cover
Contact Name
Bambang kasatriyanto
Contact Email
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Phone
+62293-788225
Journal Mail Official
bkborobudur@kemdikbud.go.id
Editorial Address
-
Location
Kab. magelang,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 176 Documents
Strategi Konservasi Berbasis Masyarakat Pada Kompleks Situs Gua Prasejarah Bellae Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan Dewi Susanti
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.143

Abstract

Upaya pelestarian yang selama ini dilakukan masih dominan dilakukan oleh pemerintah tanpa melibatkan masyarakat setempat. Masyarakat merupakan salah satu stakeholder yang secara tidak sadar dapat merusak serta mengubah kondisi lingkungan asli kompleks gua tersebut, karena tidak adanya ikatan dan rasa memiliki terhadap sumberdaya arkeologis di lokasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat strategi pencegahan kerusakan gua–gua prasejarah di Kompleks Gua Prasejarah Bellae dengan melibatkan masyarakat sebagai salah satu bagian dari stakeholder, sehingga dapat mencegah dan mengatasi kerusakan yang terjadi selama ini. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menciptakan kelestarian gua-gua prasejarah dan lingkungannya yang beriringan dengan perkembangan dan pertumbuhan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data yang meliputi studi pustaka, observasi, wawancara dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis data meliputi analisis faktor-faktor penyebab kerusakan dan kepentingan stakeholder. Tahapan terakhir adalah perumusan bentuk keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi. Berdasarkan perolehan data tentang apresiasi dan posisi, kepentingan dan keinginan masyarakat, maka dapat dirumuskan bentuk konservasi berbasis masyarakat yang mengedepankan masyarakat sebagai pemangku kepentingan. Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa tingkat kerusakan yang terjadi pada kompleks Gua Prasejarah Belle disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. Faktor manusia yang terdiri dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh instansi pemerintah seperti pembuatan jalan setapak dan aktivitas juru pelihara, kegiatan peneliti, aktivitas masyarakat sekitar Kompleks Gua Prasejarah Bellae yang meliputi penebangan pohon, pemanfaatan lahan dan gua, serta kebakaran lebih memiliki dampak negatif terhadap kelestarian gua-gua prasejarah di Bellae. Ancaman yang diprediksi akan terjadi yaitu penambangan gamping dan marmer. Kerusakan yang terjadi akibat aktivitas manusia ini menunjukkan belum adanya kepedulian masyarakat Bellae terhadap tinggalan arkeologis beserta lingkungannya. Selain itu, tingkat pemahaman masyarakat Bellae sangat minim, namun masyarakat Bellae memiliki keinginan untuk terlibat dalam upaya pelestarian yang dilakukan di Kompleks Gua Prasejarah Bellae.
Kajian Keterawatan Lukisan Gua Prasejarah di Kawasan Karst Maros Pangkep Sulawesi Selatan Yadi Mulyadi
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.144

Abstract

Lukisan gua prasejarah di kawasan karst Maros Pangkep merupakan cagar budaya yang rentan dengan kerusakan, baik karena faktor alam maupun budaya. Oleh karena itu, kajian mengenai keterawatan lukisan gua prasejarah di kawasan ini penting untuk dilakukan guna memperoleh data yang akurat terkait tingkat kerusakan lukisan pada masing-masing gua. Metode penelitian arkeologi yang dipadukan dengan pendekatan lingkungan dan konservasi, menjadi panduan dalam kajian ini. Metode penelitian arkeologi dioperasionalkan dalam bentuk pengumpulan data, pengolahan data dan interpretasi data. Adapun pendekatan lingkungan dan konservasi diterapkan dalam observasi flora fauna dan bentang alam kawasan. Jumlah gua yang menjadi objek kajian yaitu 44 gua dengan rincian 24 gua di Maros dan 20 gua di Pangkep. Berdasarkan kajian yang dilakukan, tingkat keterawatan lukisan gua di kawasan karst Maros Pangkep ini bervariasi mulai dari sedang sampai parah, dan hanya lima gua yang kondisi keterawatan lukisan guanya bagus. Hal ini mengacu pada tingkat kerusakan dan pelapukan fisik (retak, pecah, aus), pelapukan biologis (pertumbuhan algae, moss, lichen), pelapukan kimiawi (penggaraman, sementasi), yang juga dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor manusia.Oleh karena itu untuk mempertahankan tingkat keterawatan lukisan gua prasejarah diperlukan sebuah sistem konservasi gua prasejarah yang memadukan antara konservasi lingkungan, konservasi arkeologis dan juga pengelolaan sumberdaya arkeologi yang berbasis pelestarian.
Pemanfaatan Teknologi Terestrial Laser Scanner Untuk Perekaman Data dan Pendokumentasian Tiga Dimensi (3D) Lukisan Cadas Pada Gua-Gua Prasejarah di Indonesia Brahmantara Brahmantara
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.145

Abstract

Perkembangan teknologi perekaman data cagar budaya khususnya luksian Cadas (Rock Art) telah berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi digital. Teknik dan metode perekaman data cagar budaya berkembang dari teknik sederhana sampai dengan teknologi mutakhir berbasis digital dengan format tiga dimensi (3D). Teknologi Terestrial Laser Scanner merupakan perangkat digital dengan sasaran perekaman tiga dimensi (3D). Dalam penelitian ini penerapan Teknologi Terestrial Laser Scanner digunakan untuk merekam data geometri gua dan detail lukisan cadas (Rock Art) pada kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat Kutim Kalimantan Timur. Proses registrasi dari masing masing posisi pemindaian (scan world) menghasilkan tingkat akurasi data yang sangat tinggi dengan rata-rata eror dibawah 2mm. Dari hasil pengolahan data didapatkan beberapa output dan beberapa produk akhir yang sangat signifikan seperti gambar 2D, citra 3D, DS0 (digital surface model), data kontur dengan interval sampai 2 cm, animasi dalam format avi dan informasi publikasi dalam bentuk virtual tour 360°. Dari hasil analisa data tingkat akurasi, jumlah output yang dihasilkan dan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk proses perekaman data metode perekaman data dengan Teknologi Terestrial Laser Scanner ini sangat efektif untuk digunakan dalam perekaman data dan pendokumentasian cagar budaya khususnya lukisan cadas (rock art).
Validasi Metode Penentuan Kalsium Pada Sampel Air Filter Layer Secara Automatik Titrasi di Balai Konservasi Borobudur Yorfan Ruwindya
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.146

Abstract

Telah dilakukan validasi metode penentuan kalsium dalam sampel air filter layer dengan metode automatik titrasi. Air yang mengandung kalsium dianalisis dengan menggunkan alat automatik titrasi yang berprinsip pada titrasi potensiometri. Titer yang digunakan adalah larutan EDTA. Dalam penelitian ini dilakukan validasi metode dengan parameter akurasi, presisi, linieritas, batas deteksi dan batas kuantitatif. Nilai persen perolehan kembali (%Recovery) untuk sampel T2H sebesar 107,5286% dan sampel S2C sebesar 105,1429%. Nilai persen relatif standar deviasi (%RSD) untuk sampel T2H sebesar 1,8581% dan sampel S2C sebesar 2,0076%. Hasil linieritas metode menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,998. Nilai batas deteksi dari alat diperoleh sebesar 0,6858 mg/L dan batas kuantitatif sebesar 2,2862 mg/L. Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa metode ini dapat digunakan secara rutin pada penentuan kalsium dalam sampel air dengan alat automatik titrasi karena metode valid.
Dilema Pelestarian Rumah Adat Kudus Fr. Dian Ekarini
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.147

Abstract

Rumah pencu adalah rumah tradisional masyarakat di Kabupaten Kudus. Rumah adat Kudus ini semakin hari semakin habis keberadaannya. Tulisan ini berusaha mengetahui permasalahan pelestarian rumah adat Kudus yang berada di dekat wisata religi Masjid Menara dan makam Sunan Kudus. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, observasi, dan FGD (focus grup discussion). Dari hasil penelitian diketahui tingginya biaya perawatan rumah adat Kudus yang dirasakan oleh pemilik menjadi salah satu kendala dalam upaya pelestarian rumah tradisional. Tidak adanya bantuan dalam perawatan dari instansi yang berwenang dan faktor waris menjadi salah satu penyebab semakin sedikitnya jumlah rumah adat Kudus ini. Rumah adat Kudus sebagian besar dijadikan sebagai rumah tinggal bagi pemilik dan sebagian besar pemilik tidak berencana untuk memanfaatkan rumah adat ini sebagai tempat berusaha/berdagang (toko, restoran, homestay) dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dari sektor pariwisata. Manajemen wisata sangat dibutuhkan guna mendukung pemanfaatan rumah adat Kudus ini. Paket wisata ziarah ke kompleks Masjid Menara dan makam Sunan Kudus yang biasanya diselenggarakan secara terorganisir oleh agen-agen wisata membatasi jam kunjung wisatawan sehingga tidak sempat untuk melihat atau menikmati daya tarik rumah adat Kudus. Hal ini menyebabkan sulitnya meningkatkan potensi wisata rumah-rumah tradisional yang ada di sekitar Masjid Menara dan makam Sunan Kudus.
Permasalahan Pendaftaran dan Penetapan Cagar Budaya di Tingkat Pemerintah Daerah; Kinerja Program Pendukungan Pendaftaran dan Penetapan Cagar Budaya Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Hingga September 2016 Yosua Adrian Pasaribu
Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i1.148

Abstract

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengamanatkan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk melaksanakan pendaftaran dan penetapan cagar budaya. Dalam rangka implementasi peraturan tersebut, Pemerintah Pusat melalui Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan program pendukungan pendaftaran dan penetapan cagar budaya kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi sejak tahun 2013 September 2016. Program tersebut telah menghasilkan 274 Tim Pendaftaran Cagar Budaya (50%), 39 orang kandidat Tim Ahli Cagar Budaya (7%), dan 33 orang Tim Ahli Cagar Budaya yang bersertifikat (6%). Artikel ini melihat pencapaian pendaftaran dan penetapan cagar budaya, permasalahan, dan usulan solusi pemecahan masalah tersebut.
Cyber Arkeologi Dalam Komunikasi Arkeologi Kepada Publik Sebagai Sarana Pelestarian Cagar Budaya Fauzan Amril
Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i2.149

Abstract

Masalah yang dibahas dalam tulisan ini adalah mengenai penyebaran informasi mengenai arkeologi yang masih sangat terbatas. Untuk itu diperlukan saluran-saluran atau media-media komunikasi yang dapat menjangkau kepada seluas mungkin lapisan masyarakat. Dengan mempelajari bentuk-bentuk komunikasi yang telah dilakukan, dalam tulisan ini bermaksud untuk memberikan alternatif terhadap model komunikasi, dalam hal ini berupa cyber-arkeologi yaitu berkomunikasi melalui dunia maya. Penyebaran informasi atau berkomunikasi melalui dunia maya diharapkan dapat menjangkau lebih luas lagi publik yang membacanya sehingga masyarakat pun memahami tentang nilai penting yang terkandung di dalam kebudayaan yang mereka miliki, yang pada akhirnya pula dapat membawa masyarakat terlibat dalam upaya pengelolaan dan pelestariannya.
Survey dan Pemodelan 3D (Tiga Dimensi) untuk Dokumentasi Digital Candi Borobudur Deni Suwardhi; Muhammad Mukhlisin; Dendy Darmawan; Shafarina Wahyu Trisyanti; Brahmantara Brahmantara; Yudi Suhartono
Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i2.150

Abstract

Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya masa lampau yang sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia. Upaya pelestarian Candi Borobudur sebagai salah satu Warisan Dunia (World Heritage) terus dilakukan oleh para pelestari, salah satunya adalah dengan melakukan perekaman secara digital dalam bentuk model 3D (tiga dimensi). Data - data yang disampaikan dalam kajian ini merupakan hasil survey yang terdiri dari (i) survey pemotretan udara menggunakan WUNA (wahana udara nir-awak), (ii) survey pemotretan terestris, (iii) survey terestris menggunakan sensor aktif laser scanner, dan (iv) survey GPS (Global Positioning System) teliti. Kamera yang digunakan dalam pemotretan udara maupun terestris adalah kamera digital format kecil non-metrik yang mempunyai karakteristik parameter orientasi dalam, seperti panjang fokus dan distorsi lensa, yang tidak stabil, sedangkan untuk pemotretan bagian candi yang sulit diambil dari udara seperti patung, relief dan stupa, digunakan teknik foto terestris rentang dekat yang mempunyai prinsip sama dengan teknik foto udara. Salah satu tantangan dalam pengolahan data hasil kajian ini adalah bagaimana teknik Fotogrametri Digital memungkinkan penggabungan keseluruhan foto yang diambil dengan data hasil survey GPS teliti sebagai titik kontrol dan memberi koordinat global pada model 3D yang dihasilkan. Penggabungan tersebut mempunyai tujuan untuk menghasilkan model 3D dengan ragam tingkat kedetilan (Multilevel of Detail). Beberapa objek dengan tingkat kedetilan tinggi, seperti patung, relief dan stupa, dibandingkan dengan model yang dihasilkan dari sensor aktif laser scanner. Setelah untuk analisis lebih lanjut. Kerangka kerja internasional untuk pemodelan kota 3D khususnya obyek Warisan.
Identifikasi Biodeteriogen Sebagai Langkah Awal Konservasi Benda Cagar Budaya Moh Habibi
Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i2.151

Abstract

Indonesia mempunyai Benda Cagar Budaya (BCB) yang berlimpah. BCB tersebut dapat mengalami degradasi disebabkan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai teknik molecular yang digunakan untuk deteksi biodeteriogen pada benda cagar budaya. Teknik Molekuler yang dapat digunakan adalah Fingerprinting, meliputi DGGE (Denaturing Temperature Gradient Gel Electrophoresis), SSCP (Single Strand Conformation Polymorphism), ARDRA (Amplified Ribosomal DNA Restriction Analysis), dan Clone Library. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan, seperti tingkat presisi yang tinggi, lebih cepat digunakan, dapat digunakan untuk mengetahui peran biodeteriogen pada lingkungan.
Analisis Kandungan Unsur dan Tingkat Kekerasan Pada Senjata Logam Koleksi Museum Tosan Aji Purworejo R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa
Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v10i2.152

Abstract

Tulisan ini membahas tentang teknologi senjata logam pada masa lampau. Penelitian ini menggunakan metode analisis kandungan unsur (x-ray fluroscence) dan tingkat kekerasan (skala Mohs) pada 11 senjata logam dari Museum Tosan Aji. Senjata-senjata tersebut berupa keris, pedang, dan mata tombak. Hasil analisis unsur memperlihatkan bahwa dari 11 senjata yang dianalisis tidak terdapat senjata dengan kandungan unsur dan trace element yang sama. Selain itu, tidak ditemukan hubungan antara hiasan pamor pada senjata dengan kandungan unsur. Sementara pengukuran tingkat kekerasan menunjukkan adanya perbedaan tingkat kekerasan pada jenis dan tipe senjata tertentu, serta adanya hubungan antara tingkat kekerasan dengan proses pembuatan pada senjata keris.

Page 1 of 18 | Total Record : 176


Filter by Year

2007 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 1 (2022): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 2 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 15 No. 1 (2021): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 2 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 2 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 13 No. 1 (2019): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 2 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 12 No. 1 (2018): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 2 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 11 No. 1 (2017): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 2 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 10 No. 1 (2016): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 1 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 2 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 2 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 7 No. 1 (2013): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 6 No. 1 (2012): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 5 No. 1 (2011): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 4 No. 1 (2010): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 3 No. 1 (2009): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 2 No. 1 (2008): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 1 No. 1 (2007): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur More Issue