cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 516 Documents
Breeding of Sand Goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr'), Broodstock in Earthen and Concrete Pond Kusman Sumawidjaja; Irzal Effendi; . Enywati
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.601 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.1-5

Abstract

ABSTRACTAnexperiment to asses breeding performance of sand goby was conducted in earthen and concrete pond.  Broodstock (125 - 500 g per fish) of similar levels at maturing were fed trash fish 7% of biomass everyday.  In the rainy season, sand goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), spawned 31 and 30 times per month producing an average of 38.300 and 36.855 eggs per nest, respectively.  In the dry sesason, howeve only fish in earthen ond bred 36 times per month with an average of 39.170 eggs per nest.Key words :  breeding, sand goby fish, Oxyeleotris marmorata ABSTRAKPercobaan ini bertujuan untuk mengetahui pemijahan ikan betutu di kolain tanah dan kolarn beton.  Ikan betutu (125 - 500 g per ekor) dipelihara selarna musim hujan dan musim kemarau dan diberi makan ikan teri sebanyak 7% setiap hari.  Pada musim penghujan, pada kolam tanah dan kolam beton terjadi masingmasing 31 dan 30 kali pemijahan ikan betutu, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), per sarang.  Pada musim kemarau, hanya ikan betutu yang di kolam tanah saja yang memijah sebanyak 36 kali dengan rata-rata 39.170 butir per tahun per sarang.Kata kunci :  pemijahan, ikan betutu, Oxyeleotris marmorata
Trichodinid (Ciliophora: Peritrichida) Ectoparasites of Sand Goby (Oxyeleotris marmorata) Fry D. Dana; Kusman Sumawidjaja; Yani Hadiroseyani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.667 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.7-13

Abstract

ABSTRACTTwo species of Trichodinid were identified from sand goby, (Oxyeleotris marmorata) fry of 6,1-8,0 mm long; T heterodentata and T nigra.  All parasite species were scraped from the skin of fry which were reared in fertilized pond.Key Word :  Sand goby, trichodinids ABSTRAKDua spesies dari genus Trichodina telah diidentifikasi dari benih ikan Betutu, (Oxyeleotris marniorata) yang berukuran 6,1-8,0 mm.  Kedua spesies itu adalah T heterodentata dan T nigra.  Parasit tersebut diambil dari kulit ikan betutu yang dipelihara dalam kolam yang dipupuk.Kata kunci :  Ikan betutu, trichodina
Enhancing the Survival Rate of Sand Goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), Larvae with Antibiotics Irzal Effendi; Yani Hadiroseyani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.825 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.15-22

Abstract

ABSTRACTPenicillin G and streptomycin sulphate were administered for 18 days of rearing of sand goby larvae. 7'wo-days larvae (3,37-3,41 mm) were reared in 160 1 aerated water at stocking density of 50 fish/1.  Until 17 days of rearing period, the larvae were fed plankton (50-300 gm) at stocking density of 20-30 individual/mi, and at day 13-I8, were fed Artemia sp. (1-2 individual/ml).  During first seven days, penicillin G and streptomycin sulphate (1.000 IU/1 and 10 mg/1, respectively) were applied daily, and there after once every three days.  The fry which reared in media containing antibiotics exhibited higher survival rate (28,09%, compared to 3,3 1 %), than the control, whereas their growth was similar (1,09-1,53 mm). Keywords :  Antibiotics, survival rate, sand goby fish, Oxyeleotris marmorata  ABSTRAKAntibiotik penisilin G dan streptomisin sulfat telah digunakan dalam pemeliharaan larva ikan betutu selama 18 hari.  Larva umur 2 hari (3,37-3,41 mm) dipelihara dalain tangki berisi air sebanyak 160 1 yang diaerasi halus, dengan kepadatan 50 ekor/1.  Antibiotik diberikan kepada media pemeliharaan larva setiap hari pada 7 hari pertarna pemeliharaan dan selanjutnya setiap 3 hari sekaii hingga akhir pemeliharaan, sebanyak 1.000 IU/1 dan 10 mg/1 masing-masing untuk penisilin G dan streptomisin sulfat.  Pada hari pertama hingga ke- 1 7, larva diberi makan plankton berukuran 50-300 gm sebanyak 20-30 individu/ml, hari ke- 13 sampai 18 diberi Artemia sp. sebanyak 1-2 ekor/ml.  Larva yang dipelihara pada media berantibiotik memiliki kelangsungan hidup (28,09%) lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa antibiotik (3,31%), sedangkan pertumbuhan panjang mutlaknya sama yaitu 1,09-1,53 mm.Kata kunci :  Antibiotik, kelangsungan hidup, ikan betutu, Oxyeleotris marmorata
Effect of Triiodothyronine and Cortisol on Development, Growth and Survival Rate of Sand Goby (Oxyeleotris marmorata, Blkr.) Larvae R.R Sri Pudji; S. Dewi; M. Zairin Junior
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.716 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.23-30

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to investigate the effect of triiodothyronine and cortisol on the development, growth, and survival rate of sand goby larvae.  The experiment was carried out at Kolan Percobaan Babakan, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB Bogor.  The larvae were immersed in solution of A (T3 2 mg/1 + C 1 mg/1), B (T3 2 mg/1 + C 0, 1 mgll), C (T3 2 mg/1 + C 0,0 1 mg/1) dan D (without hormone) for one hour.  After treatment, larvae were reared in aquarium (50x50x50 cm).  Larvae were fed by rotifer and phytoplankton, three times a day.  Larval development, growth and survival rate were observed.  Result showed that T3 2 mg/1 +C 1 nig/1 and T3 2 mg/1 + C 0, 1 mg/1 could accelerated development of swim bladder and eyespot of larvae.  Treatment did not effect body pigmentation and growth; but effect survival rate of sand goby larvae.Key words :  Triidothyronine, cortisol, larvae, sand goby fish, development, growth, survival rate ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon triidotironin dan kortisol terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan betutu.  Penelitian ini dilakukan di Kolam Percobaan Babakan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.  Larva direndam selama satu jam dalam larutan A (T3 2 mg/1 + C 1 mg/1), B (T3 2 mg/1 + C 0, 1 mg/1), C (T3 2 mg/1 + C 0,0 1 mg/1) dan D (tanpa hormon).  Setelah perlakuan, larva dipelihara dalam akuariun berukuran 50x50x50 cm.  Selama pemeliharaan larva diberi pakan berupa rotifer dan fitoplankton dengan frekuensi tiga kali sehari.  Perkembangan, petumbuhan, dan kelangsungan hidup larva diamati.  Perendaman larva ikan betutu dalam larutan A dan B dapat mempercepat pembentukan gelembung renang dan bintik mata.  Perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi kecepatan terjadinya pigmentasi tubuh dan pertumbuhan, tetapi mempengaruhi derriat kelangsungan hidup larva.Kata kunci :  Triidotironin, kortisol, larva, ikan betutu, perkembangan, pertumbuhan, kelangsungan hidup
Effect of Thyroxine on Development, Growth and Survival of Giant Gouramy (Osphronemus gouramy) Larvae S. Mulyati; M. Zairin Junior; M. M. Raswin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.062 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.31-38

Abstract

ABSTRACTThis experiment was carried out in order to study the effect of thyroxine hormone addition at different stages of giant gouramy larvae on their development, growth, and survival rate.  Treatments were conducted by dipping giant gouramy larvae at different stages (1, 5, and 1 0 days after hatching) in 0. 1 ppm thyroxine hormone solution for 24 hours.  The result of this experiment showed that dipping of giant gouramy larvae at different stages in thyroxine hormone solution did not affect their development, growth, and survival rate.Key words :  Giant gouramy larvae, thyroxine, development, growth, survival rate ABSTRAKPercobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan umur larva ikan gurami yang direndam dalam hormon tiroksin terhadap perkembangan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup.  Larva ikan gurami yang digunakan diperoleh dari hasil penetasan dan kemudian dipelihara sebagai stok.  Periakuan dilakukan melalui perendaman larva ikan gurami pada umur yang berbeda (1, 5, dan 10 hari setelah menetas) dalam larutan tiroksin 0,1 ppm selama 24 jam.  Hasil percobaan menujukkan bahwa setelah 56 hari pemeliharaan, pemberian tiroksin yang dilakukan tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan gurami.Kata kunci :  Larva ikan gurami, tiroksin, perkembangan, pertumbuhan, kelangsungan hidup
USE OF AN INDIRECT ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) TO DETECT ANTIBODIES IN AYU (Plecogiossus altivelis) VACCINATED BY IMMERSION ADMINISTRATION . Sukenda; Hisatsugu Wakabayashi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.737 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.39-45

Abstract

ABSTRACTAn indirect enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) was used to detect serum antibody in ayu, Plecoglossus altivelis, immunized against Pseudomonasplecoglossicida by immersion vaccination.  First, the procedure of the ELISA was optimized and the sensitivity was checked.  Secondly, the formalin-killed cells (FKC) of P. plecoglossicida was administered to ayu by immersion vaccination.  Two weeks after vaccination, fish were divided into two groups, one group was given booster.  The level of specific antibody production of both boostered and vaccinated only fish were statistically higher than unvaccinated control fish at the time of each blood collection.  However, the differences between the boostered and vaccinated only fish were not statistically significant.Keywords :  immunization, Pseudomonas plecoglossicida, ayu, ELISA ABSTRAKIndirect enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) digunakan untuk mendeteksi antibodi pada ayu, Plecoglossus altivelis, yang diimunisasi dengan cara perendaman untuk melawan infeksi Pseudomonas plecoglossicida.  Pertama, prosedur ELISA dioptimasikan dan sensitivitas dari metode ini juga diperiksa.  Kemudian, bakteri Plecoglossus altivelis yang sudah dimatikan dengan formalin diberikan ke ikan ayu dengan vaksinasi perendaman.  Dua minggu setelah vaksinasi, ikan dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok diberi vaksinasi kedua.  Produksi antibodi spesifik dari ikan-ikan yang divaksinasi satu kali dengan vaksinasi dua kaii secara statistik lebih tinggi dibandingkan dengan control.  Akan tetapi, tidak ada perbedaan produksi antibodi antara ikan yarig divaksanisi satu kali dengan divaksinasi dua kali.Kata kunci :  imunisasi, Pseudomonasplecoglossicida, ayu, ELISA
Effect of exposure time of pregnant females guppies, Poecilia reticulata Peters, in 17a-methyltestosterone solution on sex ratio of their offsprings M. Zairin Junior; A. Yunianti; R.R.S.P.S. Dewi; Kusman Sumawidjaja
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.593 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.47-54

Abstract

ABSTRACTThis experiment was carried out to study the effect of female broodstocks immersion in 17amethyltestosterone (MT) solution on sex ratio of their offspring, Three-months old males and females were paired to mate in aquaria for four days.  Broodstocks were fed with frozen blood worm and water flea 2-3 tii-nes daily.  Twelve days after mating, female broodstock were treated by immersing in 2 mg/1 MT solution for 0. 6, 12, 24 and 48 hours.  Birthed guppy babies were collected and reared separately from their parents.  During the rearing period, the babies were fed with artemia nauplius and silkworm until identification for male and female.  Percentage of female offspring in control group were higher than those of male.  Exposure of pregnant females to MT solution for 0, 6, 12, 24, and 48 hours resulted in 42, 1'/o, 51%, 84,6%, 1 00%, dan 100% of males offspring, respectively.  The best result was obtained from 24 hours treatment.  Longer treatment duration tend to shorten time interval between treatment and birth. Key words :  Guppy, 17(x-methyltestosterone, exposure time, broodstock immersion, sex ratio   ABSTRAK Penefitian ini bertuiuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu perendaman induk di dalam larutan hormon 17a-metiltestosteron (MT) terhadap nisbah kelamin ikan gapi.  Induk Ikan gapi berumur tiga bulan dikawinkan berpasangan di dalam akuarium selama empat hari Induk diberi pakan cuk merah beku dan kutu air dengan frekuensi 2-3 kali sehari.  Dua belas hari setelah masa perkawinan, induk betina diberi perlakuan berupa perendaman di dalam larutan MT 2 mg/1 selama 0 (kontrol), 6, 12, 24, dan 48 jam.  Anak-anak ikan gapi yang baru lahir dipelihara terpisah dari induknya.  Selama masa pemeliharaan, anak ikan gapi diberi pakan nauplius artemia dan cacing rambut.  Pemeliharaan berlangsung sampai jenis kelamin anak ikan gapi dapat diidentifikasi.  Persentase anak ikan gapi betina pada semua ulangan kontrol lebih tinggi daripada .iantan dengan perbandingan persentase rata-rata 57,9%: 42,1%.  Adapun pada lama waktu perendaman 0, 6, 12, 24, dan 48 jam, menghasilkan persentase anak ikan gapi berfenotip jantan berturut-turut sebesar 42,1%, 51%, 84,6%, 100%, dan 100%.  Lama waktu perendaman terbaik adalah 24 jam.  Selain itu terdapat kecenderungan bahwa semakin lama waktu perendaman semakin cepat kelahirannya. Kata kunci :  Ikan gapi, 17ot-metiltestosteron, lama perendaman, perendaman induk, nisbah kelamin
Physical Inactivation of Monodon Baculovirus (Mbv), a Pathogenic Virus of Tiger Prawn (Penaeus Monodon Fab.) M. Alifuddin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.573 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.55-69

Abstract

ABSTRACTA study of physical inactivation of MBV was carried out by conducting monitoring observation of reared shrimp test under laboratory condition.  Experimental shrimp were reared at PSIK (Pusat Studi Ilmu Kelautan), Jakarta and examined histologically for MBV infection at Lab. of Fish Health, Department of Aquaculture Faculty of Fisherise IPB.  This study was conducted by transmission trial and physical inactivation of virus MBV.  Preparation of inoculum followed Momoyama and Sano (1988); shrimp test were infected by water borne infection.  Presence of infection indicated by histological observation of hipertropied hepatopancreas cell containing inclusion bodies of virus.  Inactivation of MBV was done by heating at 40, 45, 50 and 55 'C for 30 minute and uv radiation for 5, 10, 15 and 20 minute with the distance 30 cm from the uv lamp 15 watt as radiation sources.  Transmission trial showed that infection occured 6 hours post inoculation and inclusion bodies were detected at day 5th; showed the virus lost their infectivities or virulent since no inclusion t Ddies as indicator for MBV infection were detected on hepatopancreas of shrimp test. Key words :  Tiger prawn (Penaeus monodon Fab.), viral diseases, physical inactivation.ABSTRAKSuatu penelitian mengenai inaktifasi fisik terhadap Monodon baculovirus (MBV), suatu virus patogen yang menyerang udang windu (Penaeus monodon Fab.), telah dilaksanankan sejak bulan Juli 1994 sampai bulan Maret 1995.  Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan IPB dan Pusat Studi limu Kelautan (PSIK) Institut Pertanian Bogor, Jakarta.  Percobaan yang dilakukan meliputi percobaan penularan virus dan percobaan inaktifasi fisik virus.  Inaktifasi fisik terhadap virus MBV dilakukan dengan pemanasan pada 4 tingkat suhu yang berbeda (40, 45, 50 dan 55 'C) selama 30 menit dan radiasi ultraviolet pada 4 tingkat waktu penyinaran (5, 10, 15 dan 20 menit) dengan jarak 30 cm dari sumber radiasi lampu uv 15 watt.  Penyiapan inokulum dilakukan mengikuti Momoyama dan Sano (1 988), inokulasi dilakukan dengan "water borne infection".  Pemeriksaan infeksi MBV pada udang qii dilakukan secara histologis dengan memperhatikan hipertropi sel hepatopankreas.  Dari penelitian ini terungkap, bahwa infeksi virus secara laboratoris membutuhkan waktu 6 jam post inokulasi dan badan inklusi MBV terlihat pada hari ke-5 yang terus berkembang sampai akhir penelitian; sedangkan inaktifasi fisik baik dengan pemanasan maupun radiasi ultraviolet menyebabkan virus kehilangan infektivitasnya yang ditunjukkan dengan tidak ditemukannya badan inklusi sebagai indikator adanya infeksi dan perkembangan virus MBV. Kata kunci :  Udang windu (Penaeus monodon Fab.), penyakit viral, inaktifasi fisik
The Effect of Stocking Density on Nitrification Rate in a Closed Recirculating Culture System A.S. Sidik; , Sarwono; , Agustina
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.796 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.47-52

Abstract

ABSTRACTNitrification rate in a closed recirculating water system with different stocking density of common carp (Cyprinus carpio L.) had been observed in the Laboratory of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Science, Mulawarman University.   Fish were cultivated  in rounded tanks with four level of stocking densities i.e. 10, 20, 30 and 40 fish/100 l in a closed recirculting water system, and fed on a commercial pellet given thrice a day at a quantity of 5% from the total body weight of fish per day.  The experiment was designed completely randomized with three replications. Nitrification rate was calculated stoichiometrically through the determination of  ammonia and nitrite oxidation rate. Results showed that in this experiment the ammonia and nitrite oxidation rate, and nitrification rate in a closed recirculating water system was increased with the increasing stocking density of fish.   On the contrary, the growth of fish was decreased with the increasing of stocking density.Key words :  Nitrification rate, stocking density, recirculation system, common carp (Cyprinus carpio L.). ABSTRAKLaju nitrifikasi dalam budidaya sistem resirkulasi air tertutup dengan padat penebaran ikan mas (Cyprinus carpio L.) yang berbeda telah diamati di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman.  Ikan dipelihara dalam tong plastik dengan empat tingkat padat penebaran, yaitu 10, 20, 30 dan 40 ekor/100 l, dan diberi makan pelet komersial tiga kali sehari dengan jumlah 5 % dari berat badan ikan per hari.  Penelitian ini dirancang secara acak lengkap dengan tiga ulangan.  Laju nitrifikasi dihitung secara stoikiometrik melalui penentuan laju oksidasi amoniak dan nitrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju oksidasi amoniak dan nitrit serta laju nitrifikasi dalam sistem resirkulasi air tertutup meningkat dengan meningkatnya padat penebaran.  Sebaliknya pertumbuhan ikan menurun dengan meningkatnya padat penebaran.Kata kunci :  Laju nitrifikasi, padat penebaran, sistem resirkulasi, ikan mas (Cyprinus carpio L.).
Rearing of Milkfish, Chanos Chanos, in Net Cages at Sea at Various Stocking Densities Kusman Sumawidjaja; T. Yusdiana; Irzal Effendi; , Dharmadi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.661 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.53-56

Abstract

ABSTRACTStocking rate of milkfish, Chanos chanos, from 75 to 225 fish/m3  or from 1,33 to 3,98 kg/m3  did not affect the growth rate, survival rate, feeding efficiency, and final length and weight of fish, each at 2,32%/day, 81,8%, 63,8%, and 185,2 mm and 64,0 g respectively. Final biomass (Y) increased from 3,66 to 12,05 kg/m3 with the increase of stocking rate (X) with Y = 0,056 X-0,45 (p<0,05).Key words :   Milkfish, Chanos chanos, floating net cage, stocking density. ABSTRAKPadat penebaran ikan bandeng, Chanos chanos, dari 75 hingga 225 ekor/m3 atau dari 1,33 hingga 3,98 kg/m3 tidak mempengaruhi laju pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pemberian pakan serta panjang dan bobot ikan akhir, masing-masing dengan rata-rata 2,32%/hari, 81,8%, 63,8%, 185,2 mm dan 64,0 g. Biomasa akhir (Y) meningkat dari 3,66 hingga 12,05 kg/m3 dengan meningkatnya padat penebaran (X) dengan persamaan Y = 0,056 X -0,45 (p<0,05).Kata kunci :  Ikan bandeng, Chanos chanos, keramba jaring apung, padat penebaran

Page 1 of 52 | Total Record : 516


Filter by Year

2002 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue