cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2001)" : 10 Documents clear
Kembali kepada Khotbah Ekspositori Andri Kosasih
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.795 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.58

Abstract

Disadari atau tidak disadari, abad 21 telah memberikan tantangan tersendiri bagi dunia kekristenan. Tantangan-tantangan ini telah coba ditanggapi dan diantisipasi oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Daniel Lucas Lukito lewat tulisannya di Veritas tiga edisi lalu. Dalam tulisannya, Lukito memberikan empat kecenderungan pemikiran teologi abad 21 sebagai tantangan yang harus diwaspadai oleh setiap orang Kristen, khususnya yang sangat dekat dengan disiplin teologi.1 Tulisan tersebut telah menggelitik penulis untuk mengaitkan dan menghubungkannya dengan masa depan khotbah Kristen. Penulis melihat bahwa khotbah memegang peranan penting di dalam gereja. Dalam hal ini, penulis sangat setuju dengan D. Martyn Lloyd-Jones yang menyatakan bahwa sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu mendominasi kehidupan gereja.2 Bahkan bagi Earl V. Comfort, mimbar adalah suatu faktor yang menentukan dalam sejarah gereja.3 Intinya, mereka ingin mengatakan bahwa khotbah adalah faktor yang harus ada dalam kehidupan gerejawi. Ironisnya, yang terjadi ialah khotbah mendapat perhatian yang kurang serius dari beberapa golongan Kristen. Jika Lukito melihat bahwa teologi telah dianggap sebagai urusan “sepele,” penulis mengamati hal yang sama juga telah merambat dan terjadi dalam dunia khotbah. Sebagian orang Kristen lebih mempedulikan bagaimana khotbahnya bisa dimengerti dan memuaskan pendengar, tanpa memikirkan kealkitabiahannya. Yang lebih menguatirkan lagi, ada pengkhotbah yang membaca suatu bagian Alkitab sebagai “pendahuluan” khotbah, tetapi kemudian mengkhotbahkan suatu topik yang lain, misalnya isu-isu kontemporer, atau disiplin ilmu tertentu yang menjadi keahliannya. Bagian Alkitab yang sudah dibaca tidak sedikit pun disinggung. Persoalan di atas hanyalah sekelumit masalah yang dihadapi dalam khotbah Kristen, khususnya khotbah ekspositori yang menurut beberapa pakar homiletika disebut sebagai khotbah alkitabiah.4 Lewat tulisan ini penulis mencoba untuk mengajak para pembaca dan pengkhotbah Kristen untuk melihat dan menemukan kembali esensi dan keefektivitasan khotbah ekspositori guna menghadapi tantangan abad 21. Melalui artikel ini penulis mencoba untuk melihat apakah khotbah ekspositori itu dalam pengertian yang benar, kepentingan serta keuntungannya. Dalam artikel ini penulis tidak akan memberikan pelajaran homiletika, khususnya dalam hal membuat khotbah ekspositori. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan kesimpulan dan aplikasi dari artikel ini bagi dunia khotbah di Indonesia. Diharapkan lewat tulisan ini para pembaca dan pengkhotbah Kristen tetap memiliki semangat dalam berkhotbah dan membakar kembali semangat mereka yang mulai memudar.
Rekonsiliasi Etnis : Misi Bersama Komunitas Kristen Tionghoa Markus Dominggus L. Dawa
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.207 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.59

Abstract

Dalam diskusi yang diadakan bersama oleh Kantor Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Arief Budiman menyampaikan bahwa ada empat konflik besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia hari ini. Salah satu dari keempat konflik itu adalah konflik antara Cina dan pribumi … Komunitas Kristen Tionghoa sebagai suatu entitas sosial hidup dan melayani di tengah konflik-konflik tadi, khususnya di tengah arus pusaran konflik etnis Tionghoa dan etnis Indonesia lainnya. … komunitas Kristen Tionghoa pertama tama hadir untuk menjadi saksi Kristus bagi bangsa ini. Untuk mencapai hal ini maka diperlukan suatu terobosan radikal dari pihak komunitas Kristen Tionghoa untuk membuka jalan bagi tersampaikannya dan diterimanya Injil Yesus Kristus, kepada dan oleh seluruh bangsa ini. … Untuk itu saya akan menempuh prosedur demikan: pertama-tama saya akan mengajak Anda membaca sejarah untuk mencari tahu di mana akar konflik Tionghoa dengan etnis Indonesia lainnya berada. Dari situ saya akan membawa Anda sejenak merenungkan apa yang dikatakan Alkitab mengenai misi rekonsiliasi, dan akhirnya saya mencoba memberikan beberapa kemungkinan yang dapat saja terjadi bila misi rekonsiliasi ini kita tuntaskan atau tidak kita tuntaskan hari ini.
Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire : Antara Banking Concept of Education, Problem Posing Method, dan Pendidikan Kristen di Indonesia  Wahyu Pramudya
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.869 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.63

Abstract

Paulo Freire adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen—baik dari kalangan Protestan maupun Katolik—yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20 ini. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Latar belakang sosial budaya dari pemikiran Freire yang tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia inilah yang menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan secara khusus untuk pendidikan Kristen di Indonesia. Tulisan ini akan mencoba memperkenalkan filsafat pendidikan Freire. Untuk itu akan dipaparkan latar belakang kehidupannya dan pandangannya tentang pendidikan. Penulis akan memaparkan secara garis besar alur pemikiran pendidikan Freire untuk menampilkan “gambar besar” bagi pembaca yang belum terlalu mengenalnya. Selanjutnya, secara khusus penulis akan menyoroti dikotomi antara “Banking Concept of Education” dan “Problem Posing Method” yang tampaknya menjadi salah satu pemikirannya yang khas. Berikutnya, penulis akan mencoba berdialog secara kritis dengan pemikiran Freire untuk melihat kemungkinan-kemungkinan sumbangsihnya yang aplikatif dan kontekstual untuk pendidikan Kristen di Indonesia.
Kehidupan Alam Perasaan Yesus Kristus : Teladan Sempurna bagi Para Pendidik Kristen Heman Elia
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.544 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.64

Abstract

Unsur perasaan telah menjadi bagian yang penting dalam pendidikan masa kini. Adele Faber dan Elaine Mazlish adalah dua dari antara sekian penulis yang menulis tentang mendidik anak dengan menyisipkan unsur perasaan dalam metode pengajaran mereka. Pendekatan ini ternyata cukup efektif dalam mendidik anak baik di rumah maupun dalam ruang kelas, bahkan secara dramatis membantu mengurangi masalah-masalah seperti menghukum anak, absensi, perilaku, dan dapat meningkatkan kepercayaan diri anak. Dengan pendekatan ini anak merasa dipahami dan sekaligus diajar pula untuk memahami perasaan orang lain. Hal ini berbeda dengan beberapa tahun silam ketika pendidikan lebih didominasi oleh pengajaran yang mengandalkan logika yang rasional. Sekalipun banyak penulis sekuler telah memasukkan unsur perasaan ke dalam pendidikan, namun para penulis dan pendidik Kristen tampaknya masih enggan mendalami hal ini. Emosi acap kali dipandang sebagai unsur kepribadian yang tidak dapat diandalkan karena mudah berubah seiring dengan perubahan situasi atau suasana hati. Harus diakui bahwa memanfaatkan perasaan dalam pendidikan bukanlah satu-satunya metode untuk memperoleh hasil maksimal. Ungkapan kehati-hatian J. Dobson3 yang menyatakan, “Emosi itu harus selalu diperhitungkan dengan kemampuan berpikir dan kemauan,” patut memperoleh perhatian. Meski demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa literatur Kristen di bidang pendidikan yang memperhitungkan unsur perasaan masih tergolong langka. Tulisan ini diharapkan dapat mengisi kelangkaan tersebut. Tulisan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai kehidupan emosi Yesus Kristus yang acap kali terabaikan dalam diskursus mengenai pribadi-Nya. Diharapkan uraian mengenai alam perasaan Yesus ini dapat membangkitkan inspirasi para pembaca untuk juga memperhitungkan unsur perasaan dalam tugas kita melaksanakan amanat agung Yesus Kristus, yakni menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai pentingnya fungsi dan peran emosi dalam perkembangan individu, alam perasaan Yesus dan dampaknya dalam hidup pelayanan-Nya, beberapa aspek pengajaran Yesus yang penuh dengan perasaan yang patut dan dapat dijadikan teladan dalam pendidikan Kristen, setelah itu diakhiri dengan beberapa kesimpulan penting.
Pandangan John Knox tentang Reformasi Gereja dalam Hal Praktikal dan Sakramental Rahmiati Tanudjaja
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.737 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.69

Abstract

Gerakan Reformasi tidak hanya terjadi di Jerman, di mana Martin Luther mencetuskan 95 tesisnya pada 31 Okotober 1517. Negara-negara Eropa lainnya, seperti Skotlandia juga terlibat dalam gerakan ini. Setiap negara memiliki tokoh reformasinya masing-masing yang berusaha agar Gereja kembali berjalan sesuai dan berdasarkan otoritas firman Tuhan. Reformasi di Skotlandia sangat berkaitan erat dengan perkembangan politik di negara itu. Karena itu, untuk memahami reformasi di Skotlandia, maka pertama-tama kita perlu memahami situasi politik saat itu serta kaitannya dengan situasi di dalam gereja. Setelah itu kita akan melihat bagaimana Knox menanggapi situasi politik di sekitarnya, baik secara lisan maupun tulisan. Pemaparan akan difokuskan secara khusus pada hal-hal praktikal di dalam Gereja dan sakramen.
Reformasi, Teologi dan Kehidupan Sehari-Hari : Ajaran Calvin dan Konsistori di Geneva tentang Pernikahan Yudha Thianto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.18 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.72

Abstract

Setiap kali kita membicarakan Reformasi yang terjadi pada abad keenam belas, sering kali perhatian kita hanya tertuju pada formulasiformulasi teologis dengan segala pernik-perniknya serta kompleksitas pemahaman dogmatika dari para reformator. Pandangan seperti ini menyebabkan kita lupa bahwa Reformasi itu sendiri terjadi karena para reformator berupaya untuk memaparkan pemikiran teologis mereka dengan tujuan agar jemaat umum bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. … Melalui tulisan ini penulis berupaya untuk memaparkan bagaimana Calvin menerapkan pandangan reformasi mengenai pernikahan, baik dari sudut pandang teologis, aturan tata gereja Geneva dan dalam praktek seharihari. Penelitian ini dipusatkan pada masa dekade pertama sejak Calvin menerbitkan edisi pertama Institutio pada tahun 1536 sampai pada penerbitan Peraturan Tata Cara Pernikahan yang dikeluarkan oleh para pemimpin di Geneva pada tahun 1547. Dekade pertama ini memiliki peran penting dalam sejarah Reformasi di Geneva, sebab pada masa ini ajaran Reformasi dari Calvin berada pada masa ujian untuk meneguhkan dasardasar pemikiran teologisnya; pada saat yang sama juga mengubah cara berpikir jemaat dari cara lama yang berdasarkan ajaran gereja dan kepausan yang berpusat di Roma dengan segala penekanannya tentang sakramen yang dicampur dengan ajaran mistis dan penuh takhyul. Dari hasil penelitian ini penulis berharap agar para pembaca bisa melihat bahwa upaya yang dilakukan oleh Calvin untuk menerapkan teologi Reformasi dalam kehidupan jemaatnya tidaklah mengalami jalan yang mudah. Di satu sisi Calvin harus berdiri di atas ajaran Alkitab dan menyampaikan ajaran Alkitab ini bagi jemaatnya. Di sisi lain, jemaat yang pada umumnya belum terpelajar dan cara berpikirnya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat yang dibentuk oleh gereja di Roma dengan segala pemikiran takhyul dari abad pertengahan, masih sulit berubah apa lagi dalam hal pernikahan. Dari catatan konsistori Geneva yang penulis akan ketengahkan di sini, pembaca dapat melihat bagaimana orang-orang di Geneva menghadapi problema pernikahan mereka, dan bagaimana Calvin serta para pendeta lainnya menerapkan ajaran Reformasi mereka.
Peran Roh Kudus di dalam Doa menurut John Calvin Thio Christian Sulistio
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.314 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.73

Abstract

B. B. Warfield (1851-1921), seorang teolog Princeton Theological Seminary, pernah menjuluki Calvin (1509-1564) sebagai “teolog Roh Kudus.” Ia mengatakan bahwa doktrin tentang karya Roh Kudus merupakan hadiah dari Calvin kepada Gereja. Mengapa demikian? Karena Calvin adalah orang pertama yang mengaitkan seluruh pengalaman keselamatan orang-orang percaya dengan karya Roh Kudus, dan mengajarkannya secara detail. Ia juga memikirkan tahapan-tahapan karya Roh Kudus dalam menyelamatkan manusia. Namun uniknya, hingga saat ini sangat jarang cendekiawan Calvinisme menulis tentang doktrin Roh Kudus menurut Calvin. I. John Hesselink mengatakan: “Hence it is a conundrum that so little has been written concerning Calvin’s doctrine of the Holy Spirit, especially in the English-speaking world where there has been so much Calvin research over the last forty years.” Hal ini, barangkali, disebabkan oleh dua hal. Pertama, Calvin sendiri hanya menulis satu bab yang pendek mengenai Roh Kudus di dalam Institutes-nya (III.1); dan kedua, karena ia mengaitkan hampir semua doktrin yang ia bahas dengan Roh Kudus. Karena itu, untuk membahas doktrin Roh Kudus menurut Calvin, kita perlu membahas seluruh teologinya. Ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikerjakan sehingga tidak heran hanya sedikit pakar yang mampu melakukannya. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memenuhi kekosongan di atas, namun hanya ingin memperkenalkan sebagian kecil dari ajaran Calvin mengenai Roh Kudus, yaitu peranan Roh Kudus di dalam doa. Sistematika penulisannya adalah, pertama, penulis akan membahas definisi dan perlunya doa menurut Calvin. Kedua, peranan Roh Kudus dalam doa menurut Calvin, yaitu sebagai inisiator dan sebagai guru.
Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi Kalvin s Budiman
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.331 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.74

Abstract

Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. … Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman bagian pertama di dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud.
Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi Daniel Lucas Lukito
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.539 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.75

Abstract

Menurut kronologi sejarah, gereja Protestan mulai bereksistensi pada peristiwa Reformasi abad ke-16. Sekalipun ketika itu Martin Luther—dan juga kemudian John Calvin—menentang ajaran gereja Katolik Roma, mereka tidak bermaksud mendirikan gereja yang baru. Tujuan dari Reformasi itu sendiri adalah untuk menyerukan sebuah amanat agar gereja kembali kepada dasar ajaran dan misi yang sesungguhnya; gereja disadarkan dan dibangunkan agar berpaling pada raison d’etre dan vitalitasnya di bawah terang Injil. … Tulisan ini mencoba melihat teologi Reformasi dari segi hakikat/esensinya serta kaitan/relevansinya dengan iman Kristen pada masa kini. Karena keterbatasan ruang, penulis lebih banyak memfokuskan pembahasan pada pandangan J. Calvin (1509-1564) tentang esensi Reformasi itu sendiri, karena di dalam pemikiran Calvin-lah kita dapat menemukan pemikiran dasar tentang teologi Reformasi dalam struktur yang lebih mendalam dan sistematis.
Analisa Kritis terhadap Pandangan-Pandangan Unio Mystica ditinjau dari Teologi Perjanjian Baru Hali Daniel Lie
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 2 No 2 (2001)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.29 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v2i2.71

Abstract

Unio mystica, dalam bahasa Latin, atau mystical union, dalam bahasa Inggris, lebih baik diterjemahkan sebagai persatuan mistik daripada kesatuan mistik. Karena kesatuan mistik mengandung makna konotatif pasif dan statis. Lain halnya dengan persatuan mistik yang berkonotasi aktif dan dinamis, di mana justru sifat keberagamaan yang aktif dan dinamis inilah yang hendak dikejar melalui persatuan mistik … saya akan membahas lebih jauh pandangan beberapa teolog dan pakar, ajaran tentang persatuan mistik. Selanjutnya saya akan mencoba menggali keluar kebenaran kristiani tentang ajaran persatuan mistik dari sudut pandang teologi biblika, khususnya teologi Perjanjian Baru. Akhirnya, berdasar teologi biblika ini saya akan memberikan analisis kritis terhadap berbagai pandangan tentang persatuan mistik.

Page 1 of 1 | Total Record : 10