sebanyak 86.5%. Usia, lama menderita asma, dan derajat obstruksi saluran napas berhubungan dengan kualitas hidup penderita asma (p<0.05), tetapi jenis kelamin tidak berhubungan dengan kualitas hidup penderita asma (p>0.05). KESIMPULANDerajat obstruksi saluran nafas berhubungan dengan kualitas hidup seorang penderita asma. Semakin berat derajat obstruksi saluran nafas, semakin berat gejala yang ditimbulkannya sehingga menurunkan kualitas hidup.

Page 1 of 1 | Total Record : 7