cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 25 No. 24 (2015)" : 22 Documents clear
Sukacitaku Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Puisi St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus
Mengenal Anjuran Apostolik “Evangelii Gaudium” Dan Bula “Misericordiae Vultus” Merry Teresa Sri Rejeki
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hari studi STFT Widya Sasana tahun ini (2015) bertemakan: “Menjadi Gereja Indonesia yang gembira dan berbelaskasih. Dulu, kini dan esok”. Kata sifat ‘gembira’ dan ‘berbelaskasih’ terinspirasi dari ungkapan Paus Fransiskus dalam dua dokumennya, yaitu Anjuran Apostolik “Evangelii Gaudium” (2013) dan dari Bula “Misericordiae Vultus” (2015). Sebagai pengantar untuk memahami wajah Gereja Indonesia yang gembira dan berbelaskasih di masa lampau, kini dan esok, berikut uraian singkat untuk mengenal Anjuran Apostolik dan Bula yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus dalam tahun pertama dan ketiga masa pontifikatnya.
Mengapa Bergembira Dan Berbelaskasih? Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam judul tulisan ini tak disebut subyek, karena sifat Tuhan seharusnya didekati manusia yang tak hanya menerima, melainkan pada gilirannya juga memberi (kegembiraan dan belaskasih). Hidup kita campuran suka-duka yang sering berhimpitan. Sukacita yang merupakan nada dasar Gereja Katolik yang tak tersingkirkan oleh dukacita yang juga kenyataan tak terbantahkan, apalagi dalam kesadaran bahwa kita pendosa dapat terus hidup berkat belaskasihan Tuhan. Tulisan ini pendek dan skematis, agar cukup jelas untuk dapat cepat dibaca.
“Murid-Murid Yang Diutus”, Sukacita Gereja Indonesia Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul artikel ini meminjam ungkapan Paus Fransiskus yang menyebut Gereja sebagai ‘murid yang diutus’ (EG, 40) atau ‘murid-murid yang diutus’ (EG, 120). Perutusan yang dimaksudkan di sini adalah tugas evangelisasi. Ungkapan ini memiliki padanannya pada rumusan lain yang dipakai dalam Anjuran Apostolik Evangelii Nuntiandi (1975) dari Paus Paulus VI, yakni ‘tugas evangelisasi merupakan perutusan hakiki dari Gereja’ (no. 14). Sedangkan Konsili Vatikan II, dalam Dekrit Ad Gentes menulis bahwa “Ecclesia peregrinans natura sua missionaria est” –Gereja peziarah pada hakikatnya misioner (no. 2). Sebagaimana kita ketahui, Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium (November 2013) ini merupakan hasil langsung dari Sinode Para Uskup (Oktober 2012), yang mengambil tema “Evangelisasi Baru untuk Pewartaan Iman Kristiani”. Saya pikir, dokumen ini tentu juga memiliki keterkaitan langsung dengan Ensiklik Lumen Fidei (Juni 2013) dari ‘Tahun Iman’ (2012- 2013), seperti yang telah dicanangkan oleh Paus Benediktus XVI guna membangun kembali antusiasme dan upaya-upaya evangelisasi. Artinya, tugas perutusan –yang sekarang lebih populer dikenal dengan ungkapan ‘evangelisasi’– merupakan jati diri Gereja. Artikel ini akan mencoba menguraikan (kembali) secara singkat ‘arus utama’ yang mengalir dalam ‘cara berada’ umat Allah ini, yakni evangelisasi. ‘Cara berada’ ini akan diteliti dalam kesadaran dan praksis umat Allah di tanah air, sebagaimana itu tampak dalam sharing para aktivis Gereja, yang ikut dalam pertemuan para ketua KKM Keuskupan dan para Dirdios KKI dengan timnya masing- masing selama tahun 2014-2015. Lalu, di masa yang akan datang, kontribusi apakah yang bisa diberikan Gereja Indonesia kepada Gereja Universal?
Wartasukacita Dan Belas Kasih Bagi Kaum Miskin (Landasan-Landasan Spiritual Keberpihakan Gereja Pada Kaum Miskin Dalam Eg Dan Mv) Paulinus Yan Olla
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan berikut merupakan upaya menyimak landasan-landasan spiritualitas yang melandasi keberpihakan Gereja pada kaum miskin dan terpinggirkan. Berbagai bentuk spiritualitas yang tumbuh dan berkembang dalam Gereja setelah Vatikan II lebih dilandasi Kitab Suci dan Liturgi, tetapi juga sangat peka terhadap dunia dan persoalan-persoalan kemanusiaan.1 Lebih dari itu berbagai corak spiritualitas yang muncul setelah Vatikan II memberi landasan kerohanian yang tanggap terhadap tantangan-tantangan baru yang muncul dalam dunia modern. Salah satu tantangan yang berkembang menjadi masalah global adalah hadirnya kemiskinan yang menjadikan hidup banyak orang menjadi tidak manusiawi. Berbagai bentuuk spiritualitas itu menjadi dasar opsi Gereja untuk terlibat dan memperjuangkan kepentingan kaum miskin. Ulasan berikut mencoba menelusuri keberpihakan Paus Fransiskus terhadap kaum miskin dalam konteks Ensiklik Evangelii Gaudium (EG) dan Bulla Misericordiae Vultus (MV). Kedua dokumen tersebut secara umum menegaskan perlunya sikap dan semangat baru dalam pewartaan Gereja. Paus menunjukkan kepada Gereja sukacita dan belas kasih sebagai jalan rohani bagi seluruh Gereja tetapi sekaligus sebagai opsi keberpihakan Gereja pada kaum miskin yang berada di periferi kemanusiaan.
Homili Dan Pembangunan Gereja Masa Depan (Evangelii Gaudium, Art.135-159) Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paus Fransiskus memberi perhatian besar pada homili. Menurut beliau homili menduduki tempat yang istimewa dalam konteks pewartaan Injil. Hal ini terungkap dalam bab III.II dari surat apostoliknya Evangelii Gaudium. Dalam bagian II ini Paus berbicara tentang pentingnya homili (art.135-136), hakekatnya (art.137-144) dan bagaimana harus dipersiapkan (art.145-159).1 Dapat dilihat bahwa Paus Fransiskus memberi perhatian istimewa kepada tema ini dan membicarakannya sebagai seorang guru yang bijaksana. Nadanya mendesak. Dalam uraiannya ini beliau juga mengutip beberapa kali pernyataan dan ajakan para pendahulunya, khususnya dari Beato Paulus VI dan Benediktus XVI.2 Menurut hemat saya para imam dan diakon perlu membaca bagian ini dan merenungkannya kembali dengan baik. Dalam tulisan ini saya ingin mengangkat kembali tema ini agar dapat direnungkan kembali oleh setiap imam dan dapat memperbaharui semangatnya dalam memberikan homili.
Membangun Gereja Yang Berbelaskasih: Belajar Dari Santo Vinsensius Depaul Antonius Sad Budianto
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak agama kristen katolik diakui kekaisaran romawi pada abad ke empat, Gereja semakin berkembang dan semakin berpengaruh. Dari para rasul yang rakyat jelata pengikut Gereja semakin menjangkau para bangsawan, bahkan kaisar dan raja juga katolik. Pada abad pertengahan bahkan raja raja Eropa harus mendapat pengakuan dari atau dimahkotai oleh Paus. Mau tak mau Gereja masuk dalam lingkaran kekuasaan politik, bahkan juga ekonomi. Pejabat Gereja bekerja sama dengan pejabat politik dan para bangsawan yang kaya raya. Sementara orang miskin semakin jauh dari perhatian Gereja. Dalam keadaan seperti ini tidak mengherankan bila banyak orang menjadi pejabat Gereja untuk melestarikan atau meningkatkan status kebangsawanannya. Bagi mereka yang berasal dari kelas menengah bawah menjadi pejabat Gereja adalah sarana untuk menaikkan status sosial, ekonomi, politik dirinya maupun keluarganya. Sejak pertobatannya Vinsensius Depaul membangun wajah Gereja yang berbelaskasih berdasarkan Kristus yang diakrabinya dalam injil. Vinsensius meninggalkan cita-citanya sendiri, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan untuk menyatakan belaskasihNya terutama kepada orang miskin, mengikuti Tuhan Yesus pewarta kabar sukacita kepada kaum miskin (Luk 4:18). Selanjutnya ia mengikuti bimbingan Penyelenggaraan Ilahi yang menunjukkan kepadanya kebutuhan orang miskin dan bagaimana dia dapat menanggapinya, termasuk dengan menggerakkan seluruh Gereja umat Allah, imam maupun awam, bangsawan bahkan hingga ratu maupun rakyat jelata. Ia sungguh telah mengubah wajah Gereja yang menampakkan kekuasaan menjadi Gereja yang berbelaskasih dan melayani, dari umat Al- lah yang pasif menjadi umat Allah yang peduli dalam pelayanan nyata. Memang pengaruh Vinsensius tidak mencegah, walau mungkin memperlambat- meletusnya Revolusi Prancis se abad setelah wafatnya, ketika rakyat memberontak melawan monarki kerajaan dan melawan Gereja yang dianggap rakyat ada di pihak penguasa dan menyengsarakan mereka. Namun pengaruh Vinsensius yang sangat besar dalam membangun Gereja belaskasih terus terasa dalam Gereja lebih-lebih di abad 19 ketika kemiskinan merajalela akibat Revolusi Industri. Ratusan tarekat dan serikat awam didirikan dengan tujuan melayani orang miskin menurut kharisma santo Vinsensius. Gereja mengangkatnya sebagai Santo Pelindung dan Model(Patron) Karya Belaskasih.
Wajah Islam Nusantara Bagi Gereja Peter Bruno Sarbini
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejumlah kejadian besar tentang kekerasan dan teror terkait orang atau kelompok Muslim sejak peristiwa 11 September 2001 di AS, pengeboman di Bali (12 Oktober 2002) yang menewaskan banyak warga Australia, disusul Bom Bali II (1 Oktober 2005), pengeboman di Madrid (11 Maret 2004), pengeboman di London (2 Juli 2005) membuat wajah/citra Islam dan kaum Muslim kian memburuk (Republika, 10/9/2015). Kemunculan Boko Haram dan IS (Islamic State) yang menyebabkan eksodus migran dari Timur Tengah ke Eropa dalam beberapa bulan terakhir menambah buruknya citra dan wajah Islam serta kaum Muslim di mata banyak kalangan masyarakat non-Muslim. Kekacauan politik dan kekerasan yang terus berlanjut di Suriah, Irak, Libya, dan banyak wilayah di Timur Tengah turut menjadi faktor meningkatnya gelombang migrasi ke Eropa (Azyumardi Azra: 2015). Berbagai peristiwa dan perkembangan tidak menguntungkan itu memberi kesan kuat bahwa Islam dan kaum Muslim tidak berwajah humanis. Islam tidak lagi dipandang dan dirasakan sebagai pembawa keramahan, tetapi kemarahan. Benarkah Islam dan umat Muslim tidak lagi berwajah serta berhati humanis? Bila hal ini benar, maka Islamofobia sungguh tak terelakkan bagi umat beragama lain. Wajah macam apa yang hendak ditampilkan dari Islam Nusantara yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan bagi Gereja?
Pengadilan Gerejawi Yang Berbelas Kasih Sesudah M.P. Mitis Iudex Dominus Iesus: Cita-Citadan Tantangan Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjadi Gereja yang berbelas kasih bagi Paus Fransiskus berarti menjadikan orang miskin dan menderita pusat perhatian Gereja, dan Gereja melakukan tindakan belas kasih dan murah hati yang nyata bagi mereka.1 Di antara orang miskin dan menderita yang ada begitu banyak di dalam Gereja dan masyarakat, Paus Fransiskus memperhatikan secara khusus penderitaan tidak sedikit umat Katolik yang ingin mencari kepastian dan kejelasan yang menenteramkan hati nurani mereka, namun sering kali berada jauh dari struktur yuridis Gereja, karena jarak fisik dan moral yang jauh dan menjauhkan mereka. Orang miskin di pinggiran Gereja itu adalah pasangan suami-istri Katolik yang bercerai, di mana perkawinannya terindikasi cacat hukum atau tidak sah pada awal, namun tidak dapat menikmati pelayanan hukum dari pihak Gereja untuk memastikan ketidaksahan perkawinan mereka.2 Karena itu, Paus menginginkan Gereja tampil dan bertindak sebagai “lapangan rumah sakit” (field hospital) bagi umat yang mengalami “luka khusus” semacam itu, dengan memberikan intensive care dalam bentuk proses persidangan nulitas yang lebih cepat dan lebih murah.3 Untuk itu, pada tanggal 8 September 2015 yang lalu telah dipublikasikan Litt. Ap. M.P. Mitis iudex Dominus Iesus (selanjutnya disingkat MI) untuk Gereja Katolik Ritus Latin, dan Litt. Ap. M.P. Mitis et misericors Iesus untuk Gereja Katolik Ritus Timur.4 Kedua dokumen motu proprio itu dimaksudkan untuk mereformasi hukum kanonik mengenai persidangan nulitas perkawinan di tribunal-tribunal gerejawi.
Konsili Vatikan Ii: Sebuah Revolusi Sunyi Dan Pengaruhnya Bagi Gereja Katolik Indonesia Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanpa terasa Konsili Vatikan II telah memasuki usia setengah abad. Andaikata seorang manusia, Konsili Vatikan II sedang berada di usia dewasa dan merupakan periode yang produktif kalau disimak dari aspek karya. Konsili Vatikan II merupakan salah satu dari aktivitas Gereja, yang secara esensial dan eksistensial adalah Umat Allah sendiri, persekutuan dari manusia di seluruh dunia yang mengimani Yesus Kristus sebagai Sang Juruselamat. Karena alasan demikian, usia 50 tahun ialah usia Umat Allah sendiri yang telah melakukan pembaharuan diri secara radikal untuk menemukan jatidiri sebagai kaum pilihan yang dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia dengan semangat kasih, persaudaraan dan pengampunan yang tulus. Apakah di usia setengah abad ini Gereja menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, bersukacita, humanis, dialogal, solider, melayani, berbelaskasihan dan mengampuni seperti diamanatkan oleh Konsili Vatikan II?

Page 1 of 3 | Total Record : 22