cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 111 Documents
LATOA: ANTROPOLOGI POLITIK ORANG BUGIS KARYA MATTULADA “SEBUAH TAFSIR EPISTEMOLOGIS” slamet riadi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2598.898 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.14

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk menginterprestasi epistemologi seperti apa yang terdapat dalam karya Mattulada, Latoa; Suatu lukisan antropologi politik orang bugis. Pembahasan terkait epistemologi dalam suatu karya etnografi, masih kurang mendapatkan perhatian serius, oleh kalangan akademisi, khususnya yang bergelut dalam bidang ilmu antropologi. Dalam menganalisis epistemologi dalam suatu karya, penelitian ini menggunakan metode pencarian beberapa sumber pustaka, yang berhubungan dengan karya Mattulada. Setelah itu, melakukan pembacaan induktif-deduktif, guna untuk menemukan asumsi dasar yang menjadi landasan Mattulada menghasilkan karya-karyanya. Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan mendasar, yakni pertama, karya Mattulada berjudul Latoa ini sangat bercirikan positivisme, pun sama dengan beberapa karyanya yang lain, kedua, meskipun memiliki epistemologi yang sama di tiap karyanya, beberapa karya Mattulada yang lain memiliki paradigma yang berbeda. Katakunci: Epistemologi, Positivisme, Latoa 
LA GALIGO IDENTITAS BUDAYA SULAWESI SELATAN DI MUSEUM LA GALIGO andini perdana
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2644.918 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.16

Abstract

Komunikasi merupakan salah satu fungsi museum dan identitas budaya merupakan salah satu peran museum dalam melayani masyarakat dan perkembangannya. Tulisan ini membahas tentang naskah La Galigo di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Selatan “La Galigo”. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan bersifat filosofis dalam museology, khususnya teori new museum, identitas budaya, dan ekshibisi. Museum La Galigo memiliki koleksi naskah La Galigo yang tedaftar dalam Memory of the World oleh Unesco. Naskah yang merupakan identitas budaya Sulawesi Selatan tersebut belum dikomunikasikan dengan baik melalui ekshibisi di museum. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan pengumpulan informasi dan nilai penting naskah La Galigo sebagai tradisi lisan (intangible heritage) yang selanjutnya dapat digunakan untuk mendesain ekshibisi La Galigo di Museum La Galigo.Kata kunci : La Galigo, museum, identitas budaya
PEMANFAATAN SUMBERDAYA HAYATI PERAIRAN DALAM DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN BANTAENG (Studi Kasus Desa Bonto Jai Kecamatan Bissapu) nur alam saleh
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2259.134 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.19

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang sejauh mana terjadi perubahan struktur sosial baik itu bentuk-bentuk produksi, teknologi dan kelembagaan serta dampak terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study) dimana penelitian ini berlangsung di Kabupaten Bantaeng tepatnya di Desa Bonto Jai Kecamatan Bissapu. Adapun data yang dikumpulkan pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder dengan metode analisis yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengelolaan sumberdaya hayati perairan oleh komunitas nelayan laut dan untuk menjelaskan prospektif kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nelayan setelah membudidayakan rumput laut serta dengan melihat keterlibatan kaum wanita yang turut mengambil bagian sebagai tenaga kerja. Budidaya rumput laut juga telah mengubah salah satu aspek sosial-budaya dan ekonomi masyarakat. Dalam perkembangannya pembudidaya rumput laut telah menjadi primadona bagi aktivitas masyarakat pesisir pantai Kabupaten Bantaeng pada umumnya dan Desa Bonto Jai pada khususnya. Kata Kunci: Nelayan, Rumput laut, sosial, Pembudidayaan..
ZIARAH MAKAM SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI DI KABUPATEN GOWA, SULAWESI SELATAN renold d
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1791.779 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.20

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada ziarah makam Syekh Yusuf sebagai seorang wali yang berasal dari Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja motivasi peziarah yang datang ke makam syekh yusuf sejauh mana ritual dan religiusitas meraka terhadap syekh Yusuf. Selain itu dilihat juga bagiamana ziarah makam berdamapak pada kehidupan ekonomi, legitimasi politik dan pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Untuk memperoleh data primer dan data sekunder menggunakan teknik observasi, wawancara, dokomentasi dan studi kepustakaan. Adapun hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa terdapat motivasi yang berbeda-beda dari setiap peziarah yang datang ke mkaam syekh Yusuf, ziarah makam dapat dijadikan sebagai legitamsi politik dalam mengumpulkan suara sebagai metode pencitraan politik, dari segi pariwisata ziarah makam dapat meningkatkan pendapatan asli daerah kabupaten Gowa karena pengunjung yang datang bukan saja berasal dari Sulawesi melainkan juga dari Jawa, Kalimantan, Papua, Sumatera bahkan dari luar negeri. Selain itu kehadiran makam Syekh Yusuf memberikan dampak yang baik bagi perekonomian masyarakat sekitar.Kata kunci: Ziarah, Makam, Syekh Yusuf.
STRATEGI BERTAHAN HIDUP NELAYAN KARAMPUANG DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN HIDUP abdul asis
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2133.261 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.21

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  dan memahami strategi bertahan hidup nelayan Karampuang dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan di Pulau Karampuang masih menggunakan alat tangkap sederhana dan penghasilannya masih tergolong rendah. Pada musim paceklik, nelayan merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, sehingga mereka beralih ke pekerjaan lain dengan mengolah kebun dengan menanam tanaman hortikultura seperti jagung, ubi kayu, dan sayur-sayuran. Peluang untuk melakukan pekerjaan sampingan terbuka luas bagi masyarakat nelayan di sana karena akses ke kota Kabupaten Mamuju tergolong cukup dekat. Pekerjaan lain yang dapat dilakukan di luar bidang kenelayanan adalah menjadi pedagang, buruh bangunan, kuli angkut pelabuhan, kuli angkut pasar, dan jasa ojek. Sedangkan istri-istri nelayan banyak yang bekerja menjadi penjaga toko, buruh cuci di kota, dan membuka kedai-kedai di rumah dengan menjual barang kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan melakukan pekerjaan sampingan, maka kebutuhan hidup keluarganya  dapat terpenuhi. Kata Kunci: pekerjaan sampingan, nelayan Karampuang, kebutuhan hidup.
“TARI DINGGU” EKSPRESI UCAPAN SYUKUR ATAS KEBERHASILAN PANEN PADA MASYARAKAT SUKU BANGSA TOLAKI DI KOLAKA SULAWESI TENGGARA syamsul bahri
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2806.603 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.22

Abstract

Artikel ini mengungkap sebuah karya seni, yaitu tari dinggu. Jenis tari ini dilakoni masyarakat suku bangsa Tolaki, khususnya yang bermukim di daerah Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Tari dinggu ini lahir dari kreasi masyarakat yang memperagakan suatu kegembiraan menyambut keberhasilan dalam usaha bertani, khusus bertani padi sawah. Itulah sebabnya sehingga dikatakan bahwa jenis tarian ini hadir ketika masyarakat Tolaki Mekongga sudah menjadikan padi sebagai bahan baku makanan pokok. Tari dinggu yang intinya menceritakan mengenai pesta kegembiraan dan kesyukuran atas panen, dalam pementasannya menorehkan cara menumbuk bulir padi menjadi beras. Olehnya itu dalam tarian ini, selain diiringi beragam alat musik seperti gong, gendang, dan suling. Bahkan sebagai penambah maraknya pementasan tari dinggu, para penari yang terdiri dari kaum laki-laki dan kaum perempuan dengan jumlah 10-12 orang, berpakaian dengan berhias beragam assesoris. Dalam pementasan tari dinggu, para penari selain memperkenalkan pakaian adat suku bangsa Tolaki, penari juga memperkenalkan tiga komponen peralatan tradisional yang digunakan masyarakat memproses bulir padi menjadi beras, yaitu lesung dan alu yang dibuat dari bahan baku kayu, serta tampi atau nyiru yang dianyam dari bahan baku bambu. Kata Kunci: Tari dinggu, Mekongga.
ETOS KERJA KOMUNITAS NELAYAN PENDATANG DI SODOHOA KENDARI BARAT masgaba umar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.051 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.23

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada komunitas nelayan pendatang di Sodohoa Kendari Barat, Kota Kendari. Metode pengumpulan data berupa wawancara, focus group discussion, dan pengamatan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Nelayan pendatang yang ada di Kelurahan Sodohoa berasal dari daerah Pangkep, Ujung Lero, dan Makassar. Mereka bermigrasi ke Kendari dengan alasan bahwa di perairan Kendari terdapat banyak ikan seperti ikan tongkol yang memiliki nilai jual yang bagus. Selain itu, di             Kendari ada “bos” yang bisa memberi modal pinjaman berupa uang yang dapat digunakan dalam beraktivitas mencari dan menangkap ikan di laut. Pada dasarnya motif utama mereka melakukan migrasi karena faktor ekonomi dan faktor sosial budaya daerah asal. Faktor ekonomi timbul akibat nelayan pendatang tidak memiliki modal uang untuk beraktivitas melaut, sehingga mereka meminjam pada bos yang ada di Kendari. Pengembalian pinjaman dilakukan setiap kali melaut atau setelah bagi hasil dengan pemilik modal yang sekaligus sebagai distributor hasil tangkap nelayan.  Faktor sosial budaya timbul sebagai akibat adanya naluri untuk bekerja agar memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Menjadi nelayan merupakan warisan yang turun temurun dari orang tua mereka, tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan karena keterbatasan keterampailan dan keahlian yang dimiliki. Semangat kerja mereka termotivasi adanya perasaan malu (siri’) jika tidak memiliki penghasilan. Kata kunci: Nelayan pendatang, etos kerja, Sodohoa
PENGETAHUAN LOKAL TENTANG PEMANFAATAN TANAMAN OBAT PADA MASYARAKAT TOLAKI DI KABUPATEN KONAWE SULAWESI TENGGARA raodah hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2657.523 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.25

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan  manfaat tanaman obat yang digunakan masyarakat Tolaki dalam mengobati berbagai penyakit. Pengetahuan lokal tentang tanaman obat diperoleh berdasarkan pengalaman yang diwariskan secara turun temurun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui  wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Tolaki terutama yang tinggal di Desa Abelisawah masih memanfaatkan tanaman obat sebagai ramuan untuk mengobati penyakit medis dan non medis. Tanaman obat banyak tumbuh secara liar di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, dan sebagian ditanam dihalaman rumah sebagai TOGA (tanaman obat keluarga). Pengobatan dengan ramuan tanaman obat biasanya dilakukan oleh dukun (mbu’ owai) dan dibacakan mantra sesuai dengan jenis penyakit yang diderita pasien. Pemanfaatan tanaman obat digunakan masyarakat Abelisawa mulai dari pasien anak-anak sampai dewasa.  Ada beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat masih menggunakan dukun dan ramuan obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit yaitu: Faktor Ekonomi, terbatasnya tenaga medis, sosial, kepercayaan akan kemampuan dukun menyembuhkan penyakit, tanaman obat dianggap aman dan kurang efek sampaingnya, rendahnya pengetahuan tentang pengobatan medis, dan  waktu pelayanan yang mudah.
PENGUATAN KELEMBAGAAN KETAHANAN PANGAN DI KOTA PARE-PARE ansar arifin sallatang; syamsul bahri
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2045.101 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.31

Abstract

Artikel ini menjelaskan dua hal penting, yakni soal kelembagaan ketahanan pangan dalam rumah tangga miskin di Kota Pare-pare; model alternatif kelembagaan ketahanan pangan rumah tangga nelayan miskin yang sesuai dengan tuntutan perkembangan. Penelitian ini menggunakan metode Cluster Porpose Sampling. Sampelnya adalah kelompok-kelompok sosial, lembaga-lembaga sosial kenelayanan, dan organisasi kemasyarakatan yang dipilih secara purposif, dan dianalisis dengan model analisa sosiometrik dan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode survei dan in-depth interview (wawancara mendalam), serta metode focus-group discustion (FGD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelembagaan ketahanan pangan tradisonal telah ada sejak dahulu dalam masyarakat nelayan miskin di Kota Pare-Pare sebagai bentuk adaptasi terhadap persoalan kemiskinan. Tetapi karena pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan pangan meningkat, sehingga dibutuhkan manajemen ketahanan pangan yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, kelembagaan pangan lokal perlu ditopang oleh sistem organisasi modern demi memperkuat kelembagaan ketahanan pangan lokal. Demikian pula sebaliknya, kelembagaan modern perlu ditopang oleh kelembagaan lokal yang sudah lama dipraktekkan oleh masyarakat miskin di Kota Pare-Pare. Kata Kunci: ketahanan pangan; penguatan kelembagaan; kemiskinan.
WISATA SPIRITUAL: MENUAI BENIH KOMODIFIKASI DARI PARA PENELITI BISSU Feby Triadi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1915.589 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan dampak penelitian yang terus dilakukan pada komunitas Bissu. Dari penelitian yang ada, beberapa diantara mereka masih membahas hal yang sama, baik dari sudut pandang yang berbeda maupun dari sudut yang sama pula, tentu ini merupakan kekosongan narasi penelitian yang tidak mampu dikumpulkan dan diarsipkan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengamatan serta melakukan wawancara langsung dengan informan, seperti Bissu, dewan adat, tokoh pemerintahan. Hasil penelitian ini memiliki temuan sebagai berikut. Pertama, benih komodifikasi yang awalnya dilakukan oleh peneliti, hingga terbalut indah dengan industri pariwisata. Kedua, peneliti sebelumnya juga mewariskan konflik bagi peneliti yang akan datang, dan parahnya lagi karena konflik itu juga masuk dalam kalangan Bissu. Ketiga, penelitian ini juga menemukan, dan menjelaskan batas pemisah antara Bissu sebagai pelaku seni dan Bissu sebagai pelaku kebudayaan.

Page 1 of 12 | Total Record : 111