cover
Contact Name
witno
Contact Email
bonita.unanda@gmail.com
Phone
+6285340887930
Journal Mail Official
bonita.unanda@gmail.com
Editorial Address
Jl. Anggrek CC Non Blok. Telp/WA: 085340887930, Palopo, Indonesia. Kode Pos: 91914 Email : Bonita.Unanda@gmail.com .Website : www.ojs.unanda.ac.id
Location
Kota palopo,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan Bonita
ISSN : 26847671     EISSN : 26856506     DOI : -
BONITA merupakan jurnal publikasi ilmiah yang dikelola oleh tim redaksi fakultas kehutanan yang dimiliki oleh Universitas Andi Djemma. Jurnal ini akan memuat hasil-hasil penelitian ilmiah pada berbagai bidang ilmu kehutanan diantaranya Manajamen dan Perencanaan Kehutanan, Konservasi, Sosial Kebijakan, Teknologi Hasil Hutan, Silvikultur dan bidang-bidang lain yang terapannya sangat berhubungan dengan bidang kehutanan. Penelitian tersebut harus memenuhi syarat ilmiah baik yang dilakukan oleh individu dosen, dosen secara berkelompok maupun dosen berkolaborasi dengan mahasiswa bimbingannya.
Articles 45 Documents
THROUGHFALL PADA JABON MERAH (ANTHOCEPHALUS MACROPHYLLUS) Srida Mitra Ayu; Andi Rosdayanti; Eka Lolita
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 2, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v2i2.523

Abstract

This study aims to measure the throughfall of Anthocepalus macrophyllu. The research was conducted in the experimental garden of SMK Neg 4 Luwu, Baramamase Village, Walenrang District, Luwu Regency. The materials used were 6 samples of Anthocephalus macrophyllus trees with a device consisting of a manual rainfall gauge, a hose, a collection bucket, a measuring cup, nails, machetes and a stopwatch. The data collected were rainfall and rainfall at 30 rain events. Of the 30 rainfall events, the throughfall data were selected for rainfall of 100, 150, 300, 400 and 500 cm3, each with 3 replications. Rainfall data is obtained by placing a manual rain gauge at the research location to measure every time it rains. Throughfall measurement is done by placing the collection bucket on the inside under the canopy. The highest average throughfall of 42.67 cm3 is found in the 500 cm3 rainfall with the regression equation y = 0.086x + 1.202 and determination (R2) = 0.8099. While the largest proportion of throughfall with a value of 13.05% occurs in 300 cm3 of rainfall, the regression equation y = 0.0022x + 8.186 and determination (R²) = 0.0247
POTENSI DAN MODEL PENGEMBANGAN SPESIES TUMBUHAN DI HUTAN LINDUNG SARAMBU’ ALLA KABUPATEN LUWU UTARA Hadijah Azis Karim; Afandi Ahmad
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 1, No 1 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v1i1.208

Abstract

Hutan Lindung Sarambu Alla merupakan kawasan hutan negara yang terletak di Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara. Dalam rangka mendukung tujuan dan fungsi kawasan sebagaimana tersebut di atas, maka dibutuhkan berbagai informasi dasar terkait dengan potensi yang terkandung di kawasan tersebut. Salah satu informasi yang terpenting adalah informasi mengenai potensi dan keanekaragaman spesies tumbuhan. Penelitian ini akan sangat berguna bagi upaya pengelolaan dan pengembangan Keanakeragaman Hayati dan Ekosistem dalam rangka melestarikan keanekaragaman sumberdaya plasmanutfah tumbuhan lokal, endemik, dan langka khususnya yang berasal dari wilayah Luwu Utara atau endemik Pulau Sulawesi secara umum, serta pengembangan potensi obyek daya tarik wisata alam yang terkandung di dalamnya untuk pemanfaatan wisata alam atau ekowisata.  Kegiatan ini diselenggarakan melalui explorasi spesies tumbuhan akan dilakukan secara purpossive dengan menggunakan sistem plot tunggal berukuran 20 m x 20 m.  Berdasarkan hasil analisis vegetasi di Kawasan Hutan Lindung Sarambu Alla menunjukkan bahwa terdapat 64 spesies yang ditemukan pada 25 plot pengamatan. Terdapat 32 spesies dengan habitus pohon memiliki potensi sebagai kayu komersial, bahan bangunan rumah, dan buahnya dapat dikonsumsi serta tumbuhan obat. Spesies tersebut bisa dijadikan model pengembangan baik ditanam pada lahan milik masyarakat, ruang terbuka hijau dan pada lahan atau kawasan hutan yang telah rusak atau terganggu.
IDENTIFIKASI POTENSI JABON MERAH (ANTHOCEPHALUS MARCOPHYLLUS) DI KECAMATAN BUA KABUPATEN LUWU Dhiki Efendi; Andi Rosdayanti; Afandi Ahmad
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 1, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v1i2.311

Abstract

Community forest is one model of natural resource managements based on community initiatives. The development of community forests is directed at restoring land productivity. Scarcity of industrial wood raw materials requires fast-growing commercial wood, jabon merah is a fast-growing plant. Potential of jabon merah at Bua District has not been known certainly. Inventory studies contain descriptions of forested areas and potential assessments. Bua sub-district is one of the sub-districts producing jabon merah wood that comes from community forests. This research was conducted from August to September 2019 with the aim to find out how much the potential for jabon merah and the distribution of jabon merah are in Bua sub-district. This research was conducted by quantitative description method. the results obtained by an inventory of the potential of jabon merah in Bua sub-district are 5,127 m3. Volume of jabon merah for each diameter class is 0.99 m3 for the diameter class of 5-10.99 cm, 277.60 m3 for the diameter class of 11-19.99 cm, 338.20 m3 for the diameter class of 20-29.99 cm, and 122.15 m3 for the widest class located in the village of Tiromanda with 11 stands of jabon merah stands, witharea of 5.3 ha.The lowest and lowest distribution is located in Lare-Lare village, only 1 area of jabon merah stands, with an area of 0.8 ha.Keywords: Forest of the people, Potential, Distribution, Jabon Merah.
POTENSI OBJEK DAN DAYA TARIK WISATA ALAM PUNCAK TINAMBUNG DI DESA BISSOLORO KECAMATAN BUNGAYA KABUPATEN GOWA Hasanuddin Molo; Sultan Sultan; Husnah Latifah; Muh Daud; Asriani Asriani
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 2, No 1 (2020): JUli 2020
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v2i1.432

Abstract

Objek wisata alam Puncak Tinambung Bissoloro ini merupakan objek wisata alam yang sangat potensial untuk dikembangkan karena masih banyak potensi lain didalamnya yang dapat mendukung perkembangan wisata alam, dan dapat menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara lebih banyak lagi. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan pada bulan November sampai bulan Desember 2018. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi alam yang menjadi daya tarik objek wisata di Puncak Tinambung Bissoloro serta mengevaluasi tingkat kelayakan pengembangan objek  wisata alam tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu analisis kualitatif deskriptif dan metode penilaian kelayakan ekowisata. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Puncak Tinambung memiliki beragam potensi wisata baik flora dan fauna maupun panorama alam yang indah. Kawasan wisata alam Puncak Tinambung memenuhi kriteria  tingkat kelayakan diatas 66,6% yaitu sebesar 77,84% sehingga menjadikan kawasan wisata tersebut layak untuk dikembangkan.
PERENCANAAN INTERPRETASI WISATA DI RESORT MINASA TE’NE, TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG Nardy Noerman Najib
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 1, No 1 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v1i1.207

Abstract

Kawasan Karst Maros-Pangkep merupakan kawasan karst terluas kedua di dunia setelah karst alam di China. Sebagian besar kawasan ini terdapat di dalam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Dengan adanya potensi tersebut kawasan ini memiliki daya tarik yang potensial untuk dikunjungi. Salah satu objek yang menarik dikunjungi adalah barisan goa prasejarah di Desa Biraeng Kabupaten Pangkep. Namun pengunjung yang datang mengharapkan memperoleh pengetahuan yang mendalam setelah melakukan kegiatan wisata. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan interpretasi. Berdasarkan alasan tersebut maka penelitian bertujuan untuk menyusun rencana interpretasi alam di kawasan wisata Resort Minasa Te’ne Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Manfaat penelitian ini yakni dapat membantu pengelola dalam upaya mengembangkan wisata alam khususnya kegiatan interpretasi. Tema kegiatan interpretasi di kawasan ini adalah Wisata Alam dan Sejarah Minasa Te’ne. Lokasi kegiatan berada pada Resort Minasa Te’ne Kelurahan Biraeng dan Desa Panaikang Kecamatan Minasa Te’ne Kabupaten Pangkep. Obyek interpretasi sumberdaya alam berupa kolam permandian alami yang airnya berasal dari dalam goa Leang Londong. Sedangkan objek interpretasi sejarah yang dapat ditemui antara lain Leang Bubbuka, Leang Caddia, Leang Lambuto, Leang Lompoa, Leang Kassi, Leang Kajuara dan Leang Pattenung. Terdapat tiga rencana yang mencakup perencanaan interpretasi yakni rencana satuan, rencana kegiatan, dan rencana penugasan.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN AIR LAHAN SAGU TADAH HUJAN DI SUB DAS SALU PAKU DAS RONGKONG Yumna Yumna; Sugeng Prijono; Zaenal Kusuma; Soemarno Soemarno
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 2, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v2i2.517

Abstract

The ecological feasibility of sago plants is not strong enough to determine sago as a commodity that can be developed in the upstream area. The research objective was to assess the community's perception of the strategy for water of sago land management in Salu Paku sub-watershed, the upper part of Rongkong watershed. The research begins with the socialization of the rainfed sago land water management strategy. The research consisted of two stages (before socialization and after socialization). The results showed that before the socialization, 100% of the community understood that sago land did not need water management, but after socialization, the community understood that sago could be developed in dryland conditions if there was water management. The community previously understood that it was not important to regulate the number of plants in one clump, after receiving additional information, generally, they wanted to regulate the number of sago trees by maintaining two tillers, one weaning plant, and two tillers during the weaning period. phase, and in the tree phase raise one tree plus one wean and two chicks. The public perception of water conservation measures before the socialization was doubtful 100%, after the socialization, the perception increased 95% (willing to make terraces and dead-end trenches), and 5% were still in doubt. Public perception about the addition of organic fertilizer to sago land before the socialization was doubtful 100%, after the socialization, 95% of the people agreed to add organic fertilizer, although 5% still had doubts
KONSERVASI KUPU-KUPU SEBAGAI SERANGGA PENYERBUK YANG PENTING DI TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG Sri Nur Aminah Ngatimin
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 1, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v1i2.309

Abstract

The purpose of study is to identify the species and frequency of butterfly visited on three types of flowers namely: Ixora paludosa, Hibiscus rosa-chinensis and Clerodendron japonicum. The information is very useful in the conservation effort of pollinator insects, especially butterflies that live around the Bantimurung-Bulusaraung National Park, Maros district, South Sulawesi, Indonesia.  Research activities in the field trials were located in Simbang village (5 ° 01'23.2 "S and 119 ° 40'33.6" E), Maros district, South Sulawesi. The research was conducted in August to September 2018. There were two families butterflies visited the flowers i.e : Pieridae and Papilionidae. Six species of butterflies visited I. paludosa flowers, four species visited H. rosa chinensis  and seven species visited C. japonicum. The dominant butterfly species visited I. paludosa : Graphium agamemnon and Catopsilia scylla. The species of butterflies in H. rosa-chinensis are Papilio demolion and Troides helena, while those who frequently visited C. japonicum flower: C. pomona and C. scyllaKey words : butterfly, nectar, insect pollinator, Bantimurung, Sulawesi
PERILAKU HARIAN KUSKUS BERUANG (Ailurops Ursinus) DI KAWASAN KONSERVASI CAGAR ALAM TANGALE Moen Sara; Bachtiar Bachtiar; Dian Puspaningrum
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 2, No 1 (2020): JUli 2020
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v2i1.431

Abstract

Kuskus Beruang (Ailurops Ursinus) adalah fauna endemik yang dilindungi sejak tahun 1990. Kelestarian kKuskus Beruang sebagai hewan liar yang dilindungi ditentukan salah satunya adalah aktifitas hidupnya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian Kuskus Beruang di Cagar Alam Tangale. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jalur (transek) dengan cara observasi langsung di lapangan. Varibel perilaku yang diamati dalam penelitian adalah istirahat, makan, berpindah tempat, diam, dan merawat tubuh/grooming. Analisis data yang dilakukan adalah analisis kuantitatif dan deskriptif. Pengamatan dilakukan mulai pukul 05:00 pagi sampai 17:00 sore, selama 49 hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktifitas harian Kuskus Beruang antara lain istirahat selama 370 menit (52%), makan 160 menit (22%), berpindah tempat 60 menit (8%), diam 95 menit (13%), dan merawat tubuh/grooming 35 menit (5%) total waktu aktifitas harian. Kuskus Beruang menghabiskan waktu terbanyak pada aktifitas istirahat dan aktifitas grooming adalah aktifitas dengan kuantitas waktu terkecil yang dilakukan Kuskus Beruang.
ANALISIS NILAI MANFAAT EKONOMI TANAMAN AREN DI DESA KO’MARA KECAMATAN POLONGBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR Muhammad Tahnur; Irma Sribianti; Erlyn Padyla
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 2, No 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v2i2.524

Abstract

This study aims to determine the value of the economic benefits of sugar palm plants utilized by the community. The research was conducted for 2 months, starting from September to October 2018. The preparatory phase was to determine the location of the study, namely in the Village of Ko'mara, Polongbangkeng District, North Takalar District. With the consideration that in the village there are many sugar palm plants. The next step is identification to see how many people manage palm sugar plants to produce processed palm products. Based on the results of identification obtained 12 respondents. Calculation of the economic value of sugar palm plants is done by calculating income based on market prices. The results showed that sugar palm plants had been processed into Brown Sugar, Kolang Kaling and Ijuk. The value of the economic benefits of the production of Red Sugar is Rp. 99,575,000 / year with a percentage of 69.40%, the production of Kolang-Kaling is Rp. 26,188,000 / year with a percentage of 18.25%, and the production of Ijuk is Rp. 17,700,000 / year with a percentage of 12.33%. The total value of the economic benefits of sugar palm plants is Rp. 143,463,000 / year.
MODEL PEMBANGUNAN HUTAN DESA DI KELURAHAN LATUPPA KECAMATAN MUNGKAJANG KOTA PALOPO Irawati Irawati; Yusran Jusuf; Dassir Muhammad
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 1, No 1 (2019): Juli 2019
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v1i1.206

Abstract

Aktivitas masyarakat dalam kawasan hutanseperti penebangan liar dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan mengakibatkan kerusakan hutan. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan hutan oleh masyarakat secara lestari. Tujuan dari penelitianyaitu untuk mengetahui bentuk pemanfaatan hutan oleh  masyarakat sekitar calon lokasi hutan desa dan merumuskan model pembangunan hutan desa di  Kota Palopo. Metode penelitian yang digunakan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan survei lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa ada dua macam pemanfaatan hutan oleh masyarakat yaituberkebun dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. Tanaman yang dibudidayakan di lahan kebun yaitu kakao,cengkeh, buah-buahan dan tanaman kehutanan. Sedangkan Hasil hutan bukan kayu yang telah dimanfaatkan oleh Masyarakat yaitu nira  aren, bambu, budidaya lebah, pala, kemiri dan buah-buahan serta jasa lingkungan pemanfaatan air bersih. Hasil hutan bukan kayu yang belum dimanfaatkan yaitu rotan dan potensi wisata yang cukup besar.  Pemanfaatan rotan belum dilakukan karena masyarakat belum memiliki izin pemanfaatan. Model pembangunan desa yang cocok untuk Hutan Lindung Siguntu yaitu pemanfaatan secara maksimal hasil hutan bukan kayu dan pemanfaatan lahan yang rusak dengan penanaman tanaman MPTs seperti pala dan kemiri serta pemanfaatan air terjun sebagai potensiwisata alam