cover
Contact Name
Moh. Fathoni
Contact Email
jurnalaladalah@gmail.com
Phone
+62331-487550
Journal Mail Official
jurnal.aladalah@iain-jember.ac.id
Editorial Address
Jl. Mataram No.1, Karang Miuwo, Mangli, Kaliwates, Jember, East Java, Indonesia 68136
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al'Adalah
ISSN : 14107406     EISSN : 26848368     DOI : https://doi.org/10.35719/aladalah.v22i1
Islam dan Sosial Kemasyarakatan Islam dan Pendidikan Islam dan Budaya Islam dan Politik Islam dan Sejarah
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 24 No. 2 (2021)" : 7 Documents clear
TRANSFORMASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM SYAIR NABI YUSUF VERSI BAHASA MADURA: ANALISIS SASTRA ISLAM Sholihin, Ahmad Badrus
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.73

Abstract

Sebuah karya sastra tidak bisa lepas dari kondisi masyarakat dan situasi budaya tempat karya itu dihasilkan. Dalam hubungan sebab akibat, diasumsikan bahwa pengaruh sosial adalah sebab-sebab yang menghasilkan suatu karya sastra sebagai akibatnya. Dalam fungsi ini, sebuah karya sastra dapat berperan sebagai cerminan situasi masyarakatnya. Refleksi ini bukan sekedar reproduksi realitas sosial menurut berbagai kesan yang masuk dari luar ke dalam persepsi. Refleksi itu sendiri berisi tanggapan dan reaksi aktif terhadap tayangan tersebut. Dengan menganalisis Syair Nabi Yusuf Madura, tulisan ini mencoba mengeksplorasi transformasi nilai-nilai Islam dalam masyarakat Madura dan/atau pengguna bahasa Madura. Dengan menggunakan teori sastra Islam Najib Kailani, penulis akan mengungkapkan tiga poin utama dari Syair Nabi Yusuf Madura. Pertama, konsep muslim ideal menurut masyarakat Madura dalam simbolisme protagonis (al-bathal). Kedua, komitmen (al-iltizam) masyarakat Madura dalam menginternalisasi nilai-nilai Islam. Ketiga, keterikatan (al-irtibath) masyarakat Madura terhadap nilai-nilai Islam. A literary work cannot avoid the condition of the society and the cultural situation in which it is produced. In a causal relationship it is assumed that social influences are the causes that produce a literary work as a result. In this function, a literary work can act as a reflection from the situation of its society. This reflection is not just a reproduction of a social reality according to various impressions that enter from the outside into the perception. Reflection itself contains active responses and reactions to these impressions. By analyzing the Madurese Syair Nabi Yusuf, this paper tries to explore the transformation of Islamic values in Madurese society and/or Madurese language users. By using the Islamic literary theory of Najib Kailani, the writer will reveal three main points from the Madurese Syair Nabi Yusuf. First, the concept of the ideal Muslim according to the Madurese community in the symbolism of the protagonist (al-bathal). Second, the commitment (al-iltizam) of the Madurese community in internalizing Islamic values. Third, the attachment (al-irtibath) of the Madurese community to Islamic values.
TASAWUF FALSAFI SYEKH ABDUL KARIM AL JILLI DAN KONSEP INSAN KAMIL hasi, syazna maulida
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.72

Abstract

Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn Abd al-Karim bin Khalifah bin Ahmad bin Mahmud al-Jilli (1365–1428 M) terkenal dengan teori sufistiknya tentang insan kamil (manusia sempurna). Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan secara terperinci pemikiran tasawuf falsafi al-Jilli mengenai konsep insan kamil. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian library research (studi kepustakaan). Hasil penelitian ini adalah bahwa menurut pemikiran tasawuf-falsafi ‘Abdul Karim al-Jilli, manusia dapat berpotensi menjadi insan kamil dengan cara memaksimalkan potensi ruhhiyah atau spiritualnya. Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn Abd al-Karim bin Khalifah bin Ahmad bin Mahmud al-Jilli (1365 – 1428 AD) is famous for his Sufistic theory of insan kamil (perfect man). This study aims to describe in detail about Al-Jilli's philosophical Sufism and how his famous thoughts regarding the concept of insan kamil. The method used in this research is a qualitative method with the type of research library research (library study). The results of this study explain that regarding the Sufism-philosophy concept of 'Abdul Karim al-Jilli, humans could be the perfect man (Insan Kamil) by maximizing their potential spirituality.
MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA (MELAYU-INDONESIA):: KAJIAN PEMIKIRAN HAMKA DALAM SEJARAH UMAT ISLAM Amir, Ahmad Nabil
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.74

Abstract

Artikel ini membincangkan sejarah masuknya Islam ke Melayu seperti yang dicatatkan oleh Hamka dalam Sejarah Umat Islam dan Dari Perbendaharaan Lama. Dalam penelitiannya tentang sejarah perkembangan Islam di Nusantara, Hamka tuntas mempertahankan kenyataan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M dari Arab, dan menolak tesis yang menyatakan Islam disebarkan pada kurun abad ke-13 dari Gujarat. Hal ini, menurutnya, dibuktikan dengan sumber-sumber sejarah yang signifikan bahwa Islam telah ada di Melayu pada awal abad ke-7. Kajian ini menganalisis pemikiran Hamka tersebut tentang perkembangan sejarah awal Islam di Melayu melalui karyanya, dan membandingkannya dengan analisis Muhammad Naquib al-Attas dalam buku Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. This paper discusses the emergence and spread of Islam in the Malay Archipelago as articulated and brought forth by Hamka in Sejarah Umat Islam. In his significant analysis of the history of Islam in the Malay Archipelago, Hamka established the fact that Islam comes to this region in the 7th CE from Arab, and refuted the claims that it was spread later in 13th CE from Gujarat. This was reinforced with significant historical facts that evidently pointed out that Islam had been established in the Malay world early in 7th CE. This paper will analyze Hamka’s thoughts on early Islam in the Malay Archipelago and compared it with the works of Muhammad Naquib al-Attas in Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Islam in Malay History and Culture).
PERAN FATWA MUI SEBAGAI PRODUK HUKUM ISLAM DALAM MASYARAKAT Hakim, Zainul
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.77

Abstract

Pada Juli 2021, bulan milad MUI yang ke-47, menjadi refleksi capaian peran MUI dalam masyarakat. Setidaknya, MUI memiliki dua kerja penting. Pertama, MUI sebagai pembawa aspirasi dan pelayan umat (khadim al-ummah). Kedua, MUI sebagai mitra pemerintah (shadiq al-hukumah). Dalam menjalankan keduanya, fatwa sebagai keluaran MUIsangat bermanfaat dalam perkembangan hukum Islam di Indonesia. Fatwa yang dihasilkan oleh MUI seperti fatwa tentang hukum keluarga menuju kebutuhan legislasi hukum Islam dalam tatanan sistem hukum Indonesia yang terdapat dalam Undang-undangNomor 1 Tahun 1974 pada Perkawinan. Sampai kini, tidak kurang dari 15 fatwa yang berkaitan tentang masalah keluarga seperti perkawinan campuran, prosedur pernikahan, pengucapan sighat ta'lik talak pada waktu upacara akad nikah, perkawinan beda agama, kedudukan anak hasil zina, dan lain-lain, termasuk juga rancangan undang pada Hukum Peradilan Agama; dan RUU Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan. On July 2021, MUI's 47th anniversary month, is a reflection of the achievements of MUI's role in society. At least, MUI has two important tasks. First, MUI as a carrier of aspirations and a servant of the people (khadim al-ummah). Second, MUI as a partner of the government (shadiq al-hukumah). In carrying out both, the fatwa as the output of the MUI is very useful in the development of Islamic law in Indonesia. The fatwa produced by the MUI is like a fatwa on family law towards the need for Islamic law legislation in the order of the Indonesian legal system contained in Law Number 1 of 1974 on Marriage. Until now, no less than 15 fatwas related to family issues such as mixed marriages, marriage procedures, the pronunciation of sighat ta'lik talak at the time of the marriage ceremony, interfaith marriages, the position of children resulting from adultery, and others, including the draft law. On Religious Court Law; and the draft of the Material Law of the Religious Courts on Marriage.
LIVING IN HARMONY:: PERAN IBU-IBU DALAM KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI DESA SUKORENO UMBULSARI JEMBER JAWA TIMUR Firmansyah, A. Amir
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.78

Abstract

Hidup berdampingan antar-pemeluk agama yang berbeda dalam masyarakat Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Artikel ini mengungkap peran kaum ibu-ibu dalam kerukunan antar umat beragama di Desa Sukoreno, Umbulsari, Jember, Jawa Timur. Dalam penelitian partisipatoris ini peneliti secara intensif berinteraksi aktif dengan berbagai pihak baik secara individu maupun secara kelompok, terutama pada kelompok pengajian ibu-ibu di lokasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kaum ibu-ibu dalam kelompok pengajian memiliki peran yang berpengaruh terhadap kerukunan antar umat beragama di desa tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan dalam mengelola keragaman dan menjaga kerukunan di antara mereka di masyarakat. Living in harmony between people of different religions in Indonesian society is an inevitability. This article reveals the contribution of women in inter-religious harmony in Sukoreno Village, Umbulsari, Jember, East Java. In this participatory research, the researcher interacts intensively with various communities both individually and in groups, especially in the recitation group for mothers in the village. The results of this study indicate that the mothers in the study group have an influential contribution to inter-religious harmony in the village. It can be seen from the activities of the recitation group for mothers in managing diversity and maintaining harmony among them in society.
HAK KEPERDATAAN ANAK LUAR KAWIN:: KAJIAN TERHADAP HUKUM PERDATA DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM SETELAH PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI (PMK) NOMOR 46/PUU-VIII/2010 Solikin, Nur; Saidah, Lailatul
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.79

Abstract

Perlindungan hukum memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain. Perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh aparat penegak hukum. Terkait perlindungan hukum terhadap hak keperdataan seorang anak luar kawin, dalam hal ini anak luar kawin belum mendapatkan kejelasannya di dalamnya atau belum mendapatkan kepastian hukum yang mengikat bagi anak luar kawin, bahwa anak yang lahir di luar perkawinan yang sah, tidak dapat diakui. Ketentuan hukum perdata ini terkesan diskriminatif sehingga membuat anak tersebut tidak mendapatkan perlindungan hukum yang bersifat yuridis. Namun, hak keperdataan anak di luar kawin setelah Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 mengalami banyak perubahan. Dengan dibolehkannya pembuktian berdasarkan kemampuan teknologi terhadap ayah biologis si anak, maka anak luar kawin dapat memperoleh nasab dari ayah biologis si anak hingga keluarga ayah biologisnya. Legal protection is to provide protection to human rights that have been harmed by others and protection is given to the community in the order they can enjoy all the rights granted by law enforcement officers. Regarding the legal protection of the civil rights of an out-of-wedlock child, in this case, the outside child has not received the clarity in it or has not received legal certainty that is binding for the newly married child, a child who is born outside of a legal marriage, so the child cannot be recognized. Civil law provisions related to the absence of recognition for children born outside of legal marriages seem discriminatory and children do not get the juridical legal protection. However, the civil rights of children outside of marriage after the Constitutional Court decision Number 46 / PUU-VIII / 2010 underwent many changes. By allowing proof based on the technological capabilities of the biological father of the child, the illegitimate child can get the lineage from the biological father of the child to the family of the biological father.
GROUNDED RESEARCH DALAM BIDANG ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR Marna, Syamsul Mawardi
Al'Adalah Vol. 24 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/aladalah.v24i2.80

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad untuk umatnya sebagai mukjizat terbesar bagi sang Nabi, pedoman bagi manusia. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. sebagai petunjuk bagi manusia. Kehadirannya dijelaskan dalam al-Qur’an untuk memberi putusan dan jalan keluar terbaik bagi problem-problem kehidupan manusia. Inilah fungsi pertama kehadirannya sebagai upaya mewujudkan kehidupan manusia yang jauh lebih baik di dunia maupun di akhirat nanti. Penafsiran al-Qur’an senantiasa mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Satu ayat al-Qur’an bahkan bisa memiliki berbagai makna penafsiran berdasarkan para mufassir. Salah satu metode penelitian yang berkembang saat ini adalah grounded theory atau grounded research, yang menekankan penemuan teori dari data hasil observasi empirik di lapangan dengan metode induktif (menemukan teori dari sejumlah data). The Qur’an is the last book that was revealed by Allah to the Prophet Muhammad for his people as the greatest miracle for the Prophet, the guide for mankind. The Qur’an was revealed by Allah as a guide for humans. Its presence is described in the Qur’an to provide the best decisions and solutions for the problems of human life. This is the first function of its presence as an effort to create a better human life in this world and in the hereafter. The interpretation of the Qur’an continues to develop over time. One verse of the Qur’an can even have various interpretative meanings based on the commentators. One of the research methods currently developing is grounded theory or grounded research, where it emphasizes theoretical findings from empirical observational data in the field using the inductive method (finding theory from a number of data).

Page 1 of 1 | Total Record : 7