cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 14 No 1 (2013)" : 8 Documents clear
Sebuah Kritik terhadap Pandangan James D. G. Dunn tentang "Melakukan Hukum Taurat" dalam Galatia 2:16  Yahya, Pancha W.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.413 KB)

Abstract

Frasa “melakukan hukum Taurat” (harfiah: “pekerjaan-pekerjaan hukum,” digunakan delapan kali dalam surat-surat Paulus (Rm. 3:20, 28; Gal. 2:16 [tiga kali]; 3:2, 5, 10). Interpretasi yang tepat terhadap frasa ini sangat penting untuk memahami Paulus dan pemikirannya. Kendati demikian, tidak ada kesepakatan di antara para sarjana Perjanjian Baru mengenai makna dari istilah tersebut. Secara tradisional, para sarjana memahami frasa tersebut sebagai “sebuah kewajiban untuk mematuhi semua tuntutan Hukum Musa guna memperoleh keselamatan.” Bagi para sarjana tersebut, Paulus menggunakan “melakukan hukum Taurat” untuk menyerang orang-orang Yahudi yang menggalakkan pendekatan legalistik pada keselamatan. Menurut pandangan tradisional ini, dengan menggunakan frasa ini Paulus mengajar para pembacanya di Roma dan Galatia bahwa melakukan hukum Taurat tidak akan membenarkan mereka seperti halnya beriman kepada Yesus Kristus. Di sisi lain, Perspektif Baru tentang Paulus (The New Perspective on Paul—selanjutnya disingkat NPP) berpendapat bahwa Yudaisme abad pertama bukanlah agama yang bersifat legalistik. Selanjutnya, para pendukung NPP berpendapat bahwa doktrin pembenaran oleh iman tidak ada hubungannya dengan keselamatan secara individual, tetapi lebih sebagai argumentasi Paulus terhadap orang-orang Kristen Yahudi yang sangat percaya bahwa orang percaya dari bangsa non-Yahudi harus di-Yudais-kan demi menjadi bagian dari umat Allah. Sebagai tambahan, para pengikut NPP tidak setuju bahwa “melakukan hukum Taurat” mengacu pada ketaatan pada hukum sebagai upaya demi memperoleh keselamatan. Sebaliknya, mereka percaya bahwa menurut Paulus, frasa itu merujuk pada pelaksanaan tuntutan-tuntutan hukum guna memelihara keanggotaan orang Yahudi dalam ikatan perjanjian dengan Allah. Dalam Roma dan Galatia, “melakukan hukum Taurat” secara khusus mengacu pada beberapa tuntutan yang berfungsi sebagai tanda-tanda yang membedakan orang Yahudi dan non-Yahudi, yaitu: sunat, Sabat dan hukum-hukum yang berhubungan dengan makanan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengevaluasi pandangan NPP tentang “melakukan hukum Taurat.” Namun, karena keterbatasan ruang, agaknya tidak mungkin untuk membahas semua isu dan kajian pustaka yang berkaitan dengan pandangan NPP terhadap frasa ini. Karena itu, saya akan memfokuskannya hanya pada pandangan Dunn tentang “melakukan hukum Taurat,” khususnya di Galatia 2:16. Alasan saya memilih Dunn adalah karena ia bukan saja seorang sarjana NPP yang terkemuka, tetapi ia juga adalah sarjana yang diasosiasikan dengan frasa “New Perspective on Paul.” Selain itu, saya akan berkonsentrasi pada Galatia 2:16 karena Dunn sendiri menekankan bahwa Galatia 2:16, yang di dalamnya terdapat tiga kali frasa “melakukan hukum Taurat” adalah “the most obvious place to start any attempt to take a fresh look at Paul from our new perspective.” Di dalam artikel ini saya akan membuktikan bahwa pemahaman Dunn tentang “melakukan hukum Taurat” tidaklah meyakinkan, karena studi yang cermat terhadap konteks langsung, gaya sastra, dan latar belakang historis dari frasa tersebut dalam Galatia 2:16, menunjukkan bahwa frasa tersebut mengacu pada ketaatan terhadap semua tuntutan hukum guna memperoleh keselamatan.  
Etika Paulus tentang Perceraian: Studi I Korintus 7:10-16 Gunawan, Chandra
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.037 KB)

Abstract

Tema mengenai perceraian selalu menjadi tema yang cukup menarik untuk didiskusikan dan penting untuk dibahas. Penulis pernah menyampaikan sebuah khotbah mengenai perceraian dan setelah kebaktian selesai ada beberapa jemaat langsung bertanya mengenai bagaimana mereka harus menilai kasus-kasus perceraian yang mereka lihat baik dalam keluarga dekat mereka ataupun teman atau kerabat mereka. Angka perceraian di Indonesia setiap tahunnya bertambah tidak kurang dari 10%; pada tahun 2009 terjadi 216.286 kasus perceraian, dan di tahun 2010 terjadi peningkatan menjadi 285.184 perkara. Meningkatnya angka perceraian memperlihatkan bahwa kondisi keluarga-keluarga dari masyarakat Indonesia semakin mengalami penurunan dalam hal kualitas sehingga berdampak pada rentannya usia pernikahan keluarga dari masyarakat kita. Di negara-negara Barat pun kondisi yang sama terjadi, jumlah perceraian sangatlah tinggi sebagaimana dijelaskan oleh Gordon J. Wenham bahwa separuh dari pernikahan diakhiri dengan kasus perceraianan …. 1 Korintus 7 adalah teks Alkitab yang penting dalam membahas isu perceraian dan pernikahan kembali. Teks ini telah mempengaruhi penafsiran dan kebijakan dari berbagai denominasi gereja, contohnya Roma Katolik dan The Church of England.12 Meskipun 1 Korintus 7 memang berbicara mengenai isu perceraian dan pernikahan kembali, namun bagian ini bersifat “occasional,” artinya nasihat yang diberikan Paulus terkait dengan situasi dan kondisi tertentu yang terjadi dalam jemaat.13 Perkataan Paulus dalam 1 Korintus 7:1 dan 1 Korintus 7:25 jelas mengindikasikan adanya pertanyaan tertentu yang ditanyakan jemaat Korintus kepada Paulus.
Tinjauan Teologis terhadap Konsep Aksesibilisme Monergistik Terrance L. Tiessen Tan, Kian Guan
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.269 KB)

Abstract

Bagaimana keselamatan orang-orang yang belum pernah berkesempatan mendengar injil (the unevangelized)? Pertanyaan ini menjadi populer di halaman depan beberapa buku teologi setidaknya pada dua puluh tahun terakhir ini. Secara umum, ada empat kalangan yang disinggung lewat buku-buku ini. Pertama, kalangan agnostik yang cenderung memilih aman dan berkata bahwa Alkitab tidak berbicara jelas (silent) mengenai “nasib” orang yang belum pernah mendengar Injil. Kedua, kalangan eksklusivis atau partikularisme yang lebih tegas dan berani mengatakan bahwa mereka yang tidak pernah mendengar berita Injil dan beriman kepada nama Yesus Kristus tidak akan memperoleh keselamatan. Ketiga, bertolak belakang dengan eksklusivisme, kalangan pluralisme mengatakan bahwa orang yang belum pernah mendengar Injil sangat bisa selamat melalui agama dan kepercayaan mereka masing-masing, karena ada The Real yang sama. Keempat, masih ada satu kalangan lagi yang mencoba menjawab pergumulan teologis ini, khususnya dengan menjembatani perbedaan di antara pihak eksklusivis dan pluralis, yaitu inklusivisme. Kalangan ini setuju kepada pihak pluralis yang tidak membatasi keselamatan Allah hanya kepada orang-orang yang mendengarkan berita Injil dan percaya di dalam Yesus Kristus. Di sisi lain, kalangan ini juga setuju dengan para eksklusivis yang mendasari keselamatan Allah di dalam Pribadi Yesus Kristus dan berita Injil. Sebagai seorang eksklusivis, penulis tertarik untuk mengkritisi pandangan inklusivisme ini dibandingkan dengan pandangan yang lain. Alasannya adalah: pertama, pandangan ini berusaha menjembatani perbedaan di antara eksklusivisme dan pluralisme. Karena itu, mungkin saja ada pemikiran-pemikiran menarik yang perlu diperhitungkan; kedua, pandangan ini memiliki titik berangkat yang sama dengan eksklusivisme, yaitu firman Tuhan. Pandangan ini juga sepakat bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat manusia; tidak ada manusia yang bisa membebaskan dirinya sendiri dari dosa tanpa Yesus Kristus. Masalahnya adalah, dengan maksud mengakomodasi kedua belah pihak, tentu saja kita perlu bertanya, seberapa besar kesetiaan mereka memegang inti iman kekristenan ini?; terakhir, pandangan ini bersifat aktif dalam berargumentasi. Karena itu, dialog dapat lebih mudah dilakukan, baik kepada kalangan eksklusivis maupun pluralis. Penulis akan berkonsentrasi mengkritisi salah satu tokoh inklusivis yaitu Terrance L. Tiessen. Ketertarikan penulis kepada Tiessen adalah karena ia mengembangkan konsep inklusivisme yang agak berbeda dengan yang lainnya. Ia mencoba mengaitkan teologi Calvin dengan inklusivisme, sehingga lahirlah aksesibilisme monergistik.
Strategi Pelayanan Pastoral Kedukaan yang Holistik Runenda, Paulus Chendi
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.261 KB)

Abstract

Kematian adalah realitas kehidupan yang tidak mungkin dihindari. Bagi kebanyakan orang, mendengar kata “kematian” saja sudah memunculkan kengerian karena sering kali kehadirannya sangat di luar dugaan, mendadak, tidak memberikan tanda-tanda maupun kesempatan untuk mempersiapkan diri, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi orang-orang yang mengasihinya. Kematian menyebabkan seseorang mengalami penderitaan fisik dan derita emosional yang menusuk sekalipun kadarnya bisa berbeda pada masing-masing orang. Kematian membawa disintegrasi kehidupan, menyebabkan terputusnya relasi-relasi, baik pribadi, keluarga maupun sosial. Bisa dibayangkan bahwa penderitaan orang yang ditinggalkan sungguh tidak mudah untuk ditanggung. Bahkan, jika pengalaman-pengalaman ini dibiarkan dapat berdampak buruk terhadap kondisi jasmani, mental, rohani maupun social orang tersebut. Bagi mereka yang mengalami peristiwa kematian seorang anggota keluarga, dukacita yang dirasakan tidak serta-merta hilang begitu saja setelah proses pemakaman selesai. Pada umumnya justru setelah seluruh proses pemakaman selesai rasa keterhilangan itu baru sangat terasa. Karena dampak kedukaan itu sangat kompleks maka pelayanan kepada orang berduka juga perlu komprehensif. Sayangnya, fenomena yang justru sering kali terlihat adalah gereja melayani orang yang kedukaan secara parsial. Gereja cenderung lebih berfokus pada pelayanan kepada mereka di rumah duka karena inilah yang terjadi di sini dan sekarang (here and now). Padahal seseorang atau anggota keluarga yang ditinggal justru menghadapi masalah-masalah yang lebih kompleks setelah pemakaman selesai. Namun sayangnya, pelayanan kepada mereka malahan terabaikan oleh gereja.
Keselamatan dari Orang Kristen yang Bunuh Diri Donna, Sylva
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.4 KB)

Abstract

Bunuh diri bukanlah fenomena baru dan merupakan fenomena yang tidak kunjung padam. Kejadian tersebut tidak hanya menimpa negara-negara bagian dunia seperti Australia, Belgia, Denmark, Belanda, Afrika Selatan, dan masih banyak lagi, namun juga terjadi di Indonesia. Walaupun angka kematian yang diakibatkan karena tindakan bunuh diri belum diketahui datanya secara pasti dan akurat, namun angka kematian di Indonesia dengan cara bunuh diri menunjukkan angka yang cukup signifikan. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap tahun ada sekitar satu juta orang di dunia yang tewas akibat bunuh diri. Kasus-kasus bunuh diri tersebut dapat terjadi pada orang dari segala usia. Selain itu, hal tersebut tidak terbatas pada etnis tertentu ataupun golongan agama tertentu. Menyikapi fenomena tersebut kekristenan pun tidak tinggal diam. Perdebatan di kalangan umat Kristen berkisar tentang keselamatan orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Sebagian orang mengatakan bahwa orang yang bunuh diri tidak diselamatkan dan tidak akan masuk surga karena orang tersebut belum sempat minta ampun kepada Tuhan. Sebagian orang berpandangan bahwa orang yang bunuh diri tetap masuk surga karena sudah dibenarkan oleh Tuhan lewat penebusan di kayu salib sekali untuk selamanya. Banyaknya perdebatan yang terjadi di kalangan Kristen membuat banyak orang Kristen menjadi bingung mengenai hal tersebut. Oleh karena itu, penulis ingin menelaah lebih lanjut masalah keselamatan dari orang Kristen yang bunuh diri. Artikel ini akan memaparkan mengenai pengertian bunuh diri, penyebab bunuh diri, bunuh diri dalam Alkitab, dan bagaimana keselamatan orang Kristen yang bunuh diri. Terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan akhir untuk menentukan posisi di antara perdebatan-perdebatan yang ada dan implikasinya dalam kehidupan orang Kristen.
Kemurahan terhadap Pekerja Rumah Tangga: Praktik Spiritualitas bagi Para Majikan Kristen Jeremiah, Alvin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.919 KB)

Abstract

Di dunia modern saat ini yang mengutamakan dan menekankan kesamaan status di antara manusia, komunitas masyarakat Indonesia ditandai dengan kelas-kelas sosial yang ditentukan oleh etnis dan agama seseorang. Ada banyak keluarga Tionghoa-Indonesia yang mempekerjakan orang-orang dari kelompok “inferior” sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, pengemudi, atau pekerjaan lain yang tidak terlalu menuntut keterampilan. Para pekerja rumah tangga ini tinggal di rumah majikan mereka, namun, ironisnya, mereka tidak “diterima dengan senang hati.” Contohnya, mereka tidak boleh makan semeja dengan majikan, dan bahkan ada sebagian dari mereka yang tidak diizinkan makan makanan yang sama dengan majikan. Kebanyakan dari mereka tinggal di sebuah kamar tidur yang secara menyolok lebih buruk dari ruangan lain di rumah tersebut. Kamar mandi mereka jauh dari standar higienis dan kelayakan. Saya percaya bahwa kita, sebagai para majikan Kristen, harus belajar mempraktikkan keramahtamahan terhadap para pekerja rumah tangga. Hal ini mungkin merupakan sebuah tantangan besar karena kita semua dibesarkan dengan cara demikian dan kita tidak pernah berpikir untuk bertindak ramah terhadap mereka. Namun saya percaya bahwa keramahtamahan kita niscaya akan menjadi saluran anugerah Allah bagi Indonesia. Karena itu, dalam artikel ini saya akan membuktikan bahwa keramahtamahan terhadap para pekerja rumah tangga adalah praktik spiritual yang sangat penting yang harus kita lakukan dan yang untuknya kita dipanggil.
Tinjauan terhadap Spiritualitas Taize dan Telaah atas Kemungkinan Mengadopsinya sebagai Pendorong bagi Spiritualitas Injili Gunawan, Esther
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.957 KB)

Abstract

Bertitik tolak dari ... ciri spiritualitas pascamodern, artikel ini akan secara khusus menyelidiki spiritualitas Taizé. Apakah tepat jika Taizé disebut sebagai salah satu perwujudan dari spiritualitas pascamodern? Jika jawabannya “ya,” apakah tepat jika istilah “bricolage spirituality” ini disandangkan kepada komunitas Taizé? Apakah keempat ciri tersebutlah yang mengakibatkan Taizé menjadi begitu diterima, fenomenal dan mengglobal? Seberapa besar peranan figur Bruder Roger (sang pendiri sekaligus pemimpin pertama komunitas Taizé) yang dikenal sangat berkarisma dan inspiratif? Sebagai klimaks, penulis akan mencoba mengambil kesimpulan atas topik inti artikel ini, yakni: apakah tepat jika spiritualitas ala Taizé ini diadopsi sebagai “booster” bagi spiritulitas injili? Artikel ini tidak akan menyoroti praktik-praktik spiritual Taizé (seperti doa, ibadah dan meditasi) secara detail, namun akan lebih berkonsentrasi pada penyelidikan akan “filosofi” atau makna di balik spiritualitas Taizé dalam konteks pascamodern. Metodologi yang penulis terapkan adalah metode hermeneutika (dengan penekanan pada pendekatan sejarah dan teologis) dengan harapan penulis dapat mengambil suatu kesimpulan yang objektif guna menjawab pertanyaan-pertanyaan penting di atas.
Bejana Tanah Liat dan Semak yang Terbakar: Menerima Berkat-Berkat Jumat Agung dan Paskah Sidharta, Leonard
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.928 KB)

Abstract

Apakah ada cara-cara yang benar untuk merayakan Jumat Agung dan Paskah? Sebagai orang-orang Kristen yang tidak ingin disebut sebagai “orang-orang Kristen KTP,” kita sudah tentu tidak akan dipuaskan dengan jawaban bahwa karena dua hari tersebut adalah dua peristiwa gerejawi yang penting maka kita harus pergi ke gereja dan mengikuti ibadah dengan khusyuk. Pastilah ada jawaban-jawaban yang lebih dalam lagi. Namun di mana kita menemukan jawaban-jawaban tersebut? Paling tidak kita dapat mengatakan bahwa kita harus bersedih pada hari Jumat Agung dan bersukacita pada hari Paskah. Hal tersebut merupakan jawaban yang normal dan bahkan beberapa orang Kristen mengatakan bahwa tanpa ekspresi emosi yang benar orang-orang Kristen belum melaksanakan even-even kudus tersebut dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh. Akan tetapi, meski respons-respons emosional tersebut dapat menjadi respons yang singkat dan tidak mengubahkan kehidupan, ada yang salah dengan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melaksanakan even-even tersebut adalah dengan memusatkan emosi kita kepada Yesus entah sebagai korban yang tragis atau sebagai pemenang yang dibenarkan. ... Sebagaimana yang akan saya perlihatkan dibawah ini, salah satu alasan mengapa perasaan kita terhadap Kristus bersifat mengubahkan kehidupan adalah karena perasaan-perasaan tersebut menenggelamkan kita di dalam Kristus.

Page 1 of 1 | Total Record : 8