cover
Contact Name
Abdillah Afabih
Contact Email
abdillahafa5@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalnabawi@gmail.com
Editorial Address
Jl. Irian Jaya No. 10 Tebuireng Diwek Jombang
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Nabawi: Journal of Hadith Studies
ISSN : 27978370     EISSN : 27463206     DOI : -
NABAWI: Journal of Hadith Studies provide a platform for researchers on hadith and history of hadith. Author can send his research about hadith on any perspective. Nevertherless, We suggest the following broad areas of research: 1. Takhrij and dirasat al-asanid 2. Ulumul Hadith 3. Living Hadith 4. Mukhtalaf Hadith 5. Fiqh al-Hadith 6. Lughat al-hadith 7. Biographical research of ahl al-hadith
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies" : 6 Documents clear
TRADISI PEMAHAMAN HADIS DALAM KITAB GARIB AL-HADIS DAN TRANSFORMASINYA KE TRADISI KITAB SYARAH HADIS Alfatih Suryadilaga
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.682 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.6

Abstract

Sejarah awal Islam keberadaan keilmuan atas pemahaman hadis belum diperlukan karena sosok orang yang memberi penjelas atas al-Qur’an masih hidup. Perkembangan pemahaman hadis seusai kenabian Muhammad Saw. melahirkan pemahaman hadis yang sangat variatif dan melahirkan banyak kitab-kitab hadis yang terhimpun dalam keilmuan gharib al-hadith. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan metode interpretif konseptual serta menggunakan pendekatan historis atas beberapa kitab tentang gharib al-hadith dan sharh al-hadith. Artikel ini menjelaskan pemahaman hadis dalam konteks gharib al-hadith tersebut, bagaimana latar belakang kelahirannya serta menjelaskan tentang transformasi keilmuan tersebut dengan keilmuan syarah hadis. Hasil karya ulama hadis atas keilmuan hadis sangat variatif dengan delapan model kajian dan dimulai dalam bentuk sederhana seperti kamus yang hanya menjelaskan matan hadis yang kurang dimengerti oleh masyarakat. Selain itu, transformasi keilmuan gharib al-hadith ke syarah hadis adalah melahirkan bentuk yang sangat kompleks dalam pemahaman yang menjelaskan aspek menyeluruh hadis yakni sanad dan periwayat hadis serta matan hadis. Walaupun demikian, keberadaan syarah juga mengikuti perkembangan zaman dan kecenderungan penulisnya dengan melahirkan tiga bentuk yaiu syarah singkat, syarah medium dan syarah panjang lebar (lengkap). Ketiga bentuk syarah hadis tersebut telah menjadi transformasi pemahaman hadis di era sebelumnya yakni di masa gharib al-hadith dengan kajian yang terbatas.Kata Kunci: Pemahaman Hadis, Gharib al-Hadith, Sharh al-Hadith.AbstractEarly history of Islam the existence of science for understanding the hadith is not needed because the figure of the person who gives an explanation of the Qur'an is still alive. The development of the understanding of the hadith after the prophethood of Muhammad. gave birth to a very varied understanding of hadith and gave birth to many books of hadith that are collected in the science of garib al-hadith. This research includes qualitative research with conceptual interpretive methods and uses a historical approach to several books about gharib al-hadith and sharh al-hadith. This article explains the understanding of the hadith in the context of the garib al-hadith, how the background of its birth and explains the transformation of the science with the knowledge of the tradition of hadith. The results of the hadith scholar's work on the science of hadith are very varied with eight models of study and begin in a simple form like a dictionary which only explains the tradition of tradition which is less understood by the public. In addition, the transformation of scientific knowledge garib al-hadith into the tradition of shari'a is giving birth to a very complex form of understanding that explains the overall aspects of the hadith namely sanad and narrators of traditions and traditions of traditions. Nevertheless, the existence of sharia also follows the development of the times and the tendency of the author to give birth to three forms of short syarah, medium syarah and long syarah (complete). The three forms of hadith shari'ah have been transformed into the understanding of hadith in the previous era, namely in the period of garib al-hadith with limited studies.Keywords: Understanding of  Hadith, Gharib al-Hadith, Sharh al-Hadith.
TAKHRIJ AL-HADITH HADIS-HADIS DALAM BUKU SISWA “PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI” KELAS XI Khamim Khamim
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.567 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.2

Abstract

Takhrij al-Hadith pada buku “Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti” Kelas XI  belum ditemukan. Penelitian ini memfokuskan pada pelacakan sumber hadis-hadis dari buku tersebut dan kualitasnya, sehingga hasil penelitian ini akan menjadi rujukan guru untuk menjelaskan kualitas hadis pada siswanya. Penelitian ini menggunakan metode takhrij melalui kata pertama atau lafadz pembuka pada matn hadis menggunakan kitab Al-Jami’ al-Saghir fi Ahadith al-Bashir al-Nadhir karya Imam al-Suyuti. Selain itu, dalam proses pengumpulan data, penelitian ini memanfaatkan 2 (dua) software, yaitu: موسوعة الحديث الشريف  versi 2,1 (Shirkat al-Sahr li al-Baramij al-Hāsib, 1991-1996) dan CD  المكتبة الألفية للسنة النبوية versi 1.5 (Markaz al-Turāth li Abhāth al-Hāsib, 1999). Telah ditemukan sebanyak 179 sumber hadis dari 30 hadis dari penelitian buku di atas. Sebanyak 176 sumber dari kitab-kitab hadis sumber pokok, yaitu 9 kitab hadis dan 3 selain kitab-kitab hadis sumber pokok. Dari 30 hadis buku di atas, terdapat hadis yang berkualitas Sahīh li Dhātih sebanyak 19 (63,33%), Sahīh li Ghayrih sebanyak 2 (6,67%), Hasan li Dhātih sebanyak 6 (20%), dan Da’īf dan mawdu' sebanyak 3 (10%).Kata kunci: Takhrīj al-Hadith, PAI dan Budi Pekerti SMA/SMKAbstractTakhrīj al-Hadith in the book "Islamic Religious Education (PAI) and Character" Class XI has not been found. This study focuses on tracing the sources of the hadiths from the book and their quality, so that the results of this study will become a reference for teachers to explain the quality of hadiths to their students. This study uses the takhrīj method through the first word or opening lafadz in the hadith matn using the book Al-Jami 'al-Saghir fi Ahadith al-Bashir al-Nadhir by Imam. al-Suyuti. In addition, in the data collection process, this study utilizes 2 (two) software, namely: موسوعة الحديث الشريف version 2.1 (Shirkat al-Sahr li al-Barīmij al-Hāsib, 1991-1996) and CD المكتبة الألفية للسنة النبوية version 1.5 (Markaz) al-Turāth li Abhāth al-Hāsib, 1999). It has been found that 179 sources of hadith from the 30 traditions from the above book research have been found. A total of 176 sources were from the main source hadith books, namely 9 hadith books and 3 other than the main source hadith books. Of the 30 hadith books above, there are 19 (63.33%) Sahīh li Dhātih qualities, 2 (6.67%) Sahīh li Ghayrih (6.67%), Hasan li Dhātih 6 (20%), and Da'īf and mawdu' as much as 3 (10%)Keywords: Takhrīj al-Hadith, PAI dan Budi Pekerti SMA/SMK
KAJIAN KRITIK HADIS; Perlindungan Hak Konsumen Terhadap Risiko Jual Beli Mohamad Anang Firdaus
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.643 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.3

Abstract

Penelitian ini akan membahas sebuah hadis sahih muslim yang dihasankan oleh software Gwami’ Alkalem. Sanad hadis tersebut dihukumi hasan karena terdapat rawi yang berpotensi melakukan tadlis (penggelapan riwayat) yakni Abu Zubair. Hadis tersebut menjadi penting karena dipakai sebagai dasar kewajiban penjual memberi ganti rugi atas kerusakan buah karena penyakit buah saat sampai pada pembeli. Untuk mempermudah dalam menemukan hadis yang diteliti, takhrij hadis dalam penelitian ini ditelusuri melalui website islamweb.net, dan didukung Kitab Mu’jam Mufahras li Alfazh al-Hadith al-Nabawi dan Miftah Kunuz al-Sunnah kemudian dilakukan cross check pada referensi primernya. Adapun kritik sanad, menggunakan lima kriteria hadis sahih. Sedangkan kritik matannya menggunakan kaidah kritik matan Muhammad Ghazali. Hasilnya, hadis ini adalah hadis sahih karena semua rawi dalam hadis ini siqqah. Abu Zubair dianggap siqqah karena komentar ulama yang menjarhnya tidak mutlak, melainkan hanya jika Abu Zubair tidak menggunakan kata “sami’tu” dalam meriwayatkan hadis. Salah satu kekurangan Gwami’ al-kalem yang terungkap dari penelitian ini adalah tidak mampu membedakan lafal tahammul wa ada’ sehingga menimbulkan hasil hukum sanad yang kurang tepat.Kata Kunci: Kritik Hadis, Risiko, Jual Beli, Hasan, Sahih MuslimAbstractThis research will discuss a hadith on sahih muslim that was identified as hasan by Gwami 'Alkalem software. The sanad of the hadith was identified as hasan because there was a rawi who had the potential to commit tadlis (embezzlement of history), namely Abu Zubair. In addition, the importance of hadith is used as the basis for the seller's obligation to compensate for fruit damage due to fruit disease when it reaches the buyer. To make it easier to find the hadiths under study, the hadith was traced through the islamweb.net website, and supported by the book Mu'jam Mufahras li Alfazh al-Hadith al-Nabawi and Miftah Kunuz al-Sunnah is then cross-checked on its primary reference. As for the sanad criticism, it uses the five criteria of authentic hadith. Meanwhile, the critique of his matn uses the principles of Muhammad Ghazali. As a result, this hadith is a hadith sahih. One of the shortcomings of Gwami 'al-kalem which was revealed from this study is that it is not able to distinguish the pronunciation of tah} ammul wa ada.Keywords: Hadith Criticism, Risk, Buying and Selling, Hasan, Sahih Muslim
KODIFIKASI HADIS DALAM PANDANGAN SUNNIY DAN SHI’IY Hanif Fathoni
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.252 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.10

Abstract

Kodifikasi hadis memerlukan waktu yang cukup panjang dan diwarnai persaingan politik antar sekte atau kelompok dalam islam. Persaingan politik ini menimbulkan perpecahan pemikiran umat Islam menjadi dua kelompok besar yaitu Ahlu al-Sunnah (Sunniy) dan Shi’iy (pengikut Ali). Sunniy dan syiah sering berbenturan dalam memahami hadis. Keduanya memiliki perbedaan yang berakar dari pemahaman konsep hadis atau sunnah, walaupun antara Sunniy dan Shi’iy tidak terdapat perbedaan pandangan dalam menilai kedudukan hadis sebagai sumber hukum kedua setelah al-Quran. Penelitian akan mengkaji tentang kodifikasi hadis dari sudut pandang Sunniy dan Shi’iy. Selanjutnya, data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan historis dan perbandingan. Menurut kalangan Sunniy, periwayatan hadis dalam keadaan belum tertulis dan terkodifikasikan dengan baik ketika ditinggal wafat Nabi Muhammad SAW. Beliau belum memerintahkan sahabat untuk melakukannya sekaligus menghindari tercampurnya al-Quran dan Hadis. Bagi Shi’iy, kodifikasi hadis sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan bahkan mereka meyakini bahwa Sayyidina Ali ibn Abi T{alib telah menulisnya.Kata Kunci: Hadis, Sunniy, Shi’ahAbstractThe codification of the hadith took a long time and was colored by political competition between sects or groups in Islam. This political competition led to a split in Muslim thought into two major groups, namely Ahlu al-Sunnah (Sunniy) and Shi'iy (followers of Ali). Sunni and Shi'a often clash in understanding the hadith. Both have differences that are rooted in the understanding of the concept of hadith or sunnah, although between Sunniy and Shi'iy there are no different views in assessing the position of hadith as the second source of law after the Koran. This research will examine the codification of hadith from the Sunniy and Shi'iy point of view. Furthermore, the collected research data were analyzed using historical and comparative approaches. According to Sunniy circles, the narration of the hadith was not written and codified properly when the Prophet Muhammad died. He has not ordered his friends to do so and at the same time avoid mixing the Koran and Hadith. For Shi'iy, the codification of hadith has existed since the time of Rasulullah SAW and they even believe that Sayyidina Ali ibn Abi Talib wrote it.Keywords: Hadith, Sunniy, Shi’ah
METODE KRITIK HADIS ALI MUSTAFA YAQUB; ANTARA TEORI DAN APLIKASI M. Rizki Syahrul Ramadhan
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.169 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.5

Abstract

Artikel ini membahas aplikasi kritik hadis Ali Mustafa Yaqub dalam karyanya yang berjudul Hadis-hadis Bermasalah. Bahasan ini dipandang penting karena Ali Mustafa Yaqub memiliki peran besar dalam dinamika kajian hadis kontemporer di Indonesia dan Hadis-hadis Bermasalah adalah karya yang mendokumentasikan peran tersebut. Pembahasan dalam penelitian pustaka ini akan penulis lakukan menggunakan metode deskriptif dengan analisis yang akan memunculkan dua aspek aplikasi metode kritik hadis, yaitu alur dan kecenderungan rujukan. Melalui penelitian ini, diketahui bahwa alur kritik hadis Ali Mustafa Yaqub dalam Hadis-hadis Bermasalah adalah: a) Memaparkan pertanyaan; b) Menulis redaksi hadis beserta uraian rawi dan sanadnya; c) Mendeskripsikan kualitas sanad beserta penyimpulan kualitas hadis; d) Mengajukan padanan hadis lain untuk kemungkinan mengangkat kualitas hadis yang diteliti; e) Mendeskripsikan kritik matan beserta penyimpulan kualitas hadis; dan f) Mengemukakan refleksi sebagai bentuk tawaran pemahaman kepada masyarakat. Di beberapa jenis hadis, Ali Mustafa Yaqub tidak hanya melakukan analisis kualitas dengan kritik sanad, melainkan juga dengan kritik matan dengan parameter keselarasan dengan kaidah bahasa, Al-Qur’an atau hadis sahih, fakta historis dalam sirah nabawi, dan akal sehat atau sunnatullah. Adapun kecenderungan referensi yang dirujuk Ali Mustafa Yaqub adalah kitab-kitab yang berisi komentar tentang hadis problematis, dengan contoh nama pengarang: Al-Albani, Ibn Hibban, Al-Suyuthi, Al-Sakhawi, Ibn Hibban, dan Al-Minawi.
PENGGUNAAN PENDEKATAN MAQASID SHARI’AH SEBAGAI INSTRUMEN KONTEKSTUALISASI MAKNA HADIS Kholishuddin Kholishuddin
Nabawi: Journal of Hadith Studies Vol 1, No 1 (2020): Nabawi Journal of Hadith Studies
Publisher : LP2M Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.633 KB) | DOI: 10.55987/njhs.v1i1.4

Abstract

Aspek tsubut dan dilalah mayoritas hadis adalah zanniyat sehingga para ulama mempunyai kesempatan menginterpretasikan maksud hadits tersebut. Terutama hadis yang bukan ibadah mahdah. Namun, pemahaman hadis secara literal tanpa melibatkan sabab wurud, setting sosial akan menampilkan wajah Islam yang tidak responsif dan rigid terhadap arus perubahan yang terus berlangsung. Untuk mengatasinya, perlu adanya pendekatan khusus. Artikel ini berfokus pada bagaimana penggunaan Maqasid al-Shari’ah sebagai Instrument pendekatan dalam upaya kontekstualisasi makna literal hadis. Penelitian ini mencari pemahaman yang relevan di zaman sekarang dengan membandingkan pemahaman Yusuf Qardawi dalam kaifa nata’ammal ma’a al-sunnah al-nabawiyah dan penjelasan al-munawi dalam faid al-qadir sharh jami’ al-saghir  mengenai empat hadis pilihan. Artikel ini menggunakan manhaj maqasidi sebagai alat analisa. Hasilnya, pendekatam maqasid shari’ah yang menekankan pada dalil-dalil umum dan berorentasi pada maslahah, nilai-nilai, ‘illal , hikmah dan asas rasional, dapat menghadirkan keluwesan dan kelenturan teks hadis melalui makna kontekstualnya. Sedangkan pendekatan ulama salaf juga dapat menjadi luwes dengan metode jam’u adillah atau intertekstualnya.Kata kunci: Maqasid Shari’ah, Konstekstual, TekstualAbstractAspects of tsubut and dilalah from the majority of hadith is zanniyat, so that the scholars have the opportunity to interpret the meaning of the hadith. Especially hadith that is not pure form of worship Allah. However, understanding the hadith literally without involving the cause of existence, social settings will present the riggid an unresponsive face of Islam. To overcome this, a special approach is needed. This article focuses on how the use of Maqasid al-Shari’ah as an Instrument approach in an effort to contextualize the literal meaning of hadith. This study seeks relevant understanding in modern times by comparing the understanding of Yusuf Qardawi in kaifa nata'ammal ma'a al-sunnah al-nabawiyah and the explanation of al-Munawi in faid al-qadir sharh jami' al-saghir on four optional hadiths. This article uses manhaj maqasidi as an analysis tool. As a result, the approach of maqasid shari'ah which emphasizes on general propositions and is oriented on maslahah, values, ‘illal, wisdom and rational basis, can present the flexibility and responsiveness of the hadith through it’s contextual meaning. While the approach of Salaf scholars can also be flexible with jam'u adillah or it’s intertextual concept.Keywords: Maqasid Shari’ah, Contextual, Textual

Page 1 of 1 | Total Record : 6