cover
Contact Name
Kurniati Devi Purnamasari
Contact Email
kurniatidevip@gmail.com
Phone
+628112395222
Journal Mail Official
midjoger@gmail.com
Editorial Address
Jl. R.E Martadinata No.150 Ciamis 46251
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Midwifery and Public Health
Published by Universitas Galuh
ISSN : -     EISSN : 26854007     DOI : 10.25157
Core Subject : Health,
ournal of Midwifery and Public Health adalah jurnal berkala yang memuat hasil penelitian kebidanan dan kesehatan. diterbitkan oleh Program Studi Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Galuh, dengan Nomor e-ISSN 2685-4007. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Mei dan Nopember
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2020): November" : 7 Documents clear
GAMBARAN FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) PADA WANITA USIA SUBUR (WUS) DI DESA NAGARAPAGEUH Amalia Zhafirah; Siti Rohmah
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6871

Abstract

Pada beberapa keadaan, terjadi kesalahan Wanita Usia Subur dalam memilih metode kontrasepsi, sehingga angka kematian terus bertambah. Penyebabnya adalah jarak anak tidak sesuai dengan kondisi ibu dan dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi (Sarwono, 2013). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya penggunaan MKJP diantaranya dukungan suami, faktor pengetahuan, faktor pendidikan dan faktor kesehatan. Untuk mengetahui Gambaran Factor Penyebab Rendahnya Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Wanita Usia Subur (WUS) di Desa Nagarapageuh Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis Tahn 2020.Diketahui sebagian besar responden memiliki pengetahuan rendah sebesar 38 responden (66,7%). Diketahui sebagian besar yaitu 34 (59,7%) responden berumur 15 – 35 tahun. Diketahui hampir setengah dari keseluruhan yang mempunyai jumlah anak 1 (satu)/Primipara yaitu 26 (45,6%) responden. Diketahui sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir yaitu SD dan SLTP dalam kategori rendah sebanyak 34 (59,6%).Sebagian besar responden memiliki pengetahuan MKJP yang rendah (dengan nilai <50%). Sebagian besar responden berusia 15 – 35 tahun dalam kategori normal. Hampir setengah dar keseluruhan responden mempunyai anak 1 yang dalam kategori normal. Sebagian besar responden berpendidikan terakhir SD dan SLTP yang dalam kategori ialah Rendah. Diharapkan akan menjadi tambahan informasi sehingga dapat meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang Memilih Metode Kontrasepsi yang tepat untuk kesehatan Ibu serta dapat menyarankan kepada ibu yang telah memasuki Resiko Tinggi agar tepat memilihi Metode Kontrasepsi sehingga tidak terjadi komplikasi.In some circumstances, there is an error in the fertile age woman in choosing a contraceptive method, so that the mortality rate continues to increase. The reason is that the distance of the child is not in accordance with the condition of the mother and can result in the death of both mother and baby (Sarwono, 2013). Many factors can influence the low use of MKJP including husband's support, knowledge factors, educational factors and health factors. To find out the description of the factors causing the low use of the long-term contraceptive method (MKJP) in women of childbearing age (WUS) in Nagarapageuh Village, Panawangan District, Ciamis Regency 2020.It is known that most respondents have low knowledge of 38 respondents (66.7%). It is known that most of the 34 (59.7%) respondents aged 15-35 years. It is known that almost half of all children have 1 (one) / Primipara children, namely 26 (45.6%) respondents. It is known that most of the respondents have the latest education, namely SD and SLTP in the low category as many as 34 (59.6%).Most of the respondents have low MKJP knowledge (with a value of <50%). Most of the respondents aged 15-35 are in the normal category. Almost half of all respondents have 1 child who is in the normal category. Most of the respondents have the last education of SD and SLTP which in the category is Low. It is hoped that this will provide additional information so that it can increase outreach activities on Choosing the right contraceptive method for maternal health and can advise mothers who have entered High Risk to choose the right contraceptive method so that complications do not occur.
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES INVOLUSI UTERUS PADA IBU POST PARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LANGENSARI KOTA BANJAR Anggi Septyara; Yudita Ingga Hindiarti
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6872

Abstract

Pada beberapa keadaan, terjadi proses involusi uterus tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilannya terlambat. Penyebabnya adalah infeksi endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri (Manuaba, 2013) Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses involusi diantaranya menyusui, mobilisasi dini, status gizi, paritas dan usia. Penelitian ini adalah Mengetahui gambaran faktor-faktor yg mempengaruhi Proses Involusi Uterus Pada Ibu Post Partum di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari Kota Banjar Tahun 2020. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode total Sampling. Diketahui lebih dari setengahnya responden memiliki umur antara 20 sampai 34 tahun sebanyak 12 orang (54,5) Diketahui sebagian besar responden termasuk pada kategori multipara sebanyak 15 orang (68,2%) Diketahui sebagian besar responden melakukan mobilisasi dini sebanyak 14 orang (63,6%). Diketahui lebih dari setengahnya responden melakukan inisiasi menyusui dini sebanyak 12 orang (54,5%). lebih dari setengahnya responden memiliki umur antara 20 sampai 34 tahun. sebagian besar responden termasuk pada kategori multipara. sebagian besar responden melakukan mobilisasi dini. Diharapkan akan menjadi tambahan informasi sehingga dapat meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang faktor-faktor yg mempengaruhi Proses Involusi Uterus serta dapat menyarankan kepada ibu yang telah melahirkan utuk melakukan mobilisasi dini dan inisiasi menyusui dini (IMD) dapat membantu dalam involusi uterus.Background: In some circumstances, the uterine involution process is not running properly, so that the reduction process is too late. The cause is an endometrial infection, there is a remnant of the placenta and its membranes, there is a blood clot, or uterine myoma (Manuaba, 2013). Many factors can affect the involution process including breastfeeding, early mobilization, nutritional status, parity and age. Purpose: The purpose of this study is to describe the factors that influence the Uterine Involution Process in Post Partum Mothers in the Work Area of the Langensari Public Health Center, Banjar City in 2020. Metode: The type of research used in this research is descriptive research. The sampling used in this study is the total sampling method. Results: It is known that more than half of the respondents have an age between 20 to 34 years as many as 12 people (54.5) It is known that most of the respondents belong to the multiparous category as many as 15 people (68.2%) It is known that most of the respondents did early mobilization as many as 14 people (63.6%). It is known that more than half of the respondents initiated early breastfeeding as many as 12 people (54.5%Conclusion: more than half of the respondents were between 20 and 34 years old. most of the respondents fall into the multiparous category. most of the respondents carried out early mobilization. Suggestion: It is hoped that additional information will be provided so that it can increase outreach activities about the factors that affect the Uterine Involution Process and can advise mothers who have given birth to carry out early lactation and early initiation of breastfeeding (IMD) can help in the involution of the uterus.
GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENDERITA KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SADANANYA TAHUN 2020 Elsa Swandini; Widya Maya Ningrum
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6873

Abstract

Masalah Gizi yang ada di Indonesia yang belum teratasi adalah Stunting (pendek), wasting (Kurus), Overweight (gizi lebih/Obesitas) dan KEK (Kurang Energi Kronis). Angka Kejadian KEK di Kabupaten Ciamis Ibu Hamil yang menderita Kekurangan Energi Kronis (KEK) sebanyak 2.083 (9,25%) dengan jumlah ibu hamil di Kabupaten Ciamis sebanyak 22.513 orang (dinas kesehatan kabupaten ciamis, 2019). ibu hamil yang menderita KEK sebanyak 70 orang (9,49%), angka ini menempati urutan kedua setelah anemia. Meskipun di urutan kedua tetapi ibu hamil dengan KEK ini berlanjut ke penyulit yaitu anemia, BBLR dan Abortus. Mengetahui Gambaran Karakteristik Umur,Pekerjaan, Pendidikan dan Paritas Ibu Hamil yang Menderita Kekurangan Energi Kronis di Wilayah Kerja Puskesmas Sadananya tahun 2020. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif , jenis data yang digunakan adalah data sekunder, populasi dalam penelitian sebanyak 70 ibu hamil KEK dan sampel yang digunakan menggunakan total sampling, instrumen penelitian yang dgunakan berupa lembar checklist, data yang dikumpulkan dianalisis secara univariat dan diolah menggunakan SPSS 16.0. Hasil dari penelitian karakteristik umur ibu hamil KEK sebagian besar terjadi pada umur beresiko (<20 tahun atau >35 tahun) sebanyak 39 ibu hamil (55.7%), karakteristik pekerjaan ibu hamil KEK terjadi pada ibu tidak bekerja sebanyak 47 orang (67.1%), karakteristik pendidikan ibu hamil KEK pada ibu berpendikan dasar sebanyak 57 orang (81,4%), karakteristik paritas ibu hamil yang mengalami KEK terjadi pada ibu hamil primipara sebanyak 37 ibu hamil (52,9%).Karakteristik umur beresiko, status pekerjaaan ibu tidak bekerja, berpendidikan dasar dan Kekurangan Energi Kronis terjadi pada primipara. Dengan adanya hasil penelitian ini dpaat dijadikan sebagai bahan acuan untuk petugas kesehatan khususnya bidan sebagai orang terdekat dengan wanita dalam memberikan pelayanan serta memberikan edukasi kepada ibu hamil guna mencegah, menekan serta mengatasi kejadian KEK dan mencegah terjadinya komplikasi yang ditimbulkan dari KEK.The unresolved nutritional problems that exist in Indonesia are stunting (short), wasting (thin), overweight (over nutrition / obesity) and chronic energy deficiency (CED). The incidence rate of pregnant women with CED in Ciamis Regency was 2,083 (9.25%) from the total of 22,513 pregnant women (Ciamis District Health Office, 2019). This rate is ranked as the second highest after anemia. Although it is in the second place, pregnant women with CED may be at risk of experiencing complications such as anemia, low birth weight and abortion. The objective of the study is to investigate the characteristics of age, occupation, education and parity of pregnant women who suffer from Chronic Energy Deficiency in the working area of Sadananya community health center in 2020. The study employed a descriptive approach with the type of data used was secondary data. The population in the study was 70 pregnant women with CED and the sample was drawn with the use of total sampling technique. In collecting the data, the study used a checklist sheet and the data collected were analyzed univariately using SPSS 16.0. The results showed that in the characteristic of age, most of the pregnant women with CED precisely 39 people (55.7%) were at the risk age (<20 years or> 35 years); in the characteristic of occupation, the occupational status of pregnant women with CED (47 people or 67.1% ) was not working; in the characteristic of education, the educational level of the pregnant women with CED (57 people or 81.4%) was basic education; and in the last characteristic observed, that is, the parity, the pregnant women (37 people or 52.9%) who experienced CED was primiparous. It can be concluded that the characteristic of the age was at risk; the employment status was not working; the education level was basic education and the parity was primiparous. The results of this study can be used as a reference by health workers, especially midwives, as the closest people providing services and education to pregnant women in order to prevent, suppress and overcome the incidence of CED, and prevent complications arising from CED.
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA DESA BAREGBEG KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2020 Euis Sri Rahayu
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6875

Abstract

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia sangat dipengaruhi oleh rendahnya status gizi balita. status gizi pada balita harus sangat dijaga dan diperhatikan secara serius dari orang tua, karena terjadi malnutrisi pada masa ini akan bisa menyebabkan kerusakan yang irreversibel. Keadaan gizi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berhubungan. Tingkat pendidikan dan pekerjaan orang tua, pemberian ASI , morbiditas dan status ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita di Desa Baregbeg Kabupaten Ciamis Tahun 2020. penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita di Wilayah Kerja Desa Baregbeg Kabupaten Ciamis sebanyak 336 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tekhnik accidental sampling dan didapat 77 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian di wilayah kerja Puskesmas Baregbeg Kabupaten Ciamis menunjukkan bahwa pendidikan ibu paling banyak pendidikan menengah yaitu 51 orang (66,2%), pengetahuan ibu paling banyak kurang yaitu 40 orang (51.9%), Balita tidak BBLR yaitu 58 orang (75.5%), imunisasi bayi paling banyak tidak lengkap yaitu 53 orang (68.8%), balita paling banyak tidak eksklusif yaitu 55 orang (71,4%) dan pendapatan ibu paling banyak rendah yaitu 50 orang (64,9%). Perlu mengoptimalkan program pemantauan status gizi anak balita dan meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan pada saat kegiatan PKK, posyandu, dan lain-lain.The Human Development Index (HDI) in Indonesia is strongly influenced by the low nutritional status of children ages 0-5. The nutritional status of toddlers must be maintained and taken seriously by parents because malnutrition happened at this period can cause an irreversible damage. The state of nutrition in children is strongly influenced by several interrelated factors. Among others are the level of parents’ education, occupation, breastfeeding, morbidity and economic status of the family. The present study aims to describe the factors influencing the nutritional status of children ages 0-5 in Baregbeg Village, Ciamis Regency. To achieve the aim, the study utilized descriptive research approach involving 336 mothers with children under five in the working area of Baregbeg Village, Ciamis Regency as the population. In drawing the sample, the study employed accidental sampling technique and obtained 77 people. By using questionnaire as the data collection, the study showed several findings; most of the mothers’ education level (51 people or 66.2%) was secondary education; most of the mothers (40 people or 51.9%) have insufficient knowledge about nutrition; most of the toddlers (58 people or 75.5%) have no low body weight (LBW); most of the infant immunization (53 people or 68.8%) was incomplete; most of the toddlers (55 people or 71.4%) did not get exclusive breastfeeding; and the number of mothers with highest income was 50 people (64.9%). It is necessary for the midwives to optimize the program monitoring the nutritional status of children ages 0-5, and to increase knowledge of the community nutrition by providing counseling during Family Welfare Program (or PKK), Integrated Service Post (or Posyandu), and other activities.
PERBANDINGAN SKALA NYERI PADA IBU BERSALIN YANG DILAKUKAN PIJAT PUNGGUNG DENGAN TIDAK DIBERIKAN PERLAKUAN DI PRAKTIK MANDIRI BIDAN IIK MASKIAH, AM.Keb TAHUN 2020 Lilis Sulistiawati
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6876

Abstract

Nyeri persalinan yang timbul semakin sering dan semakin lama dapat menyebabkan ibu gelisah, takut dan tegang bahkan stres yang berakibat pelepasan hormon yang berlebihan seperti adrenalin, katekolamin dan steroid . Tujuan : Mengetahui Perbandingan Skala Nyeri Pada Ibu Bersalin Yang Dilakukan, Pijat Punggung, Dengan Yang Tidak Diberikan Perlakuan di Praktik Mandiri Bidan Iik Maskiah Tahun 2020. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian komparatif dan degan pendekatan Eksperimental. Sempel dalam penelitian ini adalah 18 orang dengan rata-rata pasien 1 bulan sebanyak 18 orang, Teknik pengambilan sempel mengunakan Simple Random Sampling. Analisa dalam penelitian ini adalah Univariat dan bivariate. Berdasarkan hasil uji statistik dengan mengunakan Mann Whitney, diketahui bahwa nilai P (0,017) lebih kecil dari nilai α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara skala nyeri pada Ibu bersalin yang dilakukan pijat punggung dengan Ibu bersalin yang tidak dilakukan pijat punggung. Terdapat perbedaan antara skala nyeri pada Ibu bersalin yang dilakukan pijat punggung. Diharapkan Tenaga kesehatan khusunya bidan sebagai penolong persalinan dapat membantu ibu bersalin dalam memenuhi kebutuhan ibu akan rasa nyaman dalam pengontrolan nyeri secara non farmakologis saat memberikan asuhan persalinan dengan menerapkan kombinasi teknik relaksasi dan pijatan sehingga persalinan dapat berjalan secara efektif dan aman baik dari segi lama persalinan dan kondisi bayi yang dilahirkan.Labor pain that occurs more often and longer can cause the mother to be anxious, afraid and tense, even stress, which results in excessive release of hormones such as adrenaline, catecholamines and steroids. Knowing the Comparison of the Pain Scale of Maternity Women Who Are Performed, Back Massage, and Those Not Provided for Treatment at the Iik Maskiah Midwife Independent Practice in 2020.This type of research uses comparative research methods and experimental approaches. Samples in this study were 18 people with an average of 18 patients for 1 month. The sampling technique used simple random sampling. The analysis in this research is univariate and bivariate. Based on the results of statistical tests using the Mann Whitney test, it is known that the P value (0.017) is smaller than the α value (0.05), so it can be concluded that there is a difference between the pain scale in mothers who gave birth who received back massage and those who gave birth who gave birth. back massage is not done. There is a difference between pain scales in mothers who give birth who receive back massage. It is hoped that health workers, especially midwives as birth attendants, can assist mothers in fulfilling their needs for comfort in non-pharmacological pain control when providing childbirth care by applying a combination of relaxation and massage techniques so that labor can run effectively and safely both in terms of length. childbirth and the condition of the baby being born.
GAMBARAN KOMPLIKASI PERSALINAN PADA IBU HAMIL DENGAN FAKTOR RESIKO USIA TERLALU TUA DI PUSKESMAS CISAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA Santi Susanti
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6877

Abstract

Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator pembangunan kesehatan. Tingginya kematian Ibu Indonesia disebabkan oleh komplikasi obstetrik yaitu perdarahan berkisar (40-60%) dari total angka kematian Ibu, pre eklampsia (20-30%) dan infeksi jalan lahir (20-30%). Selain itu keadaan ibu yang dapat berpengaruh terhadap kehamilannya seperti anemia, kurang energy kronis (KEK) dan keadaan “4 Terlalu” yaitu terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering, terlalu banyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran komplikasi persalinan pada ibu bersalin dengan factor resiko usia lebih dari 35 tahun. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Cisayong Kabupaten Tasikmalaya pada 1-2 juni 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dengan usia lebih dari 35 tahun periode januari – Mei 2018. Sampel penelitian berjumlah 33 orang. Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang mengalami komplikasi dengan faktor resiko terlalu tua sebanyak 28 orang (84,8%) dan yang mengalami persalinan normal 5 orang (15,2%). Jenis komplikasi yag terjadi meliputi sebagai berikut : mengalami Preeklamsia Berat sebanyak 10 orang (30,3%), partus lama sebanyak 7 orang (21,2%), KPD sebanyak 6 orang (18,2%), Fetal Distress 3 orang (10,7%), Sungsang dan BBLR 1 kasus (3,6%) . Simpulan. Ibu hamil dengan faktor resiko usia ≥ 35 tahun sebagian besar mengalami komplikasi dalam persalinan yaitu 84,8%. Saran untuk pasangan usia subur sebaiknya merencanakan kehamilan pada usia reproduksi sehat yaitu rentang 20 – 35 tahun. Jika diluar usia tersebut sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi.Maternal mortality rate (MMR) is one indicator of health development. The high maternal mortality rate in Indonesia is caused by complications, namely bleeding (40-60%) of the total maternal mortality rate, pre-eclampsia (20-30%) and infection of the birth canal (20-30%). In addition, the condition of the mother that can affect her pregnancy such as anemia,lack of energy chronic and the "4 Too" state, namely too old, too young, too often, too much. (Ministry of Health RI, 2015). The purpose of this study was to determine the description of childbirth complications in women giving birth with factors risk over 35 years of age. This research method uses quantitative methods with a descriptive approach. The study was carried out in Cisayong, Tasikmalaya Regency on June 1-2 2018. The population in this study were all maternity mothers with an age of more than 35 years for the period January - May 2018. The research sample amounted to 33 people. techniques were Data collection carried out using secondary data. The analysis carried out is univariate analysis. The results showed that the respondents who experienced complications with risk factors were 28 people (84.8%) and 5 people who experienced normal delivery (15.2%). Types of complications that occur include the following: experienced severe preeclampsia as many as 10 people (30.3%), prolonged labor as many as 7 people (21.2%), KPD as many as 6 people (18.2%), Fetal Distress 3 people (10 ,7%), breech and LBW 1 case (3,6%). Conclusion. Pregnant women with risk factors aged 35 years experienced complications in childbirth, namely 84.8%. Suggestions for couples of childbearing age should plan a pregnancy at a healthy reproductive age, which is a range of 20-35 years. If you are beyond that age, you should use long-term contraceptives.
PERSALINAN PADA IBU DENGAN RIWAYAT KEKURANGAN ENERGI KRONIS Widya Maya Ningrum; Erni Puspitasari
Journal of Midwifery and Public Health Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jmph.v2i2.6878

Abstract

Ibu hamil yang mengalami KEK akan mengalami kekurangan gizi, tubuh mudah lelah, pucat, lemas, dan mengalami kesulitan salah satunya dalam proses persalinan. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (prematur), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi.Puskesmas Sadananya data ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 70 orang (9,49%) dan berlanjut ke penyulit lainnya yaitu mengalami Abortus 5 0rang (3,5%), BBLR 9 bayi (6,3%)Jenis Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dengan riwayat KEK pada masa kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Sadananya Kabupaten Ciamis Tahun 2019 sebanyak 70, Teknik pengambilan sempel mengunakan Simple Random Sampling. Analisa dalam penelitian ini adalah Univariat. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 3 oang mengalami persalinan sebelum waktunya (4,3%), 1 orang mengalami perdarahan paska salin disebebkan atonia uteri (1,4%), dan 8 orang proses persalinan dengan Operasi (SC) (11,4%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ibu hamil dengan riwayat KEK mengalami penyulit persalinan, meskipun secara jumlah tidak terlalu signifikan, namun hal ini tentunya tetap harus menjadi perhatian khususnya bagaimana bisa mencegah ibu hamil untuk tidak mengalami anemia, dan apabila sudah terjadi sebagai seorang bidan tentunya harus dapat mendeteksi penyulit yang akan terjadi denganmelakukan penapisan awal persalinan.Pregnant women who experience KEK will experience malnutrition, body easily tired, pale, weak, and experience difficulties, one of which is in the delivery process. The effect of KEK on the labor process can result in difficult and prolonged labor, preterm labor, bleeding after delivery, and delivery by surgery. Puskesmas Sadananya data on pregnant women who experience KEK as many as 70 people (9.49%) and continue to other complications, namely experiencing 5 0rang abortion (3.5%), LBW 9 babies (6.3%). This type of research is a descriptive study. The population in this study were all 70 women who gave birth with a history of KEK during pregnancy in the Work Area of the Sadananya Health Center, Ciamis Regency in 2019, the sampling technique used was Simple Random Sampling. The analysis in this research is Univariate. The results showed as many as 3 people experienced premature labor (4.3%), 1 person experienced post-saline bleeding due to uterine atony (1.4%), and 8 people went into labor by surgery (11.4%). The conclusion of this study is that pregnant women with a history of KEK experience difficulty in childbirth, although the numbers are not too significant, this of course still has to be a concern, especially how to prevent pregnant women from experiencing anemia, and if it has occurred as a midwife, of course they must be able to detecting impending complications by performing an early screening of labor.

Page 1 of 1 | Total Record : 7