cover
Contact Name
Addin Kurnia Putr
Contact Email
addinkurniaputri@gmail.com
Phone
+6285725117255
Journal Mail Official
addinkurniaputri@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No. 36A, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Development and Social Change
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal ini memfokuskan pada hasil penelitian, review teori dan metodologi dan juga review buku dalam perspektif keilmuan sosiologi terutama terkait pokok persoalan pembangunan dan perubahan sosial dalam persepektif nasional maupun internasional, Masyarakat, Komunitas, Kelompok Sosial dan Hubungan antar Kelompok Sosial, Interaksi Sosial, Struktur Sosial, Lembaga Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, Metode Penelitian Sosial, Sosiologi Keluarga, Sosiologi Politik, Sosiologi Pendidikan, Sosiologi Ekonomi, Sosiologi Hukum, Sosiologi Agama, Sosiologi Budaya, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi Pedesaan, Sosiologi Masalah Sosial, Sosiologi Klinik.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018" : 10 Documents clear
STRATEGI PEMBINAAN ANAK DIDIK PEMASYARAKATAN (ANDIKPAS) DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK (LPKA) KUTOARJO (Studi Kasus di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah) Mochammad Kevin Andry Rezaliano; Rahesli Humsona
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.859 KB) | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20738

Abstract

Abstract : Children are the expected generation who bring the better future for the country, while with the rapid advancement of technology and information access, a lot of children that falling to law violence case. Often, the children with law conflict case have to be imprisoned and lost their right. In Central Java there are a correctional facility for children that gives an integrative development program for Andikpas using the networks. The aim of this study are to comprehend the implement strategy of LPKA Kutoarjo in Andikpas development and to identify the social capital that exist on the development of Andikpas process at LPKA Kutoarjo. This study is apply social capital theory by Robert Putnam with network analyze, norms, trust, and reciprocity. This research is a qualitative research with study case approach with a detail calibration of institution background. This study is applying purposive sampling technic which the interviewees have been determined based on the purpose of study, while the received data were from interview, observation, and documentation process. Then, the result of this study was analyzed by triangulation source such as comparison between the author’s observation, interview result, and related documents. Based on the result of study and performed analysis, noted that the Andikpas development at LPKA Kutoarjo adjusted in decree of the minister of legal affair especially the development process related to personality aspect, awareness of the religious and the nation, awareness of law, and intellectual skill and society integrity improvement. While the in independent skill aspect such as small industry, agriculture, and fishery. Social Networks based on development needs, Social Norms based on MoU, written rules and unwritten rules, Social Trust based on development as a rehabilitation method for Andikpas and Reciprocity with support of infrastructure facility and transportation costs. Now, the dominant social capital integration is bridging social capital and linking social capital.Keywods : Andikpas, development, LPKA KutoarjoAbstrak : Anak merupakan kelompok muda yang diharapkan membawa bangsa kearah yang lebih baik, namun dengan pesatnya kemajuan teknologi dan akses informasi banyak anak yang terjerumus pada pelanggaran hukum. Tak jarang anak yang berkonflik dengan hukum harus menempati penjara dan kehilangan haknya. Di Jawa Tengah terdapat Lembaga Pembinaan Khusus Anak yang memberikan pembinaan secara integratif bagi Andikpas dengan memanfaatkan jejaring yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami strategi pembinaan yang diterapkan LPKA Kutoarjo dalam membina Andikpas dan mengidentifikasi modal sosial yang ada dalam proses pembinaan Andikpas di LPKA Kutoarjo. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Studi Kasus yakni pengujian secara rinci mengenai satu latar belakang suatu lembaga. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dimana narasumber sudah ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian, sedangkan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian hasil penelitian dianalisis dengan triangulasi sumber yakni membandingkan pengamatan penulis, hasil wawancara dan dokumen yang terkait. Penelitian menggunakan teori modal sosial oleh Robert Putnam dengan menganalisis Jaringan (networks), Norma (norms), Sistem Kepercayaan (trust) dan Hubungan Timbal Balik (reciprocity). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa pembinaan Andikpas di LPKA Kutoarjo disesuaikan dengan Keputusan Menteri Kehakiman yakni pembinaan terkait pada aspek kepribadian yakni kesadaran beragama, berbangsa dan bernegara, kesadaran hukum, peningkatan kemampuan intelektual dan integrasi di masyarakat. Sedangkan pada aspek kemandirian berupa keterampilan industri kecil dan pertanian atau perikanan. Proses pembinaan Andikpas antara lain pengenalan lingkungan, 1/3 masa tahanan dan ½ masa tahanan dimana pada masing-masing tahap memiliki proses pembinaan yang berbeda. LPKA Kutoarjo juga melibatkan mitra yang memberikan pembinaan secara interaktif baik disesuaikan dengan kebutuhan Andikpas selama berada di LPKA Kutoarjo. Adapun integrasi modal sosial yang paling dominan adalah modal sosial menjembatani (bridging) dan modal sosial menghubungkan (linking).Kata Kunci : Andikpas, LPKA Kutoarjo, pembinaan
STRATEGI PASANGAN SUAMI ISTRI DALAM MENJAGA KEHARMONISAN KELUARGA WANITA KARIR (Studi Kasus Wanita Karir di Desa Pucangan, Kelurahan Pucangan, Kecamatan Kartasura) Rakhma Annisa Putri; Thomas Aquinas Gutama
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.18642

Abstract

Abstract: This study aims to find out the dual role of women as well as the motivation of women to work in the public sector, and to know the impacts and strategies to maintain family harmony. This research is a qualitative research with case study approach. Data were taken with in-depth interview, observation, and documentation. While the technique of selecting informants used purposive sampling. And the data analysis used interactive model analysis. The research results indicate that the strategies of maintaining family harmony in the career woman are (1) Good communication among family members either direct communication with face to face and indirect communication using mobile phone media (2) Family time by utilizing leisure time with undertake joint activities aimed at closing relationships among family members (3) Commitment between husband and wife to be able to carry out obligations with full responsibility (4) Division of domestic duties. Keywords : Strategy, Career Woman, Harmony, FamilyAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ganda perempuan serta motivasi perempuan untuk bekerja di sektor publik, dan untuk mengetahui dampak dan strategi untuk menjaga keharmonisan keluarga. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diambil dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi menjaga kerukunan keluarga dalam karir wanita adalah (1) Komunikasi yang baik antar anggota keluarga baik komunikasi langsung dengan tatap muka dan komunikasi tidak langsung menggunakan media handphone (2) Waktu keluarga dengan memanfaatkan waktu senggang dengan melakukan kegiatan bersama yang bertujuan untuk membuat hubungan antar anggota keluarga semakin dekat (3) Komitmen antara suami dan istri untuk dapat melaksanakan kewajiban dengan penuh tanggung jawab (4) Pembagian tugas rumah tangga. Kata kunci: Strategi, Karir Wanita, Harmoni, Keluarga
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Pengelolaan Sampah di Taman Satwa Taru Jurug Surakarta) Dani Nur Hadiyanto; Siti Zunariyah
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20740

Abstract

Abstract : This research was taken place in Taru Jurug Wildlife Park Surakarta. This research aims to determine the pattern of waste management in TSTJ before and after environmentally sound waste management also determine the supporting and inhibiting factors, as well as the benefits of environmentally sound waste management in Taru Jurug Wildlife Park Surakarta. The theory in this research is structural functionalism theory by Talcott Parsons and social action theory by Max Weber. The type of this research is descriptive qualitative with case study approach. Data were taken with structured interview techniques, observation, and documentation. Samples were taken using purposive sampling technique. To validate the data, source triangulation was used, while the data analysis was done using an interactive model. From the result of the research, it is concluded that the beginning of waste management in Taru Jurug Wildlife Park with three stages, storage, shelter, and transportation. Then it is done with four stages, sorting, management with 3R implementation (Reuse, Reduce, Recycle), distribution, and controlling. The supporting factors are physical and non-physical completeness of hygiene facilities and infrastructure, the existence of cooperation with Environment Department of Surakarta City, type or nature of waste that is easy to process, and adequate Human Resources. While the inhibiting factor is sorting waste activities, Taru Jurug Wildlife Park manager is considered not to give an appreciation, lack of monitoring and evaluation mechanisms, problematics in the management, minimal operational costs, inability to maintain goods, weather, lack of skills and knowledge of waste recycling, and a fleet of carriers. The benefits of environmentally sound waste management are the first non-material form of recognition (having a good name or image), the second the material benefits which means the higher the number of tourists, the higher the amount of Taru Jurug Wildlife Park income, and the last is the general benefit in the form of the realization of the goals and objectives of environmentally sound waste management. Keywords: Tourism, environmentally friendly, trashAbstrak : Penelitian ini mengambil lokasi di TSTJ Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengelolaan sampah di TSTJ sebelum dan sesudah pengelolaan sampah berwawasan lingkungan serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat, serta manfaat dari pengelolaan sampah berwawasan lingkungan di TSTJ Surakarta. Teori dalam penelitian ini adalah teori fungsionalisme struktural oleh Talcott Parsons dan teori tindakan sosial oleh Max Weber. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diambil dengan teknik wawancara terstruktur, observasi, dan dokumentasi. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Untuk menjamin validitas data digunakan triangulasi sumber, sedangkan analisis data yang digunakan adalah model interaktif. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa awal mula pengelolaan sampah di TSTJ dengan tiga tahapan, pewadahan, penampungan, dan pengangkutan. Kemudian dilakukan dengan empat tahapan, pemilahan, pengelolaan dengan penerapan 3R (Reuse, Reduce, Recycle), pendistribusian, dan kontroling. Faktor pendukungnya yaitu adanya kelengkapan fisik dan non-fisik dari sarana dan prasarana kebersihan, adanya kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, jenis atau sifat sampah yang mudah untuk diolah, dan sumber daya manusia yang memadai. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kegiatan pemilahan sampah, pengelola TSTJ dianggap belum memberikan apresiasi, kurang terlaksananya mekanisme pemantauan dan pengevaluasian, problematika dalam kepengurusan (kaderisasi), minimnya biaya operasional, ketidakmampuan memelihara barang, cuaca, kurangnya kemampuan dan pengetahuan mengenai pendaurulangan sampah, dan armada pengangkut. Manfaat dari pengelolaan sampah berwawasan lingkungan yaitu yang pertama non-material berupa dikenalnya (memiliki nama atau citra baik), yang kedua manfaat material yang berarti semakin tinggi jumlah wisatawan, akan semakin tinggi jumlah pendapatan TSTJ, dan yang terakhir yaitu manfaat secara umum berupa terwujudnya cita-cita dan tujuan dari pengelolaan sampah berwawasan lingkungan.Kata kunci: Pariwisata, ramah lingkungan, sampah
PENGEMBANGAN PARIWISATA BAHARI (Studi Deskriptif Pada Pelaku Pengembangan Pariwisata Bahari Pantai Watukarung Desa Watukarung Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan) Karina Wulan Sayogi; Argyo Demartoto
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20728

Abstract

Abstract :  Tourism has become one of the world's largest industry after oil and gas. Tourism in Indonesia is very complex to be developed into a marine tourism including Watukarung in Pacitan Regency. This research aims to know the marine tourism potential, supporting and restricting factors, strategies, as well as the impact of tourism development on the coast of Watukarung in the village of Watukarng sub-district of Pacitan Regency East Java Pringkuku using a theory of Pierre Bourdieu F Practices. This research is a descriptive qualitative research. The technique of sampling with the purposive sampling. The technique of data collection by observation, interview and documentation. The results of this research show that the tourism potential of the natural potential of the particular form of coastal marine coast Watukarung; social potential that is the attitude of the pillars and royong community; the economic potential that is people's livelihoods as fishermen and tourism businesses in the form of food stalls, homestay, laundry cleaning, and manufacture souvenirs; and potential of culture is karawitan, ketoprak, rontek, and the hadrah.  Keywords: Marine tourism, beach, development, supporting and restricting factors, the impact Abstrak: Pariwisata telah menjadi salah satu industri terbesar di dunia setelah minyak dan gas. Pariwisata di Indonesia sangat kompleks untuk dikembangkan menjadi wisata bahari termasuk Watukarung di Kabupaten Pacitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi wisata bahari, faktor pendukung dan pembatas, strategi, serta dampak pengembangan pariwisata di pesisir Watukarung di Desa Watukarang Kecamatan Prapuku Kabupaten Pacitan Jawa Timur menggunakan teori Pierre Bourdieu F Praktik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi wisata potensi alam berupa bentuk pantai pesisir laut tertentu Watukarung; potensi sosial yaitu sikap pilar dan komunitas royong; potensi ekonomi yang merupakan mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan dan usaha pariwisata dalam bentuk warung makan, homestay, laundry, dan pembuatan souvenir; dan potensi budaya adalah karawitan, ketoprak, rontek, dan hadrah.  Kata kunci: Wisata bahari, pantai, pengembangan, faktor pendukung dan pembatasan, dampaknya
KINERJA DPRD KABUPATEN GROBOGAN PERIODE 2016 DALAM MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE DI KABUPATEN GROBOGAN (Studi Analisis Fungsionalisme Struktural “AGIL” Tentang Kinerja DPRD Kabupaten Grobogan Periode 2016 Bidang Legislasi, Anggaran dan Pengawasan dalam Mewujudkan Good Governance) Tanti Dewi Andriani; Sudarsana Sudarsana
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20742

Abstract

Abstract :. This research aims to analyze the performance of the DPRD Grobogan in realizing Good Governance. The theory used to analyze problems in this research is the theory of functional structural property of Talcott Parson, where in theory there are four (4) concept, i.e. Adaptation, AGIL,Goal attainment, Integration and Latency. The method used in this research is qualitative method with descriptive qualitative aprroach. In the technique of selection of informants, researchers using a purposive sampling, i.e operates on a key informant.  Data collection techniques used by researchers is to use observation, in-depth interviews, and documentation. In order to test the validity of the data, the testers use the triangulation of the data. Triangulation of the data used in this research is the technique of triangulation of sources. Data analysis techniques used areinteractive analysis techniques. Interactive analysis of engineering consists of a reduction of data, display data, preparation of conclusions and verification. From the results of the study it was found that the performance of the DPRD Grobogan in performing the function of legislation by 2016 rated pretty good, because it is quite productive, resulting in fourteen (14) of regulation regions and among themthere are 2 (two) of Legislative Initiatives regulations. The performance of the DPRD Grobogan in carrying out the functions of the Budget in 2016 are rated good because in accordance with their function. The performance of the DPRD Grobogan in exercising oversight functions in 2016 are rated good due to carry out a lot of supervision even exceeded the planned target.Keyword : DPRD, performance, good governance Abstrak : Penelitian ini bertujuan guna menganalisis kinerja DPRD Kabupaten Grobogan dalam mewujudkan Good Governance.  Teori yang digunakan guna menganalisis permasalahan dalam riset ini ialah teori fungsional structural milik Talcott Parson, dimana dalam teori tersebut terdapat 4 (empat) konsep, yaitu AGIL, Adaptation, Goal attainment, Integration dan Latency. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam teknik pemilihan informan, peneliti menggunakan purposive sampling, yakni menitik beratkan pada informan kunci. Teknik pengumpulan data yang  digunakan oleh peneliti ialah dengan menggunakan observasi, wawancara mendalam, serta dokumentasi. Guna menguji keabsahan data, penguji menggunakan triangulasi data. Triangulasi data yang digunakan pada penelitian ini merupakan teknik triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif. Teknik analisis interaktif ini terdiri dari adanya reduksi data, display data, penyusunan kesimpulan dan verifikasi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Kinerja DPRD kabupaten Grobogan dalam melaksanakan fungsi legislasi pada tahun 2016 dinilai cukup bagus, karena cukup produktif, menghasilkan 14 (empat belas) Peraturan Daerah dan diantaranya terdapat 2 (dua) Perda Inisiatif DPRD. Kinerja DPRD kabupaten Grobogan dalam melaksanakan fungsi Anggaran pada tahun 2016 dinilai bagus karena sesuai dengan tupoksinya. Kinerja DPRD kabupaten Grobogan dalam melaksanakan fungsi pengawasan pada tahun 2016 dinilai baik karena melaksanakan banyak pengawasan bahkan melebihi target yang direncanakan.Kata Kunci : Kinerja, DPRD, good governance
NILAI SOSIAL BUDAYA DALAM UPACARA ADAT TETAKEN (Studi Deskriptif Upacara Adat Tetaken di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan) Reizya Gesleoda Axiaverona; R.B. Soemanto
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20732

Abstract

Abstract: The Indonesian nation has a diverse culture characterized by each region and the values that are believed by the community. Culture is created from everyday activities. The purpose of the research is to know the background, the procession of implementation, and the meaning of the implementation of the traditional ceremony of Tetaken in Mantren Kacamatan Kebonagung Village, Pacitan Regency. This study uses structural functionalism theory, from Talcott Parson. This research is a qualitative research with descriptive study approach. The research informants are Mantren Village people who know and participate in traditional ceremony of Tetaken, that is Head of Mantren Village, Interpreter of Gunung Lima, academic, and society. The sampling technique is purposive sampling. The location of this research is in Mantren Village, Kebonagung District, Pacitan Regency. Technique of data collecting is done by field observation, interview and documentation. Data analysis techniques with Miles and Hubermas model that starts from the data collection stage, data reduction, data presentation to conclusion, and for data validity using data triangulation. Result of research indicate that ceremony of Tetaken is a form of the idea of Mantren Village society which is arise belief about the importance of Kyai Tunggul Wulung so that there arises activities in the form of action and interaction on the implementation of traditional ceremony involving all the society. Tetaken traditional ceremony implies a symbol of guarding the sustainability and local wisdom typical for the people.Keywords: Cultural social values, safeguard symbols, traditional ceremonies of tetakenAbstrak : Bangsa Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam dengan ciri khas daerah masing-masing dan nilai-nilai yang dipercayai oleh masyarakat. Budaya tercipta dari kegiatan sehari-hari. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui latar belakang, prosesi pelaksanaan, dan pemaknaan dari pelaksanaan upacara adat Tetaken di Desa Mantren Kacamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme struktural, dari Talcott Parson. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif. Informan penelitian adalah masyarakat Desa Mantren yang mengetahui dan ikut dalam upacara adat Tetaken, yaitu Kepala Desa Mantren, Juru Kunci Gunung Lima, akademisi, dan masyarakat. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Lokasi penelitian ini di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan model Miles dan Hubermas yang dimulai dari tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data hingga penarikan kesimpulan, serta untuk validitas data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara adat Tetaken merupakan bentuk gagasan masyarakat Desa Mantren yang kemudian timbul kepercayaan mengenai pentingnya dilaksanakan upacara adat Tetaken yang berasal dari cerita Kyai Tunggul Wulung sehingga muncullah aktivitas – aktivitas dalam bentuk tindakan dan interaksi pada pelaksanaan upacara adat yang melibatkan semua masyarakat. Upacara adat Tetaken menyiratkan simbol penjagaan terhadap kelestarian serta kearifan lokal khas bagi masyarakatnya.Kata Kunci : Nilai sosial budaya, simbol penjagaan, upacara adat tetaken
PERUBAHAN POLA PENGELOLAAN HUTAN OLEH MASYARAKAT DI DESA KALIGUNTING (Studi Kasus PHBM di Desa Kaligunting, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur) Winanda Rizky Annisa; Siti Zunariyah
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20744

Abstract

Abstract : The existence of forest in Indonesia nowadays could be identified as under critical condition. It was not only caused by illegal logging phenomenon, but also the habit of forest village community which implicitly gives contribution towards the decay of forest ecosystem. This research used qualitative-descriptive method with approach case studies. The change that occurred in Kaligunting Village could be identified as two aspect, including physical aspect and non-physical aspect. Related to physical aspect, cultivating pattern that turned to 3m x 3m impacted on forest sustainability and level of society participation in tumpangsari. Whereas, non-physical aspect change, including social change, economics change, and cultural change. Social change could be seen by the emergence of LMDH Sumber Tani which made level of participation, interaction and social distance, and social network increased. Economic change is visible through the emergence of business opportunity such as cassava flour which became main product of the village, up to the existence of production sharing form Perum Perhutani. Then, in the cultural aspect, the change is occurred in cultivation and harvesting ritual.Keyword : Social change, forest management, Forestry Departmen, PHBM, civil institutions Abstrak : Keberadaan hutan di Indonesia saat ini dapat diidentifikasi karena berada dalam kondisi kritis. Bukan hanya disebabkan oleh fenomena illegal logging, tetapi juga kebiasaan masyarakat desa hutan yang secara implisit memberikan kontribusi terhadap kerusakan ekosistem hutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Perubahan yang terjadi di Desa Kaligunting dapat diidentifikasi sebagai dua aspek, termasuk aspek fisik dan non-fisik. Terkait dengan aspek fisik, pola budidaya yang berubah menjadi 3m x 3m berdampak pada kelestarian hutan dan tingkat partisipasi masyarakat dalam tumpangsari. Sedangkan, aspek non fisik berubah, termasuk perubahan sosial, perubahan ekonomi, dan perubahan budaya. Perubahan sosial dapat dilihat dengan munculnya LMDH Sumber Tani yang membuat tingkat partisipasi, interaksi dan jarak sosial, dan jejaring sosial meningkat. Perubahan ekonomi terlihat melalui munculnya peluang bisnis seperti tepung ubi kayu yang menjadi produk utama desa, hingga adanya bentuk bagi hasil Perum Perhutani. Kemudian, dalam aspek budaya, perubahan itu terjadi dalam ritual kultivasi dan panen. Kata Kunci: Perubahan sosial, pengelolaan hutan, Departemen Kehutanan, PHBM, lembaga sipil
EVALUASI HASIL PROGRAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA TANI DI DESA KALIABU, KECAMATAN MEJAYAN, KABUPATEN MADIUN Didin Dinda Rukmana; Bagus Haryono
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20734

Abstract

Abstract : This research aimed to evaluate the result of women empowerment program conducted by KWT (Female Farmers Group) in Kaliabu Village, Mejayan Sub District, Madiun Regency. The theory used in this research was Talcott Parson’s Action theory. In this research, social action taken by Kaliabu Village women served to be actors working as farmers or farmer labor get wage, but they still had leisure time to be utilized. To achieve such the objective, KWT (Female Farmers Group) was established in Kaliabu Village as a means of developing rural women’s potency and productivity in order to utilize leisure time with more beneficial activity. This research was taken place in Kaliabu Village, Mejayan Sub District, Madiun Regency. The method employed in this research was evaluation on the result of program with CIPP (Context, Input, Process, Product). This study was a descriptive qualitative research with purposive sampling technique to select the sample. Techniques of collecting data used were observation, interview, and documentation. Data validation was carried out using source triangulation. Technique of analyzing data used was a flow model of analysis encompassing data collection, data reduction, data display, and conclusion. The result of research showed that Kaliabu Village women working as farmers and farmer labors still have leisure time to be utilized to do more productive and beneficial activities. To improve productivity and ability of utilizing leisure time existing, KWT program developed two activity programs: vegetable productive plant cultivation and catfish breeding programs. Thus, there were two programs expected to help improve the productivity of rural community, particularly rural women, in order to develop potency existing inside themselves and their environment.  Keywords: Women, empowerment, female farmer groupAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil program pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh KWT (Kelompok Tani Perempuan) di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Tindakan Talcott Parson. Dalam penelitian ini, aksi sosial yang diambil oleh Desa Kaliabu adalah menjadi pelaku yang bekerja sebagai petani atau buruh tani untuk mendapatkan upah, tetapi mereka masih memiliki waktu luang yang bisa dimanfaatkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, KWT (Kelompok Tani Perempuan) didirikan di Desa Kaliabu sebagai sarana untuk mengembangkan potensi dan produktivitas perempuan pedesaan dengan memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Penelitian ini dilakukan di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah evaluasi terhadap hasil program dengan CIPP (Konteks, Input, Proses, Produk). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling untuk memilih sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi data dilakukan menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah model aliran analisis yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Desa Kaliabu yang bekerja sebagai petani dan buruh tani masih memiliki waktu luang untuk digunakan melakukan kegiatan yang lebih produktif dan bermanfaat. Untuk meningkatkan produktivitas dan kemampuan memanfaatkan waktu luang yang ada, program KWT mengembangkan dua program kegiatan: budidaya tanaman sayuran produktif dan program pembenihan ikan lele. Dengan demikian, ada dua program yang diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas masyarakat pedesaan, khususnya perempuan pedesaan, untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri mereka dan lingkungan mereka.Kata Kunci: Perempuan, pemberdayaan, kelompok tani perempuan
NARASI KAUMAN: STUDI PERBANDINGAN PERUBAHAN SOSIAL KAUMAN SURAKARTA DENGAN YOGYAKARTA Fitri Damayanti; Akhmad Ramdhon
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.20736

Abstract

Abstract : Kauman Surakarta become important in Surakarta in historical aspect as well as the current situation. Because the leading village Bappeda in city tourism. Kauman Yogyakarta itself is also a city government to develop tourism. However, Kauman region is not developed into a tourism, he remains intact into the territory of the strong will be the value of religious aspects although this is the influence of the community organization Muhammadiyah carried by Ahmad Dahlan. But a set of Abdi Dalem Pamethakan in Yogyakarta still exists and is still closely related to the Sultan Palace. So, compared with Yogyakarta can describe how the policy of the government of the city and claims against the city itself make Kauman Village experience social change, economic and religious. The purpose of this research is to know the changes what happened from there can be done comparatively changes and process. Next, knowing the cause/ factors changes can be analyzed the relationship Kauman Village with the life of the City of Surakarta and Yogyakarta. This research uses a type of qualitative research with ethnographic methods. How people organise their culture in their minds and then use the culture in life. In the process, changes covers 3 aspects: religious kinship, the nexus of Social Status Abdi Dalem Pamethakan that finally become economic change and the Nexus of blood that finally become social change Kauman community. From these changes are classified into 4 phases and the known causes of factors changes, namely internal factors (economy needs to change and how to maintain the existence of the village) and external factors (Tourism Policy of Local Government and the state of the Keraton Surakarta and Yogyakarta). Next, internal factors called to the village and external city. In the City of Surakarta and Yogyakarta itself together to develop tourism as a regional income. So that makes reference symbols found in the village can be an alternative tour package for the city itself. So from there can be described how the flow of a city and the village of mutual influence and also how komparasinya between the City of Surakarta and Yogyakarta City.Keyword : Social Change, Kauman, tourism, symbolsKauman Surakarta menjadi kampung unggulan Bappeda dalam pariwisata kota. Kauman Yogyakarta sendiri juga merupakan pemerintah kota yang mengembangkan pariwisata namun ia tidak berkembang menjadi pariwisata. Sehingga, membandingkannya dengan Yogyakarta dapat menerangkan bagaimana kebijakan pemerintah kota dan tuntutan terhadap kota itu sendiri membuat Kampung Kauman mengalami perubahan sosial, ekonomi dan keagamaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan apa saja yang terjadi dari sana dapat dilakukan komparasi perubahan serta prosesnya. Selanjutnya, mengetahui penyebab/ faktor perubahan dapat dianalisis hubungan Kampung Kauman dengan kehidupan Kota Surakarta maupun Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling dan Snowball. Dalam prosesnya, perubahan sosial yang terjadi meliputi 3 aspek yaitu Pertalian Keagamaan, Pertalian Status Sosial Abdi Dalem Pamethakan yang akhirnya menjadi perubahan ekonomi dan Pertalian Darah yang akhirnya menjadi perubahan sosial masyarakat Kauman. Sedangkan perubahan status sosial abdi dalem Pamethakan adalah jumlah pengangkatan Tafsir Anom. Lalu, feedback yang diterima Penghulu Tafsir Anom. Jika jaman dahulu mendapat tempat tinggal dan uang bulanan, kini Kraton tidak memberikan upah apapun kepada Penghulu Tafsir Anom. Selanjutnya proses pertalian darah yang berawal dari perkawinan endogami namun kini sudah tidak demikian lagi dan berubah menjadi bagaimana kehidupan sosial di Kauman terbentuk. Dari perubahan tadi digolongkan menjadi 4 fase dan diketahui penyebab/faktor perubahan, yaitu faktor internal (Kebutuhan Ekonomi Berubah dan bagaimana Mempertahankan Eksistensi Kampung) dan faktor eksternal (Kebijakan Pariwisata Pemda dan keadaan Keraton Surakarta maupun Yogyakarta). Selanjutnya, faktor internal disebut dengan kampung dan eksternal kota. Di Kota Surakarta maupun Yogyakarta sendiri sama-sama mengembangkan pariwisata sebagai pemasukan daerah. Sehingga membuat rujukan simbol-simbol yang terdapat di kampung dapat menjadi alternatif paket wisata bagi kota itu sendiri. Sehingga dari sana dapat digambarkan alur bagaimana suatu kota dan kampung saling mempengaruhi dan juga bagaimana komparasinya antara Kota Surakarta dengan Kota Yogyakarta. Kata Kunci: Perubahan Sosial, Kauman, Pariwisata, Simbol
AGENSI PEREMPUAN DALAM KESIAPSIAGAAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT DI SURAKARTA (Studi Kasus tentang Agensi Perempuan di Kampung Sewu, Sangkrah, dan Semanggi, Kota Surakarta) Irfiade Zarkasyi Talaththof; Siti Zunariyah
Journal of Development and Social Change Vol 1, No 1 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v1i1.40619

Abstract

ABSTRAKIrfiade Zarkasyi Talaththof. D0315035. 2020. “Agensi Perempuan dalam Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat”. Skripsi. Program Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Sebelas Maret Surakarta.Kondisi geografis Indonesia termasuk dalam wilayah yang rawan dimana setiap wilayahnya memiliki risiko bencana yang beragam. Berbagai bencana sering terjadi seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain sebagainya. Oleh karena itu diperlukan adanya kesiapsiagaan baik dalam pra-bencana maupun pasca-bencana dan untuk mencapai hal tersebut diperlukan akses dan kontrol terhadap sumber daya. Perempuan seringkali dipandang rendah oleh kaum lainnya dan dianggap sebagai kelompok yang lemah sehingga dianggap tidak memiliki kemampuan untuk tangguh terhadap berbagai macam kondisi bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui agensi perempuan dalam kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Akar teori penelitian ini memakai teori strukturasi Anthony Giddens yang membahas mengenai dualitas yang saling berinteraksi yakni agen dan struktur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yang memilih perempuan SIBAT sebagai informan kunci. Data yang digunakan berupa data primer dan sekunder melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Uji validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber. Analisis data dalam penelitian ini diawali dengan pengumpulan data, mereduksi data, menyajikan data dan dilanjutkan dengan penarikan kesimpulan.Tujuan akhirnya adalah bagaimana memastikan para perempuan  memiliki ketangguhan sehingga bisa hidup berdampingan dengan risiko bencana. Kemudian pertanyaan yang lebih jauh adalah seberapa jauh keagenan, bagaimana kelompok rentan menjadi bagian dari upaya mengelola risiko, atau bagaimana mereka beradaptasi dengan perubahan dan tekanan. Meskipun mereka berangkat dari jejaring komunitas informal (SIBAT) yang kuat baik secara keterbukaan informasi maupun proses manajemen bencana, hal tersebut dapat disebut sebagai bagian dari struktur yang memberi ruang bagi keagenan perempuan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki agensi yakni melompat dari pandangan umum bahwa perempuan selama ini dianggap sebagai kelompok rentan dan sanggup memiliki kapasitas dalam menghadapi dalam berbagai kerentanan. Perempuan SIBAT mampu melakukan agensi dalam Reproduktif pada bidang ekologi, ekonomi, sosial, fisik, dan edukasi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi agen mampu melompat menjadi agensi ketika para aktor melakukan perubahan. Faktor yang berpengaruh terhadap agensi perempuan dalam hal kesiapsiagaan ialah kesempatan dan motivasi, dukungan dan alasan keluarga, dan yang terakhir adalah partisipasi dan regenerasi. Kata kunci                                           : Perempuan, Agensi, Kerentanan, Kapasitas

Page 1 of 1 | Total Record : 10