cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2002)" : 11 Documents clear
Mencermati Perjalanan Integrasi Psikologi dan Teologi : Lajang, Nikah, Cerai?  Paul Gunadi
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.349 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.88

Abstract

Mencermati relasi antara psikologi dan teologi, tidak bisa tidak, saya teringat akan relasi suami-istri pada umumnya: ada yang mesra dan penuh perhatian, ada yang berseteru bak musuh bebuyutan, dan ada yang tidak acuh satu sama lain. Ironisnya, sesungguhnya keduanya merupakan “sumber hikmat dan pengertian tentang kehidupan manusia,” yang mempunyai cukup banyak kesamaan. … Sampai pada abad 19, psikologi masih dipandang sebagai ilmu yang berdampingan dengan agama, namun mulai abad 20 sekularisme sudah mendominasi psikologi. Tampaknya ini adalah titik awal ketidakpastian relasi antara dua ilmu ini dan upaya integrasi mengemuka dari relasi yang ambivalen ini.
Hesed : Penggunaan dan Terjemahannya dalam Kitab Hikmat serta Aplikasinya bagi Kita  Cornelius Kuswanto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.505 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.89

Abstract

Tema HUT SAAT ke-50 ialah “Grace upon Grace.” Frasa ini tidak terdapat di kitab Hikmat atau di seluruh Perjanjian Lama sekalipun. Frasa ini hanya terdapat di Perjanjian Baru, yaitu dalam Injil Yohanes 1:16, “From his fullness we have all received grace upon grace” (NRSV) atau, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (LAI TB). Frasa “grace upon grace” atau “kasih karunia demi kasih karunia” berasal dari bahasa Yunani, “kharin ‘anti kharitos.” Akar kata dari frasa Yunani ini ialah kharis. Dalam terjemahan bahasa Yunani dari PL (Septuaginta), kata kharis merupakan terjemahan dari kata Ibrani hen. Menurut pengertian ini, maka dalam bahasa Ibrani, frasa “grace upon grace,” ialah “hen ‘al hen.” Yang menarik ialah, di dalam dua versi Alkitab PB bahasa Ibrani, frasa “grace upon grace” di Yohanes 1:16 diterjemahkan dengan “hesed ‘al hesed” dan bukan “hen ‘al hen.” Untuk penulisan artikel ini, penulis akan memakai key-word hesed dan bukan hen sebagai dasar dari tema “grace upon grace.” Alasan pemilihan ini ialah: pertama, dua versi Alkitab PB bahasa Ibrani memakai hesed untuk menerjemahkan kharis. Kedua, kata Ibrani hen, yang dipergunakan sebanyak 69 kali di PL, kebanyakan diterjemahkan untuk benda, hewan atau pribadi yang menarik karena mempunyai keelokan atau keindahan. Kata hesed mempunyai pengertian yang jauh lebih luas daripada hanya keelokan atau keindahan luar secara fisik. Dalam artikel ini kita akan melihat penggunaan dan terjemahan hesed dalam kitab Hikmat dan aplikasi hesed dalam kehidupan kita. Untuk penjelasan kata hesed dalam kitab Hikmat kita akan melihat perbandingan pemakaian kata tersebut menurut dua versi bahasa Indonesia (LAI TL dan LAI TB) dan dua versi bahasa Inggris (NIV dan NRSV). Kitab Hikmat dalam PL mencakup kitab Ayub, Amsal dan Pengkhotbah. Perbandingan penggunaan kata hesed dalam ketiga kitab tersebut ialah: tiga kali dalam kitab Ayub, sembilan kali dalam kitab Amsal, dan tidak pernah dipakai dalam kitab Pengkhotbah. Karena kata ini tidak pernah dipakai dalam kitab Pengkhotbah, maka penjelasan tentang hesed dalam artikel ini hanya berpusat pada kitab Ayub dan Amsal. Penulis akan memakai bagian Alkitab lain yang mempunyai referensi tentang hesed jika perlu untuk memberikan penjelasan tentang kata tersebut.
Anugerah Demi Anugerah dalam Spiritualitas Kristen yang Sejati  Rahmiati Tanudjaja
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.91

Abstract

Kehidupan spiritualitas seseorang bukan hanya merupakan topik perbincangan di kalangan orang beragama atau para teolog saja. Pada waktu buku Daniel Goleman—seorang doktor psikologi dari Harvard—yang berjudul Emotional Intelligence terbit pada 1995, para pakar pendidikan dan bidang lain, maupun orang awam mulai ramai membahas dan menulis tentang kepentingan dan peran kecerdasan emosi yang dikaitkan dengan keefektifan kecerdasan intelektual. Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 2000, buku berjudul SQ: Spiritual Intelligence—The Ultimate Intelligence karya Danah Zohar, seorang psikolog, dan fisikawan Ian Marshall, menambah, atau dapat dikatakan, menggeser topik pembahasan dan penulisan mengenai EI. Kecerdasan spiritual dianggap sebagai faktor penentu bagi keefektifan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. … Pembahasan berikut akan diawali dengan definisi spiritualitas Kristen yang dilanjutkan dengan titik tolak spiritualitas Kristen, dan kriteria serta proses pertumbuhannya. Keseluruhan pembahasan akan mengacu pada kebenaran firman Tuhan yang dibandingkan pula dengan pemikiranpemikiran dari teolog-teolog yang sudah membahas mengenai hal ini.
Anugerah Tuhan dan Kelemahan Seorang Pemimpin Kristen (2 Korintus 12:1-10) Benny Solihin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.803 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.92

Abstract

Naskah khotbah
Anugerah dalam Pelayanan Penggembalaan Nathanael Channing
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.204 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.93

Abstract

Ada hal yang mungkin sangat mengejutkan kita pada saat Tuhan Yesus bertemu dengan Petrus setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Tuhan Yesus melakukan pendekatan penggembalaan yang sangat jitu ketika berhadapan dengan sosok seorang pengkhianat, yakni Petrus. Tuhan Yesus tahu dengan pasti apa yang terjadi di dalam diri Petrus. Beban dan pergumulan hidup, tekanan dan ketakutan, bahkan pengharapan akan masa depan yang suram, semuanya Ia kenal dengan baik. Tuhan Yesus menyapa Petrus dengan bahasa penggembalaan yang sangat halus, bahasa yang dibutuhkan setiap insan, yang menyentuh hakikat diri dalam relasi antarsesama, yaitu: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh. 21:15). Pertanyaan Tuhan Yesus ini bukan saja menyentak seluruh sanubari Petrus, tetapi juga mendongkrak eksistensi relasi antara dirinya dengan Tuhannya. Apa yang telah diperbuat oleh Petrus dan apa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, semuanya terjawab melalui penggembalaan-Nya, dengan ungkapan dan tekad, “Benar, Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15). Dari jawaban itu Tuhan Yesus memberikan wujud konkret bagaimana Petrus mengasihi-Nya, yakni: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:15). Tugas dan perintah ini jelas ada dalam konteks anugerah Allah yang besar yang dialami Petrus secara pribadi, sekalipun itu merupakan wujud konkret bagaimana ia mengasihi Tuhannya melebihi mereka. Ia kemudian menjalani seluruh hidupnya dengan mempersembahkan dirinya sebagai rasul pilihan-Nya, hamba Tuhan yang menggembalakan dengan anugerah-Nya, yang belajar bersama dengan Tuhannya. Pada akhirnya ia mampu memberikan nasihat kepada para penatua untuk menggembalakan domba-domba-Nya, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1Ptr. 5:2-3). Dengan kebenaran firman Tuhan ini, kita akan belajar bersama-sama untuk memahami pelayanan pastoral yang merupakan panggilan kita bersama.
Sekolah Teologi dan Gerakan Penginjilan Albert Konaniah
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.94

Abstract

Artikel ini membahas kaitan antara sekolah teologi dan penginjilan.
Penderitaan dan Kesaksian : Sebuah Perspektif Misiologis dari 1 Petrus Hidalgo Ban Garcia
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.806 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.95

Abstract

Penderitaan yang disebabkan oleh penganiayaan karena agama bukanlah pengalaman yang asing bagi gereja. Sejak abad-abad pertama bahkan pada sepanjang zaman, banyak orang Kristen telah menderita hanya karena mereka adalah orang Kristen. Penganiayaan terhadap orang Kristen berkaitan dengan kesalahpahaman tentang kekristenan. Banyak orang non- Kristen belum melupakan masa lalu ketika kekristenan bertumbuh dan tersebar luas di bawah kolonialisme dan imperialisme. Hingga kini, para misionaris Kristen dianggap sebagai perusak kebudayaan-kebudayaan pribumi. Dalam artikel ini saya tidak bermaksud menguji anggapan-anggapan ini, dan menurut saya juga tidak ada gunanya untuk menyangkalnya. Penganiayaan terhadap orang Kristen saat ini jauh lebih komplikatif dari yang disadari kebanyakan orang. Pemikiran bahwa karena orang Kristen berbagian dalam gerakan-gerakan nasional dan pertumbuhan kekristenan di kalangan penduduk pribumi dunia ketiga yang fenomenal belakangan ini akan serta-merta menyingkirkan ancaman terhadap kekristenan, menurut saya, adalah pemikiran yang naif. Sementara gereja seharusnya berjuang keras untuk menghindari kesalahan pada masa lampau dan ikut serta secara positif dan konstruktif dalam membangun bangsa, harus disadari bahwa penderitaan adalah bagian dari eksistensi gereja, dan penderitaan bukanlah pengalaman yang asing dalam kehidupan gereja (1Ptr. 4:12). … Dalam artikel ini saya mencoba memberikan beberapa refleksi tentang pengalaman penderitaan gereja yang diakibatkan oleh penganiayaan. Saya memilih 1 Petrus karena saya yakin situasi penerima surat ini pada saat itu serupa dengan situasi gereja sekarang. Dalam 1 Petrus firman Allah berbicara tentang perjuangan gereja dalam menjalani kehidupan dan kesaksiannya dalam lingkungan yang bermusuhan. Saya percaya pesan 1 Petrus tidak saja dapat menguatkan gereja saat ini dalam menahan penganiayaan, tetapi juga dapat memperdalam pemahaman gereja tentang dirinya sendiri, hidup dan panggilannya.
Track Record Sekolah Teologi : Anugerah Karya Allah Mulai dari Keterbatasan Mendidik Calon Rohaniwan sampai Penerimaan Lulusannya oleh Gereja dan Lembaga Kristen  Jahja Elia Pilimon
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.164 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.96

Abstract

Trinity Evangelical Divinity School (TEDS) yang berdiri sejak tahun 1897 adalah lembaga pendidikan teologi berakreditasi yang bertaraf internasional. Track record untuk lulusan TEDS yang “terpakai” oleh lembaga-lembaga Kristen adalah: 85% dari lulusannya, dalam waktu setengah tahun, telah menduduki posisi pelayanan di gereja dan berbagai lembaga Kristen.1 TEDS yang mempunyai reputasi internasional ini, diinformasikan oleh Rick Kalal,2 mendapat kritikan dari para pendeta “gereja-gereja besar pemakai lulusan TEDS.” Kritikannya adalah: Para lulusan TEDS hanya bisa mengeksegesis Alkitab tetapi kurang mampu mengeksegesis budaya; tahu membaca bahasa Yunani dan Ibrani, tetapi kurang matang dalam spiritual, keterampilan keorganisasian dan penggembalaan untuk dapat menjadi pemimpin rohani yang efektif. Tindakan kritik tersebut dilanjutkan dengan “ancaman”: jika lulusan TEDS berikutnya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, maka mereka akan mendirikan sekolah teologi sendiri, alias tidak akan menerima lagi “pasokan” rohaniwan lulusan TEDS. … Paparan selanjutnya akan menunjukkan catatan pelayanan para rohaniwan di lembaga-lembaga “pemakai,” khususnya gereja, yang kelemahan-kelemahannya selalu dikembalikan pada lembaga yang mendidiknya, yaitu sekolah teologi. Setelah itu akan ditunjukkan catatan keterbatasan-keterbatasan proses pendidikan mulai dari penyaringan peserta didik baru, proses pendidikan, magang, sampai kegiatan evaluasinya.
Kesaksian Internal Roh Kudus menurut John Calvin Thio Christian Sulistio
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.97

Abstract

Doktrin kesaksian internal Roh Kudus merupakan doktrin yang sangat penting bagi kekristenan terutama kalangan Reformed, terutama dalam membentuk epistemologi Kristen. Mengapa kita menerima kekristenan sebagai pengajaran yang benar dari Allah? Mengapa kita menerima Alkitab sebagai firman Allah? Jawabannya ada pada kesaksian internal Roh Kudus. Di dalam artikel ini kita akan membahas doktrin kesaksian internal Roh Kudus menurut salah seorang tokoh Reformator, yaitu John Calvin. Dibandingkan Luther, Calvin mengajarkan doktrin ini lebih jelas. Setiap kali orang berbicara mengenai otoritas Alkitab maka ia juga akan berbicara tentang kesaksian internal Roh Kudus menurut Calvin. Doktrin ini juga penting bagi kita untuk memahami seluruh doktrin pengetahuan akan Allah dan seluruh sistem teologi Calvin. Bagi Calvin sendiri doktrin ini merupakan dasar dari seluruh pengetahuan akan Allah. B. B. Warfield mengatakan demikian, “His doctrine of the testimony of the Holy Spirit is the keystone of his doctrine of the knowledge of God.” Meski demikian doktrin ini bukan tanpa kritikan. David Friedrich Strauss, misalnya, pernah mengatakan bahwa doktrin ini merupakan titik lemah dari teologi Protestan. Karena tidak ada dasar rasional bagi seseorang untuk percaya kepada Alkitab sebagai firman Allah ketika seseorang hanya menunjuk kembali kepada Allah.2 Argumen demikian diangap argumen sirkular dan lemah. Bagaimana sebenarnya doktrin ini menurut Calvin? Apa kaitan antara doktrin ini dan otoritas Alkitab? Apakah doktrin ini mengabaikan “pembuktian rasional”? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Untuk itu yang pertama-tama akan dibahas adalah konteks historis doktrin ini dan konteksnya di dalam Institutio. Setelah itu akan dibahas kaitan doktrin ini dengan otoritas Alkitab kemudian kaitannya dengan “pembuktian rasional” menurut Calvin.
Anugerah Demi Anugerah Tuhan sebagai Respons atas Kegagalan Demi Kegagalan Manusia : Suatu Upaya untuk Mengerti Berita Kitab Hakim-Hakim Berdasarkan 2:6 - 3:6 Martus Adinugraha Maleachi
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 2 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.032 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v3i2.98

Abstract

Puji syukur kepada Tuhan yang telah memimpin Seminari Alkitab Asia Tenggara selama 50 tahun ini. Dalam rangka peringatan Jubileum ini kita akan mempelajari satu bagian yang mengungkapkan anugerah Tuhan dalam Perjanjian Lama, yaitu kitab Hakim-hakim. Lebih khusus lagi kita akan meneliti Hakim-hakim 2:6-3:6 yang merupakan bagian penting untuk mengerti berita kitab ini. Mark O’Brien menulis, “The abiding issue in the book of Judges seems to be the relationship between the individuality of the stories and the formulaic quality of 2:1-3:6 and the framework passages. Whether one approaches the text from a diachronic or a synchronic perspective, these differences have to be acknowledges and an explanation offered.” Melalui artikel ini saya ingin mengusulkan bahwa berita kitab Hakim-hakim adalah: Anugerah demi anugerah TUHAN sebagai respon atas kegagalan demi kegagalan manusia. Kata “anugerah” dan “kegagalan” memang sengaja diulang. Hal ini menekankan kegagalan yang terus berulang dari bangsa Israel untuk tetap setia kepada TUHAN di tanah perjanjian. Sebaliknya, TUHANpun terus menerus meresponi kegagalan ini dengan anugerahnya. Artikel ini dibagi dalam dua bagian besar. Pertama, kita akan melihat bagaimana kitab Hakim-hakim menggambarkan kegagalan umat Israel. Kedua, barulah kita meneliti Hakim-hakim 2:6-3:6.

Page 1 of 2 | Total Record : 11