cover
Contact Name
Hanevi Djasri
Contact Email
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Phone
+628161913332
Journal Mail Official
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Epicentrum Walk Unit 716B Jl. Boulevard, Jl. Epicentrum Sel., RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12960, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
The Journal of Hospital Accreditation (JHA)
ISSN : 26567237     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.35727/jha.v1i1
Core Subject : Health,
Jurnal ini diperuntukan untuk sosialisasi artikel ilmiah terkait dengan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem akreditasi rumah sakit, termasuk didalamnya artikel ilmiah tentang regulasi akreditasi, standar akreditasi, manajemen lembaga akreditasi, surveior akreditasi, dan berbagai hal lain yang terkait.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu" : 13 Documents clear
Peran Manajer Pelayanan Pasien dalam Pelayanan Berfokus pada Pasien di RSUD Dr. Iskak Tulungagung Zuhrotul Aini; Eko Suprapto; Kasil Rokhmad; Supriyanto Supriyanto
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.67

Abstract

Latar Belakang: Keselamatan pasien menjadi prioritas utama dalam semua bentuk kegiatan di rumah sakit. Salah satu model asuhan tersebut adalah case management. Kehadiran Manager Pelayanan Pasien (MPP) berperan penting sebagai bagian dari penerapan Patient Centered Care (PCC), berperan dalam membantu meningkatkan kolaborasi interprofesional, meningkatkan keterlibatan serta pemberdayaan pasien serta keluarga dalam asuhan pasien, sehingga dapat menghasilkan outcome asuhan yang lebih baik dan meningkatkan kepuasan pasien dan kualitas pelayanan di Rumah Sakit. RSUD Dr. Iskak Tulungagung mulai menerapkan MPP yang memenuhi kaidah-kaidah yang ditetapkan sejak bulan Maret tahun 2018.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui peran MPP RSUD Dr. IskakTulungagung dalam pelayanan berfokus pada pasien. Secara khusus untuk mengetahui tentang karakteristik MPP, capaian kinerja MPP tahun 2018 dan untuk mengetahui indeks kepuasan pasien dan PPA terhadap MPP dalam pelayanan di RSUD Dr. Iskak Tulungagung.Metode: Dilakukan penelitian deskriptif dengan survei kepuasan pasien/keluarga pasien terhadap MPP yang dilaksanakan pada bulan Juni 2019, serta data sekunder dari laporan bidang pelayanan medis dan keperawatan dan sekretariat MPP RSUD Dr. Iskak Tulungagung tahun 2018. Analisis data dilakukan secara deskriptif.Hasil: Latar belakang pendidikan 9 MPP adalah D3 (1 orang), S1 (6 orang) dan S2 (2 orang). Pelatihan MPP, BLS dan BTCLS diikuti oleh seluruh MPP. Pelatihan keselamatan pasien, komunikasi efektif dan K3 diikuti 67% MPP, sedangkan pelatihan manajemen bangsal diikuti oleh 78% MPP. Kelompok masalah yang diselesaikan oleh MPP adalah kelompok masalah risiko tinggi (70,16%), risiko pembiayaan tinggi (12,06%), masalah kompleks (7,94%), risiko lama rawat (7,30%) dan kelompok psikososial dan ekonomi (2,54%). Hasil pelaksanaan manajemen kasus oleh MPP dinilai berdasarkan parameter kelengkapan pengisian formulir (100 %), kelengkapan asesmen (69,7%), perencanaan (70,9%) dan implementasi (87,6%). Selain itu dinilai juga cara implementasi manajemen kasus, yaitu melalui koordinasi single provider (100%), visite bersama (13,9%) dan Interprofessional team meeting (3,2 %). Indeks kepuasan pasien/keluarga pasien terhadap MPP adalah 74,91 (baik), terdiri dari dimensi perilaku (75,31; baik), profesionalisme (75,54; baik), kerjasama (73,93; baik) dan komunikasi (75,41; baik). Sedangkan indeks kepuasan PPA terhadap MPP diperoleh total (75,64; baik), terdiri dari dimensi perilaku (75,43; baik), profesionalisme (75,00; baik), kerjasama (76,39; baik) dan komunikasi (75,79; baik).Kesimpulan: Kehadiran MPP berperan penting sebagai bagian dari penerapan PCC, membantu meningkatkan kolaborasi interprofesional dan meningkatkan keterlibatan serta pemberdayaan pasien serta keluarga dalam asuhan pasien, sehingga menghasilkan outcome asuhan yang lebih baik, meningkatkan kepuasan pasien dan kualitas pelayanan di Rumah Sakit.
Pelaksanaan Sistem Code Blue di RSA UGM dan Dampaknya Terhadap Pembiayaan Ratna Dewi Puspita; Agit Seno Adisetiadi; Purwadi Sujalmo; Renni Pusposari
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.68

Abstract

Latar Belakang: Code blue adalah sistem manajemen darurat yang dibentuk untuk kasus-kasus yang membutuhkan intervensi medis darurat, baik itu pasien, kerabat/keluarga pasien, maupun staf rumah sakit. Selama ini belum ada evaluasi pelaksanaan panggilan code blue terhadap outcome pasien (survival rate) dan pembiayaan pasien di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM).Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan code blue di RSA UGM terhadap outcome pasien yang mendapat pelayanan tersebut serta efisiensi pembiayaan rumah sakit dengan ketepatan pelaksanaan sistem code blue.Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Peneliti mengambil data dengan metode total sampling. Data diperoleh dari lembar code blue dan rekam medis pasien yang memperoleh tindakan code blue pada periode Januari–Desember 2018. Data dikumpulkan, ditelaah, dan disajikan dalam bentuk tabel sebagai gambaran pelaksaanaan sistem code blue. Peneliti melakukan simulasi diagnosis (diagnosis penelitian) dengan melengkapi diagnosis cardiac arrest dan respiratory arrest ke dalam sistem Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan secara offline. Hasil simulasi kemudian dibandingkan antara klaim BPJS Kesehatan yang sudah ada.Hasil: Dari total 86 pasien yang dilakukan panggilan code blue di RSA UGM, diperoleh 36% pasien mampu dicegah kegawatannya dan dikembalikan sirkulasi darahnya, hal ini melebihi konsensus American Heart Assosiation (AHA) sebesar 18%. Dari data diperoleh bahwa dari pasien yang mendapatkan pelayanan tim code blue, didapatkan bahwa 100% pasien tidak tertulis diagnosis cardiac arrest (I46.9) atau respiratory arrest (R09.2) sebagai landasan diagnosis diaktifkannya tim code blue. Terdapat efisiensi klaim pembiayaan pada beberapa pasien yang mengalami perbaikan setelah dilakukan simulasi diagnosis dengan ditambahkan diagnosis cardiac arrest (I46.9) dan atau respiratory arrest (R09.2).Kesimpulan: Tim code blue RSA UGM mampu mencegah kegawatan dan mampu mengembalikan sirkulasi darah pasien secara spontan sudah melebihi konsensus AHA. Kesuksesan penanganan tim code blue dalam menangani pasien henti jantung dan henti nafas mampu meningkatkan efektifitas pembiayaan terutama pasien dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan disertai kelengkapan rekam medis sesuai dengan diagnosis.
Efisiensi Pengelolaan Obat Menggunakan Pendekatan Lean Management di Instalasi Farmasi dan Sterilisasi RS Akademik UGM Taufiqurohman Taufiqurohman
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.70

Abstract

Latar Belakang: Pengelolaan obat terdiri dari beberapa tahap yang saling terkait satu sama lainnya. Pengelolaan obat ini juga harus terkoordinasi dengan baik agar dapat berfungsi secara optimal, sehingga rumah sakit dapat melakukan pemantauan dan evaluasi sistem pengelolaan obat yang berkelanjutan untuk menjaga kualitas pelayanan terapi.Tujuan: Untuk mengetahui kinerja pengelolaan obat pada tahap seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi serta melakukan identifikasi waste yang menyebabkan terjadinya inefisiensi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi dan Sterilisasi di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan pada proses pengelolaan obat untuk mengidentifikasi waste dan indikator pengelolaan obat. Indikator pengelolaan obat menggunakan indikator WHO (1993), indikator Depkes (2008) dan indikator yang dikembangkan oleh Pudjaningsih (1996).Hasil: Indikator pengelolaan obat telah sesuai standar dalam hal dana yang tersedia dengan keseluruhan dana yang dibutuhkan (100%), alokasi dana pengadaan (33,05%), kesesuaian pengadaan dengan kenyataan pakai untuk masing-masing item (100,75%) dan rata-rata tingkat ketersediaan obat (17,34 bulan). Indikator yang belum sesuai standar yaitu kesesuaian obat yang tersedia dengan Daftar Obat Esensial Nasional (62,51%), frekuensi pengadaan tiap item obat rendah (10 kali), frekuensi kesalahan faktur (0,58%), persentase nilai obat yang rusak dan kadaluwarsa (4,71%), kecocokan jumlah item obat dengan kartu stok (96,60%), turn over ratio (6,6 kali) dan stok mati (7,89%). Separoh menilai waste pengelolaan obat di Instalasi Farmasi dan Sterilisasi jarang terjadi (51%), dan proporsi yang menilai waste tidak pernah dan kadang-kadang, sering dan sangat sering adalah sebesar 18%, 10%, dan 3% secara berturutan. Waste yang termasuk sering dan sangat sering terjadi adalah waste of motion, waste of waiting, waste of under-utilized staf dan waste of excess processing.Kesimpulan: Instalasi Farmasi RSA UGM telah mencapai standar indikator pengelolaan obat pada tahap perencanaan. Namun pada tahap seleksi, pengadaan, dan penyimpanan masih belum mencapai standar. Pengelolaan obat di Instalasi Farmasi dan Sterilisasi masih belum efisien pada beberapa proses dan hal ini memerlukan perbaikan ke depan.
Persepsi Perawat tentang Pelayanan Pasien Tahap Terminal Enny Mulyatsih; Siti Rohani; Ade Suyani; Umi Aisyiyah; Siti Komariah
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.74

Abstract

Latar Belakang: Implementasi pelayanan pasien tahap terminal di rumah sakit dipersyaratkan sesuai standar yang ditetapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Pada bab Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP), dinyatakan bahwa rumah sakit harus memberikan pelayanan asuhan pasien tahap terminal dengan memperhatikan kebutuhan pasien dan keluarga, serta mengoptimalkan kenyamanan dan martabat pasien, yang didokumentasikan dalam rekam medik. Data lima rumah sakit di Jakarta dan Tangerang menunjukkan belum ada yang memenuhi skor lebih dari 95%.Tujuan: Untuk mengetahui persepsi perawat tentang asesmen dan intervensi pasien tahap terminal di rumah sakit.Metode: Desain penelitian kuantitatif observasional dengan pendekatan cross sectional. Total subyek penelitian sebanyak 959 perawat, dengan kriteria inklusi perawat klinis di ruang rawat inap dan rawat intensif. Kriteria eksklusi adalah perawat emergency, kamar operasi dan rawat jalan. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling, yang dilakukan selama satu bulan sejak tanggal 16 Juni 2020 hingga 16 Juli 2020.Hasil: Pemahaman asesmen pasien tahap terminal berbeda signifikan antara yang menjabat ketua tim dan perawat pelaksana (p 0,003, OR 0,556); antara yang sudah dan belum dilatih (p 0,000, OR 1,528); antara responden yang memiliki pengalaman kurang dari dan lebih dari lima tahun (p 0,15, OR 1,698). Demikian pula dalam pemahaman responden tentang intervensi pasien tahap terminal, terdapat perbedaan signifikan antara responden kepala ruangan atau ketua tim dan perawat pelaksana (p 0,013, OR 0,542); yang sudah dan belum dilatih (p 0,16, OR 1,528); yang memiliki pengalaman kurang dari dan lebih dari lima tahun (p 0, 003, OR1,698). Asesmen pasien tahap terminal yang paling banyak dipahami adalah asesmen nyeri (95,2%), sedangkan yang paling tidak dipahami adalah asesmen alternatif layanan (27,1%). Pada intervensi pasien tahap terminal, responden paling memahami intervensi pasien sulit bernapas (90,3%). Sebaliknya, intervensi asuhan bila status psikososial pasien dan keluarga mengalami masalah dalam kekerabatan, kelayakan perumahan, pemeliharaan lingkungan, cara mengatasi, serta reaksi pasien dan keluarga menghadapi penyakit (20,6%) paling tidak dipahami oleh perawat.Kesimpulan: Jabatan perawat, pengalaman, dan keikutsertaan dalam pelatihan berhubungan dengan persepsi perawat tentang pelayanan pasien tahap terminal. Perlu dikembangkan pelatihan terstruktur tentang pelayanan pasien tahap terminal.
Kepuasan Pasien terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan di Era Pandemi Covid-19 di Rumah Sakit Mata Cicendo Dewanti Widya Astari; Afni Noviantani; Rosdiana Simanjuntak
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.79

Abstract

Latar Belakang: Semenjak diberlakukannya physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 20 Maret 2020, terjadi penurunan pasien di Rumah Sakit Mata Cicendo sebanyak 67,9 % dari bulan Maret sampai dengan April 2020. Dorongan kepada masyarakat untuk menjaga jaga jarak, menghindari kerumunan, dan anjuran untuk tetap diam di rumah mengakibatkan alur proses pelayanan kesehatan selama pandemi Covid-19 berubah, seperti penerapan langkah pencegahan standar untuk semua pasien serta memastikan identifikasi awal dan pengendalian sumber. Adanya kebijakan Covid-19 berupa screening, prosedur pelayanan, serta alur proses pelayanan yang berubah diduga juga berpengaruh terhadap kepuasan pasien dan mutu pelayanan keperawatan.Tujuan: Menganalisis mutu pelayanan keperawatan selama pandemi Covid-19 di Rumah Sakit Mata Cicendo.Metode: Menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Pengambilan data dilakukan di rawat jalan dan rawat inap Rumah Sakit Mata Cicendo. Sumber data berupa data primer melalui kuesioner Responsiveness, Assurance, Tangible, Empathy dan Reliability (RATER) dan data sekunder berupa data kepuasan pasien dan mutu pelayanan tahun 2019. Responden terdiri dari 143 pasien rawat inap dan rawat jalan. Penelitian dilakukan bulan Mei-Juni di Rumah Sakit Mata Cicendo.Hasil: Kualitas mutu pelayanan keperawatan puas pada dimensi tangibles sebesar 57,90%, realibility 58,04%, responsiveness 62,65%, assurance 58,18% dan empathy 58,74%. Namun berdasarkan analisis gap IPA, didapatkan empat nilai negatif yang harus dilakukan peningkatan yaitu dimensi tangibles, realibility, responsiveness dan assurance.Kesimpulan: Mutu pelayanan keperawatan selama masa pandemi Covid-19 dinilai sudah baik, akan tetapi perlu dioptimalkan pada dimensi tangibles dan reliability.
Dampak Bimbingan Akreditasi Terhadap Kelulusan Akreditasi Rumah Sakit Eva Trisna Muslim; Luwiharsih Luwiharsih; Ayi Djembarsari
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.80

Abstract

Latar Belakang: Bimbingan akreditasi rumah sakit (RS) tidak menjamin kelulusan akreditasi. Bimbingan akreditasi dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman manajemen dan staf RS dalam pelaksanaan standar akreditasi. Rumah sakit yang melaksanakan proses bimbingan umumnya berharap lulus akreditasi sampai ke tingkat paripurna.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak bimbingan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) terhadap kelulusan akreditasi RS, mengidentifikasi proses bimbingan Standar Nasional Akreditasi RS (SNARS) Edisi 1.1 oleh KARS yang dilaksanakan RS, dan mengidentifikasi tingkat kelulusan akreditasi RS.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cohort retrospektif berbasis dokumentasi RS yang sudah dilakukan penilaian akreditasi oleh KARS pada 2020, bersumber dari Big Data KARS.Hasil: Terdapat sebanyak 69 RS yang telah dilakukan survei akreditasi menggunakan SNARS Edisi 1.1 pada bulan Januari–Juni tahun 2020. Hanya terdapat 7 RS (10%) yang dilakukan bimbingan oleh KARS dengan paket bimbingan yang bervariasi. Tidak ada hubungan antara bimbingan SNARS Edisi 1.1 oleh KARS dengan kelulusan akreditasi RS (p 0,662).Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara bimbingan SNARS Edisi 1.1 oleh KARS terhadap kelulusan akreditasi RS. Disarankan agar dalam persiapan akreditasi, rumah sakit menekankan pada komitmen rumah sakit dalam menerapkan standar akreditasi secara kontinyu. Perbaikan proses dan metode bimbingan akreditasi oleh KARS diperlukan agar hasilnya efektif.
Evaluasi Kepatuhan Asesmen Awal Medis dan Keperawatan Islami Rusdianawati; Syarif Usman; Giza Great Biidznillah; Taufik TAUFIK ROHMAN1 Rohman
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.81

Abstract

Latar Belakang: Masalah yang paling sering timbul dalam pengisian rekam medis (RM) adalah dalam proses pengisiannya sering tidak lengkap. Ketidaklengkapan pengisian berkas RM akan mengakibatkan catatan yang termuat bisa menjadi tidak sinkron serta informasi kesehatan pasien terdahulu sulit diidentifikasi.Tujuan: Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palabuhanratu bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan DPJP dan perawat dalam melengkapi asesmen medis dan keperawatan, mengidentifikasi materi asesmen yang jarang diisi, serta faktor-faktor yang mungkin terkait dalam kepatuhan melengkapi asesmen.Metode: Metode penelitian ini adalah survey terhadap data retrospektif yang bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dan perawat dalam melengkapi asesmen di RM. Subyek penelitian ini adalah DPJP dan perawat, obyek penelitian adalah RM pada formulir asesmen medis dan keperawatan pasien rawat inap yang dirawat mulai Januari hingga Desember 2019. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner yang disusun berdasar asesmen medis dan keperawatan menurut ketentuan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1. Dilakukan analisis kuantitatif terhadap data dari 402 sampel RM, dan analisis kualitatif dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan Kepala Ruangan Perawatan, kepala instalasi, Ketua Komite Medik dan Keperawatan serta DPJP. Jumlah sampel FGD sebanyak 16 orang.Hasil: Variabel asesmen medis yang rendah/kurang baik kepatuhannya (<60% capaiannya) adalah: riwayat penyakit dahulu (30,35%), (2) riwayat pengobatan (9,50%), (3) pemeriksaan khusus (5,16%), (4) pemeriksaan penunjang (44,89%), (5) diagnosa banding (29,92%), dan (6) rencana pulang (38,15%). Variabel asesmen keperawatan yang rendah/kurang baik kepatuhannya: (1) riwayat penyakit dahulu (34,57%), (2) riwayat penyakit keluarga (28,39%), (3) keadaan umum (rata-rata 43,67%), (4) kesadaran (43,50%), dan (5) status psikologi (57,72%). Hasil FGD menunjukkan bahwa yang berpengaruh terhadap kepatuhan melengkapi asesmen adalah faktor sumber daya manusia (SDM), material, regulasi, dan kepemimpinan.Kesimpulan: Tingkat kepatuhan rata-rata dalam melengkapi asesmen medis oleh DPJP dari seluruh ruangan adalah kurang baik yaitu 58,09%. Kepatuhan rata-rata asesmen keperawatan cukup baik yaitu mencapai 63,72%. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan adalah: faktor SDM, material, regulasi, dan kepemimpinan. Perlu dilakukan revisi pada form asemen medis maupun keperawatan untuk memudahkan pengisian dan meningkatkan kepatuhan dalam melengkapinya, serta agar dapat memenuhi standar kelengkapan materi asesmen.
Penilaian Continuity of Care Orang Dengan Gangguan Jiwa Pasca Rawat Inap Berbasis Aplikasi Android Si-KOPEN Kandar Kandar; Sunarto Sunarto; Rihadini Rihadini; Sri Woro Asih; Ari Sugeng
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.82

Abstract

Latar Belakang: Orang Dengan Gangguan jiwa (ODGJ) menjadi fenomena yang semakin meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Berdasarkan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS. 1.1) Akses ke Rumah sakit dan Kontinuitas pelayanan (ARK), elemen penilaian kriteria pemulangan kompleks dan tindak lanjut pemulangan pasien ditujukan agar fasilitas layanan kesehatan di komunitas dapat memberikan dukungan pelayanan. Pada ODGJ terdapat permasalahan readmisi pasien, pasien dengan permasalahan sosial (terlantar, tidak diterima keluarga/warga, pasien pasung, pasien tidak memiliki penjamin kesehatan) dan pasien dengan lama rawat lebih dari 21 hari. Untuk membantu mengurangi permasalahan pemulangan ODGJ, maka dikembangkan aplikasi Sistem Kontinuitas Pelayanan Pasien (SI-KOPEN) untuk memastikan kontinuitas pelayanan pasien ODGJ di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr. Amino Gondohutomo.Tujuan: Mengevaluasi pengaruh penggunaan SI-KOPEN untuk menurunkan permasalahan pemulangan kompleks pada pasien ODGJ.Metode: Penelitian kuasi-eksperimental ini menggunakan desain post-test only design with control group untuk membandingkan penurunan jumlah pasien dengan permasalahan pemulangan komplek saat masuk perawatan dengan saat selesai perawatan pada dua kelompok. Kelompok intervensi sebanyak 35 sampel pasien menggunakan SI-KOPEN dan kelompok kontrol sebanyak 35 pasien tanpa SI-KOPEN. Data dianalisis dengan uji beda proporsi dua populasi dengan z score test.Hasil: Pasien ODGJ yang mengalami rawat inap ulang di kelompok intervensi (6 dari 35 responden) lebih rendah secara bermakna dibanding dengan kelompok kontrol (14 dari 35 responden). Selain itu, terdapat perbedaan yang signifikan pula antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dalam pelayanan SI-KOPEN terhadap permasalahan pemulangan komplek ODGJ pasca rawat inap (p ,0,05).Kesimpulan: Kontinuitas pelayanan pasien ODGJ pascarawat inap dengan aplikasi SI-KOPEN di RSJD Dr. Amino Gondohutomo lebih baik dengan menurunnya angka rawat inap ulang dibanding sebelum intervensi.Kata kunci: continuity of care, ODGJ, rawat inap, aplikasi
Kerangka Hukum Pelayanan Kesehatan Berbasis Patient-Centered Care Prita Muliarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.83

Abstract

Latar Belakang: Pergeseran prinsip pelayanan dari provider-centered care menjadi patient-centered care (PCC) merupakan bentuk penghargaan terhadap hak pasien seperti partisipasi, akuntabilitas, tidak mendiskriminasi, transparansi, menjunjung martabat manusia, pemberdayaan, dan berdasarkan aturan hukum. Proses melibatkan keinginan pasien semakin diterima sebagai bagian integral dari perawatan medis yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan pergeseran prevalensi penyakit dan meningkatnya kompleksitas pemberian layanan kesehatan dengan berkembangnya kemajuan ilmu dan teknologi medis.Tujuan: Untuk menganalisis kerangka hukum dan implementasi pelayanan kesehatan berbasis PCC dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi 1.1 (SNARS 1.1) menggunakan dasar peraturan perundangan di Indonesia.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif, yuridis normatif dengan statute approach berdasarkan bahan hukum atau data hukum primer yang mencakup undang-undang praktik kedokteran dan rumah sakit.Hasil: Prinsip PCC yang tercantum dalam SNARS 1.1 merupakan pengejawantahan peraturan perundangan di Indonesia terkait hak pasien dan mutu pelayanan kesehatan.Kesimpulan: Kebijakan dan peraturan terkait PCC dapat membantu implementasi PCC di rumah sakit.
Pencapaian Indikator Mutu Nasional di Rumah Sakit Pendidikan Santi Anugrahsari
The Journal of Hospital Accreditation Vol 3 No 01 (2021): Pembelajaran dari Kegiatan Akreditasi dan Peningkatan Mutu
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v3i01.86

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan mutu dan keselamatan pasien seharusnya tercermin dalam setiap kegiatan di rumah sakit (RS) Pendidikan. Untuk menjamin hal itu, RS Pendidikan wajib memiliki sistem pengawasan mutu dan keselamatan pasien antara lain melalui penerapan standar yang terdapat pada sistem akreditasi rumah sakit pendidikan untuk mencapai Indikator Mutu Nasional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian Indikator Mutu Nasional di RS Pendidikan Utama, Afiliasi dan Satelit.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan analisis data sekunder. Data indikator mutu diambil dari Sistem Informasi Akreditasi Rumah Sakit (SiKARS) yang dimiliki oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dengan membandingkan pencapaian Indikator Mutu Nasional RS Pendidikan Utama, Afiliasi dan Satelit selama tahun 2019. Pemilihan RS dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, yaitu sudah terakreditasi KARS, lulus standar Integrasi Pendidikan Kesehatan dalam Pelayanan Rumah Sakit (IPKP) , dan mengisi lengkap data SiKARS.Hasil: Total ada 50 RS Pendidikan yang teridentifikasi memenuhi kriteria sebagai sampel dalam penelitian ini, terdiri dari 28 RS Pendidikan Utama, 9 RS Pendidikan Afiliasi dan 13 RS Pendidikan Satelit. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 11 Indikator Mutu Nasional yang menunjukkan perbedaan bermakna antar jenis RS pendidikan. RS pendidikan utama lebih baik dalam pencapaian dua indikator, yaitu Kepatuhan Identifikasi Pasien dan Kepatuhan upaya pencegahan pasien jatuh. RS pendidikan afiliasi lebih baik dalam pencapaian lima indikator, yaitu Kecepatan Respon terhadap Komplain, Kepatuhan Clinical Pathways, Waktu lapor hasil tes kritis laboratorium, Kepatuhan Fornas, dan Kepatuhan Cuci Tangan. Sedangkan RS pendidikan satelit lebih baik dalam pencapaian empat indikator, yaitu Waktu Tunggu Rawat Jalan, Kepuasan Pasien dan Keluarga, Kepatuhan Jam visite dokter, dan Kepatuhan Emergency Respon Time. Kesimpulan: Terdapat perbedaan pencapaian Indikator Mutu Nasional antar RS Pendidikan Utama, Afiliasi dan Satelit.

Page 1 of 2 | Total Record : 13