cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 11 No 1 (2010)" : 7 Documents clear
Naskah Khotbah: Air Hidup yang Menghilangkan Rasa Malu dan Salah (Yoh 4:6b-7, 15-18, 23-26, 39-42) Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.762 KB)

Abstract

Naskah khotbah
Silent Crime : Suatu Ulasan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan  Mamahit,, Aileen P.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.629 KB)

Abstract

Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan sebuah berita: “Manohara Odelia Pinot kabur dari suaminya” yang adalah anggota kesultanan Kelantan, Malaysia pada 31 Mei 2009. Cara Manohara kabur dari penjagaan yang ketat dan pengalaman-pengalaman yang mengerikan yang ia alami di tangan suaminya telah menghebohkan media massa di tanah air. Walaupun sebenarnya ada beberapa selebritis wanita Indonesia lain yang mengalami tindak kekerasan dari suami mereka, cerita Manohara yang diberitakan secara besar-besaran. Ia melarikan diri karena ada “kemungkinan” ia memang benar-benar mengalami kekerasan tersebut. Jika benar demikian, kisah dramatis ini adalah kebalikan dari dongeng-dongeng tentang tuan putri dan pangeran yang selalu diakhiri dengan “and they live happily ever after.” Kekerasan terhadap perempuan dapat mengambil berbagai bentuk, misalnya pelecehan secara fisik, seksual, dan kejiwaan. Karena cakupannya cukup luas, tulisan ini, utamanya, hanya akan meninjau kekerasan secara fisik, dan lebih khusus lagi, akan dibatasi pada “penganiayaan terhadap istri” (“wife battering”). Bagian awal tulisan ini akan menjelaskan pengertian dan penyebab kekerasan terhadap perempuan. Kemudian, akan diulas secara singkat tipe laki-laki (suami) macam apa yang rawan untuk menjadi “penganiaya istri” dan tipe perempuan (istri) macam apa yang biasanya menerima penganiayaan dari suaminya. Selanjutnya, akan dibahas penjelasan efek-efek yang ditimbulkan dari tindak kekerasan terhadap perempuan. Tulisan ini juga akan memberi tuntunan umum dan praktis bagaimana menolong perempuan “korban penganiayaan” dalam setting konseling Kristen. Akhirnya, sebuah refleksi singkat secara alkitabiah akan dipaparkan untuk melihat isu ini dari “kaca mata” firman Tuhan.  
Baptisan dan Kepenuhan Roh: Sebuah Perbandingan antara Pandangan Kekinian dengan Data Kisah Para Rasul Lukito, Daniel Lucas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.095 KB)

Abstract

... umumnya kalangan Karismatik amat mementingkan baptisan Roh, kepenuhan Roh, dan bahasa roh. ... ada opini yang cukup khas di kalangan gereja atau persekutuan Karismatik mengenai topik ini, walaupun di satu sisi ada aspek positif di dalamnya, yaitu tema tentang Roh Kudus dibahas di mana-mana. Hal tersebut tidak lain merupakan pertanda adanya kepekaan di kalangan pimpinan gereja atau kaum awam untuk mengangkat topik ini ke permukaan, sehingga kita menyaksikan bahwa banyak berkat sungguh-sungguh diperoleh, bukan semata-mata karena topik itu dibicarakan, tetapi saya percaya hal ini juga merupakan berkat tersendiri dari Allah Roh Kudus. Selain itu, hal positif lain adalah akhir-akhir ini cukup banyak terdengar orang memberikan kesaksian bahwa mereka telah mengalami kelepasan yang baru, mendapatkan sukacita yang tak terhingga setelah mereka merasakan “pengalaman kedua,” “berkat tambahan” di luar pengalaman kelahiran baru yaitu ketika percaya Kristus sebagai Juruselamat. Tuhan menjadi lebih dekat dan lebih nyata, kedamaian dirasakan datang berlipat ganda, kuasa dan kemenangan selalu menjadi berita yang hangat setelah mendapatkan sentuhan dari Roh Kudus. ... Tetapi, bersamaan dengan itu dari sisi lain, harus pula secepatnya kita bertanya: Apakah dasar pengakuan dan ajaran yang marak belakangan ini dapat dipertanggungjawabkan secara alkitabiah? Apakah pengalaman dan kesaksian berbagai kalangan tersebut sesuai dengan prinsip firman Tuhan? Apakah doktrin yang berkembang di antara mereka solid dan konsisten dengan pengajaran yang sehat? Dari sudut inilah saya mengajak kita melihat pengertian tentang baptisan dan kepenuhan Roh. Secara ringkas saya akan mengetengahkan pandangan yang umum tentang topik ini dari aliran yang mendukung dan selanjutnya akan diberikan tanggapan berupa data utama dari kitab Kisah Para Rasul. Harapan saya ini akan menjadi sebuah perbandingan yang akan membawa semua kembali pada interpretasi yang tepat dari Alkitab.
Tinjauan Kritis terhadap Film-Film Horor Indonesia dari Perspektif Demonologi Kristen Samuel, Lucky
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.537 KB)

Abstract

Sebagai salah satu media komunikasi massa, film telah menjadi salah satu media hiburan yang sangat diminati manusia modern. Maka tidak mengherankan jika insan perfilman—baik lokal maupun internasional—mulai berlomba-lomba memproduksi lebih banyak lagi film. Kenyataan tersebut tidak terlepas dari karakteristik masyarakat modern yang menjadikan film sebagai salah satu budaya hidup mereka. Di tengah arus budaya yang demikian, film horor telah menjadi salah satu genre yang digandrungi oleh para penikmat kisah-kisah yang dapat menegakkan bulu kuduk, tetapi sekaligus mengundang rasa penasaran yang tinggi. ... Tulisan ini bertujuan untuk memberikan tinjauan teologis terhadap ide-ide tentang Iblis (atau disebut juga Setan) dan roh-roh jahat yang beredar di alam pemikiran masyarakat Indonesia, yang dalam hal ini diwakili oleh film-film horor Indonesia yang tayang sejak tahun 2004 hingga awal 2010. Apa yang menjadi concern penulis dalam tulisan ini berkaitan dengan paradoks “takut namun penasaran” di antara jemaat usia remaja hingga usia dewasa yang penulis layani di ibukota negara, sewaktu membicarakan sosok Iblis dan dunia roh. Penulis akan memaparkan, pertama, konsep roh-roh jahat yang ditampilkan dalam film-film horor. Kedua, apa yang Alkitab katakan tentang roh-roh jahat dan pengaruhnya, yaitu seberapa luas cakupan pengaruh roh jahat dalam hidup manusia. Ketiga, memberikan evaluasi terhadap konsep roh jahat dalam film-film horor. Keempat, pada bagian kesimpulan, penulis akan mengusulkan bagaimana sikap orang Kristen dalam menyikapi realitas roh-roh jahat dan pengaruhnya, khusus dalam kaitannya dengan konsep roh-roh jahat yang disampaikan melalui film-film horor.  
Apakah Keilahian Yesus merupakan Ciptaan Paulus?: Penyelidikan terhadap Tradisi Gereja Purba dalam Surat Paulus Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.687 KB)

Abstract

Hal yang paling kontroversial mengenai isu hubungan Paulus dan Yesus ini adalah konsep keilahian Yesus. Yesus dianggap tidak pernah memandang diri-Nya sedemikian tinggi sehingga setara dengan Allah, melainkan hanya sebagai seorang nabi Yahudi penganut Yudaisme yang mengajak orang Yahudi untuk kembali menyembah YHWH. Paulus dianggap telah mengubah Yesus menjadi Kristus, Tuhan dan Anak Allah yang setara dengan Allah. Ia dituduh telah mengubah agama Yesus menjadi agama tentang Yesus. Ini masalah pokok yang ingin dibahas di dalam artikel ini: Apakah konsep keilahian Yesus dari Paulus merupakan ciptaannya sendiri atau berbasiskan tradisi gereja purba? Kita akan menjawab pertanyaan ini dengan menyelidiki tradisi-tradisi gereja purba yang terdapat di dalam surat-surat Paulus.
Perjamuan Terakhir: Jamuan Paskah atau Bukan? Maleachi, Martus Adinugraha
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.857 KB)

Abstract

Perjamuan Kudus adalah sakramen yang dirayakan oleh hampir semua gereja Kristen. Dasar dari sakramen ini adalah titah Yesus sendiri pada waktu Perjamuan Terakhir (Mat. 26:17-25; Mrk. 14:12-21; Luk. 22:7-14, 21-23; Yoh. 13:21-30). Perjamuan Kudus mengingatkan orang percaya pada pengurbanan Yesus di kayu salib. Roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus umumnya dikaitkan dengan perjamuan Paskah orang Yahudi yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan murid-muridnya sebelum naik ke atas kayu salib. Pemahaman bahwa Perjamuan Terakhir yang dimakan oleh Yesus dan murid-muridnya adalah perjamuan Paskah atau bukan sering kali diperdebatkan. Masalah utamanya adalah penggambaran yang kelihatannya saling bertentangan antara injil-injil sinoptik dan Injil Yohanes. Injil-injil sinoptik menuliskan bahwa persiapan makan Paskah tersebut dilaksanakan pada satu hari sebelum Paskah yakni pada bulan Nisan tanggal 14, atau yang dikenal sebagai hari Persiapan. Pada hari Persiapan ini domba Paskah disembelih. Perjamuan Paskah sendiri dimulai malam harinya, yaitu permulaan bulan Nisan tanggal 15. Di dalam Injil Yohanes, Perjamuan Terakhir kelihatannya dilaksanakan satu hari dimuka. Penyaliban Yesus terjadi di hari Persiapan yakni bertepatan dengan disembelihnya anak domba Paskah di Bait Allah. Menurut perhitungan ini Perjamuan Terakhir dilaksanakan pada bulan Nisan tanggal 14, yakni pada waktu hari Persiapan Paskah. Konsekwensinya, Perjamuan Terakhir bukanlah perjamuan Paskah. Pandangan bahwa Perjamuan Terakhir bukan perjamuan Paskah merupakan pandangan yang makin berkembang akhir-akhir ini. Bagi mereka yang setuju dengan pandangan ini, pengkaitan Perjamuan Terakhir dengan perjamuan Paskah adalah suatu tradisi yang dikembangkan setelah kematian Tuhan Yesus oleh orang-orang Kristen. Ini adalah upaya untuk membuat suatu budaya tandingan terhadap adat istiadat Yahudi. Di antara mereka yang berpandangan demikian ada yang tetap percaya bahwa Perjamuan Terakhir benar-benar terjadi di dalam sejarah,4 tetapi banyak pula yang menyangkali kesejarahannya, dengan kata lain Perjamuan Terakhir itu tidak pernah terjadi. 5 Tulisan ini mencoba mempertahankan pandangan bahwa Perjamuan Terakhir merupakan perjamuan Paskah. Untuk mencapai tujuan tersebut, pertama-tama akan dibahas soal reliabilitas dari sumber tradisi ini, yakni Alkitab dan tulisan-tulisan para rabi abad pertama mengenai perayaan Paskah. Kemudian, didiskusikan bagaimana menjelaskan data-data tentang Perjamuan Terakhir yang kelihatannya saling bertentangan dalam Alkitab.
Teologi dan Praksis Keadilan dalam Kitab Taurat Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.112 KB)

Abstract

“Jauh panggang dari api.” Ini adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan realitas keadilan sehari-hari di Indonesia. Keadilan sebagai cita-cita bersama bangsa ini, yang tertuang secara sophisticated dalam Pancasila—sebagai konstitusi tertinggi negara, hanya tinggal idealisme yang sangat jauh dari pengejawantahannya. Nilai-nilai utama keadilan dalam Pancasila, seperti persatuan, kebebasan, kesederajatan, dan kekeluargaan, hampir menjadi seperti “sampah,” tak ada arti apa-apa lagi di negara ini. Indikator yang paling jelas dan nyata tentang kesenjangan ini adalah ketika ada (banyak?) warga negara Indonesia, khususnya yang miskin, terpinggirkan dan tertindas, yang masih tak terjamin hak-haknya secara hukum, sosial, politik, dan ekonomi. Celakanya, realitas ketidakadilan ini selalu hanya menjadi bahan tontonan dan obrolan yang nikmat dari masyarakat dari waktu ke waktu. Namun, bagi TUHAN, masalah ketidakadilan bukan untuk ditonton dan diobrolkan, melainkan untuk dicari jawabannya. Melalui Kitab Taurat, TUHAN menyatakan “keadilan ilahi” kepada umat-Nya, orang-orang Israel, untuk dibaca, dipahami, dan dilakukan dengan setia. Desain awal Allah bagi umat-Nya adalah menjadikan mereka umat yang berkeadilan. Karena itu, Kitab Taurat menyediakan semacam cetakbiru sosial (social blueprint) yang selamanya menjadi acuan (model) bagi tatanan masyarakat yang ideal. Jatuh bangunnya umat Allah (Israel dan Gereja) bergantung pada berapa sesuainya hidup mereka dengan model tersebut. Lalu, apa dan bagaimanakah sesungguhnya teologi dan praksis keadilan di dalam kitab Taurat itu?

Page 1 of 1 | Total Record : 7