cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 3 (2020)" : 9 Documents clear
Importance of nutrition and lifestyle for elderly during the COVID-19 pandemic Abikusno, Nugroho
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.109-111

Abstract

Presently the world is experiencing a pandemic of a global magnitude never before witnessed and recorded by human civilization. No one is excluded from this disease and the most vulnerable are the very young and/the very old in our population. It is the most highly communicable and severe viral infection and most of our reproductive age population show practically no signs or symptoms of infection unless they are tested positive using the PCR method or arrive at the hospital in acute respiratory distress.(1) The infection spreads mostly in: 1) closed environment with poor ventilation such as clubs, café, restaurants, meeting rooms; 2) among crowds of people such as in public stations, malls, religious gatherings, and cinemas as well as; 3) within close contact with people usually friends, family or co-workers who form the cluster most likely to be infected with the virus.(2)
Hubungan antara merokok dan katarak pada usia 45-59 tahun Lumunon, Gusta Nieskala; Kartadinata, Erlani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.126-130

Abstract

LATAR BELAKANGKatarak merupakan suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh. Di dalam rokok terdapat tembakau yang didalamnya mengandung nikotin, radikal bebas, dan karbon monoksida, yangdapat meningkatkan stres oksidatif dan memiliki peran penting dalam patogenesis katarak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara merokok dan katarak pada usia 45-59 tahun. METODEPenelitian ini menggunakan metode case control study. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan data sekunder rekam medik katarak dan kuesioner indeks Brinkman di Rumah Sakit Haji Jakarta Timur pada bulan September-Oktober 2019. Jumlah rekam medik sebanyak 74 sampel yang terdiri dari 37 sampel katarak dan 37 sampel tidak katarak sebagai kontrol. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square. HASILSebanyak 27 responden (73.0%) menderita katarak dan merokok, 10 responden (27.0%) menderita katarak dan tidak merokok. Kemudian untuk kontrol didapatkan 15 responden (40.5%) tidak menderita katarak dan merokok, 22 responden(59.5%) tidak menderita katarak dan tidak merokok. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara merokokdan katarakdengan p=0.005 (p < 0.05). KESIMPULANDapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara merokok dan katarak.
Aktivitas berjalan meningkatkan bone mineral density pada perempuan pascamenopause Savitri, Evita Peninta Dwi; Herwana, Elly
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.119-125

Abstract

LATAR BELAKANGOsteoporosis merupakan penyakit tulang yang ditandai dengan rendahnya bone mineral density (BMD) disertai perubahan pada mikroarsitektur tulang. BMD yang rendah menandai adanya penurunan kepadatan pada tulang dan meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Penurunan kadar estrogen pada kondisi pascamenopause, gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik dan kebiasaan berjalan sangat berperanan dalam progresivitas osteoporosis. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan antara aktivitas berjalan dengan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause. METODEPenelitian analitik observasional dengan metode cross-sectional dilakukan pada perempuan pascamenopause berusia 45-70 tahun pada periode Agustus-Oktober 2018. Penilaian aktivitas berjalan dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Aktivitas berjalan dinilai dari jumlah langkah berjalan/hari yang dikonversikan dari jarak tempuh subjek berjalan kaki setiap harinya. Pengukuran BMD menggunakan calcaneal quantitative ultrasound (QUS), hasil pengukuran BMD membedakan kepadatan tulang berdasarkan nilai-T. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi Square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILSebanyak 88 perempuan pascamenopause ikut berpartisipasi sebagai subjek penelitian dengan usia (rerata ± simpang baku) 57.91 ± 7.25 tahun. Distribusi aktivitas berjalan didapatkan 71 (80.7%) kurang aktif, 12 (13.6%) aktivitas sedang, dan 5 (5.7%) aktif. Distribusi hasil penilaian kepadatan tulang didapatkan sebanyak 18 (20.5%) normal, 49 (55.75%) osteopenia dan 21 (23.9%) osteoporosis. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas berjalan dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause (p=0.009). KESIMPULANTerdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas berjalan dan kepadatan tulang pada perempuan pascamenopause.
Fenotip equol-producer dan hubungannya dengan asupan isoflavon dan kesehatan Herwana, Elly
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.159-165

Abstract

Distribusi penyakit osteoporosis, penyakit kardiovaskuler, dan kanker yang berbeda antara populasi Asia dan Kaukasia membawa pemikiran atas keterkaitannya dengan perbedaan variasi diet antara kedua populasi. Studi epidemiologi menunjukkan asupan isoflavon kedelai pada populasi Asia jauh lebih tinggi daripada populasi Kaukasia. Isoflavon disebut sebagai fitoestrogen karena derivat isoflavon yaitu genistein, daidzein dan equol (metabolit daidzein) memiliki struktur molekul yang menyerupai estrogen dan dapat berikatan pada reseptor estrogen sebagai agonis lemah. Terikatnya derivat isoflavon dengan reseptor estrogen akan memberikan efek menyerupai estrogen (estrogen like effect). Berbagai hasil penelitian menunjukkan asupan dan suplementasi isoflavon berperanan pada penyakit yang didasari oleh defisiensi hormon estrogen antara lain mengurangi gejala premenopausal, menghambat osteoporosis, dan memberikan efek proteksi terhadap kanker payudara dan prostat. Di antara derivat isoflavon yang ada equol menunjukkan efek estrogenik yang lebih tinggi daripada derivat isoflavon lainnya. Kemampuan individu untuk memprodukasi equol tidak sama, sehingga individu dapat dibedakan sebagai fenotip equol-producer dan non-equol-producer. Hasil studi juga mengindikasikan adanya keterkaitan antara efek isoflavon dengan fenotip equol-producer.
Ketepatan hasil pengukuran keratometri dengan ukuran astigmatisme pada ametropia Handriwei, Handriwei; Amalia, Husnun
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.131-136

Abstract

LATAR BELAKANGEmetropia adalah kondisi mata yang tidak memiliki kelainan refraksi atau mata normal. Sinar sejajar yang datang dari jarak tak berhingga akan difokuskan tepat di retina (makula). Sedangkan kondisi mata yang memiliki kelainan refraksi dikenal dengan ametropia, yaitu sinar sejajar yang datang dari jarak tak berhingga tidak dapat difokuskan tepat di makula. Ametropia terdiri dari miopia, hipermetropia dan astigmatisme. Astigmastisme adalah keadaan di mana sinar-sinar sejajar tidak dibiaskan pada satu titik fokus. Pengukuran astigmatisme dilakukan dengan obyektif dan subyektif. Secara obyektif dilakukan pengukuran keratometri dengan alat keratometer. Pengukuran secara subjektif dilakukan dengan pemeriksaan refraksi. Kedua hasil pengukuran tersebut dapat berbeda sehingga dapat berpengaruh pada tatalaksananya. Pengukuran astigmatisme kornea yang tepat sangat penting pada tatalaksanan astigmatisme. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui ketepatan hasil pengukuran keratometri dengan ukuran astigmatisme pada ametropia. METODEPenelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Masmitra, Bekasi pada bulan Februari-April 2019 dengan sampel 186 mata. Data keratometri dan astigmatisme didapatkan dari rekam medis yang dilakukan oleh dokter spesialis mata. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan sebesar 0.05. HASILAnalisis Chi-square menunjukkan astigmatisme lebih banyak ditemukan pada usia lansia (p=0.785). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ketepatan hasil pengukuran keratometeri dengan astigmatisme pada berbagai kelompok usia (p=0.062). KESIMPULANTidak terdapat hubungan antara ketepatan hasil keratometri dan astigmatisme pada ametropia.
Di masa COVID-19, bagaimana cara melindungi diri sendiri dan orang lain? Hadi, Angham G; Kadhom, Mohammed; Yousif, Emad; Hairunisa, Nany
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.153-158

Abstract

Coronaviruses are a big identified group of viruses that could result in sickness in humans and animals. It was confirmed that many of these viruses caused respiratory diseases among humans and their symptoms range from popular colds to more serious diseases, such as the Middle East respiratory syndrome (MERS) and severe acute respiratory syndrome (SARS). The recently detected Coronavirus (called SARS-CoV-2) causes the COVID-19 pandemic, which causes a serious threat worldwide. There was no previous knowledge of this virus before the outbreak of Wuhan city in China in December 2019. However, there is progress in defining, understanding and dealing with this virus. In this review, we are focusing on the common questions regarding coronavirus transition and spread, and how to prevent the infection.
Kanker lambung: kenali penyebab sampai pencegahannya Chudri, Juni
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker lambung merupakan kelompok penyakit keganasan yang mempunyai penyebab multifaktorial yaitu dari faktor genetik, gaya hidup dan lingkungan. Kelainan gen pada kromosom ke - 16 dapat menyebabkan Hereditary Difuse Gastric Cancer (HDGC). Selain faktor genetik, adanya pola diet yang tidak tepat, kebiasaan merokok dan alkohol juga dapat menjadi faktor risiko seseorang menderita kanker lambung. Pola diet yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya kolonisasi dari bakteri Helicobacter pylori di dalam lambung yang dalam perkembangannya, bakteri ini dapat menimbulkan keganasan. Selain infeksi bakteri H. pylori, terdapat juga infeksi Virus Epstein Barr (EBV) sebagai faktor risiko dari kanker lambung. Adanya infeksi EBV pada penderita kanker lambung memberikan gambaran sistem imun penderita di mana kondisi ini dapat mempengaruhi prognosis penderita. Angka kejadian kenker lambung meningkat pada Negara di Asia Timur, Eropa Tengah dan Timur serta Amerika Selatan. Kanker lambung lebih banyak dijumpai pada laki-laki dan diatas usia 50 tahun. Kanker lambung Gejala yang ditimbulkan oleh kanker lambung pada awalnya tidak khas seperti gejala pada keluhan pencernaan umumnya. Kanker lambung sering kali ditemukan pada stadium yang sudah lanjut dan mengakibatkan prognosis yang kurang baik. Oleh karena itu diperlukan adanya diagnosa dini pada penderita kanker lambung yaitu dengan tindakan endoskopi sebagai tindakan deteksi stadium dini. Tata laksanaanker lambung tergantung pada kondisi stadium yang ditemukan. Pada stadium awal, tata laksana yang diberikan hanya tindakan reseksi minimal sedangkan pada stadium lanjut dapat dilakukan tata laksana dengan prinsip multi modalitas yang melibatkan tindakan pembedahan dan tindakan kuratif.
Spondilitis tuberkulosis: perbaikan yang signifikan setelah intervensi dini Basalamah, Bayan; Nabila, Balqis Khansa; Imran, Yudhisman; Rahmansyah, Mulia
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.137-143

Abstract

LATAR BELAKANGTuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis. Salah satu bentuk TB ekstra paru adalah Spondilitis TB atau biasa dikenal dengan Pott’s disease (PD). DESKRIPSI KASUSPerempuan berusia 40 tahun datang ke unit gawat darurat (UGD) Rumah Sakit Hermina Daan Mogot dengan keluhan nyeri punggung bawah yang memberat sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan demam, batuk lama, penurunan berat badan disangkal. Terdapat kontak dengan penderita TB. Pemeriksaan fisik didapatkan numeric rating scale (NRS) 10, dan kekuatan motorik normal (5555) pada keempat anggota gerak. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan radiologi rontgen lumbosakral menunjukkan penyempitan diskus intervertebralis pada vertebra L2 dan L3. Pasien kemudian diberikan tata laksana nyeri Non Steroidal Anti-Inflamatory Drugs (NSAID), antidepresan, dan opioid. Dalam perawatan pasien mengalami kelemahan tungkai kiri, kekuatan motorik turun menjadi ‘1155’. Pasien dirujuk untuk dilakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI) lumbal dengan kontras dan tindakan operasi. Hasil MRI menunjukkan proses destruktif yang melibatkan L1, L2, dan L3 dan bukti ekstensi kanal paraspinal dan spinal yang menekan kantung thecal dan menyebabkan stenosis berat pada medula spinalis. Radiografi thoraks dalam batas normal. Dilakukan operasi dekompresi dan stabilisasi tulang belakang dan pemberian regimen standar obat anti tuberkulosis (OAT). Setelah menjalani operasi, klinis pasien menunjukkan perbaikan signifikan. Kekuatan motorik meningkat ke '5555' dan NRS turun menjadi 4. Pasien saat ini mengkonsumsi OAT bulan ke-14. KESIMPULANSpondilitis TB adalah infeksi tulang belakang kronis yang dapat terjadi dengan atau tanpa tuberkulosis paru. Intervensi dini dapat memberikan perbaikan yang signifikan dan prognosis yang lebih baik.
Ko-infeksi asimptomatik helminthiasis pada pasien tuberkulosis paru di Surabaya kota: studi pendahuluan Kusumaningtyas, Rifat Nurwita; Tantular, Indah Setyawati; Kusumaningrum, Deby; Kusumaratna, Rina K
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.112-118

Abstract

BACKGROUNDPulmonary tuberculosis (TB) is a leading cause of morbidity and mortality, and East Java province is the second largest contributor of co-infection in Indonesia. Asymptomatic helminth infection among pulmonary tuberculosis patients causes another public health problem. Few data relate to helminth infection based on clinical and immunological outcomes of pulmonary TB in highly endemic areas. METHODSThis study was designed as a preliminary study and aimed to determine helminth co-infection among TB patients with a macroscopic assessment. This cross-sectional study was conducted in June-August 2017. RESULTSAmong 16 treated active TB patients from TB cohort data of Tanakali Kedinding health center found that 56% were stool smear-positive for Trichuris trichiura eggs, but had no clinical symptoms. CONCLUSIONWhether or not the helminth infection may have an impact on the diagnosis and treatment of active TB remains to be further investigated. Co-infection could be inhibited by the host immune response and improve the prognosis of TB treatment.

Page 1 of 1 | Total Record : 9