cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 12 No 2 (2011)" : 7 Documents clear
Kebahagiaan dan Kebaikan-Kebaikan Eksternal: Sebuah Perbandingan antara Stoa dan Kristen Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.634 KB)

Abstract

Di dalam artikel ini, penulis akan berargumentasi bahwa pandangan Kristen dan Stoa tentang kebahagiaan memiliki kesamaan signifikan yang membedakannya dengan pandangan popular modern tentang kebahagiaan Sejalan dengan Stoisisme, kekristenan lebih menekankan sisi obyektif dari kebahagiaan sebagai sesuatu yang jauh dari sekadar feeling good namun lebih terkait dengan karakter manusia. Bagi keduanya, kebahagiaan lebih merupakan kondisi etis daripada psikologis manusia. Hal ini secara jelas bertentangan dengan konotasi modern dari kata kebahagiaan yang menekankan sisi subyektif psikologis seperti perasaan senang atau puas dari manusia. Di sisi lain, penulis akan berargumentasi bahwa prasuposisi utama yang menopang konsep kebahagiaan Stoisisme bertentangan dengan wawasan dunia Kristen. Sebagai akibatnya, perilaku dan emosi yang diidolakan oleh Stoisisme menjadi bertentangan dengan Alkitab, secara khusus sebagaimana diajarkan dan dihidupi oleh Tuhan Yesus saat di bumi. Artikel ini akan dimulai dengan deskripsi pandangan Stoa tentang kebahagiaan dan peran dari kebaikan-kebaikan eksternal di dalamnya. Tanpa meninggalkan yang lain, maka tokoh Stoa yang lebih banyak dirujuk dalam tulisan ini adalah Lucius Annaeus Seneca (4 BC – 65 AD) yang hidup sezaman dengan Yesus. Ajaran Seneca sendiri telah dihargai oleh tokoh-tokoh Kristen mula-mula seperti Tertulianus, Jerome dan Agustinus. Selanjutnya, perspektif Stoisisme tersebut akan dibandingkan dengan kekristenan, terutama Sabda Bahagia Yesus dalam Kotbah di Bukit (Matius 5) yang memuat konsep kebahagiaan (makarisme) Kristen. Akhirnya, penulis akan memberikan sebuah analisa persamaan dan perbedaan dari kedua pandangan di atas sambil menunjukkan implikasinya bagi spiritualitas Kristen. Mari kita mulai dengan pandangan Stoisisme tentang kebahagiaan.
"Dari Kekosongan Kepada Kelimpahan": Fondasi Trinitarian dari Spiritualitas Kristen Sidharta, Leonard
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.715 KB)

Abstract

Tidak diragukan lagi mengenal Allah adalah tujuan menjadi seorang Kristen. Aquinas dan banyak teolog lain mengatakan bahwa tujuan utama dari keberadaan kita sebagai orang Kristen terletak di dalam momen ketika iman kita diubah menjadi pengetahuan, yakni ketika kita mengetahui Allah secara sempurna dengan melihat Dia muka dengan muka. … Namun, dalam pengertian tertentu, mengenal Allah tidaklah mudah atau, paling tidak, tidak senatural yang kita pikirkan. Proses mengenal Allah memerlukan kondisi tertentu, karena secara umum obyek pengetahuan kita menentukan cara kita mengetahui/mengenalnya (sebagai contoh, kita mengetahui kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan dengan cara belajar; kita tahu bermain alat musik dengan cara mempraktikkannya; dan seterusnya). Karena Allah secara absolut melampui pemahaman kita dan tidak dapat dikontrol oleh kita, tidaklah mengherankan jika cara yang benar untuk mengenal Allah akan mengejutkan dan menggoncang kita. Kekristenan (dan agama-agama lain juga di dalam derajat tertentu) mengajarkan bahwa melihat dan mengenal Allah secara sungguh-sungguh akan mengakibatkan kematian. … Kematian di sini berarti pemusnahan ego atau sikap mementingkan diri sendiri dan mengutamakan kenyamanan pribadi, sebagaimana William James, seorang filsuf dan psikolog Amerika, ungkapkan, pengalaman religius yang sejati selalui diawali dengan penghancuran ego seseorang. Tanpa menyadari dengan mendalam bahwa kita tidak ada apa-apanya, bahwa hati atau kehidupan kita pada dasarnya adalah kosong, kita tidak dapat mengenal Allah dengan benar dan lebih menyeluruh. … Pengalaman kekosongan atau kehampaan ini pada dasarnya adalah sebuah pengalaman akan kematian …. Selain itu, kekosongan atau kehampaan yang kita harus praktikkan bersama Kristus di sini tidak sama dengan konsep agama-agama Timur (misalnya Buddhisme) tentang kehampaan. … Sebab itu, kehampaan atau keputusasaan kita, yang dirasa seperti kematian, bukanlah akhir di dalam dirinya sendiri; ia hanyalah sarana untuk membawa kita kepada Allah. Kita sangat terbiasa dengan kata “Allah” sehingga kita jarang sekali sadar bahwa Allah adalah Keberadaan yang agung dan misterius yang sepenuh-penuhnya melebihi pemahaman kita dan menolak untuk dikontrol oleh keinginan dan hasrat kita. Karena Allah secara total melampaui kita namun menopang kita, mengenal Dia bagi kita tidak terpisahkan dari kematian!
Habitus dalam Mengikut Kristus: Kaitan antara Etika Karakter dan Spiritualitas Kristen Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.103 KB)

Abstract

Di dalam buku Fabricating Jesus, Craig Evans mengawali tulisannya dengan kisah singkat tentang pergeseran kehidupan rohani dari beberapa pakar Alkitab. Di antaranya adalah James Robinson, seorang ahli Perjanjian Lama, yang pada masa mudanya memiliki iman yang Injili, tetapi, menurut pengakuannya sendiri, imannya dihancurkan setelah ia berkenalan dengan higher criticism atau metode kritis dalam membaca Alkitab. Tokoh yang lain lagi adalah Robert Price, seorang ahli Perjanjian Baru, yang dididik di sekolah Injili yang cukup kuat—Gordon Conwell Theological Seminary. Pada masa mudanya ia bahkan pernah secara aktif terlibat dalam pelayanan kelompok Injili yang dikenal dengan sebutan Intervarsity. Tetapi setelah menyelesaikan studi doktoralnya akhirnya ia justru sekarang menjadi seorang agnostik. Satu contoh lagi adalah Bart Erhman, juga seorang pakar Perjanjian Baru. Di awal jenjang akademiknya ia belajar di sekolah-sekolah Injili (Moody Bible Institute dan Wheaton College), tetapi setelah menyelesaikan studi Ph.D. di Princeton Seminary, ia justru tidak lagi mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan. Menurut kacamata orang-orang Injili, beberapa contoh perjalanan hidup di atas merupakan sebuah kemunduran, bahkan kegagalan rohani. Di lain pihak, contoh-contoh seperti di atas juga sekaligus menyadarkan kita tentang proses perjalanan rohani sebagai bagian dari pertanggungjawaban iman. Saya percaya kita tidak boleh dengan gampang melempar tanggung jawab kehidupan rohani kita kepada Tuhan dengan berkata, misalnya, “Kalau kita ini memang orang pilihan, pertumbuhan rohani kita juga pasti dijamin oleh Tuhan.” Sebagai seorang Calvinis, saya tidak menyangkali sentralitas anugerah keselamatan dari Tuhan dalam perjalanan iman kita. Tetapi saya juga percaya bahwa anugerah keselamatan tidak berarti bahwa Tuhan mengambil alih seluruh proses perjalanan iman kita dan meniadakan tanggung jawab rohani dari diri kita. Justru karena anugerah itulah, maka kita dapat dengan bebas dan merdeka memulai peperangan rohani untuk mematahkan setiap cobaan dan dosa yang ada dalam diri kita dan di sekitar kita. Diogenes Allen dalam bukunya Spiritual Theology mengingatkan dengan tepat bahwa jika kita memberikan penekanan yang berlebihan pada pengalaman pertobatan atau fase awal kehidupan rohani kita, kita cenderung lupa atau beranggapan bahwa dengan sudah lahir baru dan bertobat maka kita telah mencapai tujuan akhir perjalanan hidup rohani. Padahal kelahiran baru dan pertobatan tersebut perlu sungguh-sungguh diwujudkan. Pada waktu kita menjalani kehidupan rohani sehari-hari, baru kita menyadari betapa sulitnya dan betapa banyaknya tantangan yang harus diatasi untuk dapat maju secara rohani, misalnya, tadinya tidak dapat mengasihi sesama menjadi dapat mengasihi sesama dengan tulus; atau tadinya pemarah menjadi seorang yang sabar dan dapat bertekun dalam kesabarannya. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi secara otomatis. Ada jurang yang lebar dan jalan yang berliku-liku di antara kedua fase tersebut. Di dalam Injil kita membaca ada lebih dari satu kali ketika Tuhan Yesus mengetahui orang berbondong-bondong mengikuti Dia atau mau menjadi murid-Nya, Ia mengambil waktu untuk menguji kesungguhan hati mereka (lihat a.l. Luk. 9:57-62; 14:25-35; Yoh. 6:60-71). Saya percaya bahwa latihan rohani merupakan bagian utama dari pertanggungjawaban iman Kristen di hadapan Tuhan. Di dalam konteks latihan rohani atau pembentukan spiritualitas Kristen itulah penulis melihat adanya manfaat yang dapat dipetik dari kaitan antara spiritualitas Kristen dengan salah satu prinsip utama dalam virtue ethics atau etika karakter. Salah satu prinsip utama dalam etika karakter yang penulis maksud di sini adalah konsep tentang habitus, yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai “kebiasaan.” Prinsip yang kedengarannya polos dan sederhana ini, di dalam konteks iman Kristen dapat memberikan sumbangsih yang tidak sedikit. Karena itu, dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, penulis ingin mencoba mengaitkan pemahaman tentang habitus dengan teori tentang pembentukan spiritualitas Kristen.
Doa Bapa Kami dalam Dua Terjemahan Bahasa Melayu pada Awal Abad Ke-Tujuh Belas Thianto, Yudha
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.382 KB)

Abstract

Dalam tulisan ini kita akan melihat salah satu buku pegangan ajaran katekisasi yang memuat terjemahan pertama dari Doa Bapa Kami ke dalam bahasa Melayu. Buku yang penulis pelajari ini adalah buku ke dua yang diterbitkan oleh VOC untuk Hindia Timur, setelah penerbitan Kamus susunan Frederick de Houtman. Kalau buku pertama yang mereka terbitkan adalah sebuah kamus bahasa Melayu, buku yang ke dua adalah sebuah buku katekisasi yang diterbitkan pada tahun 1611. Upaya Belanda untuk menerbitkan buku katekisasi ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius untuk menanamkan ajaran Calvinisme kepada penduduk setempat. Yang lebih menarik lagi, para pendeta Belanda tidak segera menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, tetapi mereka menerbitkan dan mencetak terlebih dahulu kamus, buku katekisasi, dan khotbah-khotbah. Baru pada tahun 1629 Injil Matius diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Albert Ruyl. Dalam tulisan ini kita akan menelaah dua terjemahan paling awal dari Doa Bapa Kami ke dalam bahasa Melayu. Terjemahan pertama adalah Doa Bapa Kami yang dimuat di dalam buku katekisasi yang berjudul Sovrat ABC dan buku ini kemungkinan besar ditulis oleh Albert Ruyl. Walaupun nama Ruyl tidak ditulis dalam buku ini sebagai penulisnya, berbagai kesaksian orang-orang pada zamannya menyatakan bahwa Ruyl adalah penulis dari buku katekisasi ini. Terjemahan ke dua dari Doa Bapa Kami yang akan kita pelajari adalah terjemahan dari Sebastian Danckaerts yang dicantumkan dalam khotbah-khotbahnya yang kemungkinan besar dibawakan pada tahun 1619. Khotbah-khotbah ini tidak diterbitkan, tetapi masih disimpan dalam bentuk manuskrip. Kedua terjemahan Doa Bapa Kami ini memiliki beberapa perbedaan yang sangat penting untuk dikaji. Dengan mempelajari kedua terjemahan ini kita bisa melihat upaya-upaya para pendeta Belanda untuk mengajarkan ajaran agama Kristen yang benar kepada penduduk asli Hindia Timur. Dari penelitian ini kita akan melihat bahwa penekanan pemahaman doktrinal merupakan hal yang sangat penting dalam pandangan para pendeta Belanda. Walaupun pada masa itu mereka belum menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, mereka terlebih dahulu mengajarkan agar orang Kristen di Hindia bisa berdoa dan bisa mengerti arti dari doa yang mereka panjatkan kepada Tuhan. Hal ini sangat penting, mengingat pada saat itu mereka berhadapan dengan pengikut ajaran gereja Katolik Roma yang masih tidak diizinkan berdoa dalam bahasa asli mereka. Orang-orang Katolik Roma berdoa dan menghafalkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Latin. Hanya dengan melihat bagaimana Doa Bapa Kami diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu kita dapat memahami betapa para pendeta Calvinis dari Belanda itu menginginkan pengetahuan dan pemahaman yang benar dari ajaran kekristenan. Bagi orang Kristen di Indonesia pada masa kini penelitian ini juga berharga untuk melihat bagaimana iman Kristen ditanamkan di tanah air 400 tahun yang lalu. Walau nampaknya sederhana, penelitian bagaimana Doa Bapa Kami diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia memberikan kepada kita pemahaman mengenai identitas kita sebagai orang Kristen. Dari penelitian ini penulis berharap agar orang Kristen di Indonesia juga bisa melihat benang merah yang mengikat kita pada masa kini dengan orang-orang percaya pada masa lalu yang telah memperkenalkan pengajaran iman Kristen di bumi Nusantara.
Berkenalan dengan Teori Epistemologi Alvin Plantinga: Jaminan (Warrant) dan Fungsi yang Semestinya (Proper Function) Sulistio, Thio Christian
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.126 KB)

Abstract

Tidak bisa disangkal lagi bahwa Alvin Plantinga adalah salah seorang filsuf agama yang sangat dihormati pada masa ini. Pada tahun 1980 majalah TIME menyebut Plantinga sebagai “America’s leading orthodox Protestant philosopher of God.” Di dalam komunitas Kristen sendiri, seorang teolog bernama John Stackhouse mengatakan bahwa Plantinga adalah “the greatest philosopher of the last century. [Plantinga] is not just the best Christian philosopher of his time. No, Plantinga is the most important philosopher of any stripe.” Sebagai seorang filsuf Kristen yang bergerak di bidang filsafat agama, Plantinga mendedikasikan karirnya untuk menjelaskan dan membela rasionalitas iman Kristen. Ia berupaya memperlihatkan bahwa kepercayaan teistik (kepercayaan bahwa Allah ada) dapat memiliki jaminan (warrant) di dalam konteks struktur epistemologis yang absah. Dalam dua dekade terakhir, ia telah mengembangkan teori tentang jaminan sebagai struktur epistemologis yang sah untuk menopang kepercayaan teistik. Di dalam struktur ini, iman teistik Kristen memiliki jaminan. Makalah ini akan membahas konsep Alvin Plantinga mengenai jaminan (warrant) yang berkaitan erat dengan konsepnya tentang daya kognitif yang bekerja sebagaimana mestinya (proper function). Untuk memahami teori Plantinga tentang jaminan, pertama-tama, penulis akan membahas konteks epistemologis di mana Plantinga mengembangkan teorinya tentang jaminan. Kedua, penulis akan membahas kritik Plantinga terhadap epistemologi kontemporer yang meratakan jalan untuk teorinya sendiri. Terakhir, penulis akan membahas teorinya tentang jaminan dan daya kognitif yang bekerja sebagaimana mestinya. Teori Plantinga sangat menekankan perlunya daya kognitif manusia untuk bekerja sebagaimana mestinya. Makalah ini hanya bersifat deskriptif dan tujuan saya adalah untuk memperkenalkan konsep epistemologi Plantinga kepada pembaca Indonesia.  
Tinjauan Kritis terhadap Gerakan Pria Sejati dari Perspektif Reformed  Aurelius, Johannes
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.785 KB)

Abstract

Gerakan Pria Sejati dipelopori oleh Edwin Louis Cole melalui the Christian Men’s Movement yang diawali saat retret kaum pria di Oregon pada Februari 1980, di mana Cole mendengarkan perkataan tentang lima dosa Israel yang masih ada pada kaum pria yang membuatnya tidak mengalami tanah perjanjian. Lalu Cole diteguhkan melalui nubuat dari Campbell McAlpine pada Juli 1980 yang menyatakan bahwa ia akan melayani kaum pria sebagai papan pengirik menurut Yesaya 41:15, dan diingatkan untuk tidak menunda lagi pelayanan kepada kaum pria melalui perkataan George Otis pada suatu pertemuan di California 24 April 1981. Maka pada keesokan harinya Cole memutuskan untuk mengundurkan diri dari semua pelayanannya selama ini, termasuk dari penggembalaan di gereja, dan mengkhususkan diri melayani kaum pria. Cole dijuluki sebagai “the Father of the Christian Men’s Movement ” dengan kepercayaan penuh untuk melayani kaum pria, dan menyatakan: I have been called to speak with a prophetic voice to the men of this generation and commissioned with a ministry majoring in men to declare a standard for manhood, and that standard is that Manhood and Christlikeness are synonymous. Diperkirakan bahwa gerakan pelayanan Cole terhadap kaum pria yang dikenal sebagai CMN ini dimulai tahun 1977 dan telah menyebar ke 220 negara. Gerakan ini masuk ke Indonesia pada tahun 1997 dan diresmikan secara internasional pada tahun 1999 di Texas. Gerakan ini memasuki Indonesia melalui gerakan yang diterima oleh Budi Jonatan untuk menjangkau kaum pria, dan Cole mempercayakan kepada Eddy Leo untuk mengajarkan buku “Kesempurnaan seorang pria” dalam gerakan ini. Gerakan Pria Sejati di Indonesia mengklaim bahwa mereka pada tahun 2008 telah menjangkau banyak kaum pria dari kalangan gereja, baik dari Injili, Protestan, Katolik, Pantekosta dan Kharismatik. Melihat penyebaran gerakan ini yang banyak disambut dengan antusias oleh kalangan gereja, dan tidak ketinggalan pula dari kalangan gereja Injili, maka penulis melihat perlunya penyelidikan yang bertanggungjawab dan kritis terhadap ajaran dalam gerakan ini, khususnya berkaitan dengan doktrin yang dianut oleh Cole dan praktik yang dilaksanakan dalam retret atau camp pria sejati. Dalam tulisan ini secara berurutan akan ditelusuri pemahaman doktrin, metode penafsiran dan penerapan praktis yang dikemukakan oleh Cole, dan semuanya itu akan dinilai dari standar perspektif teologi Reformed.
The Chronicles of Evangelicalism: Sebuah Pengantar Historis terhadap Gerakan Evangelikal Wim, Chandra
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.889 KB)

Abstract

Menurut statistik terkini kira-kira satu dari sepuluh orang di dunia adalah orang Kristen evangelikal; demikian tutur seorang ahli sejarah gereja. Pasalnya, populasi dunia sekarang sudah mencapai angka tujuh milyar jiwa, dan dua milyar di antaranya mengidentifikasi dirinya dengan kekristenan. Dari antara dua milyar orang Kristen ini, lebih dari setengah milyar dideteksi sebagai orang Kristen evangelikal. Mengenai bagaimana para ahli statistik dan lembaga-lembaga survey itu mengidentifikasi seseorang sebagai evangelikal bukanlah perkataan utama penulis di sini. Poin yang penulis mau angkat di sini ialah bahwa evangelikalisme merupakan salah satu kekuatan besar dalam kekristenan, hanya karena ia memiliki jumlah massa yang sangat besar dan menurut banyak pengamat, evangelikalisme akan terus membesar! Fakta di atas mendorong penulis untuk mengkaji gerakan ini secara lebih serius. Apa itu evangelikalisme? Siapa itu yang disebut kaum evangelikal? Apa keunikan dari gerakan evangelikal ini? Ini adalah segelintir pertanyaan-pertanyaan mendasar yang coba penulis jawab dalam artikel ini. Sebab walaupun ada banyak orang Kristen yang mengaku (atau “dicap”) sebagai evangelikal, tidak banyak di antara mereka yang tahu dengan persis apa yang dimaksud dengan evangelikalisme itu sendiri. Hal yang sama juga kerap kali dijumpai oleh banyak orang non-evangelikal (Kristen maupun non-Kristen) yang sering memberi label negatif terhadap orang-orang evangelikal, karena kekurang- atau kesalahpahaman tentang evangelikalisme itu sendiri. Namun secara jujur, fakta bahwa penulis adalah seorang Kristen evangelikal dan banyak berkecimpung dalam dunia pelayanan evangelikal adalah alasan utama mengapa penulis memilih subjek ini. Secara pribadi, tulisan ini adalah sebuah pencarian akademik tentang identitas diri penulis sendiri sebagai seorang evangelikal. Orang Kristen seperti apakah saya ini? Apa narasi tradisi evangelikal yang di dalamnya saya bertobat dan menjadi seorang percaya? Siapa pahlawan-pahlawan iman dalam evangelikalisme yang harusnya menjadi teladan bagi saya? Kredo-kredo apa yang perlu saya percayai sebagai seorang evangelikal? Terlepas dari fakta bahwa saya “dilahirbarukan” dalam tradisi ini, mengapa saya tetap memilih menjadi seorang evangelikal sampai sekarang dan apa artinya menjadi seorang Kristen evangelikal di zaman ini? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang ada di balik kepala dan hati penulis sembari meneliti studi ini. Penulis yakin bahwa ia tidak sendirian dalam pencarian jati diri evangelikal ini.

Page 1 of 1 | Total Record : 7