cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2002)" : 9 Documents clear
Doktrin Sola Scriptura  Yohanes Adrie Hartopo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (42.1 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.77

Abstract

“Unless I am convinced by Sacred Scripture or by evident reason, I will not recant. My conscience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe.” Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya. Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya. Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya. Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa kebenaran ini diajarkan di dalam Alkitab.
Doktrin Pilihan dari Perspektif Reformed Kontemporer  Henry Efferin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (27.183 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.78

Abstract

Doktrin pilihan adalah doktrin utama yang paling kontroversial dalam tradisi Reformed. Sebetulnya doktrin ini mempunyai akar yang jauh mulai dari PL. Konsep mengenai umat Israel sebagai umat pilihan sangat jelas dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan 7:6-8, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya ....” Masalah yang sering diperdebatkan ialah bagaimana umat Israel mengerti peran dan fungsinya tersebut. Namun dalam pembahasan artikel ini saya akan lebih menitikberatkan pada beberapa tokoh yang berpengaruh dalam sejarah gereja, sebelum membahas pandangan Reformed yang lebih kontemporer dalam pendekatan terhadap doktrin pilihan ini.
Pelbagai Pandangan Tentang Kristus : Sebuah Diskusi Populer Tentang Kristologi Herlianto .
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.832 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.79

Abstract

Pandangan tentang Kristus atau kristologi memang ramai dibicarakan di sepanjang sejarah gereja, sejak Yesus yang disebut Kristus itu lahir, mati, dikuburkan, bangkit, dan naik ke sorga pada abad pertama dari suatu era yang disebut era Kristen (CE = Christian Era, dahulu AD = Anno Domini/ tahun Tuhan, untuk membedakan dengan era sebelumnya yang disebut BC = Before Christ/sebelum Kristus). Artikel ini mencoba memaparkan pelbagai pandangan tentang Kristus yang timbul selama ini.
Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma terhadap para Reformator : Sebuah Studi tentang Kesatuan Gereja Hidalgo Ban Garcia
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.568 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.80

Abstract

Calvin bisa dianggap sebagai seorang pemimpin gereja yang ekumenikal. Namun, dalam kebanyakan studi tentang sikap ekumenikal Calvin, mau tidak mau kita merasakan adanya prasuposisi yang tidak semestinya, yang tidak berhubungan dengan situasi aktual abad keenam belas dan tujuh belas. … Artikel ini berisi sebagai berikut: tuduhan skismatik dari Katolik Roma terhadap para Reformator, pemahaman Katolik Roma tentang kesatuan, respons Calvin atas tuduhan skisma, dan akhirnya, pada bagian kesimpulan, pengertian Calvin tentang kesatuan gereja, yang diintisarikan dari responsnya terhadap tuduhan skisma dan dari Institutes. Yang pertama dari tiga bagian ini akan diambil terutama dari traktat-traktat dan risalah-risalah yang berhubungan langsung dengan polemik-polemik Calvin-Roma Katolik.9 Semua isu yang dipresentasikan dalam artikel ini, tentu saja, terdapat dalam Institutes, dan dengan demikian, saya akan mengutip bagian-bagian Institutes yang paralel dan relevan pada catatan kaki.
Polarisasi Dikotomis Agape dan Eros : Suatu Analisa Kritis terhadap Teologi Kasih Agustinus  Ferry Yefta Mamahit
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.294 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.81

Abstract

Dalam kekristenan, kasih adalah salah satu kata yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Kata ini oleh sebagian orang Kristen sering dipahami secara dikotomis, sebagai kasih ilahi (agape) dan kasih manusiawi (eros). Keduanya sering dibedakan secara ketat, terpisah dan bertentangan satu dengan yang lain, yang satu dianggap baik, sementara yang lain dianggap buruk. Kasih ilahi atau agape, sering dianggap lebih positif, sebagai kasih yang sejati dan mulia. Sebaliknya, kasih manusiawi atau eros sering dianggap lebih negatif sebagai “nafsu berahi,” “seksualitas yang sensual,” atau “cinta“ tanpa makna rohani apapun. Pemahaman dikotomis seperti ini berakibat sangat buruk bagi orang Kristen, karena pengagungan terhadap yang satu biasanya berakibat pelecehan terhadap yang lain. Konsep kasih yang begitu agung dapat menjadi sesuatu atau tidak berarti sama sekali, seperti dikatakan Mildred B. Wynkoop, “It has lost its mooring and stands for ‘what I want’—a most deceptive concept and despotic tyrant.” Agustinus, salah satu arsitek besar kekristenan, adalah teolog yang sangat berminat terhadap topik kasih. Pemahamannya tentang kasih sangat alkitabiah karena, secara umum, ia selalu berusaha membangun teologi dan hikmatnya dengan referensi Alkitab, yang dipercayainya sebagai firman Allah. Tetapi bukan itu saja, ia juga dianggap sebagai orang yang pertama kali mencetuskan pemahaman dikotomis seperti yang sudah disinggung di atas. Itu sebabnya artikel ini, pertama, berusaha untuk mengkaji ulang teologi kasih Agustinus seobjektif mungkin dengan cara mengeksposisi pandangannya tentang topik ini, khususnya melalui karya-karyanya; kedua, berusaha menganalisa secara kritis pandangannya dalam terang pemikirpemikir Kristen modern yang juga concern dengan topik ini, dan tentu saja dalam terang firman Allah. Melalui paparan singkat dalam artikel ini diharapkan perspektif orang Kristen tentang kasih menjadi lebih baik dan tepat, sehingga kasih tidak lagi menjadi kata yang kontroversial dan sering disalahtafsirkan, tetapi sebaliknya, kasih menjadi kata yang dapat dimengerti secara lebih utuh dan lebih bermakna.
Kepemimpinan Yohanes Pembaptis Armand Barus
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.035 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.82

Abstract

Seorang pemimpin biasanya menimbulkan dua hal yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ada berbagai alasan atau motivasi yang dapat menimbulkan dua hal kontradiktif sebagai akibat kepemimpinan seseorang. Namun pembahasan mengenai soal ini, meski penting, tidak dapat diuraikan di sini. Artikel ini lebih dititikberatkan pada diri seorang pemimpin ketimbang respons terhadapnya. Relasi benci-kasih terhadap seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak figur Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis. Kompleks dan luasnya masalah menyebabkan data-data dasar hanya bersumber dari injil Yohanes sehingga tentu saja hasilnya bukan merupakan sebuah potret yang utuh. Namun paling sedikit sketsa ini diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis. Penelaahan dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian lain dari kitab ini. Sudah merupakan kelaziman di kalangan pakar injil Yohanes memberi label Prolog untuk 1:1-18. Melalui artikel ini saya ingin menguji apakah benar Prolog tersebut merupakan miniatur injil Yohanes? Jika bagian ini dinyatakan sebagai injil Yohanes dalam bentuk padat dan ringkas, maka kitab ini tentulah merupakan uraian lanjutan dari Prolog. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat karakterisasi Yohanes Pembaptis dalam Prolog dan injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang akan ditelusuri adalah: Apakah Prolog merupakan bagian integral dari injil Yohanes?
Studi Eksegetikal terhadap Makna Misteri Kristus dalam Kolose 4:3 : Tersembunyi atau Dinyatakan? Caprili Guanga
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.819 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.84

Abstract

Latar belakang dan makna kata (mysterion) telah diperdebatkan oleh para sarjana Alkitab dari spektrum teologis yang luas. Sebagian orang berpendapat bahwa penggunaan istilah tersebut dalam PB, terutama sekali oleh Paulus, dipengaruhi oleh kultus-kultus misteri di kalangan orang-orang berbahasa Yunani. Pada permulaan abad kedua puluh, misalnya, para sarjana dari Religionsgeschichtliche Schule berusaha menjelaskan adanya latar belakang Hellenistik di balik penggunaan kata (mysterion) oleh Paulus. Sebagian lagi berusaha menelusuri latar belakang istilah ini dari Yudaisme Kuno, seperti dilakukan oleh Raymond E. Brown yang menekankan bahwa kita tidak perlu mencari latar belakang istilah ini di luar Yudaisme Kuno. Banyak sarjana belakangan ini merasa yakin adanya latar belakang Semitik di balik istilah ini, dan tampaknya inilah pandangan umum di kalangan para penafsir saat ini, sekalipun mereka mengakui bahwa kultus misteri sezaman dengan kekristenan. Meskipun perdebatan mengenai latar belakang mysterion mungkin tampaknya telah mencapai konsensus umum (paling tidak, hingga adanya bukti lebih jauh, dan jika ada itu akan melahirkan pertentangan terhadap pandangan mengenai adanya latar belakang Semitik dari kata mysterion), namun pertanyaan mengenai makna dan isinya dalam PB pada umumnya, dan dalam surat-surat Paulus khususnya, tetap menjadi topik diskusi serius. Artikel ini akan difokuskan pada makna (mysterion) dalam Kolose 4:3, secara khusus berusaha menentukan makna (mysterion) yang digunakan rasul Paulus pada ayat ini. Sebelum menyelidikinya lebih dekat, beberapa hal harus dikerjakan lebih dahulu guna mengetahui latar belakangnya. Pertama, akan disajikan survei ringkas kata (mysterion) yang terdapat di bagian lain di PB, untuk melihat sejauh mana penggunaan kata ini dalam PB. Kedua, kita juga perlu melihat penggunaan (mysterion) di Kolose (1:26-27; 2:2), guna menetapkan konteks perikop (4:2-6). Hal ini bukan saja membuat musth,rion berada dalam konteks lebih luas, tetapi juga membantu kita memahami frase (to mysterion tou Christou) di Kolose 4:3. Ketiga, akan dilakukan eksegesis terhadap perikop ini sambil memperhatikan isu-isu kritik teks dan gramatikal dalam prosesnya yang mungkin penting dalam menentukan makna (mysterion).
Doa : Ketika Teodisi Tak Berdaya (Wahyu 5:1-5; 8:1-6) Timotius Wibowo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.487 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.85

Abstract

Tim Kerja Menunjang Pemenuhan Pelayanan Gerejawi Nathanael Channing
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.641 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i1.83

Abstract

Ketika kita memasuki sebuah gereja, sadar atau tidak sadar kita melihat bahwa gereja hadir di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat yang kompleks. Gereja sebagai ‘umat Allah,’ kemanusiaan yang baru, mencakup orang Yunani, orang Romawi, hamba dan orang merdeka. Gereja sebagai umat Allah tanpa batas etnis, bahkan tanpa batas nasional, tanpa strata sosial. Gereja sebagai umat Allah bukan produk dari sekelompok orang demi menghormati nama Tuhan. Gereja adalah ciptaan Tuhan sendiri melalui panggilan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Dalam kuasa Roh Kudus itulah tembok-tembok etnis dan tembok-tembok pemisah yang lain dirobohkan. Jika gereja dipahami demikian, maka jelas kehadirannya di tengah situasi dan kondisi yang multikompleks menuntut pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik untuk kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat. Bagaimana gereja bisa berperan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu agar kehadirannya menjadi berkat? Hal ini berkaitan dengan cara kerja kita dalam mengelola gereja. Dengan cara apa kita menggarap pekerjaan yang sangat kompleks itu? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pemimpin gereja. “Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengetahui bahwa tugasnya adalah membangun tim efektif yang akan melestarikan mereka.” Karena itu cara kerja yang individual akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja. Kerja tim jauh lebih efektif ketimbang kerja secara individu.

Page 1 of 1 | Total Record : 9