cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2004)" : 10 Documents clear
Yesus Sebagai Pencerita: Perspektif Sastra Dari Perumpamaan  Kistemaker, Simon J.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.65 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v5i2.126

Abstract

Several literary features of Jesus’ parables are noteworthy. In some respects Matthew’s recorded parables differ from Luke’s in presenting colorless sketches. Luke’s parables, on the other hand, are vivid and full of color. Parables in both Gospels, however, are characterized by contrasts. All the parables demonstrate artistry in their unity, coherence, balance, contrast, recurrence, and symmetry. Jesus’ repetition of similar parables on separate occasions illustrates His goal of giving emphasis by way of repetition. By using open-ended parables, Jesus drew His listeners into real-life situations and presented them with the need for a decision on their parts. Allegory in Jesus’ parables brought people into familiar surroundings and highlighted the mercy of God toward sinners. All in all, the parables of Jesus were in a category all their own and were quite distinct from other parabolic teachings in their timelessness and universality.
Perbandingan Metode Berteologi F. D. Schleiermacher Dan Alister McGrath Sulistio, Thio Christian
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.706 KB)

Abstract

Di dalam sosiologi agama kita mengetahui bahwa agama memiliki tiga aspek dasar. Tiga aspek itu adalah mitos, ritus, dan etika. Mitos adalah suatu kumpulan kepercayaan (a set of beliefs) yang merupakan ekspresi kognitif dari suatu sistem agama. Mitos ini berfungsi memenuhi kebutuhan kognitif dari penganut agama tersebut. Ritus merupakan dimensi ekspresif dari suatu sistem agama. Ia merupakan ekspresi dari apa yang dipercayai oleh penganut agama tersebut. Ritus memenuhi kebutuhan emosional penganut agama tersebut. Sedangkan etika merupakan dimensi praktis dari suatu sistem agama. Ia merupakan praktek dari apa yang dipercayai di dalam bentuk tingkah laku sehari-hari. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh penganut agama tersebut. Etika berfungsi memenuhi kebutuhan fungsional manusia. Menjadi pertanyaan bagi kita adalah darimana datangnya doktrin ini? Apa sumber doktrin? Pertanyaan ini berkenaan dengan metode berteologi. Mengenai bagaimana berteologi. Aliran-aliran besar di dalam Protestanisme memiliki metode berteologi yang berbeda-beda. Aliran liberalisme, ekumenikalisme, evangelikalisme, dan fundamentalisme berbeda di dalam metode berteologi mereka. Di dalam makalah ini penulis akan membandingkan metode berteologi dari Friedrich Schleiermacher yang merupakan bapak teologi liberal dan Alister McGrath dari kalangan evangelikal (injili).
Teologi Kristen-Anonim Karl Rahner Dan Implikasinya Terhadap Tugas Misi Gereja Istianto, Elisa
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.396 KB)

Abstract

Karl Rahner (1904-1984) adalah seorang teolog Katolik asal Jerman, yang selama beberapa tahun sebagai profesor di Universitas Innsbruck (1937-1964) Austria. Rahner mengarang buku Foundations of Christian Faith, dan sejumlah essai dalam Theological Investigations. Ia dianggap sebagai teolog Katolik kontemporer yang paling berpengaruh dan ahli teologi (peritus) yang diperhitungkan dalam konsili Vatikan II. Konsepnya tentang Kristen-Anonim telah memberi pengaruh luas dan merupakan konsep inklusivisme Katolik. Keselamatan melampaui batas-batas gereja yang kelihatan dan bukan saja individu-individu non-Kristen dapat diselamatkan, tetapi juga bahwa agama-agama bukan Kristen mempunyai peran menyelamatkan.
Theology From Below: Sebuah Evaluasi Metode Berteologi Stanley Grenz Setiawan, Andrew A.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.218 KB)

Abstract

Di dalam usaha mendalami teologi, maka kita tidak dapat mengabaikan topik prolegomena yang mana di dalamnya kita menemukan sebuah pendekatan berteologi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Millard J. Erickson, bahwa: “Understanding a theology begins with understanding its conception of its task and how it goes about accomplishing that task—in other words, theological prolegomena and methodology.” Singkatnya, prolegomena adalah fondasi yang mempengaruhi kelanjutan bangunan teologi. Kesadaran akan pentingnya untuk memikirkan fondasi berteologi ini makin jelas ketika metode berteologi menjadi sebuah topik yang integral dalam perhelatan diskusi teologi dalam dekade terakhir ini. Hal ini diperlihatkan dengan adanya para teolog yang hendak menawarkan rumusan metode berteologinya. Misalnya saja, Bernard Ramm, Clark Pinnock, James McClendon, dan masih banyak teolog yang lainnya. Namun pada kesempatan ini, penulis hendak memaparkan dan memberikan evaluasi atas rumusan metode berteologi dari seorang teolog injili yang juga masih relevan dengan masa sekarang, yakni Stanley Grenz—seorang profesor teologi di Carey Theological College, Vancouver, British Columbia. Diharapkan melalui artikel sederhana ini, kita mampu melihat sebuah wacana unik dari pemikiran Stanley Grenz—dengan segala kelebihan dan keterbatasannya—sebagai pertimbangan merumuskan metode berteologi kita. Untuk mencapai apa yang sedang diharapkan, maka penulis akan terlebih dahulu memaparkan pokok-pokok pikiran metode berteologi Grenz lalu memberikan beberapa evaluasi yang positif dan negatif dari metode semacam ini.
Restitusi Kontra Reformasi? : Reformasi Zurich Dan Kelahiran Si Anak Tiri Sasongko, Nindyo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.636 KB)

Abstract

“Sayap Kiri Reformasi,” demikianlah Roland H. Bainton, sejarawan Amerika ternama, menamai gerakan yang memisahkan diri dari Reformasi “resmi” di Zürich, Swiss. Ternyata bukan hanya sebutan di atas yang diberikan, gerakan ini juga disebut sebagai “Reformasi Radikal” (istilah George H. Williams, Profesor Sejarah Gereja dari Universitas Harvard). Gerakan tersebut secara umum dikenal sebagai Anabaptisme. Sejak kelahirannya di kota Zürich, gerakan ini dianggap sebagai bidat, sempalan dari gerakan Reformasi yang benar. Karena itu, tidaklah mengherankan bila gerakan ini sangat dibenci baik oleh gereja Katolik Roma maupun para Reformator. Kebencian itu terwujud dalam bentuk penganiayaan selama sekitar 200 tahun. Inti masalah yang dilupakan ialah latar belakang yang membidani lahirnya gerakan ini. Sitz im Leben yang disajikan dalam literatur-literatur sejarah gereja yang dipakai di sekolah-sekolah tinggi teologi di luar negeri maupun di Indonesia sering kali berat sebelah. Sebagaimana diungkapkan oleh almarhum William R. Estep, Jr., Profesor Sejarah Gereja dari Southwestern Baptist Theological Seminary, “Perhaps there is no group within Christian History that has been judged unfairly as the Anabaptists of the sixteenth century.” Bahkan hingga kini, Anabaptisme masih dipandang sebagai sempalan terhadap ortodoksi, ajaran yang alkitabiah. Kurangnya literatur yang membahas awal mula berdirinya gerakan ini mendorong penulis untuk membuka kembali catatan-catatan sejarah. Membuka kembali catatan sejarah bisa jadi menguak kesalahan pihak lain. Tetapi di sini penulis sama sekali tidak bermaksud memojokkan pihak mana pun. Sumber-sumber utama yang penulis pakai berasal dari para pakar sejarah gereja non-Anabaptis yang telah melakukan riset terhadap gerakan ini secara intensif. Mengingat luasnya permasalahan, maka penulis hanya memfokuskan pemaparan pada peristiwa sekitar Reformasi yang dipelopori oleh Zwingli di Swiss tahun 1519 hingga Januari 1525 dan problem yang terjadi sehingga kaum “radikal” ini memilih untuk memisahkan diri dari garis utama Reformasi. Pertama-tama, label yang dikenakan kepada gerakan ini perlu mendapat penjernihan. Kemudian, penulis akan memaparkan peristiwa Reformasi Zwingli yang dilanjutkan dengan kelahiran “si anak tiri.”
Kutukan Yahwe Dan Spiritual Warfare Serta Dampaknya Bagi Pertumbuhan Gereja Reksosoesilo, Budimolejono
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.687 KB)

Abstract

Berbagai pandangan mengenai Pertumbuhan Gereja telah diberikan oleh banyak ahli, tetapi sejauh ini penulis belum menemukan adanya pembahasan yang secara khusus mengaitkan masalah Pertumbuhan Gereja dengan persoalan Spiritual Warfare. Warren maupun MacNair dan Meek, misalnya, menyimpulkan hal yang sama bahwa persoalan utama Pertumbuhan Gereja ada pada faktor “sehat – tidak”-nya Gereja itu, tetapi tidak ada diskusi khusus mengenai peranan Spiritual Warfare di dalamnya. Memang Halim, dalam tulisannya, sudah menyoroti hubungan Gereja dengan Spiritual Warfare, tetapi sekali lagi tidak dalam proporsi disiplin Pertumbuhan Gereja yang lengkap. Meski demikian, bukan berarti bahwa makalah ini akan secara lengkap membahas persoalan Pertumbuhan Gereja terhadap masalah Spiritual Warfare. Makalah ini tidak lain merupakan “pemicu kecil” untuk penelitian ke arah itu.
Kepemimpinan Biblika: Musa dan Ezra Sebagai Pelayan Firman Barus, Armand
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.04 KB)

Abstract

Setiap generasi memiliki pemimpin yang dibangkitkan Allah untuk memimpin umat-Nya. Kelihatannya tidak pernah terjadi dalam sejarah di mana, umat Allah tidak memiliki pemimpin. Setiap generasi umat Allah membutuhkan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan konteks historis. Artinya, pemimpin bersifat unik. Keunikan masing-masing pemimpin menyebabkan perbandingan kepemimpinan harus dilakukan dengan memperhatikan konteks historis masing-masing. Ringkasnya, seorang pemimpin muncul dalam konteks dan kurun waktu sejarah tertentu. Kegagalan dan keberhasilan pemimpin terikat secara unik kepada konteks dan periode kepemimpinan. Keberhasilan seorang pemimpin mungkin dianggap sebagai kegagalan oleh generasi berikutnya. Sehingga perbandingan evaluatif kepemimpinan seseorang sebenarnya sulit dilakukan. Perbandingan evaluatif yang dilakukan tanpa memperhatikan konteks historis akan memberikan penilaian bernuansa penghakiman. Meski demikian tidak berarti kontinuitas sejarah kepemimpinan tidak dapat ditelusuri di dalam gereja. Gereja terus hadir di dalam sejarah di bawah kepemimpinan Kristus kepala gereja dan para pemimpin yang adalah hamba-hamba-Nya. Terjadinya diskontinuitas okasional kepemimpinan gereja terutama disebabkan oleh situasi dinamis konteks di mana gereja berada. Dengan demikian setiap diskusi mengenai kepemimpinan gereja harus memperhatikan baik unsur kontinuitas juga unsur diskontinuitas. Beragam pemimpin diutus Allah untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di mana gereja berada. Para pemimpin melayani-Nya dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang bersumber dari kitab suci. Sebagaimana kebutuhan masyarakat berubah dan berbeda setiap zaman, demikian juga bentuk dan model kepemimpinan. Meski aspek diskontinuitas perlu diperhatikan, namun tulisan ini hanya akan membahas aspek kontinuitasnya. Pembahasan dimulai dengan merumuskan pemimpin sebagai pelayan Allah. Sebagai pelayan Allah pemimpin menyampaikan kehendak Allah kepada komunitas yang dipimpinnya. Hakikat utama kepemimpinan adalah pengungkapan atau penyataan kehendak Allah bagi masyarakat. Ringkasnya, pemimpin adalah pelayan firman Allah (the word of God). Pelayanan dan firman Allah merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dalam kepemimpinan. Keduanya membentuk aspek kontinuitas suatu kepemimpinan. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang memperhatikan dimensi pelayanan dan firman Allah. Esensi fundamental suatu kepemimpinan berjalan dalam jalur kedua dimensi ini. Apakah memang demikian model pemimpin dalam Alkitab? Bagian berikut berusaha menguraikannya secara ringkas.
Naskah Khotbah : Pengakuan dan Pengampunan Beck, James
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.866 KB)

Abstract

Naskah Khotbah : Kekristenan mempunyai suatu cara yang unik untuk menghadapi masalah manusia. Dosa adalah suatu masalah yang harus dihadapi oleh umat manusia. Tuhan sudah memberikan kepada kita dua cara untuk menghadapi masalah dosa, yaitu pengakuan dan pengampunan. Umat Tuhan harus memberikan pengakuan kepada Tuhan dan orang lain dan menerima pengakuan dari orang-orang lain. Umat Tuhan harus memberikan pengampunan kepada orang lain dan menerima pengampunan dari Tuhan dan orang-orang lain. Pengakuan dan pengampunan adalah saling bergandengan. Jadi memisahkannya maka itu hanya kulit saja, adalah artificial. Sesi ini secara khisis akan membicarakan tentang pengakuan. Sesi berikunnya tentang pengampunan.
Analisis Tekstual Markus 1:1 Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.21 KB)

Abstract

Teks Markus 1:1 sudah lama menjadi salah satu pokok diskusi para ahli PB. Teks-teks kuno yang ada menyodorkan bacaan yang berbeda satu sama lain. Persoalan bertambah rumit setelah diketahui bahwa perbedaan-perbedaan teks itu sama-sama didukung oleh dokumen-dokumen yang kuat, dalam hal ini kodeks Sinaitikus. Lalu timbulah pertanyaan penting yaitu, teks mana yang asli? Hal itulah yang ingin dijawab dalam paper ini.
Antara Terjemahan Formal Dan Dinamis: Eksegese Pengkhotbah 11:1-2  Karman, Yongky
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.93 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v5i2.127

Abstract

Kedua versi terjemahan Indonesia memperlihatkan bahwa sesuatu yang belum begitu jelas dalam TB (apa arti melemparkan roti ke air?) dibuat eksplisit dalam BIS (usaha di luar negeri). Kemudian, memberikan bagian kepada tujuh atau delapan orang (TB) diartikan menanam modal di berbagai niaga (BIS). Versi TB dikenal sebagai terjemahan formal yang mengutamakan terjemahan harafiah dan versi BIS merupakan sebuah terjemahan dinamis yang mengutamakan ketepatan maksud ayat secara keseluruhan. Apakah dengan lebih jelasnya sebuah terjemahan juga berarti lebih baik dan tepat?

Page 1 of 1 | Total Record : 10