cover
Contact Name
Ahmad Syamsuddin
Contact Email
syamsuddin.iyf@gmail.com
Phone
+6281290969387
Journal Mail Official
bimasislam.ejournal@gmail.com
Editorial Address
Kantor Kementerian Agama, JL. MH. Thamrin No.6 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Bimas Islam
ISSN : 19789009     EISSN : 26571188     DOI : https://doi.org/10.37302/jbi
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Bimas Islam adalah terbitan berkala ilmiah yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Terbit pertama kali pada tahun 2008 dalam bentuk cetak hingga tahun 2018 dan ditingkatkan menjadi Jurnal Elektronik (OJS) pada tahun 2019. Mendapat akreditasi dari LIPI pada tahun 2016. Jurnal ini memuat Ringkasan Hasil Penelitian, Tinjauan Teori, Artikel Ilmiah yang dikemas secara sistematis dan kritis di bidang Bimbingan Masyarakat Islam secara luas.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam" : 7 Documents clear
Peran Kantor Urusan Agama dalam Penanganan Aliran Sempalan: Studi Kasus KUA Kecamatan Tanjung Batu Agus Jaya
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The emergence of White Chicken recitation sect in the district of Tanjung Batu Ogan Ilir of South Sumatra Province, Indonesia caused unrest in society. In a study obtained a description that the factors causing the spread of these sect are the lack of understanding of the true Islamic teaching, a false understanding of the religion concept and economic factors and the society phenomenon that easy to trust to instant promise. To tackle the spread of the sect, the Religious Affairs Office (KUA) of Tanjung Batu district makes three approaches include preventive approach, criminal law approach and the rehabilitative approach. With the commitment of "end to end" completed preventive approach, completed criminal law approach and completed rehabilitative approach, makes the handling of deviant sect specifically of White Chicken recitation sect in the working area of the Religious Affairs Office (KUA) of Tanjung Batu district was successfully managed. Abstraksi Kemunculan aliran Pengajian Ayam Putih di kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan Indonesia telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Dalam kajian diperoleh gambaran bahwa faktor penyebab menyebarnya aliran tersebut antara lain kurangnya pemahaman tentang agama Islam yang benar, pemahaman yang keliru terhadap konsep agama, faktor ekonomi dan fenomena masyarakat mudah percaya janji instan. Untuk menanggulangi penyebaran aliran tersebut, maka Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tanjung Batu melakukan tiga pendekatan, yaitu pendekatan preventif, pendekatan hukum pidana dan pendekatan rehabilitatif. Dengan adanya komitmen “end to end” yaitu tuntas pendekatan preventif, tuntas pendekatan hukum pidana dan tuntas pendekatan rehabilitatif, maka penangan aliran sesat secara khusus aliran Pengajian Ayam Putih di wilayah kerja Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tanjung Batu berhasil dengan sukses.
Argumen Pemberdayaan Perempuan dalam Islam Dody Riyadi HS
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Through the Prophet Muhammad and the long history of Islamic civilization, where women like Khadija contribute significantly, Islam has a very real practice of the women empowerment. In a prophetic history, women actively involved in the life and prophetic as the messenger of God. Through the Quran, Islam introduced a variety of emancipatory concepts, such as libas and deliberation, as opposed to various forms of discrimination and exploitation against women. Islam and empowerment are two words that can not be separated. Islam, from any angle it interpreted, implies empowerment, and therefore, contrary to the actions of ignorant of any subordination of women. Abstraksi Melalui Nabi Muhammad dan sejarah panjang peradaban Islam, di mana perempuan seperti Khadijah ikut berkontribusi secara signifikan, Islam telah sangat nyata mempraktikkan pemberdayaan perempuan. Dalam sejarah kenabian, perempuan terlibat aktif dalam kehidupan dan kenabian utusan Tuhan. Lewat Al-Qur’an, Islam memperkenalkan berbagai konsep emansipatif, seperti libas dan musyawarah, yang bertentangan dengan berbagai bentuk diskriminasi dan eksploitasi terhadap perempuan. Islam dan pemberdayaan merupakan dua kata yang tak dapat dipisahkan. Islam, dari sudut manapun ia diartikan, mengandung makna pemberdayaan, dan karena itu, bertentangan dengan tindakan jahil apa pun yang menyubordinasikan perempuan.
Seni “Sarafal Anam” di Bengkulu: Makna, Fungsi dan Pelestarian Muhammad Tarobin
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This article describes about the art of Sarafal anam in Bengkulu. This is important because the value of the history of the art. Transcription of the poem of Sarafal anam displayed in Bengkulu community tradition proves that the text of the Sarafal anam different from Sharf al-anam text is in Arabic tradition. Meanwhile, some of the poems indicating closeness between Syi’ah and Sunni Islamic tradition. This article also describes three Sarafal anam meaning of art in Bengkulu society such as: togetherness, beauty, religiousity. The meaning of togetherness with tradition is still upheld in customary of Bengkulu, that is bimbang tradition. While the beauty of this art looks in appearance of the accompaniment of musical instruments like drum when it reached to the stage of a blow "rentak kudo". As well as the religious value of this art representing Malay Islamic art. Abstraksi Tulisan ini mengkaji seni Sarafal anam di Bengkulu. Hal ini penting karena nilai sejarah dari kesenian ini. Transkripsi terhadap syair Sarafal anam yang ditampilkan dalam tradisi masyarakat Bengkulu ini membuktikan bahwa teks Sarafal anam tersebut berbeda dengan teks Sharf al-anam yang ada dalam tradisi Arab. Sementara itu, beberapa syair jawabnya mengindikasikan kedekatan antara tradisi Islam Syi’ah dan Sunni. Artikel ini juga menjelaskan tentang tiga makna seni Sarafal anam dalam masyarakat Bengkulu yakni: kebersamaan, keindahan, religiusitas. Makna kebersamaan sejalan dengan tradisi yang masih dijunjung tinggi dalam adat Bengkulu, yakni tradisi bimbang. Sedangkan keindahan tampak dalam penampilan kesenian ini dengan iringan alat musik gendang ketika mencapai tahap pukulan “rentak kudo”. Demikian juga nilai religius dari kesenian ini menggambarkan kesenian Melayu yang Islami.
Musik Kasidah dan Perannya dalam Dakwah Nusantara Tatu Siti Rohbiah
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Kasidah is one of Islamic music that made by the friends of Anshor in Madina to welcome the arrival of Rasulullah as their happiness.Before the advent of Islam, the Arabs used this art as art because they are hereditary predilection them in the form of Arabic poetry.Arabiah of the peninsula, to Persia, then to Turkey and eventually to the Nusantara brought the merchants. The next development of this art is used as a media of da’wa in the kingdom of Demak by Walisongo, and is still used as a folk entertainment arts Indonesia. Cultural contiguity between nations experiencing made it acculturation of art. In addition, the times have made this art growing and experiencing innovations, ranging from packaging, display, musical instruments, to the lyrics. However, some kasidah are unchanged from its basic form. There is a traditional kasidah, and there is also a modern kasidah. Both kinds of these kasidah by Muslims of the past until now used as a media of da’wa in the onslaught of Western art that goes into the Nusantara. Abstraksi Kasidah adalah salah satu kesenian Islam yang dijadikan para sahabat Anshor di Madinah dalam menyambut Rasulullah sebagai bentuk kesenangan. Sebelum kedatangan Islam, kesenian ini dijadikan bangsa Arab sebagai kesenian yang turun-temurun kerena kegemaran mereka pada bentuk puisi Arab.Dari Jazirah Arab, ke Persia, lalu ke Turki dan akhirnya ke Nusantara dibawa para saudagar. Perkembangan berikutnya kesenian ini dijadikan media dakwah di Kerajaan Demak oleh para Walisongo, dan hingga kini masih dijadikan kesenian hiburan rakyat Indonesia.Persentuhan budaya antar bangsa menjadikan kesenian ini mengalami akulturasi seni. Disamping itu, perkembangan zaman telah menjadikan kesenian ini kian berkembang dan mengalami inovasi, mulai dari kemasan, tampilan, alat musik, hingga lirik lagunya. Namun demikian, kasidah ada pula yang tidak mengalami perubahan dari bentuk dasarnya. Ada kasidah tradisional, dan ada pula kasidah modern. Kedua macam kasidah ini oleh umat Islam dari dulu hingga kini dijadikan sebagai media dakwah di tengah gempuran kesenian Barat yang masuk ke Nusantara.
Fungsi Seni Hadrah pada Masyarakat Lampung Agus Iswanto
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This writing describes the function of art tambourine, especially those in Lampung, although this may also occur in some other areas, many of which are also displayed by the Moslem community in Indonesia. This writing is based on research with a qualitative approach which the data were collected through observation, interviews and review of the literature. This study was conducted to fill the void study, the link between Islam and the music in the religious culture in Indonesia. The research concludes that art tambourine can serve as accompaniment rituals and also as a medium of da’wah, although sometimes also can be entertainment. However, the main function as a medium of da’wah still held down by grounding worldview virtue praise and prayer to God and the Prophet Muhammad. Abstraksi Tulisan ini mendeskripsikan fungsi seni hadrah, khususnya yang berada di Lampung, meskipun hal ini dapat juga terjadi di beberapa daerah lainnya, yang kenyataannya juga banyak ditampilkan oleh masyarakat Muslim di Indonesia. Tulisan ini berdasarkan hasil penelitian dengan pendekatan kualitatif yang data-datanya dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan telaah pustaka. Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan studi kaitan antara Islam dan musik dalam budaya keagamaan di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa seni hadrah dapat berfungsi sebagai pengiring ritual dan juga sebagai media dakwah, meskipun kadang-kadang juga dapat menjadi hiburan. Akan tetapi, fungsi utama sebagai media dakwah tetap dipegang dengan landasan pandangan dunia keutamaan pujian dan doa terhadap Tuhan dan Nabi Muhammad saw.
Keluwesan Berdakwah dalam Pelestarian Tradisi Pesisir: Kajian Mengenai Bilasan pada Kegiatan Sedekah Laut di Kabupaten Rembang Badruzzaman Badruzzaman
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Jokowi government maritime discourse, presupposes a fisherman as the spearhead of development, to be the fresh air for the welfare of fishermen archipelago. The welfare of fishermen symbolized by the coastal tradition, based on fishermen rationality, it reflects the bounding needs of fishermen communities, safety and fish catches. Bring up the interrelationships shaped symbolic ceremony, which is understood differently among groups of fishermen. It came to be the various charity events with variety rituals and entertainment. The results of self-actualization of a fishermen group called Babagan. Sometimes for this purpose, Babagan become very generous, even beyond the financial capabilities of their own. They are the creation of local wisdom into the Sea Charity (Sedekah Laut). The Elders are flexible in responding on the variety creations. It comes to be the element of da’wah, Bilasan. This awareness creates open interaction between Babagan in the fishing village of Rembang district views. Bilasan in a series of Sea Charity (Sedekah Laut) studied as a representation Babagan Pupils in cultural dynamics typical of fishermen, as well as one aspect of Islam Nusantara local wealth. Abstraksi Wacana di bidang kemaritiman pada pemerintahan Jokowi, mengandaikan nelayan sebagai ujung tombak pembangunan, menjadi angin segar bagi kesejahteraan nelayan Nusantara. Kesejahteraan nelayan disimbolkan dengan tradisi pesisir, berdasarkan rasionalitas nelayan, merefleksikan keterikatan kebutuhan masyarakat nelayan, keselamatan dan hasil tangkapan ikan. Memunculkan hubungan timbal balik berbentuk upacara simbolik, yang dipahami berlainan antar kelompok nelayan. Muncullah kegiatan sedekah laut dengan ragam ritual dan hiburan. Hasil aktualisasi diri kelompok nelayan yang disebut Babagan. Terkadang demi tujuan ini, Babagan bersikap sangat royal, bahkan melebihi kemampuan finansial mereka sendiri. Mereka mengkreasikan kearifan lokal ke dalam Sedekah Laut. Para Sesepuh bersikap luwes saat menanggapi ragam kreasi tersebut. Masuklah unsur dakwah, Bilasan. Kesadaran tersebut mewarnai interaksi terbuka antar Babagan yang ada di kampung nelayan Pandangan kabupaten Rembang. Bilasan dalam rangkaian Sedekah Laut dikaji sebagai representasi Babagan Santri dalam dinamika budaya khas nelayan, sekaligus sebagai salah satu aspek kekayaan lokal Islam Nusantara.
Tradisi Ziarah: Antara Spiritualitas, Dakwah dan Pariwisata Ahmad Khoirul Anam
Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Grave of wali or guardian is believed to be a quiet place, comfortable and "mustajabah" to pray. Through the process called "tawassul" guardian figure attached to the stories of miracles that will bring an optimism in prayer such as asking the Creator. It is different with puritanical group of Muslims who call this ritual as “bid’ah”. Some ritual of the grave no longer identical with the "abangan" in Clifford Geertz's trichotomy. Later pilgrimage even more often associated with "santri" were centered in mosques and pesantren. While the inclusion of elements add a festive tradition of pilgrimage tourism. The grave of wali be one of the tourist project that became the mainstay of the local government in driving the economy. So, grave of wali bring blessing for the local community. Abstraksi Makam atau kuburan wali diyakini sebagai tempat yang tenang, nyaman dan mustajabah untuk berdoa. Melalui prosesi yang disebut tawassul, sosok wali yang lekat dengan kisah-kisah karamah itu akan memunculkan suatu optimisme dalam berdoa; memohon kepada Sang Pencipta. Ini tentu berbeda dengan sangkaan kelompok muslim puritan yang menyebut ziarah kubur sebagai prilaku bid’ah. Aktifitas mendatangi kuburan juga tidak lagi identik dengan masyarakat “abangan” dalam trikotomi Clifford Geertz. Belakangan ziarah malah lebih sering dikaitkan dengan masyarakat “santri” yang berpusat di masjid-masjid dan pesantren-pesantren. Sementara itu masuknya unsur pariwisata menambah semarak tradisi ziarah. Makam-makam para wali menjadi salah satu proyek wisata yang menjadi andalan pemerintah daerah dalam menggerakkan roda ekonomi. Makam wali mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat setempat.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2021): Jurnal Bimas Islam 2021 Vol. 14 No. 1 (2021): Jurnal Bimas Islam 2021 Vol. 13 No. 2 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020 Vol. 13 No. 1 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020 Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol 12 No 1 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019 Vol. 11 No. 4 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 3 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 11 No. 1 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 4 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 3 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol 11 No 1 (2018): Jurnal Bimas Islam 2018 Vol. 10 No. 4 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 3 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 10 No. 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 4 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 3 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017 Vol. 9 No. 4 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 3 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 9 No. 1 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 4 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 3 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 2 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 4 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 3 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 2 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol. 8 No. 1 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 4 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 3 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 2 (2015): Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 1 (2015): Jurnal Bimas Islam More Issue