cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2003)" : 9 Documents clear
Kemurahan Allah kepada Kita (Matius 20:1-16)  Bastian Maximilian Ticoalu
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.442 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.99

Abstract

Naskah Khotbah
Anugerah dan Disiplin Gerejawi  Caleb Soo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.61 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.100

Abstract

-
Dasar-Dasar Alkitabiah Pengembangan Kepemimpinan Bob Jokiman
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.871 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.102

Abstract

Alkitab merupakan buku yang mengagumkan. Bukan hanya karena buku ini meliputi rencana keselamatan, tetapi juga menjadi buku pegangan bagi kepemimpinan, terutama kepemimpinan Kristen. Saya berani mengatakan, sekalipun kita telah mempelajari berbagai teori kepemimpinan sekuler, kita tidak akan menjadi pemimpin yang efektif sebelum mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan dari Alkitab,. Alkitab bukan hanya merupakan kisah tentang karya Allah yang luar biasa, melainkan juga kisah para pemimpin pilihan Allah. Dalam Perjanjian Lama kita mengenal lusinan pemimpin besar seperti Abraham, Yusuf, Musa, Yosua, Gideon, Samuel, Elia, Elisa, Daud, Salomo, Daniel, Nehemia dan lain-lain. Jika kita menyelidiki Perjanjian Lama dengan sungguh-sungguh kita akan menemukan pada hampir setiap halamannya menampilkan biografi, karakter, kepribadian, pelayanan, karya dan tulisan para pemimpin tersebut. Kitab-kitab injil tidak kurang menariknya dibandingkan dengan PL sebab kitab-kitab ini menggambarkan kehidupan Sang Pemimpin Agung, yaitu Yesus Kristus. Siapa pun yang ingin berhasil dalam kepemimpinan-hamba, yang sangat dibutuhkan gereja, ia mutlak harus belajar dengan rendah hati dari Tuhan sendiri. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita melihat karya-karya para pemimpin gereja mula-mula seperti Petrus dan Paulus yang mengikuti setiap langkah Tuhan kita dalam kepemimpinan. Kemudian dalam kitab-kitab PB selanjutnya, terutama surat-surat, tidak dapat disangkal tulisan para rasul memperlihatkan karakter, kemampuan dan keterampilan mereka sebagai pemimpin gereja dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi pada jemaat mula-mula. Artikel ini akan membahas secara singkat pola pengembangan kepemimpinan dalam Alkitab.
Penggalian Tulang-Belulang : Sebuah Kritik Injili terhadap Pembangunan Tugu di Tapanuli Utara Marojahan S. Sijabat
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.198 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.103

Abstract

Salah satu isu teologi misi abad kedua puluh adalah masalah perbenturan injil dan kebudayaan. Ada berbagai pandangan mengenai hubungan antara injil dan kebudayaan di sepanjang sejarah gereja yang masih menjadi perdebatan sampai abad dua puluh bahkan sampai abad dua puluh satu. Injil kerap kali tidak berdampak pada kehidupan padahal injil bersifat selalu membaharui dan mengubahkan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menulis artikel ini, khususnya berkaitan dengan kehidupan orang Batak Toba karena suku ini kerap meninggikan adat mereka. Secara lebih sempit artikel ini akan menyoroti dampak pelayanan gereja yang terjadi di antara orang Batak Toba yang 99% beragama Kristen, yakni pada peristiwa penggalian tulang-belulang leluhur. Penggalian tulang-belulang yang dalam bahasa Batak disebut mangongkal holi, mengandung kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek agamawi yang berhubungan dengan roh-roh nenek moyang yang telah mati. Upacara ini mengandung suatu keyakinan bahwa orang yang telah mati sebenarnya masih hidup dalam bentuk lain dan mempunyai hubungan sosial dengan orang-orang yang masih hidup, serta memiliki sifat ilahi yaitu selalu memperhatikan, memelihara keturunannya dan menerima permohonan dan pelayanan dari keturunannya. Sebagian besar orang Batak Toba Kristen menganggap mereka yang telah mati bisa menolong atau mencelakakan orang-orang yang masih hidup. Dengan melakukan penggalian tulang-belulang mereka menjaga hubungan dengan keluarga yang sudah meninggal. Memang, menurut ilmu agama fenomena hubungan leluhur dengan orang yang masih hidup dianggap sebagai suatu cabang yang besar dari agama manusia, dan merupakan sebuah kenyataan agamawi yang sangat penting. Hal ini tidak hanya ditemukan pada masyarakat Batak yang dianggap terbelakang atau bangsa primitif pada umumnya, tetapi juga ditemukan pada berbagai lapisan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Yang terjadi di antara orang Batak Toba adalah melakukan berbagai hal penyembahan nenek moyang atau iman sinkretis melalui pembangunan tugu bagi tulang-belulang nenek moyang mereka. Secara materi hal ini telah membuat orang Batak Toba menjadi miskin karena pembangunan tugu ini menghabiskan biaya besar. Namun lepas dari masalah miskin atau kaya, pertanyaannya sekarang adalah: apakah penggalian tulang-belulang dan segala yang tersangkut di dalamnya dapat dibenarkan dari sudut pandangan Alkitab? Bagaimanakah seharusnya gereja sebagai agen pembaharu Allah menyikapi keadaan ini? Hal praktis apakah yang dapat dilakukan oleh gereja untuk memulai pembaharuan sehingga iman Kristen menjadi fondasi bagi kehidupan orang Kristen Batak Toba? Hal inilah yang akan disorot dalam artikel ini, secara khusus ditinjau dari sudut pandang teologi injili.
Martin Luther dan Penginjilan terhadap Orang Yahudi Veronika Johanna Elbers
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.975 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.104

Abstract

Jasa Martin Luther baik sebagai seorang teolog maupun sebagai reformator tidak bisa kita pungkiri. Semua orang Kristen yang mempelajari sejarah gereja pasti akan bertemu dengan tokoh Jerman ini yang dilahirkan pada 1483 dan meninggal pada 1546 di Jerman. Sikap Luther terhadap penginjilan dan misi dalam sejarah teologi menjadi perdebatan yang seru. Para sarjana pada abad-abad yang lalu tidak melihat bahwa Luther memiliki sikap positif terhadap penginjilan, namun sejak Karl Holl menulis makalah berjudul Luther und die Mission (Luther dan Misi) pada 1924, tanggapan para teolog dan misiolog tentang Luther dan misi sedunia mulai lebih positif. Sikap Luther terhadap penginjilan kepada orang Yahudi lebih hangat lagi didiskusikan dalam ilmu teologi oleh karena ia mengalami satu perkembangan dalam pemikiran tentang penginjilan terhadap orang Yahudi. Perkembangan itulah yang akan saya selidiki melalui artikel ini. Seumur hidupnya Luther menganggap orang Yahudi sebagai sebuah ladang misi yang hadir di tengah-tengah orang Kristen. Kita tidak boleh lupa bahwa ia dilahirkan dan dibesarkan pada abad pertengahan di Jerman yang hanya mengenal satu agama yaitu agama Kristen Katolik. Seluruh lingkungannya dipengaruhi hanya oleh satu agama yang diikuti dan dihayati oleh rakyat di bawah pimpinan gereja dan raja. Orang Eropa pada zaman itu bertemu dengan penganut agama lain hanya ketika mereka berperang dengan orang Turki yang beragama Islam dan yang mengancam negara-negara Kristen Katolik di Eropa. Itu sebabnya sering kali agama Islam dipandang sebagai agama musuh negara dan agama Kristen di Eropa, serta tidak disukai dan dipahami oleh orang Eropa. Selain orang Turki yang jarang dijumpai rakyat Eropa kecuali waktu perang, mereka bertemu dengan orang Yahudi yang tinggal di tengah-tengah mereka. Biasanya orang Yahudi berkiprah di bidang ekonomi dan perbankan dan banyak di antara mereka yang kaya. Sebelum Luther, orang Yahudi dipandang sebagai “pembunuh” Kristus dan musuh Allah. Gereja Katolik pun sudah merasa berkewajiban untuk mencapai orang Yahudi dengan Injil, apalagi orang “kafir” ini tinggal di tengah-tengah umat Kristiani. Seumur hidup Luther tidak pernah berhenti mendoakan keselamatan abadi orang Yahudi. Walaupun pada akhir hidupnya ia merasa sangat kecewa terhadap orang Yahudi, reformator Jerman ini tidak pernah lupa mendoakan bangsa pilihan Allah tersebut. Tulisannya yang paling tajam melawan orang Yahudi adalah Wider die Juden und ihre Lugen (Melawan Orang Yahudi dan Kebohongan Mereka) dan Von Schem Hamphoras und vom Geschlecht Christi (Tentang Schem Hamphoras dan Tentang Keturunan Kristus), yang diakhiri dengan doa syafaat bagi bangsa Allah.
Prinsip Dasar Etika Kristen tentang Perang : Sebuah Tinjauan terhadap Pacifism dan Just War Theory Kalvin S. Budiman
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.06 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.105

Abstract

Adakah perang yang dapat dibenarkan (justified)? Pertanyaan ini bukan sedang diarahkan kepada perang tertentu, entah yang pernah atau sedang terjadi, tetapi lebih sebagai pertanyaan yang bersifat prinsip. Artinya, berdasarkan prinsip etika Kristen, adakah dasar-dasar pertimbangan untuk membenarkan perang atau penggunaan kekerasan demi mencapai suatu sasaran kemanusiaan yang lebih mulia? Sebagai orang Kristen yang lekat dengan prinsip kasih, sudah pasti kita bukanlah orang-orang yang terpanggil untuk mengobarkan semangat perang. Namun demikian, di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa di mana kekerasan merupakan isu moral yang tidak pernah dapat dihindari, sering kali kita harus mengakui bahwa perang atau penggunaan kekerasan demi alasan kemanusiaan dengan segala etika yang terkandung di dalamnya, adalah pilihan yang harus kita pertimbangkan. ... Artikel ini merupakan sebuah usaha untuk memberikan landasan biblika dan teologis dalam mengambil posisi etika antara kedua paham tersebut. Untuk itu pada bagian berikut akan dibahas terlebih dahulu pandangan masing-masing posisi. Selanjutnya, dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan teologis, kita akan mencoba untuk pada bagian terakhir mengambil kesimpulan tentang posisi etika yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di hadapan Tuhan. Penulis menyadari bahwa semua kategori pembahasan dalam tulisan ini adalah topik-topik diskusi yang sangat luas, karena itu melalui artikel yang tidak terlalu panjang ini, rasanya berlebihan jika seseorang mengharapkan pembahasan secara detail dan menyeluruh. Penulis hanya berharap artikel ini dapat memberikan sedikit sumbangsih bagi pergumulan etika, khususnya isu tentang perang.
Paulus, Hukum Taurat dan Perspektif yang Baru : Sebuah Penelitian dan Respons Caprili Guanga
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.441 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.106

Abstract

Pandangan Paulus tentang hukum Taurat tidak diragukan lagi merupakan salah satu tantangan hermeneutikal yang paling kompleks yang ditemukan dalam semua tulisannya. Tidak sedikit monograf dan artikel mengenai teologi Paulus tentang hukum Taurat secara mengherankan terus muncul di sepanjang zaman. Barangkali, sepantasnyalah demikian mengingat kompleksitas dan sulitnya isu-isu yang terlibat di dalamnya. Salah satu contohnya, apakah Paulus berargumentasi tentang penghapusan hukum Musa ataukah validitas hukum tersebut tetap berkesinambungan namun berada di bawah pelaksanaan ikatan perjanjian yang baru? Dalam pengertian apa dan sampai sejauh mana hukum Taurat tetap berlaku, dan sebaliknya, dalam pengertian apa serta sejauh mana hukum itu tidak lagi valid? Jika hukum itu tidak lagi berlaku, apakah kegunaannya bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengingat bahwa hukum tersebut adalah bagian dari firman yang diinspirasikan? Ini hanya beberapa contoh pertanyaan yang dihadapi oleh mereka yang mempelajari teologi biblika dan sistematika. Studi kontemporer belakangan ini juga makin mempertanyakan validitas pandangan injili tentang pembenaran hanya oleh iman melalui Kristus sehubungan dengan “perspektif baru” terhadap Paulus. Apakah perspektif baru ini? Pusat dari pendekatan ini adalah pengakuan bahwa Yudaisme periode Bait Allah kedua bukanlah agama pembenaran-diri yang melaluinya seseorang memperoleh keselamatan dari Allah berdasarkan perbuatan atau jasanya. Perdebatan Paulus dengan penganut Yudaisme bukanlah tentang anugerah Kristen melawan legalisme Yahudi tetapi lebih ke status orang-orang kafir di dalam gereja. Doktrin pembenaran Paulus, karena itu, jauh lebih berkaitan dengan isu-isu Yahudi-kafir daripada dengan pertanyaan-pertanyaan tentang status seseorang di hadapan Allah. Memang “perspektif baru” ini diakui sebagai terobosan revolusioner dalam studi PB, yang tidak terhindarkan lagi telah menghasilkan analisa-analisa baru dan interpretasi-interpretasi yang berbeda secara radikal tentang teologi hukum Taurat Paulus yang, jika diterima, akan memaksa kaum injili untuk merevisi, jika tidak mengabaikan, pengertian tradisional mereka tentang Yudaisme Palestina dan doktrin pembenaran. Artikel ini akan berusaha menguji perspektif baru Paulus berkaitan dengan isu-isu yang dimunculkan di atas dan menawarkan respons injili terhadap pendekatan baru ini. Penelitian akan dilakukan dengan cara berikut: Pertama akan disajikan suatu ulasan pandangan tradisional tentang teologi hukum Taurat Paulus yang diketengahkan oleh para Reformator seperti Martin Luther dan John Calvin. Ini akan berfungsi sebagai latar belakang diskusi tentang perspektif baru. Kedua, perspektif baru terhadap Paulus akan diuji. Bagian ini juga akan memperkenalkan penganjur-penganjur utama serta prinsip-prinsip yang dianut oleh kebanyakan, jika tidak mau dikatakan semua, sarjana perspektif baru. Ketiga, menawarkan respons injili yang akan menyelidiki kemungkinan adanya kesempatan untuk memberikan respons dan memberikan kritik terhadap perspektif baru. Sudah tentu keterbatasan ruang tidak memungkinkan untuk melakukan studi komprehensif atas perspektif baru terhadap studi-studi tentang Paulus ini, khususnya penyelidikan eksegetikal terhadap materi-materi biblikal yang relevan.
Perkembangan Doktrin Alkitab Clark Pinnock dan Pengaruhnya terhadap Jangkauan Keselamatan Henry Efferin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.548 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.107

Abstract

Perhatian utama artikel ini adalah memperlihatkan bagaimana melalui perjalanan karier Pinnock sebagai seorang teolog, pergeseran doktrin Alkitabnya—khususnya pandangan mengenai ineransi, mempengaruhi pandangannya tentang jangkauan keselamatan. Karena itu doktrin Alkitab Pinnock akan dibahas lebih dahulu kemudian diikuti dengan membahas pandangannya tentang jangkauan keselamatan. Setelah itu saya akan memberikan evaluasi dan konstruksi paralel antara longgarnya doktrin Alkitab Pinnock dan luasnya pandangannya tentang “belas kasihan” Allah serta mengamati bagaimana yang pertama mempengaruhi yang belakangan. Dalam bagian kesimpulan saya akan menyajikan secara ringkas cara pendekatan saya sendiri terhadap isu ini.
Tujuan Pengajaran Gereja dan Implikasinya Sylvia Soeherman
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 1 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.625 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i1.101

Abstract

Penelitian menunjukkan adanya penurunan jumlah kehadiran jemaat dalam kelas-kelas pembinaan seperti Sekolah Minggu. Kurang tertariknya jemaat terhadap kelas-kelas tersebut membawa dampak terhadap kehidupan, pertumbuhan iman dan kesaksian jemaat. Hal yang hampir serupa juga dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia. Paulus Lie, dalam prawacana bukunya, mengatakan banyak guru yang mengeluhkan kurang menariknya acara yang digelar di Sekolah Minggu sehingga minat anak untuk datang ke Sekolah Minggu menurun. Masalah ini coba dijawab oleh banyak gereja dengan menggunakan metode yang kreatif. Oleh karena itu banyak gereja berupaya untuk men-training guru-guru Sekolah Minggu agar dapat mengajar dengan lebih kreatif. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah metode yang kurang kreatif menjadi dasar permasalahannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini mencoba untuk memaparkan apa yang terjadi di dalam kelas, menganalisa apa yang menjadi dasar permasalahannya, serta mengajukan hal-hal yang perlu diperhatikan gereja di dalam mengemban tugas pengajaran.

Page 1 of 1 | Total Record : 9