cover
Contact Name
Abas Aljauhari
Contact Email
-
Phone
+628568512504
Journal Mail Official
http://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/about/editorialTeam
Editorial Address
Gedung Kementerian Agama Lt. 17 Jl. M.H. Thamrin No.6 Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Dialog
ISSN : 0126396X     EISSN : 27156230     DOI : -
DIALOG (p-ISSN: 0126-396x, e-ISSN: 2715-6230) is a periodical scientific journal which managed by Secretary of The Research and Development & Educational Training Agency - Ministry of Religious Affairs. This journal first published in 1976. But then, it was officially changed in to an electronic journal in 2018. It is published twice in a year (June and December). This journal is called Dialogue as a vehicle to discuss social, political, and religious issues in society.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 43 No 2 (2020): Dialog" : 10 Documents clear
The Islamic Moderation And The Prevention Of Radicalism And Religious Extremism In Indonesia Dodego, Subhan Hi. Ali; Witro, Doli
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.375

Abstract

Radical and extremist groups’ actions are totally opposite to the Islamic teachings. In warding off the radical movements and terrorism, an open concept of inclusive religious understandings are needed. This concept is known as religious moderation. This study aims to explore efforts in reducing the massive movement of radicalism and intolerance in the frame of basic religious practices. This qualitative study relies upon the literature research where data reduction, data presentation, and concluding are employed. The results showed that Islamic moderation is reflected in the moderate attitudes. Religious moderation stems from tolerance, peace, and harmony within a multi-religious society. Kelompok radikalisme dan ektrimisme telah melakukan tindakan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, untuk menangkal gerakan radikal dan terorisme diperlukan sebuah konsep beragama yang bersifat terbuka (inklusif). Konsep beragama yang inklusif ini disebut dengan moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk meredam dan meminimalisir masifnya gerakan radikalisme dan intoleransi maka dibutuhkan konsep beragama yang sederhana, tidak kaku dan mudah dipahami oleh masyarakat umum. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat penelitian pustaka. Penulis menggunakan metode analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan moderasi Islam atau moderasi beragama merupakan sikap hidup yang berada di tengah, tidak condong ke kiri, kanan, ke depan dan ke belakang, tetapi berada di tengah dalam melihat dan menyelesaikan sebuah persoalan. Akhirnya, muara dari moderasi beragama yaitu menciptakan suasana yang toleran, damai dan harmonis di tengah kehidupan yang serba multiagama dan multikultural.
The Face Of Islam After The 2019 Presidential Election: Democracy And The Challenge Of Dialogue Yudantiasa, Muhammad Radya
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.373

Abstract

This article examines the problems of intra/interreligious dialogue that occurred after the 2019 presidential election. The focus of this study is to analyse the impact of Islamic populism on the sustainability of dialogue in Indonesia. The trend of Islamic populism is basically narrative and analytic of Indonesian political studies. The political contestation has an impact on the intra/inter-religious dialogue problems or even transcending ethnic and group boundaries. This situation requires intense dialogue among scholars, activists, elites, religious leaders and society members. This research is a library research using descriptive-analysis method. The main theory in this research is agonistic theory. This theory sees the conflict from more positive ways. This article argues that the discourse and the narration of moderate Islam needs to be brought into public sphere. Hence, the peaceful characters of Islam and tolerant Islam become the dominant colors of Islam in the public sphere. Artikel ini mengungkap kembali problematika tentang dialog pasca pemilihan presiden 2019. Fokus dari artikel ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari populisme Islam terhadap keberlanjutan dialog di Indonesia. Tren dari populisme Islam pada dasarnya merupakan sebuah narasi dan analisis yang banyak dikaji dalam lingkup studi politik di Indonesia. Peristiwa kontestasi politik yang terjadi di dalam pemilihan presiden 2019 menunjukkan adanya permasalahan terhadap dialog dalam/antar agama dan bahkan melampaui batas-batas etnik maupun kelompok agama. Situasi ini meniscayakan para aktor-aktor dialog dari kalangan akademisi, aktivis, elit politik, pemuka agama, dan masyarakat untuk terlibat dalam kontestasi ini. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Teori utama yang digunakan dalam artikel ini adalah teori agonistik (agonistic theory). Teori ini berfungsi untuk melihat konflik dalam sudut pandang yang positif. Artikel ini menyimpulkan bahwa klaim tentang wacana dan narasi Islam yang moderat harus muncul untuk dikontestasikan dalam ruang publik. Dengan demikian, wajah asli Islam yang damai, toleran dan rahmatan lil-‘alamin akan menjadi wajah yang dominan dalam ruang publik.
Religiosity Among Criminals With Death Pinalty: A Study Of Nusakambangan Prison Aliza, Novia Fetri; Krisdiana, Putri; Hamzani, Yusri
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.370

Abstract

This article discusses religiosity among criminals who pleaded guilty with death penalty at Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Permisan Nusakambangan. This focuses on two major issues; religiosity among the criminals and factors that contribute to the level of religiosity. The author carries out a field research by conducting interview and documentation. Subjects of the research are limited to three main categories; Muslim males in Indonesia, punished with capital punishment, and waiting for execution for more than ten years. The data obtained are analyzed using a theory of religiosity that is developed in religious study and psychology. The result of the study shows that the religiosity of the criminals who are punished with capital punishment are very good based on aspects of religiosity, such as; belief, Islamic law, and behavior of the criminals. Moreover, this religiosity is affected by internal and external factors. Internal factors relate to their confession of the past sins and the fear of death, while the external factors relate to the roles of their parents, children, and wife. Artikel ini membahas tentang religiusitas narapidana vonis hukuman mati di Lembaga Pemasyarakatan Permisan Nusakambangan. Terdapat dua pembahasan utama yang dikaji dalam artikel ini: kondisi religiusitas narapidana vonis hukuman mati yang saat ini mendekam di lapas Permisan dan faktor-faktor yang membentuk sikap religius mereka. Untuk mendapatkan data seputar dua pembahasan utama tersebut, penulis menggunakan jenis penelitian lapangan dengan metode wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam pembahasan ini juga dibatasi pada tiga kategori, yaitu orang Indonesia yang beragama Islam, mendapatkan vonis hukuman mati, sedang dalam masa menunggu eksekusi mati lebih dari sepuluh tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Pada tahap selanjutnya, informasi yang didapatkan pada subjek penelitian tersebut dianalisis menggunakan teori religiusitas yang terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu akidah, syariah, dan akhlak. Berdasarkan beberapa data yang didapatkan, kondisi religiusitas narapidana vonis hukuman mati di lapas Permisan sangat baik, hal ini terlihat dari pelaksanaan tiga dimensi utama religiusitas itu sendiri. Pada sisi kedua, religiusitas narapidana dipengaruhi oleh faktor internal berupa kesadaran atas dosa masa lalu dan ketakutan akan kematian. Sedangkan motivasi eksternal didapatkan dari orang tua, anak dan istri.
The Relation Of Islamic And Local Wisdom: The Wearing Of Dinglo-Bengle Bracelet In The Village Of Sisir, Temanggung Silmi, I Idam
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.377

Abstract

This research was conducted in response to the various views of local community regarding the wearing of dinglo-bengle brecelets. The purpose of this research is; (1) to find out the relationship between Islam and the use of dinglo-bengle bracelets in the village of Sisir. (2) to envistigate the values of local wisdom in regard to the wearing of dinglo-bengle bracelets in the village of Sisir. The qualitative approach is used as developed by Craswell. Data analysis is based on the primary and secondary data where the interviews was conducted by purposing sampling techniques and direct observation in the field. Secondary data was obtained through the exploration of journals, research reports and relevant library sources. To ensure the validity of data, the researcher used data triangulation which included source and technique triangulation. The study found that (1) the community believe that the tradition of dinglo-bengle bracelets is an expression of socio-religious preference. (2) The wearing of dinglo-bengle bracelet reflects the values of local wisdom, such as spiritual values, moral values, educational values, cultural values, health values, and peace values.. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan masyarakat mengenai penggunaan gelang dinglo-bengle. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Untuk mengetahui relasi Islam dengan penggunaan gelang dinglo-bengle di dusun Sisir. (2) Mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam penggunaan gelang dinglo-bengle di dusun Sisir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif seperti yang dikembangkan oleh Creswell. Analisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan data primer dan sekunder dengan wawancara yang menggunakan teknik purposive sampling dan observasi langsung di lapangan. Data sekundernya diperoleh melalui eksplorasi jurnal, laporan penelitian dan sumber pustaka yang releven. Untuk menguji keabsahan datanya peneliti menggunakan triangulsi data yang meliputi triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) pandangan masyarakat memaknai tradisi penggunaan gelang dinglo-bengle merupakan ungkapan refleksi sosial-keagamaan. (2) Penggunaan gelang dinglo-bengle memliki nilai- nilai kearifan lokal yang beragam seperti; nilai spiritual, nilai moral, nilai pendidikan, nilai kebudayaan, nilai kesehatan dan nilai kedamaian.
Islamic Acculturation In The Ancestors’ Legacy Of Nanga Suhaid Village, West Kalimantan Suprianto, Bibi
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.382

Abstract

This paper attemps to describe how Islamic acculturation was formed in the tradition of Nanga Suhaid Village, West Kalimantan. This paper shed light on community activities in relation to religious interactions, especially in the inner part of the West Kalimantan region, namely Suhaid Sub-district Nanga Suhaid village, Kapuas Hulu district. This study utilized observation, interview, and documentation for data collection through the lens of an anthropological perspective. The results of the study showed: 1) practice of the tradition in the Suhaid village that has long been carried out is a means to maintain the existing traditions. 2) the expression of Islamic Da’wah values could be seen from "buang-buang", plain flour, circumcision, customary law, fruit and da’wah values. 3) The tradition of maintained tolerance within the community to create peace and harmony in the community. Makalah ini berupaya mendeskripsikan akulturasi Islam pada tradisi nenek moyang di desa Nanga Suhaid, Kalimantan Barat. Makalah ini berfokus pada kegiatan-kegiatan masyarakat dan interaksi agama yang saling mendukung khususnya daerah pendalaman kepulauan Kalimantan Barat kecematan Suhaid, desa Nanga Suhaid kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi serta pendekatan antropologis pada masyarakat. Hasil penelitian 1) penerapan tentang tradisi-tradisi desa Suhaid yang telah dilaksanakan sebagai gambaran budaya setempat untuk mempertahankan tradisi yang telah ada. 2) mengambil nilai-nilai dakwah Islam yang ada pada tradisi seperti buang-buang, tepung tawar, sunatan/ khitanan, hukum adat, beruah dan nilai-nilai dakwah. 3) Akulturasi Islam pada tradisi nenek moyang yang selalu menjaga toleransi sesama agar terciptanya kedamaian dan ketentraman pada masyarakat.
Harapan Bajulmati Educational Institution As Role Model For Interfaith Harmony In South Malang Sutrisno, Edy
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.383

Abstract

Education is a very appropriate tool, especially in using dynamic and inclusive religious values for everyone in society. Educational institutions are the main basis for shaping religious values in creating harmony between religious communities, therefore the model of harmony between religious communities can be applied in various community contexts. The purpose of this paper is to determine the Harapan Bajulmati educational institution as a role model for harmony between religious communities in South Malang. While the method in this writing uses descriptive qualitative methods. The results of this study are a role model of harmony between religious communities with education through educational institutions as the main basis for developing models of harmony between religious communities by means of a humanist and persuasive approach. Pendidikan menjadi sarana yang sangat tepat, khususnya di dalam menggunakan nilai-nilai agama yang dinamis dan inklusif bagi setiap orang yang berada dalam masyarakat. Lembaga pendidikan merupakan dasar utama dalam membentuk nilai-nilai agama dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama oleh karena itu model kerukunan antar umat beragama bisa diterapakan dalam konteks masyarakat yang beragam. Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui lembaga pendidikan Harapan Bajulmati sebagai role model kerukunan antar umat beragama di Malang Selatan. Sedangkan metode dalam penulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah role model kerukunan antar umat beragama dengan edukasi melalui lembaga pendidikan sebagai basis utama dalam mengembangkan model kerukukunan antar umat beragama dengan cara pendekatan humanis dan persuatif.
The Sharia Hotels In Surakarta And Yogyakarta For World Citizens: A Linguistic Analysis Pamungkas, Putri Juli; Mulia, Vilya Lakstian Catra
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.387

Abstract

Linguistic qualitative research using appraisal theory is descriptively undertaken on the English websites of the sharia hotels in Surakarta and Yogyakarta. The data are analyzed on the basis of Appraisal Theory coined by Martin & White (2005) relating to kinds of attitude reflected by language that are negotiated in the texts, level of engaged feelings, and social values. This research investigates the kinds of attitude reflected by language on the data sources available on the websites of the sharia hotels in Surakarta and Yogyakarta. Using document analysis technique, the research data are analyzed in the level of words in the clauses and sentences. The research found various language attitude implemented in the sharia hotels in Surakarta and Yogyakarta in attracting customers’ attention. This research does not only limit itself in finding the dominant factors, but also analyzing meanings of using those attitudes. Penelitian kualitatif bahasa dengan teori appraisal ini dilakukan pada berbagai situs hotel syariah berbahasa Inggris di Surakarta dan Yogyakarta secara deskriptif. Data dianalisis dengan Teori Appraisal yang dikemukakan oleh Martin & White (2005) terkait beragam jenis sikap yang direfleksikan dengan bahasa yang dinegosiasikan dalam teks, kekuatan perasaan yang terlibat, dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan menemukan jenis sikap yang direfleksikan pada bahasa pada sumber data yaitu berbagai situs hotel syariah di Surakarta dan Yogyakarta. Dengan teknik analisis dokumen, data penelitian dianalisis pada tingkat kata pada klausa dan kalimat. Hasil dari penelitian ini adalah menemukan beragam sikap berbahasa yang dibangun oleh hotel-hotel syariah di Surakarta dan Yogyakarta dalam menarik perhatian konsumen. Penelitian ini tidak hanya terbatas pada memperoleh mana yang dominan, tetapi juga menganalisis makna dari penggunaan sikap itu.
Post-Theistic Negotiation Between Religion And Local Customs: Roles Of Indigenous Local Faiths In Lombok Island: Study Of Epistemology And Sociology Of Knowledge War'i, Muhammad
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.388

Abstract

This article describes post-theistic negotiation conducted by the followers of indigenous local faith in Lombok Island. This study is a qualitative research method based on epistemological and sociological perspectives. This research found: first the epistemological structure developed by indigenous religion’s followers is constructed in the frame of established epistemological cycles; second, social reality construct within Lombok community is dynamic supported by local belief, intellectual maturity, intellectual maturity, and social awareness. Third, religion and local customs have compatible relations. Post-theistic negotiation is seen as a means to boast inter- faith dialogue. Tulisan ini membahas tentang negosiasi post-theistik penghayat kepercayaan lokal dalam mendialogkan agama dan adat di Pulau Lombok. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui analisis epistemologi dan sosiologi pengetahuan, penelitian berkesimpulan: Pertama, formasi epistemologi yang dikembangkan para penghayat kepercayaan lokal menujukkan model persinggungan epistemologis yang menunjukkan kemapanan dalam tiap-tiap lingkaran epistemologis. Kedua, konstruksi realitas sosial yang mengelilingi individu maupun komunitas masyarakat Lombok bergerak dalam lingkaran sosial yang dinamis dimana warisan kepercayaan lokal, kemapanan intelektual, kepekaan sosial telah memberikan warna pada bangunan sosial mereka saat ini. Ketiga, agama dan adat tidak boleh dipertentangkan tanpa melalui proses intelektual dan sosial yang panjang. Negosiasi post-theistik adalah mekanisme penting yang layak digunakan dalam dialog antar keyakinan secara khusus dan dialog agama-agama secara umum guna menuju suatu tatanan masyarakat dialog yang mapan.
Ethics Of Responsibilities According To Emmanuel Levinas And Its Implications For Interfaith Dialogue: Christian Perspectives Susanta, Yohanes Krismantyo; Putra, Yeremia Yordani; Christian, Ivan
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.389

Abstract

Based on the literature study, this paper reveals that the ethical concept of Emmanuel Levinas’s responsibility has implications in the context of interfaith dialogue. By carrying out the theory of responsibility, which is based on authentic friendship, interfaith dialogue is not just a formality but is evidently a part of daily life. The results of this study indicate that a human being has never had a single, complete identity. Having known the multifaceted realm of one’s own identity, it seems that we tend to assume that “there are strangers” who dwell within us. Therefore we are invited to treat others as fellow human beings for the sake of God’s pleasure as He is the Creator of this life. Dengan menggunakan studi pustaka, tulisan ini menunjukkan bahwa konsep etika tanggung jawab Emmanuel Levinas memiliki implikasi dalam konteks dialog antaragama. Dengan mengusung teori tanggung jawab yang dilandasi oleh persahabatan yang otentik, dialog antariman tak hanya sekadar formalitas tetapi sungguh-sungguh menjadi bagian dari hidup keseharian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seorang tidak pernah memiliki sebuah identitas tunggal di dalam dirinya. Dengan mengakui kemajemukan identitas yang ada pada diri, kita dipanggil untuk mengaku bahwa di dalam diri kita terdapat pula “wajah orang asing.” Itulah sebabnya sebagai pribadi kita diundang untuk memperlakukan “yang lain” sebagai sesama dan memperlakukan orang lain itu seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan, Sang Pencipta.
Millennial Generation's Views On The Myth Of “Jilu Marriage” In Nganjuk East Java Basthomi, Imam
Jurnal Dialog Vol 43 No 2 (2020): Dialog
Publisher : Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/dialog.v43i2.390

Abstract

One of Indonesia’s attractive cultures is available in the Javanese culture, especially in marriage tradition. Javanese marriage has been practiced in the forms of ritual or traditional ceremonies one of which is Jilu marriage. Jilu marriage is a customary law that prohibits a marriage between the fisrt child and the third child. Javanese people believe that the transgression of this law may bring about misfortune. This study explores how millennial generations view this tradition This research was conducted by using qualitative and quantitative approaches. Methods of collecting data include interview, literature review, and questionnaire. Quantitative data relies upon the statistic method while qualitative data is analyzed by reducing, exposing, and making conclusion. The study found that the mythology of Jilu marriage derives from Javanese ancestors’ beliefs that regard number 3 as sacred number. Interestingly, millennials views of this can be categorized into three groups: those who believe, those who do not take it into consideration, and those who are neutral. Salah satu budaya di Indonesia yang menarik untuk dikaji adalah budaya Jawa. Salah satunya terletak pada bidang pernikahan. Dalam melaksanakan pernikahan ada serangkaian ritual atau upacara adat yang harus dilaksanakan. Salah satu aturannya adalah dilarang melakukan pernikahan Jilu, yakni menikahkan anak nomor satu dengan anak nomor tiga karena dipercaya akan mendatangkan malapetaka. Pada era modern masyarakat Jawa masih ada yang percaya terhadap tradisi tersebut dan ada juga yang sudah meninggalkan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang mitos pernikahan Jilu dan pendapat generasi milenial tentang mitos tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, studi pustaka, dan kuesioner. Data kuantitatif yang ada dianalis dan disajikan dengan model statistika (diagram batang dan lingkaran) dan dilakukan penarikan kesimpulan, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan cara mereduksi serta memaparkan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan mitos pernikahan Jilu berasal dari kepercayaan nenek moyang suku Jawa yang mengkeramatkan angka 3 dan dampaknya sering terjadi karena menjadi guneman masyarakat. Generasi milenial di Nganjuk ada yang percaya dengan tradisi Jilu, ada yang tidak percaya, dan ada yang bersikap netral.

Page 1 of 1 | Total Record : 10