cover
Contact Name
Ahmad Syamsuddin
Contact Email
syamsuddin.iyf@gmail.com
Phone
+6281290969387
Journal Mail Official
bimasislam.ejournal@gmail.com
Editorial Address
Kantor Kementerian Agama, JL. MH. Thamrin No.6 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bimas Islam
ISSN : 19789009     EISSN : 26571188     DOI : https://doi.org/10.37302/jbi
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Bimas Islam adalah terbitan berkala ilmiah yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Terbit pertama kali pada tahun 2008 dalam bentuk cetak hingga tahun 2018 dan ditingkatkan menjadi Jurnal Elektronik (OJS) pada tahun 2019. Mendapat akreditasi dari LIPI pada tahun 2016. Jurnal ini memuat Ringkasan Hasil Penelitian, Tinjauan Teori, Artikel Ilmiah yang dikemas secara sistematis dan kritis di bidang Bimbingan Masyarakat Islam secara luas.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017" : 6 Documents clear
Analisis Kebutuhan Pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan di Sumatera Barat M. Agus Noorbani
Jurnal Bimas Islam Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v10i1.13

Abstract

The District Office of Religious Affairs (KUA) is a technical implementary unit (UPT) of the Directorate General of Community Guidance (Ditjen Bimas) Islam Ministry of Religious Affairs that has the duty to carry out the service and guidance of the Islamic community at the sub-district level in its working area. In carrying out its duties, the KUA organizes nine job functions, as set forth in the Regulation of the Minister of Religious Affairs number 34 of 2016 (PMA 34 2016) on the Organization and Working Procedures of The District Office of Religious Affairs. After the Presidential Regulation promulgation No. 48 of 2014 on Amendment to Government Regulation No. 47/2004, the marriage events number within KUA during the day and working hours in West Sumatra has increased sharply. Using a qualitative evaluation, this study attempted to examine the ideal needs of personnel in the KUA District. The results of this study found that most of the research areas still require additional staff to support the KUA District improvement service. The employees greatest needs are in the extension officers and executive staff group. Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan merupakan unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam Kementerian Agama yang memiliki tugas melaksanakan layanan dan bimbingan masyarakat Islam pada tingkat kecamatan di wilayah kerjanya. Dalam melaksanakan tugasnya, KUA menyelenggarakan sembilan fungsi pekerjaan, seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Agama nomor 34 tahun 2016 (PMA 34 2016) tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Urusan Agama Kecamatan. Pasca diundangkannya Peraturan Presiden Nomor 48 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2004, jumlah peristiwa nikah di dalam KUA pada hari dan jam kerja di Sumatera Barat mengalami peningkatan tajam. Menggunakan kajian evaluasi kualitatif, kajian ini berusaha menelaah kebutuhan ideal tenaga pegawai pada KUA Kecamatan. Hasil kajian ini mendapati bahwa sebagian besar wilayah penelitian masih membutuhkan tambahan pegawai untuk mendukung peningkatan pelayanan KUA Kecamatan. Kebutuhan terbesar pegawai terdapat pada kelompok jabatan penyuluh dan tenaga pelaksana.
Komunikasi Keluarga : (Studi Kasus Komunikasi Interpersonal Suami Istri dalam Proses Cerai di Kantor Urusan Agama Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta) Etika Sari; Azizah Herawati
Jurnal Bimas Islam Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v10i1.14

Abstract

This study aims to find out the interpersonal communication process by married couples in the divorce process and how to solve the conflicts conducted by married couples in the divorce process. The data collection method of this research is qualitative approach, the technique is collecting the data by observating, with the deep interviewed. The research object in KUA Gamping sub-district, as the subject are four married couples. The result of this research demonstrated that interpersonal communication married couples process is biggining with a prejudice, one of them soundless to tell what problem that comes to their household such as debts and receivables even any other problem which is bad to conflict, no open minded conversation to each other, their egos with the result that guesting she or he is the right one so every opinion really unacceptable for each other. Secondly, problem solving is found out of these married couples are win-lose solution and win-win solution. Win-win solution is applying if there a mediation married couples to help their problem by KUA Gamping counselor. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal pada pasangan suami istri dalam proses cerai dan untuk mengetahui cara penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pasangan suami istri dalam proses cerai. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan wawancara mendalam. Objek penelitian di KUA kecamatan Gamping, sebagai subjek adalah empat pasangan suami dan istri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses komunikasi interpersonal pada pasangan suami istri ini bermula pada prasangka, bungkamnya pasangan suami istri yang tidak di diskusikan setiap masalah baik hutang-piutang maupun masalah lain, tidak adanya dialog secara terbuka dan keegoisan pasangan yang merasa paling benar dan tidak mau saling menerima pendapat setiap pasangan. Penyelesaiaan yang dilakukan pada pasangan suami istri ini menemukan jalan win-lose solution dan win-win solution. Penyelesaian konflik yang berjalan secara win-win solution apabila dilakukannya mediasi sebagai penengah masalah pasangan yang dilakukan oleh penyuluh di KUA Gamping.
Etos Profesionalisme Kerja Para Nabi dalam Al Quran Subhan Nur
Jurnal Bimas Islam Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v10i1.15

Abstract

The Prophets and The Apostle were Allah’s human noble. In addition to do the preaching activities the prophets and apostle did economic activity such as trade, farm, woven, and others. The economic activity aims to become a role model and learn in implementing the 5 values of work ethic professionalism among others: integrity, commitment, innovation, example, and spirituality. Al Qur'an has described the work ethic in stark portraits of The Prophets that we should follow as a guide. The Prophets and Apostles have taught that humans are creatures of bio-psychosocial and spiritual. Because that's the work ethic, being mandatory the presence for the nation success. Nabi dan rasul adalah manusia mulia di sisi Allah SWT. Selain melakukan aktivitas dakwah, para nabi dan rasul melakukan aktivitas ekonomi seperti berniaga, berternak, bertenun, dan lain sebagainya. Aktivitas ekonomi tersebut bertujuan agar menjadi teladan dan pelajaran dalam menerapkan 5 nilai etos profesionalisme kerja antara lain: Integritas, komitmen, inovasi, keteladanan, dan spiritualitas. Al-Qur’an telah menggambarkan secara gamblang potret etos kerja para Nabi yang patut kita tiru sebagai pedoman. Para nabi dan rasul telah mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk bio-psikososial dan spiritual. Karena itulah, etos kerja menjadi wajib adanya bagi kesuksesan sebuah bangsa.
Ekspektasi Hukum Promosi Jabatan untuk Perempuan Menjadi Penghulu dan Kepala KUA:: Studi Kasus di Kota Serang Muhammad Ishom
Jurnal Bimas Islam Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v10i1.16

Abstract

in Serang city of Banten there are fifteen women civil state apparatus who work in office of Religious Affairs (KUA). They worked in the office for many years but did not get the right to be promoted as penghulu or head office. The reason why women should not be penghulu or head office is the law and legislation norm, especially unauthorized women become marriage guardians (wali hakim). Whereas at Hanafiyah Mazhab there is an opinion that allows women to take the judge position. This article describes the women law possibility to be become penghulu or head oofice at KUA, legally and normatively Ada lima belas ASN (aparatur sipil negara) perempuan yang telah lama bertugas di KUA Kecamatan se-Kota Serang akan tetapi tidak ada yang dipromosikan menjabat menjadi penghulu maupun kepala kantor KUA. Di antara alasan mereka tidak berhak menjadi pejabat pencatat nikah adalah karena salah satu tugas yang melekat pada jabatan itu terdapat wali hakim yang didominasi laki-laki. Padahal dalam mazhab Hanafi ada pendapat yang membolehkan perempuan menduduki jabatan hakim. Dalam tulisan ini dijelaskan kemungkinan hukum perempuan menjadi penghulu maupun kepala KUA menurut hukum dan ketentuan normatif.
Penerapan Hukum Keluarga Muslim di Asia Tenggara: Sebuah Perbandingan Ahmad Khoirul Anam
Jurnal Bimas Islam Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v10i1.17

Abstract

Family law applied in a country shows how the religion position in the legal system and government in the country. Marriage and its intricacies are state affairs, as well as religious affairs. So the issue of family law is almost always a land of contention for the state and religion. The following article will compare the Muslim family law application in countries in Southeast Asia, the most populous Muslim region in the world. How is the Islamic law application in Muslim-majority countries such as Indonesia, Malaysia and Brunei Darussalam? How is the Muslim family law application in Muslim countries such as Singapore, the Philippines and Thailand, and the fate of the Muslim community in the Indo-China region: Myanmar, Vietnam, Cambodia and Laos. The condition of the "Islamic center" in the Middle East is being plagued by armed conflict, allowing the world to turn its attention to the Southeast Asian region. Hukum keluarga yang diterapkan di suatu negara menunjukkan bagaimana posisi agama dalam sistem hukum dan pemerintahan di negara tersebut. Perkawinan dan seluk-beluknya adalah urusan negara, sekaligus urusan agama. Maka persoalan hukum keluarga hampir selalu menjadi lahan rebutan bagi negara dan agama. Artikel berikut ini akan membandingkan penerapan hukum keluarga Muslim di negara-negara di Asia Tenggara, kawasan berpenduduk Muslim yang sangat besar di dunia. Bagaimana penerapan hukum Islam di negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam? Bagaimana penerapan hukum keluarga Muslim di negara-negara berpenduduk minoritas muslim seperti Singapura, Filipina dan Thailand, serta bagaimana nasib komunitas Muslim di kawasan Indo-China: Myanmar, Vietnam, Kamboja dan Laos. Kondisi “pusat Islam” di Timur Tengah yang sedang dirundung konflik bersenjata, memungkinkan dunia mengalihkan perhatian ke kawasan Asia Tenggara.
Konsep Pra-Nikah Dalam Al-Qur’an: Kajian Tafsir Tematik Ahmad Arifuz Zaki
Jurnal Bimas Islam Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v10i1.18

Abstract

The high rate of divorce in Indonesia one of them is caused by the lack of knowledge possessed by the community related to how to choose a good and ideal partner. This study aims to explore more deeply related to the criteria of the ideal partner in accordance with the Qur'an. This research is a qualitative research that is literature (library research). Source of data used is primary and secondary source. The primary sources are from al-Qur'an and secondary sources derived from the Shofwah at-Tafsir by Ali al-Shabuni, Tafsir al-Mizan by Al-Thaba'thaba'i, Tafsir al-Sya'rawi by al- Sya'rawi, Tafsir al-Azhar by Hamka and Tafsir al-Misbah by Quraish Shihab. The results of this study found that the criterias of choosing a good partner is a same faithful, opposite type, not mahram, good personality, has the nature of responsibility and have a vision in getting a marriage Tingginya angka perceraian di Indonesia salah satunya disebabkan oleh minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat terkait bagaimana cara memilih pasangan yang baik dan ideal. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam terkait kriteria-kriteria pasangan yang ideal sesuai dengan al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (library research). Sumber data yang digunakan adalah sumber primer dan sekunder. Sumber primer berasal dari al-qura’an dan sumber sekunder berasal dari kitab tafsir yang berupa Shofwat at-Tafsir karya Ali al-Shobuni, Tafsir al-Mizan karya Al-Thaba’thaba’i, Tafsir al-Sya’rowi karya al-Sya’rowi, Tafsir al-Azhar karya Hamka dan Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa kriteria memilih pasangan yang baik yaitu seiman, berlawanan jenis, bukan mahram, berkepribadian baik, memiliki sifat tanggung jawab dan memiliki visi dalam menjalani sebuah pernikahan

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2021): Jurnal Bimas Islam 2021 Vol. 14 No. 1 (2021): Jurnal Bimas Islam 2021 Vol. 13 No. 2 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020 Vol. 13 No. 1 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020 Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol. 11 No. 4 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 3 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 1 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 4 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 3 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 10 No. 4 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 3 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 4 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 3 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 9 No. 4 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 3 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 4 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 3 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 2 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 4 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 3 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 1 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 4 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 3 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 2 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 1 (2015): Jurnal Bimas Islam More Issue