cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 9 No 1 (2008)" : 7 Documents clear
Khotbah Situasional : Mengenal Metode Khotbah Harry Emerson Fosdick Kosasih, Andri
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.58 KB)

Abstract

Harry Emerson Fosdick (1878-1969) diakui oleh banyak orang sebagai satu dari pengkhotbah Amerika yang paling berpengaruh pada paruh pertama abad kedua puluh. Ia dilahirkan di Buffalo, New York, anak dan cucu dari seorang guru sekolah Baptis. Pada masa kuliah di Colgate University ia sudah menggumulkan hubungan antara iman Kristen dan kebenaran sains modern. Akhirnya, pada tahun 1896 ia meninggalkan iman injili masa kecilnya dan mengadaptasi teologi liberal setelah membaca buku A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom karya Andrew Dickson White. Para profesor pengajar di Colgate University dan Union Theological Seminary (New York), tempat ia meraih gelar B. A. (1900) dan B. D. (1904), meyakinkannya bahwa ia tetap dapat melayani Tuhan tanpa harus memegang teologi injilinya. Hasilnya, Fosdick belajar teologi di bawah William Newton Clarke yang membawanya kepada Neo-liberalisme dengan penekanannya pada evolusi wahyu ilahi dan kebaikan manusia.
Analisis terhadap Penerjemahan WAW (Dalam Teks Masoret) Menjadi KAI (Dalam Teks Septuaginta) dalam Kitab Rut Wanahardja, Cahyadi
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.548 KB)

Abstract

Ketertarikan pada bahasa-bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) dan panggilan pelayanan di bidang penerjemahan Alkitab telah mengarahkan perhatian penulis untuk memilih pokok bahasan yang terkesan “mudah” ini. “Mudah” karena kata waw dalam bahasa Ibrani maupun kai dalam bahasa Yunani memang, secara sederhana, dapat diterjemahkan sebagai “dan” saja. Namun, hal ini tidak sesederhana yang dipikirkan penulis sebelumnya. Bahasan ini menjadi cukup sulit karena ada hal-hal kompleks yang harus dipahami dalam proses penerjemahan kata ini. Khususnya, ketika pertanyaan-pertanyaan kritis diajukan pada topik ini, misalnya, apakah setiap waw pasti diterjemahkan menjadi kai? Jika demikian, bagaimana hasil terjemahannya? Apakah itu menjadi terjemahan literal atau dinamis? Tidak berhenti sampai di sini, ada beberapa hal lain yang selanjutnya perlu ditanyakan, seperti, mengapa sebagian besar kata waw diterjemahkan menjadi kai? Adakah kesejajaran secara tata bahasa antara waw dan kai ini? Mengapa ada beberapa kata waw yang tidak diterjemahkan menjadi kai? Bahkan, perlu juga untuk menanyakan mengapa ada beberapa kata bukan waw yang diterjemahkan menjadi kai? Mengapa di beberapa bagian, terjadi penambahan-penambahan kalimat/frasa sementara di beberapa bagian yang lain terjadi pengurangan kalimat/frasa? Apakah ada penafsiran pribadi dalam hal ini? Pertanyaan terakhir yang penting adalah apakah budaya Yahudi maupun budaya Hellenis telah memengaruhi penerjemah? Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini, penulis akan membagi bahasan ini menjadi empat tahap. Pada tahap pertama, akan diuraikan secara singkat, tata bahasa Ibrani (waw dan adverbia) dan Yunani Koine (kai dan kata-kata penghubung lainnya) yang akan menjadi dasar analisis. Di tahap yang kedua, akan dianalisis proses penerjemahan waw menjadi kai. Analisis ini dimulai dari persoalan-persoalan makro hingga mikro. Dua metode menjadi dasar analisis pada tahap ini adalah tata bahasa dan kritik teks. Pada tahap ketiga, penulis akan diperlihatkan pengaruh budaya Hellenis (budaya penerima) dan pengaruh budaya Israel (budaya sumber) terhadap proses penerjemahan ini. Pada tahap terakhir, akan ditarik kesimpulan-kesimpulan dari sudut pandang tata bahasa, budaya dan teologis tentang proses penerjemahan waw menjadi kai dalam kitab Rut.  
Bagaimana Kaum Injili Memandang Gereja Katolik? Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.099 KB)

Abstract

Ribuan jemaat Katolik berkumpul di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC) pada bulan November 2007 yang lalu. Kegiatan KKR yang bernuansa Katolik karismatik ini telah menjadi gerakan yang makin terasa di Indonesia. Sekilas, gerakan ini telah “mendekatkan” Katolik dengan kaum Protestan, khususnya kalangan karismatik. Di sisi lain, usaha pembelaan iman Katolik terhadap keberatan-keberatan teologis kaum Protestan juga makin terasa akhir-akhir ini di Indonesia. Tambah maraknya buku Katolik yang bernada apologetik terhadap Protestan semakin memperlebar jurang antara umat Katolik dan Kristen Protestan. Dalam rangka memikirkan relasi antara kaum Katolik dan Protestan ini, beberapa paradigma relasi muncul dalam benak penulis. Apakah gereja Katolik dapat dipandang sebagai saudara, pesaing, atau musuh? Bagaimana jika pilihan ini diajukan kepada Anda yang berasal dari golongan Protestan khususnya injili dalam memandang gereja Katolik Roma? Sebaliknya juga penting, bagaimanakah perspektif gereja Katolik dalam memandang kaum injili? ... Pembahasan tulisan ini akan mengalir sebagai berikut: Pertama, akan dipaparkan mengenai sekilas pandang pergeseran pandangan gereja Katolik terhadap doktrin kesatuan gereja yang meliputi sikap mereka terhadap gereja-gereja lain di luar gereja Katolik. Kedua, argumentasi biblis dan tradisi untuk mendukung doktrin kesatuan gereja menurut gereja Katolik. Ketiga, penulis akan menyampaikan suatu tinjauan kritis atas pandangan Katolik tersebut. Pada bagian akhir, beberapa pemikiran tentang hubungan antara kaum injili dan Katolik akan diajukan sebagai kesimpulan dan aplikasi.  
Doa Peperangan Rohani Tingkat Strategis dan Biblical Warfare Worldview : Kawan atau Lawan?  ., Soerono
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.658 KB)

Abstract

Dalam salah satu ceramahnya tentang “The Second Apostolic Age,” Peter Wagner menegaskan bahwa kekristenan sedang berada dalam proses perubahan besar yang dikerjakan oleh Roh Kudus. “Kantong anggur lama” sedang diganti dengan yang “baru.” Perubahan itu menyangkut banyak hal. Salah satunya berhubungan dengan suatu “theological innovation” yang dilakukan oleh para sarjana seperti: Clark Pinnock, Gregory Boyd, John Sanders, dan sebagainya, dengan proposal “open theology” mereka. Menurutnya, Open Theology atau Open Theism ini yang sesuai dengan karakteristik kantong anggur baru. Pertanyaan yang menggoda untuk diajukan adalah apakah Wagner telah menimbang semua landasan teori yang dibangun Boyd sehingga ia dapat memastikan bahwa Open Theology dapat menjadi kerangka teologis yang tepat bagi gerakan Apostolik Baru atau Kedua? Secara khusus, apakah biblical warfare worldview (selanjutnya disingkat BWW) yang dikembangkan Boyd itu mendukung praktik yang umum dilakukan oleh para pelopor gerakan Apostolik Kedua atau Baru, yaitu, Doa Peperangan Rohani Tingkat Strategis (selanjutnya disingkat DPRTS)? Pertanyaan yang kedua ini yang akan digumuli dalam makalah ini sehingga tujuan dari makalah ini adalah untuk menemukan sejauh mana, secara konseptual, BWW a la Boyd mendukung praktik DPRTS. Makalah ini akan diakhiri dengan sebuah refleksi dan evaluasi dari sudut pandang injili yang alkitabiah dan sehat.
Praktik Tumbang dalam Roh oleh Benny Hinn  Fu, Timotius
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.754 KB)

Abstract

Tidak dapat disangkal bahwa Benny Hinn adalah salah satu pengkhotbah yang paling fenomenal bagi dunia kekristenan dalam beberapa tahun ini, khususnya di kalangan gereja karismatik di Indonesia. Kehadirannya di Jakarta pada tanggal 24-26 Juni 2006 silam dilaporkan telah menyedot lebih dari satu setengah juta pengunjung. Panitia penyelenggara mengklaim pelayanannya di Jakarta menuai kesuksesan besar berdasarkan pengakuan bahwa selama tiga hari ia telah mengantar hampir semua pengunjung menerima Yesus Kristus dalam hati mereka dan menyembuhkan banyak orang sakit. Kesuksesan di atas telah menginspirasi panitia untuk menyelenggarakan “KKR Benny Hinn Jilid II” di Pantai Carnaval, Ancol, Jakarta pada tanggal 5-8 Juni 2008. Meskipun ada kemungkinan KKR tersebut batal diselenggarakan, kehadiran pengkhotbah tersohor ini memang telah menciptakan sebuah kontroversi di kalangan orang Kristen di Indonesia. Di satu pihak terdapat kelompok yang menyambutnya sebagai pahlawan iman yang memberkati Indonesia; di pihak yang berseberangan terdapat sekelompok orang Kristen yang dengan tegas menolak kehadirannya dengan alasan pengajaran dan praktik teologinya bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Tampaknya perbedaan pendapat kedua kubu di atas sulit dijembatani. Akibatnya, orang Kristen menjadi bingung dalam meresponsnya, khususnya menyikapi rencana kehadirannya di Jakarta nanti. Untuk itu, makalah ini mencoba memberikan sebuah sumbangsih pemikiran atas kontroversi seputar pengajaran dan pelayanannya. Mengingat keterbatasan tempat, tulisan ini hanya memfokuskan penyelidikan atas salah satu praktik pelayanan yang menjadi ciri khasnya, yakni “slain in the Spirit” atau tumbang dalam Roh. Tulisan ini akan menyajikan dua materi utama, yakni sebuah deskripsi tentang fenomena tumbang dalam Roh yang dipraktikkannya dan sebuah evaluasi atas fenomena tersebut berdasarkan pandangan teologi injili yang sehat. Diharapkan, artikel ini dapat menjadi sebuah panduan bagi para pembaca untuk lebih mengenal sosok Hinn sehingga dapat memberikan respons yang wajar terhadapnya.
Naskah Khotbah: Hamba Tuhan dan Godaan (Yak. 1:12-15) Soegianto, Hari
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.446 KB)

Abstract

Naskah Khotbah
Dikubur atau Dikremasi? : Tanggapan Atas Artikel "Analisis Pola Hermeneutik Jusuf B. S., H. L. Senduk dan Herlianto Tentang Pandangan Alkitab Terhadap Kremasi" ., Herlianto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.321 KB)

Abstract

Menarik membaca artikel berjudul “Analisis Pola Hermeneutik Jusuf B. S., H. L. Senduk dan Herlianto Tentang Pandangan Alkitab terhadap Kremasi” dalam Veritas 8/2 (Oktober 2007) halaman 231-241, yang ditulis oleh Wahyu Pramudya (yang dalam blognya menamakan dirinya Wepe). Menarik karena ini menunjukkan bahwa keluarga SAAT sudah menunjukkan keinginan untuk makin dewasa dalam berdiskusi dan lebih terbuka. Namun, di balik itu, ternyata artikel itu kelihatannya ditulis dengan kurang teliti dan didasarkan data yang kurang lengkap sehingga kurang memahami isi yang dikritiknya, dan menghasilkan kesimpulan yang tergesa-gesa yang menunjukkan lemahnya metodologi penulisan yang dikemukakan.  

Page 1 of 1 | Total Record : 7