cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 4 (2019)" : 7 Documents clear
Deteksi spora Bacillus anthracis Parwanto, MLE
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.130-131

Abstract

Bacillus anthracis ditemukan dalam 2 bentuk yaitu bentuk vegetatif dan bentuk spora. Pada prinsipnya, faktor virulensi anthrax karena produksi kapsul dan eksotoksin selama fase vegetatif.(1) Spora B. anthracis berupa endospora dan merupakan agen infeksi yang tahan terhadap panas, kering, zat kimia maupun iradiasi serta dapat bertahan dalam waktu yang lama. (2) Infeksi spora B. anthracis mengakibatkan penyakit anthrax antara lain pada usus, kulit dan paru-paru. Penyakit anthrax termasuk penyakit zoonosis yang berpotensi mematikan terhadap manusia.(3)
Hubungan kualitas tidur dengan excessive daytime sleepiness pada pekerja bergilir Aziz, Luthfi; Hidayat, Adi
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.144-148

Abstract

LATAR BELAKANGPekerja bergilir (shift workers) banyak dijumpai pada masyarakat industri dan mempunyai efek yang negatif terhadap kualitas tidur. Excessive daytime sleepiness (EDS) adalah gejala dari gangguan tidur berupa rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan hingga mengganggu aktivitas. Gejala ini dapat menimbulkan dampak merugikan bagi pekerja dan perusahaan. Kualitas tidur, kerja shift, gaya hidup, usia dan jenis kelamin merupakan faktor risiko dari EDS. Seorang pekerja bergilir yang mengalami EDS memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan hubungan antara kualitas tidur dan EDS pada pekerja bergilir. METODEStudi ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 57 pekerja bergilir. Pengumpulan data mengenai usia dan jenis kelamin dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kualitas tidur diukur dengan kuesioner Pittsburgh sleep quality index (PSQI) dan Excessive daytime sleepiness (EDS) diukur dengan Epworth sleepiness scale (ESS). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dan uji Mann Whitney. HASILHasil uji normalitas menunjukkan data yang dikumpulkan tidak tersebar secara normal. Nilai median subjek pekerja besarnya 27 tahun dan sebagian besar subjek adalah laki-laki sebanyak 44 (77.1%) orang.Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin dan EDS (p=0.396). Didapatkan hubungan yang sedang dan bermakna antara kualitas tidur dan EDS (r=0.545; 0=0.000). Usia subjek tidak berhubungan secara bermakna dengan EDS (r=0.124; p=0.359). KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan hubungan bermakna antara kualitas tidur dan excessive daytime sleepiness pada pekerja, tetapi tidak terdapat perbedaan nilai median EDS antara laki-laki dan perempuan.
Hubungan tingkat kemandirian dan kebugaran dengan kualitas hidup lansia Ningrum, Berka Phillia; Chondro, Fransisca
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.138-143

Abstract

LATAR BELAKANGData kependudukan Indonesia menunjukkan peningkatkan populasi lansia setiap tahunnya. Kondisi ini berdampak pada peningkatkan prevalensi penyakit degeneratif pada lansia yang kemudian berdampak pada tingkat kemandirian dan kebugaran lansia. Penelitian yang sudah dilakukan masih menunjukkan kontroversi kedua kondisi tersebut di atas dengan kualitas hidup lansia. METODEPenelitian ini merupakan peneliitan potong silang yang dilakukan pada 86 lansia di RW 01 Jelambar Baru, Jakarta Barat. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner Barthel Index untuk mengukur tingkat kemandirian, Non exercise fitness test untuk mengukur tingkat kebugaran dan WHOQOL-BREF untuk mengukur tingkat kualitas hidup responden. Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat kemandirian dan kebugaran dengan kualitas hidup lansia, menggunakan uji statistik Fisher's Exact Test dan Chi Square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan besarnya 0.05. HASILAnalisis hubungan tingkat kemandirian dengan kualitas hidup lansia menggunakan Fisher’s Exact Test, di dapatkan hasil p=0.235. Analisis hubungan tingkat kebugaran dengan kualitas hidup lansia menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil p=0.708. KESIMPULANTidak terdapat hubungan antara tingkat kemandirian dan kebugaran dengan kualitas hidup lansia.
Antioksidan dan katarak Ibrahim, Mohammad Fachri
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.154-161

Abstract

Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia maupun di dunia. Katarak adalah keadaan di mana terjadi kekeruhan terhadap lensa. Katarak dapat disebabkan oleh berbagai hal dan salah satunya adalah radikal bebas atau oksidan. Pada umumnya antioksidan diketahui dapat mencegah terjadinya katarak dengan cara menurunkan faktor risiko terbentuknya katarak. Hal ini dikarenakan antioksidan dapat menetralisir oksidan pada lensa. Antioksidan yang berkaitan dengan katarak antara lain vitamin C, vitamin E dan karotenoid. Antioksidan tersebut terbukti mempunyai hubungan dengan penurunan risiko terjadinya katarak pada beberapa studi. Tetapi, tidak semua penelitian mendapatkan hasil yang serupa. Maka dari itu diperlukan penelitian yang lebih terperinci mengenai manfaat antioksidan terhadap katarak. Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia maupun di dunia. Katarak adalah keadaan di mana terjadi kekeruhan terhadap lensa. Katarak dapat disebabkan oleh berbagai hal dan salah satunya adalah radikal bebas atau oksidan. Pada umumnya antioksidan diketahui dapat mencegah terjadinya katarak dengan cara menurunkan faktor risiko terbentuknya katarak. Hal ini dikarenakan antioksidan dapat menetralisir oksidan pada lensa. Antioksidan yang berkaitan dengan katarak antara lain vitamin C, vitamin E dan karotenoid. Antioksidan tersebut terbukti mempunyai hubungan dengan penurunan risiko terjadinya katarak pada beberapa studi. Tetapi, tidak semua penelitian mendapatkan hasil yang serupa. Maka dari itu diperlukan penelitian yang lebih terperinci mengenai manfaat antioksidan terhadap katarak.
Retinoblastoma: Masalah dan hambatan dalam mendiagnosis Bakry, Mohammad Haikal; Rahmadhany, Riana
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.162-168

Abstract

Retinoblastoma adalah keganasan intraokular yang paling sering dialami oleh neonatus dan anak-anak, dengan insidens terjadinya yaitu 1 per 15.000-20.000 kelahiran dan sekitar 3% dari total keganasan yang terjadi pada anak. Diagnosis dan penanganan retinoblastoma yang terlambat terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengakibatkan terjadinya metastasis ekstraokular, kehilangan penglihatan dan kematian. Pada negara-negara berkembang, kira-kira setengah populasi anak yang terdiagnosis retinoblastoma meninggal, diduga karena baru terdiagnosis saat stadium penyakit yang sudah lanjut, sementara hanya 3-4% anak yang terdiagnosis di negara maju (Amerika dan Eropa) meninggal karena lebih awal dalam mendiagnosis dan penatalaksaan yang lebih komprehensif. Retinoblastoma adalah keganasan intraokular yang paling sering dialami oleh neonatus dan anak-anak, dengan insidens terjadinya yaitu 1 per 15.000-20.000 kelahiran dan sekitar 3% dari total keganasan yang terjadi pada anak. Diagnosis dan penanganan retinoblastoma yang terlambat terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengakibatkan terjadinya metastasis ekstraokular, kehilangan penglihatan dan kematian. Pada negara-negara berkembang, kira-kira setengah populasi anak yang terdiagnosis retinoblastoma meninggal, diduga karena baru terdiagnosis saat stadium penyakit yang sudah lanjut, sementara hanya 3-4% anak yang terdiagnosis di negara maju (Amerika dan Eropa) meninggal karena lebih awal dalam mendiagnosis dan penatalaksaan yang lebih komprehensif.Adanya hambatan dalam mendiagnosis secara dini pada negara berkembang dikarenakan belum baiknya sistem asuransi kesehatan, kurangnya komunikasi dan kerjasama pihak- pihak yang terlibat, masih terbatasnya peralatan penunjang diagnosis dan kurang efisiennya sistem rujukan. Hambatan lain termasuk faktor pendidikan, kultural dan ekonomi.Pemberian penanganan yang optimal pada retinoblastoma adalah suatu hal yang kompleks dan memerlukan sebuah tim yang terdiri dari berbagai macam bidang dan disiplin ilmu. Namun pembentukan tim yang seperti itu tentu saja akan menghadapi berbagai macam tantangan khususnya pada keadaan dan daerah yang memiliki sumber daya yang terbatas.
Hubungan antara trauma kepala dan fungsi kognitif pada usia dewasa muda Pramana, Ragiel; Imran, Yudhisman
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.149-153

Abstract

LATAR BELAKANGTrauma kepala merupakan penyebab utama yang paling sering mengakibatkan kecacatan permanen setelah kecelakaan dan kecacatan tersebut dapat terjadi meskipun pada pasien dengan trauma kepala derajat ringan. Salah satu komplikasi dan akibat dari cedera kepala yang mungkin terjadi adalah gangguan fungsi kognitif. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gangguan fungsi kognitif setelah trauma kepala pada dewasa muda. METODEPenelitian ini menggunakan desain penelitian studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian sejumlah 49 orang di RSAL Dr. Mintohardjo, Jakarta. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2017. Data dikumpulkan dengan cara melakukan tes Moca-Ina untuk melihat adanya gangguan fungsi kognitif pada pasien trauma kepala. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-square terhadap variabel-variabel yang diduga berhubungan. HASILTerdapat hubungan antara cedera kepala dengan penurunan fungsi kognitif (p=0.00). Tidak dijumpai hubungan antara usia dan tingkat pendidikan dengan penurunan fungsi kognitif. KESIMPULANTerdapat hubungan antara cedera kepala dengan penurunan fungsi kognitif.
Asupan isoflavon yang tinggi meningkatkan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause Luthfie, Nyiayu Alisa Mahira; Herwana, Elly
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.132-137

Abstract

LATAR BELAKANGPenderita osteoporosis di Indonesia didapatkan pada 32.3% perempuan yang berusia di atas 50 tahun. Banyak faktor mempengaruhi proses osteoporosis dan hormon estrogen dianggap berpengaruh terhadap terjadinya osteoporosis pada perempuan pascamenopause sehingga didapatkan prevalensi osteoporosis yang lebih tinggi. Isoflavon mempunyai struktur molekul yang mirip dengan estrogen dan menunjukkan efek sebagai fitoestrogen, diketahui banyak terdapat pada makanan yang berasal dari kacang kedelai. Makanan yang kaya isoflavon dapat memengaruhi proses remodelling tulang. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara asupan isoflavon dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause. METODEPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang dan menggunakan perempuan pascamenopause sebagai subjek penelitian. Asupan isoflavon dinilai dengan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Pengukuran terhadap kepadatan tulang dilakukan pada tulang kalkaneus dengan menggunakan alat Calcaneus Quantitative Ultrasound (QUS). HASILSebanyak 92 perempuan pascamenopause memenuhi kriteria inklusi dan berpartisipasi sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan distribusi asupan isoflavon pada subjek didapatkan asupan isoflavon tinggi sebanyak 42 (45.7%) subjek, sedang sebanyak 31 (33.7%) subjek, dan 19 (20.6%) asupan isoflavon rendah. Distribusi kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause didapatkan 18 subjek (19.6%) dengan kepadatan tulang normal, osteopenia sebanyak 45 (48.9%), dan 29 subjek (31.5%) mengalami osteoporosis. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara asupan isoflavon dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause (p=0.001; p<0.05). KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan isoflavon dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause.

Page 1 of 1 | Total Record : 7