cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 424 Documents
ANALISIS PENGARUH VARIASI MUSIMAN TERHADAP DISPERSI NO2 DI KOTA TANGERANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL WRF-CHEM Sofyan, Asep; Faisal, Irvan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Nitrogen dioksida (NO2) merupakan salah satu pencemar udara yang sebagian besar diemisikan ke atmosfer melalui aktivitas transportasi yang terbentuk akibat adanya reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara ketika pembakaran bahan bakar pada temperatur tinggi. NO2 merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan partikulat matter (PM) dan ozon troposferik yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Kota Tangerang merupakan salah satu kota di Banten yang memiliki perkembangan pesat di berbagai bidang, termasuk ekonomi, industri, dan transportasi. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pencemar udara yang diemisikan oleh aktivitas-aktivitas tersebut. Dispersi dari pencemar udara di suatu wilayah sangat bergantung pada kondisi meteorologi dari wilayah tersebut. Analisis pengaruh variasi musiman dari pencemar udara dapat dilakukan dengan menggunakan model WRF-Chem. Simulasi dengan menggunakan WRF-Chem dilakukan dengan menggunakan inventarisasi emisi Kota Tangerang. Simulasi dilakukan selama 3 hari di musim basah dan musim kering, dengan domain paling dalam memiliki resolusi spasial 1 km dan resolusi temporal 1 jam. Hasil simulasi kualitas udara di bulan basah dan bulan kering menunjukkan bahwa dispersi NO2 di Kota Tangerang sangat dipengaruhi oleh kondisi sirkulasi angin laut di daerah tersebut. Ketika musim kering, monsun Australia akan memperkuat sirkulasi angin darat di malam hari, namun memperlemah sirkulasi angin laut di siang hari. Ketika musim basah, sirkulasi angin laut akan diperkuat oleh monsun Asia namun memperlemah angin darat di malam hari. Selain kondisi angin, tingkat kestabilan atmosfer juga mempengaruhi variasi diurnal dari konsentrasi NO2. Di siang hari, kondisi atmosfer yang cenderung tidak stabil akan mengakibatkan konsentrasi NO2 terdispersi secara vertikal. Di malam hari, kondisi atmosfer yang lebih stabil mengakibatkan NO2 akan terdispersi secara horizontal. Kata kunci: pemodelan pencemaran udara, NO2, WRF-Chem Abstract: Nitrogen dioxide (NO2) are are air pollutants emitted mainly from vehicle combustion  which formed by a reaction between nitrogen and oxigen during fuel combustion in high temperature. NO2 is important in particulate matter (PM) and tropospheric ozone production that could harm human health. Tangerang is one major city in Banten that have rapid development in various sector, including economy, industry, and transportation. This rapid development causing an increase of air pollutant emitted by these activities. Air pollutant dispersion is very dependent with meteorological condition in the Tangerang. Seasonal variation of air pollutant could be done with WRF-Chem model. Simulation using WRF-Chem is done using Tangerang emission inventory for 3 days during wet season and dry season, with spatial resolution of 1 km in the finest domain and temporal resolution of 1 hour. The simulations show the dispersion of NO2 in Tangerang are following the sea breeze flow wind pattern both in dry and wet season. During dry season, Australian monsoon will strengthen landbreeze circluation in the night, but weaken seabreeze circulation in the day. During wet season, Asian monsoon will strengthen seabreeze circulation but weaken landbreeze circulation. The dispersion of NO2 also closely connected to atmosphere stability condition. During day, the unstable atmosphere causing the NO2 dispersed more vertically, while during night, NO2 is dispersed far horizontally caused by stable atmosphere.Keywords: air pollution model, NO2, WRF-Chem
AKUMULASI KROMIUM PADA PISTIA STRATIOTES DALAM CONSTRUCTED WETLAND TIPE FREE WATER SURFACE UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL Muntalif, Barti Setiani; Brilian, Putri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Laju produksi yang tinggi dalam kegiatan perindustrian mengakibatkan peningkatan dalam jumlah limbah yang dihasilkan sehingga berpotensi untuk mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri dapat mengandung bahan yang bersifat Berbahaya dan Beracun atau dikenal sebagai Bahan B3, seperti logam berat kromium. Kromium banyak digunakan dalam proses produksi oleh berbagai macam jenis industri, salah satunya adalah industri tekstil. Limbah cair industri tekstil mengandung kromium dengan konsentrasi tinggi. Kandungan kromium dalam bentuk heksavalen sangat berbahaya karena bersifat toksik. Teknologi pengolahan yang memiliki efisiensi dari segi biaya, hasil, dan ramah lingkungan untuk meremediasi limbah yang mengandung kromium adalah dengan Constructed Wetland (CW). Namun demikian masih diperlukan berbagai penelitian untuk meningkatkan efektifitas dari sistem CW, sehingga dapat memberikan masukan terhadap penentuan alternatif pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja sistem CW tipe Free Water Surface dan mengetahui efisiensi penyisihan bahan pencemar dalam limbah dengan berbagai variasi konsentrasi kromium dan beban organik, juga mengkaji faktor bioakumulasi pada tumbuhan yang digunakan dalam sistem, Pada penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap dua sistem CW yang diberi perlakuan limbah, yaitu Sistem Free Water Surface (FWS) dengan Pistia stratiotes (FWS+Ps), dan Sistem Free Water Surface (FWS) tanpa Pistia stratiotes (FWS?Ps). Pistia stratiotes merupakan makrofita tipe free floating. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan limbah artifisial dengan variasi konsentrasi COD 50, 100, dan 150 ppm, dan variasi konsentrasi kromium 1,2 dan 3 ppm selama 10 hari. Parameter yang dianalisis berupa DO, pH, kekeruhan, TSS, nitrat, posfat, COD, kromium, dan kualitas lingkungan. Hasil menunjukan bahwa efisiensi optimum penyisihan Kromium berturut-turut mencapai 60%, 66%, 76%, 73%, 78%,dan 77%, sedangkan efisiensi optimum penyisihan COD berturut-turut mencapai 79%, 72%, 75%, 66%, 88%, dan 94% pada variasi 1,2/50, 3/50, 1,2/100, 3/100, 1,2/150, dan 3/150. Nilai akumulasi kromium lebih besar pada bagian akar dibandingkan dengan taruk. Model yang dapat digunakan dalam menentukan hubungan antara penyisihan senyawa pencemar dan penurunan konsentrasi nutrisi yang direpresentasikan sebagai nitrat dan posfat dalam sistem Constructed Wetland tipe Free Water Surface menggunakan Pistia stratiotes adalah : COD = -0,066 x + 0,107 y + 61,419 dan Krom = -0,030 x + 0,099 y +47,255. Kata kunci : Constructed wetland, Free Water Surface, Kromium, Limbah Cair Tekstil, Pistia stratiotes.Abstract: High production of an industry activity causes rising waste that is produced. It potentially made the pollution on environment and impacted for human health. Waste is produced by industry activity which can be contained poison and risky pollution substance (B3), such as chromium metal. Many chromium is used in a process of variety industry kinds, one of them is a textile industry. Waste water of textile industry contains a chromium with high concenteration. Chromium on heksavalen is very risky because it contains a toxic. Technology processing has an efficiency of cost, result and friendly environment for chromium waste that is contained by Constructed Wetland (CW). However, some observation are still needed for increasing the effectivity CW system. It can be separated chromium substance of a waste, for example observing model of CW by seeing various type of water flow and plant-life. Also, bio-accumulation factor in the plants, it gives an input on deciding alternative waste processed. In this study, four systems of CW are observed by waste-treating. They are Free Water Surface Pistia stratiotes (FWS+Ps), and Free Water Surface without Pistia stratiotes (FWS-Ps). Pistia stratiotes is a macrophyte type of free floating. This study uses artificial waste with variety concentrate of COD 50, 100, and 150 ppm, also variety concentrate of chromium 1,2, and 3 during ten days. The parameters analyzed were DO, pH, turbidity, TSS, nitrate, phosphate, COD, chromium, and environmental quality. The results showed that the optimum efficiency of Chromium removal reached 60%, 66%, 76%, 73%, 78%, and 77%, while the optimumefficiency of COD allowance reached 79%, 72%, 75%, 66% respectively. , 88%, and 94% in variations 1,2 / 50, 3/50, 1,2 / 100, 3/100, 1,2 / 150, and 3/150. The accumulated value of chromium is greater in the root part compared to taruk. The model that can be used in determining the relationship between polluting compounds and decreasing the concentration of nutrients represented as nitrate and phosphate in the Constructed Wetland type of Free Water Surface using Pistia stratiotes are: COD = -0,066 x + 0,107 y + 61,419 and Chrome = -0,030 x + 0.099 y +47,255.Keywords: Constructed Wetland, Free Water Surface, Chromium, Textile Wastewater, Pistia stratiotes.
KAJIAN SISA UMUR PAKAI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SUMUR BATU KOTA BEKASI DENGAN OPTIMALISASI SISTEM PENGOLAHAN Ainun, Siti; Tuzzahra, Najmi Nafisa
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Timbulan sampah dari Kota Bekasi yang terangkut ke TPA Sumur Batu baru sebesar 40% dari timbulan sampah Kota Bekasi yaitu sebanyak 400-800 ton/hari dan terus meningkat dengan laju peningkatan timbulan sampah 0,12% setiap tahunnya. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi untuk mengurangi jumlah timbulan sampah yang masuk ke zona aktif adalah melalui pengadaan teknologi Waste to Energy (WTE). Teknologi Waste to Energy (WTE) berupa sampah yang dijadikan briket/pellet Refuse Derived Fuel (RDF) yang kemudian briket/pellet tersebut dijadikan bahan bakar dalam proses pembangkit listrik di TPA Sumur Batu. Karakteristik sampah Kota Bekasi seperti kadar air, kadar volatil, kadar abu dan nilai kalor sudah memenuhi standar karaktersitik sampah yang dapat dijadikan Refuse Derived Fuel (RDF), sehingga dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE) dapat mengurangi volume sampah hingga 90%. Berdasarkan hasil observasi, pengoperasian landfill di TPA Sumur Batu belum sesuai dengan kriteria desain sehingga terjadi penumpukan sampah yang menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan,untuk itu dilakukan pengoperasian landfill yang sesuai dengan kriteria desain dengan adanya pengaturan kemiringan dan ketinggian sampah. Melalui pemodelan pengoperasian landfill sesuai dengan kriteria desain pada seluruh zona dengan menggunakan AutoCAD Land Desktop dapat diketahui total sisa volume TPA Sumur Batu sebesar 581.397 m3, yang kemudian akan diproyeksikan dengan timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu untuk mengetahui sisa umur pakai.  Pada penelitian ini dilakukan kajian sisa umur pakai TPA Sumur Batu tanpa mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) dan dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE), sehingga dapat menjadi bahan rekomendasi untuk pihak pengelola terkait pengoperasian Waste to Energy (WTE). Sisa umur pakai tanpa upaya mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) adalah 183 hari dan sisa umur pakai dengan mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE)  adalah 1424 hari.Kata kunci: Sisa Umur Pakai, Karakteristik Sampah, Waste to Energy (WTE) Abstract: Waste generation from Bekasi City which is transported to Sumur Batu Solid Waste Disposal Site is only 40% of the garbage generation in Bekasi City, which is 400-800 tons / day and continues to increase with the rate of increase in waste generation 0.12% annually. Efforts made by the Bekasi City Government to reduce the amount of waste generation entering the active zone are through the procurement of Waste to Energy (WTE) technology. Waste to Energy (WTE) technology in the form of waste is used as a briquette / pellet Refuse Derived Fuel (RDF) which is then used as a fuel in the process of generating electricity at the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site. The characteristics of Bekasi City waste such as water content, volatile content, ash content and calorific value have met the waste characteristics standards that can be used as Refuse Derived Fuel (RDF), so that by operating Waste to Energy (WTE) can reduce waste volume up to 90%. Based on observations, landfill operation in the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site has not been in accordance with the design criteria, so there is a buildup of waste that has a negative impact on the environment. For this reason, the operation of the landfill is in accordance with the design criteria by setting the slope and height of the waste. Through the modeling of landfill operations in accordance with the design criteria for all zones using the AutoCAD Land Desktop, the total remaining volume of the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site is 581,397 m3, which will then be projected with waste generation entering the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site to find out the useful life. A study of the useful life of the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site without operating Waste to Energy (WTE) technology and by operating Waste to Energy (WTE) so that it can be used as a recommendation for management regarding the operation of Waste to Energy (WTE). The useful life without attempts to operate Waste to Energy (WTE) technology is 183 days and the useful life by operating Waste to Energy (WTE) technology is 1424 days.Keywords: Useful life, Characteristics of Waste, Waste to Energy (WTE)
ANALISIS RISIKO DENGAN METODE HAZARD AND OPERABILITY STUDY (HAZOPS) DALAM PENENTUAN SAFETY INTEGRITY LEVEL (SIL) BERBASIS RISK GRAPH DAN QUANTITATIVE METHOD PADA UNIT BOILER PT X Oginawati, Katharina; Ahmad, Badrun
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Boiler beroperasi pada temperatur dan tekanan tinggi sehingga memiliki risiko ledakan. Untuk itu boiler memiliki sistem kontrol untuk mengendalikan bahaya temperatur dan tekanan tinggi menggunakan Safety Instrumented Systems (SIS). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Safety Integrity Level (SIL) yang menunjukan kinerja dari SIS pada boiler PT X. Penelitian ini dimulai dengan menganalisis risiko menggunakan metode hazard operability study (Hazops) untuk mendapatkan skor risiko. Hasil analisis metode Hazops menunjukkan skor risiko tertinggi pada unit boiler final superheater dan reheater sebesar 25, sedangkan skor risiko evaporator, low temperatur superheater, dan platen superheater sebesar 20. Skor tertinggi ini dikategorikan critical, sehingga risiko tidak dapat diterima dan pengendalian harus secepatnya dilakukan. Risiko terendah pada economizer dengan skor 10. Penentuan SIL menggunakan dua metode yaitu metode risk graph dan metode kuantitatif. Analisis dengan metode risk graph pada SIS unit boiler economizer menunjukkan kontrol dapat dilakukan secara manual. Sedangkan penentuan SIL pada evaporator dan low temperatur superheater menghasilkan SIL 1. Analisis risk graph pada unit boiler platen superheter, final superheater, dan reheater menghasilkan SIL 2 di semua SIS pada 3 unit ini. Penentuan SIL secara kuantitatif pada platen superheater dan final superheater menghasilkan SIL 1. Unit reheater menghasilkan SIL 2. Ini menunjukkan perlu adanya peningkatan dari SIL 1 menjadi SIL 2 pada platen superheater dan final superheater dengan mengubah desain safety instrumented function dan mengurangi waktu kalibrasi dari 1 tahun menjadi 6 bulan. Kata kunci: boiler, hazops, sil, risk graph, quantitative method Abstract: Boiler operated at high temperatures and pressures so it has a risk of explosion. Therefore, the boiler has an automatic control system to minimize the hazard of high temperatures and pressures using Safety Instrumented Systems (SIS). The purpose of this research is to determine Safety Integrity Level (SIL) which is the performance of SIS. This research begins to analyze risk using the hazard operability study method (Hazops) to get a risk score. The results of the Hazops method analysis showed the highest risk score on the final superheater and reheater boiler units of 25, while the evaporator score, the superheater low temperature, and the superheater platen were 20 categorized as critical so control must be done as soon as possible. The lowest risk on economists with a score of 10. SIL determination uses two methods are the risk graph method and the quantitative method. Analysis uses the risk graph method on the SIS boiler economizer unit shows that control can be done manually. While SIL on evaporator and low temperature superheater results SIL 1. Risk graph analysis on the superheter platen boiler unit, final superheater, and reheater produces SIL 2 in all SIS in these 3 units. Quantitative determination of SIL on the platen superheater and final superheater shows SIL 1. The reheater unit shows SIL 2. The results of the analysis indicate that there is an increase from SIL 1 to SIL 2 on the platen superheater and final superheater by changing the safety instrumented function design and reducing calibration time from 1 year to 6 months. Keywords: boiler, hazops, sil, risk graph, quantitative method 
ANALISIS POLA VARIABILITAS OZON STRATOSFER DAN BAHAN PERUSAK OZON SERTA PENGARUHNYA TERHADAP INDEKS UV DI WILAYAH INDONESIA TERKAIT PROTOKOL MONTREAL Dewi, Kania; Wulandari, Riris Ayu
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Ozon pada lapisan stratosfer berperan sebagai pelindung dari radiasi ultraviolet. Penggunaan bahan perusak ozon (BPO) pada kegiatan manusia membuat berkurangnya konsentrasi ozon stratosfer. Adanya Protokol Montreal dapat mengontrol produksi dan konsumsi BPO. Meskipun demikian, beberapa penelitian menyatakan bahwa konsentrasi ozon stratosfer masih belum meningkat. Konsentrasi BPO yang berada di lapisan stratosfer (berupa BrO dan ClO) perlu diamati secara temporal dan spasial dengan menggunakan data satelit (sensor Microwave Limb Sounders (MLS) satelit Aura) sehingga ruang lingkup pengamatannya dapat lebih lama dan lebih luas. Lebih lanjut, konsentrasi ozon stratosfer yang rendah dapat mengakibatkan tingginya indeks UV (UVI). Penelitian ini difokuskan untuk wilayah Indonesia dari tanggal 1 Januari 2005 hingga 31 Januari 2017, dengan melakukan perhitungan korelasi antara BPO dan ozon stratosfer. Dari pembuatan profil vertikal, didapat bahwa konsentrasi ozon maksimum berada di ketinggian 10 hPa (31 km), konsentrasi BrO maksimum pada 31,6 hPa (24 km), dan konsentrasi ClO maksimum pada 2,1 hPa (42 km). Korelasi antara ozon dan BrO paling kuat (-0,58) berada pada ketinggian 6,8 hPa atau 33,5 km. Sementara itu, korelasi antara ozon dan ClO yang paling kuat (-0,43) berada pada ketinggian 4,6 hPa atau 36 km. Kaitan antara UVI dan ozon stratosfer dengan nilai korelasi negatif terbesar (-0,5987) berada pada ketinggian 1 hPa atau 47,7 km. Sementara itu, pengurangan jumlah ozon total di atmosfer cukup mempengaruhi UVI dengan korelasi negatif sebesar -0,25. Kata kunci: ozon stratosfer, BPO, indeks UV, MLS/Aura Abstract: Ozone in the stratospheric layer acts as a protector of ultraviolet radiation. The use of ozone- depleting substances (ODS) in human activities has reduced the concentration of stratospheric ozone. The existence of the Montreal Protocol can control ODS production and consumption. Nonetheless, several studies suggest that stratospheric ozone concentration has not increased. ODS concentrations in the stratosphere layer (in the form of BrO and ClO) need to be observed temporally and spatially using satellite data (Microwave Limb Sounders (MLS) Aura satellite sensor) so that the scope of observation can be longer and wider. Low stratospheric ozone concentrations can result in a high UV (UVI) index. This study focused on Indonesia from January 1, 2005 to January 31, 2017, by calculating the correlation between ODS and stratospheric ozone. From the vertical profile, it was found that the maximum ozone concentration was at 10 hPa (31 km), maximum BrO concentration at 31.6 hPa (24 km), and maximum ClO concentration at 2.1 hPa (42 km). The strongest correlation between ozone and BrO (-0.58) occur at 6.8 hPa or 33.5 km. Meanwhile, the strongest correlation between ozone and ClO (-0.43) occur at 4.6 hPa or 36 km. The greatest negative correlation between UVI and stratospheric ozone (-0.5987) occurred at 1 hPa or 47.7 km. Meanwhile, the reduction in total ozone in the atmosphere affected increasing of UVI with a negative correlation of -0.25. Keywords: stratospheric ozone, ODS, UV index, MLS/Aura
ANALISIS FAKTOR PENANGANAN DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI JATINANGOR Rahardyan, Benno; Khoeroni, Muhammad Hafizh
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kawasan Jatinangor yang termasuk ke dalam kawasan Cekungan Bandung dan tergolong sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) menuntut pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai sentral kawasan pendidikan tinggi dan perumahan. Empat instansi pendidikan tinggi yang terdapat di kawasan ini yang menyebabkan berdatangannya para pendatang mahasiswa sekurangnya 30 ribu jiwa yang akan berdomisili beberapa tahun di Kecamatan ini. Jika diasumsikan 70% dari total populasi pendatang tersebut bertempat tinggal di Jatinangor yang mana pendatang tersebut memiliki tingkat konsumsi tinggi, ditambah dengan predikat Jatinangor sebagai kecamatan terpadat di kabuxpaten Sumedang maka akan mengakibatkan tingkat produktivitas sampah yang meningkat pesat dan diikuti dengan perubahan karakteristik sampah yang dihasilkan. Akibatnya sampah menjadi surplus dan tidak terkelola dengan baik akibat keterbatasan SDM dan sistem pengelolaan yang sederhana. Pada riset akan diukur tingkat pernanganan sampah oleh masyarakat di Jatinangor di 3 kawasan yaitu Hegarmanah, Cintamulya, dan Jatiroke yang ditinjau melalui 5 variabel (keadaan masyrakat, sarana prasarana, pembiayaan, peran pemerintah, dan kelembagaan. Pada kawasan Hegarmanah mendapatkan skor akhir 0,2/1 dan Cintamulya 0,25/1 yang memberikan predikat ?Kurang Baik? pada kedua kawasan tersebut. Sementara kawasan Jatiroke bernilai -0,12/-1 yang memberikan predikat ?Buruk? dan perlu penanganan lebih lanjut. Secara rerata Jatinangor memiliki nilai 0,1/1 dan mengindikasikan perlunya perbaiikan penanganan sampah oleh masyarakatnya. Selain itu juga diukur tingkat preferensi masyarakat di Jatinangor yang memberikan skor akhir 0,64/1 yang memberikan predikat baik pada tingkat preferensi masyarakat. Didalam penelitian ini akan diungkapkan faktor apa saja yang melatarbelakangi tingkat preferensi masyarakat tersebut berdasarkan buruknya tingkat penanganan sampah di masyarakat pada 3 kawasan tersebut menggunakan analisis faktor dengan metode PCA (Principal Component Analysis) dan regresi multilinear yang menghasilkan 7 dari 13 faktor kelompok variabel penanganan sampah yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat. Serta melalui analisis klaster preferensi masyarakat yang teridentifikasi 2 klaster (rendah & tingi) dengan dominasi 1 faktor kelemahan dan 2 faktor kekuatan pada kedua klaster. Kata kunci: analisis faktor, Jatinangor, PCA, preferensi masyarakat.Abstract: Jatinangor area which belongs to Bandung Basin area and classified as National Strategic Area (KSN) demands government to make the area as central of college and housing area. Four college institutions in this area resulted in the arrival of the student migrants at least 30 thousand inhabitants who will be domiciled for several years in this district. In addition, If it is assumed that 70% of the total migrant population live in Jatinangor where the migrants have a lifestyle with a high consumption level, and Jatinangor as the densest subdistrict in Sumedang district will result in a level of waste productivity that increases rapidly and followed by changes in the characteristics of waste generated. The research will measure the level of garbage handling by the people in Jatinangor in 3 regions, namely Hegarmanah, Cintamulya, and Jatiroke which are reviewed through 5 variables (community conditions, infrastructure, funding, government roles, and institutions. In the Hegarmanah region the final score is 0.2 / 1 and Cintamulya 0.25 / 1 which give the title of "Poor" in the two regions. While the Jatiroke area is worth -0.12 / -1 which gives the title "Bad" and needs further handling. On average, Jatinangor has a value of 0 1/1 and indicates the need to improve the handling of waste by the community. This research also measured the level of preference of the people in Jatinangor. In this study, what factors will lie behind the level of community preference based on the poor level of waste management in the 3 regions using factor analysis using the PCA (Principal Component Analysis) method and multilinear regression which produces 7 of the 13 variable group factors that handle waste. significant effect on the level of people's preference. And through community preference cluster analysis that identified 2 clusters (low & high) with a predominance of 1 weakness factor and 2 strength factors in both clusters. Keywords: community?s preference, factor analysis, Jatinangor, PCA.
DRAINASE WAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN KONSERVASI AIR BOPUNCUR Sabar, Arwin; Tigana, Princenvo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstrak: Perubahan tutupan lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung hulu memberikan pengaruh yang cukup dominan terhadap debit banjir di wilayah hilirnya yaitu Jakarta. Fenomena tersebut terjadi di DAS Ciliwung hulu dikarenakan oleh daerah Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNCUR) dan sekitarnya banyak mengalami perubahan tutupan lahan, dari kawasan hutan menjadi kawasan pertanian. Tahap penelitian mencakup analisis hidrologi dan analisis spasial. Analisis hidrologi dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu melihat hubungan hujan dan debit, ekstrimitas debit, dan debit rencana kering dan banjir. Hubungan hujan dan debit dapat dilihat dengan persamaan regresi linear sederhana yang menunjukkan kecenderungan nilai koefisien limpasan yang meningkat dan nilai baseflow yang menurun. Ekstrimitas debit didapatkan menggunakan metode moving average lima tahunan yang menunjukkan terjadinya ekstrimitas debit. Debit rencana kering dan banjir dapat ditentukan dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi dan uji kesesuaian distribusi. Analisis spasial dilakukan dengan cara meng-overlay peta-peta spasial guna mendapatkan nilai indeks konservasi. Peta spasial yang digunakan mencakup peta kelerengan, peta jenis tanah, dan peta tutupan lahan. Nilai indeks konservasi alami (IKa) DAS Ciliwung hulu yang diperoleh sebesar 0,75, sedangkan nilai indeks konservasi aktual (IKc) yang diperoleh untuk periode 2001 ? 2007 berada dibawah nilai IKA. Hal ini menunjukkan terjadi degradasi lahan yang mengakibatkan kondisi kawasan DAS Ciliwung hulu un-sustainable. Konsep drainase wawasan lingkungan dan aplikasi rekayasa teknis diterapkan di Perumahan My Residence 1 Bogor untuk dapat mencapai zero limpasan. Penerapan sumur resapan skala individu dengan diameter 0,8 m dan kedalaman minimum 1,3 m dapat mengurangi debit air yang masuk ke dalam saluran hingga lebih dari 50%. Hal ini menunjukkan penerapan konsep drainase wawasan lingkungan dan aplikasi rekayasa teknis dapat mewujudkan tercapainya zero limpasan. Kata kunci: perubahan tutupan lahan, DAS Ciliwung hulu, indeks konservasi, sumur resapan Abstract: Changes in the land cover of the Ciliwung watershed have a dominant influence on the flood discharge in the downstream region, namely Jakarta. This phenomenon occurs in the upstream Ciliwung watershed because the Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNCUR) and surrounding areas increasingly change land cover, from forest areas to agricultural areas. The research phase includes hydrological analysis and spatial analysis. Hydrological analysis was carried out in several places, namely looking at the relationship of rain and discharge, extreme discharge, and discharge of dry and flood plans. The relationship of rain and discharge can be seen with a simple linear regression equation that shows increased runoff coefficient value and baseflow value decreases. Extreme discharge uses a five-year moving average method that shows extreme discharge. Dry and flood discharge plans can be determined using distribution analysis and distribution conformity tests. Spatial analysis is done by overlaying spatial maps to get the conservation index value. Spatial maps used include slope maps, soil type maps, and land cover maps. The natural conservation index (IKa) value of the upstream Ciliwung watershed is 0.75, while the actual approval index value (IKc) obtained for the period 2001 - 2007 is below the IKA value. This shows that land degradation occurred in the area of the upstream Ciliwung watershed. The environmental drainage concept and technical engineering applications is applied in My Residence 1 Bogor Housing to be able to achieve zero runoff. The application of infiltration wells with an individual scale with a diameter of 0.8 m and a minimum depth of 1.3 m can reduce the water discharge entering the drainage by more than 50%. This shows the application of environmental drainage concept and technical engineering can realize the achievement of zero runoff. Keywords: land use change, upper Ciliwung river basin, conservation index, infiltration well 
IDENTIFIKASI SEBARAN LOGAM BERAT ARSEN (AS) DARI SISTEM PANAS BUMI PADA AIR TANAH DANGKAL DENGAN METODE KRIGING Notodarmojo, Suprihanto; Afifah, Nuha Amiratul
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Arsen adalah elemen jejak bersifat toksik dan dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Salah satu sumber paparan arsen untuk manusia adalah melalui air tanah. Air tanah yang terindikasi memiliki kandungan arsen tinggi salah satunya adalah air tanah yang berada pada lokasi yang terpengaruh oleh sistem panas bumi. Kontaminasi arsen pada air tanah merupakan suatu permasalahan global yang cukup serius dan  telah didapati kontaminasi arsen pada air tanah terjadi di Taiwan, Chile, Bangladesh, Argentina, Meksiko, China, dan India. Sub-DAS Ciwidey merupakan area di salah satu lereng Gunung Patuha yang terletak di selatan Cekungan Bandung memiliki banyak manifestasi panas bumi yang merupakan salah satu sumber polutan alami yang merupakan polutan vulkanogenik. Penelitian yang dilakukan pada sampel air tanah dangkal di Sub-DAS Ciwidey menunjukkan bahwa konsentrasi arsen berkisar 0.001 mg/l sampai dengan 3.25 mg/l, melebihi batas aman yang telah ditetapkan oleh WHO dan Indonesia yaitu 0.01 mg/l. Metode geostatistik dengan Simple Kriging tanpa transformasi memberikan hasil prediksi yang paling akurat. Interpretasi kehadiran arsen berdasarkan analisa geokimia air tanah menggunakan Diagram Schoeller menunjukkan hasil bahwa air tanah di lokasi studi berasal dari sumber yang sama, dan terpengaruh oleh sistem panas bumi. Dengan demikian, maka diperkirakan sebanyak 430,600 jiwa berisiko terpapar oleh kontaminasi arsen di air tanah dangkal yang melebihi batas aman yang telah ditetapkan WHO. Kata kunci: arsen, panas bumi, air tanah dangkal, Sub-DAS Ciwidey, metode kriging Abstract: Arsenic is a toxic trace element that can cause various negative impacts on human health. One of arsenic exposure source for humans is through groundwater. One of groundwater indicated with high arsenic content, is groundwater in a location affected by geothermal systems. Arsenic contamination in groundwater is a serious global problem and arsenic contamination in groundwater has occurred in Taiwan, Chile, Bangladesh, Argentina, Mexico, China and India. Ciwidey Sub-watershed is an area on Mount Patuha slope located in the south of Bandung Basin has many geothermal manifestations which is one source of volcanogenic pollutant, including arsenic. A study conducted on shallow groundwater samples in Ciwidey Sub-watershed showed that arsenic concentrations ranged from 0.001 mg/L to 3.25 mg/L, exceeded the safe limits established by WHO and Indonesia. Geostatistical methods with Simple Kriging without transformation provide the most accurate prediction results. Interpretation of arsenic presence based on groundwater geochemical analysis using Schoeller Diagram shows the result that groundwater at the study site comes from the same source, which is influenced by geothermal system. Thus, an estimated 430,600 people are at risk of exposure to arsenic contamination in shallow groundwater beyond the safe limits established by WHO. Keywords: arsenic, geothermal, shallow groundwater, Ciwidey Sub-watershed, kriging method
ANALISA STRATEGI KEBERLANJUTAN TPS 3R DALAM UPAYA MINIMASI PENGANGKUTAN SAMPAH KE TPA (STUDI KASUS : PROGRAM TPS 3R KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT) Damanhuri, Enri; Zafira, Athaya Dhiya
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Berdasarkan data tahun 2016, beban sampah di TPA Sarimukti mencapai 3.000 m3 setiap harinya. Kondisi ini menyebabkan TPA Sarimukti sudah jenuh dan masa aktifnya seharusnya sudah berakhir sejak tahun 2017. Kabupaten Bandung sebagai salah satu kabupaten yang menjadi wilayah pelayanan TPA Sarimukti terpaksa harus mencari alternatif TPA lain. Salah satu alternatif yang direncanakan untuk menangani hal tersebut sesuai dengan amanat Perpres Jakstranas, yakni sejumlah TPST direncanakan dibangun dan pengoptimalan kembali TPST serta TPS 3R yang ada di wilayah studi. Namun kenyataannya saat ini di wilayah Kabupaten Bandung sebenarnya telah terbangun 112 TPS 3R, namun 88 diantaranya tidak aktif. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi fasilitas TPS 3R yang telah terbangun saat ini dan merumuskan strategi-strategi untuk peningkatan kinerja dan keberlanjutan TPS 3R. Metoda yang digunakan ialah analisa deskriptif kualitatif dan kuantitatif, serta analisis matriks IFAS, EFAS, dan matriks SWOT. Berdasarkan hasil analisa IFAS dan EFAS, diperoleh nilai strength posture sebesar 0,421 dan nilai competitive posture sebesar 0,063. Posisi nilai tersebut bila diposisikan pada kuadran strategi perencanaan berada pada kuadran 1. Alternatif strategi yang direkomendasikan yakni pengembangan (strategi agresif) atau strategi S-O. Strategi yang diusulkan yakni pembentukan seksi khusus di pemerintahan yang bertugas sebagai aparat penegak peraturan terkait pemilahan sampah sejak dari sumber dan retribusi, riset dan pengembangan produk TPS 3R melalui diversifikasi produk, dan kolaborasi/kerja sama dengan pihak lain seperti kerja sama antar TPS 3R, dengan pihak swasta, LSM, atau dinas pertanian dan pertamanan. Rekomendasi skenario pengelolaan sampah di masa mendatang yakni pengoptimalan TPS 3R terbangun dengan minimal cakupan pelayanan sebesar 500 KK. Hal ini dengan pertimbangan bahwa alternatif terpilih pada tahun 2020 mampu mengurangi sampah terangkut ke TPA sebesar + 7300 ton/tahun, menghemat biaya operasional pengangkutan sebesar Rp. +3,5 milyar/tahun.,dan mengurangi emisi sebesar 1.268 MTCO2e/tahun dibandingkan kondisi business as usual.Kata kunci: keberlanjutan, sampah, strategi, SWOT, TPS 3R Abstract: Based on data in 2016, waste load in Sarimukti Landfill reaches 3.000 m3 each day. This condition caused Sarimukti Landfill to be saturated and the active period should?ve ended since 2017. Therefore, Bandung Regency Government has to look for another landfill alternative as a substitute for Sarimukti Landfill to become final processing site for waste produced by Bandung Regency. One of the alternatives planned to deal with this issue is in accordance with presidential mandate of Jakarta Regional Regulation, such as a number of TPST are planned to be built and re-optimalization of existing TPST and TPS 3R in area of study. However, currently in Bandung Regency there are actually 112 TPS 3R with unfortunately 88 of them inactive. Therefore, this study aim to evaluate current TPS 3R facilities that have been built and formulate strategies to improve TPS 3R performances and maintain the program?s sustainability. Method used in this research is descriptive qualitative and quantitative analysis, IFAS, EFAS, as well as SWOT matrix analysis. Results of TPS 3R evaluation show that there are 10 variables that influence 3R-based waste management sustainability such as, regulations, organizations, mentoring, counseling, monitoring (qualitatively evaluated), and technical variables, financing, reduction efficiency, Public satisfaction and participation (quantitatively evaluated). Based on the results of IFAS and EFAS analysis, obtained a posture strength value of 0,421 and a competitive posture value of 0,063. Position of the value when positioned in the planning strategy quadrant is in quadrant 1, therefore, recommended for planning strategy is development (aggressive strategy) or S-O Strategy. The proposed strategy are as follows: regulations enforcement related to sorting waste from sources and levies, improving the quality of TPS 3R products through products diversification, and collaboration with other parties.Future waste management scenario recommended yakni pengoptimalan is TPS 3R optimization with at least serving 500 KK. This is decided because the chosen alternative can reduce transported waste to TPA up to 7300 ton/year in 2020, saving transport and operational expenditures up to +3,5 billion Rupiah/year and reduce emission up to 1.268 MTCO2e/year compared to business as usual condition. Keywords : strategy sustainability, SWOT, TPS 3R, waste.
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PADA JARINGAN PIPA TRANSMISI CRUDE OIL DI PERUSAHAAN MIGAS Ariesyady, Herto Dwi; Martaningtyas, Megahapsari
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kegiatan operasi di bidang migas telah banyak dilakukan, baik itu dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta. PT. X merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, pengolahan serta produksi minyak dan gas bumi di Indonesia yang menggunakan sistem perpipaan dalam proses distribusinya. Penggunaan sistem perpipaan sebagai sarana untuk menyalurkan produk minyak dan gas dianggap lebih efektif dan efisien dari segi kapasitas dan jarak yang ditempuh. Proses penyaluran di area utara PT. X menggunakan fasilitas jalur pipa offshore dan onshore sebagai sarana distribusi produksi minyak mentah. Apabila terjadi kegagalan pada jalur pipa maka dapat mengakibatkan dampak kerugian yang besar seperti kebocoran, tumpahan, dan ledakan. Oleh karena tingginya potensi bahaya dan risiko tersebut maka perlu dilakukan penilaian risiko pada sistem perpipaan yang digunakan, termasuk risiko pada jaringan pipa transmisi crude oil. Pada penelitian ini dilakukan analisis risiko dengan pendekatan loss prevention and risk assessment yang dikembangkan oleh Muhlbauer (2004). Hasil penelitian ini menunjukkan faktor risiko yang paling besar memberikan kontribusi terhadap kemungkinan kegagalan jalur pipa transmisi minyak 18 inci dari A platform sampai S terminal adalah faktor kerusakan oleh pihak ketiga. Segmen pipa yang paling berisiko untuk mengalami kegagalan yang menyebabkan kebocoran tertinggi adalah pada segmen pipa offshore. Sedangkan faktor konsekuensi dengan nilai dampak tertinggi adalah pada segmen riser. Analisis risiko ledakan atau kebakaran dengan metode Dow?s F & EI pada pipa transmisi memiliki nilai sebesar 113,168 dengan kategori intermediate. Hasil tersebut menyatakan bahwa pihak manajemen perusahaan harus memperhatikan dan mengawasi secara lebih seksama pada jaringan pipa transmisi, sehingga dapat melakukan tindakan mitigasi risiko secara cepat apabila terjadi kegagalan pipa. Kata kunci: crude oil, Dow?s F & EI, metode Muhlbauer, pipa transmisi, risk assessment Abstract: Oil and gas operations have been carried out widely, both managed by the government and private parties. PT. X is one of the companies engaged in the exploration, processing and production of oil and gas in Indonesia that used pipeline system in the distribution processes of oil and gas. The use of pipeline systems was considered more effective and efficient in terms of capacity and distance passed by to distribute oil and gas. The operation processes in the northern area of PT. X use offshore and onshore pipeline facilities to distribute crude oil. The event of a failure on the pipeline can cause major loss impacts such as leaks, spills and explosions. The high potential hazards and risks need to be carried out by risk assessment on the pipeline system used, including the risks in the transmission pipeline network of crude oil. In this research, risk analysis with loss prevention and risk assessment approach developed by Muhlbauer (2004), is measured using semi-quantitative pipeline risk on third party index of damage index, corrosion, pipe design, improper operation. The results of this study indicate that the biggest risk factor contributing to the possibility of failure of the 18-inch oil transmission pipeline from A platform to S terminal is the damage factor by third parties. The pipe segment which is most at risk for failure which causes the highest leakage is in the offshore pipeline segment. Whereas the consequence factor with the highest impact value is in the riser segment. Explosion or fire risk analysis with Dow's F & EI method on transmission pipes has a value of 113.168 with an intermediate category. The results stated that the management of the company must pay close attention to and supervise the transmission pipeline network, so that it can carry out risk mitigation actions quickly if a pipe failure occurs. Keywords: crude oil, Dow?s F & EI, Muhlbauer method, risk assessment, transmission pipe

Page 1 of 43 | Total Record : 424