cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma" : 20 Documents clear
UNSUR INTRINSIK DAN UNSUR PENDIDIKAN DALAM RUBRIK WACAN BOCAH PADA MAJALAH JAKA LODHANG (BULAN JANUARI-AGUSTUS TAHUN 2013) Yunita, Tri Erna
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4046

Abstract

Rubrik bocah wacan adalah cerita ringan pada majalah Jaka Lodhang dikhususkan untuk anak-anak. Sebagai salah satu kolom di majalah, wacan bocah laki-laki yang relatif menarik sehingga pembaca selalu ditunggu-tunggu, terutama anak-anak. Cerita anak-anak memiliki kekhasan tersendiri yang dapat dilihat dari karakteristik struktural dari cerita. Selain cerita anak-anak juga merupakan sarana untuk menanamkan nilai-nilai dan moral kebijakan mengandung unsur pendidikan di dalamnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian secara mendalam tentang unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur dalam rubrik pendidikan bocah wacan pada majalah Jaka Lodang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Metode yang digunakan adalah metode analisis struktural. Tujuan dari penelitian ini adalah unsur intrinsik dan unsur-unsur rubrik pendidikan bocah wacan pada majalah Jaka Lodhang (bulan Januari-Agustus 2013). 35 eksemplar majalah yang dipilih 10 cerita berdasarkan tema kontinuitas yang signifikan antara satu cerita dan cerita-cerita lain yang seharusnya penuh dengan pendidikan karakter. Ke-10 cerita EMOH ngalah (12 Januari 2013), Omah Ing Tengah Alas (23 Februari 2013), Sega Kuning (30 Maret 2013), Mbah Mur (20 April 2013), Warisan menyanyikan Murakabi (4 Mei 2013), Momong Adhik (8 Juni 2013), Pangumbara lan Manuk Podhang (1 Juli 2013), Nandur Culika Ngundhuh Cilaka (27 Juli 2013), Putri Dhuyung (3 Agustus 2013) dan Keweleh (24 Agustus 2013). Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan, (1) unsur-unsur intrinsik cerita dalam bocah wacan rubrik majalah Jaka Lodhang (bulan Januari-Agustus 2013) terdiri dari plot, karakter dan karakterisasi, pengaturan, tema dan amanat, dan sudut pandang. Semua cerita menggunakan alur yang lurus. Karakter dan karakterisasi memiliki karakter tertentu dan tidak semua tokoh utama ditampilkan karakter baik hati / protagonis. cerita menggunakan sudut pandang Diaan-mahatahu. (2) Elemen yang terkandung dalam cerita pendidikan adalah pendidikan sosial, moral, karakter dan keilahian. Berdasarkan penelitian menyarankan bahwa anak itu menjadi alternatif rubrik bahan ajar bocah wacan di sekolah-sekolah dan apresiasi sastra diharapkan menjadi motivasi dan inovasi bagi peneliti lain untuk melakukan literatur penelitian lebih kreatif. Rubric wacan bocah is a light story on Jaka Lodhang magazine devoted to children. As one of the column in the magazine, wacan bocah relatively attractive boy so readers always eagerly awaited, especially the children. Children's story has its own peculiarities which can be seen from the structural characteristics of the story. In addition to the children's story is also a means to instill values and morals policy contains elements of education in it. It is therefore necessary to study in depth about the intrinsic elements and elements within the rubric of education wacan bocah on Jaka Lodang magazine .The theory used in this study is the theory of structuralism. This study uses an objective approach. The method used is the method of structural analysis. Objectives of this study are intrinsic elements and elements of education rubric wacan bocah on Jaka Lodhang magazine (month from January to August 2013). 35 copies of the magazine selected 10 stories based on the theme of significant continuity between one story and the other stories that supposedly full of character education. All 10 stories are Emoh Ngalah (January 12, 2013), Omah Ing Tengah Alas (23 February 2013), Sega Kuning ( March 30, 2013 ), Mbah Mur (20 April 2013), Warisan sing Murakabi (May 4, 2013), Momong Adhik (June 8, 2013), Pangumbara lan Manuk Podhang (July 1, 2013), Nandur Culika Ngundhuh Cilaka (July 27, 2013), Putri Dhuyung (August 3, 2013) and Keweleh (August 24, 2013). This study resulted in two conclusions, (1) the intrinsic elements of the story in the rubric wacan bocah of Jaka Lodhang magazine (month of January-August 2013) consists of plots, characters and characterization, setting, theme and mandate, and viewpoints. All stories using a straight furrow. Character and characterization has a specific character and not all key figures displayed good-natured character/ protagonist. All stories using Diaan-omniscient viewpoint. (2) Elements contained in the story of education is the education of social, moral, character and divinity. Based on the research suggested that the boy be an alternative rubric wacan bocah teaching materials at schools and literary appreciation is expected to be the motivation and innovation for other researchers to conduct research literature more creative.
BENTUK BAHASA JAWA DIALEK BANYUMASAN KESEPUHAN DI GRUMBUL KALITANJUNG PADA TATARAN MORFOLOGI Nurlekha, Swadayani
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4044

Abstract

Dialek merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh suatu kelompok masyarakat pada suatu tempat atau waktu tertentu. Bahasa Jawa memiliki berbagai macam dialek, salah satunya dialek Banyumasan. Bentuk bahasa Jawa dialek Banyumasan yang digunakan para sesepuh di grumbul tersebut memiliki keunikan pada sisi morfologi. Hal tersebut menjadikan bentuk bahasa Jawa dialek Banyumasan di Grumbul Kalitanjung pada tataran morfologi menarik untuk diteliti. Secara teoretis penelitian ini menggunakan pendekatan dialektologi, secara metodologis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah para sesepuh anggota kelompok kesepuhan di Grumbul Kalitanjung. Data penelitian ini berupa penggalan-penggalan tuturan yang diperoleh dari percakapan antara sesama sesepuh maupun antara sesepuh dengan masyarakat umum yang diduga memiliki kekhasan bentuk pada tataran morfologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat, sedangkan teknik untuk menganalisis data penelitian ini menggunakan model interaktif, dan untuk pemaparan hasil analisis data dilakukan dalam bentuk uraian dengan teks yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk bahasa Jawa dialek Banyumasan pada tataran morfologi yang khusus digunakan oleh para sesepuh meliputi bentuk dasar dan bentuk turunan, begitu pula bentuk-bentuk bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Banyumas pada umumnya dan para sesepuh meliputi bentuk dasar dan bentuk turunan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat disampaikan adalah (1) bagi masyarakat Banyumas untuk mempelajari bentuk-bentuk dialek Banyumasan yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu, seperti dialek Banyumasan yang digunakan para sesepuh di Grumbul Kalitanjung. Hal ini sangat bermanfaat, karena komunikasi yang baik dan lancar dapat terjalin tanpa kesalahpahaman akibat kesalahan penafsiran maksud ucapan mitra tutur yang berasal dari kelompok masyarakat tertentu, (2) bentuk bahasa Jawa dialek Banyumasan pada tataran morfologi yang digunakan kesepuhan di Grumbul Kalitanjung merupakan penelitian awal, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan berkaitan dengan proses morfologi dalam pembentukan kata bahasa Jawa dialek Banyumasan, agar dapat memperluas pengetahuan khususnya dalam bidang kebahasaan. Dialect is a variation of the language used by a group of people at a particular time or place. Java language has a wide variety of dialects, one dialect Banyumasan. The shape of the Java language dialect used Banyumasan elders in the grumbul unique in the morphology. This makes the Java language dialect form Banyumasan in Grumbul Kalitanjung at the level of morphological interesting to study.The data source of this study is the elder members of the group in Grumbul Kalitanjung kesepuhan. This research data in the form of fragments of speech derived from conversations among elders and the elders of the general public who allegedly has a specific shape at the level of morphology. Data collected by the techniques involved refer proficient, proficient technique involved freely see, recording technique, and the technique of note, while the technique to analyze the data of this study using the interactive model, and for the exposure of the data analysis is done in the form of a description with descriptive text. The results showed that the forms of Javanese dialect Banyumasan at the level of specific morphology used by elders include basic shapes and forms derivatives, as well as the forms used by the Java language Banyumas society in general and the elders includes basic shape and form of derivative . Based on this research, the advice can be given is (1) for the community to learn Banyumas dialect forms Banyumasan used by particular groups of people, such as Banyumas dialect used in Grumbul Kalitanjung elders. This is very useful, because communication can be established smoothly without misunderstanding due to misinterpretation of the intent greeting hearer who belong to a particular community, (2) the form of the Java language at the level of morphology Banyumasan dialect used in Grumbul Kalitanjung kesepuhan an initial study, so we need further research related to the morphological process of word formation Banyumasan Javanese dialect, in order to expand knowledge, especially in the field of linguistics.
PENANDA MORFOLOGI BAHASA JAWA DIALEK REMBANG Indriani, Meliya
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4041

Abstract

Penelitian ini mengkaji penanda morfologi bahasa Jawa dialek Rembang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode penelitian linguistik struktural. Hasil penelitian ini mendeskripsi penanda morfologi bahasa Jawa dialek Rembang dalam proses afiksasi, reduplikasi, pemendekan, dan modifikasi internal. Dalam bahasa Jawa dialek Rembang penanda afiksasi dibedakan menjadi penanda afiksasi yang terdapat dalam bahasa Jawa dialek Rembang yang tidak terdapat dalam bahasa Jawa pada umumnya, dan penanda afiksasi yang terdapat dalam bahasa Jawa pada umumnya yang ditambahkan pada bahasa Jawa dialek Rembang. Reduplikasi pada bahasa Jawa dialek Rembang meliputi reduplikasi penuh, reduplikasi parsial, dan reduplikasi berimbuhan. Pemendekan dalam bahasa Jawa dialek Rembang, dapat berupa penggalan, singkatan, dan akronim. Bentuk modifikasi internal pada bahasa Jawa dialek Rembang berupa modifikasi vokal a menjadi u, modifikasi vokal a menjadi ua, modifikasi vokal a menjadi ia, modifikasi vokal o menjadi uo, modifikasi vokal i menjadi ui, dan modifikasi internal berimbuhan. This study examines morphological markers Rembang Javanese dialect. This research is a qualitative research method of structural linguistics research. The results of this study showed morphological markers Rembang Javanese dialect in the process affixation, reduplication, shortening, and internal modifications. Bookmarks affixation divided into markers contained in Rembang Javanese dialect that is not in the Java language in general, and affixation markers contained in the Java language in general added to the Java language dialect Rembang. Reduplication in Javanese dialect Rembang includes full reduplication, partial reduplication and reduplication berimbuhan. Shortening in Javanese dialect Rembang, may be fragments, abbreviations, and acronyms. Forms of internal modifications Rembang Javanese dialect form a vocal modifications to u, a vocal modifications to ua, a vocal modifications to ia, uo o vowel modification, modification vocal i be ui, and internal modifications berimbuhan.
POTRET PEREMPUAN DALAM LIMA CERKAK JAWA Nugroho, Indarto
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4037

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah tokoh-tokoh perempuan yang terdapat pada Cerkak dalam majalah mingguan Panjebar Semangat mempunyai watak yang baik. Lima Cerkak dalam penelitian ini bersumber dari majalah Panjebar Semangat. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah potret tokoh perempuan yang digambarkan dalam lima cerkak tersebut dan bagaimanakah peran tokoh utama perempuan dalam lima cerkak tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif dengan menggunakan metode struktural. Berdasarkan analisis tersebut dapat diketahui deskripsi tokoh dan penokohan dalam lima cerkak tersebut. Potret tokoh perempuan pada lima cerkak tersebut umumnya digambarkan sebagai seorang tokoh utama perempuan yang dideskripsikan melalui teknik dramatik dan memiliki watak atau sifat yang pada dasarnya baik. Peran tokoh utama perempuan dari lima cerkak tersebut pada umumnya hadir dalam ranah peran publik yaitu memiliki profesi di lingkungan masyarakat seperti pedagang, guru, dosen, sedangkan tokoh Darsini yang hanya memiliki peran dalam ranah domestik yaitu sebagai ibu rumah tangga. Saran yang dapat diusulkan adalah para guru dapat menggunakan cerkak-cerkak dalam majalah Panjebar Semangat untuk mengajar di sekolah. The background of this research is the female characters who are on tight cerkak Panjebar Semangat in the weekly magazine has a good character . Five cerkak in this study comes from the magazine Panjebar Semangat . The problem in this research is how portraits of women portrayed in the five cerkak and how the role of the female lead in the five cerkak. The approach used in this study is objective approach using structural methods . Based on this analysis can be found in the descriptions of the characters and characterizations of the five cerkak. Portraits of women in the five cerkak generally described as a female main character who is described through dramatic techniques and have the character or nature is basically good . The role of the heroine of the five cerkak generally present in the public sphere that has the profession 's role in society as merchants, teachers, professors , while the figure Darsini which only has a role in the domestic sphere is a housewife. Suggestions that can be proposed is the teachers can use in the magazine Panjebar Semangat for teaching in schools .
INVENTARISASI CERITA RAKYAT DI KABUPATEN BANJARNEGARA Nursa?ah, Khotami
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4031

Abstract

Cerita rakyat merupakan kekayaan budaya dan sejarah Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat berisi kisah tentang kejadian atau asal muasal suatu tempat. Cerita rakyat merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Seperti di Banjarnegara, banyak cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di wilayah tersebut yang belum diketahui oleh masyarakat khususnya generasi muda, maka perlu dilakukan inventarisasi cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara untuk didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah-langkah dan hasil inventarisasi cerita-cerita rakyat yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori folklor Danandjaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif inventarisasi. Berdasarkan hasil penelitian, perlu adanya studi lanjut dan penyusunan cerita rakyat di Kabupaten Banjarnegara dalam bentuk buku cerita berbahasa Jawa.Folklore is one of Indonesian cultural heritage and history. It usually tells about a phenomena or the origin of a place. Folklore is a verbal story which has been lived for a longtime in a society?s tradition. For example in Banjarnegara, so many folklores develop and grow unnoticed by the people especially the youth, so it is important to do such folklore inventory at Banjarnegara to be documented in form of written folklore. The aim of this research was to describe the steps and result of folklore inventory at Banjarnegara. The theory used in this research war folklore theory from Danandjaja. This research used objective approach. Descriptive inventory was applied as the research method. From this research, it could be concluded that (1) the step in folklore inventory was done using formal and informal ways. Survey at Tourism and Culture Department of Banjarnegara was employed in the formal way, while informal way was done by work on some observation at Banjarmangu, Batur, Punggelan, Purwareja Klampok, and Sigaluh, where there were so many folklores such as Mulabukane Kabupaten Banjarnegara, Dumadine Desa Banjarmangu, Mulabukane Batur, Raden Sam Hoong, Demang Tirtayasa lan Dumadine Desa-desa nang Kecamatan Purwareja Klampok, and Dumadine Desa Sigaluh. From the research result, there should be an advanced research and folklore composition in a form of Javanese story book at Banjarnegara.
REKONSTRUKSI CERITA RAKYAT DJAKA MRUYUNG DI KABUPATEN BANYUMAS Setiawanti, Yuliana
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4026

Abstract

Salah satu cerita rakyat yang ada di kabupaten Banyumas yaitu cerita rakyat Djaka Mruyung. Cerita rakyat Djaka Mruyung tepatnya berada di kecamatan Ajibarang. Cerita rakyat Djaka Mruyung diangkat dalam penelitian ini, karena masyarakat Banyumas, khususnya masyarakat Ajibarang banyak yang tidak mengenal dan mengetahui cerita rakyat tersebut. Selain itu juga karena cerita rakyat Djaka Mruyung diduga mempunyai versi cerita lebih dari satu. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah struktur fungsi pelaku cerita rakyat Djaka Mruyung; (2) Bagaimanakah persamaan dan perbedaan fungsi pelaku dari tiap-tiap versi cerita rakyat Djaka Mruyung; (3) Bagaimanakah hasil rekonstruksi cerita rakyat Djaka Mruyung beserta motif pelaku dan motif ceritanya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur fungsi cerita rakyat Djaka Mruyung, mendeskripsikan persamaan dan perbedaan fungsi pelaku dari tiap-tiap versi, serta mengungkapkan hasil rekonstruksi cerita rakyat Djaka Mruyung beserta motif pelaku dan motif ceritanya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif dengan menggunakan metode analisis struktural. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam cerita rakyat Djaka Mruyung yang mempunyai 3 versi cerita, ditemukan fungsi pelaku yang berbeda setiap versinya. Versi I terdapat 26 fungsi pelaku, versi II ditemukan 22 fungsi pelaku, dan versi III 22 fungsi pelaku. Cerita rakyat Djaka Mruyung mempunyai persamaan dan perbedaan fungsi pelaku pada tiap versi cerita. Persamaan yang terdapat dalam cerita rakyat Djaka Mruyung sangat dominan. Sedangkan perbedaan yang ditemukan hanya lima perbedaan, perbedaan tersebut terjadi pada fungsi pelaku 2 pada versi I dan versi II, fungsi pelaku 3 pada versi I dan versi II, pada fungsi pelaku 11, fungsi pelaku 15, dan fungsi pelaku 16. Selain itu, didalam cerita rakyat Djaka Mruyung juga terdapat fungsi pelaku yang hanya dimiliki oleh satu versi saja, misalnya fungsi pelaku 6, 7, 13 hanya dimiliki oleh versi I dan fungsi pelaku 4 hanya dimiliki oleh versi III. Hasil rekonstruksi cerita rakyat Djaka Mruyung, hendaknya dapat melestarikan karya sastra khususnya cerita rakyat yang berada di daerah Ajibarang, Banyumas agar tidak dilupakan generasi yang akan datang dengan memperkenalkan tokoh Djaka Mruyung kepada masyarakat. Selain itu, hasil rekonstruksi cerita rakyat Djaka Mruyung disarankan dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar pembelajaran bahasa Jawa di sekolah. One of the folklore in Banyumas regency is Djaka Mruyung. This Djaka Mruyung folklore is exactly located in Ajibarang subdistrict. Djaka Mruyung folklore was built up in this research because there were many Banyumas people, especially Ajibarang people who were not familiar with this folklore. In addition, the reason why this folklore was built up because there was approximation that this Djaka Mruyung had more than one version of story. The problems of this research were: (1) How was the cast function structure in Djaka Mruyung; (2) How were the similarities and differences of the cast function in each version of Djaka Mruyung; (3) How was the reconstruction of Djaka Mruyung folklore along with the cast motive and the story motive. The purpose of this study were to know the function structure of Djaka Mruyung folklore, to describe the similarities and the differences of the cast function in each version, and to show the result of reconstruction of Djaka Mruyung folklore along with its cast motive and story motive. Objective approach by using structural analytic method was used in this research. The result of this research showed that Djaka Mruyung had three versions of story. It was found that the cast function was different in each version. There were 26 cast functions in the first version, 22 in the second version, and 22 in the third one. Djaka Mruyung folklore had cast function similarity and difference in every version. The similarity was very dominant whereas the difference was not. There were only 5 differences founded in Djaka Mruyung: cast function number 2 in version I and II; cast function number 3 in version I and II; cast function number 11, cast function number 15; and cast function number 16. Besides that, Djaka Mruyung folklore had some cast functions which only being possessed by one version. For example, the cast function number 6, 7, and 13 were only possessed by version I and the cast function number 4 was only possessed by version III. The result of reconstruction of Djaka Mruyung folklore was supposed to conserve the literary works especially the folklores in Ajibarang, Banyumas so that they will not being forgotten by the next generation by introducing the character of Djaka Mruyung to the people. Besides, the result of the reconstruction was suggested to be used as an alternative learning material of Javanese school.
IMPLIKATUR DALAM WACANA RUBRIK BANYUMASAN DI MAJALAH PANJEBAR SEMANGAT Suryani, Atik
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsi wujud dan fungsi implikatur yang terdapat dalam wacana rubrik Banyumasan di majalah Panjebar Semangat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan data berupa kalimat pada tuturan-tuturan yang mengandung implikatur. Data dalam penelitian diperoleh dengan teknik simak dan catat. Data yang telah terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan wujud dan fungsi implikaturnya. Setelah data diklasifikasikan kemudian dianalisis menggunakan metode pragmatik yaitu mendeskripsi makna tersirat yang terdapat dalam wacana.. Hasil analisis data dipaparkan menggunakan teknik informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikatur yang terdapat dalam wacana rubrik Banyumasan di majalah Panjebar Semangat wujud implikatur konvensional yang meliputi (1) kalimat pernyataan dan (2) kalimat pertanyaan dan wujud implikatur non konvensional yang meliputi (1) kalimat pernyataan, (2) kalimat kritikan, (3) kalimat perintah, dan (4) kalimat pujian. Adapun fungsi implikatur yang terdapat dalam wacana rubrik Banyumasan di majalah Panjebar Semangat meliputi (1) fungsi memberi informasi, (2) fungsi memerintah, (3) fungsi mengkritik, dan (4) fungsi memuji. This study aims to describe what forms and function of implicature found in banyumasan section on Panjebar Semangat magazine. This study is a descriptive study with data in the form of sentences in speech-speech that contains implicature. Data obtained in the present study is using listening and taking note techniques. The data that has been collected, then classified based on the forms and function of the implicature. Once data is classified and then analyzed using a pragmatic method that is describing the meaning implied in discourse. The analysis of the data is presented using informal techniques. The results showed that implicature found in the discourse of the magazine section Banyumasan Panjebar spirit are forms conventional implicature that includes (1) statement and (2) interrogative sentences and forms of unconventional implicature that includes (1) statement sentence, (2) sentence of criticism, (3) order sentence, and (4) complement sentence. As implicature function found in section Banyumasan discourse in Panjebar Semangat magazine includes (1) provide information, (2) giving order, (3) criticize, and (4) complementing.
PERISTIWA-PERISTIWA PEMBALAKAN DALAM NOVEL WEWADIALAS PEJATEN KARYA C. IS SARJOKO Apriastita, Desirre Aulya Risty
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4019

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peristiwa-peristiwa pembalakan dalan novel Wewadi Alas Pejaten karya C. Is Sarjoko serta mengungkap fakto-faktor yang melatar belakangi terjadinya peristiwa pembalakan-pembalakan di hutan pada novel tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan objektif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode analisis struktural. Penelitian ini meghasilkan dua simpulan yakni 1) Peristiwa-peristiwa pembalakan dalam Novel Wewadi Alas Pejaten karya C. Is. Sarjoko terjadi pada sekuen ke- 3, 6, 11, 14, 23, 24, 25, 30, 32 dan 42; 2) faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya pembalakan dalam Novel Wewadi Alas Pejaten karya C. Is. Sarjoko adalah faktor keserakahan, lingkungan dan kebutuhan, dendam, teman, tempat atau geografis/letak. The purpose of this study was to determine the role in the events of the novel logging Wewadi Housing Foundation and the work of C. Is Sarjoko-facto reveal the background factors-logging logging events in the woods on the novel. The theory used in this study is the theory of structuralism. The approach used in this study uses an objective approach, whereas the method used is the method of structural analysis. This study produced the two conclusions that 1) logging events in the novel Wewadi Housing Foundation works C. Is. Sarjoko sequences occur in the 3rd, 6, 11, 14, 23, 24, 25, 30, 32 and 42; 2) the factors underlying the occurrence of logging in the novel Wewadi Housing Foundation works C. Is. Sarjoko is the greed factor, environment and needs, revenge, friends, places or geographical / location.
PERMAINAN BAHASA DALAM BAHASA JAWA SEBAGAI WAHANA KRITIK SOSIAL Putri, Margareta Oktaviani
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4018

Abstract

Permainan bahasa merupakan hasil olahan rasa para penciptanya mengenai hal-hal tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsi bentuk permainan bahasa yang dimanfaatkan sebagai wahana kritik sosial dan mendeskripsi fungsi masing-masing permainan bahasa yang dimanfaatkan sebagai wahana kritik sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan teoretis dan metodologis. Pendekatan teoretis dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiopragmatis, sedangkan pendekatan metodologis dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian pernainan bahasa dalam bahasa Jawa sebagai wahana kritik sosial adalah sebagai berikut. 1) Bentuk permainan bahasa dalam bahasa Jawa sebagai wahana kritik sosial meliputi bentuk abreviasi atau singkatan, akronim, permainan bunyi, dan antonimi. 2) Fungsi permainan bahasa dalam bahasa Jawa sebagai wahana kritik sosial meliputi fungsi mengkritik, mengejek, memerintah, peringatan, sindiran, menyampaikan informasi, menghibur, dan mengungkapkan perasaan. Saran yang dapat diberikan yaitu pembahasan mengenai permainan bahasa dalam bahasa Jawa sebagai wahana kritik sosial dapat dilakukan lebih mendalam lagi. Oleh karena itu, diharapkan adanya peneliti lain untuk meneliti mengenai permainan bahasa dalam bahasa Jawa sebagai wahana kritik sosial pada berbagai aspek. Language play is the manner of speaker about certain cases. the research is aimed to describe the form of language play and the function of language play that used to social critics. The approach that is used is theoretical and methodological approach. The theoretical approach that is used is sosiopragmatic approach, while the methodological approach is descriptive qualitative approach. The result of the research shows that 1) the form of language play in Javanese language as social critics cover by abbreviation or singkatan, acronym, sound play, and antonym 2) the function of language play in Javanese language is to social critics cover by criticizing, derisiving, reigning, commemoration, satire, giving information, amusing, and giving expression. The suggestion is the research of language play as social critic can be doing deeper. Because of that, hoped another researcher research about language play in Javanese language as social critic in many aspects.
BAHASA JAWA DI KABUPATEN BATANG (TATARAN FONOLOGI DAN LEKSIKON) Wiladati, Ribka Andresti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 3 No 1 (2014): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v3i1.4014

Abstract

Penelitian bahasa Jawa di Kabupaten Batang adalah untuk mendeskripsikan variasi bahasa Jawa di Kabupaten Batang dalam tataran fonologi dan leksikon dan untuk memetakan variasi bahasa Jawa di Kabupaten Batang dalam tataran fonologi dan leksikon. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoritis berupa pendekatan dialektologi dan pendekatan metodologis berupa pendekatan sinkronis. Data penelitian ini berupa tuturan lisan bahasa Jawa yang dipakai oleh penutur dan penduduk asli Kabupaten Batang. Berdasarkan analisis data, pada tataran fonologi ditemukan variasi berupa perubahan bunyi dan pola suku kata. Dalam perubahan bunyi, ditemukan variasi bebas meliputi perubahan bunyi vokal pada suku kata pertama, perubahan bunyi vokal pada suku kata kedua, perubahan bunyi vokal pada suku kata pertama dan kedua, penggantian konsonan pada kosa kata pertama, dan penggantian konsonan pada suku kata kedua. Ditemukan penambahan bunyi, meliputi protesis dan paragog. Ditemukan pula pengurangan bunyi, meliputi aferesis dan sinkop. Di samping itu, juga ditemukan pergeseran bunyi, meliputi disimilasi. Dalam pola suku kata ditemukan 9 pola, meliputi V, VK, KV, KVK, KKV, KKVK, KVKK, KKKV, dan KKKVK. Pada tataran leksikon ditemukan variasi bahasa yang diduga khas di titik pengamatan jika dibandingkan dengan bahasa Jawa baku. Selain itu, bentuk leksikon yang ditemukan mengandung gejala kebahasaan di antaranya gejala onomasiologis dan semasiologis. Gejala onomasiologis ditemukan bentuk leksikon pada kata kerja, kata benda, kata sifat, kata ganti, kata sambung, dan kata tugas. Gejala semasiologis terdapat pada leksikon wit [wIt], kayu [kayu], sronggot [sr??g?t], bojo [bojo], anyes [añ?s] dan enyis [eñis], seger [s?g?r], belok [b?l??], mori [m?ri], alas [alas], sedhot [s???t], serot [s?r?t], koli [k?li], arep [ar?p], marai [marai]. Research in Batang Java language is Java language to describe variation in Batang in the level phonology and the lexicon and to map variations in the Java language level , Batang in phonology and lexicon . This study uses a theoretical approach to dialectology approach and methodological approaches a synchronous approach . The source of this study in the form of verbal utterances Java language spoken by native speakers in Batang. Based on analysis , at the level of phonological variation is found in the form of changes in sound and syllable patterns . In a change of sound , found free variation include changes in vowel sounds on the first syllable , vowel change on the second syllable , vowel changes in the first and second syllable , consonant replacements in the first vocabulary , and replacement of consonant on the second syllable . Found addition of sound , covering protesis and paragog . Also found noise reduction , include aferesis and syncope. in addition , also found a shift in sound , covering dissimilation . In syllable patterns found 9 patterns , including V , VK , KV , KVK , KKV , KKVK , KVKK , KKKV , and KKKVK . At the level of the lexicon of language variation allegedly found in a typical observation points when compared to the standard Java language . In addition, the shape of which was found to contain lexicon linguistic symptoms of which are symptoms onomasiologis and semasiologis . Onomasiologis symptoms found in the lexicon of verb forms , nouns , adjectives , pronouns , conjunctions , and said duty . Semasiologis symptoms found in the lexicon wit [wIt], kayu [kayu], sronggot [sr??g?t], bojo [bojo], anyes [añ?s] dan enyis [eñis], seger [s?g?r], belok [b?l??], mori [m?ri], alas [alas], sedhot [s???t], serot [s?r?t], koli [k?li], arep [ar?p], marai [marai].

Page 1 of 2 | Total Record : 20