cover
Contact Name
SYARIATI
Contact Email
jurnalsyariati@gmail.com
Phone
+6285643277998
Journal Mail Official
jurnalsyariati@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Sains Al-Qur`an
Location
Kab. wonosobo,
Jawa tengah
INDONESIA
SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
ISSN : 24599778     EISSN : 25991507     DOI : https://doi.org/10.32699/syariati
Jurnal Syariati adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Sains Al-Qur`an. Terbit pertama kali tahun 2015. Jurnal ini fokus pada studi Al-Qur`an dan Hukum dengan berbagai pendekatan keilmuan. Redaksi mengundang para ahli, peneliti, dan segenap civitas akademika untuk menulis artikel sesuai dengan topik jurnal. Artikel yang dimuat tidak selalu mencerminkan redaksi ataupun institusi lain yang terkait dengan penerbitan jurnal. Frekuensi terbit jurnal Syariati (Jurnal Studi Qur`an dan Hukum) ialah bulan Mei dan November (2) dua kali setahun. Jurnal ber ISSN Nomor 2459-9778.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum" : 10 Documents clear
Musyârakah dalam Ekonomi Islam (Aplikasi Musyârakah dalam Fiqih dan Perbankan Syariah) Mila Fursiana Salma Musfiroh
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1127

Abstract

Pesatnya perkembangan dunia ekonomi khususnya lembaga-lembaga keuangan Islam atau perbankan Islam yang usaha pokoknya mengadakan transaksi produk-produk bank yang Islami, yakni notabene harus terhindar dari unsur riba, terhindardari transaksi bâṭil, dan terhindar dari prinsip kezaliman. Berangkat dari sinilah kemudian diangkat salah satu konsep ekonomi Islam musyârakah (Partnership, Project Financing, Trust Invesment ) yang dalam operasionalnya menghendaki adanya profit and loss sharing (PLS) baik dalam keuntungan maupun kerugian,aplikasi dalam fiqh dan perbankan Islam. Musyârakah merupakan suatu akad kerjasama antara dua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung sesuai dengan kesepakatan atau kebolehan. Para ulama fiqh sepakat tentang keabsahan atau kebolehan praktek musyârakah ini secara global, sehingga mendapat pengakuan dan legalitas syar’i. Sedangkan pada bank-bank Islam praktek musyârakah telah mengalami perkembangan sehingga berbeda dengan apa yang ditemukan dalam fiqh.
Ganti Rugi Akibat Mal-Praktek Kelalaian Medik: Komparasi Hukum Islam dan Hukum Perdata Nurma Khusna Khanifa
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1125

Abstract

Negligence istilah dalam kedokteran, begitu juga istilah dalam mal-praktek (medical malpractice). Permasalahan timbul akibat hubungan kurang baik antara pasien dengan petugas kesehatan atas dasar mutual understanding, mutual trust dan mutual respect. Dasar inilah yang disebut sebagai perjanjian yang menimbukkan ganti rugi atau wan-prestasi salah satu pihak. Hukum di Indonesia mengatur sendiri mengenai mal-praktek dalam medical law, akan tetapi mengikuti aturan hukum perdata. Sedang hukum Islam pedoman way of life mengharuskan proteksi.
Konsep Diyat dalam Diskursus Fiqh Aksamawanti Aksamawanti
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1126

Abstract

This article aims to provide an overview of the concept of blood-money paymentsin fiqh. Wi is a treasure that must be paid and provided by the offender to the victim or his guardian jinayah damages, caused jinayah made by the offender tokorban yang done. Wi assigned to someone because, first, intentional homicide offenders were pardoned by the family were killed. second, manslaughter; third, asimilar murder intentional; ketiga, crime on other people. Blood-money paymentform can be a camel, gold, silver, based on some of the provisions of hadith. The objective of the diyat is a human survival in the world, preventive measures sothat people do not kill each other which would result in chaos in society, terhadap protection of victims, and to uphold justice in society.
Integrasi Aspek Legal dan Moral dalam Hukum Islam Isa Agus Amsori
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1122

Abstract

Dengan detail Al-Qur`an membahas isu-isu fundamental untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil, baik dan buruk, mana yang sesuai kaidah moral dan mana yang imoral. Prinsip-prinsip ajaran Al-Qur`an ditempatkan sebagai standar prilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima, meskipun -dalam perspektif lebih sempit- hukum Islam tidak spesifik membedakan moral dan peraturan hukum. Kaidah hukum dan kaidah moral memiliki perbedaan tujuan. Hukum bertujuan untuk menciptakan ketertiban dan ketenteraman masyarakat, sedangkan moral mempunyai tujuan untuk menyempurnakan kehidupan individu seseorang. Kaidah hukum terjabarkan dari kaidah moral, karena kaidah moral merupakan kaidah terpenting dari semua kaidah yang ada. Hubungan hukum dan moral adalah moralitas; suatu perbuatan menyatakan bahwa perbuatan itu sesuai dengan kaidah moral, legalitas suatu perbuatan menyatakan bahwa perbuatan itu sesuai dengan kaidah hukum. Pada prinsipnya, distingsi antara hukum dan moral terletak pada perbedaan dalam tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh kedua jenis kaidah itu dalam konteks hukum
Prinsip Keadilan dalam Pemberian Ganti Rugi Pada Perjanjian Baku Pengangkutan Barang Maya Yogiana Pramudita
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1123

Abstract

Perusahaan pengangkutan khususnya dalam hal ini pengangkutan barang dalam menjalankan kegiatan usahanya terkadang menggunakan suatu bentuk perjanjian yang dibuat secara baku. Dalam perjanjian baku tersebut pihak pengangkut telah menyiapkan terlebih dahulu klausula-klausula dalam perjanjian dan pihak pengirim hanya bisa menyetujuinya tanpa memiliki kesempatan untuk bernegosiasi mengubah klausula-klausula yang sudah dibuat oleh pihak pengangkut. Pada kenyataannya, masih ada pihak pengangkut yang melakukan pembatasan tanggungjawab dalam pemberian ganti rugi kepada pengirim jika muncul kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengangkut dan hal tersebutdituangkan dalam perjanjian baku yang dibuat oleh pihak pengangkut. Ketentuan pemberian ganti rugi tersebut akan menimbulkan persoalan bila pihak pengirim tidak menyetujui ganti rugi yang telah diberikan oleh pihak pengangkut disebabkan pemberian ganti rugi oleh pihak pengangkut tidak memenuhi rasa keadilan bagi pihak pengirim dan akibatnya hal tersebut dapat menimbulkan sengketa di antara para pihak. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah prinsip keadilan dalam pemberian ganti rugi pada perjanjian baku khususnya pada pengangkutan barang.
Polemik Asy-Syafi’i dengan Mazhab Fiqih Klasik: Potret Dinamika Berpikir Metodologis Akmal Bashori
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1124

Abstract

Diskursus hukum Islam pada faktanya memang sangat menarik untuk dikaji dan diperdebatkan karena ia bukan dogmatism taken for granted, melainkan produk hukum yang lahir dari nalar manusia. Corak nalar yang selalu berkelindan dalam setiap akal manusia selalu mengalami dinamika yang mengesankan bagi peradaban (fiqih) Islam sejak generasi sahabat hingga era formatif mazhab fiqih mencapai kesempurnaan. Hal tersebut memberikan arti kepada kita bahwa nalar perubahan hukum sangat berpotensi melahirkan polemik. Asy-Syafi’i sebagai tokoh pendiri mazhab moderat, ternyata juga tak mampu meredam polemic, bahkan asy-Syafi’i terseret dalam pusaran konflik pemikiran antar ulama mazhab sezaman. Meskipun demikian, berkat gagasan pemikiran metodologisnya, ia dianggap sebagai pahlawan yang di kukuhkan oleh generasi setelahnya sebagai pendiri uṣûl al-fiqh, walaupun ada yang berpandangan skeptis jika tidak dikatakan banyak yang menjustifikasikannya.
Arah Baru Pengembangan Studi ‘Ulûmul Qur`ân: Rekonstruksi Atas Teori Makkî Dan Madanî Muhammad Husni Arafat
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1118

Abstract

Al-Qur`an merupakan wahyu sekaligus mu’jizat terakhir yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah Saw. Pasca mangkatnya Rasulullah Saw. , untuk menjawab persoalan-persoalan keagamaan yang ada dibutuhkan suatu bentuk ijtihad yang kemudian melahirkan Ilmu-ilmu Al-Qur`an (‘Ulûm Al-Qur`ân), dimana salah satu cabang dari ilmu tersebut adalah ilmu Makkî dan Madanî. Artikel ini bertujuan untuk menjawab persoalan-persoalan seputar pengertian dari makkî dan madanî, perkembangan makkî dan madanî, signifikansi dan arti penting teori makkî dan madanî dalam konteks penafsiran Al-Qur`an. Pengertian dari Makkî dan Madanî telah disepakati oleh sebagian besar sarjanawan Islam dimana Makkî didefinisikan sebagai ayat dan surat Al-Qur`an yang diturunkan sebelum Rasulullah Saw. berhijrah ke kota Madinah, walaupun turunnya diluar di kota Mekah; sedangkan Madanî adalah ayat dan surat Al-Qur`an yang diturunkan setelah Rasulullah Saw. berhijrah ke kota Madinah, walaupun di kota Mekah. Metode yang telah disepakati oleh sarjanawan-sarjanawan Islam dalam mengetahui dan menentukan mana ayat dan surat Al-Qur`an yang Makkî dan mana yang Madanî adalah metode sima’i-naqli dan metode ijtihad (qiyasi-aqli). Teori Makkî dan Madanî ini sangat signifikan bagi seorang mufassir dalam menafsirkan Al-Qur`an. Salah satu solusi sebagai bahan pertimbangan dalam memecahkan persoalan seputar makkî dan madanî, adalah sintesa antara kriteria-kriteria yang ada, yang mencakup sintesa antara kriteria gaya bahasa (panjang pendek dan fashilah), kriteria kandungan isi (tema) dan kriteria gerak antara teksdan realitas (yang kemudian dikenal dengan asbab al-nuzul).
Implikasi Hermeneutika Al-Qur`an Fazlurrahman dan Hasan Hanafi Terhadap Penetapan Hukum Islam Robiah Adawiyah
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1119

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai model pemahaman atau hermeneutika Al-Qur`an menurut Fazlurrahman dan Hasan Hanafi serta relevansinya dengan penetapan hukum Islam. Hermeneutika Al-Qur`an dalam penetapan hukum Islam mempunyai posisi yang penting, sebab menjadi dasar pijakan yang pertama dan utama, sehingga dalam menetapkan sebuah hukum Islam tidak secara sporadis. Hal itu, yang ingin ditampilkan dari sosok Fazlurrahman dan Hasan Hanafi. Fazlurrahman, adalah salah satu dari sekian pemikir muslim yang sadar akan keadaan tersebut. Dengan pendekatan hermeneutika kritis dan dialektis ia berusaha membangkitkan kembali kejayaan Islam yang pernah diraih. Dengan double movement sebagai metode penafsiran Al-Qur`an, serta berdampak pada eksistensi Hukum Islam, yakni terjadinya rasionalisasi Hukum Islam. Sedangkan Hasan Hanafi menyarankan agar menerapkan hermeneutika pembebasan terhadap Al-Qur`an. Wacana turâṡ watajdîd dijadikan sebagai dasar hermeneutika Al-Qur`an, sehingga berdampak pada penentuan formalisasi maqâṣid asy-syarî’ah yang sesuai dengan kondisi sosial, budaya dan realitas saat ini.
Pernikahan Lintas Agama dalam Perspektif Hadits Sawaun Sawaun
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1120

Abstract

This article examines, historically, model of interfaith marriages from hadith perspective. There are two models of interfaith marriages, i.e. a marriage between Muslim, men or women, with musyrik (polytheists) community and ahl al-kitâb. Thisstudy concluded that a marriage between a Muslim with polytheists community has no foundation in tradition (hadith), and never practiced by the early generations of Islam. Meanwhile, male Muslim marriage with ahl al-kitâb has strong historical foundationin the early generations of Muslims. While marriage between Muslim women with ahlal-kitâb wasn’t discovered a historical evidence of it permission, either the Prophetwords or the practice of Companions.
Fiqih Indonesia : Tinjuan Kritis Epistemologi Mahfudz Junaedi
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 2 No 01 (2016): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v2i01.1121

Abstract

Kajian epistemologi hukum Islam (fiqih) membahas sumber, metode dan validitas atau tolok ukur atas kebenaran. Secara sosiologis dan kultural, fiqih adalah produk hukum yang menghalir dan mengurat akat pada budaya masyarakat. Fiqih hadir bersamaan dengan hadir ajaran Islam yang kemudian dipraktikan di masyarakat. Fiqih Indonesia sebagai hukum yang memiliki karakter dan ciri khas keindonesiaan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis dalam kitab perundang-undangan. Sedangkan fiqih masih dilekatkan dengan trademark budaya dan tradisi Timur Tengah (Arab). Kondisi sosio-kultural dan setting sejarah Islam di Indonesia, memunculkan wacana dan pemikiran untuk membentuk fiqih Indonesia sebagai bentuk pribumisasi atau kontekstualisasi hukum Islam dengan menggunakan pola dan metode yang beragam. Tulisan ini mencoba memotret perjalanan wacana pribumisasi atau kontekstualisasi fiqih dengan kacamata epistemologi hukum Islam melalui pemikiran salah satu tokoh penggagas fiqih Indonesia, yaitu Hazairin dan kemudian pemikiran dan gagasannya dikritisi dan dikembangkan kembali oleh pemikir hukum Islam diIndonesia dengan menggunakan beragam metode dan tipologi sesuai dengan fokus kajian yang menjadi objek kajiannya dengan masih dalam bingkai fiqih Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 10