cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 7 No 1 (2006)" : 9 Documents clear
Menjadi Jemaat Multikultural : Suatu Visi untuk Gereja-Gereja Tionghoa Injili Indonesia yang Hidup di Tengah Konflik Etnis dan Diskriminasi Rasial Dawa, Markus Dominggus L.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.88 KB)

Abstract

Etnis Tionghoa adalah bagian dari keanekaragaman bangsa ini. Meski berkali-kali hal ini coba disangkali dan mungkin hendak dihapuskan dari kenyataan bangsa ini, etnis Tionghoa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari negeri ini. Etnis Tionghoa bukan orang asing di negeri ini. Etnis Tionghoa juga adalah salah satu pemilik sah sekaligus pendiri bangsa ini. Gereja-gereja Kristen Tionghoa harus menyadari benar kenyataan tersebut. Sebagai bagian dari keseluruhan etnis Tionghoa di Indonesia, gereja-gereja Kristen Tionghoa adalah juga pemilik sah dan sekaligus pendiri bangsa ini. Kesadaran ini perlu dipupuk dan diperkuat dalam ingatan orang-orang Kristen Tionghoa agar di tengah-tengah berbagai luka sejarah yang dipikulnya, gereja-gereja Kristen Tionghoa dapat menjadi alat Tuhan menyembuhkan keutuhan hidup bangsa yang terus bergumul dengan keanekaragamannya ini. Di tengah bangsa yang terus berjuang untuk menjadi bangsa yang menerima etnis Tionghoa sebagai pemilik sah dan pendiri bangsa ini, gereja-gereja Tionghoa mendapat kesempatan istimewa untuk menjadi zona rekonsiliasi antar-etnis, khususnya di antara etnis Tionghoa dan non-Tionghoa. Kalau demikian maka pertanyaan selanjutnya yang penting untuk didiskusikan adalah: Bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya gereja-gereja Kristen Tionghoa dapat berperan menjadi alat Tuhan yang membawa kesembuhan kepada hidup bangsa ini? Dalam bagian ini saya akan mendiskusikan apa yang saya sebut jemaat multikultural. Untuk maksud itu, saya akan mengajak kita melihat terlebih dahulu apa yang dikatakan Alkitab mengenai jemaat multikultural, selanjutnya kita akan melihat beberapa gagasan sejenis yang telah diungkapkan oleh beberapa orang. Pertama-tama saya akan mengangkat pemikiran Andrew Sung Park, profesor teologi di United Theological Seminary, Dayton, Ohio, dalam bukunya Racial Conflict & Healing: An Asian-American Theological Perspective. Selanjutnya saya akan mengangkat hasil penelitian gereja-gereja di AS yang dilakukan oleh sebuah tim dari Emory University, yang dipimpin oleh Charles R. Foster dan Theodore Brelsford dan dibukukan dalam buku We Are the Church Together: Cultural Diversity in Congregational Life. Terakhir saya akan membahas sedikit salah satu dokumen penting Presbyterian Church in the United States (PCUSA) tentang visi mereka menjadi gereja multikultural dan dibukukan dalam buklet yang berjudul “Living the Vision: Becoming A Multicultural Church.” Di bagian akhir, berangkat dari diskusi di bagian sebelumnya, saya akan coba tunjukkan bagaimana jemaat multikultural dapat menjadi alat yang sangat efektif membawa kesembuhan kepada luka-luka disintegrasi bangsa ini dan selanjutnya beberapa gagasan tentatif tentang bagaimana jemaat multikultural dapat diwujudkan dalam gereja-gereja Tionghoa masa kini.
Mencoba Mengerti Kesulitan untuk Mengampuni : Perjalanan Menuju Penyembuhan Luka Batin yang Sangat Dalam Soesilo, Vivian A.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.64 KB)

Abstract

Pengalaman mengkonseling beberapa orang yang mengalami luka batin, terutama Bu Lely (BL, 38 tahun) membuat saya tertarik untuk belajar lebih banyak tentang kesulitan untuk mengampuni. Sejak kecil BL mengalami berbagai penganiayaan dan pernikahannya dengan Pak Kadir (PK) selama 8 tahun makin membuatnya mengalami berbagai kekerasan fisik, emosi, seksual yang dahsyat dan bertubi-tubi. Setelah 32 bagian dari tubuhnya retak, 8 di antaranya di bagian kepala, dan BL berubah dari orang yang atletis menjadi orang yang perlu bantuan kursi roda, BL menceraikan suaminya. PK harus mendekam di penjara selama 16 tahun. Waktu saya berjumpa dengan BL untuk pertama kalinya, BL sudah dikonseling oleh beberapa konselor lainnya selama dua tahun. Memang dapat dimengerti kalau hati, pikiran dan gerak-gerik BL penuh dengan kemarahan. Dalam beberapa konseling kemudian, saya bertanya apakah BL mau mempertimbangkan pengampunan dalam proses penyembuhan luka batinnya yang sangat dalam. “Tidak mungkin!” Tetapi dua bulan kemudian BL berkata, “Saya sudah mengampuni PK!” Menurut BL, ini pertama kalinya, ia dapat menyebut nama PK dalam tiga tahun terakhir. Keputusan mengampuni PK membuat beban BL terlepas, katanya seperti bayi yang baru lahir saja. Namun dua bulan kemudian BL berubah, “Saya tidak akan mengampuni mama, ia [tidak mau sebut nama PK] dan pemerintah! Saya sudah putus hubungan dengan mereka semua!” Sebulan kemudian BL menunjukkan kepada saya setumpuk karya seni yang baru ia gambar tentang berbagai orang penting dalam hidupnya dan berkata, “Saya sudah mengampuni dan berbaik kembali dengan mama.” Beberapa minggu kemudian BL “berbicara” dengan PK melalui kursi kosong selama beberapa menit, secara simbolis “membakar” kepahitan batinnya di lilin yang saya bantu nyalakan (BL sulit mengkoordinasi jarinya, salah satu dampak dari kekerasan fisik yang diterimanya). Namun beberapa minggu kemudian, BL kembali sulit mengampuni lagi. Dalam proses lebih mengerti kesulitan untuk mengampuni ini membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini. Saya membagi artikel ini menjadi lima bagian, yaitu definisi singkat pengampunan, mengurangi “perasaan tidak mengampuni,” manfaat pengampunan, kesulitan mengampuni, dan ringkasan.
Telaah Kritis terhadap Konsep Doa Peperangan Rohani Tingkat "Strategis" menurut Peter Wagner ., Soerono
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.696 KB)

Abstract

Prinsip “risiko besar, untung besar” tidak hanya berlaku dalam dunia bisnis, namun juga dalam hal doa, demikian keyakinan C. Peter Wagner. Di sini ia sedang berbicara tentang jenis doa peperangan rohani pada tingkat “strategis” (DPRTS). Menurutnya, doa jenis ini seharusnya menjadi prioritas utama dari umat Tuhan karena doa ini memiliki efektivitas yang tinggi dalam kaitan dengan kegiatan penginjilan. Mengapa bisa demikian? Karena doa ini difokuskan untuk menggempur kekuatan yang berada di balik setiap pemberontakan terhadap Allah dan penolakan terhadap pemberitaan Injil. Di Indonesia, praktik ini mencuat ke permukaan melalui gerakan-gerakan doa yang diadakan baik dalam skup kota, daerah, maupun nasional. Umumnya gerakan-gerakan doa itu dimulai dengan pemetaan rohani untuk wilayah-wilayah yang menjadi fokus doa. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengidentifikasi kekuatan kegelapan yang berkuasa atas daerah tersebut. Setelah selesai dengan fase ini, barulah upaya-upaya doa diarahkan untuk mememerangi kuasa-kuasa tersebut sampai pintu pemberitaan Injil terbuka. Artikel ini akan menyoroti DPRTS dari sudut pandang doa itu sendiri. Dengan kata lain, makalah ini tidak dimaksud untuk menguji secara eksegetikal ayat-ayat pendukung yang dipergunakan oleh Wagner untuk membangun argumentasi tentang roh-roh teritorial dan DPRTS. Makalah ini juga tidak akan memaparkan uraian yang ekstensif tentang ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang peperangan rohani. Ayat-ayat Alkitab akan dibahas secara selektif dalam rangka menempatkan konsep DPRTS dalam kerangka pemahaman doa alkitabiah dan tradisional. Untuk itu, kita akan pertama-tama melihat deskripsi singkat mengenai apa itu DPRTS, lalu dilanjutkan dengan menempatkan DPRTS di dalam peta besar pemahaman dan praktik doa, kemudian tinjauan praktik DPRTS, dan diakhiri dengan sebuah proposal doa peperangan rohani yang lebih alkitabiah.
Evaluasi Terhadap Pengajaran Bruce Wilkinson tentang Doa Yabes berdasarkan Eksposisi 1 Tawarikh 4:9-10 Fu, Timotius
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.287 KB)

Abstract

Artikel ini ditulis sebagai suatu usaha untuk mencari kebenaran tentang janji dan jaminan yang diberikan Wilkinson dalam bukunya. Penulis meyakini otoritas tertinggi dalam pengajaran dan kehidupan orang percaya adalah Alkitab. Oleh sebab itu makalah ini akan mempelajari teks yang disajikan dalam bukunya untuk menilai apakah pengajarannya setia kepada pengajaran Alkitab atau tidak. Seandainya janji dan jaminannya sesuai dengan pengajaran Alkitab, maka buku ini menjadi berkat yang luar biasa bagi orang Kristen pada zaman ini. Sebaliknya, seandainya apa yang diajarkan olehnya tidak diajarkan oleh Alkitab, maka buku ini telah menggiring para pembacanya ke dalam janji dan jaminan yang tidak alkitabiah.
Meninjau The Da Vinci Code dari Sudut Teologi yang Sehat Lukito, Daniel Lucas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.079 KB)

Abstract

Pada tanggal 15 Mei 2006 Sony Pictures Entertaintment—sebuah perusahaan film di Hollywood, Amerika Serikat—akan mengeluarkan film yang berjudul The Da Vinci Code (selanjutnya disingkat DVC). Film ini dibuat berdasarkan sebuah buku laris, yang terbit tahun 2003, yang sudah terjual 30 juta copy di seluruh dunia dan yang sudah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa. Aslinya buku ini adalah sebuah novel yang ditulis oleh Dan Brown, seorang yang berkebangsaan Inggris. Buku ini sedemikian laris dan Brown sendiri menjadi kaya raya karena dari karya ini ia telah memperoleh sekitar 45 juta poundsterling (kira-kira 650 milyar rupiah). Bahkan juga ada orang dari kalangan agama bukan Kristen yang ikut-ikutan menerbitkan atau memperbanyak buku ini dalam berbagai bahasa dengan tujuan, tentu saja, menyerang jantung kekristenan, yaitu berkenaan dengan Yesus Kristus dan juga keabsahan Alkitab, yang adalah firman Allah. Karena akan beredar dan bulan Juni-Juli 2006 akan diputar di seluruh dunia, film ini akan menjadi daya tarik bagi banyak orang, terutama orang-orang yang berkepentingan atau orang-orang yang meragukan iman Kristen. Dalam artikel ini saya akan langsung memaparkan beberapa poin yang disebutkan di dalam buku DVC, sebagai poin yang langsung berkenaan dengan kristologi dan juga bibliologi. Saya akan langsung memberikan tanggapan, tetapi sebelum itu, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu secara singkat apa isi buku tersebut.
Mempertanyakan Pertanyaan : Mendalami Makna Pertanyaan dalam Bahasa Yunani Koine  Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.884 KB)

Abstract

Dalam kelas bahasa Yunani yang saya bimbing terjadi diskusi hangat mengenai bagaimana menerjemahkan kalimat “Are we able to do it? ” (Sanggupkah kita untuk melakukan hal ini?). Seorang mahasiswa menerjemahkannya dengan dunametha poiein touto lalu saya mengusulkan untuk menambahkan partikel un atau unti di depan kalimat pertanyaan itu. Hasilnya, kalimat itu akan menjadi un (unti) dunametha poiein touto. Namun, sang mahasiswa tetap pada pendiriannya dengan alasan kalau partikel un atau unti mau ditambahkan maka perlu diubah pertanyaannya menjadi “Are we possible to do it? ” atau “Apakah mungkin kita melakukan hal ini.” Rupanya, dia tidak menyadari bahwa kalimat “Are we able to do it? ” selaras dengan “Are we possible to do it? ” Kita akan kembali ke pokok ini nanti. Jadi, sang mahasiswa mengerti pertanyaan “Are we able to do it? ” sebagai pertanyaan biasa, kalau ditempatkan dalam kategori jenis pertanyaan menurut tata bahasa Yunani. Apa artinya pertanyaan biasa dalam tata bahasa Yunani?
Bentuk Khotbah Narasi : Mengkhotbahkan Teks-Teks Narasi PL dengan Efektif Solihin, Benny
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.086 KB)

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk menyakinkan pembaca bahwa untuk mengkhotbahkan teks-teks naratif PL dengan efektif, kita membutuhkan model khotbah induktif, khususnya dengan bentuk naratif. Untuk itu, pertama, dalam rangka memahami keunikan genre narasi, saya akan memaparkan karakteristik-karakteristik narasi PL. Kedua, berdasarkan pada hal pertama itu lalu mengkombinasikannya dengan beberapa pemikiran para ahli, saya akan memperlihatkan bahwa memang teks-teks naratif PL bila ingin dikhotbahkan dengan efektif membutuhkan bentuk khotbah naratif.
Problem Terjemahan Nama Tuhan dalam Alkitab Karman, Yongky
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.856 KB)

Abstract

Kontroversi tentang nama Allāh dalam Alkitab mulai di Malaysia pada awal tahun 1980-an. Umat Islam di sana keberatan dengan umat Kristen yang memakai dan menyebut Allāh. Mereka menganggap sebutan itu sebagai sebuah sebutan Tuhan yang eksklusif Islam. Mereka tidak mengerti ketika orang Kristen menyebut “Allahku,” “Allah kita.” Mereka juga menuduh nama Allah telah dipakai untuk menunjuk Tuhan yang lain, misalnya, dalam ungkapan “Allah Anak” dan “Allah Roh Kudus.” Dalam pandangan mereka, ungkapan seperti itu melecehkan Tuhan dalam Islam, sebab Isa atau Roh Allah lebih rendah dari Allāh. Maka, umat Islam di Malaysia pernah melakukan kampanye pelarangan bagi umat Kristen untuk memakai dan menyebut nama Allāh. ... Berangkat dari keprihatinan itu, artikel berikut akan meninjau pemakaian nama dan sebutan untuk Tuhan dalam PL. Dalam hal ini tak dapat dihindari sedikit pembahasan tentang pemakaian kata Allāh dalam Islam, dengan kesadaran penuh bahwa penulis memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang hal itu. Namun, pembahasan itu perlu juga dibaca orang Kristen yang masih memiliki pemahaman yang amat kurang tentang pemakaian kata Allāh dalam Islam.
Sebuah Tinjauan terhadap Teologi dan Praktik Doa Anthony De Mello Yahya, Pancha W.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.786 KB)

Abstract

Frater Anthony de Mello, S. J. (1931-1987) adalah tokoh yang kontroversial. Di satu pihak ia adalah guru spiritual yang berpengaruh luas. Buku-buku spiritualitasnya yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti: Spanyol, Portugis, Italia, Jepang, Mandarin, Indonesia, Bengali, dan Thailand telah mempengaruhi banyak orang. Tak hanya itu, ia telah berkeliling dunia untuk memimpin seminar-seminar dan latihan-latihan doa bagi ribuan orang. Pada tahun 1972 Mello mendirikan Institute of Pastoral Counselling and Spirituality di de Nobili College, Poona, India yang diberi nama Sadhana. Di tempat inilah banyak orang dari berbagai negara, terutama para Jesuit, telah datang untuk mengikuti retreat-retreat doa yang dipimpin oleh de Mello. Namun, sebelas tahun selepas kematian de Mello, tepatnya tanggal 24 Juni 1998, dewan kardinal Roma Katolik mengeluarkan notifikasi yang menyatakan tulisan-tulisannya tidak sesuai dengan ajaran Roma Katolik. Dewan tersebut menilai ajarannya: (1) berpandangan apophaticism, yaitu menyatakan bahwa Allah tidak dapat dimengerti dan dijelaskan dengan bahasa manusia. Padahal, menurut notifikasi tersebut, Alkitab berisi pernyataan yang benar dan sah tentang Allah, (2) merendahkan kedudukan Yesus dengan memandang-Nya sebagai guru seperti guru-guru yang lain. Hanya Yesus yang telah mengalami kesadaran dan kemerdekaan penuh, sedang guru-guru lain belum, (3) memandang kejahatan sebagai sebuah ketidaktahuan dan tidak ada hukum moral yang objektif. Notifikasi itu mendapat reaksi keras dari banyak orang terutama kolega de Mello, para Jesuit di India. Mereka amat menyesalkan keluarnya notifikasi tersebut. Menurut mereka dikeluarkannya notifikasi itu lebih didasarkan atas buku-buku posthumous-nya, sehingga tidak mewakili keseluruhan pemikirannya. Francis Stroud, Frater Jesuit yang telah bekerja sama dengannya mengelola pusat spiritualitas di Fordham University di New York, menanggapi notifikasi itu, “It’s extremely hard for me to believe that anyone would find anything de Mello says to be anything other than orthodox. He was a very devout churchman.” Perlu diketahui bahwa meski ia mengaku banyak dipengaruhi oleh tradisi dan agama-agama lain, namun ia tetap menyatakan kesetiaannya pada ajaran Roma Katolik. Penolakan atas notifikasi itu terlihat dengan tidak ditariknya buku-bukunya dari peredaran atau tidak dicantumkannya notifikasi tersebut pada buku-buku Mello kendati dewan kardinal waktu itu memerintahkan hal tersebut. Malahan buku-bukunya terus dicetak dan menjadi best seller. Mengingat besarnya pengaruh dari tulisan-tulisan de Mello dan adanya kontroversi atas tulisan-tulisan tersebut, maka artikel ini akan membahas tulisan-tulisannya tersebut. Namun artikel ini tidak membahas keseluruhan tulisannya, tetapi secara khusus akan memaparkan secara ringkas teologi dan praktik doanya. Kemudian penulis akan meninjau teologi dan praktik doa tersebut, dan diakhiri dengan aplikasi bagi umat Kristen.

Page 1 of 1 | Total Record : 9