cover
Contact Name
Bobby Putrawan
Contact Email
bkputrawan@gmail.com
Phone
+6282110093693
Journal Mail Official
jrasc@widyaagape.ac.id
Editorial Address
Jalan Cut Nyak Dien, Nunukan Tengah Kabpaten Nunukan, Kalimantan Utara
Location
Kab. nunukan,
Kalimantan utara
INDONESIA
Journal of Religious and Socio-Cultural
ISSN : -     EISSN : 28081595     DOI : https://doi.org/10.46362/jrsc
Journal of Religious and Socio-Cultural is a peer-reviewed journal which is published by Widya Agape School of Theology incorporate with the scholars association: Indonesia Christian Theologians Association (ICTA) publishes biannually in May and November. This Journal publishes current original research on religious studies and socio-cultural studies using an interdisciplinary perspective, especially within Inter-Religion Theology studies and its related teachings resources: Religious studies in thought, philosophy, history, linguistic, practical studies, and mysticism studies. Journal of Religious and Socio-Cultural at first Vol.1, No.1, 2019 biannually in May, with e-ISSN: 2808-1595. Reviewers will review any submitted paper. Review process employs a double-blind review, which means that both the reviewer and author identities are concealed from the reviewers, and vice versa.
Articles 18 Documents
Makna Menginginkan Milik Orang lain Berdasarkan Keluaran 20:17 Gea, Titian Krisdayanti; Suhadi, Jemmy
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 1 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (April 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.404 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i1.36

Abstract

Wanting what is not one's own is an action that humans do today. This was warned and seen in Exodus 20:17. Thus, the aim is to find the meaning of not wanting someone else's according to Exodus 20:17. The method in this approach uses a narrative approach to understand Exodus 20:17. This narrative analysis is part of the characteristics of the Hebrew narrative style labeled Type-scene. The result of this research is that each of God's people is obliged to see what limits they have and not go out of wanting what belongs to other people. Menginginkan yang bukan milik diri sendiri merupakan tindakan yang dilakukan manusia pada jaman sekarang. Hal ini sudah diperingatkan dan terlihat dalam Keluaran 20:17. Dengan demikian, tujuan ini adalah untuk menemukan makna jangan menginginkan milik orang lain berdasarkan Keluaran 20:17. Metode dalam pendekatan ini menggunakan pendekatan naratif untuk memahami Keluaran 20: 17. Analisis naratif ini adalah bagian dari ciri khas dalam gaya naratif Ibrani berlabel Type- scene. Hasil dari penelitian ini adalah setiap umat Tuhan wajib melihat batas apa yang dimilikinya dan tidak keluar dengan menginginkan apa yang menjadi milik orang lain.
Peran Gereja Dalam Penanggulangan HIV/AIDS Manullang, Krispus; Adu, Ayub Nelson
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 1 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (April 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.707 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i1.37

Abstract

HIV (human immunodeficiency virus) is a deadly virus and there is no cure until now. The impact of the HIV / AIDS virus on a global scale, seeing this, it requires serious handling from various stakeholders, including government, parents, and even churches. Thus, the aim of this study is to provide input on the role of the church in participating in the prevention and handling of the HIV / AIDS virus. This research method uses literature study. The result of this research is that the church is obliged to participate in speaking out for danger, prevention and handling in an integrated manner with the government and other institutions. HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang mematikan dan belum ada obatnya hingga saat ini. Dampak dari virus HIV/AIDS berskala global, melihat hal ini maka perlu penanganan yang serius dari pelbagai stakeholder, baik pemerintah, orang tua, bahkan gereja. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan masukan bagaimana peran gereja dalam ikut serta pencegahan dan penanganan dari virus HIV/AIDS. Metode penelitian ini menggunakan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah gereja wajib turut serta berpartisipasi dalam menyuarakan bahaya, pencegahan, dan penanganan secara terintegrasi dengan pemerintah dan lembaga lain.
Perspektif Etika Politik Kristen Tentang Hubungan Gereja Dan Negara Sianipar, Henny Debora; Eunike, Pratiwi
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 1 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (April 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.647 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i1.38

Abstract

Each individual in one community always interacts with each other to form one unit with a strong rule of law. In this case religion plays a role in regulating people's lives so that they can coexist and need each other. Similarly, a country that is an organization in a region provides rules to the community by forming a common goal.Religion and state are inseparable from society because in order to realize the common ideals of society it is necessary to understand the values contained in religion and state so as to demand that society control what religion is and what is a state in all its roles and functions more and more in this modern age.This study uses(library research) methods using books and other reading materials. The approach used is descriptive that focuses on the meaning of the phrase. Setiap individu dalam satu komunitas selalu berinteraksi satu sama lain membentuk satu kesatuan dengan aturan hukum yang kuat. Dalam hal ini agama berperan dalam mengatur kehidupan masyarakat agar dapat hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Demikian pula negara yang merupakan organisasi di suatu daerah memberikan aturan kepada masyarakat dengan membentuk tujuan bersama, agama dan negara tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena untuk mewujudkan cita-cita bersama masyarakat perlu dipahami nilai-nilai yang terkandung dalam agama dan agama. Negara sehingga menuntut masyarakat untuk mengontrol apa itu agama dan apa itu negara dalam segala peran dan fungsinya semakin banyak di era modern ini. Penelitian ini menggunakan metode (studi pustaka) dengan menggunakan buku dan bahan bacaan lainnya. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif yang menitikberatkan pada makna frasa.
Kecemburuan Allah Terhadap Penyembahan Berhala Dan Patung Menurut Keluaran 20:4 Sianipar, Henny Debora; Kakiay, Melianus
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 2 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (October 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.132 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i2.39

Abstract

In the Old Testament, the jealousy of God is always in the context of worshipping idols. The second commandment clearly prohibits the worshipping of statues for this reason, that God is jealous. This article is based on Exodus 20:4-6, and its purpose is to understand the meaning of God’s jealousy with respect to the worship of idols and its implications in the lives of believers. Now, the summary of this article is firstly: the jealousy of God in respect to idolatry says that God cannot be represented in any shape or form whatsoever because the jealousy of God says that He is a God who is Holy. As such, only God Himself should be worshipped by believers. Secondly, the jealousy of God in respect to idolatry says that there is to be no other object of worship other than God because the worship of idols signifies spiritual adultery that results in the jealousy of God. Because of this, believers must reject all forms of idolatry. Thirdly, idolatry brings about the jealousy of God because of God’s faithful covenant with His people. Thus, the jealousy of God should become the foundation of worship to God. Fourthly, the jealousy of God in relation to idolatry brings about judgment because the jealousy of God says that He is just when giving judgment as a consequence for worshipping idols. Fifthly, the jealousy of God in relation to idolatry says that God loves His people and at the same time says that God is just in giving blessings to those who love Him. The love of God underlies the relationship God has with His people. As such, love also becomes the foundation of the relationship believers have with God. Dalam Perjanjian Lama, kecemburuan Tuhan selalu dalam konteks menyembah berhala. Perintah kedua dengan jelas melarang penyembahan patung karena alasan ini, bahwa Tuhan itu cemburu. Artikel ini didasarkan pada Keluaran 20: 4-6, dan tujuannya adalah untuk memahami arti kecemburuan Tuhan sehubungan dengan penyembahan berhala dan implikasinya dalam kehidupan orang percaya. Nah, ringkasan dari artikel ini adalah yang pertama: kecemburuan Tuhan sehubungan dengan penyembahan berhala mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat diwakili dalam bentuk apapun karena kecemburuan Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan yang Kudus. Karena itu, hanya Tuhan Sendiri yang harus disembah oleh orang percaya. Kedua, kecemburuan Tuhan terhadap penyembahan berhala mengatakan bahwa tidak ada objek ibadah selain Tuhan karena menyembah berhala menandakan perzinahan spiritual yang mengakibatkan kecemburuan Tuhan. Karena itu, orang beriman harus menolak segala bentuk penyembahan berhala. Ketiga, penyembahan berhala menyebabkan kecemburuan Tuhan karena perjanjian setia Tuhan dengan umat-Nya. Oleh karena itu, kecemburuan kepada Tuhan harus menjadi dasar dalam beribadah kepada Tuhan. Keempat, kecemburuan Tuhan dalam kaitannya dengan penyembahan berhala mendatangkan penghakiman karena kecemburuan Tuhan mengatakan bahwa Dia adil ketika memberikan penghakiman sebagai konsekuensi menyembah berhala. Kelima, kecemburuan Tuhan dalam kaitannya dengan penyembahan berhala mengatakan bahwa Tuhan mencintai umat-Nya dan pada saat yang sama mengatakan bahwa Tuhan hanya memberikan berkat kepada mereka yang mencintai-Nya. Kasih Tuhan mendasari hubungan Tuhan dengan umat-Nya. Karena itu, cinta juga menjadi dasar hubungan orang percaya dengan Tuhan.
Hari dan Ibadah: Suatu Perspektif Etis Teologis Berdasarkan Keluaran 20:9 Habeahan, Josua; Napitupulu, Pieter Anggiat
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 1 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (April 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1073.994 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i1.40

Abstract

Many Christians still do not understand what it means to "work" in Exodus 20: 9 God says six days you will do your work and do your work. Work is a noble thing, but there are still many among the believers who are wrong in determining the days for them to work, because because work is more important to life than worship, therefore some Christians still mistakenly use all days to work, including Sundays. This research uses the bibliography method (Library Research) using books, articles and other reading material, the approach used is descriptive research, the focus is on the meaning of the six days you will do your work and do your work Exodus 20: 9. Dalam kalangan orang Kristen masih banyak tidak mengerti apa makna “bekerja” dalam Keluaran 20:9 Allah bersabda enam hari lamanya engkau akan melakukan bekerja dan melakukan pekerjaanmu. Bekerja adalah hal yang mulia, akan tetapi masih banyak di kalangan umat percaya salah dalam menetapkan hari untuk mereka bekerja, karena apa karena pekerjaan lebih penting bagi kehidupan daripada ibadah oleh sebab itu orang Kristen masih ada yang keliru menggunakan semua hari untuk bekerja termasuk hari minggu. Penelitian ini menggunakan metode daftar pustaka (Library Research) menggunakan dengan buku-buku, artikel-artikel dan bahan bacaan yang lain, pendekatan yang digunakan adalah dengan penelitian deskriptif fokusnya adalah pada makna enam hari lamanya engkau akan melakukan bekerja dan melakukan pekerjaanmu Keluaran 20:9.
Makna Teologis Jangan Ada Allah Lain Dihadapan-Ku Dalam Keluaran 20:3 Silalahi, Anjai; Andrian, Hengky
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 1 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (April 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.414 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i1.41

Abstract

Basically, there are still many Christians who do not have a correct understanding of the monotheistic God and what it is related to the first Law of God. Because this lack of understanding often occurs among Christians who practice polytheism, syncritism and others who do not please God. Do not have other gods before Me (Ex. 20: 3), which is a very basic thing that must be understood well, in order to carry out true worship of the true God. This study aims to provide a concrete explanation of the importance of knowing the correct understanding of there should be no other God before Me (Ex. 20: 3). This study uses the (library research) method using books and other reading materials. The approach used is descriptive which focuses on the meaning of the phrase do not have another god before Me according to Exodus 20: 3. Pada dasarnya masih banyak orang Kristen yang belum memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan yang tauhid dan apa kaitannya dengan Hukum Tuhan yang pertama. Karena kurangnya pemahaman ini sering terjadi di antara orang-orang Kristen yang mempraktikkan politeisme, sinkritisme, dan orang-orang lain yang tidak menyenangkan Tuhan. Jangan ada tuhan lain di hadapan-Ku (Keluaran 20: 3), yang merupakan hal yang sangat mendasar yang harus dipahami dengan baik, agar dapat melaksanakan penyembahan yang benar kepada Tuhan yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang konkrit tentang pentingnya mengetahui pemahaman yang benar bahwa tidak ada Tuhan yang lain di hadapan-Ku (Keluaran 20: 3). Penelitian ini menggunakan metode (studi pustaka) dengan menggunakan buku dan bahan bacaan lainnya. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif yang menitikberatkan pada makna kalimat tidak memiliki tuhan lain dihadapan-Ku menurut Keluaran 20: 3.
Aplikasi Etika Alkitab dan Etika Modern Dalam Bidang Pastoral Silalahi, Anjai; Selfina, Eleonora Patricia
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 2 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (October 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.563 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i2.43

Abstract

The realities of life are often not as expected, problems, challenges and disappointments come and go. There is no guarantee that being a believer means that they are immediately free from problems, but God allows this to happen in His chosen people as a test of faith towards spiritual maturity. The method in this writing is a qualitative description, which analyzes from each writing source and reconstructs it into a written concept. The result is pastoral ministry is very important in a church, provided to help congregations who are in trouble. In the counseling service, the counselor will provide motivation, direction, and values based on the word of God, so that the congregation is able to survive the problems in their life and be closer to God. Realitas kehidupan seringkali tidak sesuai harapan, masalah, tantangan dan kekecewaan datang silih berganti. Tidak ada jaminan bahwa menjadi mukmin berarti langsung bebas dari masalah, tetapi Tuhan mengijinkan hal ini terjadi pada umat pilihan-Nya sebagai ujian iman menuju kedewasaan rohani. Metode dalam penulisan ini adalah kualitatif deskripsi, dimana menganalisa dari setiap sumber-sumber penulisan dan merekontruksinya menjadi konsep yang ditulis ini. Hasilnya adalah pelayanan pastoral sangat penting di gereja, disediakan untuk membantu jemaat yang bermasalah. Dalam pelayanan konseling, konselor akan memberikan motivasi, arahan, dan nilai-nilai yang dilandasi firman Tuhan, sehingga jemaah mampu bertahan dari permasalahan dalam hidupnya dan lebih dekat dengan Tuhan.
Pengajaran Hukum Taurat Yang Kelima Dalam Keluaran 20:12 Dan Pendekatannya Melalui Efesus 6:1-3 Terhadap Perubahan Karakter Menjadi Serupa Dengan Kristus Pada Mahasiswa Di STT STAPIN Majalengka Butar-butar, Mahlon Obet; Djama, Denny Tunggu
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 2 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (October 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.939 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i2.44

Abstract

The fifth commandment (Exodus 20:12) is part of the Ten Commandments that God gave to Moses on Mount Sinai. The Bible is the eternal Word of God, thus the Fifth Law has a meaning that must be understood in an eternal dimension. The Bible gives the principle that if a man fails to do one of the commandments in the law, then he has completely failed. There are many interpretations of this law, but it only boils down to the practical, ethical and moral dimensions because it only focuses on its current relevance. The Bible states that the curse of the Law has been redeemed and fulfilled by Jesus Christ. After the resurrection, Jesus said that in the Torah, the Psalms and the Prophets were written about Him. Thus Jesus gave a new concept of interpretation in understanding the Law. This principle is called the approach in the teaching of the Apostle Paul (Ephesians 6: 1-3) which brings changes to the present era, especially for STAPIN Majalengka Students. The Bible states that the culmination of the completion of the entire redemptive work of Jesus will be the time of the second coming in the realization of a new heaven and earth. Therefore, how to explain the relevance of the Fifth Law in the context of the teaching of the Apostle Paul (Ephesians 6: 1-3) in the changing character of STAPIN Majalengka Students. This paper focuses on the study of understanding the Fifth Law in dimensions. Perintah kelima (Keluaran 20:12) adalah bagian dari Sepuluh Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai. Alkitab adalah Firman Allah yang kekal dengan demikian Hukum Kelima ini memiliki makna yang harus dipahami dalam dimensi kekekalan. Alkitab memberikan prinsip jika manusia gagal melakukan salah satu perintah dalam hukum Taurat, maka ia telah gagal seluruhnya. Ada banyak interpretasi terhadap hukum ini, namun hanya bermuara pada dimensi praktis, etis dan moral karena hanya befokus pada relevansi masa kini. Alkitab menyatakan bahwa kutuk Hukum Taurat telah ditebus dan digenapi oleh Yesus Kristus. Setelah kebangkitan, Yesus mengatakan bahwa dalam Kitab Taurat, Mazmur dan para Nabi tertulis tentang Dia. Dengan demikian Yesus memberikan sebuah konsep interpretasi baru dalam memahami Hukum Taurat. Prinsip inilah yang disebut dengan pendekatan di dalam pengajaran Rasul Paulus (Efesus 6:1-3) yang membawa perubahan terhadap jaman masa kini terutama terhadap Mahasiswa STAPIN Majalengka. Alkitab menyatakan puncak penyempurnaan seluruh karya penebusan Yesus adalah saat kedatangan yang kedua kali dalam realisasi terhadap langit dan bumi yang baru. Oleh karena itu, bagaimanakah menjelaskan relevansi Hukum Kelima dalam konteks pengajaran Rasul Paulus (Efesus 6:1-3) di dalam perubahan Karakter Mahasiswa STAPIN Majalengka. Tulisan ini fokus pada kajian terhadap pemahaman Hukum Kelima dalam dimensi.
Tanggung Jawab Anggota Keluarga Ditinjau Dari Kolose 3:18-21 Siagian, Putri Maria Magdalena; Saputro, Joko
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 1 No 2 (2020): Journal of Religious and Socio-Cultural (October 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.918 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v1i2.45

Abstract

God's usual way of molding children into radically committed, risk-taking, culturally opposite, wise, loving, mature world Christians is through parents who teach and exemplify a God-centered, Bible-filled world view of The comprehensive guide for each parent to take responsibility, live in such a way that the children can see what God the Father is like. Children must see in their human father and mother a though imperfect reflection of the heavenly Father in strength and gentleness, in his wrath and mercy, in exaltation and condescension, in his transcendental wisdom and guidance. This study uses the library research method using books, articles and other reading materials. The approach used by researchers is descriptive. Cara Tuhan yang biasa untuk membentuk anak-anak menjadi dunia Kristen yang berkomitmen secara radikal, mengambil risiko, berlawanan secara budaya, bijaksana, penuh kasih, dan dewasa adalah melalui orang tua yang mengajar dan meneladankan pandangan dunia yang berpusat pada Tuhan dan dipenuhi Alkitab. tanggung jawab, hidup sedemikian rupa sehingga anak-anak dapat melihat seperti apa Allah Bapa itu. Anak-anak harus melihat dalam diri ayah dan ibu manusia sebuah refleksi yang tidak sempurna dari Bapa surgawi dalam kekuatan dan kelembutan, dalam murka dan belas kasihan, dalam permuliaan dan sikap merendahkan, dalam kebijaksanaan dan bimbingan transendentalnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka dengan menggunakan buku, artikel dan bahan bacaan lainnya. Pendekatan yang digunakan peneliti adalah deskriptif.
Kepemimpinan Kristen Dalam Konteks Penggembalaan Gereja di Indonesia Purwanti, Eni; Missa, Antonius; Tandi, Yusuf
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 2 No 2 (2021): Journal of Religious and Socio-Cultural (October 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.235 KB) | DOI: 10.46362/jrsc.v2i2.50

Abstract

Pada dasarnya, dalam setiap kelompok masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam skala besar maupun kecil, memerlukan pemimpin. Biasanya pemimpin yang muncul di tengah-tengah kelompok masyarakat tersebut adalah orang-orang yang memiliki pengaruh, kemampuan untuk mempimpin orang lain ke arah dan tujuan yang jelas. Susunan atau komposisi sebuah kepemimpinan, baik yang bersifat sekuler maupun rohani, memiliki kesamaan. Maksudnya sebagai suatu lembaga yang terdiri dari beberapa orang, dalam penempatan kedudukan berurut mulai dari yang paling tinggi (bergantung konteks lembaga), sampai kepada kedudukan yang paling bawah. Merekalah yang mengelola suatu lembaga kepemimpinan. Kepemimpinan Yesus adalah kepemimpian yang melayani bukan memerintah dan menjalankan dengan tangan besi; sehingga Yesus menerapkan gaya kepemimpinan yang dewasa ini menjadi tuntutan masyarakat kepada pemerintah yaitu gaya kepemimpinan bottom-up. Menyongsong abad baru, yang sering dikenal dengan istilah “milenium ketiga”, dunia dalam segala bidang (politik, sosial budaya, ekonomi, bahkan agama) mencoba menemukan formula baru dalam kepemimpin-an yang bersifat kontekstual dan efektif, sesuai dengan tuntutan zaman. Diakui bahwa tidak ada satupun dari gaya kepemimpinan yang dapat menjamin tatanan kehidupan satu kelompok, sebab pada dasarnya setiap kelompok memiliki ciri tersendiri. Terlebih bangsa Indonesia yang sifatnya heterogen baik dalam suku, agama, budaya dan adat.

Page 1 of 2 | Total Record : 18