cover
Contact Name
Hanevi Djasri
Contact Email
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Phone
+628161913332
Journal Mail Official
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Epicentrum Walk Unit 716B Jl. Boulevard, Jl. Epicentrum Sel., RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12960, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
The Journal of Hospital Accreditation (JHA)
ISSN : 26567237     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.35727/jha.v1i1
Core Subject : Health,
Jurnal ini diperuntukan untuk sosialisasi artikel ilmiah terkait dengan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem akreditasi rumah sakit, termasuk didalamnya artikel ilmiah tentang regulasi akreditasi, standar akreditasi, manajemen lembaga akreditasi, surveior akreditasi, dan berbagai hal lain yang terkait.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care" : 6 Documents clear
Konsep RASPRO: Upaya Melaksanakan Amanah Permenkes 8/2015 untuk Menurunkan Kuantitas Penggunaan Antibiotik Ronald Irwanto Natadidjaja
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v0ixx.24

Abstract

Masalah Mutu: Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) muncul sebagai masalah global akibat penggunaan betalaktam yang berlebihan. Tahun 2015, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 8/2015 agar rumah sakit dapat mengatur penggunaan antibiotik secara bijak. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) 2018 juga mengkaji berbagai indikator mutu dalam penggunaan antibiotik di rumah sakit, termasuk Define Daily Dose (DDD) dan unit penjualan antibiotik. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah tools yang dapat mengatur klinisi agar penggunaan antibiotik menjadi lebih efisien. Pilihan Solusi: Regulasi Antimikroba Sistem Prospektif (RASPRO) merupakan sebuah konsep tools berupa tabel untuk pengaturan penggunaan antibiotik empirik dan definitif prospektif di rumah sakit yang bertujuan untuk mengoperasionalkan Peraturan di atas. Indikator perbaikan penggunaan antibiotik yang digunakan adalah penurunan DDD dan unit penjualan antibiotik sesuai SNARS. Implementasi: RASPRO membentuk Panduan Penggunaan Antibiotik (PPAB) dengan pertimbangan pola kuman lokal, dan membaginya ke dalam stratifikasi I-III sesuai dengan risiko infeksi dan tingkat keparahan penyakit pasien. Aplikasi RASPRO dilakukan dengan menggunakan tabel yang wajib diisi klinisi pada peresepan antibiotik. Tabel tersebut mengarahkan klinisi mengenai jenis antibiotik yang harus digunakan sesuai PPAB berdasarkan kondisi pasien dan tingkat keparahan penyakit, sesuai gambar dalam stratifikasi. Antibiotik direserve dan direstriksi melalui sistem tabel RASPRO, apabila peresepan tidak sesuai stratifikasi. Evaluasi dan Pembelajaran: Tampak penurunan signifikan DDD ceftriaxone dan meropenem di RS A sebelum dan sesudah sosialisasi PPAB-RASPRO dengan model stratifikasi pada fokus-fokus infeksi besar (pneumonia, infeksi saluran kemih (ISK), infeksi intra abdomen). Penjualan unit antibiotik carbapenem dan ceftazidime (cephalosporin anti-pseudomonas) dalam tiga bulan di RS Y, yang telah menerapkan tabel aplikasi RASPRO, dijumpai jauh lebih rendah dibandingkan RS X yang belum menerapkan program RASPRO. Dijumpai penurunan total peresepan betalaktam dan meropenem pada RS X dalam 3 bulan setelah konsep RASPRO diterapkan sebagai projek ujicoba di beberapa bangsal.
Implementasi Sistem Pengendalian Internal Rumah Sakit Mata Bali Mandara (SIPRIMA) dalam Manajemen Risiko Ellien Christiansen Nainggolan; Ni Made Yuniti; I Made Arif Adiguna
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i02.46

Abstract

Masalah Mutu: World Health Organization menyatakan bahwa 10% pasien di rumah sakit mengalami insiden, dan 5-21% dari kejadian tersebut menyebabkan kematian. Di Indonesia, 14,41% KTD dan 18,53% KTD disebabkan karena proses atau prosedur klinik (9,26 %), medikasi (9,26%), dan pasien jatuh (5,15%). Manajemen risiko dipercaya dapat menjamin pengawasan dan pencegahan risiko dapat dilakukan secara terus menerus dan sistematis. Namun, hanya seperempat organisasi di dunia yang menerapkan manajemen risiko secara matur. Pada rumah sakit dengan maturitas manajemen risiko yang rendah, indeks pelaporan risiko atau insiden hanya mencapai 50% dengan indeks kemapanan manajemen risiko yang rendah. Pilihan Solusi: RS Mata Bali Mandara (RSMBM) membangun aplikasi software pengendalian internal berbasis komputer bernama Sistem Pengendalian Internal dan Manajemen Risiko RSMBM (SIPRIMA) yang memudahkan identifikasi dan analisis risiko, pengelolaan risiko yang komprehensif dan terintegrasi, serta memudahkan pelaporan berbagai insiden.Implementasi: Prosedur manajemen risiko melalui SIPRIMA meliputi memasukkan berbagai jenis risiko oleh masing-masing unit; menentukan risk priority number (RPN) inherent dan residual, prioritas risiko, matrix grading; merumuskan rencana pengelolaan dan menetapkan siklus FOCUS-PDCA untuk risiko yang memerlukan pengelolaan yang kompleks. FOCUS-PDCA dapat berlanjut ke siklus berikut dan seterusnya, mencetak detil risiko, siklus FOCUS-PDCA, dan pengendalian apabila risiko telah selesai dikelola.Evaluasi dan Pembelajaran: Terlihat peningkatan jumlah risiko dari 114 (2016) menjadi 249 (2018). Selain itu juga prosentase penanganan masalah meningkat, dari sebesar 86,80% (2016) menjadi sebesar 97,59% (2018), dan unit yang memiliki daftar risiko juga meningkat dari 53,8% (2016) menjadi 84,62% (2018). Sebesar 88,46% unit telah menyusun program berbasis manajemen risiko. Namun demikian, SIPRIMA masih belum optimal mendukung komunikasi dan koordinasi terkait manajemen risiko, sehingga perlu pengembangan aplikasi lebih lanjut.
Asesmen Pra-Anestesi: Bukan Sekedar Kepatuhan Else Agustina; Viera Wardhani; Asti Melani Astari
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i02.52

Abstract

Latar Belakang: Asesmen praanestesi adalah prosedur penting yang bertujuan untuk memastikan keamanan tindakan bedah yang akan dilakukan. Prosedur ini sebenarnya adalah tanggung jawab dokter anestesiologi. Namun, dalam prosesnya melibatkan dokter, perawat serta pasien dan keluarganya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan asesmen praanestesi serta menggali praktik pendelegasian tugas (task shifting) dalam pelaksanaan asesmen praanestesi di ruangan rawat inap. Metode: Penelitian ini dilakukan di sebuah rumah sakit (RS) tipe C (140 tempat tidur) di kota Malang Jawa Timur. Peneliti melakukan observasi selama 11 hari terhadap pelaksanaan asesmen praanestesi pada kasus operasi elektif. Untuk melengkapi data, dilakukan juga pengamatan terhadap dokumen rekam medis pasien yang sama. Untuk menilai praktik pendelegasian tugas dari dokter ke perawat, peneliti menggunakan kuesioner yang berisi 28 aspek aktivitas asesmen praanestesi. Kuesioner ini didistribusikan kepada 80 orang responden yang terdiri dari perawat dan dokter spesialis yang terlibat dalam operasi elektif. Kuesioner ini menilai persepsi responden mengenai harapan dan kenyataan tentang siapa yang seharusnya melaksanakan aktivitas tersebut. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pola pelaksanaan pendelegasian tugas dan asesmen praanestesi. Hasil: Asesmen praanestesi hanya dilakukan pada 19,5% dari total 43 kasus operasi elektif, namun tidak satupun yang menuliskan hasil asesmen pada dokumen yang semestinya. Dokumen rekam medis tentang asesmen praanestesi akan dilengkapi saat setelah pelaksanaan operasi (di kamar operasi). Sebagian besar responden beranggapan bahwa asesmen praanestesi dilaksanakan secara kolaborasi antara dokter dan perawat. Namun, dalam praktiknya, kebanyakan aktivitas dalam asesmen praanestesi dilakukan oleh perawat. Pendelegasian tertinggi dari dokter ke perawat terjadi pada aspek meminta tanda tangan persetujuan tindakan medis (informed consent) serta aspek menjelaskan tentang puasa kepada pasien dan keluarganya. Kesimpulan: Asesmen praanestesi belum terdokumentasi dengan lengkap dan tepat sebelum pelaksanaan operasi, serta terjadi pendelegasian tugas ke perawat terutama pada proses persetujuan tindakan medis.
Penerapan Metode Preceptorship dalam Kegiatan Orientasi untuk Perawat Baru pada Unit Hemodialisis di Rumah Sakit Eriliana Aryanti; Rima Aurelia Dimpudus; Lisa Setiawati; Viera Wardhani
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i02.53

Abstract

Latar Belakang: Praktik keperawatan yang dilakukan dalam pelayanan hemodialisis harus sesuai dengan standar profesi maupun standar prosedur operasional dengan memperhatikan aspek keselamatan pasien. Preceptorship merupakan salah satu metode yang dipersiapkan untuk meningkatkan kemampuan praktik klinis keperawatan. Tren peningkatan insiden ketidaktepatan insersi vena dan arteri pada pasien hemodialisis mendorong peneliti untuk mencari solusi dengan metode preceptorship. Tujuan: Untuk mendeskripsikan penerapan metode preceptorship yang sudah digunakan dalam kegiatan orientasi perawat baru pada Unit Hemodialisis di rumah sakit serta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Metode: Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif berdasarkan hasil pengumpulan data primer dan sekunder. Berbagai faktor yang menjadi akar penyebab masalah dikelompokkan berdasarkan 5M, yaitu man, machine, method, material, dan money, kemudian dianalisis dengan menggunakan fishbone diagram dan 5 whys analysis. Akar penyebab masalah yang teridentifikasi diprioritaskan sesuai kriteria Urgency, Seriousness, dan Growth (USG) melalui Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti oleh pejabat manajemen rumah sakit dan perawat Unit Hemodialisis sebagai subjek penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil: Akar penyebab masalah terbesar dalam penerapan metode preceptorship di Unit Hemodialisis yaitu faktor sumber daya manusia berupa jam terbang dan jumlah yang kurang. Beberapa alternatif solusi yang dapat dilakukan antara lain perlu ditetapkan standardisasi dalam penerapan metode preceptorship terkait waktu pelaksanaan bimbingan, perlunya pelatihan komunikasi asertif dalam metode preceptorship untuk meningkatkan kepercayaan antara pasien dengan perawat, dibutuhkan penetapan target bagi perawat baru untuk melakukan tindakan keperawatan pada pasien hemodialisis, dan penyediaan fasilitas laboratorium untuk peningkatan keahlian perawat di bidang hemodialisis. Kesimpulan: Terdapat beberapa kendala dalam penerapan metode preceptorship pada perawat baru di Unit Hemodialisis. Kendala berupa teknis pelaksanaan bimbingan, perbandingan jumlah preceptor dengan perawat baru, pemenuhan kualifikasi sebagai preceptor, dan standardisasi untuk mengevaluasi preceptor maupun peningkatan kompetensi perawat baru yang dihasilkan setelah menjalani masa orientasi. Perlu disusun modul yang dapat digunakan sebagai standardisasi panduan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan berbasis metode preceptorship pada Unit Hemodialisis di rumah sakit.
Person-Patient-Family-Community Centered Care Semakin Penting Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i02.72

Abstract

Situasi pandemi memberikan ancaman serius dalam pemberian pelayanan individual, terutama bagi pasien dengan infeksi virus Corona yang dirawat inap di rumah sakit. Aspek medis (diagnosis dan pengobatan) yang merupakan subtansi utama pelayanan masih menimbulkan tantangan dalam penatalaksanaan pasien dengan infeksi virus Corona. Namun pada situasi yang kompleks ini, pemberian pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan individual setiap manusia-pasien justru menjadi semakin penting. Setiap orang (termasuk pasien) membutuhkan dukungan yang lebih besar dan berarti dari keluarga dan masyarakat, serta tenaga kesehatan. Beberapa istilah sering digunakan dan memiliki makna, prinsip dan aktivitas yang berbeda, namun tumpang tindih atau merupakan suatu kontinum: person-centered care, patient-centered care dan family-centered care.
Pemborosan (Waste) di Instalasi Gawat Darurat RSI PKU Muhammadiyah Tegal Nurhidayat Nurhidayat; Firman Firman; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 02 (2020): Person-Patient-Family-Community Centered Care
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i02.73

Abstract

Latar Belakang: Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan cakupan kesehatan semesta meningkatkan jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit, termasuk di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Peningkatan di IGD ini menyebabkan waktu tunggu pemindahan pasien dari IGD ke ruang rawat inap pun semakin lama. Untuk mempersingkatnya, digunakan metode lean management. Tujuan: Menurunkan lama waktu tunggu pemindahan pasien dari IGD ke ruang rawat inap dengan cara mengidentifikasi pemborosan waktu tunggu, dan melakukan perbaikan faktor-faktor penyebab pemborosan. Metode: Diterapkan empat tahapan penelitian action research. Pertama, pengumpulan data awal pada diagnosing action, diikuti dengan identifikasi penyebab pemborosan dan solusinya pada tahap kedua, planning action. Ketiga, dilakukan perbaikan cepat pada tahap taking action, meliputi sosialisasi rencana implementasi, update ketersediaan ruang rawat inap, perakitan rekam medis di ruang rawat inap, penulisan resep dokter hanya untuk obat penggunaan di IGD. Penelitian diakhiri dengan evaluasi waktu tunggu dan tindak lanjut pada tahap evaluating action. Hasil: Terdapat delapan tahapan utama dalam alur proses pelayanan pasien IGD hingga pemindahan ke rawat inap. Pemborosan yang utama adalah: waste of overprocessing, waste of motion, dan waste of waiting. Beberapa penyebab utama pemborosan adalah kasus false emergency, kekurangan sumber daya (ruang tunggu dan SDM, papan informasi). Hasil pemetaan dengan Value Stream Mapping adalah rerata 69,9 menit lead time, yang turun menjadi 51,5 menit setelah pasca intervensi. Demikian pula terdapat penurunan waiting time dari 39,9 menit menjadi 28,5 menit, dan cycle time dari 30 menit menjadi 23 menit. Kesimpulan: Lean management dapat mengidentifikasi waste dan menurunkan lama waktu pemindahan pasien IGD ke ruang rawat inap. Lean management perlu dijadikan budaya sebagai salah satu proses dalam upaya perbaikan mutu. Diharapkan hasil intervensi cepat ini dapat dipertahankan oleh rumah sakit, agar menjadi berkelanjutan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6