cover
Contact Name
Johanes Hasugian
Contact Email
johaneswhasugian@gmail.com
Phone
+6285265222617
Journal Mail Official
johaneswhasugian@gmail.com
Editorial Address
johaneswhasugian@gmail.com
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27216020     EISSN : 2721432X     DOI : 10.46305
Core Subject : Religion, Education,
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan agama Kristen, dengan nomor ISSN: 2721-432X (online), ISSN: 2721-6020 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara, Medan. Focus dan Scope penelitian IMMANUEL adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Agama Kristen IMMANUEL menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. IMMANUEL terbit dua kali dalam satu tahun, April dan Oktober
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022" : 6 Documents clear
Transformasi Kearifan Lokal Berbasis Pendidikan Agama Kristen Multikultural pada Pendidikan Tinggi Imelda Christy Poceratu; Yance Zadrak Rumahuru; Pitersina Christina Lumamuly
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i2.128

Abstract

Multicultural education is a progressive approach to transform multicultural education into an urgent need to be carried out in universities, especially in Maluku, as an area that has plural characteristics, and has even experienced social conflicts.  Multicultural education as an instrument of social engineering encourages universities to play a role in instilling awareness in a multicultural society and developing an attitude of tolerance and tolerance torealize the needs and ability to cooperate with all existing differences.  This research uses qualitative methods with a descriptive approach. Through local wisdom owned by the Maluku people, pela gandong culture can be used as a role model for higher education that is multicultural. The implementation of multicultural education in universities, especially Universitas Pattimura, must be able to develop inclusive multiculturalism based on local cultural wisdom in Maluku. AbstrakPendidikan multikultural merupakan suatu pendekatan progresif untuk melakukan transformasi pendidikan multikultural menjadi urgen untuk dilakukan di Perguruan Tinggi, khususnya di Maluku, sebagai daerah yang memiliki karakteristik kemajemukan, bahkan pernah mengalami konflik sosial. Untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi sebuah rekayasa sosial dapat dilakukan di perguruan tinggi melalui pendidikan multikultur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Melalui kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Maluku yaitu budaya pela gandong dapat dijadikan role model bagi Pendidikan tinggi yang bersifat multikultural. Implementasi Pendidikan multikultural di Perguruan Tinggi, khususnya Universitas Pattimura harus dapat mengembangkan multikulturalisme yang bersifat inklusif yang didasari pada kearifan budaya lokal di Maluku.
Pray, Praise and Worship: Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Usia Dini Nitani Harita; Hendro Hariyanto Siburian
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i2.129

Abstract

One of the problems found at the level of early childhood education is the undeveloped spiritual intelligence. The undevelopment of spiritual intelligence in class A of TK Harapan Bangsa, characterized by undevelopment  in terms of care, meaning and value, self-control and love. Early childhood is a golden period that requires stimulation and guidance to develop all its potential and spiritual intelligence. Therefore, researchers applied Pray, Praise and Worship activities to develop the spiritual intelligence of students in class A TK Harapan Bangsa. The results of implementing PPW in an effort to develop students' spiritual intelligence are an average of 85% each indicator of spiritual intelligence is well developed. So, it can be concluded that the application of PPW can develop early childhood spiritual intelligence. AbstrakPermasalahan yang ditemukan pada jenjang pendidikan anak usia dini salah satunya adalah belum berkembangnya kecerdasan spiritual. Belum berkembangnya kecerdasan spiritual di kelas A TK Harapan Bangsa, ditandai dengan belum berkembangnya dalam hal kepedulian, memberi makna dan nilai, pengendalian diri dan kasih. Anak usia dini merupakan masa emas yang membutuhkan stimulasi dan bimbingan untuk mengembangkan semua potensi dan kecerdasan spiritual yang dimilikinya. Oleh karena itu, peneliti menerapkan kegiatan Pray, Praise and Worship (PPW) untuk mengembangkan kecerdasan spiritual peserta didik di kelas A TK Harapan Bangsa. Hasil penerapan PPW dalam upaya mengembangkan kecerdasan spiritual peserta didik sebesar rata-rata 85% tiap indikator kecerdasan spiritual berkembang dengan baik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penerapan PPW dapat mengembangkan kecerdasan spiritual anak usia dini.
Tahun Sabat dan Tahun Yobel dalam Imamat 25 Nepho Gerson Laoly
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i2.130

Abstract

The Sabbath and Jubilee years already existed in Ancient Israel, first recorded in Leviticus 25. Explanation is needed in distinguishing the Sabbath and Jubilee in Leviticus 25 from the Sabbaths in other texts. The existence of differences in understanding of the Sabbath such as the value of the Sabbath from only one heart to one year needs to be explained clearly. Using the method of exegesis by looking at the grammar and history of Leviticus 25 is useful for entering into the Sabbath and Jubilee Year laws. The Sabbath and Jubilee laws were used as a period of rest for farmland, farmland, property rights, and debt slaves. The word abaton (שַׁבָּת֥וֹן) is a term to stop all activities at a predetermined time. ten years is often achieved as the fiftieth year, but the Jubilee year lasts forty-nine days, in the seventh month only the tenth of the Israelite calendar. AbstrakTahun Sabat dan Tahun Yobel sudah ada di masa Israel Kuno, tercatat pertama sekali di Imamat 25. Penjelasan diperlukan dalam membedakan Sabat dan Yobel di Imamat 25 dengan Sabat di teks lainnya. Adanya perbedaan pemahaman Sabat seperti nilai waktu Sabat mulai hanya satu hati menjadi satu tahun perlu dipaparkan dengan jelas. Menggunakan metode eksegese dengan melihat gramatika dan historis Imamat 25 berguna untuk masuk ke dalam hukum Tahun Sabat dan Tahun Yobel. Hukum Sabat dan Yobel telah digunakan sebagai masa beristirahat bagi tanah pertanian, pengembalian hak kepemilikan tanah, dan pembebasan para budak hutang. Kata Šabaton (שַׁבָּת֥וֹן) menjadi istilah untuk berhenti dari segala aktifitas pada masa yang telah ditentukan. Kendati Yobel sering dipahami sebagai tahun ke lima puluh, tetapi tahun Yobel hanya berlansung selama empat puluh Sembilan hari, pada bulan ketujuh hari ke sepuluh kalender Israel.
Isu Perlindungan Anak sebagai Bagian Pelayanan Holistik Gereja Nathalia Kenny Merian Mamonto; Priyantoro Widodo
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i2.131

Abstract

The issue of child protection is an urgent step that needs special attention by all societies.  The massive level of violence against children in society and also in the church environment often cannot be denied together, of course it must involve the church in efforts to prevent violence against the child.  The church, which is God's instrument for the world, should be able to provide solutions in efforts to prevent child violence that continues to increase in Indonesia, which also certainly has an impact on children's health in the future. Child-oriented ministry should be part of holistic church ministry. Where through the ministry of children the church can be involved in prevention efforts. In such a ministry, of course, a leader who has a vision for the child is needed and through the existing vision the leader will focus on strengthening Christian religious education in the church with the aim of increasing the resilience of faith in the family of each member of the congregation so that with strong faith parents are able to educate their children correctly based on the Word of God. This paper uses the qualitative method with descriptive explanations, with the presentation of data from various existing sources, both literatures, and online-based data to be able to describe acts of violence against children in Indonesia and their impact on children and how this issue of child protection is of concern to the church through its holistic ministry. The existing data is collected, organized in certain categories or themes and then presented in a descriptive manner.  The Child-Friendly Church was used as a proposal in an effort to prevent violence against children that could be carried out by the church.  AbstrakIsu perlindungan anak adalah sebuah langkah urgen yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari segala lapisan masyarakat yang ada. Masifnya tingkat kekerasan terhadap anak dalam masyarakat dan juga dalam lingkungan gereja kerapkali tidak dapat dipungkiri bersama, tentunya harus melibatkan gereja dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak tersebut. Gereja yang merupakan instrumen Allah bagi dunia seharusnya dapat memberikan solusi dalam upaya pencegahan terhadap kekerasan anak yang terus meningkat di Indonesia, yang juga tentunya memiliki dampak terhadap kesehatan anak di masa yang akan datang.  Pelayanan yang berorientasi terhadap anak seharusnya menjadi bagian dalam pelayanan gereja secara holistik. Dimana lewat pelayanan terhadap anak gereja dapat terlibat dalam upaya pencegahan. Dalam pelayanan semacam itu, tentunya diperlukan pemimpin yang memiliki visi terhadap anak dan melalui visi yang ada pemimpin akan berfokus pada penguatan pendidikan agama Kristen dalam gereja dengan tujuan meningkatkan ketahanan iman dalam keluarga tiap-tiap anggota jemaat sehingga dengan iman yang kuat orang tua mampu mendidik anak-anak mereka secara benar berdasarkan Firman Tuhan. Tulisan ini mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan penyajian data-data dari berbagai sumber yang ada baik literatur, maupun data berbasis online untuk dapat menguraikan mengenai tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia serta dampaknya bagi anak serta bagaimana isu perlindungan anak ini menjadi perhatian gereja melalui pelayanan holistiknya. Data yang ada dikumpulkan, disusun  dalam kategori-kategori atau tema-tema tertentu dan  kemudian disajikan secara desktriptif. Gereja Ramah Anak dijadikan sebagai sebuah usulan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak yang dapat dilakukan oleh gereja.
Kode Etik dan Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Kristen: Upaya Meningkatkan Karakter Anak Hana Hana; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i2.132

Abstract

This paper describes the role of the ethical code and professionality of Christian religious education teachers on the character of children. The importance of the role of the code of ethics and the teacher professionality is to provide good examples and play a role in instilling positive character values for children's character. In addition, teachers do not only transfer knowledge to children but also teach Christian values, namely the cultivation of the living character of the person of Jesus Christ. Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that to educate and shape children to the true values of life and to encourage and direct students to good character, teachers who are professional and have characters that meet the standards and teachers who have the potential and creativity in empowering the learning process are needed. teaching is an ethical and professional teacher. AbstrakTulisan ini mendeskripsikan tentang peran kode etik dan profesionalitas guru pendidikan agama Kristen terhadap karakter anak. Pentingnya peran kode etik dan profesionalitas guru pendidikan agama Kristen adalah untuk memberikan keteladanan yang baik serta berperan untuk memberikan penanaman nilai-nilai karakter yang positif kepada karakter anak. Seorang guru harus memahami bahwa tugas dalam profesinya bukan hanya untuk sekedar mentransfer ilmu pengatahuan semata kepada anak tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kekristenan yaitu penanaman kebiasaan atau tabiat hidup dari pribadi Tuhan Yesus.  Mengunakan metode kualitatif deskriptif dapat disimpulkan bahwa untuk mendidik serta membentuk anak kepada nilai-nilai hidup yang benar dan mendorong serta mengarahkan anak didik kepada karakter yang baik dibutuhkan guru yang profesional dan memiliki karakter yang memenuhi standar serta guru yang memiliki potensi dan kreatifitas dalam memberdayakan proses belajar mengajar yaitu guru yang beretika dan profesional. 
Strategi Penginjilan Barnabas dan Saulus dalam Kisah Para Rasul 13:4-12 Tutur Parade Tua Panjaitan
IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 3, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v3i2.126

Abstract

This research was conducted to determine the evangelistic strategies of Barnabas and Saul in Acts 13:4-12. Evangelism is an important topic in Christianity, given the duty the Jesus Christ left to his disciples in particular and to the church in general as written in the Bible. In principle, the gospel must be preached in order for people to believe. What was the evangelistic strategy of Barnabas and Saul in Acts 13:4-12? Using the exegesis or inductive method, the author worked on this study, after first observing the verses, then drawing conclusions based on the data and facts of the Bible found. According to church tradition, the author of Acts is the same as the author of luke's gospel, Luke. The background of verses is outlined in Acts 12:24-25 that the Gospel was preached to many people, then from Jerusalem Barnabas and Saul returned to Antioch, after completing the preaching of the Gospel. The context of this verses is the state of the Antiochian church which already had several ministers, namely prophets and teachers. The Holy Ghost commissioned Barnabas and Saul to spread the gospel. Eventually the Antiochian church released Barnabas and Saul to become missionaries, out of obedience to the commandments of the Holy Spirit. The evangelism strategies of Barnabas and Saul are: evangelism traveling to the cities, evangelism starting from those closest to you, evangelism in houses of worship, evangelism in private.AbstrakPenelitian ini dikerjakan untuk mengetahui strategi penginjilan Barnabas dan Saulus dalam Kisah Para Rasul 13:4-12. Penginjilan merupakan topik yang penting dalam kekristenan, mengingat tugas yang ditinggalkan Yesus Kristus kepada murid-muridNya pada khususnya dan kepada gereja pada umumnya sebagaimana tertulis dalam Alkitab. Pada prinsipnya, Injil harus diberitakan agar orang menjadi percaya. Bagaimanakah strategi penginjilan Barnabas dan Saulus dalam Kisah Para Rasul 13:4-12? Dengan metode eksegese atau induktif, penulis mengerjakan penelitian ini, setelah terlebih dahulu mengamati nas, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan data dan fakta Alkitab yang ditemukan. Menurut tradisi gereja, penulis Kisah Para Rasul sama dengan penulis Injil Lukas yaitu Lukas. Latar belakang nas diuraikan dalam Kisah Para Rasul 12:24-25 bahwa Injil diberitakan kepada banyak orang, kemudian dari Yerusalem Barnabas dan Saulus pulang ke Antiokhia, setelah menyelesaikan pengabaran Injil. Konteks nas ini adalah keadaan jemaat Antiokhia yang sudah memiliki beberapa pelayan, yakni nabi dan pengajar. Roh Kudus menugaskan Barnabas dan Saulus untuk menyebarkan Injil. Akhirnya jemaat Antiokhia melepaskan Barnabas dan Saulus untuk menjadi misionaris, karena taat kepada perintah Roh Kudus. Strategi penginjilan Barnabas dan Saulus adalah: penginjilan keliling ke kota-kota, penginjilan dimulai dari orang-orang terdekat, penginjilan di rumah ibadah, penginjilan secara pribadi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6