cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2003)" : 9 Documents clear
Perspektif Alkitab untuk Kehidupan Remaja Kristen  Cornelius Kuswanto
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.164 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.109

Abstract

Agustinus, salah seorang bapak gereja, dilahirkan di Tagaste (sekarang di wilayah Algeria) pada tahun 354. Ibunya yang bernama Monika adalah seorang Kristen yang saleh sedangkan Patrik, ayahnya, adalah seorang kafir yang mempunyai sifat pemarah dan pemabuk. Agustinus dipengaruhi oleh kehidupan ayahnya dan menjadi seorang remaja yang hidup menuruti hawa nafsunya. Pada masa mudanya, selain pandai menghafal Agustinus juga pandai berdusta, berkelahi, mencuri dan main perempuan. Ia pernah hidup bersama seorang wanita muda selama 13 tahun di luar nikah, dan dari hubungan asusila ini lahirlah seorang anak laki-laki. Namun syukur kepada Tuhan karena melalui pembacaan surat Roma 13:13-14 yang berkata: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya,” Agustinus bertobat. Agustinus yang belum bertobat adalah Agustinus yang hidup mengikuti hawa nafsu sendiri, merugikan orang lain, hanyut dalam kenikmatan dunia dan tidak takut Tuhan. Agustinus yang sudah bertobat adalah Agustinus yang hidup dalam kekudusan, menjadi berkat bagi orang lain, meninggalkan kenikmatan dunia dan takut akan Tuhan serta mengasihi firman-Nya. Jika Tuhan sudah menyatakan kemurahan-Nya terhadap Agustinus melalui firman Tuhan yang dibacanya di kitab Roma 13:13-14, biarlah Tuhan juga menyatakan kemurahan-Nya pada kita melalui topik “Perspektif Alkitab untuk Kehidupan Remaja Kristen.” Apakah perspektif Alkitab untuk kehidupan remaja Kristen?
Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen Ing Sian Lie
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.081 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.110

Abstract

Apakah sebenarnya teologi feminis itu? Mengapa teologi ini mendapat banyak kritik di sana-sini? Apakah teologi ini mendapat dukungan yang cukup dari Alkitab sebagai sumber teologi Kristen yang berotoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini pada halaman-halaman berikut secara singkat kita akan mencoba mendefinisikan feminisme Kristen kemudian mempelajari bagaimana pandangan feminisme terhadap Alkitab serta metode berteologinya. Mengingatnya luasnya lingkup feminis maka pembahasan difokuskan pada teologi feminis Kristen liberal yang diwakili oleh Rosemary Radford Ruether, Letty M. Russell dan Elizabeth Schüssler Fiorenza. Namun sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut pada bagian berikut akan kita telusuri lebih dahulu latar belakang historisnya guna lebih memahami pandangan ini.
Membangun Gereja Secara Integratif-Ilahi-Insani Selaku Umat Allah-Tubuh Kristus-Bait Roh Kudus : Suatu Analisis terhadap Teologi O. E. Costas mengenai Pertumbuhan Holistik Gereja Martin Luther Tingginehe
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.879 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.111

Abstract

Seiring dengan merebaknya isu pertumbuhan gereja, salah satu wujud tanggung jawab kita sebagai saksi Kristus dan pelayan injil adalah mengenali, menilai serta menyikapi berbagai konsep pertumbuhan gereja yang ada. Melalui tulisan ini kita akan mencermati konsep pertumbuhan holistik gereja dari Orlando E. Costas yang tertuang dalam buku-bukunya, The Church and Its Mission: A Shattering Critique from the Third World, The Integrity of Mission dan sebuah artikel berjudul “A Wholistic Concept of Church Growth.” Konsep ini menarik, baik dan layak dicermati karena dinilai kritis, kontekstual dan injili-integral-aplikatif. “Kritis” berarti bahwa ia juga mengkritisi atau menyoroti secara tajam isu kekinian pertumbuhan gereja. Yang dimaksud kontekstualk adalah pemikirannya “mengena” bagi gereja Indonesia. Sedangkan “injili-holistik-aplikatif” menunjuk pada jiwa misi injili (pendekatan misiologis yang alkitabiah menurut penekanan Kristen injili), berupaya melihat isu secara utuh-padu-antero, dan bisa diterapkan hingga tingkat lokal. Riwayat Costas akan mendahului penyajian garis besar teologinya. Pada bagian selanjutnya akan dibahas analisis pemikirannya untuk membantu kita lebih menghayati konsep pandangannya.
Di Manakah Orang-Orang yang Telah Meninggal Dunia Berada ? : Sebuah Studi Mengenai Intermediate State Benny Solihin
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.082 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.112

Abstract

Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan pada waktu kedatangan Kristus kedua kali. Pertanyaan yang segera muncul atas pengajaran Alkitab ini adalah, “Di manakah mereka selama kurun waktu antara kematian mereka dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali?” Dengan perkataan lain, “Di manakah jiwa mereka menunggu selama waktu itu?” Wajar bila kita berpikir bahwa mereka ada di suatu tempat di dalam periode antara kematian dan kebangkitan mereka. Masa atau keadaan itu disebut dengan istilah “intermediate state.” Istilah ini diciptakan oleh para teolog untuk menjelaskan dengan tepat ruang dan waktu yang bersifat sebagai antara dan sementara. Kata sifat “intermediate” mengacu pada suatu kurun waktu tertentu sedangkan kata benda “state” berarti suatu kondisi manusia di bawah keadaan tertentu. Jadi, konsepsi ini secara keseluruhan menyatakan keadaan orang-orang mati dalam masa antara kematian dan kebangkitan mereka, dalam hal ini juga mencakup pertanyaan-pertanyaan yang timbul seperti: Dalam kurun waktu itu, di manakah orang-orang yang sudah meninggal dunia menunggu? Apakah mereka masih hidup? Apakah mereka sadar dan tahu siapa diri mereka? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah menerima hukuman atau pahala, atau masih dalam keadaan netral: tanpa hukuman atau pahala? Lalu bagaimana dengan roh mereka? Jiwa mereka? Pertanyaan-pertanyaan yang penting ini dapat muncul begitu saja dalam diri kita. Tentu jawaban pertanyaan ini dapat memberikan kepada kita suatu pengharapan yang besar atau sebaliknya, kekecewaan yang mendalam. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mempunyai pengertian yang jelas tentang doktrin ini. ... Artikel ini adalah suatu usaha untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya Alkitab katakan tentang pengajaran intermediate state. Tujuannya adalah guna mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang hal tersebut sehingga kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang datang dari mereka yang memerlukan kepastian dan kekuatan di tengah-tengah dukacita mereka. Alur penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: Pertama kita akan melihat beberapa pandangan tentang doktrin intermediate state, tanpa memberi komentar apa pun terhadap pandangan-pandangan itu. Kemudian, kita akan mencoba mengerti beberapa bagian Alkitab yang sering disebut-sebut sebagai dasar pengajaran intermediate state. Terakhir, kita akan melihat kesimpulan dan komentar atas beberapa pandangan tentang intermediate state yang akan menutup tulisan ini.
Communio, Communicatio, Communitas : Teologi Trinitaris sebagai Acuan Berteologi di Era Pascamodern  Nindyo Sasongko
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.965 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.113

Abstract

Bagaimanakah wajah teologi di era pascamodern? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Teologi—yang adalah perbincangan atau pembicaraan mengenai Allah dan relevansinya bagi keberlangsungan kehidupan seisi dunia—selalu mengalami pergeseran, perenungan ulang bahkan perevisian secara radikal. Munculnya Reformasi di abad enam belas merupakan contoh pergeseran signifikan dari teologi yang diterima secara umum. Merekahnya fajar pascamodern tentu menyebabkan pergeseran yang signifikan dalam teologi. ... Pertama-tama penulis akan meninjau tiga masalah utama dalam pascamodernisme dan dampaknya bagi teologi Kristen. Sebuah titik terang disediakan oleh “teori tindak-wicara” (speech-act theory) yang digagas oleh filsuf bahasa dari Oxford, John L. Austin (1911-1960). Teori-teori ini yang akan mendasari gagasan communio, communicatio dan communitas sebagai acuan berteologi di era pascamodern. Pada bagian terakhir penulis mencoba untuk melihat relevansi teologi trinitaris bagi konteks Indonesia dan praksis-praksis gereja pada umumnya.
Doktrin dan Penggunaan Kitab Suci Menurut C. S. Lewis Rahmiati Tanudjaja
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.773 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.114

Abstract

C. S. Lewis dalam salah satu bukunya menulis demikian: Bagi saya kitab Ayub nampak bukan kisah historis. Hal ini disebabkan kitab Ayub dimulai dengan kisah tentang seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan semua sejarah, bahkan semua legenda. Laki-laki itu tinggal di sebuah negara di mana negara itu tidak pernah disebutkan di bagian lain di Alkitab; kelihatannya, penulis dengan sangat jelas menulis sebagai seorang pendongeng bukan sebagai seorang sejarawan. Selanjutnya ia mengatakan, “Oleh karena itu, saya tidak mengalami kesulitan dalam menerima, misalnya, pandangan dari para sarjana yang mengatakan kepada kita bahwa kisah tentang penciptaan di kitab Kejadian berasal dari cerita-cerita bangsa Semit zaman dahulu yang bersifat politeisme dan mistis.” Ada beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran kita sesudah membaca pernyataan-pernyataan di atas, misalnya: Apakah Lewis percaya kepada inspirasi Alkitab, ataukah tidak? Apakah ia berpikir bahwa Alkitab merupakan sebuah mitos dan bukan sebuah fakta historis? Bagaimana dengan kisah Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru, apakah ia juga berpikir bahwa kisah tersebut merupakan sebuah mitos? Lewis sendiri menyatakan bahwa ia dituduh sebagai seorang fundamentalis. Di lain pihak, pemahamannya terhadap Kitab Suci dituduh oleh kaum fundamentalis sebagai pemahaman yang liberal. Jadi, dalam isu kontroversial ini di sisi manakah ia sebenarnya berada? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita harus mengerti terlebih dahulu apa sebenarnya arti semua istilah yang ia gunakan yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya wahyu Allah, inspirasi, mitos, otoritas, ineransi dan infalibilitas Alkitab. Sesudah itu penulis akan membandingkannya dengan pengertian yang dianut kaum liberal dan fundamentalis. Artikel ini tidak hanya menjelaskan pandangan Lewis terhadap Kitab Suci dan bagaimana ia telah menggunakannya, tetapi juga bagaimana pandangannya dapat memberikan pencerahan kepada kita dalam melihat ilmu pengetahuan dan pandangan orang lain dalam perspektif yang berbeda dari yang mungkin telah kita miliki sebelumnya. Ini tidak berarti kita harus setuju dengan semua yang ia katakan, namun tidak ada salahnya kita memikirkan dan mempertimbangkannya sebagai bahan evaluasi untuk apa yang kita percaya selama ini. Siapa tahu pandangan tersebut dapat mempertajam apa yang kita percayai selama ini dan bergeser dari “asal percaya” menjadi “aku tahu apa yang kupercaya dan aku tahu mengapa aku percaya.”
Mengapa Ajaran Teologi Seseorang Dapat Berubah? Daniel Lucas Lukito
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.702 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.115

Abstract

Selesai mengisi tiga kali kebaktian Minggu di sebuah gereja di Surabaya, saya ditemani makan malam oleh dua orang majelis dari gereja tersebut. Di tengah-tengah santap malam tersebut salah seorang majelis bertanya kepada saya, “Pak Daniel, tahu tidak bahwa si anu (ia menyebut nama seorang hamba Tuhan) sekarang ikut ajaran yang aneh-aneh (ia juga menyebut nama ajaran atau lebih tepatnya sebuah aliran yang belakangan ini agak santer)?” Setelah saya menjawab, ya saya tahu, majelis itu bertanya lebih lanjut, “Lho, kok bisa ya? Hamba Tuhan yang studi baik-baik dan setahu saya orang itu punya pengajaran yang cukup baik kok bisa ikut pengajaran yang sumbang seperti itu?” Pertanyaan seperti ini bukan pertama kalinya dialamatkan kepada saya; sudah berkali-kali, di berbagai tempat, oleh segala macam orang, baik yang hamba Tuhan, majelis, mahasiswa teologi bahkan awam. Mereka umumnya menjadi bingung ketika mendengar adanya pendeta atau lulusan teologi yang terbina dengan baik-baik mengalami pergeseran dalam ajarannya. Sekalipun menghebohkan dan membingungkan, sebenarnya perubahan ajaran teologi seseorang bukanlah hal yang baru. Perubahan itu juga bukan disebabkan pendidikan teologi seseorang hanya strata satu atau kurang mendalam. Sebab misalnya orang yang terdidik sampai gelar doktoral seperti Clark H. Pinnock dan yang sudah menulis banyak buku juga mengalami pergeseran dalam pengajarannya. Demikian pula apa yang terjadi pada Donald G. Bloesch, Norman Geisler, Jack Deere dan seterusnya. Walaupun ada juga orang yang berubah dari teologi yang tidak baik (misalnya dari teologi Liberalisme) menjadi teologi yang ortodoks (sebagai contoh apa yang terjadi pada Thomas C. Oden ), namun demikian agaknya orang yang teologinya berubah menjadi ngawur jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang berubah menjadi baik. Karena itu artikel ini mencoba melihat beberapa kemungkinan sebab-sebab seseorang dapat bergeser ajarannya. Saya memakai kata “kemungkinan” dengan pengertian walaupun ada beberapa sebab yang akan ditulis dalam artikel ini tetapi sebab-sebab itu belum tentu persis salah satu saja yang menyebabkan seseorang menjadi berubah. Ada kemungkinan beberapa sebab terjadi sekaligus, atau bisa juga ada sebab yang terselubung yang sulit dianalisis kecuali orang yang mengalaminya menulis buku, artikel, atau paling sedikit dapat dianalisis khotbah atau kesaksiannya. Jadi, istilah “kemungkinan” tidak berarti penulis ragu-ragu mengenai poin yang akan dibahas berikut ini, tetapi lebih kepada adanya kasus variabel yang berbeda-beda pada setiap orang.
Doa Yabes: Diabaikan dan Dieksploitasi  Yonky Karman
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.591 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.117

Abstract

Akhir-akhir ini doa Yabes dipopulerkan lewat Bruce H. Wilkinson dan pelayanannya. Bukunya, Doa Yabes: Menerobos ke Hidup Penuh Berkat, amat laris, demikian juga bermacam-macam aplikasi dari buku tersebut, seperti doa Yabes untuk remaja, pemuda, untuk bahan renungan setiap hari dalam sebulan. Padahal kisah tentang Yabes di seluruh Alkitab hanya tercatat dalam dua ayat. Selain itu, banyak tokoh lain dalam Alkitab yang doanya dikabulkan. Namun belakangan ini tokoh Yabes diekspos besar-besaran meskipun banyak juga orang beranggapan bahwa doa Yabes terlalu dibesar-besarkan. Ron Gleason bahkan tidak merekomendasikan orang lain untuk membaca buku Wilkinson. Daripada kita masuk ke dalam pro-kontra yang membingungkan tentang doa Yabes, baiklah kita mempelajari teks Alkitabnya.
Latar Belakang dan Tujuan Penulisan Kitab Wahyu David Iman Santoso
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 4 No 2 (2003)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.329 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v4i2.118

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan Penulisan Kitab Wahyu

Page 1 of 1 | Total Record : 9