cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 10 No 1 (2009)" : 8 Documents clear
Naskah Khotbah: Karakteristik Gembala yang Disukai Tuhan (Yeh. 34:1-16)  Lim, Budianto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.586 KB)

Abstract

Naskah khotbah
Fenomena Buku The Secret, A New Earth dan Spiritualitas ala Oprah Winfrey : Bagaimanakah Gereja Menyikapinya? Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.38 KB)

Abstract

Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyorot ke dalam filsafat The Secret dan A New Earth, secara khusus konsep tentang realitas tertinggi (Allah) dan kaitannya dengan alam semesta serta manusia. Khusus untuk buku TS, pembicaraan agak diperluas dengan hukum tarik menarik untuk memberikan wawasan sekilas bagi pembaca. Selanjutnya, penulis akan menyampaikan sebuah perspektif perbandingan antara TS dan A New Earth dengan ajaran Alkitab, yang akan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap filsafat dan teologi dalam kedua buku tersebut. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi bagi gereja dalam menyikapi tren spiritualitas ala Oprah Winfrey.
Pengaruh Pascamodernisme terhadap Hermeneutika Biblika Yahya, Pancha W.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.294 KB)

Abstract

“There is a spectre haunting classical Christianity, that of postmodernism,” demikian R. Albert Mohler, Jr. mengawali artikelnya yang dimuat dalam sebuah antologi yang bertemakan “tantangan pascamodernisme bagi kekristenan injili.” Pendapat Mohler tersebut adalah sebuah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa pengaruh (negatif) pascamodernisme merupakan ancaman bagi kekristenan, termasuk di dalam ranah hermeneutika. Menurut Roy B. Zuck, hermeneutika adalah “sains sekaligus seni” dalam menafsir Alkitab. Hermeneutika, di satu sisi adalah sains karena ia adalah teknik menafsir Alkitab dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu, di sisi lain ia juga adalah seni karena melibatkan imajinasi dan perasaan penafsir, serta membutuhkan keterampilan penafsir untuk menerapkan kaidah-kaidah penafsiran tersebut. Namun, herme-neutika tidak berhenti pada teknik menafsir Alkitab; hermeneutika juga harus mengaplikasikan hasil penafsiran tersebut pada situasi kontemporer. Selain sains dan seni, Osborne menambahkan satu unsur lagi dalam hermeneutika, yaitu tindakan spiritual (spiritual act karena menurutnya, penafsiran Alkitab dilakukan di bawah pimpinan Roh Kudus). Sehubungan dengan adanya pengaruh pascamodernisme terhadap hermeneutika biblika, artikel ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: (1) Apa saja dan sejauh mana pengaruh (negatif) pascamodernisme terhadap hermeneutika? (2) Bagaimana seharusnya kita menghadapi pengaruh-pengaruh tersebut? (3) Apakah pascamodernisme hanya berdampak negatif? Adakah sumbangsih positif dari pascamodernisme bagi hermeneutika biblika?
Peran Kekristenan dalam Pendamaian : Refleksi dari Surat Filemon tentang Kekerasan Tersistem Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.941 KB)

Abstract

Dalam artikel ini, saya ingin menguraikan peran kekristenan dalam menciptakan kedamaian dalam suatu kekerasan yang tersistem. Peran kekristenan dalam situasi ini tampak melalui usaha Paulus mendamaikan Onesimus dengan Filemon (lapisan luar), di mana keduanya ada dalam suatu hubungan kekerasan tersistem yaitu: perbudakan (lapisan dalam). Oleh sebab itu, saya akan membuktikan bahwa pendamaian yang dilakukan Paulus adalah pendamaian yang bukan saja dalam konteks hubungan pribadi antara Filemon dengan Onesimus, tetapi juga pendamaian dalam konteks perbudakan masyarakat Greco-Roman waktu itu. Karena itu, tugas pertama adalah memperlihatkan bahwa perbudakan adalah sebuah kekerasan tersistem. Untuk ini metode yang dipakai adalah dengan menganalisis data di luar Alkitab mengenai perbudakan. Ini disebabkan karnea minimnya data dari Paulus tentang perbudakan selain dari surat Filemon, sedangkan data dari para penulis PB lainnya tidak relevan dalam bahasan ini karena tidak memberitahu apa pandangan Paulus tentang itu. Lebih lanjut, dalam surat Filemon, Paulus tidak memberikan satu pernyataan pun tentang apakah ia menerima, mendiamkan atau menolak perbudakan. Data di luar Alkitab yang paling diperhatikan adalah sosial ekonomi masyarakat Greco-Roman pada awal kekristenan dalam hubungannya dengan perbudakan. Lalu, tugas kedua yang perlu ialah memperlihatkan bahwa usaha pendamaian Paulus itu dimulai dari sistemnya, lalu keluar—ditransformasi—yang tampak dalam retorika Paulus untuk akhirnya Filemon dapat berbaik kembali dengan Onesimus. Karena itu, saya akan menggunakan analisis sastra-retoris terhadap surat Filemon. Dari analisis ini pula, saya akan menyediakan hal-hal praktis yang dapat dilakukan dalam proses pendamaian masa kini. Saya berharap melalui uraian ini, kita bisa menemukan identitas keinjilian kita sebagai “pembawa damai” (pada lapisan dalam dan luar) sebagaimana yang dikehendaki Tuhan Yesus terjadi pada anak-anak Kerajaan Allah.
Konsistensi antara Pengajaran Calvin akan Pernikahan Kristen dan Hidup Pernikahannya Rusli, Megawati
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.313 KB)

Abstract

John Calvin dikenal sebagai reformator kota Geneva. Ia telah mengubah kota itu menjadi sebuah kota yang sesuai dengan idamannya. ... Salah satu tindakan reformasi yang Calvin lakukan di Geneva adalah mengubah pemikiran teologis Barat mengenai hukum-hukum yang mengatur seks, pernikahan, dan keluarga. ... Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat konsistensi Calvin antara pengajarannya tentang pernikahan dengan kehidupan pernikahannya sendiri. Sayangnya, ia belum pernah membuat sebuah tulisan yang khusus dan lengkap membahas tentang pernikahan. Tetapi, ini bukan berarti kita tidak dapat menelusuri pemahamannya tentang pernikahan Kristen. Melalui berbagai tulisannya seperti buku-buku tafsiran dan khotbah-khotbahnya, kita masih dapat memahaminya. Sedangkan untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan pernikahannya, kita dapat meneliti surat-surat yang ditulisnya kepada sahabat-sahabatnya. Tentu saja informasi ini memiliki keterbatasan. Namun, walaupun sedikit, kiranya dapat memberikan bayangan yang lebih bersifat personal akan seorang tokoh reformator, antara pemahaman pernikahan Kristennya dan kehidupan pernikahan yang dijalaninya.
Bahasa Roh menurut Calvin dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini Fu, Timotius
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.873 KB)

Abstract

Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar teologi yang dipimpin oleh seorang pendeta terkenal dari Amerika Serikat. Sebelum seminar dimulai, sekitar 2000 peserta yang hadir diajak terlebih dahulu mengikuti acara Praise and Worship. Setelah menyanyi beberapa pujian, tiba-tiba musik diperlambat dan pembawa acara mengangkat tangan, menutup mata, dan mulutnya mengeluarkan “komat-kamit” suku kata-suku kata yang tidak dimengerti oleh seorang pun. Kontan, sebagian besar peserta mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh pembawa acara tersebut. Akibatnya, suasana jadi ribut dengan bahasa-bahasa aneh, teriakan-teriakan yang liar, serta sebagian peserta terlihat menangis atau ketawa tidak terkendali. Setelah “pertunjukan” tersebut berlangsung sekitar 20 menit, pembawa acara mengumumkan bahwa tiba saatnya para peserta mengusir segala kuasa gelap dan gangguan lainnya dari dalam ruang pertemuan, dan untuk itu semua yang hadir harus melakukannya dengan “berbahasa roh.” Di bawah komando sang pembawa acara, kembali ruangan kebaktian menjadi ribut dan kacau, masing-masing mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang bagi mereka adalah “bahasa roh” yang dipakai untuk mengusir Setan dan para pengikutnya dari ruangan tersebut. Menyaksikan fenomena seperti itu, perasaan saya bercampur baur, ada rasa takut sehingga bulu kuduk berdiri, ada rasa canggung karena menjadi orang “aneh” di tengah-tengah mereka, dan ada rasa ingin tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Dalam kondisi itu muncul dalam pikiran saya sebuah seri pertanyaan: “Seandainya John Calvin masih hidup dan hadir dalam kebaktian ini, bagaimana reaksinya? Apakah dia akan menerima dan mempraktikkan hal yang sama? Atau dia akan menentang, bahkan mengajarkan fenomena tersebut sebagai tindakan yang tidak alkitabiah?” Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tulisan ini disajikan dengan harapan agar kita semua memiliki pandangan yang tepat tentang natur dari karunia bahasa roh serta implikasinya bagi kehidupan bergereja masa kini.
Ide Teologis Calvin tentang Keadilan Sosial  Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.793 KB)

Abstract

Dalam rangka merayakan 500 tahun John Calvin, aliansi gereja reformed sedunia (World Alliance of Reformed Churches [WARC]) mengajak setiap anggotanya untuk bertindak nyata, misalnya, mengupayakan persatuan gereja, mempromosikan keadilan sosial dan respek terhadap ciptaan, dan melawan perang dan kejahatan. Meskipun bukan bagian dari aliansi ini, saya ingin juga menyambut ajakan tersebut secara positif. Sebagai bagian dari “kaum keturunan Calvin” (“Calvin’s descendants”) dalam warisan teologi dan berteologinya, saya ingin berpartisipasi di dalam momentum yang sangat istimewa ini. Bukan dengan extravaganza, tetapi dengan suatu tulisan reflektif sederhana tentang sang kakek-buyut dan pemikirannya. Menanggapi salah satu ajakan di atas, tulisan ini berupaya untuk mempromosikan keadilan sosial. Tepatnya, mengenalkan ide teologis Calvin tentang topik tersebut. Upaya ini dilakukan dengan cara merancangbangun ulang (reconstructing) pemikirannya tentang keadilan sosial yang terserak di berbagai sumber, baik sumber-sumber primer maupun sekunder. Sebelum melakukan hal ini, fokus akan lebih dahulu diarahkan pada dua konteks berteologi Calvin: kondisi sosial Jenewa pada abad ke enam belas dan pemikiran-pemikiran para bapa gereja. Diharapkan, dengan mengenal ide teologis Calvin ini, kekristenan Calvinis di Indonesia makin serius dan terlihat greget-nya dalam mewujudkan keadilan sosial di negeri yang, katanya, berazas keadilan sosial ini.
500 tahun Yohanes Calvin : Pengetahuan tentang Allah adalah Testing Ground untuk Mengenal Manusia Lukito, Daniel Lucas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.568 KB)

Abstract

Dalam artikel ini saya berusaha memaparkan sesuatu yang paling dasar dan permulaan sekali dari karya Calvin, yaitu doktrin Allah, atau lebih spesifik lagi, doktrin pengetahuan tentang Allah. Menarik sekali ia memulai pembahasan dalam Institusio-nya dari sudut ini dan bukan dimulai dari doktrin-doktrin penting lainnya (mis. Kristus, penebusan, Alkitab, atau Gereja). Sengaja di bagian awal saya mengutip perkataan Aleksandr Solzhenitsyn (11 Desember 1918–3 Agustus 2008)—seorang novelis pemenang hadiah Nobel bidang kesusasteraan tahun 1970, penulis drama dan sejarawan Rusia ternama—yang di antara berbunyi: “Men have forgotten God; that’s why all this has happened.” Saya berasumsi mirip dengan Solzhenitsyn: Di abad 21 dan era posmodernisme sekarang ini, manusia sebenarnya telah melupakan Allah; itulah sebabnya semakin banyak masalah melanda kehidupan manusia di zaman ini, baik di tingkat nasional maupun internasional. Intinya, manusia tidak mengenal Allah, atau, mengutip perkataan Calvin di awal tadi, manusia berusaha semaksimal mungkin menjauhkan diri dari pengetahuan tentang Allah yang benar itu. Maka melalui artikel ini penulis berusaha menghadirkan kembali pemahaman yang benar tentang doktrin pengetahuan tentang Allah khususnya dari perspektif Calvin, serta melihat pada aplikasinya dalam kehidupan dan pelayanan Kristen dewasa ini.

Page 1 of 1 | Total Record : 8