cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 3 (2021)" : 7 Documents clear
Penggunaan media sosial tidak berhubungan dengan pengetahuan mengenai COVID-19 pada masyarakat dewasa muda Raina, Nur Najmi; Kartini, Kartini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Ahead of Print
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.90-98

Abstract

LATAR BELAKANGPandemi COVID-19 merupakan masalah kesehatan dunia. Di masa pandemi dengan kasus yang semakin bertambah membuat media sosial menjadi salah satu sumber informasi mengenai COVID-19. Penggunaan media sosial yang bijak sangat efektif untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan mengenai pandemi COVID-19, sehingga membantu masyarakat untuk melakukan pencegahan COVID-19. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan penggunaan media sosial dan pengetahuan COVID-19 pada dewasa muda. METODEMetode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, sampel penelitian sebanyak 240 responden, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner online pada bulan Mei-Juli 2021 di Kelurahan Rorotan Jakarta Utara. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan Fisher's exact dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILRerata usia responden 26.8 ± 6.4 tahun didominasi oleh perempuan (65.4%). Responden berpendidikan tinggi sebanyak 95.8%, berpengetahuan baik mengenai COVID-19 sebanyak 54.2%, tingkat penggunaan media sosial tinggi sebanyak 57.9%. Responden dengan tingkat penggunaan media sosial tinggi dan berpengetahuan baik mengenai COVID-19 sebanyak 56.8%. Tidak terdapat hubungan antara penggunaan media sosial, umur, dan pendidikan dengan pengetahuan COVID-19. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan COVID-19. KESIMPULANPenggunaan media sosial tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan COVID-19 pada masyarakat dewasa muda. Dibutuhkan media komunikasi lainnya untuk mengedukasi masyarakat dalam upaya pencegahan COVID-19.
Strategi mix-and-match vaksin COVID-19, seberapa efektifkah? Khairani, Rita
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Ahead of Print
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.87-89

Abstract

Dibandingkan dengan perkembangan vaksin COVID-19, kemunculan banyak varian baru menyebabkan peningkatan mortalitas dan morbiditas, distribusi vaksin secara global, ketersediaan suplai vaksin yang terbatas dan kejadian ikutan pasca imunisasi. Hal ini memunculkan kekhawatiran penurunan efektivitas vaksin yang telah ada. Setelah laporan kejadian tromboemboli akibat penggunaan ChAdOx1-nCoV-19 dari AstraZeneca, beberapa negara Eropa mulai meneliti tentang penggunaan vaksin yang berbeda dengan dosis pertama atau yang disebut strategi mix-and-match atau vaksin heterolog.(1) Vaksin heterolog melibatkan pemberian antigen penyakit yang sama atau serupa melalui dua tipe vaksin berbeda, dosis pertama untuk membentuk sistem imun dan dosis berikutnya dengan tipe berbeda untuk meningkatkan respon imun.(2) Beberapa jenis vaksin yang banyak diteliti dalam konsep vaksin heterolog ini diantaranya kombinasi vaksin chimpanzee adenovirus-vectored vaccine (ChAdOx 1 nCoV-19) atau AstraZeneca dengan vaksin mRNA-1273 atau vaksin Moderna, dan vaksin BNT162b2 atau vaksin Pfizer.(3,4)
Pemanfaatan obat tradisional di Indonesia: distribusi dan faktor demografis yang berpengaruh Adiyasa, Mochamad Reiza; Meiyanti, Meiyanti
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.130-138

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber alam dan memiliki lebih dari 400 etnis dan sub etnis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Daerah Jawa, Sunda, Manado, Kalimantan, dan berbagai daerah lainnya masih memanfaatkan tanaman sebagai obat tradisional yang merupakan warisan turun temurun. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan  obat tradisional dibagi menjadi 3 kategori, dan digunakan oleh masyarakat secara turun temurun, dengan cara pengolahan yang sederhana.  Secara global, rata–rata penggunaan obat tradisional di seluruh dunia adalah 20-28% dari seluruh penduduk dunia. Menurut hasil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, ditemukan bahwa prevalensi penduduk Indonesia di atas 15 tahun yang pernah mengonsumsi obat tradisional sebanyak 59.12%, tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Obat tradisional banyak digunakan untuk mencegah penyakit dan mengatasi berbagai keluhan penyakit sebagai obat pendamping maupun obat pengganti. Beberapa faktor memengaruhi pemilihan seseorang untuk  menggunakan obat tradisional antara lain tingkat pengetahuan. Namun, tingkat pengetahuan seseorang  seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor lainnya juga seperti pendidikan, informasi/media massa, sosial, budaya, ekonomi, lingkungan, pengalaman, serta usia. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan masyarakat mengenai obat tradisional dengan penggunaannya. Namun, masih ada masyarakat yang enggan memilih jamu sebagai obat dikarenakan beberapa faktor lainnya. Oleh karena itu, tinjauan pustaka ini akan membahas mengenai jenis tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional dan faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatannya. Sehingga pemanfaatan obat tradisional sebagai obat penggunaannya dapat meningkat di masyarakat.
Brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dan proses penuaan: sebuah tinjauan Mudjihartini, Ninik
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.120-129

Abstract

Brain-derived neurotrophic factor (BDNF) merupakan faktor neurotrofin yang berpengaruh dalam mendukung pembentukan, perkembangan neuron, dan mempertahankan keberadaan neuron. BDNF dapat ditemukan dan aktif pada hipokampus, korteks, dan otak depan. Penuaan merupakan proses multifaktorial yang ditentukan oleh faktor genetik dan faktor epigenetik. Penurunan kadar BDNF menurunkan kemampuan belajar dan mengingat, terjadi pada orang lanjut usia atau yang mengalami penyakit neurodegeneratif. Penelitian membuktikan bahwa kadar BDNF yang tinggi mampu meningkatkan plastisitas neuron. BDNF memiliki reseptor TrkB dan p75 yang menentukan suatu neuron dapat bertahan hidup atau sebaliknya terjadi apoptosis. BDNF-TrkB mendukung pembentukan short term memory dan perkembangan neuron khususnya dendrit. BDNF-p57 mengaktifkan NFkB yang berperan dalam maturasi sistem saraf pusat. Peran BDNF sangat dipengaruhi oleh reseptornya. Nutrisi, metabolisme, perilaku, dan stres memengaruhi ekspresi BDNF. Faktor lingkungan yang meningkatkan kadar BDNF dapat menunda penuaan dan meningkatkan kemampuan kognitif.
Radikulomielopati servikal pascatrauma: laporan kasus Primandari, Rima Anindita; Rahmansyah, Mulia; Mustafa, Rima
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.113-119

Abstract

LATAR BELAKANGLaporan kasus ini bertujuan melaporkan kasus radikulomielopati servikal akibat spondilosis terinduksi pascatrauma pada seorang laki-laki paruh baya. DESKRIPSI KASUSSeorang laki-laki, 57 tahun mengalami kelemahan pada kedua lengan pascakecelakaan motor tunggal 6 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Mekanisme kejadian tidak jelas. Defisit neurologis yang didapatkan pada awal admisi, hanya berupa nyeri menjalar pada kedua lengan bawah hingga jari-jari tangan sesuai dermatom servikal C5-T1 kanan dan kiri, disertai kelemahan dengan kekuatan motorik ekstremitas atas 3333|3332. Hasil pemeriksaan radiografi servikal didapatkan adanya fusi korpus vertebra servikal C4-5, diduga ke arah proses degeneratif. Pasien juga dilakukan MRI servikal dengan hasil adanya bulging diskus C2-3, C4-5, C5-6 dan C6-7 yang menekan spinal cord disertai adanya penyempitan kanalis spinalis, dengan derajat herniasi terberat pada C4-5 (derajat 3). Keluhan membaik dengan penggunaan penyangga leher dan pemberian metilprednisolon dosis tinggi. Pascaperawatan penanda Hoffman-Tromner kanan positif, hal ini menyebabkan yang awalnya terdiagnosis sebagai radikulopati servikal berubah menjadi radikulomielopati karena didapatkan klinis keterlibatan medulla spinalis. KESIMPULANPenting bagi para klinisi untuk dapat segera memberikan penanganan sejak awal. Hal ini berkaitan dengan tata laksana dan prognosis pasien di masa yang akan datang.
Bullying berhubungan dengan kejadian gangguan cemas pada pelajar SMA Andini, Laras Sheila; Kurniasari, Kurniasari
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.99-105

Abstract

LATAR BELAKANGGangguan cemas di Indonesia menurut data Riskesdas 2018 untuk usia lebih dari 15 tahun sekitar 6.2%. Perempuan lebih cenderung mengalami gangguan cemas, salah satu faktor yang memengaruhi kecemasan pada remaja, yaitu bullying. Prevalensi bullying pada remaja yang cenderung meningkat setiap tahunnya menyebabkan bullying masih menjadi salah satu masalah kesehatan mental global. METODEStudi penelitian analitik observasional menggunakan desain cross-sectional untuk menilai hubungan kejadian bullying dengan gangguan cemas pada pelajar SMA. Pengambilan data melalui Google form dengan jumlah responden 252. Variabel yang akan diteliti, yaitu jenis kelamin, gangguan cemas, dan bullying. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan <0.05. HASILResponden perempuan sebanyak 160 responden (63%) dan laki-laki 92 responden (37%). Perempuan lebih banyak mengalami gangguan kecemasan, yaitu kecemasan ringan sebanyak 35 responden (22%), terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan gangguan cemas (p=0.002). Terdapat 97 responden menjadi korban bullying (38%) dengan kecemasan yang paling sering, yaitu kecemasan ringan. Sebanyak 30 responden (31%) terdapat hubungan antara kejadian bullying dengan gangguan cemas (p=0.000). KESIMPULANKejadian bullying dan jenis kelamin merupakan faktor yang berperan terhadap gangguan kecemasan yang terjadi pada remaja.
Hubungan tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung Permatasari, Tiara; Sidarta, Nuryani
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.106-112

Abstract

LATAR BELAKANGAcute mountain sickness (AMS) merupakan kelainan yang sering dialami oleh pendaki pemula di ketinggian lebih dari 2.500m. Menurut jurnal yang dikeluarkan oleh Military Medical Research pada tahun 2019, Murdoch mengemukakan bahwa prevalensi AMS sebesar 88.6%. Di Indonesia, masih sangat sedikit studi dan penelitian yang membahas AMS di kalangan pendaki gunung. Pada pendaki memiliki tingkat aktivitas fisik yang baik dapat mempermudah mereka dalam melakukan suatu perjalanan pendakian gunung. Tujuan penelitian ini adalah menilai hubungan tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung. METODEPenelitian dilakukan pada bulan Februari-Juni 2021 di komunitas Mapala (mahasiswa pencinta alam), dan responden yang pernah mendaki gunung dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire) dan derajat kejadian acute mountain sickness diukur menggunakan kuesioner LLS (Lake Louise Acute Mountain Sickness Score). Analisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILResponden pada penelitian ini didominasi oleh kelompok usia dari 19 sampai 39 tahun dengan variasi tingkat aktivitas fisik dari kategori sedang (50%) ke berat (40.7%). Seluruh responden mengalami kejadian AMS dari kategori ringan (73.7%) ke sedang (23.7%). Pada kelompok responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik kategori tinggi maka sebagian besar (73.3%) diantaranya hanya mengalami AMS ringan. Sebaliknya, pada kelompok responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik rendah maka mayoritas (62.5%) dari mereka mengalami AMS sedang. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan AMS pada pendaki gunung (p=0.034). KESIMPULANTerdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung.

Page 1 of 1 | Total Record : 7