cover
Contact Name
Thomas Mata Hine
Contact Email
tomhin050566@gmail.com
Phone
+6282247944422
Journal Mail Official
jurnalnukleus@undana.ac.id
Editorial Address
Jln. Adisucipto, Penfui, Kupang, Indonesia, 85001
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Nukleus Peternakan
ISSN : 23559942     EISSN : 2656792X     DOI : 10.35508
Aims Jurnal Nukleus Peternakan purposes to publish original research and reviews articles on tropical veterinary medicine and domesticated animals such as dog, cat, cattle, buffaloes, sheep, goats, pigs, horses, poultry, as well as Indonesian wild life. Scope Jurnal Nukleus Peternakan cover a broad range of research topics in animal production and fundamental aspects of genetics, reproduction, socioeconomic of livestock, nutrition, physiology, and preparation and utilization of animal products. Articles typically report research with beef cattle, goats, horses, pigs, and sheep; however, studies involving other farm animals, aquatic and wildlife species, endangered animals, and laboratory animal species that address fundamental questions related to livestock and companion animal biology will be considered for publication.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015" : 14 Documents clear
PENGARUH PENGGUNAAN KULIT BUAH KOPI TERFERMENTASI Trichoderma reesei YANG DITAMBAH Zn-Cu ISOLEUSINAT TERHADAP PRODUKSI AMONIA DAN VOLATILE FATTY ACIDS SECARA IN VITRO Lusia Wea; Erna Hartati; Ahmad Saleh
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.714

Abstract

The purpose of the study was to know the influence of fermented coffee husk Trichoderma reesei with addition of Zn-cu isoleusinat on the production of Ammonia (NH3) and Volatile Fatty Acids (VFA) in vitro. This study was conducted at the Laboratory of Food Chemistry Faculty of Animal Husbandry University Nusa Cendana Kupang for two months. This study used a completely randomized design (CRD) with three treatments and five replications. The results showed that the used of fermented coffee husk with Trichoderma reesei and also addition of Zn-Cu Isoleusinat improved coffee husk quality which was characterized by increasing of production of NH3 and VFA significantly (P <0.05). Based on the results of the study, it is concluded that the use of fermented coffee husk with Trichodrma reesei and addition of Zn-Cu isoleusinat improves NH3 and VFA. ABSTRAK Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Kimia Makanan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang selama dua bulan. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu: persiapan alat dan bahan, pelaksanaan dan analisis data. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kulit buah kopi terfermentasi Trichoderma reesei dengan penambahan Zn-cu isoleusinat terhadap produksi amonia (NH3) dan Volatile Fatty Acids (VFA) in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan P1 kulit buah kopi tanpa fermentasi, P2 kulit buah kopi terfermentasi Trichoderma reesei, P3 kulit buah kopi terfermentasi Trichoderma reesei dengan penambahan Zn-Cu Isoleusina pada setiap perlakuan diulang lima kali. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kulit buah kopi terfermentasi jamur Trichoderma Reesei dengan penambahan Zn-Cu Isoleusinat berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi NH3 dan VFA. Pada perlakuan P3 mampu meningkatkan kualitas kulit buah kopi yang ditandai dengan peningkatan produksi NH3 sebesar 6,6 mM/l dan VFA sebasar 98,08 mM/l. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan kulit buah kopi terfermentasi Trichodrma reesei dengan penambahan Zn-Cu isoleusinat dapat meningkatkan produksi NH3 dan VFA dibandingkan dengan kulit buah kopi tanpa fermentasi dan kulit kopi terfermentasi Trichoderma reesei.
KUALITAS KIMIA DAGING SE’I YANG DIBERI EKSTRAK ANGKAK DAN LAMA PENYIMPANAN BERBEDA CHEMICAL QUALITY OF SE’I (Rotenesse Smoked Meat) TREATED WITH RED YEAST RICE EXTRACT IN DIFFERENT STORAGE TIMES Bastari Sabtu; Ni Putu Febri Suryatni
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.715

Abstract

The study aimed to evaluate the chemical quality of se’i treated with red yeast rice extract in different storage times. Factorial of completely randomized design was used in the study. The two factors were red yeast rice extract levels and storage times. The red yeast rice extract levels consisted of: 0% (control), 1%, 1.5%, 2% and 2.5% as I factor; and the storage times were: 3, 5, 7 and 9 days. Each combinations of those two factors had 3 replicates. The variables evaluated were: water, protein and fat contents of the se’i. Data were analyzed using analysis of variance with SPSS 17 version. The result showed that there was no interaction between red yeast extract and storage time on water and protein contents but there was significanlyt effect on fat content. The conclusion drawn is that se’i treated with 2.5% red yeast rice extract stored for 9 days reduces level of fat contents of se’i. Using of 2% red yeast rice extract perform similar results with control. It is better to reduce the storage time to be 7 days by evaluating other additional se’i quality variables. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengkaji kualitas kimia daging sei yang diberi ekstrak angkak merah dan lama simpan berbeda. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial. Perlakuan terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah pemberian ekstak angkak, 0% (Kontrol), 1%, 1.5%, 2% dan 2.5% dan faktor kedua adalah lama simpan, 3 hari, 5 hari, 7 hari dan 9 hari. Kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diukur adalah kadar air, protein dan lemak daging se'i. Data dianalisis menggunakan Analisis Variansi dengan program SPSS versi 17. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antara pemberian ekstrak angkak dengan lama simpan terhadap kadar air, protein dan adanya interaksi antara pemberian ekstrak angkak dan lama simpan terhadap kadar lemak. Kesimpulan, Pemberian ekstrak angkak merah sampai pada level 2,5% selama penyimpanan 9 hari ada kecenderungan menurunkan kadar lemak daging se’i. Pada level pemberian 2% menghasilkan kadar air, protein dan lemak daging se’i yang relatif sama dengan kontrol. Sebaiknya, penyimpananan lebih dipersingkat kurang dari 7 hari dengan melihat kondisi fisik daging se’i lainnya.
HERITABILITAS BOBOT LAHIR SAPI BALI DAN PERSILANGANNYA YANG DIPELIHARA SECARA SEMI-INTENSIF DI KABUPATEN KUPANG (HERITABILITY OF BALI CATLLE BIRTH WEIGHT AND IT’S CROSSBRED UNDER SEMI-INTENSIVE RAISING IN KUPANG DISTRICT) Agustinus Ridlof Riwu; Johny Nada Kihe
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.716

Abstract

Research aimed was to know heritability of Bali cattle and its crossbred. Data was collected by survey and interview to the farmers and observation with measurement on the cattle body linear sizes to predict bulls and cows live weight, calf birth weight is weighted below twenty-hour post partum and was analyzed using regression analysis and continued with heritability calculated. The result from this research is: averages of cow weight were: 262,3980 ± 17,4870 kg; Bali cattle bull weight: 345,1560 ± 14,4004 kg and high quality bull weight: 420,4060 ± 24,1006 kg; birth weight of Bali cattle: 16,0364 ± 0,4892 kg and birth weight of crossing Bali cattle: 26,5312 ± 2,4015 kg. The heritability of Bali cattle birth weight was: 0,0846 is estimated from the regression on mother-offspring regression; 0,0680 estimated from father-offspring regression and 0,0754 is estimated from parent-offspring regression. The heritability off crossing Bali cattle birth weight was: 0,2526 is estimated from the regression on mother-offspring regression; 0,1992 estimated from father-offspring regression and 0,2220 is estimated form parent-offspring regression. The good heritability for crossing Bali cattle birth weight is estimated from the regression of mother-offspring is: 0,2520 with the regression equation was Y = -5,64 + 0,1260 cow weight (kg); 0,0846 for Bali cattle is estimated from the regression of mother-offspring with the regression equation was Y = 4,61 + 0,0423 cow weight (kg). The result from crossbreeding of Bali cattle cows with high quality bulls will be increased birth weight 65,45 percent from Bali cattle birth weight; and the heritability of the birth weight is more depend on the cow’s condition. ABSTRAK Suatu penelitian survey dilakukan untuk mengetahui heritabilitas bobot lahir sapi Bali dan persilangannya, data yang dikumpulkan: bobot induk, pejantan dan berat lahir anak sapi Bali dan persilangannya. Analisa data menggunakan analisis regresi selanjutnya dihitung heritabilitas bobot lahir. Dari penelitian ini diperoleh: bobot induk: 262,3980 ± 17,4998 kg, bobot pejantan lokal: 345,1560 ± 14,4004 kg dan pejantan unggul: 420,4060 ± 24,1006 kg; bobot lahir sapi Bali: 16,0364 ± 0,4892 kg dan bobot lahir sapi Bali hasil persilangan: 26,5312 ± 2,4015 kg; heritabilitas bobot lahir sapi Bali :berdasarkan dugaan regresi anak-induk 0,0846; dugaan regresi-anak-pejantan 0,0680 dan berdasarkan dugaan regresi anak-tetua 0,0754.; heritabilitas bobot lahir sapi Bali hasil persilangan berdasarkan dugaan regresi anak-induk 0,2526, dugaan anak-pejantan 0,1992 dan berdasarkan dugaan regresi anak-tetua 0,2220; heritabilitas bobot lahir tertinggi pada sapi Bali hasil persilangan adalah berdasarkan dugaan regresi anak-induk yakni 0,2520 dengan persamaan regresi Y = -5,64 + 0,1260 bobot induk (kg), dan pada sapi Bali berdasarkan dugaan regresi anak-induk, heritabilitasnya: 0,0846 dengan persamaan regresi Y = 4,61 + 0,0423 bobot induk (kg). Hasil persilangan sapi Bali dengan pejantan unggul meningkatkan bobot lahir sebesar 65,45 persen dari bobot lahir sapi Bali dan heritabilitas atas sifat yang diturunkan (bobot lahir) lebih banyak ditentukan oleh kondisi induk dibandingkan dengan pejantan atau dari tetua (pejantan + induk), baik untuk sapi Bali maupun untuk hasil persilangan sapi Bali.
PENGARUH LAMA FERMENTASI DENGAN Saccharomyces cerevisiae TERHADAP KANDUNGAN ASAM AMINO DAN KECERNAAN ENERGI TEPUNG BIJI ASAM SANGRAI SEBAGAI PAKAN SUPLEMEN INDUK BABI BUNTING Erlinda Rambu Enga Rambu Enga; Sabarta Sembiring; I Made Suaba Aryanta
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.717

Abstract

The study was carried out in 2 steps: Step I: fermentation of dried frying tamarind seeds meal (TSM) ) roasted and analysis of amino acid: and feeding trial for feeds intake and energy digestibility measurement (period ( II ). Completely randomized design of 5 treatments with 3 replicates procedures were applied in the step I.The 5 treatments applied were: R0: dried frying DTSM; R1: Moistening DTSM with 30mldistilled water: 50g TSM) and incubated for 12 hours; R2: Fermenting DTSM with Saccharomyces cerevisiae solution/scs(30mlscs0.3% Saccharomyces cerevisiae:50g TSM) and incubated for 12 hours; R3: Moistening DTSM with 30 ml distilled water:50g TSM) and incubated for 24 hours; and R4: Fermenting DTSM with Saccharomyces cerevisiae solution/scs (30mlscs0.3% Saccharomyces cerevisiae: 50g TSM) and incubated for 24 hours. Block design of 4 treatments with 3 replicates procedures were applied in the step II. There were12 sows of 1.5-2years of age with 137 – 170kg (CV = 12,22%) initial body weight.The 4 treatments offered were: R0: basal feed(formulated of 48% corn meal+ pollard 42% + concentratedt feed Hi grow KB3CP152 10%); R1: basal feed + 5% fermented DTSM; R2: basal feed + 7.5% DTSM; R3: basal feed + 10% DTSM. Descriptive analysis shows that R2 is the best treatment resulting the highest total amino acids 14.04%, essential 3.71% and non-essential amino acids 7.22%.The effect of supplementation fermented TSM up to 10% in the basal diet was not significant (p>0,05) on energy digestibility of the sows.The Conclusions can be defined is the process of roasting and fermentation conducted phase I descriptively on acid content amino acid from wheat seeds roasted with Saccharomyces cerevisiae for 12 hours had the average content. Supplementation of wheat seeds fermented sour 12 hours with Saccharomyces cerevisiae 5-10% in the ration sows are pregnant one month to produce the same relative energy digestibility. ABSRTRAK Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap selama yakni: Tahap I untuk fermentasi tepung biji asam (TBA) sangrai dan analisis kandungan asam amino; dan Tahap II untuk pemberian pakan untuk pengukuran kecernaan energi. Rancangan untuk tahap I adalah rancanganacak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Kelima perlakuan adalah: R0: TBA sangrai; R1: TBA sangrai dilembabkan dengan air dan disimpan 12 jam; R2: TBA sangrai difermentasi dengan larutan Saccharomyces cerevisiae selama 12 jam; R3: TBA sangrai dilembabkan dengan air dandisimpan 24 jam dan R4: TBA sangrai difermentasi dengan larutan Saccharomyces cerevisiaeselama 24 jam. Sedangkan untuk tahap II menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Penelitian Tahap II menggunakan 12 ekor induk babi peranakan sedang bunting yang berumur 1,5-2 tahun dengan berat badan awal 137 – 170kg (KV = 12,22%). Keempat perlakuan dimaksud adalah: R0: pakan basal; R1: pakan basal + 5% tepung biji asam hasil fermentasi (TBAF); R2: pakan basal + 7,5% TBAF; R3: pakan basal + 10% TBAF. Hasil uji deskriptif terhadap kandungan asam mino: total asam amino sebesar 14,04%, asam amino esensial 3,71% dan non-esensial 7,22% menunjukkan bahwa perlakuan R2 yang terbaik. Analisis ragam terhadap kecernaan energi menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (p>0.05) terhadap kecernaan energi dan uji Duncan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar rataan perlakuan dalam kecernaan energi. Kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah proses sangrai dan fermentasi yang dilakukan tahap I secara deskriptif terhadap kandungan asam amino dari tepung biji asam sangrai dengan Saccharomyces cerevisiae selama 12 jam memiliki rataan kandungan. Suplementasi tepung biji asam hasil fermentasi 12 jam dengan Saccharomyces cerevisiae 5-10% dalam ransum induk babi yang sedang bunting satu bulan menghasilkan kecernaan energi yang relatif sama.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT MIKRO UTAMA (KMU) PADA SEKTOR PERTANIAN OLEH DEBITUR BANK NTT KANTOR CABANG UTAMA KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Solvi M. Makandolu; Johanes G. Sogen
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.718

Abstract

Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) have a very important role in the economy. A study applying a survey method approach was conducted in October 2012 - January 2013 to determine the factors that affect the rate of return on Prime Micro Credit (PMC) in agriculture on NTT Bank - Main Branch of Kupang. This study aims to: (1) describe the characteristics of the customers returning PMC and creditors performance in NTT Bank - Main Branch of Kupang, (2) determine assesment process of PMC and its distribution, and (3) analyze the factors that affect the collectibility of PMC in agriculture sector on NTT Bank - Main Branch of Kupang. The sampling method used was proportionate cluster purposive sampling. The number of samples used were 80 respondents which divided into 55 no smoothly customers and 25 smoothly customers. The data was analyzed using descriptive qualitative analysis and quantitative analysis. The quantitative analysis model used is a binary logistic regression. Quantitative data was processed using Microsoft Excel 2007 and SPSS version 18. The results showed that the characteristics of customers who are facing non performing loans are mostly no longer productive age, male, married, has the highest level of junior secondary education, as well as having a large number of family. Business characteristics that affect the level of noncurrent collectibility are amount of assets that is less than 20 million IDR, turnover of less than five million IDR, the credit of more than 30 million IDR, operating revenues less than one million IDR and the business done is not a core business but just as a companion of core business. Factors that are having significant effect on the collectability of micro credit were assets variable (<20 million), turnover (<5 million), credit limit (> 30 million), business income, back payment, paid-in interest and time period of repayment (P <0.10). The performance of NTT Bank in executing micro credit is classified into good performance. In order to reduce the number of customers were are not fluent in their credit worthiness, then micro credit disbursed should not more than 30 million IDR and the business involved should be as core business. ABSTRAK Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian. Suatu studi dengan pendekatan metode survei telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 – Januari 2013 untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengembalian Kredit Mikro Utama (KMU) di bidang pertanian pada Bank NTT Kantor Cabang Utama Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penyaluran dan penilaian KMU dan mendeskripsikan karakteristik kreditur yang mempengaruhi tingkat pengembalian KMU di bidang pertanian dan peternakan pada Bank NTT Kantor Cabang Utama Kupang. Metode sampling yang digunakan adalah proportionate cluster purposive sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 80 orang debitur dimana 55 orang debitur tidak lancar dan 25 orang debitur lancar. Faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap kolektibilitas KMU Bank NTT ialah variabel aset (<Rp.20 juta), omset (<Rp.5 juta), plafon kredit (>Rp.30 juta), pendapatan usaha, setoran tunggakan, setoran bunga, dan waktu pelunasan (P<0.10). Kinerja Bank NTT dalam penyaluran kredit mikro utama tergolong baik. Dalam rangka menekan jumlah debitur yang tidak lancar dalam pengembalian kreditnya, maka sebaiknya KMU yang dikucurkan tidak boleh lebih dari Rp.30 juta dan bidang usaha yang digeluti tersebut harus menjadi usaha pokok.
EVALUASI PERUBAHAN TOTAL KANDUNGAN ASAM LEMAK DAN KECERNAAN BAHAN KERING TEPUNG BIJI ASAM HASIL FERMENTASI Saccharomyces cerevisiae SEBAGAI PAKAN TERNAK BABI Desnyati Hamba Lewa; Usaha Ginting Moenthe; I Made Suaba Aryanta
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.719

Abstract

The study was divided into 2 periods. The purpose of period I was to find out the best treatment with the best fatty acids content and the best nutritional content. The purpose of period II was to find out the best treatment with the highest values in dry matter digestibility. There 12 pregnant sows of 1,5 0 3 years of age with 137 – 170 kg (CV = 12.22%) initial body weight were used in the feeding trial. Block design of 4 treatments with 3 replicates procedures were applied in feeding trial. Four treatments applied in feeding trial were: R0: basal feeds composed of : corn meal 48% + pollard (wheat brand) 42% + Hi grow KB3CP152 10%; R1: basal feed + 5% fermented TSM; R2: basal feeds + 7,5% fermented TSM; R3: basal feed + 10% fermented TSM. Statistical analysis shows that effect of treatment in feeding trial is not significant (p>0.05) on dry matter digestibility value. The conclusion drawn is that fermentation dry tamarind seeds meal with Saccharomyces cerevisiae for 12 hours performs the best result in total, saturated and un-saturated fatty acids contents. Supplementing pregnant sows with 5-10% fermented Saccharomyces cerevisiae tamarind seeds meal in the diet performs the similar dry matter digestibility values. ABSTRAK Penelitian dilaksanakan dua tahap. Tujuan dari penelitian Tahap I adalah memperoleh metode terbaik yang mendapatkan kandungan total asam lemak, asam lemak jenuh, dan asam lemak tak jenuh yang terbaik. Tujuan penelitan Tahap II adalah untuk mendapatkan tingkat suplementasi tepung biji asam hasil fermentasi yang menghasilkan kecernaan bahan Kering yang terbaik. Dalam penelitian Tahap II digunakan 12 ekor babi induk peranakan sedang bunting yang berumur 1,5-2 tahun dengan berat badan awal 137 – 170kg (KV = 12,22%). Pada penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan: R0: pakan basal (tepung jagung 48% + pollard gandum 42% + konsentrat Hi Gro KB3CP152 10%; R1: pakan basal + 5% tepung biji asam hasil fermentasi (TBAF); R2: pakan basal + 7,5% TBAF; R3: pakan basal + 10% TBAF dengan 3. Analisis ragam terhadap kecernaan bahan kering menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (p>0.05) terhadap kecernaan bahan kering. Kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah: fermentasi tepung biji asam sangrai selama 12 jam dengan Saccharomyces cerevisiae menghasilkan total lemak, asam lemak jenuh dan asam lemak tak-jenuh terbaik. Suplementasi tepung biji asam terfermentasi Saccharomyces cerevisiae sebanyak 5-10% menghasilkan kecernaan bahan kering yang relatif sama pada babi induk sedang bunting.
PENGARUH KOMBINASI TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschatsa, Durch), TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera, Lam) DAN MINYAK KELAPA SEBAGAI PENGGANTI JAGUNG DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE DAGING, TULANG DAN KARKAS AYAM BROILER Sesilia Bona; Sutan Florida Getruida Dillak; Heru Sutedjo
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.721

Abstract

The experiment was carried out at the field Laboratory of Faculity of Animal Husbandry Nusa Cendana University for 5 weeks, Consisting of 1 week, for adaptation and 4 weeks for data collection, starting krom September 2 nd to October 8th, 2015. The aims of the experiment were to determine the effect of corn substitution with pumpkin flour, moringa flour and coconut oil combination on broiler meat, bone and carcass percentage. The experimental animals used were day old broiler chickens (DOC) Starin Abor CP 707, PT. Charoen Phokphand Jaya Farma Surabaya. The experimental method used was Completely Randomized Design with four treatmens and four replications. The ration tested consist of: R0= corn 60%: 40% concentrate; R1= corn 55%: + concentrate 40% + combination of pumpkin flour, Moringa flour and coconut oil 5%: R2 = 50% corn + concentrate 40% + combination of Pumpkin flour, Moringa flour and coconut oil 10%; R3 = Corn 45% + Concentrate 40% + Combination of Pumkin flour, Moringa flour and coconut oil 15%. The variables measured were broiler meat, bone and carcass. Result indicated that corn substitution with pumpkin flour, moringa flour, and coconut oil combination had no effect on percentage meal, bone and carcass. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa sebagai pengganti jagung dalam ransum terhadap persentase daging, tulang dan karkas ayam broiler. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler (DOC) Strain Abor CP 707, PT.Charoen Phokphand Jaya Farma Surabaya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ransum yang digunakan terdiri dari jagung, konsentrat, kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa dengan formula sebagai berikut: R0 = Ransum kontrol; R1 = jagung 55% : konsentrat 40% kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa 5%; R2= jagung 50%: konsentrat 40% : kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa 10%; R3 = jagung 45% : konsentrat 40% : kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa 15%; Variabel yang diukur antara lain persentase daging, tulang dan karkas ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan terhadap persentase daging, tulang dan karkas.
PRODUKSI HIJAUAN MAKANAN TERNAK DAN KOMPOSISI BOTANI PADANG PENGGEMBALAAN ALAM PADA MUSIM HUJAN DI KECAMATAN AMARASI BARAT KABUPATEN KUPANG Yulius Uli Hawolambani; Herayanti Panca Nastiti; Yoakim Harsuto Manggol
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.724

Abstract

This research has been conducted in the area of pasture Subdistrict Amarasi Barat District Kupang. The aim of this research was to know production of fodder and forage botanical composition of field natural Grazing during the rainy season in the Amarasi West District, Kupang regency. The method used in this research was the measuremend and observation method. Measurement of forage production was done by using the "Actual Weight Estimate" by using plot of 1 m x 1 m and the placement of the plot on the meadow done by systematic random, while for the composition of botany done by direct measurements by methods such as measurement Summed Dominance Ratio (SDR ) based on the frequency, based on the density, based on the cover area (ground cover). The result of this research was the production of green fodder is 999,02 kg / ha and the SDR value of botanical composition 60.04%, 20.82% legume and gulma 19.14%. From the data analysis above shows that the production of green fodder and botanical composition of natural grazing field dominated by grasses so the production fresh ingredient in the rainy season is good enough. ABSTRAK Penelitian ini telah dilakukan di padang penggembalaan alam Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang, dengan tujuan untuk mengetahui produksi hijauan makanan ternak dan komposisi botani padang penggembalaan alam pada musim hujan di Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pengukuran dan pengamatan langsung dilapangan. Pengukuran produksi hijauan dilakukan dengan menggunakan metode “Actual Weight Estimate” yaitu menggunakan petakukur 1 m x 1 m dan penempatan petak ukur pada padang rumput dilakukan dengan cara acak sistematis, sedangkan untuk komposisi botani dilakukan dengan cara pengukuran langsung dengan metode seperti pengukuran Summed Dominance Ratio (SDR) berdasarkan frekuensi (keseringan), berdasarkan density (kerapatan), berdasarkan area cover (penutupan tanah). Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi hijauan makanan ternak adalah 999,02 kg/ha dan komposisi botani dengan nilai SDR 60,04%, leguminosa 20,82% dan gulma 19,14%. Dari data di atas menunjukan bahwa produksi hijauan makanan ternak dan komposisi botani padang penggembalaan alam didominasi oleh rumput sehingga produksi bahan segar pada musim hujan cukup baik.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BONGGOL PISANG DAN TEPUNG DAUN KELOR SEBAGAI PENGGANTI JAGUNG TERHADAP WARNA, RASA DAN KEEMPUKAN DAGING AYAM BROILER Stefanus Yamantino Taran; Victor Junius Ballo; Markus Sinlae
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.732

Abstract

The aims of the study were to determine the effect of combination of banana weevil flour (BWF) and moringa leaves flour (MLF) as substitute of corn on colour, flavour and tenderness of broiler meat. Completely Randomize Design was used with 4 treatments and 4 replicates. The treatments were as fllow : R0. Diet without combination of BWF and MLF; R1. Diet with 17% combination of BWF and MLF as substitution of corn; R2. Diet with 25,5% combination of BWF and MLF as substitution of corn; and R3. Diet with 34% combination of BWF and MLF as substitution of corn. Organoleptic tests was used to determine color and flavour of the meat based on Hedonic Scale scores, while Warner Bratzler Shear was used to determine meat tenderness or breaking power shear. The results of the analysis of non-parametric test (Kruskal Wallis test) showed thad teh effect of combination BWf and MLF were not significant (P>0.05) on organoleptic value of broiler meat. It is concluded that combination BWF and MLF as substitution of corn can be used up to 34% in broiler ration for organoleptically the meat quality produced were acceptable. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi tepung bonggol pisang dan tepung daun kelor sebagai pengganti jagung dalam ransum terhadap warna, rasa , dan keempukan daging ayam broiler. Untuk melihat pengaruh perlakuan, dilakukan pengukuran terhadap beberapa variabel, yaitu warna, rasa dan keempukan daging ayam broiler. Perlakuan yang dibrikan adalah sebagai berikut: R0 pemberian pakan tanpa menggabungkan tepung bngol pisang dan tepung daun kelor, R1 pemberian pakan dengan 17% kombinasi dari tepung bongol pisang dan tepung daun kelor sebagai pengganti jagung, R2 pemberian pakan dengan 25,5% kombinasi dari tepung bongol pisang dan tepung daun kelor sebagai pengganti jagung dan R3 pemberian pakan dengan 34% kombinasi dari tepung bongol pisang dan tepung daun kelor sebagai pengganti jagun. Uji organoleptik untuk variabel warna dan rasa dinilai dengan menggunakan skor skala hedonic, sedangkan pengujian keempukan atau daya putus (shear) daging dilakukan dengan menggunakan alat Warner Bratzler Shear . Hasil analisis uji non parametrik (uji Kruskal Wallis) menunjukan bahwa pengaruh penambahan tepung bonggol pisang dan tepung daun kelor tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai organoleptik (warna, rasa dan keempukan) daging ayam broiler. Disimpulkan bawah kombinasi dari tepung bonggol pisang dan tepung daun kelor sebagai pengganti jagung bisa digunakan lebih dari 34% secara organoleptik dapat diterima oleh konsumen.
EVALUASI POTENSI NUTRISI BIJI ASAM (Tamarindus indica) HASIL FERMENTASI DENGAN Saccharomyces cerevisiae SEBAGAI PAKAN BABI INDUK (EVALUATION ON NUTRIENT POTENCY OF Tamarindus indica SEEDS FERMENTED WITH Saccharomyces cerevisiaeFOR SOW DIETS) Agnes Kuku Tangu; Usaha Ginting Moenthe; Sabarta Sembiring
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.734

Abstract

The experiment concisted of two steps. The purpose of the step I study was to investigate nutrition quality on crude protein, fat and crude fiber with the optimal result of Saccharomyces cerevisiae fermentetion; and the purpose of the step II was to study the effect of fermented Tamarindus indica seed mealon organic matter digestibility. There were 12 pregnant sows of 1,5 -2 years of age with 137 – 170 kg (CV = 12.22%) initial body weight were used in the feeding trial. Block design of 4 treatments with 3 replicates procedures were applied in feeding trial. The 4 treatments applied in feeding trial were formulated as: R0: basal feeds composed of : corn meal 48% + pollard (wheat brand) 42% + Hi grow KB3CP152 10%; R1: basal feed + 5% fermented TSM; R2: basal feeds + 7,5% fermented TSM; R3: basal feed + 10% fermented TSM. Step I study results show that fermenting Tamarindus indica seeds meal with Saccharomyces cerevisiae that crude protein and fat is better, however there were no significantn effect (p>0,05) on crude fiber and organic digestible. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tujuan penelitian tahap 1 adalah untuk mengkaji kualitas nutrisi dari protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dan waktu optimum fermentasi Saccharomyces cerevisiae, penelitian tahap 2 untuk memperbaiki kecernaan bahan organik pada ternak babi induk. Penelitian ini menggunakan 12 ekor ternak babi induk dengan umur 1,5-2 tahun dengan bobot badan 137-170 (KV=12,22%). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan level pemberian antara lain : R0: pakan basal (tepung jagung (48%) + pollard gandum (42%) konsentrat KB3CP152 (HI-Gro 152) (10%) untuk mencapai standar kebutuhan protein kasar induk 15%, R1: pakan basal + 5% tepung biji asam fermentasi, R2: pakan basal + 7,5% tepung biji asam fermentasi, R3: pakan basal + 10% tepung biji asam fermentasi. Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan bahwa fermentasi tepung biji asam (Tamarindus indica) dengan Saccharomyces cerevisiae pada kandungan protein kasar dan lemak kasar membaik sedangkan serat kasar dan kecernaan bahan organik sama.

Page 1 of 2 | Total Record : 14