cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 13 No 2 (2012)" : 8 Documents clear
Konsep Kasih Allah Menurut Choan-Seng Song dan Aplikasinya Terhadap Pelaksanaan Misi Gereja-Gereja di Indonesia Soegiarto, Samuel
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.348 KB)

Abstract

Dengan penekanan yang sangat besar kepada unsur kasih, maka studi tentang konsep kasih Song ini menjadi penting dalam memahami konsep teologinya, secara khusus konsep keselamatan dan pekerjaan misi, yang merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Alasannya karena konsep keselamatan seseorang akan menentukan teologi dan praksis orang tersebut di dalam bermisi. Selain sebagai sebuah studi teoritis, artikel ini juga merupakan suatu usaha memikirkan ulang teologi yang akan memberikan warna tersendiri di dalam pemahaman teologis dan praktik misi gereja, khususnya di Indonesia, mengingat Song merupakan salah seorang teolog Asia yang mencoba untuk menghadirkan pemahaman teologis yang cocok dengan konteks dunianya. Harapan penulis, tulisan singkat ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran, berupa tanggapan positif dan negatif terhadap pandangan Song, yang kemudian bisa diimplementasikan di dalam kehidupan bergereja, agar pekerjaan pelayanan gereja dapat semakin efektif dan tepat sasaran (sesuai konteks), dan nama Tuhan Yesus akan semakin dipermuliakan dan kerajaan-Nya akan semakin nyata di dalam dunia ini.
Epistemologi Reformed : Sebuah Upaya Filsuf-Filsuf Kristen Membela Status Epistemologi Kepercayaan Kristen Sulistio, Thio Christian
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.433 KB)

Abstract

Sejak pertengahan tahun 1980-an berkembang suatu gerakan di dalam filsafat analitik yang disebut epistemologi Reformed. Para filsuf yang tergabung dalam gerakan ini berupaya untuk menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Allah (belief in God) dan khususnya kepercayaankepercayaan Kristen adalah rasional, terjustifikasi (justified) dan terjamin (warranted). Singkatnya, mereka berupaya untuk memperlihatkan bahwa secara epistemologis kepercayaan religius (religious belief), khususnya kepercayaan Kristen, memiliki status epistemik yang positif. Tokoh-tokoh yang menjadi arsitek dan pendiri gerakan ini adalah William P. Alston (1921– 2009), Nicholas Wolterstorff (1932– ), dan Alvin Plantinga (1932– ). Plantinga menyebut gerakan ini sebagai epistemologi Reformed karena para pendirinya, seperti Plantinga sendiri dan Wolterstorff, mengajar di Calvin College, Amerika Serikat, dan mereka banyak mendapatkan inspirasi dari John Calvin serta para teolog lain di dalam tradisi teologi Reformed. Sebagai sebuah gerakan yang ingin menunjukkan bahwa kepercayaan religius memiliki status epistemik yang positif, epistemologi Reformed menolak pandangan fondasionalisme klasik dan evidensialisme bahwa kepercayaan religius tidak rasional dan tidak terjustifikasi. Mereka juga mengklaim bahwa kepercayaan religius memiliki status epistemik yang positif di dalam konteks epistemologi yang lebih memadai. Artikel ini ingin memperkenalkan epistemologi Reformed dengan cara mempelajari kedua proyek epistemologi di atas dan melihat implikasinya bagi apologetika. Sebab itu, penulis pertama-tama akan membahas dua proyek epistemologi tersebut, dilanjutkan dengan membahas implikasinya bagi apologetika Kristen.
Kebenaran Doktrin Antropologi dan Soteriologi Bagi Kepentingan Etika Lingkungan Tan, Kian Guan
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.298 KB)

Abstract

Orang-orang sekuler menuduh kekristenan sebagai agama yang paling bertanggung jawab atas kerusakan ekologi. Menurut mereka, ajaran-ajaran kekristenan seperti antropologi dan soteriologi lebih mengutamakan manusia daripada ciptaan yang lain. Kalau memang benar ajaran doktrinal di atas yang menyebabkan terjadinya masalah ekologi, maka ini selaras dengan pernyataan Alister E. McGrath bahwa etika Kristen merupakan hasil yang keluar dari doktrin Kristen. Namun tentu bukan hasil etika seperti ini yang ia maksud. Sebaliknya, doktrin Kristen harus dibangun dan dipahami dengan benar sesuai Alkitab karena itu akan mempengaruhi seluruh etika Kristen. Dari permasalahan di atas, penulis memandang perlu untuk menegakkan kebenaran dari kedua doktrin tersebut supaya: pertama, orangorang Kristen dapat lebih utuh memahami dan mengimplementasikannya sehingga tidak menjadi batu sandungan lagi; dan kedua, golongan sekuler memahami kebenaran dari ayat-ayat yang dituduhkan dan mengerti bahwa kekristenan tidak antiekologi, namun mementingkan lingkungan.
Pandangan Kalvin Tentang Hari Sabat Djung, Philip K. H.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.423 KB)

Abstract

Sabat telah menjadi topik debat yang hangat sejak zaman Reformasi. Pandangan Reformator John Calvin pun sering dikutip baik oleh mereka yang setuju maupun yang tidak setuju dengan pandanganya. Hal ini lebih disebabkan oleh kompleksitas pandangannya dan juga luasnya cakupan penulisan Calvin tentang topik ini. Selain itu, sikapnya dalam menjaga hari Sabat juga turut dipertanyakan. … Dalam tulisan ini saya akan menunjukkan bahwa bagi Calvin, sejauh itu menyangkut “istirahat rohani,” ibadah komunal, dan perbuatan baik, maka hukum ke-4 masih berlaku bagi orang Kristen hari ini dan seharusnya dijalankan dengan penuh ketekunan, namun bukan legalistik ataupun takhayul. Artikel ini akan membahas pengertian Calvin tentang tujuan perintah ke-4, diikuti dengan tiga fungsi hukum tersebut beserta penerapannya. Kemudian, saya akan menarik kesimpulan dari keseluruhan pembahasan.
Tinjauan teologi Reformed Terhadap Kebudayaan yang Dibangun dan Dipopulerkan Oleh Televisi Dalam Fungsinya Sebagai Media Massa Soegianto, Hari
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.716 KB)

Abstract

Tiga istilah penting dalam judul di atas adalah “teologi Reformed,” “kebudayaan,” dan “televisi.” Jika ketiga istilah ini disejajarkan, tentu menimbulkan pertanyaan yang mendasar yaitu, apakah hubungan di antara ketiganya? Apakah satu dengan yang lain saling mempengaruhi, ataukah berdiri sendiri-sendiri? Jika memiliki relasi, relasi apakah yang terjadi di antara ketiganya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam makalah ini. Tulisan ini akan menunjukkan pengaruh televisi sebagai media massa dalam membangun dan mempopulerkan pola pikir, gaya hidup dan nilai-nilai pada zaman ini. Penulis akan memaparkan serangkaian penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan dan dipublikasikan di media, lalu memberikan tanggapan berdasarkan pemahaman teologi Reformed.
Kenali Diri, Kenali Musuh, Gunakan Strategiyang Tepat : Pengajaran Tentang Peperangan Rohani Menurut Surat Efesus Lo, Timotius
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.97 KB)

Abstract

“Apakah Iblis dan kuasa kegelapan lainnya sudah dikalahkan?” Jawabannya adalah, “Ya” dan “Tidak.” Jawaban “Ya” karena di kayu salib Yesus Kristus sudah melucuti segala pemerintah dan penguasa kegelapan serta menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka (Kol. 2:14-15; Ibr. 2:14). Sedangkan jawaban “Tidak” karena Iblis dan para pengikutnya masih memiliki sisa-sisa kuasa untuk memberontak kepada Allah. Natur pemberontakan Iblis kepada Allah adalah sebuah usaha untuk menggagalkan pemerintahan Allah atas dunia ini dengan cara menyerang, menciderai, menipu, bahkan menguasai umat manusia (Yoh. 8:44; 1Ptr. 5:8; Luk. 22:31; 1Kor. 12:7-8; Mat. 17:14-18), sebelum akhirnya ketika masanya genap Iblis dan semua pengikutnya akan selama-lamanya dibuang ke dalam api neraka (Why. 20:1-7). Salah satu karya Iblis pada masa kini adalah menciptakan chaos yang dilakukan atas umat manusia lewat menggelapkan atau membutakan pikiran dan mata hati umat manusia (2Kor. 4:4). Pikiran manusia yang gelap dan mata hati yang buta menghasilkan pandangan dunia yang salah dan tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab, yang pada gilirannya akan menghasilkan pengajaran dan praksis yang salah. Sebagai orang Kristen, kita harus hidup waspada dan memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi serangan Iblis dan para pengikutnya dalam kehidupan kita pada masa kini. Untuk itu, makalah ini secara khusus menampilkan pengajaran rasul Paulus dalam surat Efesus yang menyajikan sebuah strategi khusus dalam memenangkan peperangan rohani ini.
Menjawab Persoalan Teologis Tentang Konsep dan Praktik Kesembuhan Ilahi Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.217 KB)

Abstract

Kesembuhan ilahi adalah salah satu dari sekian banyak isu dalam kekristenan yang tetap hangat untuk dibicarakan. Isu ini masih tetap relevan, populer dan “tidak ada matinya.” Dalam menanggapinya, orang-orang Kristen telah terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang bersikap acuh tak acuh terhadap praktik kesembuhan ilahi, mungkin karena ketidaktahuan tentang konsep dan praktik terhadap hal tersebut atau memang tidak mau terlibat di dalam polemik yang berkepanjangan. Ada sebagian yang pro terhadap praktik ini dan begitu bersemangat menerima dan mempromosikannya. Mereka percaya bahwa praktik ini masih berlangsung dan harus terjadi sampai saat ini. Di pihak lain, ada juga sebagian yang bersikap kontra. Mereka menolak bahkan melarang praktik tersebut dilakukan di dalam lingkup jemaat dengan alasan “karunia” untuk menyembuhkan dan fenomena penyembuhan ilahi sudah berhenti sejak zaman para rasul. Yang menarik, berbagai gereja dalam lingkungan injili pun telah terbagi-bagi dalam ketiga posisi di atas Realita yang demikian telah menimbulkan persoalan teologis di dalam kekristenan, dengan pertanyaan utama, manakah posisi yang paling benar? Tulisan ini tidak sedang menempatkan diri dalam salah satu posisi di atas, tetapi mencoba menjawab persoalan tersebut dengan berefleksi secara lebih kritis terhadap berbagai posisi tersebut. Tulisan ini akan menjawab pertanyaan di atas dengan cara menguji setiap pandangan dalam dua aspek utama: prasuposisi di balik konsep dan praktik kesembuhan ilahi serta metode penafsiran (prinsip-prinsip pemahaman Alkitab) terhadap teks-teks kesembuhan.
Eksklusivisme, Inklusivisme, Pluralisme, dan Dialog Antar Agama Lukito, Daniel Lucas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.786 KB)

Abstract

Cukup banyak gereja atau sinode di zaman pascamodern ini yang mengutamakan pentingnya relasi antar-agama atau antar-iman. Mereka agaknya tidak mementingkan apa ajaran yang dipegang seseorang, sebuah lembaga, atau sebuah aliran. Memang, mau tidak mau pada masa kini kita hidup di dalam dunia yang secara religius bersifat plural atau majemuk, dan kebanyakan orang akan setuju bila dikatakan bahwa kekristenan pun, siap atau tidak, dipandang hanyalah sebagai salah satu agama dunia di antara agama-agama lainnya. Teolog modern atau pascamodern pada umumnya memilih posisi “aman” dan dapat diterima semua pihak, yaitu bahwa setiap agama memiliki warisan historis dan jalan keselamatannya sendiri-sendiri.3 Secara khusus, di Indonesia, kita hidup di tengah beragamnya suku, ras, tradisi, latar belakang sosial dan agama. Bagi kekristenan, pluralitas budaya dan agama ini dapat memperlihatkan aspek-aspek positif maupun negatif. Dari perspektif positif, kita harus mengakui bahwa pluralitas kepercayaan dapat memperkaya dan sekaligus menantang pemahaman Kristen secara lebih perseptif dan realistis tentang keberagaman ini; hasilnya, pelayanan Kristen akan jadi lebih relevan dan kontekstual bagi kebutuhan manusia. Dari perspektif negatif, kita juga harus mengakui bahwa pluralitas kepercayaan ini dalam keadaan-keadaan tertentu telah menjadi penyebab timbulnya ketegangan dan konflik-konflik di antara keyakinan-keyakinan tersebut. Lalu, bagaimana seharusnya orang Kristen mendekati topik pluralisme? Melalui artikel ini saya pertama-tama akan menguji fakta pluralisme dalam dunia kita saat ini. Kita akan mengamati pluralisme sosiokultural modern dan dampaknya terhadap teologi Kristen. Kemudian kita akan menyelidiki bagaimana pluralisme telah dimanfaatkan untuk membenarkan agenda teologis belakangan ini yang dikenal sebagai “teologi agama-agama dunia” atau “teologi pluralistik.” Di sini tampaknya, oleh mereka, iman Kristen harus diletakkan sebagai dikotomi atau alternatif antara partikularisme dan inklusivisme. Yang pertama berarti orang Kristen sebaiknya tidak menyajikan iman mereka dengan cara sedemikian rupa seakan-akan mereka adalah “mayoritas,” “pemimpin,” “anak tunggal yang terkasih” di antara agama-agama lainnya. Yang belakangan berarti orang Kristen seharusnya mengadakan atau ikut serta dalam dialog dengan anggota iman atau agama lain sehingga kekristenan itu sendiri dapat diperkaya, atau bahkan diubahkan melalui interaksi serta menyerap kebenarankebenaran yang terdapat dalam tradisi lain. Itu sebabnya sebelum kita tiba pada implikasi di bagian akhir, saya akan mengajukan sebuah kerangka alternatif sebagai suatu usaha untuk melangkah melampaui kontroversi, yakni mengajukan sebuah kerangka yang bisa dikerjakan di mana perbedaanperbedaan pemikiran adalah sah dan tidak direlatifkan atau diabsolutkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8