cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
LOGOS (Jurnal Filsafat - Teologi)
ISSN : 14125943     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Terbit 2 (dua) kali dalam setahun, Bulan januari dan Bulan Juli oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Santo Thomas . Majalah ini berorientasi pada Nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan ini dimaksudkan sebagai media untuk mengangkat dan mengulas pengalaman manusia dan religius berdasarkan disiplin ilmu filsafat dan teologi serta ilmu-ilmu humaniora yang terkait dengannya.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023" : 7 Documents clear
PENGETAHUAN RASIONAL MURNI: Antara Teorema Penciptaan dan Teori Evolusi Leo Agung Srie Gunawan; Gerardo Vivaldi; Alfonsus Ara
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article means to explain the epistemology of Immanuel Kant. According to Kant, epistemology has to start from the knowing subject than the known object. Here, it happens the reversal of epistemology as the Copernican revolution. The main reason is that what is known by man contends in the object which appears to the subject (phänomenon) and is not the object itself (noumenon). Based on this, Kant applies the epistemological principle “synthetic a priori,” which elaborated on the thought of transcendental esthetic, transcendental logic, and transcendental dialectic. The transcendental esthetic represents the object precepted by the senses, and then the transcendental logic processes it with the categories in the reason. Particularly, Kant asserts that the soul, the world, and God in the transcendental dialectic are the ideas of intellect, but they do not have natural objects. Finally, he clarifies how the paradigm of transcendental idealism becomes the reconciliation between Rationalism and Empiricism in the way of epistemology
MEMAKNAI HIDUP SEBAGAI PERSIAPAN MENYONGSONG KEMATIAN YANG BAIK BERDASARKAN PEMIKIRAN SENECA Carolus Borromeus Mulyatno; Thomas Aquinas Rengo Woda; Laurentius Tinambunan
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hidup manusia merupakan perjalanan untuk membangun makna sampai pada akhir hayat. Hidup bermakna menjadi bentuk persiapan menyongsong saat kematian yang tidak terduga datangnya dan sering menggelisahkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman para lansia dalam memaknai hidupnya sebagai persiapan menyambut kematian yang baik. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode wawancara mendalam untuk mengumpulkan data-data penting. Instrumen untuk menggali data berupa pertanyaan-pertanyaan dirumuskan berdasarkan kerangka pikir Seneca. Responden yang dipilih untuk menggali data adalah empat lanjut usia (lansia) yang berusia antara 65 sampai 83 tahun. Mereka berdomisili di Sleman, Yogyakarta. Pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dipilih sebagai kerangka analisis data tentang pengalaman para lansia mengisi hari-hari di masa lansia. Hasil penelitian menunjukan bahwa para lansia memaknai hidup mereka melalui kegiatan sehari-hari. Dengan mengisi kegiatan-kegiatan positif di hari tua, para lansia lebih merasakan bahwa hidupnya diberkati. Kehadiran orang lain juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan para lansia. Praktik hidup yang baik, sikap lepas bebas dan kehadiran orang lain menjadi wujud nyata memaknai hidup sebagai persiapan menyongsong kematian yang baik.
PENGAKUAN IMAN AKAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS DASAR PERSAUDARAAN TAREKAT HIDUP BAKTI: Suatu Refleksi Teologis atas Anjuran Apostolik Vita Consecrata Sihol Situmorang; Dionsius Purba; Yohanes Anjar Donobakti; Asrot Purba
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tarekat Hidup Bakti merupakan bagian tak tergoyahkan bagi hidup dan kekudusan Gereja. Sebagai garda terdepan perwujudan misi Gereja, pemeluk Hidup Bakti, melalui penghayatan nasihat-nasihat Injil, bersaksi tentang persekutuan penuh cinta Allah Tritunggal Mahakudus di dalam Gereja maupun dalam dunia. Mereka yang menjalani panggilan khusus ini berusaha menghidupi ikatan cinta kasih yang begitu total dan sempurna dalam diri Bapa, Putera dan Roh Kudus. Bercermin pada Jemaat Rasuli, anggota Hidup Bakti menghayati persaudaraan dalam cinta kasih dengan kerelaan saling berbagi, baik materi, bakat maupun pengalaman rohani. Kasih sejati yang bersumber dari Allah Tritunggal itu dipupuk melalui Sabda dan Ekaristi, dimurnikan dalam Sakramen Pendamaian dan ditopang oleh doa. Hidup bersaudara dalam cinta kasih sebagai perwujudan Kerajaan Allah merupakan inti dan pokok misi Tarekat Hidup Bakti.
HILANGNYA RASA BERDOSA MENURUT PAUS YOHANES PAULUS II DALAM EKSHORTASI APOSTOLIK RECONCILIATIO ET PAENITENTIA Largus Nadeak; Suhendro Purba; Stanislaus Surip
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paus Yohanes Paulus II memandang bahwa di abad ini dunia dilanda konflik dan persoalan yang terjadi akibat hilangnya rasa berdosa (a sense of sin) dalam diri manusia. Krisis hati nurani dan krisis rasa akan Allah (a sense of God) adalah penyebab hilangnya rasa berdosa. Krisis tersebut tampak dalam beberapa fenomen budaya kontemporer, yakni sekularisme, kesalahan dalam mengevaluasi ilmu pengetahuan manusia, relativisme sistem etika, dan pemahaman yang samar-samar mengenai rasa berdosa. Paus Yohanes Paulus II mendorong semua insan untuk memulihkan rasa berdosa benar yang sudah hilang. Paus mengajak agar prinsip dan ajaran moral Gereja ditegakkan kembali, katekese pertobatan terus digaungkan, hati nurani tetap diasah, dan penerimaan Sakramen Tobat semakin digiatkan. Jalan-jalan pertobatan ini mutlak diperlukan agar rasa berdosa tetap lestari dalam diri manusia. Rasa berdosa yang benar membantu manusia untuk menata hidup bersama yang baik dengan sesama manusia serta mengakui dan mengalami kehadiran Allah yang Maharahim dalam gerak hidup.
MENGENAL 12 MURID YESUS DALAM KEPRIBADIAN DAN PELAYANANNYA Juita Lusiana Sinambela; Janes Sinaga; Beni Purba
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tidak mudah untuk memilih murid yang akan dijadikan Yesus sebagai penerus dan pembawa pesan Injil untuk keselamatan Manusia, namun dalam pilihan ini Yesus memiliki cara dan kriteria sendiri. Dalam misi-Nya di bumi, Yesus memulai dengan memuridkan 12 orang dan kemudian berkembang hingga saat ini. Kedua belas murid itu adalah Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot. Yesus tidak hanya memanggil para murid untuk menjadi pendengar, mereka juga dipanggil untuk menjadi murid. Setiap murid dipanggil untuk mengikuti dan hidup bersama-Nya. Yesus memilih para murid yang tidak berpendidikan karena mereka tidak dididik dalam tradisi dan kebiasaan palsu pada zaman mereka. Mereka adalah orang-orang yang memiliki karakter yang cakap, dan mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan mudah diajar yang dapat dia latih untuk pekerjaan-Nya. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriftif melalui Analisa data dan mengolahnya sehingga mendapatkan hasil sesuai dengan maksud penelitian. Tujuan penelitian ini adalah menyatakan bahwa panggilan dan kehidupan ke 12 murid Yesus menjadi pelajaran zaman ini, dimana ketika Yesus memanggil siapa saja menjadi murid-Nya kiranya mereka bersedia seperti ke 12 murid tanpa ragu-ragu, karena Yesus dapat menggunakan siapa saja walaupun pandangan dunia dia bukanlah orang yang cakap ataupun tidak terpandang.
DIALOG DALAM KARYA MISI GEREJA DALAM TERANG ENSIKLIK REDEMPTORIS MISSIO Marthin L. Halawa
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari kajian ini untuk mengetahui pandangan Ensiklik Redemptoris Missio oleh Paus Yohanes Paulus II, bahwa karya misi merupakan tugas fundamental Gereja. Selain itu agar para pembaca menyadari, mengetahui dan memahami tugas perutusan Gereja di tengah-tengah dunia dalam membangun dialog inklusif dengan agama lain. Supaya tugas itu berlansung baik dan relevan sesuai situasi jaman, Gereja membaharui misinya seturut paham teologis dan tuntutan zaman. Konsili Vatikan II menekankan hakikat misioner Gereja dengan berlandaskan pada perutusan Tritunggal. Kegiatan misioner melekat kuat pada hakikat hidup kristiani. Artikel ini mengupas amanat dialog, prinsip-prinsip dan bentuk-bentuk dialog, hambatan ke arah dialo,g dan dialog dalam karya misi Gereja. Dialog antaragama merupakan bagian dari karya misi penginjilan Gereja. Jika dipahami sebagai metode dan sarana untuk saling memperkaya dan saling mengenal, maka dialog tidak bertentangan dengan tugas perutusan kepada para bangsa. Melalui dialog hidup, saudara-saudari dari berbagai agama mampu bersaksi di hadapan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari dengan maksud untuk membangun suatu masyarakat yang lebih harmonis, lebih adil dan lebih bersaudara.
KESADARAN MORAL ORANG MUDA KATOLIK SEBAGAI MASA KINI ALLAH MENURUT PAUS FRANSISKUS DALAM SERUAN APOSTOLIK PASCA SINODE CHRISTUS VIVIT Antonius Moa; Toni Lahagu; Yustinus Slamet Antono; Gonti Simanullang
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, manusia berada dalam suatu periode baru dalam perjalanan sejarah hidupnya. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, terutama jaringan telekomunikasi sosial memberi andil yang sangat besar dalam perubahan yang demikian pesat dan bersifat global bagi kehidupan manusia. Kemajuan yang pesat tersebut terjadi ibarat “pedang bermata dua”. Di satu sisi, kemajuan tersebut membawa dampak yang positif, serentak di disisi lain membawa juga dampak negatif. Dampak positif membawa manusia kepada kemajuan-kemajuan yang dicapai melampaui periode sebelumnya. Sebaliknya, dampak negatif membawa manusia ke dalam situasi kehidupan yang dilematis, sehingga mengakibatkan banyak orang “terendam dalam krisis” nilai moral. Orang muda sebagai generasi penerus kehidupan tidak luput dari situasi krisis tersebut. Banyak orang muda ikut terpapar oleh pengaruh tawaran kehidupan yang menggiurkan. Pada kahirnya, mereka jatuh pada kenikmatan-kenikmatan sesaat tanpa makna. Orang muda Katolik sebagai masa depan dan pengemban misi Gereja yang hidup dalam arus perubahan ini juga tidak luput dari situasi kehidupan yang dilematis tersebut. Mereka ikut terendam dalam situasi krisis nilai-nilai moral. Akibatnya, banyak orang muda Katolik tidak mampu berkembang dalam kekudusan dan komitmen panggilan mereka sebagai masa kini Allah. Melihat realitas perubahan terebut, Paus Fransiskus melalui Seruan Apostolik Christus Vivit mengajak orang muda dan semua umat Allah untuk menyadari kebaruan dan kemudaan Kristus. Panggilan orang muda Katolik sebagai masa kini merupakan karunia istimewa Allah untuk mewujudkan kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Masa muda dipenuhi dengan suka cita dan harapan-harapan besar. Pada masa ini orang muda memiliki mimpi yang besar menuju hidup yang lebih baik dan indah. Untuk itu, orang muda Katolik hendaknya memiliki kesadaran dan pemahaman akan situasi serta posisi kemudaanya yang begitu penting bagi Gereja dan kehidupan manusia.

Page 1 of 1 | Total Record : 7