cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 7 No 2 (2006)" : 9 Documents clear
Pluralisme Agama dan Paradoks Kasih Karunia : Studi Mengenai Pemakaian Kristologi Donald Baillie oleh John Hick  Ban Garcia, Hidalgo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.911 KB)

Abstract

Karena kesadaran akan adanya pemikiran religius-pluralis zaman sekarang dan buruknya pemutlakan agama-agama termasuk kekristenan, dan juga karena hasil-hasil studi kritis Perjanjian Baru, John Hick beberapa tahun yang lalu menawarkan sebuah pendekatan atau peninjauan baru terhadap kristologi. ... Dalam mengembangkan pendekatan kristologi yang baru ini, ia memakai pemahaman Donald Baillie mengenai paradoks kasih karunia (paradox of grace) sebagai sebuah pemahaman yang bisa menjelaskan signifikansi Yesus dari segi metafora inkarnasi ilahi. ... Tujuan artikel ini adalah untuk memeriksa pemikiran Baillie yang dipakai oleh Hick sehubungan dengan pemikiran kembali kristologi yang diajukan Hick. Lalu kita ingin melihat apakah memang benar kristologi Baillie tentang paradoks kasih karunia secara logika telah menerabas parameter-parameter Chalcedon, dan akhirnya, mengarah ke posisi religius-pluralis. Untuk mencapai tujuan ini, penulis akan menganalisis pemahaman Hick tentang kristologi Baillie dan bagaimana ia sampai pada pandangannya bahwa Baillie gagal dalam menjelaskan inkarnasi sesuai dengan terminologi Chalcedon dan oleh karena itu membuka kemungkinan-kemungkinan bagi kristologi yang pluralis. Saya juga akan menganalisis kristologi Baillie dalam God was in Christ, kemudian membandingkan dan mengontraskan pemahamannya dengan pemahaman Hick. Kesimpulan penulis adalah bahwa Hick telah keliru memahami pandangan Baillie dan sesungguhnya pandangan Baillie masih berdiri dalam parameter-parameter rumusan Chalcedon dan oleh karena itu tidak bisa dipakai menjadi dasar kristologi yang pluralis. Di sepanjang bahasan, penulis mencoba untuk tetap mengacu pada sudut pandang isu religius pluralis, yang tidak diperhatikan secara langsung dalam studi yang berhubungan dengan kristologi Baillie.
Naskah Khotbah: Nafsu Membutakan, Rasa Cukup Mencelikkan (Bil. 11:4-23, 31-35; Flp. 4:12-13) Pramudya, Wahyu
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.612 KB)

Abstract

Naskah Khotbah
Naskah Khotbah: Hamba yang Tak Layak Mendapatkan Upah (Luk. 17:7-10) Ticoalu, Maximilian Bastian
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.571 KB)

Abstract

Naskah Khotbah
Anak Korban Orang Tua Ambisius (Push Parenting) dan Konseling Terhadapnya ., Lidanial
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.284 KB)

Abstract

Manusia selalu berusaha mengikuti segala macam tren yang sedang berkembang di masyarakat sekitarnya. Mulai dari model potongan rambut sampai dengan warna lipstik. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai dengan jenis variasi asesoris handphone. Tidak ketinggalan model pengasuhan anak (parenting) juga mempunyai tren tersendiri. Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua zaman sekarang. Anak-anak mereka harus menjadi yang terbaik dan kalau memungkinkan dalam segala hal. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anak-anak mereka dapat dikategorikan sebagai anak-anak “kelas atas,” bukan anak-anak “kelas menengah” apalagi “kelas bawah.” Itulah ambisi kebanyakan orang tua zaman sekarang. Dalam upaya membentuk anak seperti itu, mau tidak mau model pengasuhan yang diberlakukan juga harus khusus. Bukan masanya lagi, menurut kebanyakan orang tua, anak-anak dibiarkan untuk terlalu banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Kalau anak-anak sekarang diizinkan untuk terlalu santai maka mereka akan ketinggalan jauh di belakang dan masa depan mereka akan suram. ... Dalam artikel ini akan dibahas tentang seluk-beluk push parenting yang sekarang ini sedang menjadi tren. Mengapa banyak orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini terhadap anak-anak mereka? Apa dampak-dampak pola pengasuhan ini bagi perkembangan anak dalam multi dimensional, dan bagaimana menolong anak-anak yang sedang mengalami kondisi tertekan seperti itu dalam konteks konseling? Diharapkan artikel ini bukan hanya dapat menjadi masukan bagi para konselor anak, tetapi juga dapat menggugah hati para orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anak mereka.
Firdaus yang Terhilang? : Suatu Studi Perbandingan Mengenai Kristologi dan Imaji Penciptaan Baru Dalam Injil Yohanes dan Injil Tomas Sasongko, Nindyo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.174 KB)

Abstract

Firdaus yang terhilang dan Firdaus yang dipulihkan. Satu Pribadi Agung datang memulihkannya. Kapan? Di mana? Apakah Firdaus itu benar-benar ada? Jika benar-benar ada, sudahkah kita menikmati Firdaus baru itu? Keempat Injil kanonik mewartakan kehadiran Kristus sebagai Mesias, Pemimpin Kerajaan Allah; namun kita masih diperhadapkan pada problem apakah Firdaus telah dipulihkan. Masalah semakin pelik sebab di zaman kita membanjir varian-varian kekristenan bercorak eskapisme dualistis. ... Penulis akan memusatkan perhatian pada masalah semula, yakni apakah “Firdaus” telah dipulihkan. Pemulihan Firdaus sangat erat terkait dengan penciptaan baru. Bilamanakah dan bagaimanakah hal itu terjadi? ... Dalam penelitian ini, penulis memilih untuk menyelesaikan masalah bukan dari sudut dogmatika, tetapi meruntut argumentasi Pagels dan Injil Tomas mengenai kosmologi Kejadian 1. Penulis berusaha mengungkapkan kontinuitas maupun diskontinuitas dari tradisi kosmologi Yahudi yang menurun kepada Tomas dan Yohanes, dan dari sini penulis berharap mampu menyajikan kesenjangan-kesenjangan teori Pagels secara “objektif.”
Penderitaan menurut Agama Buddha : Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Kristen Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.589 KB)

Abstract

Banjir lumpur, gempa bumi, tsunami dan kemiskinan, mungkin itulah yang kita pikirkan ketika berbicara tentang penderitaan di Indonesia. Kita hidup dalam konteks bangsa yang sedang mengalami krisis multidimensi plus tertimpa banyak bencana baik yang alami maupun ”buatan.” Dalam kondisi seperti ini, terkadang kita tergoda untuk berpikir bahwa hidup di Indonesia sungguh tidak mengenakkan. Lalu pikiran kita menerawang dan berimajinasi untuk tinggal di negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang dan berpikir bahwa kondisi di sana akan jauh lebih baik. Tetapi, pikiran demikian tentu tidak benar. Itu adalah mitos dan bukan fakta. Yang terjadi adalah penderitaan merupakan bagian dari umat manusia di manapun ia berada, di negara maju, maupun yang kurang maju, kecil maupun besar, komunis maupun kapitalis, beragama maupun sekuler. Hanya bentuk, tingkatan dan penyebabnya saja yang berbeda-beda. Penderitaan adalah fakta universal! Penderitaan juga melampaui horison waktu, ia ada dulu, sejak zaman dahulu kala sampai sekarang dan juga di masa mendatang. Penderitaan adalah fakta yang tidak hanya universal tetapi juga “seolah-olah” abadi. Justru karena itulah, berbicara mengenai penderitaan merupakan hal yang menarik, paling tidak bagi orang yang punya keprihatinan dan mau berkontemplasi tentang kehidupan. Sidharta Gautama (563-483 SM) adalah jenis orang seperti itu. Sebagai seorang guru, pendiri agama Buddha, ia adalah orang yang dianggap memiliki banyak hikmat dan kebijaksanaan. Akan tetapi jikalau kita memperhatikan pengajarannya yang utama, maka kita akan segera menemukan tema sentral penderitaan dalam pengajarannya. Kebenaran-kebenaran mengenai penderitaan ini terangkum dalam pengajarannya yang disebut Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truths). Dalam tulisan ini, kita akan memberikan tinjauan kritis atas pengajaran Buddha tentang penderitaan yang terdapat dalam Empat Kebenaran Mulia. Oleh karena itu, maka tulisan ini akan mengalir sebagai berikut. Pertama, sejarah singkat kehidupan Buddha sampai dengan masa ia mengalami pencerahan. Hal ini penting untuk menyediakan konteks lahirnya pemikiran Buddha tentang penderitaan. Kedua, pemaparan mengenai konsep penderitaan dalam Empat Kebenaran Mulia. Selanjutnya, tinjauan kritis atas konsep Empat Kebenaran Mulia tersebut dari sudut pandang Kristen. Terakhir, sebuah kesimpulan dan aplikasi.
Kehendak Bebas di Dalam Teologi Martin Luther Pranoto, Minggus Minarto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.028 KB)

Abstract

Tidak seperti tradisi teologi Gereja Timur yang mempersatukan anugerah dan kehendak bebas secara serentak saat menjelaskan mengenai ajaran keselamatan, tradisi teologi Gereja Barat di bawah pengaruh Agustinus telah memisahkan ajaran mengenai anugerah dan kehendak bebas dalam kaitannya dengan keselamatan. Di dalam tradisi teologi Gereja Barat, ajaran mengenai kehendak bebas tidak dipahami sebagai ikut andil dalam memperoleh keselamatan; malahan hal itu dipertentangkan dengan ajaran anugerah dalam kaitannya memperoleh keselamatan. Anugerah adalah satu-satunya jalan yang melaluinya seseorang dapat diselamatkan oleh Allah. ... Martin Luther, seorang pengikut teologi Agustinus, juga mempertentangkan antara anugerah dan kehendak bebas dalam relasinya dengan keselamatan. ... Sangat disayangkan, beberapa orang yang tidak mengerti teologi Luther secara mendalam telah berprasangka keliru terhadap ajaran teologinya, termasuk ajaran mengenai kehendak bebasnya. ... Apakah prasangka-prasangka di atas mempunyai dasar? Bagaimana ajaran kehendak bebas dari Luther dapat dipahami secara tepat? Bagaimana ajaran-ajaran lainnya dari Luther dapat menolong untuk memahami ajaran kehendak bebasnya? Di dalam tulisan yang singkat ini penulis mencoba untuk menjawab dan menjelaskan persoalan di atas dengan maksud untuk mencapai pengertian yang tepat dan benar terhadap ajaran kehendak bebas di dalam teologi Luther. Berkaitan dengan tujuan tersebut, penulis akan membahas secara singkat pergumulan teologis yang muncul dari pengalaman rohani Luther dan juga menyelidiki karya-karyanya, khususnya yang berkaitan dengan topik pembahasan di atas.
Aquinas, Konsili Trent, dan Luther Tentang Pembenaran oleh Iman : Sebuah Isu tentang Kontinuitas dan Diskontinuitas Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.17 KB)

Abstract

Dialog akhir-akhir ini yang terus-menerus digalakkan di antara kalangan Protestan dan Katolik mengenai doktrin pembenaran telah menghasilkan pemulihan-pemulihan teologis yang tidak kecil antara kedua kelompok tersebut. Salah satu kesinambungan yang menjanjikan yang muncul dari doktrin pembenaran dan perlu digarisbawahi adalah relasi antara Luther dan teologi pembenaran Konsili Trent melalui ajaran Thomas Aquinas tentang doktrin yang sama. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Otto H. Pesch, jika kita membaca kanon-kanon Konsili Trent dari perspektif teologi Thomistik, sebuah persetujuan dengan teologi Luther akan nampak. Pendapat ini dan studi-studi historis lain menyingkapkan fakta bahwa meski Luther mengeritik dengan tajam Thomas Aquinas sebagai “sumber dan akar semua ajaran sesat dan pemalsuan berita Injil (sebagaimana yang ditunjukkan oleh tulisan-tulisannya),” ia sesungguhnya tidak banyak menyediakan waktu untuk membaca secara langsung karya-karya tulis Aquinas. Dengan kata lain, Luther menolak ajaran Aquinas tentang doktrin pembenaran bukan karena ia menolak pandangan Aquinas tetapi karena ia salah memahami ajaran Aquinas. Atau, sikap Luther terhadap pandangan pembenaran Aquinas lebih mencerminkan kesalahpahaman terhadap Aquinas oleh pendahulu-pendahulu Luther, yang mana melalui mereka ia mengenal Aquinas. Berangkat dari penemuan-penemuan baru dalam studi sejarah Reformasi belakangan ini, topik tentang kesinambungan antara Thomas Aquinas, Konsili Trent, dan Luther tentang doktrin pembenaran adalah sesuatu yang patut untuk dipelajari. Menurut saya upaya semacam ini bukan semata-mata cerminan keinginan ekumenis akan kesatuan yang cenderung mengabaikan dan mengurangi perbedaan-perbedaan substansial ke dalam perbedaan-perbedaan minor saja. Sebaliknya, pembacaan yang cermat terhadap konteks historis Konsili Trent dan Luther akan menghasilkan suatu pemahaman bahwa, meski fakta pertentangan tidak dapat disingkirkan, ada suatu kontinuitas yang jelas antara teologi Trent dan Luther tentang pembenaran khususnya jika kita membaca perbedaan di antara keduanya dari perspektif teologi Thomas Aquinas. Sebab itu, dari perspektif sejarah, karya kontemporer seperti “The Lutheran-Roman Catholic Joint Decalaration on the Doctrine of Justification,” jauh dari mewakili harmonisasi yang palsu, telah menjanjikan harmonisasi yang sejati. Dengan demikian, artikel ini merupakan suatu upaya untuk menyingkapkan arah Thomistik di dalam pemikiran teologis imam-imam dari Konsili Trent dan beberapa kontinuitas serta diskontinuitas antara Luther dan Aquinas. Saya akan mulai dengan meluruskan relasi Luther-Aquinas berdasarkan studi-studi historis belakangan ini. Setelah itu, saya akan mengkaji teologi Thomistik di dalam Konsili Trent. Bagian terakhir merupakan penjelasan tentang hakikat kesinambungan antara Luther dan teologi Trent tentang pembenaran dengan mengamati beberapa kanon yang diputuskan dalam Konsili Trent, di mana teologi Luther dilibatkan.
Abstrak Tesis Editor, Team
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.711 KB)

Abstract

Abstrak Tesis

Page 1 of 1 | Total Record : 9