cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2000)" : 11 Documents clear
Peran Ayah dalam Mendidik Anak Heman Elia
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.23

Abstract

Tampaknya ada semacam kebingungan dan perasaan frustrasi pada kebanyakan keluarga dalam hal mendidik anak pada saat ini. Keresahan ini membuat banyak keluarga mengalami keretakan atau kekurangharmonisan. Salah satu penyebab kekacauan dalam hal mendidik anak adalah karena terjadinya perubahan dalam struktur dan pola hubungan antar anggota keluarga. ... Namun saya kira ancaman yang paling serius terhadap peran ayah dalam mendidik anak adalah pandangan yang hidup subur di masyarakat, bahwa ibulah yang bertugas untuk mendidik anak. Segala tugas yang menyangkut anak--termasuk masalah akademik dan perilaku moralistik--adalah urusan dan tanggung jawab ibu. Maka bila ada masalah dengan anak yang selalu disalahkan adalah pihak ibu. Pandangan semacam ini lebih banyak dimiliki pria dibanding wanita. Repotnya, tatkala seorang ibu menuntut lebih banyak keterlibatan dari pihak ayah, para ayah bersikukuh dengan pendapatnya bahwa ibulah yang seharusnya bertanggung jawab atas pendidikan anak. Situasi semacam ini menyebabkan banyak anak telantar atau bahkan tercabik-cabik di tengah keadaan saling menyalahkan di antara kedua orangtua. Berbagai faktor di atas membuat peran ayah dalam kehidupan anaknya saat ini menjadi tidak jelas dan lebih berat dibanding dengan masa sebelum ini.
Dasar-Dasar Bercerita di Sekolah Minggu Benny Solihin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.74 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.25

Abstract

Jauh sebelum Alkitab ada, umat Allah sudah gemar berkata-kata mengenai Tuhan. Sambil duduk dekat api unggun di waktu malam, mereka menyanyi tentang kebesaran dan belas kasihan-Nya. Para kakek meneruskan kepada cucu mereka cerita-cerita mengenai Tuhan. Demikian seterusnya karya dan perbuatan Allah di dalam sejarah mereka turunkan kepada generasi selanjutnya dalam bentuk cerita, sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan dalam kitab Ulangan 6:4-7. Penyampaian berita dalam bentuk cerita atau narasi sangat efektif dari zaman ke zaman dalam setiap generasi dan bangsa, sampai pada zaman moderen ini. Sekarang ini cerita dapat disampaikan melalui teknologi canggih seperti media elektronik dan audio visual. Harus diakui teknologi modern merupakan pilihan bagi anak-anak Sekolah Minggu di samping mendengar cerita dari orang tua dan Guru Sekolah Minggu (GSM) mereka. Namun demikian, meskipun media elektronik dan audio visual dapat melakukan tugas bercerita, tetapi mereka tidak dapat mengganti “hubungan pribadi” antara si pencerita dan pendengar, dalam hal ini anak-anak. Di sinilah seorang GSM memiliki kesempatan untuk tetap hadir dan sekaligus tantangan untuk meningkatkan mutu berceritanya.
Stagnasi Pelayanan Daniel Nugraha Tanusaputra
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.192 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.26

Abstract

Orang-orang Kristen di setiap abad mendapat julukan “homo viator,” yaitu orang yang selalu berjalan dan bergerak. “Berhenti” bagi umat Kristen berarti kemunduran. Karena itu di tengah zaman yang serba canggih dengan hi-tech dan komputerisasi kita dipacu untuk berlomba. Sambil berlomba orang akan berusaha mengukur apa saja yang dapat dipantau dengan angka. Sebab itu gereja dan persekutuan pun dipaksa untuk mengukur keberadaannya. Jika kita mengatakan “stagnasi pelayanan” berarti kita “merasakan” atau mulai “berpikir” dengan semacam ukuran bahwa apa yang kita lakukan sampai saat ini tidak bisa kita lanjutkan terus-menerus demikian saja. Apa yang telah kita lakukan sampai saat ini tidak menunjukkan dampak perubahan atau pembaharuan. Seolah-olah semuanya menunjukkan adanya kekosongan batiniah. Apa artinya segala usaha dan daya kita dalam pelayanan ini entah itu pemberitaan firman Tuhan, pembinaan, PA, konseling dan seterusnya? Pelayanan kita dirasakan tidak membawa manfaat, tidak ada gema yang memantul. Ini semua bukan tanpa akibat bagi kehidupan pribadi kita sebagai pekerja gereja atau persekutuan yang mendapat panggilan Allah untuk melayani-Nya dengan tugas dan tanggung-jawab yang dipercayakan kepada kita. Masih adakah perspektif yang positif untuk pelayanan kita? Apakah yang kita lakukan sampai saat ini memiliki masa depan? Bukankah ini semua menunjukkan adanya “sindrom” dari kejenuhan atau stagnasi? Di dalam artikel ini kita akan membahas mengenai dampak dari stagnasi pelayanan serta apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Tetapi sebelumnya kita akan melihat hambatan yang umumnya menghalangi orang mengenal adanya stagnasi. Dengan mendiskusikan hal ini penulis berharap para pembaca merindukan adanya suatu “pembaharuan” demi kemajuan dan berusaha untuk mempertahankan yang baik dan berani mengadakan terobosan yang baru.
Hubungan Sekolah Teologi, Rohaniwan Lulusannya dan Gereja Jahja Elia Pilimon
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.706 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.27

Abstract

Setiap sekolah teologi, dari latar denominasi atau warna teologi apapun, tentu mempunyai sejumlah lulusan. Setelah para lulusan itu melalui suatu masa pelayanan terjadilah pemutusan hubungan kerja, baik yang inisiatifnya keluar dari rohaniwan itu sendiri karena tidak puas terhadap gereja atau pun yang inisiatifnya keluar dari ladang pelayanan, khususnya gereja yang tidak puas terhadap rohaniwan. (Selanjutnya penyebutan ladang pelayanan akan diwakili oleh gereja yang terbanyak memanfaatkan tenaga rohaniwan dari sekolah teologi dibandingkan lembaga Kristen non-gereja.) Dengan berjalannya waktu dan jika ketidakpuasan gereja terhadap tindakan dan unjuk kerja rohaniwan lulusan dari sekolah teologi yang sama terulang kembali, maka tidak heran jika tindakan dan unjuk kerja rohaniwan itu tidak hanya diidentifikasi gereja sebagai kelemahan dari rohaniwan yang bersangkutan, tetapi lebih dari itu sebagai hasil dari proses pendidikan sekolah teologinya. Pertanyaannya sekarang adalah tindakan dan unjuk kerja apa saja dari para rohaniwan yang tidak sesuai dengan harapan gereja dan dapat dikembalikan sebagai hasil proses pendidikan semua sekolah teologi? Kajian tulisan mengenai masalah hubungan kedua lembaga ini, yang jika tidak ada halangan akan dilanjutkan dengan penelitian lapangan, dapat dijadikan masukan bagi pihak sekolah teologi, gereja, maupun para rohaniwan (atau calon rohaniwan) dalam kerangka tanggung jawab penyiapan para calon rohaniwan di kehidupan globalisasi kini yang kecepatan dan perubahannya tidak dapat diduga. Berdasarkan paparan latar belakang tulisan di atas, uraian tulisan ini disusun dengan urutan: Pertama, Gambaran Hasil Pengamatan dan Penelitian Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Teologi Beserta Lulusannya. Kedua, Konsep Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Teologi: Tujuan dan Model Penyelenggaraan. Ketiga, Implikasi Konsep Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Teologi: Tanggung Jawab Bersama Sekolah Teologi dan Gerejauntuk Penyiapan Calon Rohaniwan.
Mencari Esensi dan Misi Gereja dalam Konteks Indonesia Awal Abad 21 Winfrid Prayogi
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.622 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.28

Abstract

Memiliki identitas diri adalah sesuatu yang sangat penting bila kita ingin melakukan sesuatu yang mempunyai landasan yang kokoh dan sasaran yang jauh ke depan. Dalam kaitan dengan identitas diri tersebut, penulis mengajak kita memikirkan mengenai peran yang seharusnya dimainkan oleh Gereja Tuhan di Indonesia. Peran tersebut baru menjadi jelas apabila dibarengi dengan kesadaran yang mendalam akan jati diri serta konteks yang kita hadapi pada saat ini dan di masa mendatang. Terlebih mengingat kita akan memasuki abad baru, abad yang diharapkan memunculkan kedewasaan Gereja menjelang kedatangan sang Raja Gereja, Yesus Kristus, yang semakin mendekat. Dalam tulisan ini penulis berusaha mengetengahkan apa yang menjadi esensi dan makna keberadaan Gereja dalam dunia. Sebetulnya peran seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh Gereja dalam dunia ini? Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini, wajah dan kiprah Gereja yang seperti apakah yang kontekstual tetapi yang sekaligus tetap Alkitabiah?
Kontekstualisasi sebagai Sebuah Strategi dalam Menjalankan Misi : Sebuah Ulasan Literatur Rahmiati Tanudjaja
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.794 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.32

Abstract

Kata “kontekstualisasi” telah ditambahkan pada perbendaharaan kata dalam bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972. Konteks pembicaraan tentang kontekstualisasi dalam diskusi TEF adalah pendidikan teologi di negara-negara dunia ketiga. Namun, para misiolog menyadari bahwa ide dari kontekstualisasi itu sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum TEF bersidang, yaitu terdapat di Kitab Suci. Contohnya adalah inkarnasi Yesus Kristus, dan pendekatan Paulus pada waktu ia mengkomunikasikan injil kepada orang bukan Yahudi (Kis 17:16-34, 1Kor 9:19-23). Oleh karena itu tidaklah heran apabila ada di antara para misiolog yang beranggapan bahwa kontekstualisasi hanya merupakan istilah baru dari istilah-istilah yang telah ada dan dipakai sebelumnya. Istilah-istilah itu seperti indigenisasi, inkulturasi, akomodasi dan adaptasi. Selain itu di antara para misiolog dan teolog juga berbeda pendapat tentang apa yang perlu dikontekstualisasikan. Apakah Alkitabnya, teologinya, atau berita injilnya? Mereka juga mendiskusikan tentang sejauh mana proses kontekstualisasi itu boleh dilakukan. Apakah hanya isinya, bentuknya atau keduanya? Oleh karena itu, tulisan ini akan menjabarkan pengertian kontekstualisasi dan korelasi pengertian kontekstualisasi dengan aplikasi kontekstualisasi sebagai sebuah strategi misi. Bagian ini dibagi ke dalam tiga topik pembahasan: Pertama, pemaparan persepsi kontekstualisasi; kedua, hubungan antara kebudayaan dan worldview dengan kontekstualisasi; dan ketiga, penyajian model-model kontekstualisasi.
Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Teologi Abad 21: Sebuah Kajian Retrospektif dan Prospektif Daniel Lucas Lukito
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.469 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.33

Abstract

Di dalam artikel ini pembaca akan melihat berbagai kecenderungan dalam alam pemikiran dunia teologi pada tahun-tahun mendatang. Apa yang saya paparkan sebagian besar didasarkan apa yang pernah terjadi dalam dunia teologi di tahun-tahun yang lampau dan merupakan prakiraan tentatif yang perlu diuji apakah tepat demikian. Hal ini berarti penulis tidak sedang membuat sebuah nubuat atau sebaliknya menciptakan dugaan yang mengada-ada. Istilah “Di Abad 21” pada judul artikel ini juga penulis rasakan terlalu bernada hiperbolis, karena siapa yang dapat memastikan apa yang terjadi 10, 20 atau 50 tahun mendatang berhubung perubahan sekarang selalu terjadi dengan begitu cepat. Sebab itu lebih tepat bila pembaca mengartikan “Di Abad 21” sebagai masa permulaan dunia memasuki suatu rentang yang baru sekali, yaitu abad 21, dan tidak mengartikannya sebagai masa sampai 100 tahun.
Kristologi Kosmik : Tinjauan Ulang dari Sudut Biblikal, Teologikal dan Historikal Robbyanto Notomihardjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.292 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.34

Abstract

Topik mengenai Kristologi Kosmik (Cosmic Christology) merupakan salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan dalam disiplin teologi Kristen selama empat puluh tahun terakhir ini. Menurut Daniel L. Migliore: “Among the major challenges faced by Christology in our time is rethinking the relationship of the person and work of Christ to the cosmic process.” Sementara itu Allan Bailyes juga menunjukkan bahwa Cosmic Christ adalah satu dari lima doktrin Kristen dasar yang paling banyak diperdebatkan di kalangan orang Kristen, terutama antara kubu Injili dan Ekumenikal. Isu ini pantas dikaji dan dianalisis ulang secara teologis karena hal ini menyentuh “pusat syaraf” (the central nerve) kekristenan. Isu ini juga memiliki implikasi yang serius dan signifikan bagi perjalanan kekristenan di masa depan apabila tidak dipikirkan secara tepat-benar. Artikel ini akan mencoba menelusuri secara singkat sejarah pencetusan dan perkembangan Kristologi Kosmik dalam kaitan dengan interrelasi antara kubu Injili dan Ekumenikal. Hal-hal yang berkenaan dengan dasar biblikal, termasuk berbagai isu serta perdebatan yang berkaitan dengan lingkup teologis maupun historis, akan dibahas pada bagian selanjutnya sebelum sampai pada konklusi.
Editorial Perdana Team Editor
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.618 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.62

Abstract

Ketaatan : Sesuatu yang Tak Dapat Ditawar  Benny Solihin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 1 No 1 (2000)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.557 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v1i1.86

Abstract

Naskah Khotbah

Page 1 of 2 | Total Record : 11