cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 8 No 1 (2007)" : 8 Documents clear
Tetap Bersukacita di Masa Sukar  Wibowo, Timotius
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.424 KB)

Abstract

Naskah Khotbah
Blended Worship : Sebuah Alternatif Model Ibadah Kekinian Setiawan, Andrew Abdi
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.878 KB)

Abstract

Belakangan ini, blended worship (BW) mulai digandrungi oleh gereja-gereja injili. Salah satu alasan umum adalah karena BW dapat merangkul ibadah tradisional dan kontemporer sehingga ibadah dapat menjadi lebih inklusif. Artinya, jemaat yang lebih menyukai ibadah tradisional dan jemaat yang lebih menyukai ibadah kontemporer akan dapat bersatu dalam satu atap gereja. Tapi pertanyaannya, aspek apakah yang dirangkul oleh BW? Umumnya, orang akan menjawab bahwa BW adalah ibadah yang mengombinasikan antara musik tradisional dan musik kontemporer. Contohnya, lagu himne yang biasanya diiringi dengan piano atau organ, maka dalam BW lagu tersebut bisa diiringi dengan alat-alat musik modern, seperti drum, gitar elektrik, dan sebagainya. Dari pandangan umum yang demikian, kita melihat bahwa acap kali orang Kristen memahami BW pada gaya (style) musiknya. Pertanyaannya, apakah benar BW memiliki titik berat utama pada sebuah gaya musik? Artikel kali ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memaparkan informasi-informasi yang memadai seputar BW sehingga kita dapat memahami apa yang menjadi tekanan utama model ibadah tersebut.
Bohong Putih Ditinjau dari Perspektif Etika Kristen dan Pengajaran Alkitab Fu, Timotius
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.493 KB)

Abstract

Perintah kesembilan ... menjadi pedoman utama untuk menjaga pemakaian lidah agar tidak melanggar kekudusan hidup. W. H. Gispen menegaskan bahwa titah kesembilan ini mencakup semua spektrum dosa yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan lidah manusia. Ini berarti bahwa larangan untuk mengucapkan saksi dusta tidak hanya mencakup konteks kesaksian seseorang di dalam pengadilan, tetapi juga mencakup semua jenis kebohongan yang ditimbulkan oleh ketidakjujuran karena ketidakmampuan untuk menguasai lidah. Beberapa ahli mengelompokkan bentuk-bentuk dosa yang melanggar titah kesembilan menjadi beberapa kategori. J. Douma mengategorikan dosa karena lidah ke dalam bentuk-bentuk berikut: memfitnah, gosip, menghakimi (dengan kasar), berbohong (yang terdiri dari bohong yang jahat, bohong yang lucu, bohong yang darurat, dan bohong putih), dan memutarbalikkan perkataan orang lain. Sedangkan J. Verkuyl mengelompokkan kebenaran dan kebohongan dalam penggunaan lidah menjadi delapan dimensi, yakni: di depan hakim; dalam kehidupan umum; dalam diplomasi; dalam percakapan; dalam melaporkan kenyataan dan keadaan; dalam mendidik anak-anak; dalam sopan santun; dan dalam keadaan darurat. Makalah ini akan secara khusus menyorot dan membahas salah satu kategori yang dimunculkan oleh dua ahli etika di atas, yakni bohong putih yang oleh Douma diistilahkan menjadi polite lie atau white lie (yang sering diterjemahkan menjadi bohong yang sopan) dan oleh Verkyul disebut bohong diplomasi atau bohong yang sopan. Untuk keseragaman, makalah ini akan memakai istilah “bohong putih” untuk mewakili konsep tersebut. Tulisan ini akan menggunakan pengajaran Alkitab untuk menyorot pandangan dan argumentasi para ahli etika mengenai pokok bahasan tersebut, sehingga di akhir makalah dapat ditemukan jawaban yang alkitabiah sebagai penuntun bagi orang percaya dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Jamak Intensif : Keindahan yang Hilang di dalam Terjemahan Alkitab Maleachi, Martus Adinugraha
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.341 KB)

Abstract

Traduttore traditore adalah ungkapan dalam bahasa Latin yang digunakan oleh Moises Silva pada waktu memulai artikelnya mengenai tugas yang sulit dari seorang penerjemah. Ungkapan tersebut berarti “seorang penerjemah adalah seorang penghianat” (a translator is a traitor). Walaupun kedengarannya kurang baik, tetapi ungkapan tersebut sangat tepat untuk menggambarkan bahwa menerjemahkan secara akurat dan enak dibaca adalah suatu upaya yang tidak mudah. Kesulitan ini bertambah jika kita mengingat bahwa setiap terjemahan pada hakekatnya adalah suatu penafsiran. Dengan kata lain, pemahaman dan pengertian seorang penerjemah dalam suatu bahasa memegang peranan yang besar dalam suatu terjemahan. Hal ini terefleksi di dalam penerjemahan kata benda jamak intensif (PI) dari bahasa Ibrani Alkitab ke dalam bahasa lain. Pemahaman bahwa kata benda jamak dalam bahasa Ibrani memiliki pengertian intensif dengan berbagai aspeknya telah didiskusikan oleh Aaron Ember pada tahun 1905. Selain dari artikel tersebut, banyak buku-buku tata bahasa Ibrani ataupun artikel-artikel di dictionary memiliki bagian yang mendiskusikan PI ini. Walaupun demikian, PI belum diterjemahkan secara tepat baik di dalam terjemahan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Banyak terjemahan yang menerjemahkan PI sebagai kata tunggal atau jamak tanpa menambahkan kata sifat yang memberikan nuansa keindahan bahasa Ibrani Alkitab ini. Penerjemahan PI sebagai kata benda tunggal menggambarkan pengertian dari para penerjemah bahwa PI memiliki pengertian tunggal. Sedangkan penerjemahan sebagai kata benda jamak menunjukkan bahwa penerjemah berusaha untuk setia kepada teks. Kedua macam penerjemahan ini dapat dikatakan telah kehilangan keindahan dari salah satu unsur yang penting dari Perjanjian Lama. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengajak pembaca untuk meneliti PI di dalam bahasa Ibrani Alkitab dengan harapan agar kita semua dapat melihat keindahan firman Tuhan. Penulis tidak akan mengemukakan suatu pengertian yang baru mengenai PI ataupun memberikan suatu penelitian yang menyeluruh tentang pemakaiannya di seluruh Perjanjian Lama melainkan memfokuskan kepada pengenalan, pengelompokan, dan penerapan PI di dalam penerjemahan Alkitab.
Benarkah Yesus Tidak Mati Disalib? : Sebuah Pertanggungjawaban Iman terhadap Pandangan Islam Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.917 KB)

Abstract

Belum lama ini, penulis tertarik dengan sebuah buku kecil laris yang dikarang oleh Hj. Irene Handono. Buku ini secara terang-terangan menolak fakta kematian Yesus Kristus atau Isa Almasih di kayu salib. Senada dengan itu, sebuah buku sensasional berjudul Jangan Ditunggu!!! Isa Bin Maryam Tidak Akan Turun di Akhir Zaman (Ready or Not Jesus is Not Coming) yang ditulis oleh Huttaqi juga menegaskan keyakinan yang sama dalam salah satu bagiannya: Yesus atau Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib. Andaikata fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib memang dongeng belaka, apakah yang akan terjadi dengan kekristenan? Dengan mudah kita berimajinasi bahwa seluruh bangunan kekristenan akan runtuh pada saat yang bersamaan. Ah, itu kan hanya imajinasi! Mungkin Anda berpikir demikian. Akan tetapi, penegasan bahwa Nabi Isa tidak mati disalib benar-benar sebuah gema yang kuat dalam tulisan-tulisan Islam. Tentu saja hal ini adalah klaim serius yang perlu ditanggapi oleh orang Kristen. Sebelum kita memasuki topik tersebut lebih dalam lagi. Mari kita mulai dengan tanggapan pembuka terlebih dahulu. Pertama, dalam konteks tren pluralisme teologis yang berusaha menyamaratakan semua agama, penulis ingin memberikan applause atas kegigihan pribadi-pribadi seperti Irene Handono dan teman-temannya yang mengumandangkan eksklusivitas teologi agamanya secara terbuka. Kedua, buku-buku yang bersikap skeptis dan mempertanyakan keyakinan Kristen seperti di atas sering kali mendatangkan manfaat positif bagi umat Kristen, yaitu bangkitnya kesadaran berapologetika. Oleh karena itu, pertama-tama, lebih baik kita mengucapkan matur nuwun kepada penulis buku-buku di atas. Selanjutnya, matur nuwun saja rasanya tidak cukup. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis ingin mewujudkan penghargaan tersebut dengan cara menegaskan perbedaannya dengan pandangan Kristen sambil tetap membangun rasa hormat terhadap pribadi-pribadi yang berbeda pandangan. Oleh karena itu, tulisan ini akan memaparkan pandangan Islam terhadap fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kemudian dilanjutkan dengan perspektif Kristen terhadap isu krusial ini. Terakhir, penulis ingin mengembangkan pengakuan atas perbedaan doktrin sebagai dasar toleransi sejati dalam relasi antar umat beragama.
Refleksi Teologis tentang Rekonsiliasi sebagai Tujuan Resolusi Konflik Yang, Ferry
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.586 KB)

Abstract

Ketika saya masih anak-anak, saya selalu diajar untuk berekonsiliasi dengan siapapun saya berkonflik, entah dengan saudara, saudara sepupu, ataupun dengan teman. Orang tua saya, orang-orang yang dituakan, guru-guru, semua mengajarkan untuk berjabat tangan dengan siapapun saya berseteru, sebagai simbol rekonsiliasi, tanpa upaya mengejar kebenaran. Tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan yang lebih jauh dan untuk memelihara kedamaian. Di sisi lain, kebenaran hanya dikejar dengan tujuan keadilan, yang berarti yang bersalah dihukum. Akhirnya, saya bertumbuh dengan pengertian bahwa ada dua kemungkinan resolusi konflik: rekonsiliasi atau keadilan. Warisan budaya saya lebih mengetengahkan rekonsiliasi dibanding keadilan. Sebab di dalam rekonsiliasi hubungan dipelihara dan kita menghargai relasi lebih daripada kebenaran. Dalam hal ini, rekonsiliasi dipandang berada di luar keadilan.
Ruwatan dan Pandangan Dunia yang Melatarbelakanginya Yahya, Pancha W.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.315 KB)

Abstract

Berbagai krisis dan bencana yang silih berganti melanda negeri Indonesia direspons dengan beragam cara; salah satunya yang dilakukan oleh seorang astrolog Jawa yang bernama K. R. H. Darmodipuro. Pada tanggal 16 Juni 2005, Darmodipuro menggelar upacara ruwatan untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Museum Radyapustaka, Solo. Ruwatan, merupakan tradisi yang telah berkembang di dalam masyarakat Jawa selama berabad-abad. Ruwatan dipraktikkan oleh berbagai lapisan masyarakat: baik orang kaya maupun miskin, kalangan kurang terpelajar atau terpelajar. Pada awalnya ruwatan, menurut tradisi Hindu, dikaitkan dengan penyucian atau pembebasan para dewa yang terkutuk karena mereka melakukan kesalahan. Mereka dikutuk menjadi makhluk lain (manusia atau binatang). Agar kembali menjadi dewa mereka harus diruwat. Namun, dalam perkembangannya ruwatan menjadi “sebuah upacara untuk membebaskan orang dari nasib buruk yang akan menimpa.” Orang-orang ini dianggap perlu dibebaskan dari terkaman Batara Kala karena mereka “ternoda.” Mengingat mengakarnya tradisi ruwatan di dalam masyarakat Jawa dan pengaruhnya yang luas, artikel ini bermaksud membahasnya secara khusus. Pembahasan mengenai tradisi ruwatan dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama berisi penjelasan khusus mengenai hal ikhwal ritual ruwatan antara lain: mitos Batara Kala, orang-orang yang harus diruwat, dan tata cara ruwatan. Kedua, akan dieksplorasi pandangan dunia seperti apa yang melatarbelakangi ritual ruwatan. Ketiga, penulis akan menanggapi tradisi ruwatan, tentunya dari terang firman Tuhan.
Apa Hubungan Porong dengan Yerusalem? : Menggagas Suatu Ekoteologi Kristen Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.445 KB)

Abstract

Pertanyaan di atas sulit dijawab. Faktanya, kedua kota tersebut terpisah dengan jarak yang sangat jauh. Meski keduanya dikenal sebagai tempat wisata, yang satu adalah tempat wisata para turis mancanegara—khususnya turis religius dalam tradisi agama Abrahamis—dan yang satu lagi, tempat turis domestis yang kebetulan lewat di tempat itu, di mana selain mampir untuk membeli produk tersohornya, seperti bandeng presto, ote-ote, kerupuk udang dan petis, mereka juga ingin melihat “lumpur panas” yang tidak kalah terkenal; tetap saja, keduanya secara langsung tidak punya hubungan antara satu dengan yang lain. Namun, yang menarik, keduanya secara teologis diasumsikan mempunyai hubungan yang erat, sebab keduanya mengacu kepada hubungan antara iman dan bencana alam, atau tepatnya, antara iman dan kerusakan alam akibat sikap dan tindakan eksploitatif manusia terhadap lingkungan hidupnya. Karena itu, terjadinya “pukulan balik” dari alam atas ketamakan manusia yang terus menerus mengeksploitasinya ini perlu dipahami secara teologis. Dalam usaha memahami hal ini, ada beberapa pertanyaan penting perlu dilontarkan, seperti apakah konsidi lingkungan hidup manusia sekarang ini? Apakah motif di balik degradasi atau kerusakan lingkungan hidup? Apakah prinsip-prinsip alkitabiah yang dapat diajukan untuk membangun teologi lingkungan hidup (ekoteologi)? Akhirnya, apakah prinsip-prinsip teologis dan normatif yang dapat dibangun dari perspektif Kristen dalam menyikapi krisis ekologi yang sedang berlangsung pada masa kini? Singkatnya, tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, yang semuanya berfokus pada tujuan untuk memberikan sebuah pemahaman yang utuh tentang ekoteologi Kristen, sekaligus untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya memang ada korelasi timbal balik antara iman Kristen dan krisis lingkungan hidup yang disebabkan oleh manusia.

Page 1 of 1 | Total Record : 8