cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 25 (2016)" : 21 Documents clear
Derai Dosa, Derasnya Ampunan Sang Penguasa Semesta (Membincang Dosa Dan Pengampunan Dalam Perspektif Islam) Halimi Zuhdy
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia, makhluk luar biasa yang diberikan kecerdasan berpikir danberdzikir, berpikir tentang dirinya dan di luar dirinya, bahkan juga mampuberfikir sesuatu yang tidak tampak (ghaib). Sedangkan kecerdasan berdzikir(mengingat) melampaui batas-batas antara dirinya dan di luar dirinya, iamampu menembus Tuhan Yang Esa, menjadi ajang bercinta antara maklukdan Sang Pencipta, dan hanya orang-orang yang beriman kepada Tuhannyayang mampu melakukan keduanya, berpikir dan berdzikir. Kalau berpikirberada dalam ranah otak, sedangkan berdzikir dalam ranah hati dan mulut.Dan keduanya mampu memainkan peranan dalam kehidupan manusia untukselalu serasi dan seimbang menuju gerbang kemanusiaan dan memanusiakanmanusia, tetapi banyak yang melupakan bahwa “perilakulah” yang benarbenarwujud dari fikir dan dzikir itu. Dan perilakulah sebagai ajang berbuatdosa, dari pola pikir dan dzikir yang keliru. Maka, dalam pembahasan inipenulis memberi tema “Derai Dosa, Derasnya Ampunan dalam Islam” untukmelihat bagaimana dosa dan ampunannya dalam Islam, dan apa saja yangtermasuk dosa dan bagaimana cara bertaubat, dan bagaimana seharusnyamanusia menuju Rahmatan lil Alamin.
Sulitnya Mengampuni Dan Sukacita Pengampunan Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGAMPUNAN termasuk salah satu tema yang berat. Beratkarena kita hidup dalam dunia yang sulit mengampuni. Kita sendiri mungkinsulit mengampuni kesalahan sesama kita. Sulitnya mengampuni merupakanpengalaman banyak orang dan kiranya tidak perlu diberikan data-datanyadi sini. Ada pengalaman-pengalaman yang amat memedihkan sepertipengkhianatan dalam cinta dan persahabatan, kebencian dan kekerasan,pemerkosaan, penghinaan dan masih banyak lagi. Semuanya itu bisamembawa dampak yang luar biasa pada jiwa manusia. Bagaimana sayabisa mengampuni orang yang telah melakukan hal itu terhadap saya atauterhadap orang-orang yang paling saya cintai?Kitab Suci sendiri telah memberi kesaksian tentang hal sulitnyamengampuni itu. Ada dua teks dalam Perjanjian Baru yang memberi kesaksiantentang hal ini. Keduanya terdapat dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Yangpertama, dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak tahu mengampuni(Mat 18:20-35) dan kedua, dalam perumpamaan tentang anak yang hilang(Luk 15:11-32). Tujuan tulisan ini ialah merenungkan kedua perumpamaanini dan mendalami artinya bagi Gereja dewasa ini.
Problem Kemurah-Hatian Dan Belas Kasih Sebagai Indikator Hidup Jemaat (Berdasarkan Konteks Hidup St. Agustinus) Antonius Denny Firmanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Murah hati dan belas kasih yang terwujud dalam ekspresi peng- ampunan merupakan landasan dari sebuah persekutuan hidup. Pengampunan sendiri bisa terwujud ketika kerendahan hati menjadi ungkapan hidup dari mereka yang menjadi anggota komunitas. Dalam situasi konkrit, berkenaan dengan hal ini, Petrus pernah menanyakan: “Berapa kali aku harus mengampuni? Tujuh kali?” Pertanyaan itu dapat dijabarkan ke dalam pertanyaan: “Berapa kali aku harus bermurah hati dan berbelas kasihan? Tujuh kali?” Atas pertanyaan ini, jawaban Yesus kiranya tetap sama: “Tujuh puluh kali tujuh kali”. Paparan berikut ini berisi tiga hal. Hal yang pertama adalah konsep Agustinus (354-430) berkenaan dengan persekutuan hidup. Hal yang kedua adalah tiga peristiwa yang mempengaruhi hidup dan pemikiran Agustinus berkenaan dengan kemurah-hatian dan belas kasih sebagai rahmat. Hal yang ketiga adalah implementasi pemikiran Agustinus di dalam konteks kehidupan masa kini.
Menyembah “Allah Yang Kalah” Pergulatan Absurditas Salib FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengapa Yesus yang tidak bersalah disalib secara amat keji? Malah, tidak hanya itu, Dia disesah, dicambuki secara brutal dengan cambuk yang ujungnya bertembilang besi? Mengerikan. Sebuah derita absurd. Itulah satu dua pertanyaan dari seorang sahabat kala merenungkan The Passion of Christ, Penderitaan Kristus. Orang terhenyak oleh sebuah tontonan derita yang absurd. Kita larut dalam sebuah kekejaman salib. Di sana Allah jelas kalah, kalah oleh kekuatan yang menderanya. Kita menyaksikan sebuah pengorbanan luar biasa dari Kristus. Dalam teologi kita menyimak bahwa derita itu dimaksudkan untuk menebus manusia.
Dosa Dan Pengampunan: Sebuah Petualangan Manusiawi Dan Rohani (Penghayatan Spiritualitas Pengampunan) Paulinus Yan Olla
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengampunan merupakan sebuah peristiwa teologis yang melibatkan Allah dan sekaligus peristiwa manusiawi karena menyentuh pengalaman dasar manusia sebagai manusia. Dosa berkaitan relasi dengan Allah, jika manusia memberi jawaban negatif. Sebagaimana iman adalah pengalaman manusia yang terwujud dalam perbuatannya, begitu pula dosa adalah pengalaman manusia yang bersikap melawan Allah dan terwujud dalam perbuatan moral. Pengampunan merupakan pengalaman dasar relasi manusia dengan Allah. Inisiatif pengampunan selalu berasal dari Allah. Relasi kedosaan dijembatani kembali dengan tawaran pengampunan. Pengampunan dialami ketika manusia mengalami kerahiman Allah. Dosa dan pengampunan mengandaikan adanya keterlibatan pihak Allah maupun manusia. Ia menyangkut dinamika relasi manusia dengan Allah. Allah yang berkuasa menciptakan permulaan baru melawan kegagalan dan penolakan dalam dosa.1 Selanjutnya manusia yang mengalami pengampunan Allah dalam hidupnya dipanggil tidak hanya untuk menerima tetapi ia pun perlu belajar mengampuni sesamanya. Dinamika keterlibatan Allah dan manusia dalam pengampunan itulah yang ingin dipaparkan dalam karya ini.
Perkawinan Diawali Dengan Love, Dilanggengkan Oleh Mercy Alphonsus Tjatur Raharso Tjatur Raharso
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kita sudah terbiasa berpendapat dan mengajarkan bahwa perkawinan antara 2 (dua) orang yang dibaptis diangkat oleh Kristus Tuhan ke martabat sakramen.1 Sakramentalitas adalah unsur pembeda yang khas antara perkawinan orang-orang beriman kristiani dan orang-orang yang tidak dibaptis. Unsur pembeda ini amat sangat sederhana dan bahkan tidak kelihatan dari luar, karena dalam realita konkret sehari-hari sebenarnya tidak ada bedanya antara perkawinan orang kristiani dan perkawinan orang- orang yang tidak dibaptis. Mereka sama-sama menghadapi masalah perkawinan dan keluarga yang sama, baik masalah klasik maupun masalah modern: ekonomi rumah tangga, kesehatan, pendidikan anak, pergaulan anak, pertengkaran suami-istri atau orangtua-anak, pergaulan suami atau pergaulan istri, relasi dengan mertua, dan sebagainya. Sakramentalitas tidak tampak dari luar, karena merupakan anugerah dari Kristus yang hadir dan bekerja dari dalam, yakni dari communio dan relasi kasih suami-istri kristiani.
Kerahiman Dan Keadilan Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam “Misericordiae Vultus” yang mencanangkan tahun kerahiman 2015-2016 dalam art.10 dikeluhkan bahwa kerahiman kurang berperan dan bahkan perkataannya makin dilupakan, sedangkan keadilan terus menerus dituntut, maka baiklah tema hubungan antara kerahiman dan keadilan juga diangkat di sini. “Barangkali lama kita lupa menunjuk jalan kerahiman dan menempuhnya. Pada satu pihak godaan untuk terus menerus menuntut keadilan saja membuat kita lupa bahwa hal ini hanyalah langkah pertama. Langkah ini memang perlu dan tak dapat diabaikan, tetapi Gereja harus melampauinya demi tujuan yang bermakna dan lebih tinggi.Di satu sisi menyedihkan melihat bagaimana pengalaman pengampunan menjadi makin jarang dalam budaya kita. Malahan perkataannya sendiri rupanya makin menghilang”1 Banyak orang bermaksud baik, tetapi kurang memahami hal-hal yang harus mereka lakukan, meskipun seringkali mungkin lebih secara intuitif melaksanakannya. Misalnya: saya memang sudah memaafkan atau mengampuninya, (soal kerahiman), tetapi proses hukum (soal keadilan) jalan terus. Keduanya tidaklah saling bertentangan, melainkan urusan lain dan ada banyak kepentingan dan sudut pandangan yang harus diperhatikan juga.Tuhan memang mahaadil, tetapi ia juga maharahim. Kiranya faktor terakhir ini dulu kurang mendapat perhatian, dan dalam tahun kerahiman ini lebih diperhatikan, juga agar lebih berpengaruh atas hidup kita, baik sebagai orang yang diperlakukan dengan kerahiman Tuhan, maupun sebagai orang yang meneruskan anugerah itu dan bersikap penuh kerahiman terhadap sesama.
Pengampunan Dalam Perspektif Orang Maybrat-Papua Imanuel Tenau
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia senantiasa hidup dan berkembang dalam relasi baik dengan Yang Ilahi, alam semesta, sesama dalam kelompoknya, maupun dengan orang lain di luar kelompoknya. Relasi tersebut menganut unsur aku dengan yang lain di luar diriku. Hal ini merupakan relasi personal, yang melukiskan bagaimana relasi personal dapat mendefinisikan kodrat kenyataan. Karena itu, pengampunan merupakan pusat eksistensi orang Maybrat untuk dapat didefinisikan cara mereka berpartisipasi dalam relasi dengan sesama, dunia, dan Yang Ilahi (Tuhan). Pengalaman berrelasi itu selanjutnya melahirkan cara pandang yang khas mengenai apakah alam semesta itu dan siapakah sesama yang dengannya mereka berrelasi. Cara pandang itu kemudian mewujud dalam tata sopan santun, adat istiadat, norma moral, tabu, serta berbagai tata sosial kemasyarakatan. Manusia juga mengalami bahwa relasi- relasi horizontal itu belum menjawab dan memuaskan seluruh kehausan spiritualnya akan makna, asal dan tujuan hidupnya. Dengan demikian, pertanyaan tentang hakekat dan makna peristiwa- peristiwa eksistensial seperti kehamilan, kelahiran, sehat dan sakit, bahagia danderita, perang dan damai, kehidupan dan kematian, tak menemukan jawaban yang memuaskan hanya dalam relasi dengan alam serta sesama, tetapi adanya Realitas Yang Lebih Tinggi merupakan fenomena yang dapat kita temui di hampir semua kebudayaan. Demikian pula halnya dengan suku Maybrat. Sebagai satu kelompok masyarakat yang memiliki sejarah sendiri dalam aneka kekayaan tradisi budayanya – hidup mereka pun dilingkupi dan diberi arah oleh kepercayaan akan adanya suatu kekuatan yang melebihi dirinya, yang menjadikan mereka ada, yang mengatur kehidupan, dan menguasai seluruh alam semesta.
Misericordiae Vultus: Sebuah Catatan Pengantar Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bulla Misericordiae Vultus1 (MV) – Wajah Kerahiman dimaklumkan secara resmi dan meriah di Basilika St. Petrus tgl. 11 April 2015. Isinya terdiri atas 25 poin penting yang saling berkaitan. Dengan Bulla ini, Paus Fransiskus bermaksud melanjutkan apa yang telah dibahas secara panjang lebar dalam ensiklik Evangelii Gaudium (EG) Tahun 2013. Dalam EG Paus membuat sebuah analisa yang tajam dan mendalam tentang situasi sosial, politik, ekonomi dan kultural kontemporer yang sarat dengan beragam kontradiksi akibat relasi dan interaksi dari banyak faktor dan unsur yang ansich bertentangan satu sama lain, tetapi pada saat yang sama menyangga bangunan masyarakat global. Kontradiksi itu menyebabkan banyak sekali dampak bagi kehidupan Gereja dan dampak itu diperparah lagi oleh situasi internal Gereja yang lebih menampilkan wajah institusional- normatif-liturgis dan tua-bangka ala mummi di museum daripada wajah yang gembira dan penuh cinta kasih.
Citra Gereja Yang Rahim Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 26 No. 25 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuhan memang maharahim dan kabar baik yang membebaskan ini tak boleh tinggal teori atau pengetahuan sejumlah kecil orang, melainkan harus disebarluaskan dan disambut oleh semua atau sebanyak mungkin or- ang. Tetapi harus ada pihak yang menyampaikannya, terutama agama- agama (dalam agama Islam sifat kerahiman Allah dikedepankan: Bismillah ir-rahman ir-rahim) dan khususnya bagi kita agama Katolik. Tetapi bagaimanakah citra Gereja Katolik? Bagaimana citra Gereja Indonesia yang hanya 3% dari jumlah penduduk yang kira-kira 250 juta?

Page 1 of 3 | Total Record : 21