cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 139 Documents
DINAMIKA SOSIAL DAN STRATEGI EKONOMI PEDAGANG PIDIE DI KOTA PANTON LABU Fitriyani, Fitriyani
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.357

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanah Jambo Aye khususnya di Kota Panton Labu Kabupaten Aceh Utara, dengan melihat “Dinamika Sosial dan Strategi Ekonomi Pedagang Pidie Di Kota Panton Labu. Penelitian  ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dinamika sosial dan strategi ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang Pidie di Kota Panton Labu dalam mendapatkan lahan untuk berdagang dan cara pedagang Pidie dalam mempertahankan lahan tempat berdagangnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif analisis dengan metode kualitatif, untuk menganalisis data yang lebih akurat. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan pedagang pidie di Kota Panton Labu, studi dokumen dan literatur. Fenomena yang tejadi bahwasanya banyak pedagang Pidie yang menetap di Kota Panton Labu yang sudah mampu membuka usaha sendiri dalam bidang ekonomi yaitu dengan cara berdagang. Masyarakat Pidie dikenal oleh khalayak banyak dengan sistem berdagangnya karena mayoritas orang Pidie pekerjaannya adalah pedagang.Masyarakat Pidie memiliki talenta cara berdagang yang baik. Dari hasil ini menunjukkan strategi yang dilakukan pedagang Pidie lebih kepada sistem harga, pelayanan dan mengutamakan kualitas produk, selain harga, pedagang Pidie ini juga mampu menarik perhatian pembeli dengan cara pelayanan yang baik. Dinamika kehidupan sosial muncul dalam upaya memahami masyarakat secara lebih memadai perkembangan hubungan tersebut yang dapat memunculkan dua kemungkinan, yaitu: kedua masyarakat terebut akan membuat rencana untuk melakukan penyesuaian sehingga dapat memelihara keanekaragaman budaya dalam suatu situasi dari unit sosial yang dianggap bermanfaat, atau mereka akan berbaur dengan  pola-pola dominasi pengabdian dan tidak merupakan unit sosial.
DINAMIKA SOSIAL DAN STRATEGI EKONOMI PEDAGANG PIDIE DI KOTA PANTON LABU Fitriyani Fitriyani
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.357

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tanah Jambo Aye khususnya di Kota Panton Labu Kabupaten Aceh Utara, dengan melihat “Dinamika Sosial dan Strategi Ekonomi Pedagang Pidie Di Kota Panton Labu. Penelitian  ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dinamika sosial dan strategi ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang Pidie di Kota Panton Labu dalam mendapatkan lahan untuk berdagang dan cara pedagang Pidie dalam mempertahankan lahan tempat berdagangnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif analisis dengan metode kualitatif, untuk menganalisis data yang lebih akurat. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan pedagang pidie di Kota Panton Labu, studi dokumen dan literatur. Fenomena yang tejadi bahwasanya banyak pedagang Pidie yang menetap di Kota Panton Labu yang sudah mampu membuka usaha sendiri dalam bidang ekonomi yaitu dengan cara berdagang. Masyarakat Pidie dikenal oleh khalayak banyak dengan sistem berdagangnya karena mayoritas orang Pidie pekerjaannya adalah pedagang.Masyarakat Pidie memiliki talenta cara berdagang yang baik. Dari hasil ini menunjukkan strategi yang dilakukan pedagang Pidie lebih kepada sistem harga, pelayanan dan mengutamakan kualitas produk, selain harga, pedagang Pidie ini juga mampu menarik perhatian pembeli dengan cara pelayanan yang baik. Dinamika kehidupan sosial muncul dalam upaya memahami masyarakat secara lebih memadai perkembangan hubungan tersebut yang dapat memunculkan dua kemungkinan, yaitu: kedua masyarakat terebut akan membuat rencana untuk melakukan penyesuaian sehingga dapat memelihara keanekaragaman budaya dalam suatu situasi dari unit sosial yang dianggap bermanfaat, atau mereka akan berbaur dengan  pola-pola dominasi pengabdian dan tidak merupakan unit sosial.
PENYEMBUH TRADISIONAL DI GAMPONG RAWA KECAMATAN TANAH LUAS KABUPATEN ACEH UTARA (Pendekatan Antropologi Kesehatan) Afriza, Nelly
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.358

Abstract

Artikel ini menganalisis terkait dengan proses penyembuhan masyarakat gampong rawa yang melakukan pengobatan tradisional. Artikel melihat faktor menyebabkan masyarakat lebih memilih pengobatan tradisional  di Gampong Rawa adalah karena masyarakat menilai pengobatan tradisional adalah pengobatan yang alami. Pengobatan ini berawal dari pengobatan yang menjadi kepentingan yang sangat penting bagi setiap individu dalam sebuah kehidupan yang dimulai dari kepercayaan. Artikel  ini diketahui bahwa fenomena pengobatan tradisional dibagi kedalam sejarah lahirnya pengobatan tradisional, proses pengobatan yang dilakukan, ramuan yang digunakan, perkembangan dan kondisi kesehatan pasien serta alasan pasien lebih memilih berobat pengobatan tradisional. Observasi penyembuhan pengobatan Nek Cut merupakan pandangan masyarakat tentang pengobatan tradisional yang sanga terbantu dan terpercaya. Terbukti banyak masyarakat Gampong Rawa sampai saat ini datang dan percaya dengan pengobatan tradisional Nek Cut, bahkan tidak hanya masyarakat sekitar saja yang berobat, tetapi masyarakat luar Gampong Rawa pun banyak yang datang. Untuk memperoleh data yang sesuai dengan topik permasalahan “Penyembuha Tradisonal di Gampong Rawa Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara”. Artikel in menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi non partisipatif, wawancara terstruktur dan mendalam, literature dan dokumentasi. Observasi dan wawancara: akan dilakukan selama satu bulan, serta pengeditan skripsi dilakukan selama satu bulan. Analisis data dilakukan sebelum penelitian, selama waktu proses dilapangan bersamaan dengan pengumpulan data.Hasil artikel ini menunjukkan bahwa pengobatan tradisional di Gampong Rawa Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara, bertujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat dan fenomena terhadap pengobatan tradisional di Gampong Rawa Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara yang dilakukan oleh Nek Cut. 
PENYEMBUH TRADISIONAL DI GAMPONG RAWA KECAMATAN TANAH LUAS KABUPATEN ACEH UTARA (Pendekatan Antropologi Kesehatan) Nelly Afriza
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.358

Abstract

Artikel ini menganalisis terkait dengan proses penyembuhan masyarakat gampong rawa yang melakukan pengobatan tradisional. Artikel melihat faktor menyebabkan masyarakat lebih memilih pengobatan tradisional  di Gampong Rawa adalah karena masyarakat menilai pengobatan tradisional adalah pengobatan yang alami. Pengobatan ini berawal dari pengobatan yang menjadi kepentingan yang sangat penting bagi setiap individu dalam sebuah kehidupan yang dimulai dari kepercayaan. Artikel  ini diketahui bahwa fenomena pengobatan tradisional dibagi kedalam sejarah lahirnya pengobatan tradisional, proses pengobatan yang dilakukan, ramuan yang digunakan, perkembangan dan kondisi kesehatan pasien serta alasan pasien lebih memilih berobat pengobatan tradisional. Observasi penyembuhan pengobatan Nek Cut merupakan pandangan masyarakat tentang pengobatan tradisional yang sanga terbantu dan terpercaya. Terbukti banyak masyarakat Gampong Rawa sampai saat ini datang dan percaya dengan pengobatan tradisional Nek Cut, bahkan tidak hanya masyarakat sekitar saja yang berobat, tetapi masyarakat luar Gampong Rawa pun banyak yang datang. Untuk memperoleh data yang sesuai dengan topik permasalahan “Penyembuha Tradisonal di Gampong Rawa Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara”. Artikel in menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi non partisipatif, wawancara terstruktur dan mendalam, literature dan dokumentasi. Observasi dan wawancara: akan dilakukan selama satu bulan, serta pengeditan skripsi dilakukan selama satu bulan. Analisis data dilakukan sebelum penelitian, selama waktu proses dilapangan bersamaan dengan pengumpulan data.Hasil artikel ini menunjukkan bahwa pengobatan tradisional di Gampong Rawa Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara, bertujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat dan fenomena terhadap pengobatan tradisional di Gampong Rawa Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh Utara yang dilakukan oleh Nek Cut. 
KETIKA KESAKRALAN SITUS PURBAKALA MULAI PUDAR (Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Arca Antromorfis Bagi Masyarakat Pakpak Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara) Siketeng, Lasmayanti
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.359

Abstract

Artikel ini melihat Kesakralan Situs Purbakala yang Mulai Pudar, Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Mejan di Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara. Mejan adalah istilah yang menyatakan patung batu dalam bahasa Pakpak yang berbentuk manusia sedang menunggang gajah atau kuda pada umumnya digunakan sebagai objek berhala dan merupakan simbol kepahlawanan dan benteng pertahanan bagi masyarakat Pakpak. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif, data yang digunakan seperti, observasi, wawancara. Observasi dilakukan untuk melihat situs purbakala dan aktivitas masyarakat di Desa Mahala. Tehnik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis interaktif dengan tahapan dimulai dari pemilihan masalah, pengumpulan data, menganalisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa ada beberapa hal yang menyebabakan terjadinya pergeseran pemahaman masyarakat terhadap situs purbakala seperti mejan saat ini. Pertama, masyarakat telah menyakini agama-agama besar yang telah diakui oleh Negara sehingga kepercayaan terhadap mejan hilang. Kedua, masyarakat telah memahami peraturan hokum yang berlaku di masyarakat. Ketiga, memudarnya pemahaman masyarakat terhadap mejan terkiks oleh kemajuan zaman yang semakin tahun semakin modern. Seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman fungsi mejan mulai berubah, mejan hanya menjadi benda-benda peninggalan yang bersejarah bagi masyarakat.
KETIKA KESAKRALAN SITUS PURBAKALA MULAI PUDAR (Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Arca Antromorfis Bagi Masyarakat Pakpak Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara) Lasmayanti Siketeng
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.359

Abstract

Artikel ini melihat Kesakralan Situs Purbakala yang Mulai Pudar, Studi Antropologi Budaya Terhadap Keberadaan Mejan di Desa Mahala Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara. Mejan adalah istilah yang menyatakan patung batu dalam bahasa Pakpak yang berbentuk manusia sedang menunggang gajah atau kuda pada umumnya digunakan sebagai objek berhala dan merupakan simbol kepahlawanan dan benteng pertahanan bagi masyarakat Pakpak. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif, data yang digunakan seperti, observasi, wawancara. Observasi dilakukan untuk melihat situs purbakala dan aktivitas masyarakat di Desa Mahala. Tehnik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis interaktif dengan tahapan dimulai dari pemilihan masalah, pengumpulan data, menganalisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkaan bahwa ada beberapa hal yang menyebabakan terjadinya pergeseran pemahaman masyarakat terhadap situs purbakala seperti mejan saat ini. Pertama, masyarakat telah menyakini agama-agama besar yang telah diakui oleh Negara sehingga kepercayaan terhadap mejan hilang. Kedua, masyarakat telah memahami peraturan hokum yang berlaku di masyarakat. Ketiga, memudarnya pemahaman masyarakat terhadap mejan terkiks oleh kemajuan zaman yang semakin tahun semakin modern. Seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman fungsi mejan mulai berubah, mejan hanya menjadi benda-benda peninggalan yang bersejarah bagi masyarakat.
Rabu Nehah (Studi Etnografi tentang Larangan Turun Kesawan pada Masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam) Maulida, Rahmatul
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.360

Abstract

Artikel ini berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Nisam khususnya di Gampong Paloh Kayee Kunyet dengan melihat larangan turun kesawah pada hari rabu di akhir bulan di masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet. Tradisi Rabu Nehah masih tetap dijalankan oleh masyarakatnya walaupun masyarakat lain sudah tidak menjalankan tradisi ini, sehingga menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Artikel ini dilakukan di gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam dengan judul “Rabu Nehah”. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif data dikumpulkan melalui wawancara dengan narasumber  Kuejrun Blang. Hasil artikel dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat. Mengingat tradisi tersebut merupakan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dari dahulu hingga saat ini. Rabu Nehah adalah tradisi yang masih di jalankan oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet hingga saat ini pada setiap hari rabu di akhir bulan masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dilarang untuk beraktivitas turun kesawah seperti menabur benih, membuka lahan, menanam padi dan semuahal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan sawah terkecuali mereka yang memanen padidiperbolehkan untukturun kesawah. Tujuan dibuatnyarabu nehah ini adalah untuk menolak bala, sehingga masyarakat dapat terhinggar dari segala  sesuatu yang tidak diinginkan sesuai dengan wawancara penulis dengan beberapa masyarakat di Gampong Paloh Kayee Kunyet.    
Rabu Nehah (Studi Etnografi tentang Larangan Turun Kesawan pada Masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam) Rahmatul Maulida
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.360

Abstract

Artikel ini berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kecamatan Nisam khususnya di Gampong Paloh Kayee Kunyet dengan melihat larangan turun kesawah pada hari rabu di akhir bulan di masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet. Tradisi Rabu Nehah masih tetap dijalankan oleh masyarakatnya walaupun masyarakat lain sudah tidak menjalankan tradisi ini, sehingga menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Artikel ini dilakukan di gampong Paloh Kayee Kunyet Kecamatan Nisam dengan judul “Rabu Nehah”. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif data dikumpulkan melalui wawancara dengan narasumber  Kuejrun Blang. Hasil artikel dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat. Mengingat tradisi tersebut merupakan kegiatan yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dari dahulu hingga saat ini. Rabu Nehah adalah tradisi yang masih di jalankan oleh masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet hingga saat ini pada setiap hari rabu di akhir bulan masyarakat Gampong Paloh Kayee Kunyet dilarang untuk beraktivitas turun kesawah seperti menabur benih, membuka lahan, menanam padi dan semuahal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan sawah terkecuali mereka yang memanen padidiperbolehkan untukturun kesawah. Tujuan dibuatnyarabu nehah ini adalah untuk menolak bala, sehingga masyarakat dapat terhinggar dari segala  sesuatu yang tidak diinginkan sesuai dengan wawancara penulis dengan beberapa masyarakat di Gampong Paloh Kayee Kunyet.    
Mahasiswi Sebagai Ibu Muda (Studi Antropologi Sosial Di Kota Lhokseumawe) Malahayati, Malahayati
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.361

Abstract

Analisis ini mengkaji tentang Mahasiswi Sebagai Ibu Muda Antropologi Sosial di Kota Lhokseumawe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, analisis data yang diperkuat dengan studi dokumen, studi literatur dan studi kepustakaan. Dalam membedah penelitian ini penulis menggunakan studi antropologi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di era modern seperti saat ini munculnya fenomena ibu muda, khususunya dari kalangan mahasiswi adalah sesuatu yang baru dan terlihat seperti berseberangan dengan tradisi masa lalu. Kehidupan ibu muda dalam mengelola keluarganya sangat berbeda dengan ibu-ibu tempo dulu. Kebanyakan ibu muda saat ini cenderung konsumerisme dan mengarah ke berbagai hal-hal yang instan. Ibu muda yang seperti ini sebahagiannya masih berstatus mahasiswi. Mahasiswi sebagai ibu muda banyak ditemukan di Kota Lhokseumawe. Maka dari itu, penelitian ini sangat relevan dilakukan demi melihat dan mencari tahu bagaimana keseharian ibu-ibu muda dalam kacamata antropologi sosial. Menjadi ibu muda dengan masih mengemban status mahasiswi tentu sebuah kerja keras dan tidak mudah. Berbagai hal rumah tangga dan perkuliahan bisa bentrok kapan saja tanpa bisa diterka. Mahasiswi sebagai ibu muda mendapatakan masalah jika saja tidak pintar membagi waktu mengurusi keluarga dan kuliahnya. Mengurusi keduanya sungguh sangat tidak mudah. Lantas, kenapa mahasiswi tetap memilih menjadi ibu muda walau masih kuliah padahal mereka cukup sadar bahwa hal tersebut adalah pilihan yang sangat besar risikonya? Hal inilah yang akan penulis urai lebih dalam dalam penelitian ini, sehingga masyarakat luas mengetahui bagaimana berat dan sulitnya kehidupan mahasiswi yang menjadi ibu muda. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi sehingga mahasiswi memilihj menikah dan menjadi ibu muda walau masish berstatus mahasiswi.
Mahasiswi Sebagai Ibu Muda (Studi Antropologi Sosial Di Kota Lhokseumawe) Malahayati Malahayati
Aceh Anthropological Journal Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v1i1.361

Abstract

Analisis ini mengkaji tentang Mahasiswi Sebagai Ibu Muda Antropologi Sosial di Kota Lhokseumawe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, analisis data yang diperkuat dengan studi dokumen, studi literatur dan studi kepustakaan. Dalam membedah penelitian ini penulis menggunakan studi antropologi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di era modern seperti saat ini munculnya fenomena ibu muda, khususunya dari kalangan mahasiswi adalah sesuatu yang baru dan terlihat seperti berseberangan dengan tradisi masa lalu. Kehidupan ibu muda dalam mengelola keluarganya sangat berbeda dengan ibu-ibu tempo dulu. Kebanyakan ibu muda saat ini cenderung konsumerisme dan mengarah ke berbagai hal-hal yang instan. Ibu muda yang seperti ini sebahagiannya masih berstatus mahasiswi. Mahasiswi sebagai ibu muda banyak ditemukan di Kota Lhokseumawe. Maka dari itu, penelitian ini sangat relevan dilakukan demi melihat dan mencari tahu bagaimana keseharian ibu-ibu muda dalam kacamata antropologi sosial. Menjadi ibu muda dengan masih mengemban status mahasiswi tentu sebuah kerja keras dan tidak mudah. Berbagai hal rumah tangga dan perkuliahan bisa bentrok kapan saja tanpa bisa diterka. Mahasiswi sebagai ibu muda mendapatakan masalah jika saja tidak pintar membagi waktu mengurusi keluarga dan kuliahnya. Mengurusi keduanya sungguh sangat tidak mudah. Lantas, kenapa mahasiswi tetap memilih menjadi ibu muda walau masih kuliah padahal mereka cukup sadar bahwa hal tersebut adalah pilihan yang sangat besar risikonya? Hal inilah yang akan penulis urai lebih dalam dalam penelitian ini, sehingga masyarakat luas mengetahui bagaimana berat dan sulitnya kehidupan mahasiswi yang menjadi ibu muda. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi sehingga mahasiswi memilihj menikah dan menjadi ibu muda walau masish berstatus mahasiswi.

Page 1 of 14 | Total Record : 139