cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol. 27 No. 26 (2017)" : 19 Documents clear
Merawat Kebinekaan, Membumikan Pancasila (Refleksi Data Risetkondisi Kebebasan Beragama/ Berkeyakinan Dan Potret Toleransi)1 Halili Hasan
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebinekaan merupakan fakta alamiah sekaligus konsensus sosio- politik bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Pancasila hadir sebagai norma dasar, cita hukum (rechtsidee), dasar filosofis (philosofische gronslag), pandangan hidup (weltanschauung), ideologi nasional, dasar negara, serta sumber dari segala sumber hukum di Indonesia berhulu dari dan bermuara pada kebinekaan itu. Pancasila, dengan demikian, merupakan ideologi pluralis. Maka merawat kebinekaan dan membumikan Pancasila merupakan dua agenda yang harus diikhtiarkan dan diwujudkan dalam satu tarikan nafas. Namun demikian, implementasi Pancasila sekaligus penguatan kebinekaan Indone- sia bukanlah perkara mudah. Menurut Bung Karno, “Pancasila harus menjadi realiteit!”3 Menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam realitas tentu membutuhkan perjuangan yang simultan juga spartan.
Jelajah Mengatasi Parokialisme Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada sebuah cerita. Dua orang sahabat berjalan-jalan di hutan. Tiba- tiba mereka mendengar seekor singa mengaum keras. Salah seorang dari mereka segera memutar otak untuk mencari tempat berlindung bagi mereka berdua. Sedangkan yang lain cepat-cepat mengenakan sepatunya untuk lari. Yang pertama keheranan, lalu bertanya: “Kau buat apa? Apakah kau sangka bahwa kau bisa lari lebih cepat daripada singa?” Jawab sahabatnya dengan enteng: “Bukan itu! Aku tidak perlu lari lebih cepat daripada singa. Aku cuma perlu bisa lari lebih cepat daripada engkau!”
Menakar Peranagama Di Tengah Merebaknya Patologi Ruang Publik Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskursus terkait peran agama dalam ruang publik, merupakan sebuah diskursus paradoksal. Dikatakan paradoksal karena peran dan kehadiran agama yang sering kali berwajah ganda seperti wajah dewa Janus dari mitologi Romawi kuno yang darinyalah kata Januari berasal. Satu sisi melihat ke masa depan, siap menyongsong yang tak terduga dan yang sedang datang tetapi di sisi lain memandang ke belakang yaitu ke masa lalu, seakan tak mau meninggalkan yang silam.1 Persis seperti bulan Januari kita sadar bahwa hari-hari baru sudah tiba, tapi kenangan pada yang silam tetap enggan beranjak. Seperti dewa Janus itu pula wajah agama dalam ruang publik. Pada satu sisi agama menampilkan sinar pembebasannya karena ia merupakan tempat di mana orang menemukan kedamaian, kedalaman hidup, dan harapan yang kokoh. Namun di sisi lain, agama dipakai untuk melakukan diskriminasi, dijadikan sebagai ideologi politik, dan digunakan sebagai justifikasi atas tindakan kekerasan, bahkan sampai pada pembunuhan. Kita sendiri menyaksikan dan sejarah mencatat betapa besar andil agama dalam membakar kebencian dan meniupkan kecurigaan, membangkitkan salah pengertian, dan mengundang konflik.
Kehadiran Gereja Di Ruang Publik Perspektif Eklesiologis Di Dalam Memandang Keadaan Akhir-Akhir Ini Antonius Denny Firmanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang majemuk. Bangsa ini tersusun atas aneka suku, agama, ras, dan golongan. Gagasan Pancasila yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan daya hidup bangsa Indonesia. Gagasan dalam Pancasila, yaitu: “Persatuan Indone- sia”, adalah kesadaran kesatuan dalam masyarakat yang majemuk dan kesadaran untuk mengembangkan sikap kerjasama di tengah perbedaan yang ada. Pendalaman gagasan di atas adalah bidang ini garapan Eklesiologi. Eklesiologi sebagai teologi mengenai Gereja adalah refleksi tentang Gereja sebagai himpunan murid-murid yang beriman kepada Yesus Kristus yang hidup di dalam ruang dan waktu tertentu, yaitu ruang dan waktu Indone- sia. Karena itu, cara orang Kristiani memandang diri dan keberadaannya sebagai Gereja mempengaruhi cara memandang diri dan keberadaannya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tulisan ini berangkat dari pertanyaan: seperti apa orang Katolik harus memandang ruang publik? Kemudian, dimana tempat orang Katolik? Dapatkah orang Katolik menemukan nilai-nilai iman melalui interaksinya di ruang publik?
Proselit - Penistaan - Perburuan Sikap Kaisar Terhadap Kristiani Sampai Dengan 313 Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini akan membahas perlakuan para Kaisar dari kekaisaran romawi terhadap Kristiani, mulai sejak kematian Yesus Kristus sampai dengan kaisar Konstantinus yang mengeluarkan Edit Milan pada tahun Periode yang berdurasi kurang lebih tiga abad ini adalah kegelapan yang paling kelam di dalam Gereja, karena nama Kristiani sebagai taruhan melalui tuduhan sebagai proselit,1 penista dan konsekuensinya adalah pemburuan untuk dianiaya dengan cara dipenjarakan, dibunuh, melawan binatang buas, dibakar, dan dipancung.
Relevansi Doktrin Trinitas Bagi Kehidupan Bemasyarakat Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Misteri Tritunggal Mahakudus merupakan inti iman kristiani. Semua orang Kristen dibaptis dalam “nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (Mat 28:19). Sebelum dibaptis mereka menyatakan imannya akan Bapa, Putera dan Roh Kudus.1 Mereka tidak dibaptis dalam “nama-nama” (jamak), tetapi dalam nama (tunggal) Bapa, Putra dan Roh Kudus. Mereka mengimani Tritunggal Mahakudus: “ada hanya satu Allah, Bapa yang Mahakuasa dan Putra-Nya yang tunggal dan Roh Kudus”.2 Umat Kristen menyembah Allah Tritunggal Mahakudus. Trinitas menempati posisi sentral dalam Liturgi Gereja. Liturgi Gereja bercorak Trinitaris.
Surat Pakahok Dari Rumah Tahanan Depok Suatu Refleksi Iman Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini adalah suatu bentuk penghormatan terhadap Pak Ahok yang berada di Rumah Tahanan Depok. Dari tempat ini beliau telah menulis surat kepada para relawan dan pendukungnya berhubung keputusannya untuk mencabut permohonan banding atas vonis dua tahun penjara. Surat ini yang telah dibacakan sendiri oleh istrinya yang tercinta Ibu Veronica Tan pada tanggal 23 Mei 2017 selengkapnya kami lampirkan di sini. Pak Ahok lewat suratnya ini1 berterima kasih pertama-tama karena dukungan doa dan segala bentuk dukungan yang lain bahkan dengan berkumpul menyalakan lilin. Pak Ahok mengakui bahwa tidak mudah bagi mereka dan lebih-lebih lagi bagi dirinya sendiri untuk menerima kenyataan ini. Akan tetapi, atas segala perlakuan tidak adil ini Ahok “belajar mengampuni dan menerima semua ini”. Mengampuni dalam konteks ini memang sangat tidak mudah dan karena itu beliau mengatakan bahwa sekarang dia “belajar mengampuni” tentu saja seperti yang dilakukan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Dia meminta para simpatisannya untuk menghentikan unjuk rasa dalam proses pada saat ini “Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara”.
Jangan Takut Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pilkada DKI 2017 telah selesai, tetapi seluruh peristiwa yang mendahuluinya kiranya sulit dilupakan dan menurut hemat saya punya dampak besar bukan hanya bagi kesatuan bangsa, melainkan pula utuk penghayatan iman. Unsur SARA dalam pemilihan Gubernur DKI 2017 sangat terasa. Agama diperalat.1 Dampaknya Gubernur Ahok menjadi terdakwa, diadili dan kemudian divonis dengan hukuman 2 tahun penjara. Ada suatu kekuatan besar yang menantang kita yakni kekuatan SARA. Kita bisa menjadi takut dan ragu-ragu untuk berlangkah. Kita mengambil sikap diam karena agama (di sini Islam) ikut bermain. Lalu apa yang harus kita perbuat? Bagaimana seharusnya sikap kita?
Misteri Salib Tuhan Pasca Vonis Janggal Ahok Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus dugaan penistaan agama (Islam) oleh gubernur DKI Jakarta Ahok (sekarang mantan)1 menjadi berita besar dan menghebohkan karena sesudahnya digerakkan demo besar-besaran di Jakarta sampai dua kali. Menjadi berita besar karena terjadi persis sebelum Pilkada Gubernur Jakarta 2017. Dugaan adanya unsur politik di balik semuanya itu tidak dapat dielakkan. Siapa yang bersih dalam hidup ini dan siapa yang tidak akan membela diri kalau dituduh? Istilah “penistaan agama” tidak ada dalam kamus teologi Katolik. Dari sebab itu, sebelum menulis artikel ini saya memeriksa dahulu Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa untuk melihat nuansa katanya. Kata pertama yang bertalian dengan nista ialah hina. Selanjutnya kata-kata yang bertalian dengan hina (menghinakan) cukup banyak.
Revitalisasi Pancasila Demi Indonesia Yang Religius Dan Beradab Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 27 No. 26 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri pada tgl. 21 Mei 1998 berakhirlah regim Orde Baru yang telah menguasai panggung kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama 32 tahun secara otoritarian. Pengunduran diri Soeharto merupakan dampak dari krisis multi-dimensi yang diawali dengan krisis finansial ’98 yang melanda benua Asia. Mo- mentum krisis dan kritis itu dimanfaatkan oleh segenap unsur yang anti- Soeharto untuk menumbangkannya yang mendapat dukungan sangat luas dari kalangan kampus dalam bentuk demonstrasi massif berskala nasional dan kontinyu. Benturanpun tidak dapat dihindarkan, sehingga berujung pada kerusuhan sosial bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada tgl. 13-14 Mei 1998.

Page 1 of 2 | Total Record : 19