cover
Contact Name
Rahma Ari Widihastuti
Contact Email
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285600820277
Journal Mail Official
rahmajawa@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Gedung B8 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma" : 10 Documents clear
MAKNA NAMA-NAMA KERIS DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA Septiana, Arum
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29054

Abstract

Keraton Kasunanan Surakarta sangat kaya dengan simbol-simbol kebudayaan, salah satunya adalah keris. Keindahan keris akan semakin terlihat pada seni kehidupan dan filosofinya. Keris mempunyai rahasia yang terdapat didalamnya, yaitu rahasia yang berupa falsafah kehidupan. Penamaan-penamaan keris di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dilihat dari wujud ornamen atau ricikannya. Ricikan keris dibuat berdasarkan pada paugeraning urip yaitu pusaka, wisma, kukila, turangga, dan garwa. Tidak semua masyarakat luas mengetahui makna nama-nama keris tersebut.                 Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) apakah nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta?, (2) makna apa yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna apa saja yang terdapat dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta.                 Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semantik. Pendekatan semantik digunakan untuk mengetahui makna yang terdapat pada nama-nama keris di Keraton Kasunan Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data dari penelitian ini diperoleh dari nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan dan sumber data tertulis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik observasi, teknik dokumen, dan teknik dokumentasi.                 Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta meliputi tiga makna yaitu, (1) makna leksikal, (2) makna kultural, (3) makna filosofi.                 Berdasar temuan tersebut, saran yang diharapkan dari hasil penelitian ini, sebagai salah satu wacana yang berkaitan untuk pengenalan nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Selain itu, nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta memiliki makna filosofi yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada penelitian makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan penelitian awal, sehingga ada peluang untuk melakukan penelitian dengan kajian yang berbeda  The Surakarta Kasunanan Palace is very rich in cultural symbols, one of which is a kris. The beauty of the kris will increasingly be seen in the art of life and its philosophy. Kris has a secret contained in it, namely a secret in the form of a philosophy of life. The names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace can be seen from the form of ornament or ricikannya. Kris Ricikan is made based on urip paugeraning, namely heirloom, homestead, cucila, turangga, and garwa. Not all the public knows the meaning of the names of the kris. The formulation of the problems examined in this study are (1) what are the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace ?, (2) what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace? This study aims to determine what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. The approach used in this study is a semantic approach. The semantic approach is used to find out the meaning contained in the names of the kris in the Kasunan Palace Surakarta. The method used in this research is descriptive method. Data from this study were obtained from the names of kris in the Surakarta Kasunanan Palace, while the data sources in this study were sources of oral data and written data sources. Data collection techniques in this research are observation techniques, document techniques, and documentation techniques. The findings of the research show that the meanings of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace include three meanings namely, (1) lexical meaning, (2) cultural meaning, (3) philosophical meaning. Based on these findings, the expected suggestions from the results of this study, as one of the discourses relating to the introduction of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. In addition, the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace have philosophical meanings contained in the names of the kris at the Surakarta Kasunanan Palace. In the study of the meaning of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace this was an initial study, so there was an opportunity to conduct research with dif
SERAT DONGA KHASAH DALAM KAJIAN FILOLOGIS Shofiana, Ana
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29051

Abstract

Donga Khasah (DK) tersimpan di Perpustakaan Museum Sonobudaya Yogyakarta. DK adalah naskah Jawa berhuruf Arab-Pegon memuat ajaran Islam tentang doa yang bermanfaat bagi umat. Melalui kajian secara filologis, naskah ini diteliti agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern sekarang ini. Permasalahan penelitian ini adalah belum adanya kajian secara filologis terhadap naskah DK. Untuk itu, dilakukan penelitian teks DK. Sumber data penelitian ini adalah naskah DK nomor 147 16. Naskah ini merupakan satu-satunya data, karena tidak ditemukan data lain dalam proses inventarisasi naskah yang sudah dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode edisi naskah tunggal. Adapun penerjemahan teks DK menggunakan metode terjemahan bebas. Hasil penelitian ini adalah suntingan teks DK yang sesuai cara kerja filologi, dilengkapi dengan aparat kritik, dan terjemahan teks dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan Bahasa Jawa. Teks DK merupakan satu doa yang memiliki delapan belas manfaat. Hasil dari penelitian ini dapat ditindak lanjuti dengan  penelitian di bidang linguistik dan budaya Jawa. Donga Khasah (DK) is stored in the Yogyakarta Sonobudaya Museum Library. DK is an Arabic-Pegon Javanese script containing Islamic teachings about prayer that is beneficial to the Ummah. Through a philological study, this text is examined so that it can be applied in today's modern life. The problem of this research is that there is no philological study of DK texts. For this reason, DK text research is conducted. The data source of this research is DK text number 147 16. This text is the only data, because no other data was found in the manuscript inventory process that has been carried out. The research method used is a single manuscript edition method. The translation of the DK text uses the free translation method. The results of this study are edits of DK texts that are in accordance with the workings of philology, equipped with criticism apparatus, and translations of texts in Indonesian according to the rules of the Enhanced Spelling of Javanese Language. The DK text is one prayer that has eighteen benefits. The results of this study can be followed up with research in the field of linguistics and Javanese culture.
ISTILAH-ISTILAH PENAMAAN TEMPAT WISATA DI KABUPATEN KARANGANYAR: KAJIAN ETNOLINGUISTIK Rahayu, Sri
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29039

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak tempat wisata.  Tempat wisata tersebut berupa wisata alam, sejarah, dan belanja.  Penamaan yang digunakan untuk tempat wisata ada hubungannya antara bahasa dan budaya masyarakat Kabupaten Karanganyar.  Hubungan tersebut dapat dibuktikan dengan adanya istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini merumuskan masalah (1) bagaimana bentuk satuan bahasa istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, (2)  bagaimana makna leksikal dan makna kultural istilah-istilah tersebut, (3) bagaimana fungsi dari makna tersebut.  Adapun tujuan penelitian ini (1) mendeskripsi bentuk satuan bahasa istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, (2)  mendeskripsi makna leksikal dan makna kultural istilah-istilah tersebut, dan (3) mendeskripsi fungsi makna tersebut. Data penelitian ini meliputi data primer yang berupa buku dan dokumen resmi, serta data sekunder yang berupa informasi dari narasumber yang mengetahui tentang tempat wisata di Kabupaten Karanganyar.  Teknik yang digunakan yaitu teknik studi pustaka, wawancara, rekam, dan catat.  Analisis yang digunakan adalah analisis bahasa struktural dan analisis etnolinguistik terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar. Penelitian menghasilkan (1) bentuk satuan bahasa yang wujudnya berupa frasa nominal simpleks modifikatif dan frasa nominal kompleks modifikatif pada istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, (2) makna satuan bahasa istilah-istilah tersebut berupa makna leksikal dan makna kultural, dan (3) pola pemikiran masyarakat Kabupaten Karanganyar dalam istilah-istilah penamaan tempat wisata digunakan untuk menyatakan konservasi alam, pelestarian sejarah, ajaran turun temurun, sarana spiritual, penghormatan tokoh masyarakat, status sosial, letak daerah, dan penggunaan teknologi. Hasil penelitian ini diharapakan dapat menambah pengetahuan mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, serta menjadi acuan untuk penelitian etnolinguistik dengan objek penelitian dalam bidang yang sama maupun berbeda.  Karanganyar Regency is one of the districts that has many tourist attractions.  The tourist attractions are in the form of nature, history and shopping.  Naming used for tourist attractions has a relationship between the language and culture of the Karanganyar Regency community.  This relationship can be proven by the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency.  This study formulates the problem (1) how the forms of language units are terms used in naming tourist attractions in Kabupaten Karanganyar, (2) how are lexical meanings and the cultural meaning of these terms, (3) how is the function of that meaning.  The purpose of this study (1) describes the form of language units the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency, (2) describing the lexical meaning and cultural meaning of these terms, and (3) describing the function of the meaning.  includes primary data in the form of books and official documents, as well as secondary data in the form of information from informants who know about tourist attractions in Karanganyar Regency.  The techniques used are library research techniques, interviews, records, and notes.  The analysis used is structural language analysis and ethnolinguistic analysis of the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency.  The study yields (1) the form of language units in the form of modific simplex nominal phrases and modifiable nominal complex phrases in terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency, (2) the meaning of language units in terms of lexical meaning and cultural meaning, and (3) thinking patterns of the Karanganyar Regency in terms of naming tourist attractions are used to express nature conservation, historical preservation, hereditary teachings, spiritual means, respect for community leaders, social status, location, and use of technology.  The results of this study are expected to increase knowledge about the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency, as well as a reference for ethnolinguis research tick with the object of research in the same or different fields.
PENIRUAN BAHASA JAWA ANAK USIA BALITA PADA TAHAP PRAOPERASI DI PERUMAHAN BUKIT KENCANA JAYA SEMARANG Melatiningtyas, Elfa Rindi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29038

Abstract

Peniruan bahasa jawa merupakan salah satu cara anak di perumahan bukit kencana jaya semarang belajar berbicara menggunakan bahasa jawa. Peniruan bahasa jawa juga bisa menjadi sarana anak tersebut bercakap-cakap dan bergaul dengan orang lain. Peniruan bahasa jawa dilakukan anak pada tahap praoperasi, yaitu tahap ketika anak tidak terikat pada ingatan akan suatu objek, situasi, maupun lingkungan tertentu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsi bentuk dan faktor yang memengaruhi peniruan bahasa jawa anak usia balita pada tahap praoperasi di perumahan bukit kencana jaya. Hasil penelitian ini adalah tuturan bahasa jawa anak balita dan faktor-faktor yang melatarbelakangi peniruan bahasa jawa. Penelitian ini menunjukkan bahwa peniruan bahasa jawa pada anak balita di perumahan bukit kencana jaya dapat dijelaskan berdasarkan aspek perkembangan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Faktor-faktor yang menyebabkan peniruan bahasa jawa pada anak balita di perumahan bukit kencana jaya yaitu 1) perkembangan kognitif anak, 2) perkembangan sosial anak, 3) language acquisition device (lad), 4) urutan perolehan bahasa, 5) kecerdasan, 6) kedisiplinan, 7) urutan kelahiran, 8) status sosial ekonomi, dan 9) diskriminasi.  Imitation of Javanese language is one of the ways children in the Bukit Kencana Jaya Housing Semarang learn to speak using Javanese. Imitation of Javanese language can also be a means for the child to converse and get along with other people. Imitation of Javanese language is carried out by the child at the preoperative stage, which is the stage when the child is not bound to the memory of an object, situation, or certain environment. This study aims to describe the shape and factors that influence the imitation of Javanese language in children under five at the preoperative stage in the Bukit Kencana Jaya housing complex. The results of this study are Javanese language speech of children under five and the factors behind the imitation of Javanese language. This study shows that imitation of Javanese language in children under five in the Bukit Kencana Jaya housing can be explained based on aspects of phonological, morphological, syntactic, semantic, and pragmatic development. Factors that cause imitation of Javanese language in children under five in Bukit Kencana Jaya housing are 1) cognitive development of children, 2) social development of children, 3) language acquisition device (lad), 4) sequence of language acquisition, 5) intelligence, 6) discipline, 7) birth order, 8) socioeconomic status, and 9) discrimination.
BAHASA JAWA DI KABUPATEN KEBUMEN: KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI Arifudin, Arifudin
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29037

Abstract

Kabupaten Kebumen terletak di wilayah bagian selatan Provinisi Jawa Tengah atau sebelah barat kota Yogyakarta. Pemakaian bahasa Jawa di Kebumen mayoritas menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan, tidak menutup kemungkinan terdapat variasi bahasa antara satu tempat dengan tempat yang lainnya yang disebabkan oleh faktor geografis dan faktor sosial. Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana variasi bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen berdasarkan tataran fonologi; (2) bagaimana variasi leksikon (kosakata) bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen beradasarkan faktor sosial (usia, pekerjaan dan pendidikan) penutur. Tujuan penelitian ini adalah (1) memperoleh kejelasan deskritif variasi bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen berdasarkan tataran fonologi; (2) memperoleh kejelasan deskriptif variasi leksikon (kosakata) bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen berdasarkan faktor sosial (usia, pekerjaan dan pendidikan) penutur. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoretis sosiolinguistik dan dialektologi. Implikasi dari pendekatan itu adalah penelitian ini memfokuskan kajian pada pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen dengan melibatkan faktor sosial pemakainya. Secara metodelogis, penelitian ini menggunakan pendekatan sinkronis kualitatif. Data penelitian ini data lisan dan data tulis dengan sumber yang sama yaitu dari penduduk asli Kabupaten Kebumen. Pengambilan data dilakukan di tiga titik pengamatan (TP), yaitu Desa Tunggalroso Kecamatan Prembun,  Desa Lohgede Kecamatan Pejagoan, Desa Jatijajar Kecamatan Ayah. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode wawancara kemudian teknik catat dan rekam. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar. Pemaparan hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Temuan dari hasil penelitian pada bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen kajian sosiodialektologi yakni (1) pada tataran fonologi ditemukan variasi vokal dan konsonan serta variasi berupa perubahan bunyi yang meliputi variasi bebas, penambahan, pengurangan, serta pergeseran bunyi; (2) faktor sosial pekerjaan, pendidikan dan usia mempengaruhi variasi kosakata bahasa Jawa dan ditemukan gejala onomasiologis  di Kabupaten Kebumen. Hasil penelitian diharapakan dapat menjadi pemicu untuk dilakukan penelitian lanjutan, terutama pada bidang-bidang bahasa yang belum terjamah seperti variasi  dalam tataran morfologi.   Kebumen Regency is located in the southern part of Central Java province ranked or west of the city of Yogyakarta. Java language use in Kebumen majority uses the Java language dialect Banyumasan, it is possible language variations from one place to another place due to geographical factors and social factors. The research problem is (1) how the Java language variation in Kebumen based phonological level; (2) how variations in the lexicon (vocabulary) Java language in Kebumen beradasarkan social factors (age, occupation and education) speakers. The purpose of this study were (1) to obtain descriptive clarity Java language variation in Kebumen based phonological level; (2) obtain a variety of descriptive clarity lexicon (vocabulary) Java language in Kebumen based on social factors (age, occupation and education) speakers. This study uses a theoretical approach sociolinguistics and dialectology. The implication of this approach is that the study focuses on the study of the use of the Java language in Kebumen by involving social factors wearer. In methodogical, this study used a qualitative approach to synchronous. This research data Data oral and writing of data with the same source, namely from the natives Kebumen. Data were collected at three observation points (TP), the Village Tunggalroso Prembun the District, the District Pejagoan Lohgede village, the village of the District Jatijajar father. Data collection method used in this study later interview notes and recording techniques. Data were analyzed by using the method of sorting technique and match with the decisive element as basic techniques. Exposure data analysis using formal and informal methods. The findings of the research on the Java language in Kebumen sosiodialektologi study: (1) at the level of phonological found variations in vowel and consonant sounds and variations of such changes that include free variation, addition, subtraction, as well as the shift in the sound; (2) social factors of work, education and age affect the Java language and vocabulary variations found onomasiologis symptoms in Kebumen.The research result is expected to be a trigger for further research, particularly in areas such as language unspoiled variation in morphological level.
BAHASA JAWA DI KABUPATEN KEBUMEN: KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI Arifudin Arifudin
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29037

Abstract

Kabupaten Kebumen terletak di wilayah bagian selatan Provinisi Jawa Tengah atau sebelah barat kota Yogyakarta. Pemakaian bahasa Jawa di Kebumen mayoritas menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan, tidak menutup kemungkinan terdapat variasi bahasa antara satu tempat dengan tempat yang lainnya yang disebabkan oleh faktor geografis dan faktor sosial. Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana variasi bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen berdasarkan tataran fonologi; (2) bagaimana variasi leksikon (kosakata) bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen beradasarkan faktor sosial (usia, pekerjaan dan pendidikan) penutur. Tujuan penelitian ini adalah (1) memperoleh kejelasan deskritif variasi bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen berdasarkan tataran fonologi; (2) memperoleh kejelasan deskriptif variasi leksikon (kosakata) bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen berdasarkan faktor sosial (usia, pekerjaan dan pendidikan) penutur. Penelitian ini menggunakan pendekatan teoretis sosiolinguistik dan dialektologi. Implikasi dari pendekatan itu adalah penelitian ini memfokuskan kajian pada pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen dengan melibatkan faktor sosial pemakainya. Secara metodelogis, penelitian ini menggunakan pendekatan sinkronis kualitatif. Data penelitian ini data lisan dan data tulis dengan sumber yang sama yaitu dari penduduk asli Kabupaten Kebumen. Pengambilan data dilakukan di tiga titik pengamatan (TP), yaitu Desa Tunggalroso Kecamatan Prembun, Desa Lohgede Kecamatan Pejagoan, Desa Jatijajar Kecamatan Ayah. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode wawancara kemudian teknik catat dan rekam. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar. Pemaparan hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Temuan dari hasil penelitian pada bahasa Jawa di Kabupaten Kebumen kajian sosiodialektologi yakni (1) pada tataran fonologi ditemukan variasi vokal dan konsonan serta variasi berupa perubahan bunyi yang meliputi variasi bebas, penambahan, pengurangan, serta pergeseran bunyi; (2) faktor sosial pekerjaan, pendidikan dan usia mempengaruhi variasi kosakata bahasa Jawa dan ditemukan gejala onomasiologis di Kabupaten Kebumen. Hasil penelitian diharapakan dapat menjadi pemicu untuk dilakukan penelitian lanjutan, terutama pada bidang-bidang bahasa yang belum terjamah seperti variasi dalam tataran morfologi. Kebumen Regency is located in the southern part of Central Java province ranked or west of the city of Yogyakarta. Java language use in Kebumen majority uses the Java language dialect Banyumasan, it is possible language variations from one place to another place due to geographical factors and social factors. The research problem is (1) how the Java language variation in Kebumen based phonological level; (2) how variations in the lexicon (vocabulary) Java language in Kebumen beradasarkan social factors (age, occupation and education) speakers. The purpose of this study were (1) to obtain descriptive clarity Java language variation in Kebumen based phonological level; (2) obtain a variety of descriptive clarity lexicon (vocabulary) Java language in Kebumen based on social factors (age, occupation and education) speakers. This study uses a theoretical approach sociolinguistics and dialectology. The implication of this approach is that the study focuses on the study of the use of the Java language in Kebumen by involving social factors wearer. In methodogical, this study used a qualitative approach to synchronous. This research data Data oral and writing of data with the same source, namely from the natives Kebumen. Data were collected at three observation points (TP), the Village Tunggalroso Prembun the District, the District Pejagoan Lohgede village, the village of the District Jatijajar father. Data collection method used in this study later interview notes and recording techniques. Data were analyzed by using the method of sorting technique and match with the decisive element as basic techniques. Exposure data analysis using formal and informal methods. The findings of the research on the Java language in Kebumen sosiodialektologi study: (1) at the level of phonological found variations in vowel and consonant sounds and variations of such changes that include free variation, addition, subtraction, as well as the shift in the sound; (2) social factors of work, education and age affect the Java language and vocabulary variations found onomasiologis symptoms in Kebumen.The research result is expected to be a trigger for further research, particularly in areas such as language unspoiled variation in morphological level.
PENIRUAN BAHASA JAWA ANAK USIA BALITA PADA TAHAP PRAOPERASI DI PERUMAHAN BUKIT KENCANA JAYA SEMARANG Melatiningtyas, Elfa Rindi
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29038

Abstract

Peniruan bahasa jawa merupakan salah satu cara anak di perumahan bukit kencana jaya semarang belajar berbicara menggunakan bahasa jawa. Peniruan bahasa jawa juga bisa menjadi sarana anak tersebut bercakap-cakap dan bergaul dengan orang lain. Peniruan bahasa jawa dilakukan anak pada tahap praoperasi, yaitu tahap ketika anak tidak terikat pada ingatan akan suatu objek, situasi, maupun lingkungan tertentu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsi bentuk dan faktor yang memengaruhi peniruan bahasa jawa anak usia balita pada tahap praoperasi di perumahan bukit kencana jaya. Hasil penelitian ini adalah tuturan bahasa jawa anak balita dan faktor-faktor yang melatarbelakangi peniruan bahasa jawa. Penelitian ini menunjukkan bahwa peniruan bahasa jawa pada anak balita di perumahan bukit kencana jaya dapat dijelaskan berdasarkan aspek perkembangan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Faktor-faktor yang menyebabkan peniruan bahasa jawa pada anak balita di perumahan bukit kencana jaya yaitu 1) perkembangan kognitif anak, 2) perkembangan sosial anak, 3) language acquisition device (lad), 4) urutan perolehan bahasa, 5) kecerdasan, 6) kedisiplinan, 7) urutan kelahiran, 8) status sosial ekonomi, dan 9) diskriminasi. Imitation of Javanese language is one of the ways children in the Bukit Kencana Jaya Housing Semarang learn to speak using Javanese. Imitation of Javanese language can also be a means for the child to converse and get along with other people. Imitation of Javanese language is carried out by the child at the preoperative stage, which is the stage when the child is not bound to the memory of an object, situation, or certain environment. This study aims to describe the shape and factors that influence the imitation of Javanese language in children under five at the preoperative stage in the Bukit Kencana Jaya housing complex. The results of this study are Javanese language speech of children under five and the factors behind the imitation of Javanese language. This study shows that imitation of Javanese language in children under five in the Bukit Kencana Jaya housing can be explained based on aspects of phonological, morphological, syntactic, semantic, and pragmatic development. Factors that cause imitation of Javanese language in children under five in Bukit Kencana Jaya housing are 1) cognitive development of children, 2) social development of children, 3) language acquisition device (lad), 4) sequence of language acquisition, 5) intelligence, 6) discipline, 7) birth order, 8) socioeconomic status, and 9) discrimination.
ISTILAH-ISTILAH PENAMAAN TEMPAT WISATA DI KABUPATEN KARANGANYAR: KAJIAN ETNOLINGUISTIK Rahayu, Sri
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29039

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak tempat wisata. Tempat wisata tersebut berupa wisata alam, sejarah, dan belanja. Penamaan yang digunakan untuk tempat wisata ada hubungannya antara bahasa dan budaya masyarakat Kabupaten Karanganyar. Hubungan tersebut dapat dibuktikan dengan adanya istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini merumuskan masalah (1) bagaimana bentuk satuan bahasa istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, (2) bagaimana makna leksikal dan makna kultural istilah-istilah tersebut, (3) bagaimana fungsi dari makna tersebut. Adapun tujuan penelitian ini (1) mendeskripsi bentuk satuan bahasa istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, (2) mendeskripsi makna leksikal dan makna kultural istilah-istilah tersebut, dan (3) mendeskripsi fungsi makna tersebut. Data penelitian ini meliputi data primer yang berupa buku dan dokumen resmi, serta data sekunder yang berupa informasi dari narasumber yang mengetahui tentang tempat wisata di Kabupaten Karanganyar. Teknik yang digunakan yaitu teknik studi pustaka, wawancara, rekam, dan catat. Analisis yang digunakan adalah analisis bahasa struktural dan analisis etnolinguistik terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar. Penelitian menghasilkan (1) bentuk satuan bahasa yang wujudnya berupa frasa nominal simpleks modifikatif dan frasa nominal kompleks modifikatif pada istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, (2) makna satuan bahasa istilah-istilah tersebut berupa makna leksikal dan makna kultural, dan (3) pola pemikiran masyarakat Kabupaten Karanganyar dalam istilah-istilah penamaan tempat wisata digunakan untuk menyatakan konservasi alam, pelestarian sejarah, ajaran turun temurun, sarana spiritual, penghormatan tokoh masyarakat, status sosial, letak daerah, dan penggunaan teknologi. Hasil penelitian ini diharapakan dapat menambah pengetahuan mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam penamaan tempat wisata di Kabupaten Karanganyar, serta menjadi acuan untuk penelitian etnolinguistik dengan objek penelitian dalam bidang yang sama maupun berbeda. Karanganyar Regency is one of the districts that has many tourist attractions. The tourist attractions are in the form of nature, history and shopping. Naming used for tourist attractions has a relationship between the language and culture of the Karanganyar Regency community. This relationship can be proven by the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency. This study formulates the problem (1) how the forms of language units are terms used in naming tourist attractions in Kabupaten Karanganyar, (2) how are lexical meanings and the cultural meaning of these terms, (3) how is the function of that meaning. The purpose of this study (1) describes the form of language units the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency, (2) describing the lexical meaning and cultural meaning of these terms, and (3) describing the function of the meaning. includes primary data in the form of books and official documents, as well as secondary data in the form of information from informants who know about tourist attractions in Karanganyar Regency. The techniques used are library research techniques, interviews, records, and notes. The analysis used is structural language analysis and ethnolinguistic analysis of the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency. The study yields (1) the form of language units in the form of modific simplex nominal phrases and modifiable nominal complex phrases in terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency, (2) the meaning of language units in terms of lexical meaning and cultural meaning, and (3) thinking patterns of the Karanganyar Regency in terms of naming tourist attractions are used to express nature conservation, historical preservation, hereditary teachings, spiritual means, respect for community leaders, social status, location, and use of technology. The results of this study are expected to increase knowledge about the terms used in naming tourist attractions in Karanganyar Regency, as well as a reference for ethnolinguis research tick with the object of research in the same or different fields.
SERAT DONGA KHASAH DALAM KAJIAN FILOLOGIS Shofiana, Ana
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29051

Abstract

Donga Khasah (DK) tersimpan di Perpustakaan Museum Sonobudaya Yogyakarta. DK adalah naskah Jawa berhuruf Arab-Pegon memuat ajaran Islam tentang doa yang bermanfaat bagi umat. Melalui kajian secara filologis, naskah ini diteliti agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern sekarang ini. Permasalahan penelitian ini adalah belum adanya kajian secara filologis terhadap naskah DK. Untuk itu, dilakukan penelitian teks DK. Sumber data penelitian ini adalah naskah DK nomor 147 16. Naskah ini merupakan satu-satunya data, karena tidak ditemukan data lain dalam proses inventarisasi naskah yang sudah dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode edisi naskah tunggal. Adapun penerjemahan teks DK menggunakan metode terjemahan bebas. Hasil penelitian ini adalah suntingan teks DK yang sesuai cara kerja filologi, dilengkapi dengan aparat kritik, dan terjemahan teks dalam bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan Bahasa Jawa. Teks DK merupakan satu doa yang memiliki delapan belas manfaat. Hasil dari penelitian ini dapat ditindak lanjuti dengan penelitian di bidang linguistik dan budaya Jawa. Donga Khasah (DK) is stored in the Yogyakarta Sonobudaya Museum Library. DK is an Arabic-Pegon Javanese script containing Islamic teachings about prayer that is beneficial to the Ummah. Through a philological study, this text is examined so that it can be applied in today's modern life. The problem of this research is that there is no philological study of DK texts. For this reason, DK text research is conducted. The data source of this research is DK text number 147 16. This text is the only data, because no other data was found in the manuscript inventory process that has been carried out. The research method used is a single manuscript edition method. The translation of the DK text uses the free translation method. The results of this study are edits of DK texts that are in accordance with the workings of philology, equipped with criticism apparatus, and translations of texts in Indonesian according to the rules of the Enhanced Spelling of Javanese Language. The DK text is one prayer that has eighteen benefits. The results of this study can be followed up with research in the field of linguistics and Javanese culture.
MAKNA NAMA-NAMA KERIS DI KERATON KASUNANAN SURAKARTA Septiana, Arum
Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa Vol 6 No 1 (2018): Sutasoma
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sutasoma.v6i1.29054

Abstract

Keraton Kasunanan Surakarta sangat kaya dengan simbol-simbol kebudayaan, salah satunya adalah keris. Keindahan keris akan semakin terlihat pada seni kehidupan dan filosofinya. Keris mempunyai rahasia yang terdapat didalamnya, yaitu rahasia yang berupa falsafah kehidupan. Penamaan-penamaan keris di Keraton Kasunanan Surakarta dapat dilihat dari wujud ornamen atau ricikannya. Ricikan keris dibuat berdasarkan pada paugeraning urip yaitu pusaka, wisma, kukila, turangga, dan garwa. Tidak semua masyarakat luas mengetahui makna nama-nama keris tersebut. Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) apakah nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta?, (2) makna apa yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna apa saja yang terdapat dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semantik. Pendekatan semantik digunakan untuk mengetahui makna yang terdapat pada nama-nama keris di Keraton Kasunan Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data dari penelitian ini diperoleh dari nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan dan sumber data tertulis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik observasi, teknik dokumen, dan teknik dokumentasi. Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta meliputi tiga makna yaitu, (1) makna leksikal, (2) makna kultural, (3) makna filosofi. Berdasar temuan tersebut, saran yang diharapkan dari hasil penelitian ini, sebagai salah satu wacana yang berkaitan untuk pengenalan nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Selain itu, nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta memiliki makna filosofi yang terkandung dalam nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta. Pada penelitian makna nama-nama keris di Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan penelitian awal, sehingga ada peluang untuk melakukan penelitian dengan kajian yang berbeda The Surakarta Kasunanan Palace is very rich in cultural symbols, one of which is a kris. The beauty of the kris will increasingly be seen in the art of life and its philosophy. Kris has a secret contained in it, namely a secret in the form of a philosophy of life. The names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace can be seen from the form of ornament or ricikannya. Kris Ricikan is made based on urip paugeraning, namely heirloom, homestead, cucila, turangga, and garwa. Not all the public knows the meaning of the names of the kris. The formulation of the problems examined in this study are (1) what are the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace ?, (2) what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace? This study aims to determine what meaning is contained in the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. The approach used in this study is a semantic approach. The semantic approach is used to find out the meaning contained in the names of the kris in the Kasunan Palace Surakarta. The method used in this research is descriptive method. Data from this study were obtained from the names of kris in the Surakarta Kasunanan Palace, while the data sources in this study were sources of oral data and written data sources. Data collection techniques in this research are observation techniques, document techniques, and documentation techniques. The findings of the research show that the meanings of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace include three meanings namely, (1) lexical meaning, (2) cultural meaning, (3) philosophical meaning. Based on these findings, the expected suggestions from the results of this study, as one of the discourses relating to the introduction of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace. In addition, the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace have philosophical meanings contained in the names of the kris at the Surakarta Kasunanan Palace. In the study of the meaning of the names of the kris in the Surakarta Kasunanan Palace this was an initial study, so there was an opportunity to conduct research with dif

Page 1 of 1 | Total Record : 10