cover
Contact Name
Hanevi Djasri
Contact Email
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Phone
+628161913332
Journal Mail Official
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Epicentrum Walk Unit 716B Jl. Boulevard, Jl. Epicentrum Sel., RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12960, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
The Journal of Hospital Accreditation (JHA)
ISSN : 26567237     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.35727/jha.v1i1
Core Subject : Health,
Jurnal ini diperuntukan untuk sosialisasi artikel ilmiah terkait dengan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem akreditasi rumah sakit, termasuk didalamnya artikel ilmiah tentang regulasi akreditasi, standar akreditasi, manajemen lembaga akreditasi, surveior akreditasi, dan berbagai hal lain yang terkait.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu" : 6 Documents clear
Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Luaran Klinis Seksio Sesaerea Emergensi di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta Ivanna Theresa Setijanto
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i1.33

Abstract

Latar Belakang : Seksio sesarea (SC) emergensi bertujuan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin saat terjadi komplikasi kehamilan dan persalinan, namun tidak semua kasus SC emergensi terdapat ancaman nyawa ibu atau janin. Indikasi yang tepat, waktu pelaksanaan yang tepat diharapkan dapat memberikan luaran klinis yang baik bagi ibu dan bayi. Persiapan pelaksanaan SC emergensi di RS St. Carolus saat ini sebagian besar (68,5%) berlangsung lebih dari standar PONEK, lebih dari 30 menit setelah diputuskan. Evaluasi mengenai kesesuaian indikasi dan dampak pelaksanaan SC emergensi terhadap luaran klinis ibu dan bayi belum pernah dilakukan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap luaran klinis SC emergensi di RS St. Carolus Jakarta. Metode : Sebuah penelitian potong lintang, observasional analitik di RS St. Carolus Jakarta pada Agustus 2017 hingga Oktober 2017. Subyek dikumpulkan secara konsekutif hingga batas waktu yang ditentukan, melalui kriteria inklusi dan eklusi, diikutkan dalam penelitian. Sampel diteliti ketepatan indikasi SC emergensi, faktor yang mempengaruhi serta dampaknya terhadap luaran klinis ibu dan bayi. Hasil : Terdapat 41 subyek yang masuk dalam penelitian. Tidak didapatkan faktor yang berpengaruh terhadap luaran klinis ibu. Paritas ibu menjadi faktor prediktor pelaksanaan IMD (OR 4,5 IK 95% 1,009-20,24). Dari 41 subyek tersebut, 22 % subyek termasuk dalam standar kegawatdaruratan ibu atau janin. Decision to delivery interval (DDI) keseluruhan adalah 170 menit, dan pada keadaan gawat darurat ibu atau bayi adalah 77 menit, SC dilakukan sesuai kategori kegawatan SC emergensi (p<0,05). Kesimpulan : Faktor yang berperan dalam luaran klinis SC emergensi adalah paritas ibu terhadap IMD. Operasi SC emergensi telah dilakukan sesuai klinis, dan DDI bukan merupakan prediktor namun indikator kualitas layanan emergensi. Kata kunci: Sectio cesarea, operasi sesar, emergensi, luaran klinis, decision to delivery interval
Evaluasi Waktu Tunggu dan Kesalahan Hasil Pemeriksaan Laboratorium Pascasurvei Akreditasi Tahun 2015 di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Dewi Ratmasari
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i1.55

Abstract

Latar belakang: Akreditasi rumah sakit merupakan proses berkesinambungan, yang tidak berakhir saat survei selesai. Terdapat rekomendasi KARS yang harus ditindaklanjuti terhadap indikator ketidaktepatan waktu tunggu dan kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium, yaitu rumah sakit harus menggunakan prinsip peningkatan mutu dengan data indikator mutu yang diukur. Pencapaian indikator tersebut sebelum survei akreditasi sudah mendekati standar. Dalam rangka menindaklanjuti rekomendasi KARS, diharapkan setelah survei akreditasi pencapaian indikator tersebut bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Tujuan: Mengevaluasi ketidaktepatan waktu tunggu dan kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium sebelum dan setelah survei akreditasi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlangsungan peningkatan mutu indikator tersebut, meliputi faktor motivasi, regulasi, kepemimpinan, budaya organisasi dan kerjasama tim. Metode: Penelitian ini merupakan mixed method sekuensial tipe eksploratoris. Penelitian kuantitatif merupakan observasional analitik untuk mengevaluasi ketidaktepatan waktu tunggu dan kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium sebelum dan setelah survei akreditasi. Penelitian kualitatif dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) kepada 10 orang analis kesehatan, dan wawancara mendalam kepada 2 orang dokter spesialis patologi klinik serta Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan. Hasil: Rerata ketidaktepatan waktu tunggu hasil pemeriksaan laboratorium setelah survei akreditasi (8,3793) lebih rendah dibandingkan sebelum survei akreditasi (9,5511), namun tidak berbeda bermakna (p = 0,226). Rerata kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium setelah survei akreditasi (0,0129) lebih rendah secara bermakna dibandingkan sebelum survei (0,0611), p = 0,040. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberlangsungan peningkatan mutu indikator ketidaktepatan waktu tunggu dan kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium RS UGM, meliputi faktor motivasi, regulasi, kepemimpinan, budaya organisasi dan kerjasama tim telah memenuhi sesuai dengan yang seharusnya. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada pencapaian indikator mutu ketidaktepatan waktu tunggu hasil pemeriksaan laboratorium di RS UGM antara sebelum dan setelah survei akreditasi, sedangkan indikator mutu kesalahan hasil pemeriksaan laboratorium setelah survei akreditasi lebih rendah secara bermakna dibandingkan sebelum survei. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberlangsungan peningkatan mutu indikator tersebut, meliputi faktor motivasi, regulasi, kepemimpinan, budaya organisasi dan kerjasama tim telah memenuhi sesuai dengan yang seharusnya. Kata kunci: Ketidaktepatan waktu tunggu, kesalahan hasil laboratorium, akreditasi rumah sakit, indikator mutu
Optimalisasi Pelaksanaan Discharge Planning Secara Terintegrasi di Ruang Rawat Inap X RS Militer Jakarta FRISKA HARIANJA
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i1.56

Abstract

Masalah Mutu: Tuntutan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi menjadi fokus penting dalam era reformasi sistem perawatan kesehatan. Salah satu masalah penting dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS) adalah pelaksanaan dan pendokumentasian Perencanaan Pemulangan Pasien (P3) atau yang sering dikenal dengan discharge planning. Rendahnya peran perawat yang disebabkan pemahaman dan Pengetahuan dalam pelaksanaan P3 menjadi tidak optimal dilakukan. Selain itu, kurangnya motivasi dan komunikasi yang tidak baik antar tenaga kesehatan menjadi faktor pendukung ketidakoptimalam pelaksanaan P3, sehingga berdampak pada peningkatan readmission dan rerata lama rawat, menurunnya tingkat kepuasan dan loyalitas pasien, serta meningkatkan cost efektif RS. Pilihan Solusi: Dilakukan penyusunan perencanaan draft Standar Prosedur Operasional (SPO) pelaksanaan P3 dan pengoptimalan formulir discharge planning, pengkajian keperawatan awal rawat inap, edukasi terintegrasi, Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), dan resume keperawatan yang telah dimiliki oleh RS, dilanjutkan dengan hearing expert, sosialisasi, dan uji coba di ruangan rawat inap melati. Implementasi: Proses implementasi P3 mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 33,6% sedangkan pada evaluasi pelaksanaan P3 sebesar 36,6%. Evaluasi dan Pembelajaran: Pelaksanaan P3 pada proses penetapan diagnosis keperawatan P3, intervensi, implementasi, serta evaluasi masih perlu dilakukan supervisi oleh kepala ruangan dan perlunya peningkatan peran kepala bidang keperawatan untuk memberikan program pelatihan secara khusus kepada perawat pelaksana dan Perawat Penanggung Jawab Asuhan (PPJA) dalam meningkatkan pelaksanaan dan pendokumentasian P3 di ruangan secara optimal. Kata kunci: P3, manajemen asuhan keperawatan, kontinuitas perawatan, RS Militer Jakarta
Penggunaan Aplikasi Berbasis Android dan Website untuk Monitoring Suhu, Kelembaban, dan Udara di RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang MUHAMAD ICHWANUL HADI
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i1.59

Abstract

Masalah Mutu: Peraturan Menteri Kesehatan No.7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit menyebutkan bahwa suhu, kelembaban, dan bahan pencemar udara antara lain gas karbon monoksida harus dijaga. Selama ini RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang melakukan pemeriksaan dan mencatat suhu, kelembaban, gas (temperatur, humindity and gas /THG) dengan cara petugas ruangan, K3RS dan sanitasi keliling ruangan setiap hari. Hasil dicatat pada formulir pemeriksaan dalam bentuk hard copy. Cara ini memerlukan sumber daya manusia dan waktu yang dinilai tidak efisien sehingga RS membuat inisiatif mengembangkan aplikasi berbasis android dan website yang bernama Monitoring Suhu, Kelembaban, Gas dengan Aplikasi Android dan Website (Monalisa). Pilihan Solusi: Upaya untuk mengatasi permasalahan, RS merancang alat untuk memantau suhu, kelembaban dan gas berbasis android dan website. Alat ini secara otomatis dapat mengukur suhu, kelembaban dan gas secara real time. Implementasi: Aplikasi Monalisa sudah diterapkan di RS sejak tahun 2018. Alat ditempatkan di IBS, Apotik IBS, Radiologi. Cara kerjanya menggunakan jaringan internet. Hasil pengukuran suhu, kelembaban dan gas secara real time sehingga petugas dapat melihat dan melakukan pemantauan setiap saat. Evaluasi dan Pembelajaran: Aplikasi Monalisa berhasil menghemat waktu dan sumber daya manusia. Faktor yang mendukung keberhasilan ini adalah telah tersedianya berbagai perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan dengan harga yang relatif terjangkau serta adanya dukungan dari manajemen rumah sakit untuk melakukan inovasi. Kata kunci: android, website, monitoring, suhu, kelembaban
Evaluasi Pelaksanaan Kewenangan Klinis Perawat Klinis di Rumah Sakit Bela Pertiwi
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i1.61

Abstract

Latar Belakang: Kompetensi seorang perawat memberikan peranan penting untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan. PMK No. 49 Tahun 2013 tentang komite perawat menjelaskan bahwa kredensial adalah proses evaluasi terhadap staf perawat mendapatkan kewenangan klinis. Proses kredensial dan kewenangan klinis dalam suatu organisasi sangat penting untuk dilaksanakan. Tujuan: Tujuan penulisan ini untuk memberikan rekomendasai dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan kewenangan klinis di RS Militer Jakarta Metode: Metode yang digunakan yaitu mini project. Pelaksanaan projek dimulai dari analisis situasi menggunakan Strengths-Weakness-Opportunity-Threats (SWOT) analysis, identifikasi akar masalah melalui fish-bone analysis, penentuan prioritas masalah, pembuatan rencana aksi berdasarkan fungsi manajemen, implementasi, dan evaluasi. Sampel asesmen awal melibatkan 84 perawat dan dilanjutkan dengan evaluasi pelaksanaan kewenangan klinis yang melibatkan 23 perawat dan wawancara terstruktur pada 6 orang kepala ruangan di RS Militer Jakarta. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan pelaksanaan kewenangan klinis belum sepenuhnya diterapkan dikarenakan belum idealnya rasio perawat dan pasien. Sebanyak 28% tindakan keperawatan yang dilakukan perawat Perawat Klins (PK) I adalah kewenangan klinis diatasnya. Kesimpulan: Rekomendasi yang diberikan yaitu penguatan fungsi monitoring dan evaluasi dari manajer dalam pelaksanaan kewenangan klinis berdasarkan delineation of clinical privilege yang telah di tetapkan rumah sakit serta peningkatan jumlah tenaga perawat profesional di RS Militer Jakarta. Kata kunci: Evaluasi, Kewenangan Klinis, Pengawasan, Perawat, Rumah Sakit
Corona Virus dan Manajemen Mutu Pelayanan Klinis di Rumah Sakit Hanevi Djasri
The Journal of Hospital Accreditation Vol 2 No 1 (2020): Covid-19 dan Inovasi Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v2i1.62

Abstract

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan pedoman tatalaksana infeksi saluran pernapasan akut berat (severe acute respiratory infection/SARI) yang diduga karena COVID-19. Pedoman tersebut ditujukan untuk para dokter yang merawat pasien di rumah sakit untuk memberikan kemudahan akses terhadap panduan terkini dalam rangka memastikan tatalaksana terbaik bagi pasien. Pedoman tersebut memuat: 1) proses triage untuk mengenali dan menyortir pasien dengan SARI; 2) tindakan segera untuk pencegahan dan pengendalian infeksi dengan tepat; 3) pemberian terapi dan pemantauan; 4) pengumpulan spesimen untuk diagnosis laboratorium; 5) tatakelola gagal napas hipoksemia dan sindrom gangguan pernapasan akut acute respiratory distress syndrome/ARDS); 6) manajemen syok septik; 7) pencegahan komplikasi; 8) perawatan khusus anti COVID-19; dan pertimbangan khusus untuk pasien hamil. Sebagai pengelola rumah sakit, ketersediaan pedoman internasional ini perlu dicermati, diadopsi menjadi pedoman klinis (clinical guidelines), diterapkan dan dievaluasi sebagai bagian dari manajemen mutu pelayanan klinis. Dalam standar akreditasi rumah sakit di Indonesia, penyusunan dan penerapan pedoman klinis memang disyaratkan dalam bentuk Panduan Praktik Klinis (PPK), terlebih untuk tatalaksana pasien dengan risiko tinggi. Standar akreditasi juga meminta agar PPK juga menjadi dasar untuk melakukan evaluasi mutu dan keselamatan asuhan pasien yang diberikan oleh setiap klinisi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6