cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma" : 8 Documents clear
BAHASA JAWA MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN JAWA TENGAH JAWA BARAT DI KECAMATAN LOSARI KABUPATEN BREBES : KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Isfandani, Linda Novita
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29035

Abstract

Kecamatan Losari terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kedua wilayah yang berada di perbatasan tersebut memiliki latar belakang kebahasaan yang berbeda. Kondisi tersebut mengakibatkan masyarakat di kecamatan Losari kabupaten Brebes menggunakan ragam bahasa yang berbeda dengan daerah lain. Ragam bahasa dalam hal ini adalah bahasa Jawa Banyumasandan bahasa Jawa Cirebon. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan wujud bahasa Jawa masyarakat di kecamatan Losari beserta faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa tersebut.                 Penelitian ini menggunakan pendekatan teoretis dan pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis yang digunakan adalah pendekatan sosiolinguistik, sedangkan pendekatan metodologis yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian berada di daerah perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Barat, tepatnya di kecamatan Losari, kabupaten Brebes. Lokasi penelitian juga diambil dari desa yang berada di kecamatan Losari, kabupaten  Cirebon. Sumber data penelitian ini adalah tuturan lisan penduduk di kecamatan Losari, kabupaten Brebes yang diambil dari empat desa yaitu Kecipir, Karangjunti, Losari Lor dan Karangdempel serta tuturan lisan penduduk di kecamatan Losari, kabupaten Cirebon yang diambil dari empat desa yaitu Losari Kidul, Panggang Sari, Barisan dan Kalisari. Data penelitian berupa tuturan lisan penduduk yang berada di daerah tersebut. Data diperoleh dengan teknik rekam, teknik catat, teknik simak libat bebas cakap, teknik simak libat cakap, dan teknik wawancara. Teknik analisis data dilakukan melalui dua prosedur yaitu analisis selama proses pengumpulan data dan analisis setelah proses pengumpulan data. Hasil analisis data dipaparkan menggunakan metode informal.                 Hasil penelitian yang diperoleh berupa (1)  wujud bahasa masyarakat di kecamatan Losari berupa pemakaian tunggal bahasa Jawa, alih kode, dan campur kode, (2) faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa masyarakat di kecamatan Losari antara lain faktor geografis, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan perkawinan. Saran yang disampaikan dalam penelitian ini adalah diharapkan kepada para pemerhati bahasa untuk melakukan penelitian lanjutan. Semoga penelitian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan. Losari District is located on the border of Central Java and West Java. The two regions on the border have different linguistic backgrounds. This condition resulted in people in the Losari sub-district of Brebes district using a variety of languages ??that were different from other regions. The variety of languages ??in this case is Javanese Banyumas and Cirebon Javanese. Based on this background, the purpose of this study is to examine and describe the Javanese language in the Losari sub-district along with the factors that influence the language. This study uses a theoretical approach and methodological approach. The theoretical approach used is a sociolinguistic approach, while the methodological approach used is a qualitative descriptive approach. The research location is in the border area between Central Java and West Java, precisely in Losari sub-district, Brebes district. The location of the study was also taken from villages in the Losari sub-district, Cirebon district. The data source of this research is the oral speech of residents in Losari sub-district, Brebes district taken from four villages namely Kecipir, Karangjunti, Losari Lor and Karangdempel as well as oral speeches of residents in Losari sub-district, Cirebon district taken from four villages namely Losari Kidul, Panggang Sari, Barisan and Kalisari. The research data is in the form of oral speech of residents in the area. Data were obtained by recording techniques, note-taking techniques, proficient free listening techniques, skillful listening techniques, and interview techniques. Data analysis techniques are carried out through two procedures, namely analysis during the process of data collection and analysis after the data collection process. The results of data analysis are presented using informal methods. The results obtained in the form of (1) the form of community language in Losari sub-district in the form of a single use of Javanese language, code switching, and code mixing, (2) factors that influence the use of community language in Losari sub-district include geographical, economic, educational, socio-cultural factors , and marriage. Suggestions conveyed in this study are expected to language observers to conduct further research. Hopefully this research can be a reference for further research.
BAHASA JAWA DI KABUPATEN BATANG (TATARAN FONOLOGI DAN LEKSIKON) Wiladati, Ribka Andresti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29034

Abstract

Penelitian bahasa Jawa di Kabupaten Batang adalah untuk mendeskripsikan variasi bahasa Jawa di Kabupaten Batang dalam tatarn fonologi dan leksikon dan untuk memetakan variasi bahasa Jawa di Kabupaten Batang dalam tataran fonologi dan leksikon. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoritis berupa pendekatan dialektologi dan pendekatan metodologis berupa pendekatan sinkronis. Data penelitian ini berupa tuturan lisan bahasa Jawa yang dipakai oleh penutur dan penduduk asli Kabupaten Batang. Pengambilan data dilakukan di lima titik pengamatan (TP), yaitu Kecamatan Gringsing, Kecamatan Subah, Kecamatan Wonotunggal, Kecamatan Bawang, dan Kecamatan Blado. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dengan teknik catat-rekam dan metode cakap. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar dan teknik hubung banding sebagai teknik lanjut. Pemaparan hasil analisis data menggunakan metode formal dan metode informal. Berdasarkan analisis data, pada tataran fonologi ditemukan variasi berupa perubahan bunyi dan pola suku kata. Dalam perubahan bunyi, ditemukan variasi bebas meliputi perubahan bunyi vokal pada suku kata pertama, perubahan bunyi vokal pada suku kata kedua, perubahan bunyi vokal pada suku kata pertama dan kedua, penggantian konsonan pada kosa kata pertama, dan penggantian konsonan pada suku kata kedua. Ditemukan penambahan bunyi, meliputi protesis dan paragog. Ditemukan pula pengurangan bunyi, meliputi aferesis dan sinkop. Di samping itu, juga ditemukan pergeseran bunyi, meliputi disimilasi. Dalam pola suku kata ditemukan 9 pola, meliputi V, VK, KV, KVK, KKV, KKVK, KVKK, KKKV, dan KKKVK. Pada tataran leksikon ditemukan variasi bahasa yang diduga khas di titik pengamatan jika dibandingkan dengan bahasa Jawa baku. Selain itu, bentuk leksikon yang ditemukan mengandung gejala kebahasaan di antaranya gejala onomasiologis dan semasiologis. Gejala onomasiologis ditemukan bentuk leksikon pada kata kerja, kata benda, kata sifat, kata ganti, kata sambung, dan kata tugas. Gejala semasiologis terdapat pada leksikon wit [wIt], kayu [kayu], sronggot [sr??g?t], bojo [bojo], anyes [añ?s] dan enyis [eñis], seger [s?g?r], belok [b?l??], mori [m?ri], alas [alas], sedhot [s???t], serot [s?r?t], koli [k?li], arep [ar?p], marai [marai].   Research in Batang Java language is Java language to describe variation in Batang in the level phonology and the lexicon and to map variations in the Java language level , Batang in phonology and lexicon . This study uses a theoretical approach to dialectology approach and methodological approaches a synchronous approach . The source of this study in the form of verbal utterances Java language spoken by native speakers in Batang. The Batang?s language were collected at five observation points ( TP ) , the District Gringsing , District Subah , District Wonotunggal , District Onions , and District Blado . The Batang?s language was collected using methods refer to the techniques and methods of record - record conversation . The Batang?s language was then analyzed using the unified method with sorting techniques as a key element of the basic techniques and circuit techniques appeal as advanced techniques . Exposure analysis using methods of formal and informal methods . Based on analysis , at the level of phonological variation is found in the form of changes in sound and syllable patterns . In a change of sound , found free variation include changes in vowel sounds on the first syllable , vowel change on the second syllable , vowel changes in the first and second syllable , consonant replacements in the first vocabulary , and replacement of consonant on the second syllable . Found addition of sound , covering protesis and paragog . Also found noise reduction , include aferesis and syncope . In addition , also found a shift in sound , covering dissimilation . In syllable patterns found 9 patterns , including V , VK , KV , KVK , KKV , KKVK , KVKK , KKKV , and KKKVK . At the level of the lexicon of language variation allegedly found in a typical observation points when compared to the standard Java language . In addition, the shape of which was found to contain lexicon linguistic symptoms of which are symptoms onomasiologis and semasiologis . Onomasiologis symptoms found in the lexicon of verb forms , nouns , adjectives , pronouns , conjunctions , and said duty . Semasiologis symptoms found in the lexicon wit [wIt], kayu [kayu], sronggot [sr??g?t], bojo [bojo], anyes [añ?s] dan enyis [eñis], seger [s?g?r], belok [b?l??], mori [m?ri], alas [alas], sedhot [s???t], serot [s?r?t], koli [k?li], arep [ar?p], marai [marai].
SUKSESI DALAM BABAD JAKA TINGKIR Farha, Naila
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29025

Abstract

Babad Jaka Tingkir memuat pola-pola suksesi dan pola-pola kepemimpinan yang patut untuk diteliti, sebab kepemimpinan tetap menjadi potret yang menarik untuk diperbincangkan. Namun, sejauh ini belum adanya penelitian tentang aspek kepemimpinan dalam babad Jaka Tingkir.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola suksesi yang terdapat dalam Babad Jaka Tingkir dan bagaimana peran kepemimpinan dalam struktur Babad Jaka Tingkir. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkap pola suksesi yang terdapat dalam Babad Jaka Tingkir dan mengungkap peran pola kepemimpinan dalam Babad Jaka Tingkir. Pendekatan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra, karena penelitian ini mengungkap masalah suksesi dan kepemimpinan yang merupakan gejala sosial yang terdapat dalam teks babad serta karena sastra dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam teks Babad Jaka Tingkir ditemukan tiga pola suksesi, yaitu 1) perebutan takhta, 2) pendirian kerajaan baru, 3) genealogi, dan 4) wasiat. Melalui analisis tentang pola kepemimpinan dalam Babad Jaka Tingkir ditemukan pola kepemimpinan, seperti 1) mulat, 2) milala, 3) miluta, 4) palidharma, serta 5) palimarma. Pola kepemimpinan menjadi salah satu unsur pembangun cerita dalam Babad Jaka Tingkir di samping genealogi, fiksi, mistis, dan historiografi yakni menjadi alur utama dalam teks Babad Jaka Tingkir.  The Chronicle of Jaka Tingkir contains succession patterns and leadership patterns that deserve to be studied, because leadership remains an interesting portrait to discuss. However, so far there has been no research on aspects of leadership in the Chronicle of Jaka Tingkir. The formulation of the problem in this study is how the succession pattern found in the Babad Jaka Tingkir and how the leadership role in the Babad Jaka Tingkir structure. The purpose of this study is to reveal the succession patterns found in the Babad Jaka Tingkir and reveal the role of leadership patterns in Babad Jaka Tingkir. The approach in this study is the sociology of literature, because this study reveals the problem of succession and leadership which are social symptoms contained in the text of the chronicle and because literature and society cannot be separated. The results of this study indicate that in the Babad Jaka Tingkir text three succession patterns are found , namely 1) the seizure of the throne, 2) the establishment of a new kingdom, 3) genealogy, and 4) a will. Through analysis of leadership patterns in Babad Jaka Tingkir found leadership patterns, such as 1) mulat, 2) milala, 3) miluta, 4) palidharma, and 5) palimarma. The leadership pattern is one of the building blocks of the story in the Babad Jaka Tingkir in addition to genealogy, fiction, mysticism, and historiography which is the main plot in the text of Babad Jaka Tingkir.
BENTUK DAN MAKNA NAMA-NAMA MOTIF BATIK GUMELEM Aji, Anggit Prasasti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29013

Abstract

Pemberian nama motif batik Gumelem muncul dari suatu komunitas pengrajin batik di Gumelem. Pengrajin dalam memberikan nama tidak dilakukan secara asal, namun di dalamnya juga terkandung sebuah makna. Bagi sebagian orang yang awam di luar komunitas batik, terkadang tidak tahu apa makna yang terkandung pada motif serta nama batik Gumelem yang dipakainya. Maka dari itu, nama-nama motif batik Gumelem perlu diketahui bentuk satuan lingual, makna leksikal, makna gramatikal, makna kultural, serta analisis komponen maknanya. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana bentuk satuan lingual yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem, 2) Bagaimana makna dan komponen makna yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem. Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah: 1) Mendeskripsi bentuk satuan lingual yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem, 2) Mendeskripsi makna dan komponen makna yang ada dalam nama-nama motif batik Gumelem. Metode agih menggunakan teknik bagi unsur langsung untuk membagi unsur langsung bentuk nama-nama motif batik Gumelem. Metode padan menggunakan metode padan referensial yaitu metode padan yang alat penentunya berupa referen bahasa. Metode padan digunakan untuk menganalisis maknanya. Penyajian hasil analisis data penelitian ini disajikan secara informal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan bentuknya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk kata dan frasa. Bentuk kata meliputi kata dasar dan kata turunan. Nama-nama motif batik Gumelem berbentuk kata berafiks, kata ulang, dan kata majemuk. Berdasarkan distribusinya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk frasa endosentrik atributif. Berdasarkan kategorinya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk frasa nominal. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan dalam pengembangan ilmu linguistik khususnya dalam elemen bentuk dan makna, 2) Penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan acuan maupun pendukung dalam melakukan penelitian selanjutnya mengenai penelitian strukturalisme, 3) Penelitian mengenai batik Gumelem perlu dikembangkan khususnya sebagai sarana pengenalan lebih luas batik Gumelem serta umumnya sebagai pelestarian budaya bangsa.   Giving the name of the Gumelem batik motif emerged from a community of batik craftsmen in Gumelem. Craftsmen in giving names are not done by origin, but inside it also contains a meaning. For some people who are lay outside the batik community, sometimes they do not know what the meaning of the motif and name of Gumelem batik is. Therefore, the names of the Gumelem batik motifs need to be known as lingual units, lexical meanings, grammatical meanings, cultural meanings, and component analysis of their meanings. The problems studied in this study are: 1) What are the forms of lingual units contained in the names of Gumelem batik motifs, 2) What are the meanings and components of meaning contained in the names of Gumelem batik motifs. The objectives to be achieved in writing this essay are: 1) Describing the form of lingual units contained in the names of Gumelem batik motifs, 2) Describing the meaning and components of meaning contained in the names of Gumelem batik motifs. The Agih method uses techniques for direct elements to divide the direct elements of the names of Gumelem batik motifs. The matching method uses a referential equivalent method, which is a matching method whose determinant is a language referent. The matching method is used to analyze the meaning. Presentation of the results of the analysis of the research data is presented informally. The results of this study indicate that based on the shape, the names of Gumelem batik motifs are in the form of words and phrases. Word forms include basic words and derivative words. The names of Gumelem batik motifs are in the form of words that are affixed, rephrased, and compound words. Based on the distribution, the names of Gumelem batik motifs are in the form of endocentric attributive phrases. Based on the category, the names of Gumelem batik motifs are in the form of nominal phrases. Research results can be utilized in the development of linguistics, especially in terms of form and meaning, 2) This research is expected to be further developed as a reference or supporting material in conducting further research on structuralism research, 3) Research on Gumelem batik needs to be developed specifically as a means of introducing more extensive Gumelem batik and generally as a preservation of national culture.
BENTUK DAN MAKNA NAMA-NAMA MOTIF BATIK GUMELEM Aji, Anggit Prasasti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29013

Abstract

Pemberian nama motif batik Gumelem muncul dari suatu komunitas pengrajin batik di Gumelem. Pengrajin dalam memberikan nama tidak dilakukan secara asal, namun di dalamnya juga terkandung sebuah makna. Bagi sebagian orang yang awam di luar komunitas batik, terkadang tidak tahu apa makna yang terkandung pada motif serta nama batik Gumelem yang dipakainya. Maka dari itu, nama-nama motif batik Gumelem perlu diketahui bentuk satuan lingual, makna leksikal, makna gramatikal, makna kultural, serta analisis komponen maknanya. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana bentuk satuan lingual yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem, 2) Bagaimana makna dan komponen makna yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem. Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah: 1) Mendeskripsi bentuk satuan lingual yang terdapat pada nama-nama motif batik Gumelem, 2) Mendeskripsi makna dan komponen makna yang ada dalam nama-nama motif batik Gumelem. Metode agih menggunakan teknik bagi unsur langsung untuk membagi unsur langsung bentuk nama-nama motif batik Gumelem. Metode padan menggunakan metode padan referensial yaitu metode padan yang alat penentunya berupa referen bahasa. Metode padan digunakan untuk menganalisis maknanya. Penyajian hasil analisis data penelitian ini disajikan secara informal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan bentuknya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk kata dan frasa. Bentuk kata meliputi kata dasar dan kata turunan. Nama-nama motif batik Gumelem berbentuk kata berafiks, kata ulang, dan kata majemuk. Berdasarkan distribusinya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk frasa endosentrik atributif. Berdasarkan kategorinya, nama-nama motif batik Gumelem berbentuk frasa nominal. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan dalam pengembangan ilmu linguistik khususnya dalam elemen bentuk dan makna, 2) Penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan acuan maupun pendukung dalam melakukan penelitian selanjutnya mengenai penelitian strukturalisme, 3) Penelitian mengenai batik Gumelem perlu dikembangkan khususnya sebagai sarana pengenalan lebih luas batik Gumelem serta umumnya sebagai pelestarian budaya bangsa. Giving the name of the Gumelem batik motif emerged from a community of batik craftsmen in Gumelem. Craftsmen in giving names are not done by origin, but inside it also contains a meaning. For some people who are lay outside the batik community, sometimes they do not know what the meaning of the motif and name of Gumelem batik is. Therefore, the names of the Gumelem batik motifs need to be known as lingual units, lexical meanings, grammatical meanings, cultural meanings, and component analysis of their meanings. The problems studied in this study are: 1) What are the forms of lingual units contained in the names of Gumelem batik motifs, 2) What are the meanings and components of meaning contained in the names of Gumelem batik motifs. The objectives to be achieved in writing this essay are: 1) Describing the form of lingual units contained in the names of Gumelem batik motifs, 2) Describing the meaning and components of meaning contained in the names of Gumelem batik motifs. The Agih method uses techniques for direct elements to divide the direct elements of the names of Gumelem batik motifs. The matching method uses a referential equivalent method, which is a matching method whose determinant is a language referent. The matching method is used to analyze the meaning. Presentation of the results of the analysis of the research data is presented informally. The results of this study indicate that based on the shape, the names of Gumelem batik motifs are in the form of words and phrases. Word forms include basic words and derivative words. The names of Gumelem batik motifs are in the form of words that are affixed, rephrased, and compound words. Based on the distribution, the names of Gumelem batik motifs are in the form of endocentric attributive phrases. Based on the category, the names of Gumelem batik motifs are in the form of nominal phrases. Research results can be utilized in the development of linguistics, especially in terms of form and meaning, 2) This research is expected to be further developed as a reference or supporting material in conducting further research on structuralism research, 3) Research on Gumelem batik needs to be developed specifically as a means of introducing more extensive Gumelem batik and generally as a preservation of national culture.
SUKSESI DALAM BABAD JAKA TINGKIR Farha, Naila
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29025

Abstract

Babad Jaka Tingkir memuat pola-pola suksesi dan pola-pola kepemimpinan yang patut untuk diteliti, sebab kepemimpinan tetap menjadi potret yang menarik untuk diperbincangkan. Namun, sejauh ini belum adanya penelitian tentang aspek kepemimpinan dalam babad Jaka Tingkir. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola suksesi yang terdapat dalam Babad Jaka Tingkir dan bagaimana peran kepemimpinan dalam struktur Babad Jaka Tingkir. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkap pola suksesi yang terdapat dalam Babad Jaka Tingkir dan mengungkap peran pola kepemimpinan dalam Babad Jaka Tingkir. Pendekatan dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra, karena penelitian ini mengungkap masalah suksesi dan kepemimpinan yang merupakan gejala sosial yang terdapat dalam teks babad serta karena sastra dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam teks Babad Jaka Tingkir ditemukan tiga pola suksesi, yaitu 1) perebutan takhta, 2) pendirian kerajaan baru, 3) genealogi, dan 4) wasiat. Melalui analisis tentang pola kepemimpinan dalam Babad Jaka Tingkir ditemukan pola kepemimpinan, seperti 1) mulat, 2) milala, 3) miluta, 4) palidharma, serta 5) palimarma. Pola kepemimpinan menjadi salah satu unsur pembangun cerita dalam Babad Jaka Tingkir di samping genealogi, fiksi, mistis, dan historiografi yakni menjadi alur utama dalam teks Babad Jaka Tingkir. The Chronicle of Jaka Tingkir contains succession patterns and leadership patterns that deserve to be studied, because leadership remains an interesting portrait to discuss. However, so far there has been no research on aspects of leadership in the Chronicle of Jaka Tingkir. The formulation of the problem in this study is how the succession pattern found in the Babad Jaka Tingkir and how the leadership role in the Babad Jaka Tingkir structure. The purpose of this study is to reveal the succession patterns found in the Babad Jaka Tingkir and reveal the role of leadership patterns in Babad Jaka Tingkir. The approach in this study is the sociology of literature, because this study reveals the problem of succession and leadership which are social symptoms contained in the text of the chronicle and because literature and society cannot be separated. The results of this study indicate that in the Babad Jaka Tingkir text three succession patterns are found , namely 1) the seizure of the throne, 2) the establishment of a new kingdom, 3) genealogy, and 4) a will. Through analysis of leadership patterns in Babad Jaka Tingkir found leadership patterns, such as 1) mulat, 2) milala, 3) miluta, 4) palidharma, and 5) palimarma. The leadership pattern is one of the building blocks of the story in the Babad Jaka Tingkir in addition to genealogy, fiction, mysticism, and historiography which is the main plot in the text of Babad Jaka Tingkir.
BAHASA JAWA DI KABUPATEN BATANG (TATARAN FONOLOGI DAN LEKSIKON) Wiladati, Ribka Andresti
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29034

Abstract

Penelitian bahasa Jawa di Kabupaten Batang adalah untuk mendeskripsikan variasi bahasa Jawa di Kabupaten Batang dalam tatarn fonologi dan leksikon dan untuk memetakan variasi bahasa Jawa di Kabupaten Batang dalam tataran fonologi dan leksikon. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoritis berupa pendekatan dialektologi dan pendekatan metodologis berupa pendekatan sinkronis. Data penelitian ini berupa tuturan lisan bahasa Jawa yang dipakai oleh penutur dan penduduk asli Kabupaten Batang. Pengambilan data dilakukan di lima titik pengamatan (TP), yaitu Kecamatan Gringsing, Kecamatan Subah, Kecamatan Wonotunggal, Kecamatan Bawang, dan Kecamatan Blado. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dengan teknik catat-rekam dan metode cakap. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar dan teknik hubung banding sebagai teknik lanjut. Pemaparan hasil analisis data menggunakan metode formal dan metode informal. Berdasarkan analisis data, pada tataran fonologi ditemukan variasi berupa perubahan bunyi dan pola suku kata. Dalam perubahan bunyi, ditemukan variasi bebas meliputi perubahan bunyi vokal pada suku kata pertama, perubahan bunyi vokal pada suku kata kedua, perubahan bunyi vokal pada suku kata pertama dan kedua, penggantian konsonan pada kosa kata pertama, dan penggantian konsonan pada suku kata kedua. Ditemukan penambahan bunyi, meliputi protesis dan paragog. Ditemukan pula pengurangan bunyi, meliputi aferesis dan sinkop. Di samping itu, juga ditemukan pergeseran bunyi, meliputi disimilasi. Dalam pola suku kata ditemukan 9 pola, meliputi V, VK, KV, KVK, KKV, KKVK, KVKK, KKKV, dan KKKVK. Pada tataran leksikon ditemukan variasi bahasa yang diduga khas di titik pengamatan jika dibandingkan dengan bahasa Jawa baku. Selain itu, bentuk leksikon yang ditemukan mengandung gejala kebahasaan di antaranya gejala onomasiologis dan semasiologis. Gejala onomasiologis ditemukan bentuk leksikon pada kata kerja, kata benda, kata sifat, kata ganti, kata sambung, dan kata tugas. Gejala semasiologis terdapat pada leksikon wit [wIt], kayu [kayu], sronggot [srɔŋgɔt], bojo [bojo], anyes [añəs] dan enyis [eñis], seger [səgər], belok [bəlɔ?], mori [mɔri], alas [alas], sedhot [səḍɔt], serot [sərɔt], koli [kɔli], arep [arəp], marai [marai]. Research in Batang Java language is Java language to describe variation in Batang in the level phonology and the lexicon and to map variations in the Java language level , Batang in phonology and lexicon . This study uses a theoretical approach to dialectology approach and methodological approaches a synchronous approach . The source of this study in the form of verbal utterances Java language spoken by native speakers in Batang. The Batang’s language were collected at five observation points ( TP ) , the District Gringsing , District Subah , District Wonotunggal , District Onions , and District Blado . The Batang’s language was collected using methods refer to the techniques and methods of record - record conversation . The Batang’s language was then analyzed using the unified method with sorting techniques as a key element of the basic techniques and circuit techniques appeal as advanced techniques . Exposure analysis using methods of formal and informal methods . Based on analysis , at the level of phonological variation is found in the form of changes in sound and syllable patterns . In a change of sound , found free variation include changes in vowel sounds on the first syllable , vowel change on the second syllable , vowel changes in the first and second syllable , consonant replacements in the first vocabulary , and replacement of consonant on the second syllable . Found addition of sound , covering protesis and paragog . Also found noise reduction , include aferesis and syncope . In addition , also found a shift in sound , covering dissimilation . In syllable patterns found 9 patterns , including V , VK , KV , KVK , KKV , KKVK , KVKK , KKKV , and KKKVK . At the level of the lexicon of language variation allegedly found in a typical observation points when compared to the standard Java language . In addition, the shape of which was found to contain lexicon linguistic symptoms of which are symptoms onomasiologis and semasiologis . Onomasiologis symptoms found in the lexicon of verb forms , nouns , adjectives , pronouns , conjunctions , and said duty . Semasiologis symptoms found in the lexicon wit [wIt], kayu [kayu], sronggot [srɔŋgɔt], bojo [bojo], anyes [añəs] dan enyis [eñis], seger [səgər], belok [bəlɔ?], mori [mɔri], alas [alas], sedhot [səḍɔt], serot [sərɔt], koli [kɔli], arep [arəp], marai [marai].
BAHASA JAWA MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN JAWA TENGAH JAWA BARAT DI KECAMATAN LOSARI KABUPATEN BREBES : KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Isfandani, Linda Novita
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 5 No 2 (2017): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v5i2.29035

Abstract

Kecamatan Losari terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kedua wilayah yang berada di perbatasan tersebut memiliki latar belakang kebahasaan yang berbeda. Kondisi tersebut mengakibatkan masyarakat di kecamatan Losari kabupaten Brebes menggunakan ragam bahasa yang berbeda dengan daerah lain. Ragam bahasa dalam hal ini adalah bahasa Jawa Banyumasandan bahasa Jawa Cirebon. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan wujud bahasa Jawa masyarakat di kecamatan Losari beserta faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoretis dan pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis yang digunakan adalah pendekatan sosiolinguistik, sedangkan pendekatan metodologis yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian berada di daerah perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Barat, tepatnya di kecamatan Losari, kabupaten Brebes. Lokasi penelitian juga diambil dari desa yang berada di kecamatan Losari, kabupaten Cirebon. Sumber data penelitian ini adalah tuturan lisan penduduk di kecamatan Losari, kabupaten Brebes yang diambil dari empat desa yaitu Kecipir, Karangjunti, Losari Lor dan Karangdempel serta tuturan lisan penduduk di kecamatan Losari, kabupaten Cirebon yang diambil dari empat desa yaitu Losari Kidul, Panggang Sari, Barisan dan Kalisari. Data penelitian berupa tuturan lisan penduduk yang berada di daerah tersebut. Data diperoleh dengan teknik rekam, teknik catat, teknik simak libat bebas cakap, teknik simak libat cakap, dan teknik wawancara. Teknik analisis data dilakukan melalui dua prosedur yaitu analisis selama proses pengumpulan data dan analisis setelah proses pengumpulan data. Hasil analisis data dipaparkan menggunakan metode informal. Hasil penelitian yang diperoleh berupa (1) wujud bahasa masyarakat di kecamatan Losari berupa pemakaian tunggal bahasa Jawa, alih kode, dan campur kode, (2) faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa masyarakat di kecamatan Losari antara lain faktor geografis, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan perkawinan. Saran yang disampaikan dalam penelitian ini adalah diharapkan kepada para pemerhati bahasa untuk melakukan penelitian lanjutan. Semoga penelitian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan. Losari District is located on the border of Central Java and West Java. The two regions on the border have different linguistic backgrounds. This condition resulted in people in the Losari sub-district of Brebes district using a variety of languages ​​that were different from other regions. The variety of languages ​​in this case is Javanese Banyumas and Cirebon Javanese. Based on this background, the purpose of this study is to examine and describe the Javanese language in the Losari sub-district along with the factors that influence the language. This study uses a theoretical approach and methodological approach. The theoretical approach used is a sociolinguistic approach, while the methodological approach used is a qualitative descriptive approach. The research location is in the border area between Central Java and West Java, precisely in Losari sub-district, Brebes district. The location of the study was also taken from villages in the Losari sub-district, Cirebon district. The data source of this research is the oral speech of residents in Losari sub-district, Brebes district taken from four villages namely Kecipir, Karangjunti, Losari Lor and Karangdempel as well as oral speeches of residents in Losari sub-district, Cirebon district taken from four villages namely Losari Kidul, Panggang Sari, Barisan and Kalisari. The research data is in the form of oral speech of residents in the area. Data were obtained by recording techniques, note-taking techniques, proficient free listening techniques, skillful listening techniques, and interview techniques. Data analysis techniques are carried out through two procedures, namely analysis during the process of data collection and analysis after the data collection process. The results of data analysis are presented using informal methods. The results obtained in the form of (1) the form of community language in Losari sub-district in the form of a single use of Javanese language, code switching, and code mixing, (2) factors that influence the use of community language in Losari sub-district include geographical, economic, educational, socio-cultural factors , and marriage. Suggestions conveyed in this study are expected to language observers to conduct further research. Hopefully this research can be a reference for further research.

Page 1 of 1 | Total Record : 8