cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 9 No 2 (2008)" : 6 Documents clear
Kerajaan Imam : Teologi Kerajaan Allah dan Implikasinya bagi Pemuridan Kristen Masa Kini Tumanan, Perdian K. M.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.216 KB)

Abstract

Tidak dapat disangkal lagi, kerajaan Allah merupakan salah satu topik terpenting dalam kitab-kitab injil dan Perjanjian Baru dan pada umumnya para sarjana dari berbagai aliran teologi yang berbeda setuju bahwa berita utama yang disampaikan Yesus adalah tentang kerajaan Allah. Sayangnya, kesepakatan tersebut tidak diiringi dengan kesepakatan yang sama terhadap definisi dan intensi kerajaan Allah yang disampaikan Yesus. Pemahaman yang berbeda tentang makna kerajaan Allah menurut Yesus tampaknya didasari oleh adanya motif tertentu untuk mendukung suatu sistem teologi yang dipegang atau diyakini agar tampak konsisten dan koheren. Akibatnya, terjadi pengabaian pada penelusuran makna kerajaan Allah secara historis-biblikal dari Kitab Suci. ... Meskipun, pada dasarnya, para teolog setuju bahwa konsep kerajaan Allah harus kembali dilihat dari perspektif Yudaisme, tampaknya terlalu banyak godaan untuk mengusung motif teologi (atau agenda) tertentu, yang hasilnya justru sering menjerumuskan dan bukan memperjelas makna kerajaan Allah. N. T. Wright, seorang teolog PB injili yang sangat terkenal saat ini, mengeritik kecenderungan ini dengan menyatakan, “Again, attempts have often been made to align kingdom-language with church-language, as though ‘the church’ is the real meaning of the kingdom.”
Pro dan Kontra mengenai Roh Samuel dalam 1 Samuel 28:1-25 Liau, Susanto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.98 KB)

Abstract

Belakangan ini, banyak ajaran sesat atau bidat yang mengatasnamakan ajaran Kristen, namun pada hakikatnya ajaran-ajaran tersebut tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Salah satu contohnya, sebut saja ajaran pemanggilan arwah orang mati dengan tujuan untuk menginjil seperti cerita di atas. Gerakan pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati di Indonesia dipopulerkan oleh Andereas Samudera di Bandung sekitar tahun 1996 dan sudah berhasil menarik banyak pengikut. Dengan demikian, banyak jiwa sedang disesatkan dari kebenaran dan berpaling kepada penyembahan kepada Iblis. Itu sebabnya ajaran ini perlu direspons dengan segera melalui pengajaran yang alkitabiah kepada jemaat, agar mereka dapat membedakan mana ajaran yang benar dan yang salah, sehingga mereka tidak disesatkan lagi oleh para guru palsu yang mengaku “diutus” oleh Allah padahal tidak demikian. Ajaran dan praktik pemanggilan roh orang mati berawal dari pemahaman bahwa antara orang hidup dan roh-roh orang mati masih dapat saling berkomunikasi sehingga roh-roh orang mati yang belum percaya Yesus layak untuk diinjili demi keadilan Allah karena mereka belum sempat mendengarkan berita injil. Teks Alkitab yang dijadikan acuan dalam mengembangkan ajaran di atas adalah 1 Samuel 28:1-25 dan 1 Petrus 3:19-20. Pertanyaannya adalah: apakah bagian Alkitab yang dijadikan acuan bagi pengajaran tersebut memang benar mengajarkan dan membenarkan praktik pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati? Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu diadakan penelitian secara mendalam terhadap bagian Alkitab yang menjadi kontroversial tersebut. Berdasarkan penguraian di atas, maka penulis hendak memahami kasus pemanggilan roh Samuel dalam 1 Samuel 28:1-25 secara lebih mendalam. Tujuan penulis dalam studi ini adalah selain untuk menemukan esensi kebenaran dari teks tersebut dan untuk meluruskan ajaran yang salah tentang pemanggilan dan penginjilan roh-roh orang mati, tetapi juga untuk mengungkap strategi pekerjaan Setan dalam menyesatkan umat percaya melalui “para hamba Tuhan” pada akhir zaman ini. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, maka pertama-tama penulis akan memaparkan secara singkat terminologi kata tentang pemanggilan roh orang mati; selanjutnya penulis akan mengeksegesis 1 Samuel 28:1-25 yang diklaim sebagai dasar dari ajaran tentang pemanggilan roh orang mati. Pada bagian terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan dan implikasi bagi kehidupan orang-orang Kristen zaman sekarang. Dalam makalah ini, penulis tidak membahas sejarah pemanggilan arwah secara detail, dan juga tidak memahami 1 Petrus 3:19-20 secara mendalam.
Analisis Kritis terhadap Konsep Kemungkinan Orang Percaya Dirasuk Setan Sitanggang, Murni H.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.177 KB)

Abstract

“Kemungkinan orang percaya dirasuk Setan” merupakan topik yang sering diperdebatkan dalam ruang lingkup peperangan rohani. Sebagian teolog yakin bahwa orang percaya tidak dapat dirasuk oleh Setan sebab ia sudah sepenuhnya menjadi milik Kristus. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang lain, ada “orang Kristen” yang dapat dirasuk oleh roh jahat. Penulis sendiri pernah mendengar dan menjumpai kasus semacam ini. Bahkan, apa yang terjadi di lapangan ini telah membuat beberapa teolog injili beralih haluan, mempercayai bahwa orang Kristen dapat dirasuk Setan. Alkitab, baik PL maupun PB, mencatat bahwa Raja Saul pernah diusik oleh roh jahat, padahal ia adalah raja yang diurapi Allah. Dicatat pula bagaimana Yesus menghardik, “Enyahlah, Iblis!” kepada Petrus, salah seorang murid yang dekat pada-Nya (Mat. 16:23). Yohanes 13:27 juga menceritakan bagaimana Iblis telah merasuki Yudas Iskariot, salah seorang dari dua belas murid yang dipilih sendiri oleh Yesus. Tidak hanya itu, dalam Kisah Para Rasul 5, Petrus mengatakan bahwa hati Ananias dan Safira telah dikuasai Iblis padahal jelas diketahui bahwa Ananias dan Safira adalah anggota-anggota komunitas gereja mula-mula. Pertanyaannya, bagaimana menjelaskan apa yang telah terjadi pada orang-orang ini, jika tetap menolak pernyataan bahwa “ada kemungkinan orang Kristen dapat dirasuk Setan”? Bukankah contoh-contoh di atas terjadi pada “orang-orang percaya”? Perlu digrasibawahi bahwa mereka bukan orang-orang biasa melainkan tokoh-tokoh yang tercatat namanya dalam Alkitab. Karena itu, melalui artikel ini, penulis akan berusaha meneliti topik ini secara lebih dalam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah orang Kristen memang dapat dirasuk Setan, apakah hal ini terjadi dalam kasus-kasus tertentu saja, atau apakah hal ini dapat terjadi dalam beberapa tingkatan tertentu, seperti yang telah diajukan oleh beberapa teolog, di antaranya Ed Murphy, Merrill Unger dan Fred Dickason? Menurut penulis, topik ini penting untuk dibahas agar pembaca dapat mengetahui ajaran yang sesuai dengan firman Tuhan. Alasannya sederhana, ajaran yang menyimpang dari kebenaran akan menghasilkan kebingungan yang dapat menjurus kepada kesesatan dan hal ini sangat berbahaya. Apalagi, belakangan ini begitu populer ajaran dan praktik pelepasan yang dianggap sebagai cara cepat untuk mengatasi pelanggaran dan dosa manusia, dan untuk memenangi peperangan rohani melawan kuasa jahat. Hal-hal demikian merupakan implikasi dari pengajaran yang meyakini bahwa “orang percaya dapat dirasuk Setan.” Orang Kristen tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa “Iblis masih dapat menggoda dan mempengaruhi orang Kristen,” karena Alkitab memang mengajarkan demikian (Ef. 4:27; 1Pet. 5:8). Namun, apakah pengaruh Setan tersebut dapat menguasai orang percaya sepenuhnya? Ini perlu dipelajari dengan seksama dalam terang firman Tuhan. Dengan demikian, pada akhirnya, dapat dipahami apakah Alkitab setuju dengan pandangan “orang Kristen dapat dirasuk oleh Setan.”
Naskah Khotbah: Godaan Pelayanan - Kuasa (Yoh. 13:4-5, 13-16) Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.594 KB)

Abstract

Naskah Khotbah
Menolong Praremaja Kristen Bersikap Benar Ketika Menghadapi Nabi dan Ajaran Palsu Santoso, Magdalena Pranata
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.905 KB)

Abstract

Alkitab dengan jelas dan tegas mengingatkan adanya dan betapa berbahayanya nabi palsu. Ironisnya, tema tentang nabi palsu ini jarang dikotbahkan atau diajarkan pada jemaat. Sejujurnya, saya tersentak ketika mengikuti mata kuliah “Demonologi” di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), yang mengarahkan kepada fakta bahwa semakin maraknya nabi-nabi palsu pada zaman akhir ini. Ada satu pertanyaan serius bagi saya sebagai pelayan Tuhan di Seminari Anak Pelangi Kristus, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk membentengi anak-anakmu dari bahaya dan ancaman nabi palsu?” Jika saya sungguh memercayai peringatan Alkitab tentang nabi palsu, mengapa tidak memasukkan isu ini sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan kepada murid-murid saya? Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia mengingatkan bahwa, dalam mengupayakan hal ini, tidak ada kata “terlambat.” Sementara domba-domba yang Tuhan percayakan kepada saya sedang diintai oleh serigala yang siap menerkam mereka, maka memikirkan program khusus bagi mereka yang ada pada tahap usia praremaja tidak boleh ditunda, agar mereka sudah mempunyai pengertian, kepekaan dan kewaspadaan terhadap bahaya nabi palsu dan ajaran palsu sejak di usia dini. Mereka perlu dilatih agar memiliki ketrampilan untuk dapat mendeteksi nabi palsu dan kemampuan untuk membedakan antara ajaran palsu dan ajaran yang benar menurut Alkitab. Alasan utama mengusahakan hal ini adalah bahwa para praremaja sedang memasuki keadaan yang sensitif. Mereka sedang memasuki fase di mana terjadi perkembangan iman, kebutuhan menjalin persahabatan, dan menghadapi lingkungan pergaulan dengan nilai yang berbeda. Karena itu, betapa penting membekali anak-anak di usia ini dengan ketrampilan rohani untuk dapat membedakan mana ajaran yang benar dan mana yang palsu. Bila hal ini dilakukan dengan bijaksana, diharapkan, ketika beranjak remaja, mereka sudah mantap dalam mengambil keputusan berkaitan dengan iman Kristen; mereka dapat bersikap tegas dan berani menolak yang salah serta setia melakukan yang benar sesuai ajaran Alkitab. Menurut saya, gereja dipanggil untuk menjawab tantangan zaman ini, dengan cara membekali praremaja Kristen agar dapat bertumbuh menjadi orang Kristen yang kuat dalam ajaran Alkitab dan pemahaman iman Kristen yang benar, dan, pada akhirnya, siap melayani generasinya dalam kekudusan hidup bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.
Kuasa Setan di Balik Kesembuhan Ilahi? : Suatu Telaah terhadap Mukjizat Kesembuhan Ilahi yang Kontroversial Lim, Alex
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.581 KB)

Abstract

Lagu “Mukjizat Itu Nyata” karangan Jonathan Prawira banyak digandrungi oleh orang Kristen dari berbagai denominasi. Sepertinya, penulis lagu tersebut ingin “mengklaim” bahwa mukjizat harus terjadi setiap hari. Klaim semacam ini didukung juga oleh maraknya Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang disertai kesembuhan ilahi, misalnya yang dipimpin oleh T. B. Joshua, yang diselenggarakan di Graha Bethany dengan memakai tema “Kuasa Tuhan: Datang dan Alami Kesembuhan Ilahi!” Atau, acara serupa yang digelar oleh GBI Tiberias Surabaya yang dipimpin oleh Yesaya Pariadji. Meskipun secara umum kalangan Protestan injili percaya adanya mukjizat, namun realitas ini harus diterima secara lebih kritis dengan menanyakan apakah mukjizat tersebut benar-benar bersifat aktif dan permanen. Walau demikian, di kalangan ini, masih ada anggota jemaat yang sakit yang tetap berharap ingin mengalami mukjizat kesembuhan dalam acara serupa. Beberapa dari mereka bertanya, “Pak apakah kami boleh menghadiri KKR yang disertai kesembuhan ilahi?” Sebab, “Bukankah mukjizat kesembuhan itu berasal dari Tuhan?” Jika tidak boleh, “Mengapa tidak boleh? Di mana salahnya?” Sebelum menanggapi pertanyaan-pertanyaan semacam ini, menurut hemat penulis, perlu adanya verifikasi teologis yang jelas dan objektif berkenaan dengan praktik-praktik kesembuhan ilahi. Apakah semua praktik tersebut alkitabiah? Bila tidak, mana yang alkitabiah, dan mana yang tidak? Tulisan ini akan mengangkat isu-isu kesembuhan ilahi dan permasalahan teologisnya, seperti: Apakah kuasa Setan bisa bekerja di balik macam-macam praktik mukjizat kesembuhan ilahi? Apakah agama-agama lain juga mempraktikkan kesembuhan ilahi? Apakah kesembuhan ilahi disebabkan gejala psikologis belaka? Jika pada masa kini Tuhan masih melakukan mukjizat kesembuhan, bagaimanakah mukjizat yang alkitabiah?  

Page 1 of 1 | Total Record : 6