cover
Contact Name
David Alinurdin
Contact Email
veritas@seabs.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
veritas@seabs.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194     DOI : -
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2005)" : 9 Documents clear
Seratus Tahun Dietrich Bonhoeffer : Berteologi untuk Menemukan Orang Kristen Sejati Lukito, Daniel Lucas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.697 KB)

Abstract

Apa sebenarnya daya tarik yang utama bagi kita (apalagi bagi kalangan yang berteologi injili) untuk belajar mengenai pikiran dan teologi Bonhoeffer? Bukankah ia termasuk salah seorang teolog yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok yang memiliki teologi yang berkarakter radikal, kalau tidak mau dikatakan ekstrem? Memang harus diakui bahwa ia termasuk salah seorang teolog abad 20 yang berpikiran radikal, dan itulah sebabnya nanti di bagian evaluasi penulis mencantumkan beberapa kritik terhadap teologinya. Namun demikian, ia juga memiliki suatu pikiran unik yang saya rasa bermanfaat bagi konteks pergumulan kita yang melayani di Indonesia dewasa ini. Apa saja pikirannya sehingga ia seringkali disejajarkan dengan teolog besar seperti Barth, Bultmann, dan Tillich? Itu yang akan pertama-tama diketengahkan dalam artikel ini, yaitu inti pemikirannya yang saya yakin amat berguna bagi kita khususnya jika kita ingin mendalami panggilan sebagai seorang Kristen di bumi Indonesia sekarang ini. Tentu saja hal ini tidak berarti saya akan membahas semua tema yang pernah dituliskannya, karena hal itu adalah sebuah ketidakmungkinan. Yang jelas dalam lingkup tema di atas, saya akan berusaha seobjektif mungkin dalam menilai teologinya dengan memperlihatkan kekuatan dan sekaligus aplikasi pemikirannya bagi pergumulan masa kini.
Kekristenan dan Kebudayaan (Bagian 2) Frame, John
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.43 KB)

Abstract

Pembahasan pada bagian pertama berkisar tentang kebudayaan secara umum dan sedikit banyak bersifat teoritis. Bagian pertama berisi penjelasan tentang pertanyaan “Apa itu Kebudayaan?” dan pembahasan kedua tentang relasi antara Kristus dan semua kebudayaan secara umum. Sekarang, kita harus fokus pada kebudayaan secara aktual dan kebudayaan sebagaimana telah berlangsung selama ini, yaitu kebudayaan sebagaimana yang kita alami.  
Apologetika Kristen : Tanggung Jawab Semua Anak Tuhan Tanudjaja, Rahmiati
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.5 KB)

Abstract

Apologetika berasal dari kata Yunani apologia yang berarti berbicara untuk mempertahankan atau memberikan jawaban. Di dalam kitab suci kata ini dipakai dalam konteks 1 Petrus 3:15-16: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab (apologia) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu." Jadi, apologetika artinya adalah sebuah studi untuk mempelajari bagaimana melaksanakan pertanggungan jawab, mempertahankan atau memberikan jawaban dari apa yang ia yakini dengan efektif. Lalu apa artinya apabila kata apologetika dikaitkan dengan kata Kristen?
Misi Personal dan Komunal : Perbandingan Yohanes 1:35-51 dan 2:12-25 Barus, Armand
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.768 KB)

Abstract

Perkembangan suatu agama dipengaruhi dan dibentuk oleh konsep keselamatan. Demikian juga perkembangan agama Kristen bertumpu pada konsep keselamatan. Dengan perkataan lain, teologi dan praksis misi berdasarkan pada dan mengalir dari konsep keselamatan. Perkembangan agama Kristen ke seluruh dunia didorong oleh konsep keselamatan yang ingin disebarkan agar orang lain mengikutinya. Di samping itu perlu diperhatikan bahwa misi dalam PB tidak mengenal dikotomi pemberitaan injil dan perbuatan sosial. Misi PB selalu holistis. Namun ada masalah lain. Pemberitaan injil memberi penekanan pada individualitas, sedang perbuatan sosial menekankan komunitas. Dikotomi personal-komunal sebenarnya telah melandasi berbagai rumusan konsep misi Kristen, seperti terungkap, misalnya, dalam istilah-istilah penginjilan, penanaman gereja (church planting) ... Bagaimana di Indonesia? Secara umum dapat dikatakan adanya karakter komunal bangsa Indonesia. Sifat komunal ini tercermin dalam bentuk yang dikenal sebagai “gotong royong.” Pada hakikatnya, konsep gotong royong tidak memberikan ruang terhadap semangat individualistis. Konsep keselamatan individualistis yang dibawa oleh bentara Kristus dari Barat tentu saja masuk ke dalam ruang berbeda dengan asalnya. Tetapi apakah konsep keselamatan harus sesuai dengan konteks agar dapat diterima? Pengalaman gereja di Barat masa kini tidak memperlihatkan demikian. Sejatinya, yang diperlukan gereja di Indonesia bukan konsep keselamatan personal atau komunal, tetapi suatu konsep keselamatan personal dan komunal. Jika demikian, bagaimana dengan konsep keselamatan dalam PB? Apakah keselamatan PB bersifat personal atau komunal? Apakah konsep keselamatan PB bersifat holistis? Dengan kata lain, apakah dikotomi personal-komunal dapat dibenarkan? Tulisan berikut berusaha membuktikan bahwa kontur keselamatan PB selalu berdimensi personal dan komunal. Dengan pendekatan naratif (narrative criticism) diupayakan menyusun suatu gambar komprehensif konsep keselamatan dengan sampel teks Injil Yohanes.
Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.589 KB)

Abstract

Sebuah penelitian terhadap keprihatinan sosial gereja injili, khususnya terhadap masalah kemiskinan di dua kota besar Jakarta dan Bandung, mengungkapkan bahwa sekitar 20-27% dari seluruh responden telah mengalokasi dana untuk urusan sosial dan itu dilakukan 1-4 kali per tahun, dan kemungkinan hal itu dilakukan secara seremonial, maksudnya dilakukan pada saat perayaan-perayaan gerejawi seperti Paskah, Natal atau acara tertentu. Informasi ini mengisyaratkan betapa kurangnya tanggapan komunitas orang percaya terhadap masalah kemiskinan. Tindakan sosial belum menjadi sebuah “gaya hidup.” Di satu sisi, gereja injili memang masih sedang bergumul dengan masalah kekurangpekaan terhadap masalah-masalah sosial, namun, di sisi lain, masalah kemiskinan itu sendiri telah menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Celakanya, kemiskinan ini terjadi karena sebuah proses “alamiah” yang tak terelakkan: globalisasi. ... Tulisan ini akan berusaha menjelaskan apa globalisasi itu dan bagaimana dampak-dampak negatif yang dihasilkannya, khususnya dalam bidang sosioekonomi. Selanjutnya, pembahasan akan ditujukan kepada bagaimana sikap gereja sejauh ini dan apa yang menyebabkan sikap seperti itu terjadi. Akhirnya, tulisan ini akan mengusulkan semacam kerangka konseptual teologis (conceptual theological framework) sederhana, bagaimana gereja injili dapat menjadi agen perubahan (transformasi) sosial di tengah-tengah gelombang globalisasi dengan segala akibatnya yang tak terbendung itu. Sementara banyak orang di Indonesia dan sebagian negara-negara miskin dan berkembang menghadapi dampak sosioekonomis globalisasi, diharapkan melalui tulisan ini, gereja-gereja injili dapat semakin berperan sebagai agen transformasi sosial, yang dapat menyatakan Kristus sebagai Penebus yang membarui dan mentransformasi masyarakat (bdk. paradigma Christ the Transformer of Culture dari Richard Niebuhr).
Karakteristik Pendidikan Kristen Santoso, Magdalena Pranata
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.854 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman dan pergumulan penulis dalam pelayanan di dunia pendidikan Kristen selama ini. Ada ungkapan kepedihan dan keprihatinan, tetapi juga ada harapan dan keyakinan. Penulis percaya bahwa pelayanan pendidikan Kristen merupakan pelayanan yang sangat efektif untuk melayani Tuhan. Karena itu sangat penting untuk memahami apakah sesungguhnya karakteristik pendidikan Kristen? Supaya setiap hamba Tuhan dan pendidik Kristen dapat sungguh meyakini bahwa yang sedang dikerjakannya adalah benar-benar pendidikan yang Kristen dan bukan pendidikan dengan label Kristen. Karakteristik yang akan dibahas ini dapat menjadi sebuah refleksi (perenungan) untuk melakukan evaluasi diri.
Fellow-Workership (Ef. 4:7-16) Maleachi, Martus Adinugraha
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.413 KB)

Abstract

Naskah khotbah
Penyembuhan Luka Batin (Inner Healing) : Apakah Merupakan Bagian dari Pengudusan Orang Percaya? Hardjowono, Tikijo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.56 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v6i2.148

Abstract

Luka batin sering kali dituduhkan sebagai penyebab masalah-masalah yang timbul dalam pribadi orang-orang percaya. Jika ada orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tetapi masih mempunyai kebiasaan yang buruk, perilaku yang dianggap ?aneh??khususnya yang tak dapat dikendalikannya, itu adalah karena trauma masa lalunya. Trauma masa lalu itu meninggalkan luka pada batinnya (inner man) baik disadarinya maupun tidak, dan jika tidak disembuhkan, itu akan terus menghalangi dan membelenggunya untuk bisa bertumbuh dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, Tuhan dan sesamanya. Sebaliknya, penyembuhan akan membuat orang itu terlepas dari ikatan trauma masa lalu dan membebaskannya untuk bertumbuh dan melayani Tuhan. Penyembuhan inilah yang sekarang dikenal sebagai inner healing atau penyembuhan luka batin yang sangat banyak dipraktekkan di kalangan gereja-gereja Kharismatik, tetapi masih sangat dicurigai, bahkan ditolak di kalangan gereja-gereja Protestan konservatif. ... Tulisan ini secara terbatas berusaha untuk mengkaji dan menanggapi dengan seimbang ajaran dan praktek inner healing dalam kaitan dengan proses pengudusan orang percaya. Apakah ia termasuk dalam proses pengudusan? Ataukah ia sebenarnya sama sekali bukan, bahkan bertentangan dengan karya pengudusan Roh Kudus. Sebab itu, pertama-tama penulis akan membahas pengudusan (sanctification) orang percaya; apakah maknanya, tujuannya dan bagaimana prosesnya. Berikutnya secara singkat akan ditinjau konsep inner healing dan prakteknya, juga beberapa pandangan yang berkembang tentang penyembuhan luka batin ini. Kemudian penulis akan melakukan analisa dengan memerhatikan ajaran firman Tuhan. Penutup akan merupakan kesimpulan dan pandangan penulis terhadap ajaran dan praktek inner healing dalam kehidupan dan pelayanan gereja Tuhan saat ini.
Pluralitas Agama : Tantangan "Baru" bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia Pramudya, Wahyu
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.177 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v6i2.152

Abstract

Pluralitas agama sebenarnya bukan fenomena baru bagi bangsa Indonesia. Selama masa orde baru saja, secara de jure diakui oleh pemerintah eksistensi lima agama dan puluhan bahkan mungkin ratusan aliran kepercayaan. Setiap penduduk Indonesia menghadapi kenyataan pluralitas agama ini di dalam kehidupan keseharian. Bertetangga, bekerja, dan bersekolah dengan orang yang berlainan agama adalah suatu kenyataan yang dengan mudah ditemui di dalam kehidupan sehari-hari. Pluralitas agama telah menjadi bagian dari apa artinya menjadi penduduk Indonesia. Menyangkal adanya realita ini adalah sebuah kenaifan. Pluralitas agama menyimpan potensi sekaligus bahaya tersendiri. Kemajemukan agama itu bisa menjadi potensi yang kuat, apabila kemajemukan tersebut dihargai dan diterima dengan bijaksana oleh segenap unsur masyarakat yang ada. Apabila hal ini terjadi, maka akan terbentuk sebuah mozaik kehidupan yang indah dan enak untuk dinikmati. Di sisi lain, kemajukan itu sendiri menyimpan potensi untuk menimbulkan masalah yang besar. Perbedaan-perbedaan ajaran agama, apabila tidak ditanggapi dengan bijaksana, maka dapat memicu sebuah pertikaian yang mendalam dan meluas. Tampaknya itu yang sedang terjadi pada saat ini. Tulisan ini akan mencoba menganalisis praktik pendidikan agama saat ini dan mencoba mencari satu bentuk pendidikan agama yang cocok di tengah pluralitas agama yang ada. Ini bukan tantangan baru, tetapi ?baru,? karena toh sebenarnya tantangan ini sudah cukup lama ada, tetapi tampaknya belum ada tanggapan yang cukup memadai. Selain itu tantangan ini disebut ?baru? karena dinamika relasi antar agama yang terus berkembang hingga saat ini.

Page 1 of 1 | Total Record : 9