cover
Contact Name
Rinto Hasiholan Hutapea
Contact Email
rintohutapea81@gmail.com
Phone
+6281310083870
Journal Mail Official
jurnaljireh19@gmail.com
Editorial Address
Jl. Untung Surapati, Gang Kincir, RT/RW: 011/005, Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
ISSN : 26851393     EISSN : 26851466     DOI : 10.37364
Jurnal JIREH: Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity merupakan jurnal yang mempublikasikan artikel yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian analisis kritis dan aplikasi teori di bidang keberagamaan, kewujudan, dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2020): Desember" : 7 Documents clear
INTUISI: Pendalaman Gagasan Hans-George Gadamer tentang Intuisi sebagai Supralogika Rannu Sanderan
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.39

Abstract

This article explains about digging deeper of Hans-Georg Gadamer's ideas, in term of intuition as a supralogic. This study aim is to find out how the role of intuition develops a view of the goodness and the general truth. In this case, intuition allows someone to act wisely, also could live harmoniously in their community base. Research design: This research aims to describe Gadamer's view of intuition from the point of view of hermeneutic philosophy. The concept of humans is discussed more clearly by Gadamer in his own four ideas, that is: (1) bildung or culture, (2) sensus communis or conscience or heart, (3) consideration, and (4) taste. In this study, can be drawn that the idea of a communist census enables one to act almost intuitively. Implication and the result: Intuition or heart, heart or conscience has a social aspect, that is the sense of community, and by which we can gain knowledge and carry out interpretations. The Intuition approach as a supralogic is an openness to others, whatever its form, be it text, musical sounds or works of art, whose truth cannot be achieved by scientific methods. It is hoped that this study will bring benefit for cultural practitioners and education observers. Pendalaman gagasan Hans-Georg Gadamer tentang intuisi sebagai supralogika. Tujuan penelitian ini adalah hendak mengetahui bagaimanakah peran intuisi memperkembangkan suatu pandangan kebaikan yang benar dan umum? Dalam hal ini, intuisi memungkinkan seseorang bertindak bijak, hidup serasi di dalam komunitas. Penelitian ini hendak menguraikan pandangan Gadamer tentang intuisi dari sudut pandang filsafat hermeneutik. Konsep tentang manusia dibahas lebih luas oleh Gadamer dalam empat konsep, yakni bildung atau kebudayaan, sensus communis atau suara hati atau kalbu, pertimbangan dan taste atau selera. Dalam kajian ini, gagasansensus communis-lah yang memungkinkan seseorang bertindak hampir-hampir secara intuitif. Hasilnya, intuisi atau hati, kalbu atau suara hati mempunyai aspek sosial yaitu rasa komunitas, dan olehnya kita dapat mengetahui dan menginterpretasi. Pendekatan Intuisi sebagai supralogi adalah keterbukaan terhadap yang lain, apapun bentuknya, baik teks, bunyi musik atau karya seni, yang kebenarannya tak dapat dicapai dengan metode ilmiah. Kajian ini diharap memberi manfaat bagi pelaku budaya dan pemerhati pendidikan.
Strategi dan Model Pembinaan Rohani untuk Pendewasaan Iman Jemaat Purim Marbun
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.42

Abstract

This research is base on the problem of the pastor’s inability the church to implement an effective community development program. Moreover, if this judged based on implementation of the chuch’s vision and mision, many churches are not accurate incarrying out spiritual formation properly. Another problem is the lack of time the congregation participates in a coaching program implemented in the church will affect the congregation’s lack of knowledge and understanding of God’s word, this will affect the spiritual quality of the congregation. The research method used in this paper is a descriptive qualitative study of literature by examining various literatures relating to subject matter discussed. Through in-depth study and analysis, it is hoped that the pastors will provide concrete steps in planning and conducting effective coaching of church members. The result of this reseach to provide strategic steps and models of spiritual formation that are accurate and measurable and are able to increase the understanding of God’s word and make the spiritually mature as measured by changes in behaviour. Penelitian ini dilatarbelakangi masalah ketidakmampuan pendeta atau gembala dalam menyelenggarakan program pembinaan warga jemaat secara efektif. Apalagi jika hal ini dinilai berdasarkan implementasi visi dan misi gereja, banyak gereja tidak akurat melaksanakan pembinaan iman dengan baik. Masalah lain minimnya waktu jemaat mengikuti program pembinaan yang dilaksanakan di gereja akan berpengaruh pada rendahnya pengetahuan dan pemahaman jemaat akan firman Tuhan, hal ini akan mempengaruhi kualitas kerohanian jemaat. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini studi kualitatif deskriptif kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur yang berkaitan dengan pokok masalah yang dibahas. Melalui kajian dan analisis yang mendalam diharapkan memberikan langkah-langkah konkrit bagi pendeta dalam merencanakan dan melakukan pembinaan warga gereja dengan efektif. Hasil penelitian ini memberikan langkah-langkah stategis dan model pembinaan rohani yang akurat dan terukur serta mampu meningkatkan pemahaman firman Tuhan serta menjadikan jemaat dewasa rohani yang diukur dari perubahan perilaku.
Makna Sosio-Teologis Melayani Menurut Roma 12:7 Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.43

Abstract

Christianity is inseparable from ministry either in a holistic mission or a church ministry. As one of the gifts given by God in believers who must be actualized to God and others through a special gift, namely the gift of serving. Using descriptive qualitative method, the writer analyzes and examines the meaning of the gift of service which is expected to increase understanding and can have an impact on God's servants. which the purpose of writing is to bring believers more active in serving through the gift of serving. By understanding Christian service in Romans 12: 7, it can be concluded that the gift of serving is a must for believers given to him by God. For that the servant is expected to be able and careful in understanding the theological review in Romans 12: 7, so that the servant realizes that the service entrusted is an honor given by God and is done with sincerity as the dedication of a believer who receives gifts based on the example of Jesus. Then interpret service in socio-theology, which makes the meaning of serving which must be actualized to God and others as part of being a blessing for the world. Kekristenan tidak lepas dari pelayanan baik secara misi holistik maupun pelayanan gereja. Sebagai salah satu dalam karunia yang diberikan oleh Tuhan dalam kepada orang percaya yang harus diaktualisasikan kepada Tuhan dan sesama lewat karunia khusus yaitu karunia melayani. Menggunakan metode kulaitatif deskriptif, penulis menganalisis dan mengkaji makna karunia melayani yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan dapat membawa dampak bagi para pelayan Tuhan. yang mana tujuan dalam penulisan ini untuk membawa orang percaya semakin giat dalam melayani lewat karunia melayani. Dengan memahami melayani menurut Kristen dalamRoma 12: 7, dapat disimpulkan bahwa Karunia melayani adalah sebuah keharusan bagi orang percaya yang kepadanya diberikan oleh Tuhan. Untuk itu pelayan diharapakan mampu dan cermat dalam memahami tinjauan teologis dalam Roma 12: 7, sehingga pelayan menyadari bahwa pelayanan yang dipercayakan adalah kehormatan yang diberikan Tuhan dan dikerjakan dengan kesungguhan sebagai dedikasi orang percaya yang menerima karunia yang didasari dari keteladanan Yesus. Lalu memaknai pelayanan dalam sosio-teologi, yang menjadikan makna melayani yang harus diaktualisasikan.
Penerapan Pondasi Keluarga Bagi Generasi Penerus Joko Santoso
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.45

Abstract

Today's family members face increasingly difficult situations. Changes in the times have shifted and shot far, which has an impact on the pattern of family life. So that the family must rebuild and rebuild a foundation that can answer the needs of the times and be in line with God's teachings. The family in managing and laying the foundation for future generations must have a solid foundation; Includes the foundation of family understanding, the foundation of family relationship patterns, the foundation of family goals, and the foundation for achieving goals. To find the results of this study using a qualitative approach that is based on the initial step by collecting the required data, then clarification and description are carried out. Meanwhile, the results are obtained through creating concepts that reveal one's personality and views of the future. Membina keluarga dizaman sekarang ini menghadapi situasi yang semakin sulit. Perubahan zaman telah bergeser dan melesat jauh, yang berdampak pada pola kehidupan dalam berkeluarga. Sehingga keluarga harus merekonstruksi ulang dan membangun kembali pondasi yang dapat menjawab kebutuhan zaman dan sejalan dengan ajaran Tuhan. Keluarga dalam pengelolaan dan menanamkan pondasi bagi generasi penerus harus memiliki dasar yang kokoh; meliputi pondasi pemahaman keluarga, pondasi pola hubungan keluarga, pondasi tujuan keluarga, dan pondasi pencapaian tujuan. Untuk menemukan hasil penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada langkah awal dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, kemudian dilakukan klarifikasi dan deskripsi. Sedangkan hasilnya didapatkan melalui membuat isntrumen konsep-konsep yang menyingkapkan kepribadian diri, menggali potensi dan pandangan terhadap masa depan.
Penderitaan dari Sudut Pandang Teologi Injili Marsi Bombongan Rantesalu
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.46

Abstract

Discussions on theology of suffering are very often discussed lately with the co-19 pandemic. There are a variety of different views that emerge to address the problem of suffering and disaster. This study aims to find out one view of suffering, that is, from the evangelicals. The method used in this research is descriptive qualitative using the literature as a source of data. From the results of the study the authors found that the evangelical view of suffering is that they consider suffering and disaster to be the will and sovereignty of God. In the suffering experienced by His people, God still shows His care. Evangelical groups also often associate disaster and suffering with eschatology. Pembahasan mengenai teologi penderitaan sangat sering dibicarakan diakhir-akhir ini secara khusus dengan adanya pandemi covid-19. Ada berbagai pandangan berbeda yang muncul menyikapi masalah penderitaan dan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu salah satu pandangan mengenai penderitaan yaitu dari kaum Injili. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan literatur sebagai sumber datanya. Dari hasil penelitian penulis menemukan bahwa pandangan kaum injili mengenai penderitaan adalah mereka menganggap penderitaan dan bencana merupakan kehendak dan kedaulatan Allah. Di dalam penderitaan yang dialami umat-Nya, Allah tetap menunjukkan pemeliharaan-Nya. Kelompok Injili juga sering mengaitkan bencana dan penderitaan dengan akhir saman.
Analisis Narrative Criticism Kisah Simson dan Ironi Kehidupannya di Dalam Kitab Hakim-Hakim Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.49

Abstract

The story of Samson as Israel's last judge becomes the primary material in the narrative criticism approach as an analytical tool. This story is chosen because it is a complete story and contains many conflicts and irony. The author-speech intent of the story will be examined in the interest of today's readers. The narrative analysis method that the author uses is the background story (background); location and time (setting of time and location); storyline (plot); events and their causes (causal links); character identification; conflicts that have occurred (conflicts); tragic things (irony); relationship with other texts (intertextuality); and main emphasis (point of view). The results show that the story of Samson does not stop at the readers who are the target of the story in the past. Samson's life as a nazir becomes a reflection and an example for today's readers about the importance of respecting, maintaining, and completing every task and call of God in ​​life where God places everyone. Kisah Simson sebagai hakim terakhir Israel menjadi materi primer di dalam pendekatan kritik naratif sebagai alat analisis. Kisah ini dipilih karena merupakan sebuah cerita (stories) yang lengkap dan utuh dan mengandung banyak konflik serta ironi. Maksud penulis-tutur dari kisah tersebut akan diteliti dalam kepentingan pembaca masa kini. Metode analisis naratif yang penulis gunakan adalah latar belakang kisah (background); lokasi dan waktu (setting of time and location); alur cerita (plot); peristiwa-peristiwa dan penyebabnya (causal links); identifikasi karakter melalui tokoh (character identification); konflik-konflik yang terjadi (conflicts); hal-hal tragis (irony); hubungannya dengan teks lain (intertextuality); dan penekanan utama (point of view). Hasil yang diperoleh dari analisis ini memperlihatkan cerita tentang Simson tidak berhenti hanya pada pembaca yang menjadi tujuan kisah di masa lalu. Kehidupan Simson sebagai nazir menjadi refleksi dan teladan bagi pembaca masa kini mengenai pentingnya menghormati, menjaga dan menuntaskan setiap tugas dan panggilan Tuhan di dalam bidang kehidupan dimana Tuhan menempatkan setiap orang.
Konstruksi Sosial Remaja di Tamiang Layang pada Esoterisme Religio Magis Putri Mayang Sari Yuel Yuel
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.51

Abstract

This study aims to examine the phenomenon of religio magis putri mayang sari among Tamiang Layang Christian adolescents. The research method used is qualitative. The technique of collecting data by means of interviews, observation and documentation. The research subjects were students of SMAN 1 Tamiang Layang, caretakers of the tombs, and parents of students. The results showed that the socio-cultural construction of the Ma'anyan community towards the Puteri Mayang Rite as a social reality is an expression of Ma'anyan appreciation of the world and transcendent values are religio magis. Then, the Ma'anyan adolescent social construction of the Princess Mayang Rite was implemented in Christian Religious Education learning through interactive, inspirational, challenging learning strategies and participant observation as well as in multicultural learning. The social construction of Ma'anyan youth towards the Princess Mayang Rite contains an understanding of religious, social values, a sense of pride in one's own culture (local culture), and tolerance obtains support from educators. The results of the study recommend that Christian Religious Education teachers support the social construction of Ma'anyan adolescents so that they are conveyed in the learning process in the classroom. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena religio magis putri mayang sari di kalangan remaja Kristen Tamiang Layang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun subyek penelitian adalah siswa SMAN 1 Tamiang Layang, juru kunci makam, dan orang tua siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial budaya masyarakat Ma’anyan terhadap Ritus Puteri Mayang sebagai realitas sosial adalah ungkapan penghayatan Ma’anyan tentang dunia dan nilai transenden bersifat religio magis. Kemudian, konstruksi sosial remaja Ma’anyan terhadap Ritus Puteri Mayang diimplementasikan pada pembelajaran Pendidikan Agama Kristen melalui strategi pembelajaran interaktif, inspiratif, menantang, dan observasi partisipan serta dalam pembelajaran multikultural. Konstruksi sosial remaja Ma’anyan terhadap Ritus Puteri Mayang mengandung pemahaman tentang nilai religius, sosial kemasyarakatan, ada rasa bangga terhadap kebudayaan sendiri (budaya lokal), dan toleransi memperoleh dukungan dari para pendidik. Hasil penelitian merekomendasikan agar guru Pendidikan Agama Kristen mendukung konstruksi sosial remaja Ma’anyan agar disampaikan dalam proses pembelajaran di kelas.

Page 1 of 1 | Total Record : 7